+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Penggunaan Biodiesel Hemat Devisa Impor

Media Indonesia | Rabu, 6 Februari 2019

Penggunaan Biodiesel Hemat Devisa Impor

Direktur Eksekutif Gabungan pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono mengatakan penggunaan Biodiesel sebagai bahan bakar alternatif perlu didorong untuk dalam negeri atau ekspor di tengah tingginya harga minyak. “Penggunaan Biodiesel dari kelapa sawit, untuk kendaraan berfungsi sebagai diversifikasi produk hilir sawit dan penyediaan energi ramah lingkungan. Juga menghemat devisa impor minyak fosil,” kata Mukti terkait ujicoba penggunaan Biodiesel 50% (B50) pada mobil bermesin diesel dari Medan ke Jakarta oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), kemarin. Melalui siaran pers. Ketua Tim Road Test Biodiesel B50 PPKS M Ansori Nasution mengatakan dari ujicoba, mobil dengan B50 memiliki emisi ramah lingkungan.

 

Harian Ekonomi Neraca | Rabu, 6 Februari 2019

Mobil Gunakan Biodiesel B50 Berhasil Tempuh Medan-Jakarta

Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) melaksanakan ujicoba penggunaan Biodiesel 50 persen (B50) pada dua mobil bermesin diesel menempuh perjalanan dari Kota Medan, Sumatera Utara, Jumat (25/1) dan tiba di Jakarta, Senin (28/1). Setelah menembus jalur lintas timur Sumatera selama tiga hari perjalanan sepanjang 2.300 kilometer, mobil dengan jenis dan merek sama tersebut tiba di ibu kota tanpa hambatan apapun.  “Alhamdulillah lancar, mobil tidakmengalamiham-batan apapun. Tapi saya tegaskan bahwa ini adalah hasil sementara,” ujar Ketua Tim Road Test Biodiesel B50 PPKS Muhammad Ansori Nasution ketika di Jakarta, Minggu (3/2). Menurut doktor dari Tsukuba University Japan ini, penggunaan B50 dan B20 menghasilkan data konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang yang berbeda. Selain itu, hasil dyno test menunjukkan bahwa tenaga mobil yang menggunakan B50, lebih rendah empat persen dibanding pada mobil yang menggunakan B20.

 

“Data lebih lengkap akan saya laporkan setelah kedua kendaraan menempuh perjalanan kembali dari Jakarta ke Medan, kata Peneliti Rekayasa Teknologi Pengelolaan Lingkungan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) itu. Berdasarkan pengakuan pengemudi, lanjutnya, mobil yang menggunakan B50 lebih responsif. Berdasarkan konsumsi bahan bakar, mobil uji yang menggunakan B50 sedikit lebih boros jika dibandingkan mobil kontrol yang menggunakan B20.  Jika mobil kontrol dalam satu liter bahan bakar bisa menempuh perjalanan sejauh 10,86 kilometer, mobil uji hanya 10,61 kilometer. “Namun dari rata-rata emisi gas buang mobil uji lebih ramah lingkungan ketimbang mobil kontrol,” tegas Ansori. Direktur Eksekutif Gabungan pengusaha kelapa sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sardjono mengapreasiasi uji coba yang dilakukan PPKS ini.

 

Menurutnya, dengan semakin tingginya harga minyak bumi akhir-akhir ini, sudah saatnya Indonesia lebih meningkatkan penggunaan Biodiesel khususnya berasal kelapa sawit, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor. “Penggunaan Biodiesel untuk kendaraan bermotor di dalam negeri yang berfungsi ganda yaitu diversifikasi produk hilir kelapa sawit dan penyediaan energi ramah lingkungan. Di samping itu sekaligus dapat menghemat devisa impor minyak fosil,” katanya. Sementara itu Direktur PPKS Hasril Hasan Siregar mengatakan bahwa salah satu produk hilir dari minyaksawityang dapat dikembangkan di Indonesia adalah Biodiesel yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif, terutama untuk mesin diesel. “Biodiesel ialah bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, tidak beracun dan dibuat dari minyak nabati,” tegas Hasril.

