+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Penerapan biodiesel Mempengaruhi Neraca Perdagangan

Harian Ekonomi Neraca | Jum’at, 17 Januari 2020

Penerapan biodiesel Mempengaruhi Neraca Perdagangan

Berbagai cara terus dilakukan oleh Pemerintah untuk mengurangi defisit negara, salah satunya yaitu dengan mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM) dengan mengganti bahan bakar nabati, seperti biodiesel yang dihasilkan dari kelapa sawit. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan melihat bahwa penerapan biodiesel yang berasal dari Kelapa Sawit bisa mengurangi defisit negara. Terbukti defisit neraca dagang Indonesia mengecil dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satunya yaitu dengan penerapan biodiesel 20 persen (B20). Sehingga dengan adanya penerapan B30 di awal tahun 2020 maka impor BBM bisa berkurang lagi. “Jadi impor kita berkurang gara-gara (penerrapan) B20,” ujar Luhut, mengutip ANTARA. Lebih lanjut Luhut mengatakan defisit neraca perdagangan Indonesia berpotensi terus menurun seiring dengan implementasi penerapan biodiesel yang terus ditingkatkan. Artinya penerapan biodiesel, juga memberikan efek positif yakni mengurangi ketergantungan Indonesia dengan impor BBM termasuk solar yang tinggi. Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat neraca perdagangan Indonesia pada 2019 mengalami defisit yang turun tajam, yakni sebesar 3,2 miliar dolar AS dengan total ekspor pada periode Januari-Desember 2019 sebesar 167,53 miliar dolar AS dan impor 170,72 miliar dolar AS.

Disisi lain, nilai tukar rupiah juga relatif terjaga fluktuasinya di level Rp 13.600 per dolar AS. “Market tidak bisa dibohongi, dilihat defisit kita membaik. Artinya, menunjukkan bahwa langkah-langkah pemerintah sudah bertambah baik,” kata Luhut. Namun, Luhut optimistis setelah “Omnibus Law” Cipta Lapangan Kerja dan “Omnibus Law” Perpajakan selesai, ditambah pembentukan “sovereign wealth fund”, mata uang berlambang Garuda akan lebih kuat. Kendati demikian, apresiasi rupiah terhadap dolar AS diharapkan tidak terlalu cepat sehingga tidak menggangu kinerja ekspor nasional. “Kita juga mesti lihat ekspor, jangan sampai ter- lalu cepat menguatnya, a-kan menjadi masalah nanti. Namun, pemerintah memberikan kepada \’market mechanism\’ pergerakan rupiah,” ucap Luhut Lebih dari itu, Luhut menegaskan, pihaknya akan akan menindak oknum yang membuat program mandatori biodiesel tidak berjalan. Sebab harus diakui bahwa masih ada pihak yang masih menginginkan Indonesia impor BBM. “Jadi ada pihak yang tidak menjalankan B30 karena mau impor BBM terus. Presiden bilang mau gigit, berpuluh-puluh tahun kok kita masalahnya itu terus,” tegas Luhut Sebab, ?Luhut membenarkan, bahwa Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) pun mengingatkan agar saat penerapan program B30 mulai Januari 2020 nanti tidak ada lagi pihak yang mengganggu program tersebut untuk kepentingan impor minyak. Hal ini lantaran program tersebut memberikan banyak manfaat untuk negara dan masyarakat

Disisi lain, menurut Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tung-kot Sipayung dengan menggunakan B30, sekitar 9.6 juta kilo liter biodiesel sawit atau setara dengan 8.5 juta ton CPO per tahun akan terserap di dalam negeri. Akibatnya, sekitar 26 persen volume CPO Indonesia yang diekspor ke berbagai negara akan berkurang. “Pengurangan pasokan CPO ke pasar dunia selain akibat B30, juga tahun 2020 diperkirakan terjadi pelambalan produksi CPO dunia akibat kekeringan 2018/-2019 yang melanda sentra utama CPO dunia yskni Indonesia dan Malasya. Sehingga tahun 2020 pasar dunia akan kekurangan CPO yang memicu harga naik,” papar Tungkot Lebih dari itu, menurut Tungkot momentum ini sedangditunggUolehpetani sawit yang selama satu tahun terakhir menggerutu akibat harga TBS rendah . Memasuki tahun 2020 para petani sawit akan kembali bergairah menikmati kenaikan harga TBS yangdi-transmisi dari kenaikan harga CPO dunia. Bahkan tidak perlu menunggu tahun 2020, pasar sudah merespons rencana B-30 tersebut. Harga CPO domestik sudah mulai terg-erek naik dari sekitar Rp 7500 per kilogram awal Novembe rmenjadi Rp 9100per kilogram pada minggu ke tiga Desember 2019. Kenaikan harga CPO ini masih berlanjut ke tahun 2020.

