+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Pemerintah Pastikan Mandatori B30 Berlaku Mulai Januari 2020

Investor Daily Indonesia | Rabu, 11 September 2019
Pemerintah Pastikan Mandatori B30 Berlaku Mulai Januari 2020

Menko Perekonomian Darmin Nasution menyatakan bahwa pelaksanaan wajib penggunaan biodiesel campuran 30% (B30) dimulai Januari 2020 atau sesuai jadwal awal. Meski sebelumnya pelaku usaha berharap pelaksanaan B30 dapat terlaksana akhir tahun ini. Kebijakan perluasan pemanfaatan sawit sebagai bahan bakar dengan B30 akan berdampak lebih luas, tidak hanya bagi perekonomian nasional tapi juga perbaikan kesejahteraan petani sawit. Darmin menjelaskan, laporan dari Kementerian ESDM menyebutkan bahwa hasil uji jalan pada program B30 tidak ditemukan perbedaan yang signifikan dari kebijakan yang telah berjalan. Karena itu, mulai Januari tahun depan pemerintah bersiap akan menjalankan kebijakan B30. “Pelaksanaan program B30 dimulai sesuai jadwal yakni Januari tahun depan,” ungkap Darmin Nasution dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, kemarin.

Bahkan, lanjut Darmin, pemerintah telah merencanakan tahapan selanjutnya. Apabila green biofuel sudah dapat diproduksi maka green diesel akan diolah sebagai bahan bakar nabati. Misalnya, produksi B50 yang merupakan campuran B30 dan B20. “Dengan demikian, lambat laun kita dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). Sekaligus, mengantarkan ke- lapa sawit berjaya sebagai komoditas primadona Indonesia di pasar global,” kata Darmin. Pemerintah telah mewajibkan mandatori B20 yang dimulai dari segmen PSO (subsidi) sejak 2016, lalu diperluas ke segmen bukan PSO mulai September 2018. Kebijakan itu ditujukan untuk menekan impor migas dan defisit transaksi perdagangan. Menko Darmin menyatakan, mandatori B20 berhasil menurunkan impor solar secara signifikan dan implementasi pelaksanaan B20 pada tahun ini dilaporkan mencapai rata-rata 97,50%. Sementara itu, Pusat Rekasaya Katalisis Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama dengan Pertamina Research and Technology Centre (RTC) mengembangkan katalis khusus yang akan menjadi pendorong diproduksinya green fuel berbasis minyak sawit. Katalis bernama BIPN tersebut diklaim mampu memproduksi bahan bakar beroktan 90-120 yang dapat disesuaikan dengan kebutuhannya. Katalis adalah salah komponen penting dalam proses pengolahan minyak bumi. Yang selama ini masih banyak tergantung dari impor.

Hasil pengembangan katalis Laboratorium ITB itu juga bisa diarahkan sebagai substitusi impor yang akan menghemat devisa negara. Karena itu, pemerintah sangat menghargai perguruan tinggi yang telah mengembang- kan komoditas lokal seperti minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) menjadi green fuel yang setara solar atau pertamax. “Proses ini tentunya akan memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit, tapi di masa depan akan mengurangi ketergantungan kita terhadap impor BBM,” ujar Darmin saat meninjau Laboratorium Teknik Reaksi Kimia ITB di Bandung, kemarin. Dia mengharapkan, ITB dapat mengembangkan katalis khusus secara komersial yang akan menjadi pendorong diproduksinya green fuel berbasis CPO. “Tentunya ITB dapat bekerja sama dengan dunia usaha seperti PT Pertamina (Persero), sehingga hasil penelitian berupa katalis dapat diimplementasikan di kilang Pertamina,” ujar Darmin. Di sisi lain, Darmin mengimbau kementerian terkait, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP KS), Pertamina, serta BUMN lainnya mendukung penuh penelitian dan pengembangan bahan bakar nabati (BBN) seperti yang telah dilakukan ITB bersama Pertamina RTC. Dengan demikian, industri biohidrokarbon nasional untuk mendukung ketahanan energi dapat diwujudkan. Sebagai langkah awal, sudah ada komitmen dari 10 perusahaan sawit untuk membangun green refinery yang akan memproduksi green biofuel di dalam negeri.

