+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Pemerintah Terus Tekan Impor Migas

Investor Daily Indonesia | Kamis, 18 Juli 2019
Pemerintah Terus Tekan Impor Migas

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan pemerintah terus menekam impor BBM, salah satunya dari hilir migas dengan peningkatan pemanfaatan biodiesel. “Saat ini, uji coba penggunaan B30 sedang berlangsung dan diharapkan dapat mengurangi impor BBM. Dengan energi ramah lingkungan ini, rantai suplai yang dari luar negeri sudah bisa kita eliminasi. Kita mampu menghasilkan kebutuhan energi kita yang berasal dari kemampuan dalam negeri,” kata Arcandra dalam keteran- gannya di Jakarta, Rabu (17/7). Arcandra menjelaskan kebutuhan solar dalam negeri sekitar 30 juta kilo liter setahun. Dengan pemanfaatan biodiesel saat ini (B20), sekitar 6 juta kilo liter FAME dapat menggantikan solar. Hal ini diyakini dapat menghemat hingga US$ 3 miliar. Dia menegaskan perlu adanya usaha terus menerus untuk mengurangi impor BBM dalam negeri. Seiring pertumbuhan ekonomi, kebutuhan akan BBM terus meningkat dan jika tidak diimbangi dengan ketersediaan di dalam negeri maka kebutuhan impor akan membesar.

“Hari demi hari impor kita akan membesar kalau kita tidak ada usaha untuk menguranginya. Sekitar US$ 36 juta per hari kita impor, setahun sekitar US$10 atau 11 miliar kita impor. Kalau dengan adanya pertumbuhan, maka US$ 11 miliar ini akan terus meningkat dari tahun ke tahun,” ujarnya. Di sisi lain, di hulu migas upaya terus dilakukan Pemerintah dalam memperbaiki iklim sektor ESDM. Arcandra menerangkan bahwa sebelumnya di tahun 2015 dan 2016 lelang blok migas yang masih menggunakan skema cost recovery tidak ada yang laku. Namun di 2017, skema cost recovery diubah menjadi gross split dan 5 blok eksplorasi langsung diminati oleh investor yang disusul kemudian di 2018 terdapat 9 blok migas yang diminati. Hingga Juni 2019, imbuh Arcandra, sebanyak 42 kontrak kerja sama migas telah menggunakan skema gross split. “Lima di antara kontrak tersebut merupakan amandemen dari cost recovery menjadi gross split dan ini merupakan perbaikan dari sisi hulu,” ujarnya.

Harian Kontan | Kamis, 18 Juli 2019
Arcandra: B30 Mampu Menekan Impor BBM

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah berupaya mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM). Salah satunya melalui program pemanfaatan campuran biodiesel 30% atau B30. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar optimistis, impor BBM bisa dikurangi dengan peningkatan pemanfaatan biodiesel. Oleh karena itu, saat ini pemerintah, kata Arcandra, terus menggenjot pelaksanaan uji coba penggunaan B30. “Dengan energi ramah lingkungan ini, rantai suplai yang dari luar negeri sudah bisa kita eliminasi. Kita mampu menghasilkan kebutuhan energi kita yang berasal dari kemampuan dalam negeri”, terangnya, Rabu (17/7). Saat ini kebutuhan solar dalam negeri mencapai sekitar 30 juta kiloliter per tahun. Saat ini, program pemanfaatan biodiesel sebesar 20% atau B20 sudah mencapai sekitar 6 juta kiloliter fatty acid methyl esters (FAME) per tahun mulai mengurangi penggunaan solar. Program ini diyakini dapat menghemat hingga US$ 3 miliar. Arcandra menambahkan, perlu usaha terus menerus untuk mengurangi impor BBM. Maklum kebutuhan BBM terus meningkat seiring seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Tanpa antisipasi, impor BBM akan membesar. “Sekitar US$ 36 juta per hari kita impor, setahun bisa mencapai US$ 10 miliar hingga US$ 11 miliar untuk impor. Nilai impor akan terus naik melebihi US$ 11 miliar dari tahun ke tahun jika tidak diantisipasi”, tandasnya.