“Tentu saja, manfaat B-30 tidak hanya mendongkrak harga TBS pada 200 kabupaten sentra sawit na- sional. Manfaat B30 yang tak kalah pentingnya adalah nilai tambah yang tercipta didalam negeri diperkirakan mencapai sekitar Rp 14 trilyun” terang Tungkot. Bahkan, Tungkot mengatakan penghematan devisa impor solar sekitar USD 5.13 miliar juga akan kita nikmati. Hal ini menyumbang pada penyehatan dan pengurangan defisit neraca perdagangan. Selain itu, penggantian 30 persen konsumsi solar fosil dengan biodiesel sawit akan mengurangi emisi sekitar 14.2 juta ton C02. Ini adalah bagian dari sumbangan industri sawit pada lingkungan melalui pengurangan emisi global. Mandatori B30 tersebut juga menjadi pencapaian Indonesiayang sangatpent-ing. JikaB30benarbenarter-laksana, mdonesia adalah negara pertama dunia yang berani melangkah ke B30. Ini prestasi kelas dunia. Hal ini juga sekaligus membuat Indonesia naikkelas menjadi top-3 produsen biodiesel dunia. “Pencapaian yang membanggakan tersebut jangan sampai terganggu. Seluruh komponen bangsa perlu memberi dukungan maksimal. Jika B30 berhasil tahun2020, makauntukB50 berikutnya akan lebih mudah kita raih,” papar Tungkot.

Harian Kontan | Jum’at, 17 Januari 2020
Pemerintah Klaim B30 Tak Merusak Performa Mesin

Program biodiesel 30% atau B30 sudah mulai bergulir pada awal tahun ini. Pemerintah memastikan implementasi B30 tidak akan berdampak negatif bagi mesin kendaraan. Direktur Bioenergi Direktorat Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM An-driah Feby Misna bilang, kandungan fatly acid methyl ester (FAME) dari Kelapa Sawit sudah melalui serangkaian uji coba dan terbukti menunjukkan hasil positif. Oleh karena itu, kandungan FAME tidak menimbulkan kerugian dan kerusakan pada mesin kendaraan. “B30 pada dasarnya siap digunakan oleh mesin diesel biasa dengan sedikit atau tanpa penyesuaian,” kata dia dalam keterangan resmi, Kamis (16/1). Menurut Feby, penyesuaian dibutuhkan jika penyimpanan atau wadah biodisel terbuat dari bahan yang sensitif dengan biodiesel seperti seal, gasket, dan perekat terutama terbuat dari karet alam dan karet nitril. Keberhasilan penggunaan B30 tergantung tiga faktor, yakni kualitas bahan bakar, handling atau penanganan bahan bakar dan kompatibilitas material terhadap bahan bakar tersebut. “Kerusakan yang terjadi pada injector dapat diakibatkan dari ketidaksesuaian salah satu atau lebih dari ketiga faktor tersebut,” ungkap Feby. Pada dasarnya peningkatan pencampuran biodiesel dari B20 ke B30 tidak menimbulkan endapan di dalam filter mesin. Sebab, sudah ada peningkatan spesifikasi dari B20 (20 parameter) menjadi B30 (24 parameter) yang aman kadar monogliserida dan air telah diperkecil. Hasil memuaskan juga terlihat dari emisi gas buang CO pada kendaraan pengguna B30 yang di kisaran 0,1-0,2 gram per km atau lebih rendah dari ambang batas sebesar 1,5 gram per km.

Harian Kontan | Jum’at, 17 Januari 2020
Ekspor CPO ke India Naik Bisa Ganggu Program B30

Ada angin segar bagi prospek ekspor Indonesia 2020. Kabar surga ini berhembus daii kebijakan India melarang impor minyak sawit olahan (refined) dan secara informal juga melarang impor minyak sawit mentah alias crude Palm Oil (CPO) dari negara tetangga Malaysia. India tak senang dengan pernyataan Perdana Menteri Malaysia Mahatir Muhammad soal Kashmir. Meski merugikan Malaysia, hal ini bisa jadi peluang bagus bagi Indonesia untuk mengisi kebutuhan minyak nabati India. Apalagi, negeri itu membutuhkan pasokan minyak sawit jumlah besar per tahun. Mengutip Reuters, perusahaan penyuling dan pedagang CPO India telah mengalihkan hampir semua pembelian ke Indonesia. Walaupun mereka harus membayar lebih mahal US$ 10 per ton dari CPO Malaysia. Harga CPO Malaysia pengiriman Februari 2020, di level US$ 800 per ton, sementara Indonesia US$ 810. Kemarin, harga CPO kontrak di Bursa Malaysia Derivatif (BMD) ada di level RM 2.943/ton, turun 2 RM diban- ding harga penutupan hari sebelumnya. Rabu (15/1) lalu, harga CPO ditutup di level RM 2.945/ton, anjlok 60 RM atau terkoreksi hingga 2%.

