+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Pemerintah Negosiasikan Pembatasan Impor Sawit Uni Eropa:

Pemerintah Negosiasikan Pembatasan Impor Sawit Uni Eropa: Pemerintah Indonesia terus berunding dengan Uni Eropa terkait produk sawit. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan tengah menegosiasikan kriteria CPO yang bisa diekspor Indonesia ke Uni Eropa. Sebelumnya, Uni Eropa telah menunda pelarangan penggunaan CPO sebagai bahan campuran biofuel hingga 2030. Keputusan itu disepakati dalam pertemuan trilogi antara Komisi Eropa, Parlemen Eropa dan Dewan Uni Eropa pada 14 Juni 2018 lalu. Kesepakatan ini juga menghasilkan revisi Arahan Energi Terbarukan Uni Eropa (RED II). Menurut Luhut, pelarangan ekspor CPO yang dilakukan oleh Uni Eropa hanya berlaku untuk sawit yang ditanam di tanah tak ramah lingkungan. “Cukup fair sih. Tapi kami sebenarnya belum mau menerima begitu saja. Jadi sekarang kami mau menegosiasi lagi kriterianya mengenai mana yang boleh ekspor, mana yang tidak,” kata Luhut di kantornya, Jakarta. Dalam proses negosiasi ini, Luhut telah membentuk tim yang berisikan orang Indonesia untuk masuk ke dalam tim Uni Eropa untuk membahas soal kriteria ini. Tim ini akan memastikan Uni Eropa tidak mengatur Indonesia. Dalam teks RED II, Uni Eropa sepakat mencapai target energi terbarukan sebesar 32% pada 2030 dari saat ini sebesar 27%. Kesepakatan baru itu menggantikan rancangan proposal energi yang akan menghapus minyak kelapa sawit sebagai bahan dasar biofuel pada 2021. Untuk mencapai target energi terbarukan Uni Eropa, kontribusi bahan bakar dari sejumlah kategori bahan baku biofuel akan dikurangi secara bertahap hingga 2030. Biofuel akan dikaji dengan perlakukan yang sama, tanpa melihat sumbernya. “Teks RED II tidak akan membedakan atau melarang minyak sawit. Uni Eropa tetap menjadi pasar paling terbuka untuk minyak sawit Indonesia,” kata Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Vincent Guerend dalam keterangan resminya. (KATADATA)

https://katadata.co.id/berita/2018/06/26/pemerintah-negosiasikan-pembatasan-impor-sawit-uni-eropa

UE Tunda Larangan CPO untuk Biodiesel, RI Tetap Lanjutkan Negosiasi: Indonesia tetap menyiapkan negosiasi lanjutan meskipun rencana penghapusan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel ditunda oleh Uni Eropa hingga 2030. Deputi Bidang Kedaulatan Maritim Kemenko Maritim Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan penundaan yang diputuskan UE tidak lepas dari lobi yang dilakukan pemerintah, juga tekanan-tekanan politik melalui jalur resmi maupun tak resmi. Konferensi tentang CPO di Vatikan, Italia, pada Mei misalnya, telah membuka pandangan negara-negara Eropa terhadap sawit sehingga mereka memundurkan rencana dari semula 2021. Meskipun demikian, negosiasi tetap harus dilanjutkan untuk memperjuangkan pelibatan Indonesia dalam menentukan kriteria CPO yang terkena ‘phase out’. Apalagi, penggunaan bahan baku dari CPO dikurangi bertahap mulai 2026. UE sendiri mempertimbangkan kriteria CPO yang patut dihapus dari bahan baku biofuel, yakni yang berasal dari perubahan penggunaan lahan tidak langsung (ILUC) yang berisiko tinggi, mulai dari hasil ekspansi dari lahan produksi pangan atau pakan ke lahan sawit hingga tanah dengan stok karbon tinggi. Indonesia membujuk UE agar para pemangku kepentingan ikut dilibatkan dalam penyusunan kriteria dan Dubes UE untuk Indonesia dan Brunei Darussalam VIncent Guerend telah memberikan ‘lampu hijau’. Stakeholder yang dimaksud mencakup negara produsen (termasuk petani dan eksportir sawit) serta negara konsumen di blok mata uang tunggal itu.”Jadi, kami akan ikut ke situ. Jangan sampai ketika penentuan batas-batas itu, kita kecolongan dan enggak tahu,” kata Purbaya seusai halal bi halal di Kemenko Maritim. Mengingat pada Februari 2019 kriteria itu harus sudah putus, Indonesia dalam enam bulan ke depan akan intensif bernegosiasi dengan UE. “Pak Luhut sudah bilang ke mereka bahwa kalau itu dimulai, kami diberi informasi sehingga kami bisa ikut sedini mungkin.” (BISNIS)

http://industri.bisnis.com/read/20180627/99/809866/ue-tunda-larangan-cpo-untuk-biodiesel-ri-tetap-lanjutkan-negosiasi

Melakukan Transformasi Perekonomian Dari Tak Berkelanjutan: Dengan mengembangkan kebun sawit, Kalimantan Timur sudah mempersiapkan minyak/energi terbarukan dari minyak sawit (biodiesel) dan biomas sawit. Menghasilkan energi terbarukan sekaligus membersihkan udara Kalimantan Timur (menyerap karbondioksida dan menghasilkan oksegen). Industri minyak sawit mentghasilkan multi manfaat, manfaat ekonomi, sosial dan ekologi secara inklusif dan berkelanjutan. Ekonomi Berbasis Sumber Daya Alam Tak Dapat Diperbaharui akan BerakhirPerekonomian Kalimantan Timur selama ini berbasis pada sumber daya alam yangtidak dapat diperbaharui (non renewable resources), yakni sumber daya alam kayu log, tambang, minyak dan gas bumi. Sumberdaya alam kayu log, minyak, tambang dan gas bumi tersebut tidak ramah lingkungan, eksklusif dan suatu saat akan habis, sehingga tidak dapat dijadikan basis perekonomian Kalimantan Timur yang berkelanjutan. (SAWITINDONESIA)