+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Pengembangan Biodisel di Malaysia:

  • Pengembangan Biodisel di Malaysia: Malaysia merupakan negara produsen CPO terbesar di dunia. Dengan ketersediaan CPO sebagai bahan baku bagi industri biodiesel, maka Malaysia tidak hanya untuk memenuhi konsumsi domestik tetapi juga memiliki potensi yang sangat besar menjadi negara produsen biodiesel serta mampu menjadi pelaku aktif dalam pasar biodiesel global, khususnya dalam memenuhi permintaan biodiesel dunia yang terus bertumbuh. (GAPKI.ID)

https://gapki.id/news/3916/pengembangan-biodiesel-di-malaysia

  • Malaysia, Thailand dan RI siap balas Uni Eropa jika terus diskriminasi kelapa sawit: Negara penghasil kelapa sawit masing-masing Malaysia, Indonesia dan Thailand mengancam akan membalas Uni Eropa (UE) jika terus mendiskriminasi dan menyerang industri minyak sawit dengan mengeluarkan komoditi tersebut dari program biodieselnya. Menteri Perindustrian dan Komoditas Perkebunan Malaysia, Datuk Seri Siew Keong mengatakan, parlemen UE menyetujui dua resolusi, dan pelaksanaan resolusi tersebut akan memberi dampak signifikan pada negara-negara produsen, terutama petani kecil di negara tersebut. “Kami harap ini tidak dilaksanakan, tapi jika benar-benar diimplementasikan, jika produk kami didiskriminasikan, kami juga dapat melakukan tindakan yang sama melawan UE,” katanya (MERDEKA)

https://www.merdeka.com/uang/malaysia-thailand-dan-ri-siap-balas-uni-eropa-jika-terus-diskriminasi-kelapa-sawit.html

  • DUA KESALAHAN DALAM RESOLUSI SAWIT UNI EROPA: Pada April 2017 lalu Parlemen Uni Eropa telah menerbitkan “Palm oil and the Deforestation of Rain Forests,” menjadi sebuah resolusi, menyusul langkah-langkah kebijakan pihak Uni Eropa untuk memerangi deforestasi di daerah tropis serta dampak yang terkait dengan perubahan iklim dan keanekaragaman hayati. Dua rekomendasi utama yang terkandung dalam Resolusi tersebut adalah pentahapan pengurangan minyak sawit sebagai bahan baku untuk biodiesel sawit dan beralih ke minyak sawit berkelanjutan bersertifikasi 100%, keduanya harus dipenuhi pada tahun 2020. Pihak negara produsen minyak sawit sangat menyadari tantangan lingkungan yang dihadapi planet bumi. Apalagi negara produsen juga bagian dari masyarakat internasional yang berusaha mengurangi emisi gas rumah kaca, melindungi habitat alami dan mengejar pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan. (INFO SAWIT)

http://www.infosawit.com/news/7580/dua-kesalahan-dalam-resolusi-sawit-uni-eropa

  • RESOLUSI SAWIT UNI EROPA DORONG KERUSAKAN LINGKUNGAN GLOBAL: Dalam artikel berjudul “Membangun Masa Depan Berkelanjutan: Minyak Kelapa Sawit Malaysian Dan Konsumsi Eropa” yang ditulis secara bersama oleh Frank Vogelgesang, Uttaya Kumar, Kalyana Sundram dari Malaysian Palm Oil Council (MPOC), mencatat penerbitan resolusi minyak sawit oleh parlemen Uni Eropa bakal memiliki konsekuensi luas bagi ekonomi Malaysia (dan negara-negara penghasil minyak kelapa sawit lainnya). Pnerapan resolusi juga semestinya harus didasarkan pada bukti objektif dan bukan penerapan prinsip kehati-hatian tanpa batas, yang bertentangan dengan  Article 191 of the Treaty on the Functioning of the European Union. Misalnya terkait sertifikasi berkelanjutan, dalam artikel mencatat penekanan bahwa kenyataan tentang produksi dan perdagangan kelapa sawit di lapangan terlalu rumit untuk dicakup oleh skema sertifikasi tunggal yang dicanangkan Eropa. “Dalam pandangan kami, standar sertifikasi harus ditetapkan dan diberlakukan di tingkat nasional. Itulah sebabnya kami memilih untuk berinvestasi dalam membangun standar Malaysia Sustainable Palm Oil (MSPO). Di sisi lain, kita melihat kekhawatiran Parlemen Eropa mengenai transparansi dan kejelasan standar sertifikasi yang berbeda terhadap konsumen. Oleh karena itu, kami mengusulkan untuk mencari cara untuk membuat standar yang sebanding,” catat penulis. Lantas mengenai Biodiesel, dimana perdebatan mengenai implikasi dari apa yang disebut ” Globiom Report ” yang menerapkan konsep perubahan penggunaan lahan tidak langsung (ILUC) terhadap perhitungan emisi gas rumah kaca (GRK), dimana penghitungan keseluruhan biodiesel sawit telah berlangsung bertahun-tahun tanpa ada kesudahan. Pihak penulis mencatat penghapusan penggunaan biodiesel sawit sebenarnya merupakan pelanggaran terhadap prinsip kehati-hatian. Mengingat kendaraan bermotor masih akan lebih banyak menggunakan minyak berbasis fosil, setidaknya untuk selama 15 sampai 20 tahun, dampak lingkungan dari bahan bakar fosil versus biodiesel sawit harus dieksplorasi lebih lanjut. (INFO SAWIT)

http://www.infosawit.com/news/7576/resolusi-sawit-uni-eropa-dorong-kerusakan-lingkungan-global