+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Pemkab Musi Banyuasin dan ITB Siapkan Inovasi Minyak Sawit Jadi BBM

Republika | Senin, 18 Februari 2019

Pemkab Musi Banyuasin dan ITB Siapkan Inovasi Minyak Sawit Jadi BBM

Inovasi tiada henti terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin (Pemkab Muba), Sumatera Selatan ISumsell. Setelah berhasil menerapkan pembangunan jalan aspal menggunakan menggunakan campuran serbuk karet alam teraktivasi (SKAT) di Desa Bi Mulyorejo, Kecamatan Sungai Lilin pada tahun 2018 lalu dan ini merupakan program pertama di indonesia yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin. Kali ini Pemkab Muba dipimpin langsung Bupati Dodi Reza Alex Noerdin menggandeng Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit Kelapa Sawit (BPDP-KS) dengan inovasi mengolah inti kelapa sawit menjadi menjadi bahan bakar minyak (BBMI nabati. Kabupaten Muba memiliki potensi kelapa sawit yang besar. Kamis IU/2I Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin bersama Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah IBappeda) Muba Zuktakar, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Zainal Arifin, Pelaksana tugas IPK) Kepala DPMP-TSP Erdian Syahri, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Andi Wijaya Busro, Kepala Dinas Perkebunan Iskandar Syahnanto, Kabag Humas Herryandi Sinulingga, dan Pit Kabag Protokol Rangga Perdana Putra berkunjung ke kampus ITB di Bandung.

Kunjungan Bupati Musi Banyuasin ke ITB dalam rangka pertemuan dan Peninjauan Penelitian Pengembangan Biohydrocarbon Berbasis Sawit kerjasama antara ITB dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS). “Di ITB Bupati Dodi Reza Alex Noerdin bertemu Dekan Fakultas Teknologi Industri Teknik Kimia Prof Dr Dedi Kurniadi MEng didampingi Ketua Program Studi S2 dan S3 Teknik Kimia ITB Dr IGBN Makertihartha dan Dosen Teknik Kimia ITB Dr Melia Gunawan. Juga ikut Kepala Divisi Pengembangan Biodiesel BPDP-KS Muhammad Ferian,” kata Kabag Humas Pemkab Muba Herryandi Sinulingga, Jumat (15/21. Dalam kunjungan tersebut Dekan Fakultas Teknologi Industri Teknik Kimia ITB Dedi Kurniadi mengatakan, “Kabupaten Musi Banyuasin sangat cocok untuk nantinya mengolah inti kelapa sawit menjadi bahan bakar nabati karena Muba menjadi daerah yang dikelilingi perkebunan kelapa sawit dan ini akan menjadi pilot project daerah yang mengolah dan menghasilkan bahan bakar nabati atau biofuel dari inti kelapa sawit.” Sementara itu menurut Bupati Dodi Reza Alex Noerdin. Kabupaten Muba memiliki luas lahan kebun sawit milik rakyat yang telah tertanam dan akan ditanam seluas 8.124 hektar yang dilaksanakan oleh 12 koperasi dan dalam tahap proses usulan tahun 2019-2020 adalah seluas 5.360 hektar dan hingga tahun 2022 peremajaan ketapa sawit di Muba mencapai 42.000 hektar.

“Saat ini Pemkab Muba sedang menuju pembuatan btotuel yang berbasis sawit. Muba memiliki potensi kelapa sawit yang luas berkeinginan melakukan transformasi industri sawit sehingga akan bisa mendongkrak harga jual tandan buah segar atau TBS kelapa sawit rakyat. Han ini kami ke ITB ini untuk bekerjasama dalam merealisasikan terobosan inovasi energi terbarukan biofuel,” kata mantan Wakil Ketua Komisi VI DPR. Dodi Reza Alex Noerdin menjelaskan, besarnya potensi kelapa sawit tersebut berangkat dari keseriusan Koperasi Unit Desa (KUD) yang mendukung menyukseskan replanting atau peremajaan perkebunan sawit rakyat. Pada Desember 2018 lalu KUD di Muba juga mendapatkan penghargaan dan Kementerian Pertanian karena dinilai sukses sebagai pilot project peremajaan kelapa sawit di lahan seluas 4.446 hektare.

Replanting atau peremajaan kelapa sawit di Muba adalah yang pertama di Indonesia dan peresmiannya langsung dilakukan Presiden Joko Widodo pada 13 Oktober 2017 di Desa Panca Tunggal, Kecamatan Sungai Lilin. Bupati Dodi Reza Alex Noerdin mengharapkan dukungan banyak pihak dan khususnya petani sawit rakyat membuat Pemkab Muba terus semangat mencari dan mengembangkan inovasi baru untuk kelapa sawit. “Kita ingin semua itu mampu menyentuh kebutuhan pokok pekebun sawit untuk memperjuangkan terwujudnya pekebun sawit yang sejahtera, mandiri, berdaulat dan berkelanjutan. Kita juga berencana membangun mini refinery untuk penampungan sementara, dan sebagai langkah awal. produksi turunan dan tandan buah segar itu akan dikirim ke kilang minyak milik PT Pertamina di Plaju, Palembang,” ujarnya

Menurutnya, dalam waktu dekat MoU atau nota kesepahaman segera dilakukan bersama ITB dan BPDP-KS untuk segera merealisasikan inovasi minyak kelapa sawit menjadi bahan bakar minyak (BBM). Untuk pelaksanaannya, tahap awal kendaraan dinas di Pemkab Muba wajib pakai biofuel Muba sebagai wujud implementasi pemanfaatan energi terbarukan dan sustanaibleatau berkelanjutan.” Dekan Fakultas Teknologi Industri Teknik Kimia Dedi Kurniadi sangat menyambut baik langkah dan program terobosan inovasi yang akan dilakukan Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin dalam upaya mengembangkan bahan bakar dari inti kelapa sawit. “Kami sangat siap dan mendukung untuk merealisasikannya. Ini akan menjadi kerja sama yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat khususnya petani sawit rakyat,” ujarnya. Dedi Kurniadi menjelaskan, “Salah satu minyak nabati yang mempunyai potensi untuk dijadikan sebagai bahan bakar alternatif adalah minyak kelapa sawit. Pemilihan minyak kelapa sawit sebagai sumber energi altematif sangat tepat dilakukan di Indonesia karena merupakan negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar kedua di dunia setelah negeri Malaysia.” Menurut Bupati Dodi Reza Alex Noerdin, keterbatasan bahan bakar fosil sebagai salah satu sumber energi yang tidak dapat diperbarui di Indonesia menjadikan wacana untuk menciptakan sumber energi alternatif dari bahan baku lain yang jumlahnya masih melimpah dan dapat diperbarui. “Salah satu sumber energi alternatif tersebut adalah bahan bakar nabati. Biofuel atau bahan bakar nabati sering disebut energi hijau karena asal-usul dan emisinya bersifat ramah lingkungan dan tidak menyebabkan peningkatan pemanasan global secara signifikan.” katanya.