Harian Kontan | Rabu, 11 September 2019
TBLA Tambah Kapasitas Biodiesel

PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) akan menambah kapasitas pabrik biodiesel. Wakil Direktur Utama TBLA Sudarmono Tasmin mengatakan, ini upaya TBLA menyambut berlakunya kebijakan penggunaan solar bercampur biodiesel 30% (B30) tahun depan. Ekspansi pabrik ini dilakukan dengan menambah satu lini baru di pabrik di Lampung. Pembangunan ini akan selesai akhir 2020. Saat ini TBLA memiliki pabrik di Palembang dan Surabaya TBLA berencana menambah kapasitas pengolahan biodiesel sebanyak 1.500 ton perhari. Sebelumnya, kapasitas total pabrik biodiesel TBLA hanya 1.000 ton per hari. “Sehingga kapasitas produksi bio- diesel menjadi 2.500 ton per hari,” kata dia kepada KONTAN, Selasa (10/9). Nantinya, produksi biodiesel TBLA akan bertambah dari 300.000 ton menjadi 750.000 ton. Menurut Sudarmono, program B30 pemerintah juga berpengaruh ke permintaan biodiesel dalam negeri. TBLA mendapat kenaikan permintaan dari Pertamina. Selain itu, PT AKR dan Shell juga mengajukan permintaan biodiesel ke TBLA. Dari pasar luar negeri, TBLA juga memperoleh tambahan permintaan dari sejumlah negara. Tapi karena kapasitas TBLA hampir penuh, maka TBLA hanya menjual ke Pertamina dan China.

Antara | Selasa, 10 September 2019
Kemenperin Sebut Perusahaan Jerman Akan Kembangkan CPO

Plt Direktur Jenderal Industri Kimia Farmasi dan Tekstil Abdul Rochim mengemukakan, ada salah satu perusahaan Jerman yang akan mengembangkan industri berbasis minyak dengan menggunakan bahan baku minyak sawit mentah (CPO) di Indonesia. Hasil produksinya bisa dipasok untuk memenuhi kebutuhan industri pelumas di dalam negeri, sehingga bisa menekan bahan baku impor. “Apalagi, Indonesia punya bahan baku CPO yang cukup banyak. Ini bisa kita tingkatkan nilai tambahnya melalui hilirisasi industri,” kata Rochim di Jakarta, Selasa. Hal ini pun sejalan dengan kebijakan mandatori biodiesel 20 persen (B20), yang akan ditingkatkan menjadi B30 pada awal tahun 2020 dan B50 pada tahun 2021. Untuk potensi industri pelumas di dalam negeri, saat ini terdapat 44 perusahaan produsen pelumas dengan jumlah produksi mencapai 908.360 kilo liter per tahun, yang terdiri dari pelumas otomotif sebesar 781.190 kilo liter per tahun dan pelumas industri 127.170 kilo liter per tahun. “Sementara, penyerapan tenaga kerja langsung di industri pelumas pada tahun 2018 sebanyak 3.157 orang, dengan ditambah tenaga kerja dari 140 perusahaan importir dan 580 perusahaan distributor pelumas, menjadikan total tenaga kerja di industri tersebut mencapai 4.898 orang,” sebutnya.