Kenaikan permintaan dari India bisa mengerek harga CPO global. Namun di sisi lain, potensi naiknya permintaan CPO daii luar bisa mengganggu dalam negeri. Sebab, pemerintah di awal tahun ini juga mulai mengimplementasikan kebijakan perluasan kewajiban biodiesel alias B30, setelah B20 berjalan 2018. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara melihat, dampak kebijakan India bisa signifikan bagi Indonesia. Secara pertumbuhan ekonomi, India masih cukup tinggi dengan perkiraan di atas 5% pada 2019. Jumlah penduduk India 1,3 miliar orang, menjadi pasar besar bagi CPO. Ini kesempatan emas bagi Indonesia untuk bersaing. Indonesia, bisa mengambil langkah melalui penurunan bea keluar atau pajak CPO agar harga jualnya lebih murah. “Saya sarankan Menteri Perdagangan langsung kontak pemerintah India agar CPO kita mendapat fasilitas khusus,” kata Bhima kepada KONTAN, Kamis (16/1). Meski demikian, peluang tersebut bisa membuat program B30 gagal. Sebab, saat ekspor menguntungkan, pasokan CPO ke pasar dalam negeri bisa susut. Sementara dari sisi pengguna seperti alat berat, otomotif, dan mesin industri, belum benar-benar siap dengan kebijakan B30. “Jadi momentum ini lebih difokuskan untuk dorong ekspor ke India,” tambah Bhima. Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) KanyaLakshmi Sidarta juga mengamini bahwa CPO Indonesia berpeluang besar masuk ke pasar India. Hanya saja, India saat ini masih punya pilihan untuk memasok minyak nabatinya. Salah satunya, dari kedelai. Terlebih harganya lebih mudah dibanding harga sawit.

Harian Ekonomi Neraca | Jum’at, 17 Januari 2020
Pemerintah Jamin biodiesel B30 Tidak Pengaruhi Mesin

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjamin pemanfaatan biodiesel dengan campuran nabati 30 persen atau B30 tidak akan menimbulkan kerugian dan memengaruhi kualitas mesin kendaraan. Kandungan unsur nabati atau fatty acid methyl esther dari Kelapa Sawit dalam bahan bakar B30 sudah melewati serangkaian pengujian dan menunjukkan hasil yang baik. “Implementasi program mandatori biodiesel, termasuk B30 dijalankan dengan perencanaan yang matang dan sistematis serta melalui serangkaian uji komprehensif dan konstruktif untuk memastikan implementasinya tepat sasaran, tidak menimbulkan kerugian dankerusakanmesinkendaraan dan justruberperan dalam meningkatkan kualitas lingkungan,” kata Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Andrian Feby Misna di Jakarta, Kamis (16/1).

Dari sisi mutu bahan bakar, B30 juga lebih baik dari B20. Sebelum diimplementasikan, ujar Feby, beberapa persiapan telah dilakukan, antara lain melakukan revisi SNI biodiesel, melakukan uji jalan/fungsi B30, memasukan kesiapan produsen biodiesel, memastikan metode sistem handling dan penyimpanan yang tepat, memastikan kesiapan infrastruktur, dan melakukan sosialisasi untuk memastikan penerimaan semua pihak terkait Pengujian B30, lanjutnya, juga telah dilakukan di lokasi Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah guna melihat kemampuan bahan bakar melakukan adaptasi pada kondisi udara yang lebih dingin. Hasilnya, start ablility mesin kendaraan berjalan mulus setelan didiamkan (soaking) bahan bakar pada corong terpisah selama 21 hari. Setelah melewati uji start ability, kendaraan berbahan bakar B30 melanjutkan uji jalan (road test) hingga jarak tempuh 640 km setiap hari pada berbagai trek jalanan. Khusus trek lurus, kestabilan mobil dijaga dengan kecepatan maksimal 100 kilometer per jam. “B30 pada dasarnya siap digunakan oleh mesin diesel biasa dengan sedikit atau tanpa penyesuaian. Penyesuaian dibutuhkan jika penyimpanan atau wadah biodiesel terbuat dari bahan yang sensitif dengan biodiesel seperti seal, gasket, dan perekat terutama mobil lama dan yang terbuat dari karet alam dan karet nitril,” imbuhnya. Dipaparkan Feby, keberhasilan dari penggunaan B30 tergantung kepada tiga faktor yaitu kualitas bahan bakar (biodiesel dan solar), handling/penanganan bahan bakar dan juga kompatibilitas material terhadap bahan bakar tersebut Kerusakan yang terjadi pada injektor dapat diakibatkan dari ketidaksesuaian salah satu atau lebih dari ketiga faktor tersebut “Adapun terkait dengan penumpukan di dalam filter mesin, dapat dikatakan bahwa kasus ini hanya berlaku untuk unit lama atau unit yang sudah lama menggunakan BO, jika dari awal sudah menggunakan B20 biasanya tidak ada masalah dan dapat dilanjutkan dengan penggunaan B30. “Untuk kendaraan yang sudah pernah pakai B20 nggak ada masalah,” katanya. Selainitu,peningkatan pencampuran biodiesel dari B20 ke B30 pada dasarnya tidak akan menimbulkan tumpukan endapan karena sudah adanya peningkatan spesifikasi dari B20 (20 parameter) ke B30 (24 parameter), dimana kadar monogliserida dan air telah diperkecil,” ungkapnya.

