+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Penerapan Biodiesel 30% Dipercepat, Mulai 2020

Harian Kontan | Kamis, 28 Maret 2019

Penerapan Biodiesel 30% Dipercepat, Mulai 2020

Pemerintah memutuskan percepatan kebijakan penggunaan campuran minyak nabati dari Kelapa Sawit (biofuel) dengan solar sebesar 30% (B30). Tujuannya agar penggunaan minyak sawit di dalam negeri meningkat dan mengurangi ketergantungan dengan impor. Sebelumnya, pemerintah berencana menerapkan B30 pada 2020. Namun, melihat perkembangan, pemerintah sepakat melakukan uji coba B30 sebelum akhir 2019. “September atau Oktober itu sudah mulai, mau 30.000 kilo liter (kl) atau 50.000 kl yang penting mulai,” ujar Ketua Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP KS) Dono Boestami usai seminar Pengembangan Industri Kelapa Sawit Menuju Kemandirian Energi, (27/3). Percepatan B30 sekaligus mengantisipasi pemberlakuan kebijakan Renewable Energy Directive (RED) II oleh Uni Eropa (UE). RED II akan menyebabkan ekspor CPO ke Eropa rontok karena dianggap komoditas tak ramah lingkungan dan risiko tinggi. Pemerintah memperkirakan, penggunaan B30 secara penuh pada 2020, akan membuat serapan crude Palm Oil (CPO) untuk biodiesel mencapai 9 juta ton, di luar ekspor sekitar 1,5 juta ton. “Jadi sudah bisa mengamankan 10 juta-11 juta ton CPO, untuk pasar domestik,” kata Dono. Selain B30, Indonesia juga mengembangkan bahan bakar berbasis minyak nabati atau greenfuel agar penggunaan CPO lebih besar. Dono memperkirakan program greenfuel membutuhkan 25 juta ton. Sementara, bila program tersebut tidak dijalankan akan berdampak pada kelebihan produksi 55 juta ton di 2025.

Mulai diuji

Joko Supriono, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mendukung program B30 “Bahan baku cukup, semoga hasilnya positif,” terang Joko. Sebagai catatan, sepanjang tahun lalu, ekspor CPO dan turunannya (biodiesel dan oleochemical) secara keseluruhan naik 8% dari 2017, menjadi 34,71 juta ton. Dari sisi persentase, kenaikan terbesar dari biodiesel yakni 851%. Jika taun 2017 sebesar 164.000 ton 2018 naik jadi 1,56 juta ton. Lonjakan ekspor biodiesel karena Indonesia memenangkan kasus tuduhan anti-dumping biodiesel oleh Uni Eropa di World Trade Organization (WTO). Kini dengan ancaman diskriminasi produk CPO melalui RED II oleh Uni Eropa, mengancam ekspor. Ketua Harian Asosiasi Produsen biofuels Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan menambahkan, saat ini pihaknya bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi (BPPT), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), mulai mengadakan tes uji coba hingga uji jalan B30 untuk berbagai kendaraan.

Republika | Rabu, 27 Maret 2019

Lawan Eropa, Pemerintah Dorong Industri Serap Biodiesel

Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit Dono Boestami mengatakan, pemerintah tengah menjalankan program program penyerapan sawit berupa biodiesel untuk digunakan terhadap industri. Penerapan bahan bakar nabati ini dipercaya dapat dikembangkan secara maksimal. Dia menjelaskan, sejauh ini pemerintah telah memiliki program serta teknologi untuk mendorong industri sawit menyerap biodiesel dan bahan bakar berbahan dasar sawit lainnya yakni green fuel. Sebagai pelengkap dari teknologi bio 30 persen atau (B30), pihaknya realistis green fuel dapat diterapkan dan dikembangkan secara maksimal. “Kembangkan green fuel saja sudah bagus, tidak usah ke B50 atau bahkan B100 dulu,” kata Dono, di Jakarta, Rabu (27/3). Pemerintah memang gencar melakukan beragam cara untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan terburuk dari kebijakan Uni Eropa yang mencoret sawit dari komoditas nabati. Alasannya, sawit dinilai tidak ramah lingkungan serta menyebabkan deforestasi. Saat ini, pemerintah masih merespons keras kebijakan Uni Eropa tersebut karena dinilai tidak sesuai dengan fakta serapan lahan dan efisiensi sawit. Untuk itu, kata dia, seiring dengan kebijakan retaliasi yang sedang disusun pemerintah, program penyerapan sawit dengan biodiesel saat ini tergantung dari bagaimana serapannya. Di samping, aturan mengenai biodiesel telah disusun pemerintah dan dapat diterapkan di akhir tahun ini. “Berdasarkan basis data, teknologi, dan bahan baku, kita sudah siap. Tinggal bagaimana kita ini mau atau tidak untuk menerapkannya,” kata dia.

