+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Pemerintah Susun Roadmap Pengembangan BI00

Investor Daily Indonesia | Kamis, 16 Mei 2019
Pemerintah Susun Roadmap Pengembangan BI00

Pemerintah sedang menyusun peta jalan (roadmap) biodiesel 100% (B100) yang ditargetkan rampung paling lambat pada Juli mendatang. B100 merupakan bahan bakar nabati yang berasal dari minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO). Jenis bahan bakar ini akan menggantikan bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar yang berdampak positif dalam mengurangi impor. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM EX. Sutijastoto mengatakan penyusunan roadmap ini dilakukan agar pengembangan B100 masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) lima tahun ke depan. “Rencananya sebulan dua bulan roadmap selesai supaya masuk RPJMN Bappenas,” kata Sutjiastoto di Jakarta, Rabu (15/5). Sutijastoto menuturkan dalam roadmap itu memuat mengenai kilang minyak yang akan mengolah CPO. Saat ini Pertamina sedang menguji coba kilang eksisting untuk menghasilkan B100. Selain itu ada usulan agar perusahaan sawit didorong untuk membangun kilang. Namun dia belum bisa memastikan kisaran harga B100 tersebut lantaran formulanya masih disusun. “Apakah nanti ada semacam DMO (domestic market obligation) atau yang lain. Yang jelas semangatnya harga sawit tetap terjamin,” ujarnya.

Dikatakannya roadmap bukan hanya terkait pembangunan kilang saja. Melainkan memuat keterlibatan masyarakat dalam memasok CPO ke kilang tersebut. Dia menyebut ada rencana hasil petani Kelapa Sawit didorong sebagai pemasok kilang. Dengan begitu diharap- kan harga sawit stabil. Namun dia belum bisa membeberkan lebih lanjut rencana tersebut. “Ini semua sedang dibuat road-mapnya,” katanya. Pemerintah berkomitmen meningkatkan pemanfaatan CPO sebagai bahan bakar alternatif. Bahkan, CPO nantinya tak sebatas diolah menjadi solar hijau, tetapi juga avtur hijau yang memiliki angka Cetane lebih tinggi. Pemanfaatan ini dimulai dari kerja sama antara Pertamina dan PT Perkebunan Nusantara (Persero). Pertamina melakukan uji coba pengolahan CPO dengan metode co-processing yang dilakukan di Kilang Dumai, Riau dan Kilang Cilacap, Jawa Tengah. Selanjutnya, pada 2020, uji coba ini direncanakan dilakukan di Kilang Balongan, Jawa Barat. Jika terealisasi, maka impor minyak mentah dapat dikurangi. Program ini diperkirakan akan mengurangi konsumsi minyak mentah sebesar 23 ribu barel per hari (bph) atau setara US$ 500 juta per tahun. Mengacu data Pertamina, terdapat tiga kilang yang nantinya menghasilkan green gasoline dan green LPG, yakni Kilang Plaju, Cilacap, dan Balongan. Sementara pengolahan CPO di Kilang Dumai akan menghasilkan green diesel atau solar hijau. Khusus Kilang Cilacap, perseroan memproyeksikan juga akan menghasilkan green avtur atau avtur hijau. Dari program co-processing ini, diproyeksikan produksi green gasoline bisa 487 ribu KL per bulan dan green LPG 104 ribu ton per bulan. Sementara proyeksi produksi green diesel dan green avtur, sesuai data Pertamina, masing-masing 11.500 Barrel Steam Per Day (BSD) dan 11.700 BSD.

Sawitindonesia | Rabu, 15 Mei 2019
Dibayangi Sentimen Negatif, Ekspor Sawit Triwulan Pertama Naik 16%