Harian Seputar Indonesia | Jum’at, 17 Januari 2020
Hikmah dari Diskriminasi CPO oleh Uni Eropa

Reaksi Indonesia atas perilaku dis-kriminatifUni Eropa terhadap produk biodiesel sudah tepat. Bahkan, demi generasi anak-cucu, ada hikmah besar dan strategis yang layak dimanfaatkan Indonesia dari konflik dagangitu. Dengan beragam alasan yang terus berubah-ubah, Uni Eropa (UE) sejak lama diketahui selaluberupayamempersempit akses ekspor produk biodiesel atau minyak nabati asal Indo-nesiake Eropa, khususnyakom-ponen minyak sawit mentah atau cm de palmoil (CPO). Sejak dekade 1980-an, unsur pemerintah dan lembaga swadaya di lingkungan UE gencar berkain -panye negatif tentang CPO In-donesiabertema “Palm OilFree”. Mereka memprovokasi dengan mengatakan gizi minyak sawit burukbagikesehatan dan mendorong konsumen mengonsumsi minyak kedelai dan minyakbijibungamataharipro-duk setempat. Tak berhenti sampai di situ, dimunculkan juga tuduhan bahwa perkebunan sawit di Indonesia merusak hutan dan lingkungan, termasuk mempekerjakan anak. Namun, masih dalam rentangwak-tu yang sama, UE tetap saja im -por CPO dari Indonesia, karena adapermintaandarikonsumen setempat dan UE tak mampu memenuhi total permintaan minyak nabati di Benua Biru itu. Pada periode yang sama, pemerintah dan parlemen di lingkungan UE terus mendapatkan tekanan dari komunitas petani dan produsen minyak ra-peseed (RSO) dan minyak bunga matahari atau SFO (sunflower oil). Komunitas petani danprodusenminyaknabatiUE sedang berupaya meningkatkan pertumbuhan produksi minyak nabati karena ada ambisi menjadikan RSO dan SFO me: nguasai pasar minyak nabati UE. Kampanye negatif makin diperkuat dengan resolusi minyak sawitoleh Parlemen Eropa pada4April2017diStarssbourg yang mengamini dokumen laporan berjudul “Palm Oil and Deforestation of Rainforest”.

Laporan itu menjadi pijakan bagi lahirnya kebijakan Renewable Energy Directive II (RED II) dan Delegated RegulationUE pada Maret 2019. Dengan pi -jakan RED II, UE menetapkan bahwamulai2020hingga2030, penggunaan bahan bakar di UE harus berasal dari energi yang dapat diperbarui. Maka, Delegated Regulation UE pun memasukkan minyak Kelapa Sawit dalam kategori komoditas yang memiliki Indirect Land Use Change (ILUC) berisiko tinggi. Konsekuensinya, biofuel berbahan baku minyak Kelapa Sawit tidak masuk target energi terbarukan UE, termasuk minyak Kelapa Sawit dari Indonesia. Untuk mendukung kebijakan itu, UE menerapkan Bea Masuk Imbalan Sementara (BMIS) padakisaran delapan (8) hingga 18%, yang mulai berlaku awalSeptember2019.Dampak-nya bagi produsen CPO sudah sangatjelas. Bagi produsen CPO, pendirian, penilaian, maupun pen -dapat UE itu sepihak. Wajar jika negara produsen seperti Indoj nesiamengajukan protes. Reaksi pertama Indonesia adalah menugaskan Perutusan Tetap Indonesia di Jenewa, Swiss, mengajukan gugatan terhadap UE di Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO (World Trade Organization)pada9Desember 2019. Langkah ini wajar dan tidak berlebihan. Indonesia pada dasarnya hanya berharap WTO bisa mendorong UE untuk fair melaksanakan aturan main WTO. Tujuan jangka pendeknya adalah mencegah kerugian bagi petani dan produsen CPO dalam negeri. Lagi pula, menyikapi perilaku diskriminatif UE itu, Indonesia bisa memberi tekananbalik.