Investor Daily Indonesia | Senin, 18 Februari 2019

Penggunaan Biodiesel Jadi Perhatian Capres

Masalah pengembangan energi biodisel menjadi perhatian para calon presiden dalam acara Debat Capres 2019 Putaran Kedua, saat mengulas sektor energi. Calon Presiden nomor Ol Joko Widodo (Jokowi) menyebutkan saat ini Indonesia sedang menuju pada proses pengembangan energi B100 atau campuran biodiesel 100 persen pada BBM. “Kita sudah produksi B20 sudah sebanyak 98 persen, artinya B20 sudah rampung, saat ini kita menuju B100,” kata Jokowi. Jokowi juga menyampaikan bahwa sebanyak 30 persen sawit di Indonesia akan dimanfaatkan menjadi energi baru terbarukan. “Ini sudah kita rencanakan secara rijit dan jelas, hal ini untuk agar kita tidak tergantung pada impor minyak,” katanya. Sementara, Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menjelaskan untuk mencapai kedaulatan dibutuhkan kemandirian di bidang energi. Prabowo menjelaskan dibutuhkan upaya dan arah yang tepat. “Sebagaimana tadi saya sampaikan, setiap arah, setiap usaha ke arah kemandirian di bidang energi,” katanya. Dia mengapresiasi di kepemimpinan Jokowi dan pemerintahannya telah melakukan hal positif di bidang energi. “Tapi kita koreksi juga kalau ada kekurangan. Jadi ini diskursus yang sehat, sekali lagi kami mendukung,” jelas dia. Jika terpilih, ia memiliki strategi untuk menggenjot kelapa sawit, aren, cassava (singkong) bahkan ethanol dari gula. “Semua kita gunakan supaya kita tidak mengimpor bahan energi dari luar negeri,” imbuh dia.

Indo Pos | Senin, 18 Februari 2019

Muba Berinovasi Mengubah Minyak Sawit Jadi BBM

Keterbatasan bahan bakar fosil sebagai salah satu sumber energi yang tidak dapat diperbarui di Indonesia menjadikan wacana untuk menciptakan sumber energi alternatif dari bahan baku lain yang jumlahnya masih melimpah dan dapat diperbarui. Salah satu sumber energi alternatif tersebut adalah bahan bakar nabati. Biofuel atau bahan bakar nabati sering disebut energi hijau karena asal-usul dan emisinya bersifat ramah lingkungan dan tidak menyebabkan peningkatan pemanasan global secara signifikan. Di Kabupaten Musi Banyuasin, komitmen dan upaya Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex untuk mensejaterahkan petani sawit rakyat terus dilakukan dengan program-program Pemkab Muba. Misalnya saja dengan peremajaan perkebunan kelapa sawit milik petani rakyat yang dilakukan sejak 2017 lalu di lahan perkebunan milik rakyat seluas 4.446 hektare. Kali ini upaya tersebut akan direaliasikan Bupati Muba Dodi Reza Alex dengan menggandeng Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit Kelapa Sawit (BPDP-KS) untuk mengelola inti kelapa sawit menjadi menjadi bahan bakar nabati.

“Kabupaten Muba sangat cocok untuk nantinya mengolah inti kelapa sawit menjadi bahan bakar nabati, karena Muba menjadi daerah yang dikelilingi perkebunan kelapa sawit dan ini akan menjadi pilot project daerah yang mengolah dan menghasilkan bahan bakar nabati atau Biofuel dari inti kelapa sawit,” ungkap Dekan Fakultas Teknik Industri Teknik Kimia ITB Prof Dr Dedi Kurniadi, MEng didampingi Ketua Program Studi (Prodi) S2 dan S3 Teknik Kimia ITB Dr IGBN Makertihartha dan dosen teknik kimia ITB Dr Melia Gunawan di sela kunjungan Bupati Musi Banyuasin dalam rangka pertemuan dan peninjauan penelitian pengembangan biohydrocarbon berbasis sawit, kerja sama antara ITB dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) di Kampus ITB, Kamis (14/2). Dijelaskan, untuk tahapan proses pengelolaan minyak nabati dari inti kelapa sawit yakni dimulai dari proses perengkahan -LPG – Biogasoline/green gasoline. Secara umum minyak nabati dapat terurai secara biologis dan lebih sempurna (lebih dari 90% dalam waktu 21 hari) daripada bahan bakar minyak bumi (sekitar 20% dalam waktu 21 hari). Di samping itu, pemanfaatan minyak nabati sebagai bahan bakar diharapkan dapat memberikan nilai ekonomi di bidang pertanian.