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyatakan kinerja ekspor di tiga bulan pertama tahun ini sangat positif, ditengah lesunya ekonomi global dan sentimen negatif Eropa. Sepanjang triwulan pertama 2019, kinerja ekspor minyak sawit secara keseluruhan (Biodiesel, Oleochemical, CPO dan produk turunannya) meningkat sekitar 16% menjadi 9,1 juta ton dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 7,84 juta ton. “Industri ini terus berperan dalam menambal neraca perdagangan Indonesia yang minus dengan kinerja ekspornya. Dengan kinerja ini, ekspor minyak sawit Indonesia tetap tumbuh meskipun di bawah harapan,” ujar Mukti Sardjono, Direktur Eksekutif GAPKI dalam keterangan tertulis. Pada Maret 2019 kinerja ekspor minyak sawit secara keseluruhan (Biodiesel, Oleochemical, CPO dan produk turunannya) membukukan peningkatan 3% dibandingkan bulan sebelumnya atau dari 2,88 juta ton meningkat menjadi 2,96 juta. Sementara ekspor khusus CPO dan produk turunannya hanya meningkat sangat tipis yaitu 2,77 juta ton di Februari sedikit terkerek menjadi 2,78 juta ton di Maret.

Muktig mengatakan sentimen RED II Uni Eropa, setidaknya telah ikut menggerus kinerja ekspor Indonesia, selain itu lesunya perekonomian di negara tujuan utama ekspor khususnya India berdampak sangat signifikan pada permintaan minyak sawit negara Bollywood ini. Perang dagang Amerika Serikat dan China yang tak kunjung usai, mempengaruhi perdagangan kedelai kedua negara yang berujung pada menumpuknya stok kedelai di AS. Pada Maret ini ekspor CPO dan turunannya dari Indonesia ke India membukukan penurunan yang tajam yaitu 62% atau dari 516,53 ribu ton di Februari meluncur bebas ke 194,41 ribu ton di Maret. Perlambatan pertumbuhan ekonomi India yang hampir memasuki ambang krisis menyebabkan berkurangnya permintaan minyak sawit India baik dari Indonesia maupun Malaysia. Penurunan permintaan juga diikuti negara Afrika 38%, Amerika Serikat 10%, China 4% dan Uni Eropa 2%.

Secara mengejutkan ekspor minyak sawit ke negara lain-lain meningkat 60% dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan permintaan CPO dan produk turunannya dari Indonesia yang cukup signifikan datang dari Asia khususnya Korea Selatan, Jepang dan Malaysia. Beralih kepada penyerapan Biodiesel di dalam negeri. Sepanjang Maret ini penyerapan biodiesel di dalam negeri mencapai lebih dari 527 ribu ton atau turun 19% dibandingkan dengan bulan Februari lalu yang mencapai 648 ribu ton. Turunnya penyerapan biodiesel disinyalir karena keterlambatan permintaan dari Pertamina sehingga pengiriman ke titik penyaluran ikut terlambat. Dari sisi harga, sepanjang Maret harga CPO global bergerak di kisaran US$ 510 – US$ 550 per metrik ton dengan harga rata-rata US$ 528,4 per metrik ton. Harga rata-rata ini tergerus 5% dibandingkan harga rata-rata Februari US$ 556,5 per metrik ton. Pada Maret ini produksi minyak sawit membukukan peningkatan 11% atau dari 3,88 juta ton di Februari meningkat menjadi 4,31 juta ton di Maret. Naiknya produksi di Maret ini tergolong normal karena hari kerja yang lebih panjang jika dibandingkan dengan bulan Februari. Dengan produksi yang cukup baik, stok minyak sawit pada Maret ini masih terjaga dengan baik di 2,43 juta ton meskipun turun 3% dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang bertengger di 2,50 juta ton.