Sebab, fakta historisnya menunjukkan bahwa konsumsi minyak nabati UE cenderung naik dari waktu ke waktu. Namun, dari total kebutuhan itu, produsen minyak nabati UE tidak mampu memenuhi seluruh permintaan. Produksi minyak nabati UE hanya tumbuh 2,8% per tahun, sedangkan laju tumbuh konsumsinya sampai 4,8% per tahun. Ke-simpulan-nya, produsen UE hanya mampu memenuhi dua pertiga permintaan, sedangkan untuk sepertiganya UE sangat bergantung pada impor. Dengan me -nerapkan BMIS, produsen CPO bisa balik menekan UE dengan menunda ekspor. Sebab, pada akhirnya, UE harus cepat merespons tuntutan konsumen ketika terjadi kelangkaan minyak nabati dipasar setempat.

Ketahanan Energi

Dalam jangka menengah danjangkapanjang, adahikmah dari penolakan UE terhadap CPO Indonesia. Seperti ditegaskan Presiden Joko Widodo, pasar domestik siap menyerap produksi sawit untuk diolah menjadibiodiesel.”CPOkitagu -nakan sendiri untuk biodiesel, biofuel. Kenapa harus bertarung dengan Uni Eropa karena. CPO kita di-banned, didiskri-minasi? Kita pakai sendiri saja,” kata Presiden, pada akhir No -vember 2019 di Jakarta. Penyerapan CPO besar-besaran untuk diolah menjadi B-20, B-30, hingga B-100 akan men-dongkrakharga sawit. Dengan demikian, para pe -tani sawit juga akan menikma -tinya. Inilah reaksi kedua Indonesia atas perilaku UE yang diskriminatif itu. Diskriminasi atau penerapan hambatan nontarif dalam perdagangan global mungkin tidak akan berhenti pada sikap UE terhadap CPO. Selain itu, banyak negara juga patut belajar dari alasan Amerika Serikat (AS) melancarkan perang dagang terhadap China. Artinya, demi kepentingannya masing-masing, negara atau ka -wasan perekonomian berskala besar tidak lagi patuh pada aturan main yang dite tapkan WTO.

Perilaku UE dan AS adalah contoh dari kekuatan perekonomian yang bertindak sesuka hatidemikepentingan kawasan masing-masing. Karena itu, ne-geriyangkayaakansumberdaya alam seperti Indonesia harus coba merumuskan caranya sendiri untuk memaksimalkan potensi itu demi kemakmuran masyarakat. Ekspor bahan mentah dengan nilai tambah yang rendah sudah harus dikurangi, dengan mengutamakan pengolahan menjadi barang jadi siap pakai di negeri sendiri. Tantangannya memang tidak mudah. Karena, angkatan kerja Indonesia mau tak mau harus menaikkan kapasitas dankeahlian. Namun, pilihan itu sulit dihindari dan harus dimulai dari sekarang. Maka, gagasan dan ajakan Presiden untuk memaksimalkan potensi sawit itu relevan un tuk dikaitkan dengan masa depan ketahanan energi. Indonesia mau tak mau harus lebih fokus dan bersungguh-sungguh dalam mewujudkan energibaru terbarukan. Jangan melihatnya untuk kepentingan jangka dekat, melainkan demi generasi anak-cucu. Dengan fokus pada program energi baru terbarukan, generasi terkini bangsa menyiapkan landasan yang kuat bagi masa depan ketahanan energi nasional.

Generasi sekarang masih dimanja oleh ketersediaan bahan bakar fosil yang meliputi minyak bumi, gas alam, dan batubara. Sulituntuksegera terbarukan karena perlu jutaan tahun untuk terbentuk. Para ahli memperkirakan, dalam hitungan puluhan tahun ke depan, bahan bakar fosil itu akan habis. Bahkan, ada yang memperkirakan bahwa Indonesia masihbisa mengandalkan bahan bakar fosil hanya sampai tahun 2050. Maka, penjualan atau ekspor CPO yang mulai menemukan banyak hambatan itu hendaknya tidak membuat masyarakat Indonesia kehilangan akaL Pasti ada hikmah dari setiap masalah. Sebagaimanagagasandanajakan Presiden Joko Widodo, para ahli di dalam negeri dan generasi milenial ditantang untuk memaksimalkan pemanfaatan mi -nyak sawit sebagai bahan bakar alternatif. Sumber daya alam Indonesia lebih dari cukup untuk membangun masa depan ketahanan energi nasional. Ingat bahwa sejak awal dekade 2000-an, Indonesia telah berstatus sebagai negara net importir minyak bumi, karena volume impor BBM lebih tinggi dibandingkan hasil lifting. Itu adalah gambaran tentang ketergantungan Indonesia pada negara lain sekaligus menjelaskan tentang lemahnya ketahanan energi.