“Salah satu minyak nabati yang mempunyai potensi untuk dijadikan sebagai bahan bakar altematif adalah minyak kelapa sawit. Pemilihan minyak kelapa sawit sebagai sumber energi altematif sangat tepat dilakukan di Indonesia karena Indonesia merupakan negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar kedua di dunia setelah negeri Jiran Malaysia,” terangnya. Lanjutnya, pihak ITB khususnya Prodi Teknik Kimia sangat menyambut baik langkah dan program terobosan yang akan dilakukan Bupati Muba Dodi Reza Alex dalam upaya mengembangkan bahan bakar dari inti kelapa sawit. “Kami sangat siap dan mendukung untuk merealisasikan ini, ini akan menjadi kerjasama yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat khususnya petani sawit rakyat,” tuturnya. Sementara itu, dalam kesempatan tersebut Bupati Muba Dodi Reza Alex menyebutkan saat ini luas lahan kebun sawit milik rakyat yang telah tertanam dan akan ditanam seluas 8.124 hektare yang dilaksanakan oleh 12 koperasi dan dalam tahap proses usulan tahun 2019-2020 adalah seluas 5.360 hektare dan hingga tahun 2022 peremajaan kelapa sawit di Muba mencapai 42 ribu hektare. “Saat ini Pemkab Muba sedang menuju pembuatan bio fuel yang berbasis sawit, Muba dengan memiliki potensi kelapa sawit yang cukup luas berkeinginan untuk melakukan transformasi industri sawit sehingga akan bisa mendongkrak haga jual TBS kelapa sawit pekebun, oleh sebab itu kehadiran kami ke ITB ini untuk bekerja sama dalam merealisasikan terobosan inovasi energi terbarukan bto fuel ini,” terangnya.

Dodi menambahkan, upaya pembenahan tersebut diharapkan mampu menyentuh kebutuhan pokok pekebun sawit untuk memperjuangkan terwujudnya pekebun sawit yang sejahtera, mandiri, berdaulat, dan berkelanjutan. “Kita juga nantinya berencana akan membangun mini refinery untuk penampungan sementara, dan sebagai langkah awal, produksi turunan dari tandan buah segar itu akan dikirim ke kilang minyak milik PT. Pertamina di Plaju, Palembang,” bebernya. Mantan anggota DPR RI dua periode ini menambahkan, setelah berjalan nantinya di tahap awal dirinya akan mewajibkan seluruh kendaraan dinas di lingkungan Pemkab Muba menggunakan bahan bakar atau Biofuel tersebut untuk operasional. “Dalam waktu dekat MoU akan segera kita lakukan bersama ITB dan BPDP-KS untuk segera merealisasikan ini, dan nantinya tahap awal kendaraan dinas di Pemkab Muba wajib pakai bio fuel Muba ini sebagai wujud implementasi pemanfaatan energi terbarukan dan sustanaible atau berkelanjutan,” katanya. Pada kesempatan tersebut, Bupati Muba Dodi Reza turut didampingi Kepala Bapeda Ir Zukfakar, MSi, Kadisperindag Zainal Arifin, ST, MM, Pit Kepala DPMPTSP Erdian Syahri, Ssos, MSi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Andi Wijaya Busro, SH, MHum, Kepala Dinas Perkebunan Drs Iskandar Syahrianto, Kabag Humas Herryandi Sinulingga, dan Pit Kabag Protokol Rangga Perdana Putra, SSTP, MSi. Turut hadir juga Kepala Divisi Pengembangan Biodiesel BPDP-KS Muhammad Ferian.

Media Indonesia | Senin, 18 Februari 2019

Pengolahan Biofuel Diusulkan di Italia

Menteri BUMN Rini Soemarno mengusulkan agar minyak kelapa sawit mentah (CPO) diubah menjadi bahan bakar minyak ramah lingkungan {biofuel) hingga kandungan mencapai 100%, dapat diproses di Italia. Rini yang dijumpai di Palembang, kemarin, seusai memantau proses digitalisasi SPBU, mengatakan usul itu telah dibicarakan dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral belum lama ini. “Jika boleh, kami ingin membeli minyak kelapa sawit (CPO) dari petani untuk kemudian dikirim ke Italia. Mereka yang proses kemudian dikirim kembali Indonesia sampai kilang kami selesai,” kata Rini. Ia mengatakan nantinya pemerintah akan membuat kontrak dengan PT ENI terkait dengan pemprosesan minyak sawit tersebut hingga pembangunan kilang extension yang ditargetkan rampung pada 2021. PT ENI yang dimaksud Rini ialah perusahaan energi asal Italia, ENI SpA. Perusahaan itu telah menjalin kerja sama di bidang energi terbarukan dengan Pertamina yang ditandai dengan penandatanganan tiga kesepakatan di Roma, Italia, pada Januari 2019 lalu. Kerja sama itu antara lain berkaitan dengan pengembangan green refinery (kilang ramah lingkungan), yakni head of joint venture agreement (kesepakatan awal pembentukan perusahaan patungan), dan term sheet, CPO\’ processing (pemrosesan minyak sawit). Sejauh ini terdapat dua kilang yang menjadi fokus utama PT Pertamina untuk kilang ramah lingkungan, yakni Kilang Plaju di Palembang, Sumatra Selatan, dan Kilang Dumai di Riau. Kedua kilang tersebut bertugas memproduksi B20 untuk memenuhi permintaan dalam negeri. “Saat ini penggunaan B20 yang sudah/uff, sekarang solar di pasaran semuanya sudah Biofuel (ada campuran minyak sawit 20%),” kata Rini. Pemerintah berharap dengan diproduksinya BBM berbahan minyak sawit, impor minyak mentah yang selama ini menguras devisa negara bisa dikurangi.

Detik | Minggu, 17 Februari 2019

Target Jokowi Kurangi Bahan Bakar Fosil, Beralih ke B100

Capres nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) meyampaikan visi-misinya dalam debat capres jilid 2. Jokowi menginginkan penggunaan bahan bakar fosil berkurang ke depan. “Di bidang energi ke depan kita ingin sebanyak-banyaknya mengurangi energi fosil,” kata Jokowi dalam Debat Capres Jilid 2 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019). Penggunaan bahan bakar fosil perlahan digantikan dengan biodiesel dan biofuel. Saat ini, penggunaan B20 misalnya sudah diterapkan. “Biodiesel, biofuel sudah kita mulai melakukan produksi B20 kita teruskan sampai B100. Sehingga ketergantungan energi fosil semakin berkurang dari tahun ke tahun,” ujar Jokowi. Sebelumnya, penyampaian visi dan misi juga sudah dipaparkan oleh capres nomor urut 01 Prabowo Subianto.