Rmco | Rabu, 17 Juli 2019
B30 Bisa Tekan Impor Solar

Pemerintah tengah mencoba campuran biodiesel 30 persen (B30). Program ini bisa menekan ketergantungan impor solar. Hal tersebut dikatakan Kepala Litbang Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM Dadan Kusdiana di sela-sela diskusi Tantangan dan Peluang Implementasi B30 dan B100 di Kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Jakarta, Rabu (17/7). Menurut Dadan, dengan adanya program B20, jumlah impor solar sudah mulai berkurang. Nah, dengan dinaikkan jadi B30 diharapkan bisa turun lagi. Kalau bisa tahun depan bisa tidak perlu impor solar lagi. “Kan produksi solar Pertamina juga sudah bertambah. Tidak perlu impor solar. Sekarang impor yang besar itu di bensin,” katanya. Menurut dia, impor solar sekarang masih digunakan mining. Tapi jika produksi biodiesel Pertamina, maka impor-impor akan terus dikurangi. “Jadi solar akan duluan cukupnya dibandingkan dengan bensin. Mungkin suatu saat bisa surplus. Tidak apa-apa kan itu bisa diekspor.. Tinggal cari pembelinya,” ujarnya. ESDM juga menargetkan uji coba B30 bisa kelar Oktober. Menurut dia, uji coba B30 ditempuh dengan jarak 50 ribu kilometer (Km). Artinya sehari harus menepuh jarak 560 km.

“Kan temen-teman bisa hitung berapa harinya. Sekitar 80 harian di jalan. 80 hari itu baru kendaraannya bolak balik, belum lagi setiap 2.500 km di cek, begitu juga tiap 5.000 km. Tiap 10.000 km juga di cek olinya,” paparnya. Menurut dia, saat ini jumlah biodiesel di dalam negeri sangat cukup. Kapasitas produknya mencapai 12 juta kiloliter (KL). Jika B20 menyerap 6 juta KL, maka B30 bisa menyerap 9 juta KL. Artinya masih cukup. Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), selaku produsen biodiesel juga siap menambah produksinya. Pabriknya sudah siap untuk memasok kebutuhan biodiesel yang dibutuhkan jika program B20 lanjut ke B30 kemudian B100. “Dari produksi tidak ada masalah. Nah sekarang kita pastikan dari penggunanya. Menteri ESDM (Ignasius Jonan) meminta jangan sampai ini meningkatkan biaya perawatan, terus jangan sampai juga ini mengurangi kinerja yang terlalu jauh. Nah dua hal ini kita pantau sebab di B20 kan tidak terjadi,” ujarnya. Terkait dengan keluhan pengusaha kapal yang tergabung Indonesian National Shipowners’ Association tentang B20 yang bikin kapal mereka rusak? Menurut Dadan, pihaknya sudah mendengarnya dan berdiskusi dengan mereka. “Yang mampet bukan biodieselnya tapi kotorannya. Kalau kotorannya sudah abis selesai. Tapi kan kita tidak tahu kapan kotorannya habis berapa lama. Paling ideal ya itu jalur bahan bakarnya dibersihkan,” tukasnya.
https://rmco.id/baca-berita/probisnis/13627/b30-bisa-tekan-impor-solar

The Jakarta Post | Rabu, 17 Juli 2019
B30 Biofuel Trial To Be Completed In October: APROBI

The Indonesian Biodiesel Producers Association (APROBI) expects the trial of 30 percent biofuel ( B30 ) on vehicles will be completed by October. APROBI chairman Paulus Tjakrawan said in Jakarta that the association had begun the trial of B30 biofuel with the Energy and Mineral Resources Ministry, state energy holding company Pertamina, the Agency for the Assessment and Application of Technology, the Association of Indonesian Automotive Manufacturers and the Bandung Institute of Technology. “We expect the B30 trial to be completed in October,” he said as quoted by Antara. So far, 40,000 kilometers test drives have been carried out to ensure biofuel does not affect the engines of vehicles. The trial also tested biofuel’s emissions and efficiency as compared to fossil fuels. Paulus expressed hope that after the trial was completed, the widespread use of B30 could be implemented in 2020. B30 has been used to fuel power plants since January 2016. “Sixty percent of the biodiesel would be used for transportation, while the remainder is for heavy equipment, plants and other industrial uses,” he said. In September 2018, the government issued a policy to begin the widespread use of 20 percent biodiesel ( B20 ) and soon after campaigned for the use of B30 to boost domestic consumption of crude palm oil (CPO), given the campaign against the commodity from the European Union. By using B30, Paulus said domestic use of CPO could reach 7.8 million tons. As for B20, domestic use is expected to reach 5.4 million tons. The Indonesian Palm Oil Producers Association recorded that the use of CPO in biodiesel stood at 1.2 million tons in the first two months of this year.
https://www.thejakartapost.com/news/2019/04/17/b30-biofuel-trial-to-be-completed-in-october-aprobi.html