Antara | Kamis, 16 Januari 2020
Pemerintah Sebutkan Biodiesel B30 Tidak Rusak Kualitas Mesin

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjamin pemanfaatan biodiesel dengan campuran nabati 30 persen atau B30 tidak akan menimbulkan kerugian dan memengaruhi kualitas mesin kendaraan.Kandungan unsur nabati atau fatty acid methyl esther dari kelapa sawit dalam bahan bakar B30 sudah melewati serangkaian pengujian dan menunjukkan hasil yang baik. “Implementasi program mandatori biodiesel, termasuk B30 dijalankan dengan perencanaan yang matang dan sistematis serta melalui serangkaian uji komprehensif dan konstruktif untuk memastikan implementasinya tepat sasaran, tidak menimbulkan kerugian dan kerusakan mesin kendaraan dan justru berperan dalam meningkatkan kualitas lingkungan,” kata Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Andriah Feby Misna di Jakarta, Kamis.

Dari sisi mutu bahan bakar, B30 juga lebih baik dari B20. Sebelum diimplementasikan, ujar Feby, beberapa persiapan telah dilakukan, antara lain melakukan revisi SNI biodiesel, melakukan uji jalan/fungsi B30, memastikan kesiapan produsen biodiesel, memastikan metode sistem handling dan penyimpanan yang tepat, memastikan kesiapan infrastruktur, dan melakukan sosialisasi untuk memastikan penerimaan semua pihak terkait. Pengujian B30, lanjutnya, juga telah dilakukan di lokasi Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah guna melihat kemampuan bahan bakar melakukan adaptasi pada kondisi udara yang lebih dingin. Hasilnya, start ablility mesin kendaraan berjalan mulus setelah didiamkan (soaking) bahan bakar pada corong terpisah selama 21 hari. Setelah melewati uji start ability, kendaraan berbahan bakar B30 melanjutkan uji jalan (road test) hingga jarak tempuh 640 km setiap hari pada berbagai trek jalanan. Khusus trek lurus, kestabilan mobil dijaga dengan kecepatan maksimal 100 kilometer per jam. “B30 pada dasarnya siap digunakan oleh mesin diesel biasa dengan sedikit atau tanpa penyesuaian. Penyesuaian dibutuhkan jika penyimpanan atau wadah biodiesel terbuat dari bahan yang sensitif dengan biodiesel seperti seal, gasket, dan perekat terutama mobil lama dan yang terbuat dari karet alam dan karet nitril,” imbuhnya.
https://lampung.antaranews.com/berita/384707/pemerintah-sebutkan-biodiesel-b30-tidak-rusak-kualitas-mesin

Kontan | Kamis, 16 Januari 2020
ESDM Pastikan Penggunaan B30 Tidak Akan Mengurangi Kualitas Mesin Kendaraan

Program bauran minyak kelapa sawit sebanyak 30% atau B30 sudah mulai diberlakukan pada awal tahun ini. Pemerintah pun memastikan implementasi B30 tidak akan berdampak negatif bagi kualitas mesin kendaraan. Direktur Bioenergi Direktorat Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Andriah Feby Misna menyampaikan, kandungan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang berasal dari kelapa sawit sudah melalui serangkaian uji coba dan terbukti menunjukkan hasil positif. Karena itu, kandungan FAME tidak menimbulkan kerugian dan kerusakan pada mesin kendaraan disel. Justru keberadaan B30 dapat berperan dalam meningkatkan kualitas lingkungan. Dari sisi kualitas, B30 juga dinilai lebih baik dari B20. Sebelum diberlakukan, beberapa persiapan sudah dilakukan oleh pemerintah seperti revisi SNI biodisel, uji jalan atau fungsi B30, memastikan kesiapan produsen biodisel, memastikan metode sistem handling dan penyimpanan, memastikan kesiapan infrastruktur, dan sosialisasi untuk memastikan penerimaan kepada semua pihak terkait.