Rochim menegaskan, Kemenperin terus berupaya memacu daya saing industri melalui langkah kebijakan strategis yang berfokus pada memperkuat struktur industri, Standar Nasional Indonesia (SNI), dan menciptakan iklim usaha yang kondusif. Selain itu, perlu dilakukan promosi industri prioritas serta pengembangan inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis digital untuk menciptakan nilai tambah tinggi di dalam negeri seiring dengan penerapan industri 4.0. “Guna mendorong transformasi tersebut, kami telah menyiapkan berbagai kebijakan yang dapat memberikan stimulus agar industri kita bisa segera menerapkan transformasi industri 4.0,” imbuhnya. Bahkan, untuk mendorong keterlibatan dunia industri dalam upaya penyiapan sumber daya manusia yang berkualitas serta mengajak peran aktif dalam melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan, pemerintah telah memfasilitasi pemberian super deduction tax. Hal itu tertuang pada Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Peraturan Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan dalam Tahun Berjalan. “Insentif fiskal itu akan diberikan kepada industri yang terlibat dalam program pendidikan vokasi dengan pengurangan penghasilan bruto paling tinggi 200% dari jumlah biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan praktik kerja, pemagangan, dan/atau pembelajaran,” terangnya. Sementara itu, diberikan pengurangan penghasilan bruto paling tinggi 300 persen dari jumlah biaya yang dikeluarkan oleh industri yang melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan inovasi. “Penerapan super deduction tax ini selain melengkapi insentif fiskal tax allowance dan tax holiday, akan mengakselerasi industri manufaktur nasional agar siap menuju revolusi industri 4.0,” tandasnya.
https://www.antaranews.com/berita/1053964/kemenperin-sebut-perusahaan-jerman-akan-kembangkan-cpo

Inilahkoran | Selasa, 10 September 2019
Kenalkan Biodiesel Sawit, Astra Agro Masuk Unibraw

Mahasiswa di Kota Malang, Jawa Timur sangat tertarik menggali informasi seputar energi baru dan terbarukan (EBT) berbahan baku sawit. Antusiasme mahasiswa tampak dalam seminar di Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang, bertajuk Potensi Sumber Daya Pertanian Dalam Upaya Pengembangan Teknologi & Energi Terbarukan. Sedikitnya 300 mahasiswa menjadi peserta. “Berbicara mengenai energi tidak akan pernah habis. Perkembangan energi dunia yang dinamis, sementara keterbatasan cadangan energi fosil terus menurun, meningkatkan perhatian masyarakat dunia kepada energi terbarukan” ungkap Rizki Pratama (21), mahasiswa Fakultas Pertanian, Unibraw. Rizki melanjutkan, banyak sektor pertanian penghasil biomassa memiliki potensi tinggi untuk menjadi energi terbarukan, namun tidak semua komoditas siap menjadi energi terbarukan. Dengan bergulirnya isu keberlanjutan, sawit merupakan salah satu komoditas yang pantas sebagai pengganti energi fossil. Selain mampu menyerap karbondioksida dan energi matahari yang disimpan dalam bentuk energi kimia (minyak kelapa sawit), komoditas kelapa sawit dinilai berkesinambungan karena mampu memproduksi selama lebih dari 25 tahun.

Hadi Sugeng, Direktur PT Astra Agro Lestari, sebagai pembicara di seminar ini mengungkapkan kekagumannya terhadap peserta acara karena telah mengakui bahwa isu-isu yang terjadi di komoditas kelapa sawit adalah tidak sepenuhnya benar. “Saya tidak perlu repot-repot lagi memberikan pembuktian, ternyata rata-rata sudah paham isu sehingga saya hanya menunjukkan evident saja” ungkapnya. Dengan pengembangan industri sawit yang terus dilakukan, salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah kurangnya daya saing. “Jika dibandingkan dengan Malaysia, produksi kelapa sawit di Indonesia masih memakan biaya produksi 34% lebih tinggi. Sementara produktifitas tanaman juga masih ada loss sekitar 44%” lanjut Hadi Sugeng. Merespon pertanyaan mahasiswa tentang implementasi B100, Hadi Sugeng juga menjelaskan perlunya teknologi mutakhir yang saat ini masih dikembangkan oleh pengusaha. Selain itu, dukungan pemerintah juga diperlukan untuk mengawal implementasinya sehingga tetap menguntungkan bagi perusahaan karena harga CPO relatif tinggi.
https://www.inilahkoran.com/berita/22955/kenalkan-biodiesel-sawit-astra-agro-masuk-unibraw

Sawit Indonesia | Selasa, 10 September 2019
Potensi Renewable Energy Berbasis Kelapa Sawit Di Sumatera Utara Untuk Mendukung Pencapaian SDGs 2030

