+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Pemerintah Minta Rumput Laut Jadi Bahan Bakar, Sebelum Hidrogen:

  • Pemerintah Minta Rumput Laut Jadi Bahan Bakar, Sebelum Hidrogen: Untuk menekan emisi gas buang, dan ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM), pemerintah mendorong penggunaan kendaraan ramah lingkungan. Dengan program low carbon emissin vehicle (LCEV), nantinya bakal ada fasilitas bagi produsen yang menjual mobil listrik, hybrid, gas, ataupun hidrogen. Setelah mobil ramah lingkungan berjalan, seperti hybrid atau gas sebagai jembatan menuju era mobil listrik, pemerintah juga mendorong penciptaan bahan bakar alternatif, seperti biofuel atau biodiesel. “Riset terhadap biofuel ini harus dilakukan, karena Indonesia merupakan salah satu penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Kita juga punya rumput laut. Keduanya sedang dilakukan riset, dan pemerintah siap memberikan insentif,” jelas Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian Republik Indonesia (RI), saat uji mobil listrik Nissan Note e-Power di ICE, BSD, Tangerang Selatan. (LIPUTAN 6)

http://otomotif.liputan6.com/read/3161958/pemerintah-minta-rumput-laut-jadi-bahan-bakar-sebelum-hidrogen

  • Hambatan Ekspor CPO, Kemendag Khawatirkan Efek Tular: Direktur Pengamanan Perdagangan Kementerian Perdagangan (Kemendag) Pradnyawati menilai hambatan perdagangan nonteknis seperti resolusi sawit Uni Eropa dapat menghambat kinerja ekspor komoditas itu. Para eksportir biasanya akan lebih memilih negara tujuan ekspor lain. Kendati demikian, dia mengkhawatirkan tuduhan atau hambatan nonteknis tersebut bakal diikuti oleh negara lain. Hal serupa telah terjadi di Australia yang meniru langkah yang diterapkan Amerika Serikat. “Negara-negara yang otoritas investigasinya maju [AS, Uni Eropa, Australia, India, dan Turki] biasanya mengintip lalu menuduh dengan tuduhan yang sama. Efek menularnya yang dikhawatirkan,” jelasnya. Sekretaris Jenderal GAPKI Togar Sitanggang menjelaskan kinerja eskpor minyak sawit tidak termasuk biodiesel dan oleochemical pada September 2017 memang mengalami penurunan 7,5% secara month to month. Namun, angka tersebut menurutnya masih tinggi apabila dibandingkan dengan tren ekspor sepanjang 2017. Di sisi lain, menipisnya stok minyak sawit RI dan Malaysia mengerek harga di pasar global. Selama September 2017, harga harian komoditas itu bergerak di kisaran US$687,60 hingga US$760 per metrik ton dengan harga rata-rata US$724,9 per metrik ton. Harga rata-rata selama September 2017 naik 7% dibandingkan bulan sebelumnya senilai US$676 per metrik ton. (BISNIS)

http://industri.bisnis.com/read/20171114/12/709191/hambatan-ekspor-cpo-kemendag-khawatirkan-efek-tular?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter

  • Giring Ekspor Sawit ke Produk Olahan: Upaya menggenjot ekspor produk olahan minyak sawit (hilir) sudah dilakukan semenjak 2011 lalu. Adanya skim pungutan yang dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit ditengarai semakin mendongkrak ekspor produk olahan sawit. Kini komposisi ekspor produk olahan sawit telah mencapai 79%. Selain mendongkrak pertumbuhan industri biodiesel nasional, kehadiran skim pungutan ekspor CPO yang dananya dikelola BPDP-KS, bisa dikatakan memiliki kontribusi dalam mendorong ekspor kelapa sawit nasional ke sektor hilir (produk olahan). Misalnya saja sepanjang 2016 lalu rata-rata ekspor produk olahan kelapa sawit mencapai lebih dari 79% dari total ekspor minyak sawit asal Indonesia sebanyak 25,8 juta ton. (INFO SAWIT)

http://www.infosawit.com/news/7256/giring-ekspor-sawit-ke-produk-olahan

  • Dukung EBT dengan Skema Insentif Tarif: Pemerintah diminta segera mendorong pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) dengan memberi skema insentif atau subsidi harga sehingga teknologi EBT di Indonesia bisa berkembang dan mengejar ketertinggalan dengan negara lain. Pengembangan EBT dinilai bukanlah pilihan, namun kewajiban untuk memenuhi kebutuhan di masa mendatang karena energi fosil seperti batu bara pasti akan habis, sedangkan sumber EBT akan selalu tersedia. Selain itu, batu bara juga polutif sehingga akan mengganggu kesehatan masyarakat. Menurut Fahmi, Indonesia memiliki begitu banyak sumber daya EBT seperti panas bumi, tenaga matahari, dan biodiesel. Yang sudah berhasil diproduksi secara komersial harganya masih lebih mahal dari energi fosil dan batu bara. Negara-negara maju juga menghadapi hal serupa saat baru mengembangkan EBT, namun kini saat kapasitas terpasangnya mendekati maksimal biaya produksi sudah sama dengan energi fosil. (KORAN JAKARTA)

http://www.koran-jakarta.com/dukung-ebt-dengan-skema-insentif-tarif/

  • Kampanye Hitam Kelapa Sawit Tak Pengaruhi Kinerja Astra Agro Lestari: Permintaan minyak sawit Indonesia terus bertumbuh meskipun diterpa kampanye hitam untuk minyak sawit dalam negeri. “Minyak sawit tidak tergantung pendapatan, minyak nabati suatu kebutuhan yang tidak dapat dihindari,” kata Ketua Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, kepada pers di Jakarta, Selasa (14/11/2017). Pertumbuhan permintaan minyak sawit mentah (CPO) tiap tahunnya mencapai 3%. Banyak kampanye negatif dari Eropa dan Amerika, namun negara lain masih membutuhkan minyak sawit. “Pasar domestik terus berkembang. Saat ini, Indonesia menerapkan penggunaan biodiesel mencapai 20% dan tidak perlu khawatir terhadap kampanye negatif,” papar Sahat. Pendapatan industri CPO terus naik hingga kuartal III. Kampanye hitam dari berbagai negara tujuan ekspor tidak membuat penjualan lesu. (INDUSTRY)

http://www.industry.co.id/read/19636/kampanye-hitam-kelapa-sawit-tak-pengaruhi-kinerja-astra-agro-lestari

  • UGM Sapu Bersih Penghargaan di CERCo 2017: Prestasi mahasiswa Departemen Teknik Kimia UGM di ajang kompetisi penelitian Chemical Engineering Research Competition (CERCo) 2017 patut diacungi jempol. Tiga tim UGM berhasil menyapu bersih semua gelar pada kompetisi yang diselenggarakan Universitas Diponegoro tersebut. Puncak acara CERCo diselenggarakan pada 3-4 November 2017 bertempat di BPSDMD Provinsi Jawa Tengah. Tiga penghargaan yang didapatkan UGM, yakni juara pertama  yang beranggotakan Ardian Fauzi, Alfapetra Meisky Astawan, dan Sangga Hadi Pratama dengan karya berjudul Biodiesel Production using Hydrothermal Liquefaction Process from Microalgae. Juara kedua yang beranggotakan Ivone Marselina Nugraha, Asdi Restana, dan Addo Hernando dengan karya berjudul “Palm Fiber Adsorbent For Batik Dye Wastewater. (KRJOGJA)

http://www.krjogja.com/web/news/read/49507/UGM_Sapu_Bersih_Penghargaan_di_CERCo_2017