https://republika.co.id/berita/ekonomi/korporasi/pp0rhr370/lawan-eropa-pemerintah-dorong-industri-serap-biodiesel

Kontan | Rabu, 27 Maret 2019

Aprobi Dukung Upaya Pemerintah Percepat Program B30

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) mendukung upaya percepatan mempercepat realisasi program biodiesel 30% (B30) di akhir tahun 2019 dari rencana semula 2020. Sebab realisasi B30 akan meningkatkan penyerapan minyak kelapa sawit di pasar domestik. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengatakan, dengan adanya B30 setidaknya akan mendorong industri kelapa sawit memasok lebih dari 9 juta kiloliter (kl) per tahun. “Kalau B30 dijalankan berarti 30%, nah 30% dari solar yang beredar sekarang itu lebih dari 9 juta kl yang dipakai untuk B30. Kalau diserap dalam negeri sekitar sepertiga dari solar kita, pasti pasar CPO dalam negeri kita akan meningkat,” terang Paulus saat dihubungi Kontan pada Rabu (27/3). Paulus menjelaskan, saat ini, Aprobi bersama Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) serta BPPT, Pertamina, ITB dan Gaikindo tengah bersama-sama mengadakan tes uji dan uji jalan untuk B30.

Dengan adanya rencana percepatan dari pemerintah, otomatis Aprobi menyambut baik dan mendorong hal tersebut. “Aprobi sangat dukung dalam percepatan B30 ini,” tambah Paulus. Hal senada juga disampaikan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono. Ia mengatakan, semakin dipercepat penerapan B30, maka hal tersebut akan semakin bagus. “Makin cepat diimplementasikan makin bagus,” tutur Joko. Diperkirakan dengan B30 nantinya dapat menyerap sekitar sekitar 10 juta ton dalam industri sawit dalam negeri. Peningkatan penyerapan sawit dalam negeri akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasar CPO global.

https://industri.kontan.co.id/news/aprobi-dukung-upaya-pemerintah-percepat-program-b30

Kontan | Rabu, 27 Maret 2019

Antisipasi Uni Eropa, program B30 dipercepat mulai September ini

Pemerintah memutuskan mempercepat program biodiesel 30% atau B30 setelah program B20 berhasil direalisasikan sejak September 2018 lalu. Sedianya, program B20 baru dimulai tahun 2020, namun dipercepat menjadi di akhir 2019 ini mengantisipasi diskriminasi Uni Eropa terhadap sawit. Hal itu dikatakan Ketua Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Dono Boestami usia seminar Pengembangan Industri Kelapa Sawit Menuju Kemandirian Energi, Rabu (27/3). “Mulai September atau Oktober tahun ini sudah kita mulai B30, mau 30.000 kiloliter (kl) atau 50.000 kl, yang penting kita mulai dulu,”ujar Dono. Ia melanjutkan, percepatan penerapan B30 ini menjadi salah satu upaya pemerintah mengalihkan ekspor minyak kelapa sawit ke pasar domestik. Hal ini juga untuk mengantisipasi pemberlakuan kebijakan Renewable Energy Directive (RED) II oleh Uni Eropa (UE). Percepatan realisasi B30 diharapkan dapat menggenjot penyerapan produk minyak kelapa sawit di pasar dalam negeri. Targetnya, bila B30 terealisasi seluruhnya, maka serapan Crude Palm Oil (CPO) untuk biodiesel di Indonesia mencapai 9 juta ton, belum termasuk ekspor sekitar 1,4 juta ton. “Artinya sudah akan mencapai 10 juta ton hingga 11 juta ton CPO terserap,”terangnya. Selain B30, Indonesia juga tengah mengembangkan bahan bakar berbasis minyak nabati atau greenfuel. Program tersebut dapat menambah serapan CPO lebih besar.

https://industri.kontan.co.id/news/antisipasi-uni-eropa-program-b30-dipercepat-mulai-september-ini