Inews | Rabu, 15 Mei 2019
Serapan Biodiesel Maret 2019 Turun 16 Persen

Pemerintah saat ini tengah fokus meningkatkan serapan minyak mentah kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO), sebagai bahan bauran biodiesel 20 persen atau B20. Namun, pada Maret 2019, penyerapan CPO mengalami perlambatan dibandingkan Februari 2019. Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono mengatakan, pada Maret 2019 penyerapan biodiesel sebesar 527.000 ton. Jumlah tersebut turun 16 persen dari bulan sebelumnya yang mencapai 648.000 ton. Menurunnya angka serapan ini diakibatkan adanya keterlambatan permintaan dari PT Pertamina (Persero), sebagai salah satu badan usaha utama yang ditugaskan menyerap B20. Alhasil, pengiriman biodiesel ke titik-titik yang telah ditunjuk juga terhambat. “Turunnya penyerapan biodiesel disinyalir karena keterlambatan permintaan dari Pertamina sehingga pengiriman ke titik penyaluran ikut terlambat,” kata Mukti di Jakarta, Rabu (15/5/2019). Mukti menambahkan, produksi minyak sawit sepanjang Maret 2019 mengalami kenaikan 11 persen, dari 3,88 juta ton pada Februari, menjadi 4,31 juta ton di Maret. “Naiknya produksi di Maret ini tergolong normal karena hari kerja yang lebih panjang jika dibandingkan dengan bulan Februari,” ucapnya. Dengan angka produksi tersebut, ia mengakui bahwa ada penurunan angka stok minyak sawit nasional sebesar 3 persen pada Maret 2019. Namun, ia memastikan bahwa stok minyak kelapa sawit nasional masih cukup. “Dengan produksi yang cukup baik, stok minyak sawit pada Maret ini masih terjaga dengan baik di 2,43 juta ton meskipun turun 3 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang bertengger di 2,50 juta ton,” ucap dia.
https://www.inews.id/finance/makro/serapan-biodiesel-maret-2019-turun-16-persen/545041

Antara | Rabu, 15 Mei 2019
GAPKI: Penyerapan Biodiesel Domestik Capai 1,7 Juta Ton Triwulan I

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat penyerapan biodiesel dalam negeri pada triwulan I 2019 telah mencapai 1.727.000 ton seiring dengan perluasan mandatori biodiesel 20 persen (B20). Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono menyebutkan penyerapan biodiesel sepanjang Maret 2019 mencapai lebih dari 527.000 ton, atau turun 19 persen dibandingkan Februari sebesar 648.000 ton. Sementara itu, pada Januari 2019 penyerapan biodiesel mencapai 552.000 ton. “Turunnya penyerapan biodiesel disinyalir karena keterlambatan permintaan dari Pertamina sehingga pengiriman ke titik penyaluran ikut terlambat,” kata Joko pada kegiatan buka bersama GAPKI di Jakarta, Rabu. Pada pengembangan B20, serapan minyak sawit mentah (CPO) ditargetkan hingga akhir tahun 2019 sebesar 6,2 juta kiloliter atau setara 5,4 juta ton. Joko menilai penyerapan CPO dalam negeri menjadi solusi atas tantangan industri sawit yang saat ini tengah dihadapi Indonesia, khususnya pada triwulan pertama 2019.

Berbagai tantangan baik dari dalam negeri, luar negeri dan sentimen pasar dihadapi industri ini. Awal tahun, industri sawit diterpa kebijakan Uni Eropa terkait Renewable Energy Directive II (RED II) yang akan menerapkan penghapusan penggunaan biodiesel berbasis sawit. Dalam kebijakan tersebut, minyak kelapa sawit dikategorikan berisiko tinggi terhadap deforestasi (ILUC–Indirect Land Used Change) sedangkan minyak nabati lain digolongkan berisiko rendah. Sementara itu, di dalam negeri, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) terus menekan industri untuk keterbukaan informasi HGU. Dari sektor pasar, industri juga dibayangi kekhawatiran harga CPO global yang trennya terus menurun. Dari sisi harga, sepanjang Maret harga CPO global bergerak di kisaran 510-550 dolar AS per metrik ton dengan harga rata-rata 528,4 dolar AS per metrik ton. Harga rata-rata ini tergerus lima persen dibandingkan harga rata-rata Februari 556,5 dolar AS per metrik ton. Sementara itu, produksi minyak sawit membukukan peningkatan 11 persen dari 3,88 juta ton pada Februari menjadi 4,31 juta ton pada Maret. Naiknya produksi bulan Maret ini tergolong normal karena hari kerja yang lebih panjang jika dibandingkan dengan bulan Februari. Dengan produksi yang cukup baik, stok minyak sawit pada Maret ini masih terjaga dengan baik pada angka 2,43 juta ton, meskipun turun tiga persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya pada angka 2,50 juta ton.
https://www.antaranews.com/berita/871859/gapki-penyerapan-biodiesel-domestik-capai-17-juta-ton-triwulan-i