https://finance.detik.com/energi/d-4432072/target-jokowi-kurangi-bahan-bakar-fosil-beralih-ke-b100

Detik | Minggu, 17 Februari 2019

Jokowi: Kita Menuju B100

Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto menegaskan pentingnya penggunaan kelapa sawit untuk biodiesel dan biofuel. Prabowo bilang dalam waktu dekat Indonesia bisa mengimpor minyak bila tak memanfaatkannya. Menjawab itu, Capres petahana Joko Widodo (Jokowi) mengatakan saat ini pemerintah telah memanfaatkan kelapa sawit dalam program biodiesel 20% atau B20. “Supaya Pak Prabowo tahu, kita telah mulai B20 dan sudah berporduksi 98% dari yang kita harapkan,” kata Jokowi dalam Debat Capres Jilid 2 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019). Jokowi bahkan, saat ini pemerintah sedang menuju program B100. Di mana, kata Jokowi, 30% total produksi kelapa sawit masuk ke biofuel. Dengan begitu, Indonesia tak tergantung impor minyak. “Artinya B20 sudah rampung. Kita menuju B100. 30% dari total produksi kelapa sawit akan masuk ke biofuel. sudah rigid dan jelas. Ini yang kita kerjakan sehingga tidak ketergantungan minyak dan impor. targetnya itu, Pak,” sambungnya.

https://finance.detik.com/energi/d-4432149/jokowi-kita-menuju-b100

Liputan6 | Minggu, 17 Februari 2019

Tekan Impor Migas, Jokowi dan Prabowo Kompak Pakai Biofuel

Calon presiden (capres) nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto bertemu pada debat capres jilid II pada Minggu 17 Februari 2019. Pada debat kedua akan membahas soal energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam (SDA), dan lingkungan hidup. Dari sektor energi, upaya menekan impor minyak dan gas (migas) tampaknya akan menjadi perhatian. Saat ini pemerintah berupaya untuk menekan impor, salah satunya sektor migas. Impor migas tersebut salah satu yang menyumbang defisit neraca perdagangan Indonesia. Tercatat defisit neraca perdagangan Indonesia mencapai USD 8,57 miliar sepanjang 2018. Sedangkan defisit neraca transaksi berjalan mencapai 2,98 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2018. Menteri Keuangan, Sri Mulyani pernah menuturkan, pemerintah akan terus berupaya menekan impor terutama impor di sektor minyak dan gas (migas). Meski demikian, ia akui impor migas di Indonesia masih cukup tinggi. Hal itu terlihat dari impor minyak PT Pertamina yang tumbuh 13,5 persen.

“Jadi kita lihat beberapa langkah yang sudah kita lakukan memberikan dampak. Namun kelihatan bahwa impor kita masih cukup besar di beberapa kategori tadi, yang minyak, karena dalam catatan kita seperti Pertamina masih impornya growth-nya 13,5 persen,” kata dia, saat ditemui, di Kompleks DPR RI, Jakarta, Rabu 16 Januari 2019. Sri Mulyani menuturkan, salah satu upaya yang akan dilakukan pemerintah untuk menekan impor migas yakni dengan terus mendorong implementasi B20. “Kalau kita lihat instrumen yang kita lakukan untuk memperbaiki defisit neraca pembayaran, current account defisit (CAD) dan neraca perdagangan itu adalah dengan beberapa langkah yang sudah dilakukan. B20 karena dari sisi migas kita mencoba mengurangi dari sisi defisitnya,” ujar dia. Seperti diketahui, B20 ini merupakan campuran biodiesel sebanyak 20 persen dalam bahan bakar minyak (BBM). Sementara itu, strategi menekan impor dengan memakai biofuel atau bahan bakar yang berasal dari bahan tanaman juga akan dilakukan oleh calon presiden urut nomor urut 02 Prabowo Subianto.

Hal itu seperti disampaikan Anggota Penelitian dan Pengembangan Calon Presiden nomor urut 02, Harryadin Mahardika. Ia menuturkan, pihaknya sudah siapkan strategi untuk mencari jalan keluar menekan defisit sektor migas. Salah satu upaya yang dikaji adalah menggunakan biofuel atau bahan bakar yang berasal dari bahan tanaman. “Problem pertama, energi. Karena kita sudah sangat tergantung pada bensin dan solar sehingga ketika kita sudah jadi net importir. Kita harus lepas dari ketergantungan. Yang dilakukan Prabowo nanti adalah Indonesia jadi biofuel terbesar di dunia,” ujar dia di Media Center Prabowo-Sandi, Jakarta, Jumat 8 Februari 2019. Jika nanti terpilih, Prabowo-Sandi akan memanfaatkan lahan tidur untuk ditanami berbagai jenis tanaman yang dapat mengasilkan biofuel. Hingga kini, tim Prabowo-Sandi telah mencatat ada sekitar 10 juta hektare (ha) lahan tidur yang bisa dimanfaatkan. “Dari 10 juta hektar itu, target 2 juta hektar jadi Bio Etanol Estate. Ini jadi tambahan energi nasional. Bio Etanol Estate ini tidak gunakan kelapa sawit karena merusak tanah. Jadi pakai 7 tanaman yang bakal dipakai, aren, singkong, lamtoro untuk reboisasinya,” ujar dia. Sebelumnya, pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) sudah menerapkan program biodiesel 20 persen.Lalu bagaimana produksi biodiesel ini yang merupakan upaya mengurangi impor?Mengutip situs Kementerian ESDM, produksi biodiesel terus meningkat sejak 2014. Tercatat produksi biodiesel mencapai 3,32 juta kilo liter pada 2014.Namun, produksi kembali turun menjadi 1,62 juta barel pada 2015. Lalu produksinya kembali naik menjadi 3,65 juta pada 2016. Produksi biodiesel kembali turun menjadi 3,41 juta pada 2017. Lalu kembali meroket produksi biodiesel menjadi 6,01 juta kilo liter pada 2018 dari target realisasi 5,7 juta kiloliter. Adapun pemanfaatan biodiesel dalam negeri tahun 2018 sebesar 4,02 juta kilo liter hemat devisa sekitar USD 2,01 miliar atau Rp 28,42 triliun.