Republika | Rabu, 17 Juli 2019
Biodiesel Eliminasi Rantai Suplai BBM dari Luar Negeri

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) bisa dikurangi, salah satunya dari hilir migas dengan peningkatan pemanfaatan biodiesel. Arcandra menyampaikan, saat ini, uji coba penggunaan B30 sedang berlangsung dan diharapkan dapat mengurangi impor BBM. Menurut Arcandra, dengan energi ramah lingkungan ini, rantai suplai yang dari luar negeri sudah bisa dieliminasi. “Kita mampu menghasilkan kebutuhan energi kita yang berasal dari kemampuan dalam negeri,” ujar Arcandra saat Workshop Pemanfaatan Minyak Sawit Untuk Green Fuel Dalam Mendukung ketahanan Energi dan Kesejahteraan Petani Sawit di Auditorium Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Selasa (16/7). Arcandra menjelaskan kebutuhan solar dalam negeri sekitar 30 juta kilo liter setahun. Dengan pemanfaatan biodiesel saat ini (B20), sekitar 6 juta kilo liter FAME dapat menggantikan solar. Hal ini diyakini dapat menghemat hingga 3 miliar dolar AS. Ia menegaskan perlu adanya usaha terus menerus untuk mengurangi impor BBM dalam negeri. Seiring pertumbuhan ekonomi, kebutuhan akan BBM terus meningkat dan jika tidak diimbangi dengan ketersediaan di dalam negeri maka kebutuhan impor akan membesar.

“Hari demi hari impor kita akan membesar kalau kita tidak ada usaha untuk menguranginya. Sekitar 36 juta dolar AS per hari kita impor, setahun sekitar 10 atau 11 miliar dolar AS kita impor. Kalau dengan adanya pertumbuhan, maka 11 miliar dolar AS ini akan terus meningkat dari tahun ke tahun,” ucap Arcandra. Di sisi lain, di hulu migas upaya terus dilakukan pemerintah dalam memperbaiki iklim sektor ESDM. Arcandra menerangkan bahwa sebelumnya pada 2015 dan 2016 lelang blok migas yang masih menggunakan skema cost recovery tidak ada yang laku. Namun pada 2017, skema cost recovery diubah menjadi gross split dan lima blok eksplorasi langsung diminati oleh investor yang disusul kemudian pada 2018 terdapat sembilan blok migas yang diminati. Hingga Juni 2019, kata Arcandra, sebanyak 42 kontrak kerja sama migas telah menggunakan skema gross split. “Lima di antara kontrak tersebut merupakan amandemen dari cost recovery menjadi gross split dan ini merupakan perbaikan dari sisi hulu,” kata Arcandra menambahkan.
https://republika.co.id/berita/puro8l370/biodiesel-eliminasi-rantai-suplai-bbm-dari-luar-negeri

Industry | Rabu, 17 Juli 2019
Terapkan B30, Indonesia Tak Akan Lagi Impor Solar

Pemerintah tengah berencana menerapkan kebijakan pemberlakuan bahan bakar biodiesel 30 persen (B30). Kebijakan tersebut diterapkan untuk mengurangi impor migas yang dianggap kerap menjadi penyebab defisit neraca perdagangan. Sedangkan dari sektor industri, apakah mereka siap untuk menerapkan kebijakan B30? Kepala Litbang Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana mengatakan, pihaknya tengah melakukan uji coba dan memastikan apakah kandungan biodiesel B20 bisa diterapkan sebagai standar campuran kandungan B30. Menurutnya, hasil uji coba ini akan menjadi parameter bagi pemerintah untuk memutuskan apakah penerapan B30 bisa berjalan atau tidak pada 1 Januari 2020. “Kita sedang uji coba dan memastikan untuk kandungan campuran biodiesel terutama monogriserida yang harus kita uji lebih detail, apakah cocok atau tidak, kalau ini lolos ya kita pakai, kalau tidak cocok, terpaksa kita pakai biodiesel yang standarnya lebih tinggi dari yang digunakan di luar negeri,” kata Dadan seusai Diskusi Ilmiah betrtajuk “Tantangan dan Peluang Imoplementasi B30 & B100” yang digelar Masyarakat Pelumas Indonesia (MASPI) di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu (17/7).