“Pengujian B30 juga telah dilakukan di lokasi dataran tinggi Dieng Jawa Tengah guna melihat kemampuan bahan bakar melakukan adaptasi pada kondisi udara yang lebih dingin,” ungkap Feby dikutip dari siaran pers di situs Kementerian ESDM, Kamis (16/1). Ia melanjutkan, B30 pada dasarnya siap digunakan oleh mesin diesel biasa dengan sedikit atau tanpa penyesuaian. Penyesuaian dibutuhkan jika penyimpanan atau wadah biodiesel terbuat dari bahan yang sensitive dengan biodisel seperti seal, gasket, dan perekat terutama pada mobil lama yang terbuat dari karet alam dan karet nitril. Lantas, keberhasilan penggunaan B30 tergantung dari tiga faktor. Di antaranya kualitas bahan bakar, handling atau penanganan bahan bakar, dan kompatibilitas material terhadap bahan bakar tersebut. “Kerusakan yang terjadi pada injector dapat diakibatkan dari ketidaksesuaian salah satu atau lebih dari ketiga faktor tersebut,” sambung Feby. Di samping itu, peningkatan pencampuran biodiesel dari B20 ke B30 pada dasarnya tidak akan menimbulkan endapan di dalam filter mesin. Sebab, sudah ada peningkatan spesifikasi dari B20 (20 parameter) menjadi B30 (24 parameter) yang aman kadar monogliserida dan air telah diperkecil. Tak hanya itu, hasil memuaskan juga terlihat dari emisi gas buang CO pada kendaraan pengguna B30 yang berada di kisaran 0,1—0,2 g/km atau lebih rendah dari ambang batas sebesar 1,5 g/km. Feby pun menjelaskan, implementasi B30 diharapkan akan meningkatkan penyerapan CPO sebesar 2,6 juta ton atau setara dengan RP 9,16 triliun. B30 juga dapat menyerap biodiesel sebesar 9,59 juta kiloliter yang akan berdampak pada penghematan devisa sebesar US$ 4,40 miliar atau setara Rp 63,40 triliun. “Implementasi B30 juga menciptakan lapangan pekerjaan bagi 1,2 juta orang serta menurunkan emisi gas rumah kaca dan meningkatkan lingkungan sebesar 14,34 juta ton CO2,” terang dia.
https://industri.kontan.co.id/news/esdm-pastikan-penggunaan-b30-tidak-akan-mengurangi-kualitas-mesin-kendaraan?page=all

Warta Ekonomi | Kams, 16 Januari 2020
Jamin! Pemerintah Jamin Kualitas B30

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjamin pemanfaatan program B30 pada kendaraan bermesin diesel tidak akan menimbulkan kerugian dan memengaruhi kualitas mesin kendaraaan. Direktur Bioenergi Direktorat Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Andriah Feby Misna, menjelaskan bahwa kandungan FAME (fatty acid methyl ester) yang berasal dari kelapa sawit tersebut sudah melewati serangkaian pengujian dan menujukkan hasil yang baik. “Implementasi Program Mandatori Biodiesel, termasuk B30 dijalankan dengan perencanaan yang matang dan sistematis serta melalui serangkaian uji komprehensif dan konstruktif untuk memastikan implementasinya tepat sasaran, tidak menimbulkan kerugian, dan kerusahan mesin kendaraan dan justru berperan dalam meningkatkan kualitas lingkungan,” jelas Andriah Feby Misna dalam keterangan di Jakarta, Kamis (16/1/2020). Dari sisi mutu bahan bakar, B30 juga lebih baik dari B20. Sebelum diimplementasikan, beberapa persiapan telah dilakukan, antara lain melakukan revisi SNI biodiesel, melakukan uji jalan/fungsi B30, memastikan kesiapan produsen biodiesel, memastikan metode sistem handling dan penyimpanan yang tepat, memastikan kesiapan infrastruktur, dan melakukan sosialisasi untuk memastikan penerimaan semua pihak terkait.

