+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Pemerintah Perluas Insentif Biodiesel ke Pertambangan:

• Pemerintah Perluas Insentif Biodiesel ke Pertambangan: Pemerintah bakal memperluas penyaluran insentif biodiesel untuk industri pertambangan mulai Juni-Juli tahun ini. Perluasan ini menaikkan alokasi biodiesel untuk periode Mei-Oktober menjadi sekitar 1,8 juta kiloliter (KL) atau total konsumsi sebesar 3,5 juta KL untuk periode satu tahun ini. Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan, insentif biodiesel selama ini hanya diberikan untuk solar bersubsidi, solar pembangkit listrik, dan solar kereta api.Namun guna mendongkrak konsumsi biodiesel, pemerintah memutuskan untuk memperluas insentif biodiesel hingga ke sektor pertambangan mulai Juni-Juli tahun ini. (INVESTOR DAILY INDONESIA)

• RI Siap Hadapi Uni Eropa Soal Sawit: Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kemenlu Siswo Pramono menyatakan, Pemerintah Indonesia siap menghadapi rencana Uni Eropa (UE) untuk pentahapan keluar atau “phasing out” biofuel berbasis kelapa sawit. Salah satu langkah RI adalah pembentukan “Council for Palm Oil Producing Countries” (CPOPC) untuk menciptakan posisi bersama negara-negara penghasil kelapa sawit. Hal itu disampaikan Siswo di sela-sela kunjungan ke PT Inti Indosawit Subur (PT IIS) bersama dengan beberapa duta besar negara Eropa, di Jakarta, Ahad (22/4). Beberapa upaya lainnya yang dilakukan pemerintah Indonesia adalah mencari pasar baru, meningkatkan penyerapan pemakaian dalam negeri, serta mengelola pasar yang telah ada. (REPUBLIKA)

• RI Harus Manfaatkan Permintaan Sawit Global: Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono menyatakan bahwa Indonesia hams dapat memanfaatkan potensi kenaikan permintaan minyak sawit global guna mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di Tanah Air. Upaya tersebut bisa diwujudkan dengan dukungan pemerintah dan kerja keras semua pemangku kepentingan di sektor industri sawit nasional. Di sisi lain, industri sawit juga mampu menyumbang devisa ekspor US$ 18,10 miliar (Rp 244,40 triliun) atau sekitar 12,32% dari total nilai ekspor nasional. Kehadiran industri sawit nasional bukan saja menciptakan banyak tenaga kerja, namun juga mampu meningkatkan kesejahteraan petani karena 42% dari perkebunan sawit nasional dimiliki petani kecil dan industri turunannya dengan hasil akhir berupa biodiesel mampu menyelamatkan devisa hingga US$ 1,10 miliar (setara Rp 14,83 triliun). Penerapan program mandatori biodiesel telah mengurangi penggunaan solar impor. Industri sawit (INVESTOR DAILY INDONESIA)

• Gapki Apresiasi ESDM (Penyerapan Biodiesel Dikerek): GABUNGAN Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mendukung kebijakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang meningkatkan penyerapan biodiesel non public service obligation (PSO) ke sektor pertambangan. Kebijakan ini akan membantu industri biodiesel nasional. Sekjen Gapki Togar Sitang-gang mengapreisasi kementerian yang dipimpin Ignasius Jonan itu. Meski aturan penyerapan biodiesel sudah ada, fakta di lapangan tidak seperti apa yang diharapkan. (RAKYAT MERDEKA)

• Elo Jual, Gue Beli (Pemerintah Tak Gentar Eropa Ancam CPO RI): Pemerintah kini bersikap lebih tegas terhadap ancaman penghentian ekspor Crude Palm Oil/CPO (minyak mentah sawit) Indonesia oleh Uni Eropa. Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan siap mengambil sikap yang sama terhadap produk asal Benua Biru tersebut. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Haryadi Sukamdani berharap kisruh isu penolakan CPO tidak sampai memicu terjadinya perang dagang. “Masalah CPO tidak akan selesai jika kedua belah pihak saling ancam. Karena, masalah itu sebenarnya bisa diselesaikan lewat negosiasi dan memberikan pemahaman yang benar tentang kondisi sawit Indonesia,” kata Hariyadi. Namun demikian, Hariyadi meminta, para pelaku usaha untuk terus mencari pasar baru. Menurutnya, potensi pasar CPO di dalam negeri masih cukup besar. Namun sayang belum tergarap dengan optimal. Misalnya, hingga kini penggunaan biodiesel belum maksimal. “Kapasitas (kebutuhan) energi Indonesia luar biasa, semestinya kita bisa perbesar penggunaan biodiesel di dalam negeri dulu. Kalau surplus, baru kita lempar keluar,” kata Hariyadi. Hariyadi memadang saat ini prospek pengembangan biodiesel cukup baik di tengah tren kenaikan harga minyak mentah dunia. Meskipun diakuinya perdagangan komoditas itu sangat terpengaruh harga minyak mentah dunia. (RAKYAT MERDEKA)

• Indonesia to boost, Malaysia to slowdown biodiesel exports: Indonesian biodiesel makers are gearing up to boost exports after the European Union removed anti-dumping duties on shipments from some producers in the country, but rival suppliers in Malaysia are bracing for a slowdown in the wake of the move. After legal proceedings at the European Court of Justice, the EU last month removed duties on biodiesel imports for 13 Indonesian and Argentine producers that had been in place since 2013. Traders estimate Malaysian prices for a ton of biodiesel are typically US$30 to US$40 more expensive than Indonesian cargoes. Both nations use palm oil from their vast plantations to churn out biodiesel. Prices of Malaysian palm methyl ester, the bio component of biodiesel that comes from palm oil, traded at US$747 a ton on Thursday, versus US$711 in Indonesia, according to a trader. “Some (Indonesian) companies have already started shipping (to Europe),” said the chairman of the Indonesia Biofuels Producer Association (APROBI), MP Tumanggor. (THE BORNEO POST)
http://www.theborneopost.com/2018/04/21/indonesia-to-boost-malaysia-to-slowdown-biodiesel-exports/

• Thailand Menerapkan Swasembada Domestik Biodiesel: Dalam satu dekade terakhir, perkembangan biodiesel mulai tumbuh di sejumlah negara-negara maju, dan juga negara Thailand yang didukung oleh ketersedian bahan baku CPO untuk biodiesel. Tahun 2010, produksi biodiesel dunia mencapai 20,29 juta kl, dan tahun 2016 telah meningkat 64% menjadi 33,25 juta kl. Dengan rata-rata kenaikan 3,86 persen per tahun, maka tahun 2025, diproyeksikan produksi biodiesel dunia akan mencapai 41,38 juta kl atau du kali lipat di bandingkan produksi tahun 2010. Sebagai negara produsen CPO, Thailand telah mengembangkan industri hilir biodiesel. (SAWITINDONESIA)