Dijelaskan Dadan, ada delapan mobil bermesin diesel dan 3 kendaraan komersial menggunakan B30 yang akan menyelesaikan jarak 50 ribu kilometer. Kendaraan penumpang yang diuji akan menempuh rute Lembang – Cileunyi – Nagreg – Kuningan – Tol Babakan – Slawi – Guci – Tegal – Tol Cipali – Subang – Lembang sejauh 560 km per hari dengan target 50 ribu km. Secara total, perjalanan tersebut memakan waktu 159 hari. Sementara itu tiga unit kendaraan komersial dengan berat di atas 3,5 ton akan diuji melewati Lembang – Karawang – Cipali – Subang – Lembang sejauh 350 km per hari dengan target 40 ribu km selama 149 hari. Dadan menargetkan penelitian dan uji coba biodiesel 30 persen ini dapat rampung pada pertengahan bulan Oktober 2019. “Insya allah pertengahan Oktober selesai. Ini kan diuji 50 ribu kilometer (km), jadi per 2,500 km kita record, perlu sekitar 80 harian,” ucapnya. Ditambahkan Dadan, Kementerian ESDM saat ini tengah memastikan bahwa kualitas biodieselnya sudah sesuai dan mencukupi. “Saat ini jumlahnya sudah cukup, dan metode monitoringnya juga sudah ada. Jadi dari segi bahan bakar sudah tidak ada masalah,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan, Menteri ESDM meminta penerapan B30 jangan sampai meningkatkan biaya perawatan, serta mengurangi kinerja bahan bakar yang terlalu jauh. “Nah, dua hal ini yang saat ini sedang kita pantau, di B20 kan tidak terjadi. Asumsi saya, kendaraan di Indonesia sudah siap untuk menuju B30, tapi kan mesti dibuktikan terlebih dahulu,” terang Dadan. Dadan menjelaskan, saat ini kapasitas biodiesel mencapai 12 juta kiloliter (KL) per tahun. Sedangkan untuk kebutuhan sebesar 9 juta KL per tahun. “Sekarang untuk B20 kita perlu 6 juta KL per tahun, secara perhitungan masih ada dan cukup,” katanya. Ia memastikan bahwa penerapan B30 dapat mengurangi porsi impor bahan bakar Indonesia. “Impor kita sebenarnya bukan tidak banyak, tapi jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya semakin menurun. Nah, jika B30 diterapkan, impor solar akan 0 (nihil), jadi tahun depan sudah tidak perlu impor untuk solar lagi, karena produksi Pertamina juga sudah mulai nambah untuk solar,” kata dadan. Namun, Dadan justru khawatir jika tidak tidak ada lagi impor solar akan membuat produksi solar Pertamina melimpah. “Tidak adanya impor akan membuat produksi solar Pertamina suplus, sambil berjalan kita akan carikan solusinya. Jika ingin diekspor, tinggal kita carikan pembelinya,” papar Dadan. Sekedar informasi, B30 atau yang disebut dengan Biodiesel 30% merupakan bahan bakar alternative yang dibuat dari minyak solar murni dicampur dengan FAME 30%, yang dihasilkan berasal dari bahan nabati bisa berupa kelapa sawit, kemiri sunan, biji matahari serta beragam produk organik lainnya. Manfaat B30 adalah sebagai pengganti bahan bakar konvensional yang berasal dari minyak bumi. Jadi B30 kombinasi 70% solar murni dan 30% biodiesel yang telah diolah melalui proses esterifikasi dan transesterifikasi.
https://www.industry.co.id/read/53198/terapkan-b30-indonesia-tak-akan-lagi-impor-solar

Neraca | Rabu, 17 Juli 2019
Pemerintah Akan Terapkan B30 untuk Kurangi Porsi Impor Bahan Bakar

Kepala Litbang Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana mengatakan, pihaknya tengah melakukan uji coba dan memastikan apakah kandungan biodiesel B20 bisa diterapkan sebagai standar campuran kandungan B30. Menurutnya, hasil uji coba ini akan menjadi parameter bagi pemerintah untuk memutuskan apakah penerapan B30 bisa berjalan atau tidak pada 1 Januari 2020. “Kita sedang uji coba dan memastikan untuk kandungan campuran biodiesel terutama monogriserida yang harus kita uji lebih detail, apakah cocok atau tidak, kalau ini lolos ya kita pakai, kalau tidak cocok, terpaksa kita pakai biodiesel yang standarnya lebih tinggi dari yang digunakan di luar negeri,” kata Dadan seusai Diskusi Ilmiah betrtajuk “Tantangan dan Peluang Imoplementasi B30 & B100” yang digelar Masyarakat Pelumas Indonesia (MASPI) di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu (17/7).