https://www.liputan6.com/bisnis/read/3896112/tekan-impor-migas-jokowi-dan-prabowo-kompak-pakai-biofuel

Republika | Minggu, 17 Februari 2019

Dua Calon Presiden Sepakat Kembangkan ‘Biofuel’

Tidak selalu dua calon presiden (capres) berseberangan pandangan dalam segala soal. Misalnya, terkait energi dan sumber daya. Dalam debat putaran kedua, masing-masing capres, Joko Widodo dan Prabowo Subianto, sama sama sepakat Indonesia mesti bisa mengembangkan produk kelapa sawit untuk menjadi Biofuel. Keduanya mengajukan target agar produk kelapa sawit bisa menjadi bahan bakar pengganti dari penggunaan energi fosil. Calon pejawat Joko Widodo (Jokowi) menjelaskan, saat ini proyek kelapa sawit menjadi bahan bakar sudah berjalan. Program B-20, demikian namanya, menurut Jokowi sudah berhasil menekan impor minyak. Untuk selanjutnya, dia menargetkan proyek itu dikembangkan menjadi B-100. “Kita tahu kan produksi sawit sudah 46 juta ton per tahun. Melibatkan petani sekitar 16 juta. Ini sebuah jumlah yang banyak, dan B-20 ini sudah rampung. Kita tuh menuju B-100. Jadi, 30 persen total produksi kelapa sawit akan masuk Biofuel. Jadi kita tidak akan tergantung pada impor,” papar Jokowi saat debat putaran kedua Pilpres 2019 di The Sultan Hotel, Jakarta, Ahad (17/2). Sementara itu, Prabowo mengakui, kebijakan penggunaan kelapa sawit untuk sumber energi sudah tepat. Ketua Umum Partai Gerindra itu menegaskan, yang terpenting untuk masa kini dan mendatang adalah menggenjot produksi kelapa sawit. Pada akhirnya, hal itu bisa memberikan nilai tambah kepada kaum petani. “Saya sampaikan tadi, setiap arah dan kemandirian energi sangat baik. Kami juga mengakui Pak Jokowi sudah ada langkah positif. Saya mengakui kalau baik. Tapi, saya koreksi kalau ada kekurangan. Ini diskursus sehat. Saya mendukung,” kata Prabowo di lokasi, Ahad (17/2). Bagaimanapun, lanjut Prabowo, masih ada yang perlu diperhatikan, yakni bagaimana akses kebun plasma kelapa sawit bisa ditambah. Hal ini merupakan salah satu cara agar kesejahteraan petani sawit kian membaik. “Perkebunan kepala sawit ini 80 persen milik pengusaha, (sedangkan) 20 persen plasma. Kita harus berani tingkatkan plasmanya lebih banyak, jadi rakyat punya hak atas kerja keras mereka. Ini bisa kita cari solusi. Produknya untuk kita manfaatkan dan meningkatkan pendapatan petani kita,” ujar Prabowo.

https://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/19/02/17/pn2rd7458-dua-calon-presiden-sepakat-kembangkan-biofuel

Tempo | Minggu, 17 Februari 2019

Jokowi dan Prabowo Sama-sama Dukung Kelapa Sawit untuk Biofuel

Kedua pasangan kandidat Pemilu Presiden 2019, Joko Widodo atau Jokowi dan Prabowo Subianto ternyata sama-sama mendukung penggunaan kelapa sawit sebagai bahan bakar biodiesel ataupun biofuel. Dukungan itu disampaikan dalam Debat Calon Presiden (Debat Capres) kedua yang diselenggarakan di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Minggu, 17 Februari 2019. “Kelapa sawit itu komoditas penting, ini menjanjikan karena kita dapat menggunakan kelapa sawit untuk biodiesel dan biofuel,” kata Prabowo. Kebijakan ini, kata dia, harus diambil karena Indonesia dalam waktu dekat akan menjadi net importir BBM (Bahan Bakar Minyak) 100 persen. Tapi, Prabowo mengkritik capaian Indonesia dalam upaya konversi kelapa sawit menjadi bahan bakar energi dalam kebijakan campuran biodiesel 20 persen alias B20. Prabowo membandingkannya dengan Brazil yang bisa mencapai B90. Mendengar hal itu, Jokowi mengatakan bahwa produksi kelapa sawit Indonesia saat ini sudah mencapai 46 juta ton per tahun dengan melibatkan 16 juta petani. Nah, pemerintah sudah mulai kebijakan B20 untuk menekan impor BBM dengan realisasi program sebanyak 98 persen. “Kami ingin sedang menuju B100, agar 30 persen dari total produksi kelapa sawit Indonesia masuk ke biofuel, ini sudah rigid dan jelas agar kita tidak ketergantungan akan impor BBM,” ujarnya. Saat diminta menanggapi, Prabowo mengatakan bahwa dirinya mendukung setiap usaha yang mengarah pada kemandirian energi, termasuk kebijakan-kebijakan dari Jokowi. “Tapi kami koreksi kalau ada kekurangan, ini diskursus yang sehat,” kata Prabowo. Berbeda dengan Jokowi, Prabowo mengatakan bahwa dirinya tidak akan hanya mengandalkan biodiesel dari sawit, namun juga dari komoditas lainnya. Di antaranya yaitu tanaman seperti aren, singkong, bahkan gula. Itu semua dilakukan agar Indonesia bisa mandiri secara energi dan tidak lagi tergantung pada impor.

https://bisnis.tempo.co/read/1176687/jokowi-dan-prabowo-sama-sama-dukung-kelapa-sawit-untuk-biofuel/full&view=ok

Jawa Pos | Minggu, 17 Februari 2019

Prabowo Bandingkan Produksi Biodiesel RI 20 Persen: Brasil 90 Persen!

Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto mengatakan akan menggenjot produksi minyak kelapa sawit (cruel palm oil/CPO) untuk bisa mencapai swasembada di bidang energi supaya mengurangi ketergantungan impor. Seperti diketahui, saat ini pemerintahan era Joko Widodo terus menggenjot produksi Biodiesel 20 (B20) untuk dapat mengurangi ketergantungan impor minyak. Prabowo menyebut, Indonesia masih kalah dengan negara Brasil yang yang sudah mencapai B90. “Saya tanya kepada para ahli dan pengusaha saat ini benar (B20). Tapi dibandingkan dengan Brasil sudah capai B90. Kita mampu untuk swasembada. Kita bisa manfaatkan produk kelapa sawit kita untuk biodiesel dan membangkitkan kesejahteraan petani,” ujarnya di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2). Jokowi lantas merespons produksi dan penggunaan B20 telah mencapai di atas 90 persen dan akan terus digenjot hingga mencapai target 100 persen atau B30. Prabowo membalas, jika terpilih nanti, tidak hanya menggenjot biodiesel namun juga memanfaatkan jenis swasembada lain seperti aren, gula, maupun etanol. “Konsekuen 80 persen, plasma 20 persen. Kita harus tingkatkan plasma lebih banyak. Kita bisa manfaatkan kelapa sawit jadi bahan bakar agar kurangi impor. Ini usaha mengarah pada kemandirian,” tandasnya.

https://www.jawapos.com/energi/17/02/2019/prabowo-bandingkan-produksi-biodiesel-ri-20-persen-brasil-90-persen

Jawa Pos | Minggu, 17 Februari 2019

Debat Kedua Capres, Ini Janji Jokowi Soal Biodiesel dan Sampah Plastik

Calon presiden (Capres) nomor urut 01 Jokowi memaparkan visi-misinya dalam debat kedua di Pilpres 2019. Mantan wali kota Solo itu menegaskan, visi utamanya adalah Indonesia maju di bidang energi. Termasuk janji untuk mengurangi energi fosil. Sehingga pemakaian biodiesel, green fuel akan digalakkan. “Sudah kita mulai dengan melakukan produksi B20 ini akan kita teruskan sampai ke B100. Sehingga ketergantungan pada energi fosil akan semakin dikurangi dari tahun ke tahun,” ujar Jokowi dalam debat di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2). Kemudian yang berkaitan dengan bidang infrastruktur dalam tiga tahun ini dirinya telah menggelontorkan Rp 187 triliun dana desa ke seluruh desa-desa. Hasilnya adalah telah dibangunnya 191 ribu kilometer jalan di desa. “Ini jalan produksi yang sangat bermanfaat bagi para petani. 58 ribu unit irigasi telah kita bangun dari unit dana desa,” tegasnya. Selanjutnya di bidang pangan, Jokowi ingin ketersediaan pangan, stok pangan, stabilitas harga harus terus dijaga. Sehingga Jokowi mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada petani jagung. “Di 2014 kita masih impor 3,5 juta ton jagung, d 2018 kita hanya impor 180 ribu ton. Ini sebuah lompatan besar,” ungkapnya. Selanjutnya di bidang lingkungan hidup, Jokowi ingin kebakaran hutan dan kebakaran lahan gambut tidak terjadi lagi. Buktinya adalah dalam tiga tahun pemerntahannya tidak ada lagi kebakaran hutan. “Dalam tiga tahun ini tidak terjadi lagi kebakaran hutan, kebakaran lahan gambut, dan itu adalah kerja keras kita semua,” ungkapnya. Sampah plastik juga menjadi fokus Jokowi apabila kembali memimpin Indonesa ke depan. Sampah plastik di sungai dan laut tidak boleh ada lagi. Sehingga lingkungan bersih di Indonesia bisa tercipta. “Kita ingin mengurangi sampah plastik di sungai maupun di laut, saya kira itu kita ingin dedikasi ini, dan kita ingin Indonesia maju‎,” pungkasnya.

https://www.jawapos.com/politik/17/02/2019/debat-kedua-capres-ini-janji-jokowi-soal-biodiesel-dan-sampah-plastik

Liputan6 | Minggu, 17 Februari 2019

Jika Terpilih, Jokowi Bakal Tingkatkan Program Biodiesel Jadi B100

Jika terpilih ,Calon Presiden Nomor Urut 01 Joko Widodo (Jokowi) memiliki misi di bidang energi untuk mengurangi penggunaan energi fosil. Jokowi mengatakan, saat ini pemerintah sudah menjalankan misi untuk mengurangi energi fosil dengan program B20. “Ke depan kami akan terus meningkatkan terus menjadi B100,” jelas JOkowi saat debat Capres kedua, di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019). Untuk diketahui, program B20 adalah Program 20 adalah bahan bakar alternatif yang dibuat dengan mencampur bahan bakar Solar dengan biodisel dari produk pertanian yang bahan dasarnya menggunakan minyak dari kelapa sawit. Jumlah B menunjukkan persentase biodisel, sehingga Biodisel 20 merupakan perpaduan 20 persen biodisel dan 80 persen Solar minyak bumi. Sebelumnya, Direktur Eksekutif Core Mohammad Faisal berharap, visi misi energi masing-masing capres harus sudah bisa menjawab tantangan jangka panjang. Keduanya juga harus merinci program yang akan dijalankan nanti bila terpilih. “Tinggal permasalahan teknis yang nanti debat capres harus dijawab yakni bagaimana caranya? Yang mana yang lebih prioritas?,” kata Faisal, seperti dikutip Minggu (17/2/2019).