Perkebunan kelapa sawit terus memberikan peran dan kontribusinya dalam pembangunan Nasional. Dalam satu abad, kelapa sawit Indonesia telah berkembang pesat sebagai salah satu penghasil minyak dunia. Melalui revolusioner perkebunan kelapa sawit, Indonesia berhasil menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia. Perkembangan ini telah mengubah perkembangan pedesaan di Indonesia. Secara umum, perkebunan kelapa sawit lebih akomodatif terhadap latar belakang tenaga kerja yang terserap untuk bekerja di perusahaan kelapa sawit. Dalam realitasnya, hadirnya perkebunan kelapa sawit di tengah-tengah kehidupan masyarakat memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan daerah tersebut. Saat ini, yang menjadi fokus dalam pengembangan kelapa sawit Indonesia adalah hilirisasi produk. Untuk itu, perlu dilakukan research and development untuk menciptkan inovasi-inovasi terbaru demi kemajuan dunia kelapa sawit di Indonesia.

Penelitian dan pengembangan merupakan komitmen pemerintah untuk meningkatkan kualitas dari segi hilirisasi produk kelapa sawit. Namun, terdapat kendala biaya yang sangat besar dalam mewujudkan program hilirisasi kelapa sawit. Pada tahun 2015, pemerintah memprediksi hilirisasi kelapa sawit untuk produksi oleokirnia membutuhkan investasi US$ 800 juta sehingga kapasitas produksi bisa mencapai 2 juta ton per tahun. Maka dari itu, salah satu opsi menarik yang dapat dipilih untuk kemajuan sektor kelapa sawit adalah melalui penguatan energi terbarukan berbasis kelapa sawit karena memiliki banyak keunggulan dan kebermanfaatan sosial. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah meluncurkan program Strategic Exploration of Economics Mitigation Potential Through Renewables (ExploRE) yang diimplementasikan berdasarkan kajian penerapan energi baru dan terbarukan di Indonesia. Melalui kajian teknis, proyek percontohan inovatif, upaya-upaya pengembangan kapasitas serta koordinasi dengan pemangku kepentingan, ExploRE melaksanakan berbagai kegiatan dalam empat output sebagai berikut :

Strategi Penerapan Energi Terbarukan, Instrumen Kebijakan dan Finansial, Inovasi, Pengembangan Organisasi. Salah satu keuntungan utama dari renewable energy adalah energi tersebut dapat diperbarui sehingga dapat berkelanjutan dan tidak akan habis. Proyek energi terbarukan memberikan efek ekonomi bagi sekitar, hal ini dikarenakan sebagian besar proyek energi terbarukan jauh dari perkotaan. Di Provinsi Sumatera Utara, kelapa sawit menjadi komoditas utama yang dibudidayakan oleh perusahaan negara, swasta maupun oleh perkebunan rakyat. Sebagai salah satu daerah penghasil kelapa sawit terbesar, provinsi Sumatera Utara terus berupaya meningkatkan sumbangsih devisa terhadap pembangunan daerah maupun nasional. Data dari GAPKI pada tahun 2018 menyebutkan bahwa terdapat 1,1 juta hektar lahan kelapa sawit dengan produksi perkebunan kelapa sawit hingga 15,8 ton dan produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) 5,5 ton.

Saat ini, Institut Teknologi Bandung bersama dengan Pertamina Research and Technology Center (RTC) telah mengembangkan katalis khusus yang nantinya akan menjadi pendorong diproduksinya green fuel berbasis sawit. Katalis dengan nama BIPN ini diprediksi dapat memproduksi bahan bakar dengan kadar oktan 90 sampai dengan 120, yang dapat disesuaikan dengan kebutuhannya. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah Sumatera Utara tengah berupaya untuk mengembangkan komoditas lokal seperti CPO menjadi green fuel yang memiliki keunggulan setara dengan Solar dan Pertamax. Tentunya pengembangan energi terbarukan ini dapat dijadikan sebagai strategi meningkatkan investasi sektor privat pada energi terbarukan serta menjadi pilar pembangunan ekonomi dan sosial dalam pengembangan energi terbarukan untuk pasokan listrik yang andal, aman, dan berkelanjutan.