Feby kembali menuturkan, pengujian B30 juga telah dilakukan di lokasi dataran tinggi Dieng Jawa Tengah guna melihat kemampuan bahan bakar melakukan adaptasi pada kondisi udara yang lebih dingin. “B30 pada dasarnya siap digunakan oleh mesin diesel biasa dengan sedikit atau tanpa penyesuaian. Penyesuaian dibutuhkan jika penyimpanan atau wadah biodiesel terbuat dari bahan yang sensitif dengan biodiesel seperti seal, gasket, dan perekat terutama mobil lama dan yang terbuat dari karet alam dan karet nitril,” lanjut Feby. Dipaparkan Feby, keberhasilan dari penggunaan B30 tergantung kepada 3 (tiga) faktor yaitu kualitas bahan bakar (biodiesel dan solar), handling/penanganan bahan bakar, dan juga kompatibilitas material terhadap bahan bakar tersebut. Kerusakan yang terjadi pada injektor dapat diakibatkan dari ketidaksesuaian salah satu atau lebih dari ketiga faktor tersebut. Sebagaimana diketahui, pemanfaatan B20 pada tahun 2018 sebesar 3,75 juta KL telah berhasil menghemat devisa sebesar US$1,89 miliar atau Rp26,27 triliun, serta menurunkan emisi GRK dan meningkatkan kualitas lingkungan sebesar 5,61 juta ton CO2. Pemanfaatan B20 pada tahun 2019 sebesar 6,36 juta kL (data per tanggal 15 Januari 2020) telah berhasil menghemat devisa sebesar US$ 2,92 miliar atau setara Rp42,05 triliun, menciptakan lapangan pekerjaan bagi 801.000 orang, serta menurunkan emisi GRK dan meningkatkan kualitas lingkungan sebesar 9,51 juta ton CO2. Adapun implementasi B30 diharapkan akan meningkatkan penyerapan CPO sebesar 2,6 juta ton atau setara dengan Rp9,16 triliun dengan penyerapan biodiesel sebesar 9,59 juta KL yang akan berdampak pada penghematan devisa sebesar US$4,40 miliar atau setara Rp63,40 triliun.
https://www.wartaekonomi.co.id/read266898/jamin-pemerintah-jamin-kualitas-b30.html

Kompas | Jum’at, 17 Januari 2020
ESDM Jamin B30 Tak Menimbulkan Efek Negatif

Meski sudah diterapkan dan mulai dijual, namun implementasi Biosolar 30 persen atau B30, mendapat kritik negatif. Terutama bagi pengguna mobil bermesin diesel. Beberapa penggunanya mengeluhkan bila B30 membuat suara mesin diesel menjadi lebih kasar, tarikan mesin yang lemot, sampai risiko engine check yang menyala lantaran filter solar yang lebih mudah kotor. Di tengah berbagai isu miring yang terus berkembang, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ( ESDM) melalui Direktur Bioenergi Direktorat Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Andriah Feby Misna angkat bicara. Menurut Feby, pemanfaatan B30 pada kendaran diesel tidak akan menimbulkan kerugian dan mempengaruhi kualitas mesin kendaraan, hal ini karena proses implementasinya sudah dijalankan dengan perencanaan yang matang dan sistematis.

“Selain itu juga melalui serangkaian uji komprehensif dan konstruktif untuk memastikan implementasinya tepat sasaran. Tidak menimbulkan kerugian dan kerusahan mesin kendaraan, justru berperan meningkatkan kualitas lingkungan,” ujar Feby dalam keterangannya di laman resmi ESDM, Rabu (15/1/2020). Lebih lanjut, Feby menjelaskan, bila mutu bahan bakar B30 lebih baik dari B20. Hasil ini didapat dari beberapa pengujian yang telah dilakukan sebelum akhirnya B30 resmi diimplementasikan dan dijual hampir di semua SPBU Pertamina. Pengujian B30 dilakukan di lokasi dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah, untuk melihat kemampuan bahan bakar melakukan adaptasi pada kondisi udara yang lebih dingin. Hasilnya, start ability mesin diklaim berjalan mulus setelah didiamkan bahan bakar pada corong terpisah selama 21 hari.

“B30 pada dasarnya siap digunakan mesin diesel biasa dengan sedikit atau tanpa penyesuaian. Penyesuaian dibutuhkan jika penyimpanan atau wadah biodiesel terbuat dari bahan yang sensitif dengan biodiesel seperti seal, gasket, dan perekat terutama mobil lama dan yang terbuat dari karet alam dan karet nitril,” kata Feby. Keberhasilan penggunaan B30 menurut Feby sangat tergantung pada tiga faktor, yakni kualitas, bahan bakar, handling atau penanganan bahan bakar, serta kompatibilitas material terhadap bahan bakar tersebut. Bila sampai terjadi kerusakan pada injektor, maka bisa diakibatkan dari ketidaksesuaian salah satu atau lebih dari tiga faktor tadi. Sementara soal adanya peningkatan penumpukan endapan, diklaim tidak akan terjadi dari yang sebelumnya menggunakan B20 ke B30. Hal ini lantaran sudah ada peningkatan spesifikasi dari 20 paremeter di B20 ke 24 parameter pada B30 yang aman kadar monogliserida dan airnya telah diperkecil. “Adapun terkait dengan penumpukan di dalam filter mesin, dapat dikatakan bahwa kasus ini hanya berlaku untuk unit lama atau unit yang sudah lama menggunakan B0, jika dari awal sudah pakai B20, biasanya tidak ada masalah dan dapat dilanjutkan dengan penggunaan B30,” ucap Feby.