Dia menyebutkan program yang akan dipaparkan seperti pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) yang akan dipaparkan Capres Jokowi. EBT dipandang tepat karena stok energi fosil telah menipis dan bisa meningkatkan ketahanan energi. Dalam pembahasan EBT, dia berharap Jokowi lebih detail dalam hal teknis dan Sumber pembiayaan. Sebab dua hal ini kerap menjadi kendala pengembangan energi ramah lingkungan tersebut. “Jadi isu besar sudah disebutkan terutama energi batu terbarukan,” imbuhnya. Kemudian program berikutnya adalah pembangunan fasilitas pengolahan minyak (kilang) yang dicanangan Capres Prabowo. Dengan beroperasinya kilang baru akan mengurangi impor BBM, meski ke depan ada rencana pengurangan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM). Namun dia meberikan catatan, pembangunan kilang harus diiringi dengan pembangunan industri petrokimia sebagai turunanny.”Industri turunannya belum banyak disebut masih parsial begitu bicara energi, energri saja padahal ketika membangun kilang minyak, turunannya banyak mulai dari industri plastik, termasuk ada juga tekstil,” tandasnya.

https://www.liputan6.com/bisnis/read/3897330/jika-terpilih-jokowi-bakal-tingkatkan-program-biodiesel-jadi-b100

Republika | Minggu, 17 Februari 2019

Jokowi Targetkan Penggunaan Bahan Bakar Biodiesel 100

Calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo, ke depan ingin mengurangi penggunaan energi fosil dan beralih ke biodiesel dan green fuel. Saat ini, kata dia, pemerintah sudah memulai produksi biodiesel 20 (B20) dan akan meneruskan hingga B100. “Ke depan kita ingin sebanyak-banyaknya kurangi pemakaian energi fosil. Sehingga pemakaian biodiesel dan green fuel akan kita kerjakan,” ujar Jokowi dalam pemaparan visi-misi pada debat calon presiden kedua di Hotel Sultan, Jakarta Selatan, Ahad (17/2). Saat ini, kata dia, pemerintah sudah memulai produksi B20. Ia menyebutkan, poduksi tersebut akan diteruskan hingga mencapai B100. Dengan demikian, ketergantungan akan energi fosil dapat dikurangi. Berkaitan dengan infrastruktur, Jokowi menyebutkan, dalam tiga tahun pemerintah telah menggelontorkan Rp 187 triliun dana desa. Hasil dari uang tersebut, yakni telah dibangun 191 ribu km jalan di desa. “Jalan produksi yang bermanfaat bagi petani dan 58 ribu unit irigasi dari dana desa,” ungkap Jokowi. Jokowi melanjutkan, terkait pangan, pihaknya ingin terus menjaga stok ketersediaan dan stabilitas harga pangan. Pada kesempatan ini, ia berterima kasih kepada para petani jagung yang telah memproduksi 3,3 juta ton jagung sejak 2014 hingga 2018. “2014 kita masih impor 3,5 juta ton jagung. 2018 hanya impor 180 ribu ton jagung, artinya ada produksi 3,3 juta ton,” katanya. Di bidang lingkungan hidup, Jokowi ingin mengatasi masalah kebakaran hutan dan lahan gambut agar tidak terjadi lagi. Menurutnya, dalam tiga tahun terakhir, kebakaran hutan dan lahan gambut sudah tidak terjadi lagi. “Itu kerja keras kita semua dan kita ingin kurangi sampah plastik di sungai dan laut,” ujarnya.

https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/migas/19/02/17/pn2pgi383-jokowi-targetkan-penggunaan-bahan-bakar-biodiesel-100

Media Indonesia | Sabtu, 16 Februari 2019

Kebijakan B20 Tekan Impor Migas

PT Pertamina berupaya memperbaiki defisit neraca perdagangan dengan mengurangi impor migas melalui pembelian hasil produksi minyak mentah dari kontraktor kontrak kerja sama. KEBIJAKAN pemerintah dalam mandatori penggunaan bahan bakar biodiesel 20% (B20) berhasil menekan laju impor minyak dan gas (migas) selama Januari 2019. Hal itu menjadi secercah harapan kebijakan mandat B20 di dalam negeri. “Menariknya migas-kita turun impornya (selama Januari 2019). Intinya, kebijakan B20 itu ada pengaruhnya pada neraca perda- gangan migas. Soal berapanya, nanti kami hitung,” papar Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution di kantornya, Jakarta, kemarin. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Januari 2019 sebesar US$15,03 miliar, turun 2,19% dari Desember 2018 yang kala itu mencapai US$15,31 miliar. Menurut Kepala BPS Suhariyanto, angka impor melandai karena penurunan impor migas dari US$2,02 miliar pada Desember 2018 menjadi US$1,69 miliar di Januari 2019. BPS pun mencatat nilai ekspor In- donesia pada Januari 2019 mencapai US$13,87 miliar atau turun 3,24% ketimbang ekspor Desember 2018 sebesar US$14,33 miliar. Dengan begitu, defisit neraca perdagangan pada Januari 2019 sebesar US$1,16 miliar, lebih tinggi dari Desember 2018, yakni US$1,03 miliar.

Begitu pula, ekspor sektor migas menurun, secara tahunan, yakni US$1,32 miliar pada Januari 2018, dan bulanan, yakni US$1,74 miliar pada Desember 2018, menjadi US$1,23 miliar pada Januari 2019. Di sisi lain, upaya memperbaiki defisit neraca perdagangan dengan mengurangi impor migas juga dilakukan PT Pertamina (persero). Caranya dengan membeli hasil produksi minyak mentah dari kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Cara ini ikut menurunkan penjualan ekspor migas oleh KKKS ke luar negeri. “Pertamina akan mengupayakan menyerap semaksimal mungkin minyak mentah bagian KKKS untuk memenuhi kebutuhan kilang dalam negeri agar dapat mengurangi impor minyak mentah,” kata Media Communication Manager PT Pertamina Arya Dwi Paramita, kepada Media Indonesia, kemarin. Menurut Arya, dengan terbitnya Permen ESDM No 42/2018 tentang Prioritas Pemanfaatan Minyak Bumi untuk Pemenuhan Kebutuhan Dalam Negeri, minyak mentah bagian KKKS diprioritaskan untuk dijual ke Pertamina dan diolah di kilang minyak dalam negeri. “Upaya ini diharapkan dapat mengurangi impor minyak mentah dan kondensat sekitar 115 ribu barel per hari dan mengurangi pembelian impor menjadi sekitar 250 ribu barel per hari.” pungkas Arya.