Melalui pengembangan energi terbarukan berbasis sawit, maka akan mempercepat tujuan pembangunan sebagaimana tercantum dalam 17 pilar pembangunan berkelanjutan (SDGs) 2030 seperti pilar ke-7 yakni energi bersih dan terjangkau, kemudian pilar ke-8 yakni pertumbuhan ekonomi, serta pilar ke-9 yakni inovasi yang berkelanjutan. Berdasarkan penjabaran tersebut, dapat kita pahami bahwa kelapa sawit memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan ekonomi dan kualitas hidup masyarakat serta pengembangan inovasi di bidang energi yang dapat dimanfaatkan sebagai biofuel sebagai solusi energi masa depan. Contoh lain implementasi proyek energi terbarukan adalah proyek-proyek tenaga surya di Zona Perdagangan Bebas Karimun (FTZ) dan beberapa desa terpencil di Sumatera Utara. Kedepannya pengembangan green biofuel akan terus dilakukan serta akan memproduksi bahan bakar nabati melalui pengolahan crude palm oil untuk meningkatkan nilai tambah dari produksi kelapa sawit di Indonesia khususnya provinsi Sumatera Utara.

Kontan | Selasa, 10 September 2019
Tunas Baru Lampung (TBLA) Akan Tambah Kapasitas Pabrik Biodiesel

Produsen minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) beserta turunannya, PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) akan menambah kapasitas pabrik biodieselnya. Wakil Direktur Utama PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) Sudarmono Tasmin mengatakan, salah satu alasan penambahan kapasitas ini adalah untuk menyambut langkah pemerintah yang akan memberlakukan kebijakan penggunaan solar bercampur biodiesel 30% (B30) mulai tahun depan. Ekspansi pabrik ini dilakukan dengan menambah satu lini baru di pabrik yang berlokasi di Lampung. Pembangunan ini diperkirakan akan selesai pada akhir 2020. Sebagai informasi, saat ini TBLA juga memiliki pabrik di Palembang, Sumatra Selatan dan Surabaya, Jawa Timur. Lewat pembangunan ini, TBLA berencana menambah kapasitas pengolahan biodiesel sebanyak 1.500 ton per hari. Sebelumnya, kapasitas total pabrik biodiesel TBLA hanya 1.000 ton per hari. Produsen minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) beserta turunannya, PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) akan menambah kapasitas pabrik biodieselnya. Wakil Direktur Utama PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) Sudarmono Tasmin mengatakan, salah satu alasan penambahan kapasitas ini adalah untuk menyambut langkah pemerintah yang akan memberlakukan kebijakan penggunaan solar bercampur biodiesel 30% (B30) mulai tahun depan.

Ekspansi pabrik ini dilakukan dengan menambah satu lini baru di pabrik yang berlokasi di Lampung. Pembangunan ini diperkirakan akan selesai pada akhir 2020. Sebagai informasi, saat ini TBLA juga memiliki pabrik di Palembang, Sumatra Selatan dan Surabaya, Jawa Timur. Lewat pembangunan ini, TBLA berencana menambah kapasitas pengolahan biodiesel sebanyak 1.500 ton per hari. Sebelumnya, kapasitas total pabrik biodiesel TBLA hanya 1.000 ton per hari. Padahal, Korea, Thailand, dan Taiwan merupakan pasar ekspor potensial bagi TBLA. Sebagai informasi, per Juni 2019 TBLA mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp 4,12 triliun atau naik 3% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 4 triliun. Laba bersih TBLA juga naik 2,73% secara tahunan, dari Rp 349,56 miliar menjadi Rp 359,13 miliar.
https://investasi.kontan.co.id/news/tunas-baru-lampung-tbla-akan-tambah-kapasitas-pabrik-biodiesel