Lebih lanjut Dadan mengatakan ada delapan mobil bermesin diesel dan 3 kendaraan komersial menggunakan B30 yang akan menyelesaikan jarak 50 ribu kilometer. Kendaraan penumpang yang diuji akan menempuh rute Lembang – Cileunyi – Nagreg – Kuningan – Tol Babakan – Slawi – Guci – Tegal – Tol Cipali – Subang – Lembang sejauh 560 km per hari dengan target 50 ribu km. Secara total, perjalanan tersebut memakan waktu 159 hari. Sementara itu tiga unit kendaraan komersial dengan berat di atas 3,5 ton akan diuji melewati Lembang – Karawang – Cipali – Subang – Lembang sejauh 350 km per hari dengan target 40 ribu km selama 149 hari. Dadan menargetkan penelitian dan uji coba biodiesel 30 persen ini dapat rampung pada pertengahan bulan Oktober 2019. “Insya allah pertengahan Oktober selesai. Ini kan diuji 50 ribu kilometer (km), jadi per 2,500 km kita record, perlu sekitar 80 harian,” ucapnya. Ditambahkan Dadan, Kementerian ESDM saat ini tengah memastikan bahwa kualitas biodieselnya sudah sesuai dan mencukupi.”Saat ini jumlahnya sudah cukup, dan metode monitoringnya juga sudah ada. Jadi dari segi bahan bakar sudah tidak ada masalah,” ungkapnya.

Dia mengatakan, Menteri ESDM meminta penerapan B30 jangan sampai meningkatkan biaya perawatan, serta mengurangi kinerja bahan bakar yang terlalu jauh.”Nah, dua hal ini yang saat ini sedang kita pantau, di B20 kan tidak terjadi. Asumsi saya, kendaraan di Indonesia sudah siap untuk menuju B30, tapi kan mesti dibuktikan terlebih dahulu,” terang Dadan. Dadan menjelaskan, saat ini kapasitas biodiesel mencapai 12 juta kiloliter (KL) per tahun. Sedangkan untuk kebutuhan sebesar 9 juta KL per tahun.”Sekarang untuk B20 kita perlu 6 juta KL per tahun, secara perhitungan masih ada dan cukup,” katanya. Ia memastikan bahwa penerapan B30 dapat mengurangi porsi impor bahan bakar Indonesia.”Impor kita sebenarnya bukan tidak banyak, tapi jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya semakin menurun. Nah, jika B30 diterapkan, impor solar akan 0 (nihil), jadi tahun depan sudah tidak perlu impor untuk solar lagi, karena produksi Pertamina juga sudah mulai nambah untuk solar,” kata dadan. Namun, Dadan justru khawatir jika tidak tidak ada lagi impor solar akan membuat produksi solar Pertamina melimpah.”Tidak adanya impor akan membuat produksi solar Pertamina suplus, sambil berjalan kita akan carikan solusinya. Jika ingin diekspor, tinggal kita carikan pembelinya,” papar Dadan. Sekedar informasi, B30 atau yang disebut dengan Biodiesel 30% merupakan bahan bakar alternative yang dibuat dari minyak solar murni dicampur dengan FAME 30%, yang dihasilkan berasal dari bahan nabati bisa berupa kelapa sawit, kemiri sunan, biji matahari serta beragam produk organik lainnya. Manfaat B30 adalah sebagai pengganti bahan bakar konvensional yang berasal dari minyak bumi. Jadi B30 kombinasi 70% solar murni dan 30% biodiesel yang telah diolah melalui proses esterifikasi dan transesterifikasi.
http://www.neraca.co.id/article/119296/pemerintah-akan-terapkan-b30-untuk-kurangi-porsi-impor-bahan-bakar