Faktor eksternal

Suhariyanto menambahkan, defisit neraca perdagangan juga dipicu oleh masih tidak menentunya kondisi perekonomian di tingkat global. Perang dagang antarnegara terutama AS dan Tiongkok memicu perlambatan ekspor barang-barang dari Tanah Air. Terlebih, Tiongkok masih jadi negara tujuan ekspor terbesar bagi Indonesia. Pada Januari, ekspor ke \’Negeri Tirai Bambu\’ tercatat US$1,71 miliar atau berkontribusi 13% dari total ekspor. Sementara itu, Darmin Nasution menegaskan untuk terus menggenjot kinerja ekspor, pemerintah bakal berupaya lebih keras menggerakkan industri pengolahan. “Ke depannya, Indonesia tidak hanya mengandalkan komoditas-komoditas yang belum sepenuhnya terolah,” tutup Darmin.

Investor Daily Indonesia | Sabtu, 16 Februari 2019

Forum Bisnis CPOPC Bahas Biofuel Sawit di Malaysia

Dewan Negara Negara Produsen Kelapa Sawit atau Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) melakukan forum bisnis di Putrajaya, Malaysia, Selasa (12/2), dengan tema Meningkatkan Permintaan Domestik dan Melangkah ke Batas Selanjutnya. CPOPC sepakat mempromosikan kerja sama dan pertukaran pandangan dalam komunitas bisnis terutama di bidang biofuel. Hadir pada forum tersebut adalah Direktur Eksekutif CPOPC Mahendra Siregar, Menteri Industri Utama Malaysia Teresa Kok, Deputi Menko Perekonomian Bidang Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian Indonesia Musdalifah, Duta Besar dan Kepala Delegasi Uni Eropa Mauricio Gonzalez Lopez, dan Sekjen Menteri Industri Utama Dato Dr Tan Yew Chong. Mahendra Siregar dalam pidatonya menyambut semua yang hadir di pertemuan tersebut untuk mempromosikan kerja sama dan pertukaran pandangan dalam komunitas bisnis terutama di bidang biofuel. Inisiatif ini merupakan bagian dari strategi CPOPC untuk meningkatkan permintaan dan konsumsi minyak sawit di negara-negara penghasil kelapa sawit terutama di sektor biofuel. Untuk mencapai hal ini, ujar dia, kita harus mengenali tantangan yang dihadapi dalam mempromosikan biofuel ke pasar dan ini bukan hanya tentang kemauan politik, tetapi juga perlu merencanakan rantai pasokan yang efektif. “Tidak seperti produksi minyak mentah, kami tidak dalam posisi untuk membuka dan menutup keran produksi minyak kelapa sawit dan kemauan,” katanya.

Sementara manfaat mengembangkan biofuel jelas bagi negara-negara penghasil kelapa sawit, mengejutkan bahwa potensi untuk menggunakan minyak kelapa sawit dalam biofuel belum sepenuhnya terwujud dan ada juga perbedaan yang signifikan dalam tingkat pembangunan di negara-negara penghasil kelapa sawit. “Meskipun Indonesia saat ini memimpin Malaysia, strategi tersebut haruslah merupakan satu kesatuan tujuan, sebuah visi bersama tentang bagaimana memanfaatkan potensi pasar biofuel domestik kami untuk kepentingan minyak kelapa sawit,” kata Mahendra Siregar. Dalam banyak hal, ujar dia, pihaknya percaya pasar domestik telah diabaikan karena rantai pasokan tradisional ke pasar internasional telah berlaku terlepas dari risiko yang jauh lebih tinggi, apa pun dalam banyak kasus, risiko tak terkendali yang ditimbulkan perdagangan internasional ini. “Saya juga harus menekankan bahwa negara-negara perdagangan yang paling kuat telah dengan sengaja mengembangkan pasar domestik mereka sendiri untuk mengurangi perkembangan ekonomi global yang tidak terduga,” ujar dia seperti dilansir Antara. Terlepas dari pandangan strategis ini, Mahendra berpendapat, CPOPC nampaknya mengabaikan peluang nyata di depan mata karena terlihat dibutakan oleh tanah yang jauh,

Detik | Jum’at, 15 Februari 2019

Untung Rugi Bus Tingkat Mewah Pakai Biodiesel

Pemerintah sudah mewajibkan penggunaan bahan bakar biodiesel (B20) untuk kendaraan diesel. Hal ini sesuai SK Dirjen Migas Nomor 27 tahun 2016. Mengikuti regulasi tersebut, Perusahaan Otobus Putera Mulya menjadi salah satu operator bus yang turut menggunakan bahan bakar campuran solar (cetane number 48) dengan kelapa sawit 20 itu. “Kami memang sudah pakai biodiesel selama ini,” kata Pimpinan PT Putera Mulya Sejahtera, Kurnia Lesani Adnan, kepada wartawan dalam perjalanan uji coba Bus Trans Jawa ke Semarang, Kamis (14/2/2019). Menurut Lesani, ada dampak negatif dan dampak positifnya terkait pemakaian biodiesel di mesin armada busnya. “Kelebihannya secara bisnis, make sense (masuk akal) karena harganya murah,” kata pria yang akrab disapa Sani. Namun secara teknis, penggunaan biodiesel di mesin kendaraan bisa memperpendek usia filter solar. “Jadi filter solar itu kan harusnya intervalnya 15.000 km. Kadang-kadang ada yang belum sampai 10.000 km, kadang di 5.000 km dia udah ngeblok. Jadi memang ada biaya lebih di filter solar,” lanjut Sani. Menurut Sani, tidak masalah setiap kendaraan diesel memakai bahan bakar B20 selama bisa menjaga filter solar dengan baik. “Intinya jangan pelit juga jangan salah merek. Usahakan selalu pakai original. Kalau di bus Scania PO Putera Mulya itu, kami selalu pakai yang original. Harganya sekitar Rp 500 ribuan,” terang Sani. Ditambahkan Sani, akan sangat bahaya jika filter solar yang kotor digunakan kembali. “Kalau bagi PO yang pelit, paling tinggal bersihkan filter pakai bensin terus dipasang lagi. Tapi ya nanti kasihan injektornya, pistonnya. Tingkat keausannya pasti cepat,” pungkasnya.

https://oto.detik.com/berita/d-4429982/untung-rugi-bus-tingkat-mewah-pakai-biodiesel