Tempo | Selasa, 10 September 2019
ESDM Perkenalkan Program Biodiesel kepada Mahasiswa Yogyakarta

Berada pada masa transisi energi khususnya pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN) sebagai pengganti bahan bakar fosil, pemerintah menyadari pentingnya peranan generasi muda dalam mendukung pelaksanaan program tersebut. Generasi muda diharapkan dapat mengimplementasikan ilmu yang dimiliki dalam pengembangan bioenergi melalui pemanfaatan sumber energi bioenergi di lingkungan sekitar. Selain itu, turut melakukan diseminasi informasi mengenai program mandatori biodiesel, serta memiliki komitmen yang sama dalam memanfaatkan BBN dalam kehidupan sehari-hari. “Kami harus memastikan bahwa informasi mengenai pelaksanaan program pemanfaatan biodiesel sebagai salah satu produk BBN yang sedang gencar diupayakan pemerintah diterima oleh generasi muda,” ujar Kasubdit Keteknikan dan Lingkungan Bioenergi Ditjen Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Effendi Manurung, saat mengenalkan B30 kepada mahasiswa di Yogyakarta dalam acara Biodiesel Goes to Campus, Selasa, 10 September. Mahasiswa yang hadir berasal dari kampus Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Satya Wacana.

“Kalian semua (baca: mahasiswa) adalah agent of change. Biodiesel ini memiliki banyak manfaat bagi lingkungan dan masyarakat petani kelapa sawit, lebih luas dapat meningkatkan devisa negara. Oleh karenanya menjadi penting bagi kami, para mahasiswa dapat memahami apa itu biodiesel dan kenapa pemerintah gencar mengembangkannya,” kata Efendi. Biodiesel merupakan BBN untuk mesin/motor diesel berupa Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang terbuat dari minyak nabati atau lemak hewani melalui proses esterifikasi/transesterifikasi. Untuk mengurangi ketergantungan impor BBM dan meningkatkan bauran energi baru terbarukan, pemerintah menerapkan program mandatori biodiesel yang dilaksanakan secara bertahap. ffendi menjelaskan kepada para mahasiwa bahwa pemerintah sukses menerapkan Mandatori B20 dengan mewajibkan pemakaian bahan bakar yang terdiri dari campuran 20 persen biodiesel dan 80 persen minyak solar kepada seluruh pengguna mesin diesel. Penggunaan B20 ini tergantung tiga faktor, yaitu kualitas bahan bakar (biodiesel dan solar), handling/penanganan bahan bakar, dan juga kompatibilitas material terhadap bahan bakar tersebut. Setelah program B20, pemerintah meningkatkan penggunaan biodiesel menjadi Mandatori B30 dan ditargetkan dapat diimplementasikan mulai 1 Januari 2020. Pada tanggal 3 Juni 2019, Menteri ESDM Ignasius Jonan me-launching Road Test B30 untuk tiga unit truk dan delapan unit kendaraan penumpang berbahan bakar B30 yang masing-masing menempuh jarak 40 ribu kilometer dan 50 ribu kilometer. Road Test tersebut mencapai sekitar 80 persen perjalanan. Dari hasil uji coba sementara yang dilaporkan awal September 2019 lalu, tidak ditemukan masalah yang signifikan pada unit kendaraan yang diuji coba terkait dengan performa mesin kendaraan, oli, serta emisi gas buang. Untuk konsumsi bahan bakar, hasilnya lebih hemat dari yang diperkirakan. “Kami membutuhkan dukungan dan peran aktif semua stakeholder, tidak hanya badan usaha dan asosiasi, tetapi juga Anda semua. Ini penting untuk ketahanan energi nasional dan target pengurangan emisi Gas Rumah Kaca,” ujar Effendi. Kegiatan Biodiesel Goes to Campus ini bentuk kerja sama Kementerian ESDM, Badan Pengelola Dana Pengelola Kelapa Sawit (BPDP KS), dan UPN Veteran Yogyakarta.
https://nasional.tempo.co/read/1246146/esdm-perkenalkan-program-biodiesel-kepada-mahasiswa-yogyakarta/full&view=ok