 

Rakyat Merdeka | Rabu, 6 Februari 2019

B50 Tekan Impor Minyak

PUSAT Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) melaksanakan uji coba penggunaan Biodiesel 50 persen (B50) pada dua mobil bermesin diesel. Kedua mobil tersebut memulai perjalanan dari Kota Medan, Sumatera Utara, Jumat (25/1) dan tiba di Jakarta, Senin (28/1). Setelah menerabas jalur lintas timur Sumatera selama tiga hari, mobil dengan jenis dan merek sama tersebut tiba di ibu kota tidak ada hambatan apa pun. “Alhamdulillah lancar, mobil tidak mengalami hambatan apa pun. Tapi saya tegaskan, ini adalah hasil sementara,” ujar Ketua Tim Road Test Biodiesel B50 PPKS Muhammad Ansori Nasution di Jakarta, kemarin.Menurut doktor dari Tsukuba University Japan ini,penggunaan B50 dan BIO menghasilkan data konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang yang berbeda. Selain itu, hasil dy no test menunjukkan bahwa power mobil yang menggunakan B50. 4 persen Iebih rendah dibanding pada mobil yang menggunakan B20. Data tersebut, kata Ansori, merupakan data sementara berdasar perjalanan sepanjang 2.300 km dari Medan ke Jakarta. “Data lebih lengkap akan saya laporkan setelah kedua kendaraan menempuh perjalanan kembali dari Jakarta ke Medan,” katanya.

 

Ansori menjelaskan, road test B50 menggunakan dua kendaraan uji merk Toyota Innova diesel keluaran 2018. Mobil kontrol menggunakan bahan bakar diesel komersil yang diperoleh dari SPBU Pertamina.odometer sebelum pengujian menunjukkan angka 3.855 km. Sementara itu, mobil uji menggunakan bahan bakar dengan komposisi bauran Biodiesel sejumlah B50. odometer sebelum pengujian menunjukkan angka 74 km. Sebelum road test dimulai, kedua mobil diperlakukan sama.  Untuk menghindari bias terkait dengan gaya mengemudi, dalam ujicoba ini pengemudi pada kendaraan pertama dan kedua saling bertukar posisi kemudi setiap 500 km. “Berdasarkan pengakuan kedua driver, mobil yang menggunakan B50 lebih responsif. Tapi pengakuan ini tidak terukur.” kata Ansori. Berdasarkan konsumsi bahan bakar, mobil uji yang menggunakan B50 sedikit lebih boros jika dibandingkan mobil kontrol yang menggunakan B20. Jika mobil kontrol dalam satu liter bahan bakar bisa menempuh perj 11 anan sejauh 10,86 km, mobil uji hanya 10,61 km. “Namun dari rata-rata emisi gas buang mobil uji lebih ramah lingkungan ketimbang mobil kontrol,” tegas Ansori. Direktur Eksekutif Gabungan pengusaha kelapa sawit lndo-nesia (GAPKI) Mukti Sardjono mengapreasiasi uji coba yang dilakukan PPKS ini. Menurutnya, dengan semakin tingginya harga minyak bumi akhir-akhir ini, sudah saatnya apabila Indonesia lebih meningkalkan penggunaan Biodiesel khususnya berasal kelapa sawit, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor. “Penggunaan Biodiesel untuk kendaraan bermotor di dalam negeri berfungsi ganda yaitu diversifikasi produk hilir kelapa sav. it dan penyediaan energi ranah lingkungan. Di samping itu sekaligus dapat menghemat devisa impor minyak fosil”, kata Mukti.

 

Infosawit | Rabu, 6 Februari 2019

Pertamina RU III Blanding Biodiesel Sawit (FAME) 40.000 KL/bulan

  1. Pertamina Refinery Unit III melakukan launching perdana Bahan Bakar Ramah Lingkungan Biosolar (B-20) di Kilang RU III Plaju pada Kamis (24/1) lalu. Hal tersebut dilaksanakan sebagai komitmen menjalankan kebijakan pemerintah sesuai Permen ESDM No. 41 Tahun 2018 untuk menerapkan penggunaan campuran bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dengan minyak nabati (Fatty Acid Methyl Ester/FAME) sebesar 20% yang diproduksi oleh Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BU BBN). “Launching Biosolar (B-20) ini menunjukkan bahwa PT. Pertamina Refinery Unit III Plaju siap mendukung program pemerintah dan memenuhi security of supply, khususnya, di daerah Sumatera bagian selatan (Sumbagsel) melalui sinergi bersama dengan Marketing Operation Region II Sumbagsel untuk melakukan produksi dan menyalurkan bahan bakar ramah lingkungan kepada masyarakat ujar,” General Manager RU III Plaju, Yosua I. M Nababan dalam keterangan resmi kepada InfoSAWIT belum lama ini.

 

RU III telah melakukan improvement, baik dari segi sarfas penerimaan FAME maupun produksi B-20 dalam tempo yang cukup cepat. Kilang RU III mampu mengolah pasokan FAME dari supplier dengan kapasitas 30.000-40.000 kiloliter (kl)/bulan. FAME diterima melalui kapal dan disalurkan melalui RPM (rumah pompa minyak) fuel di area storage tanki untuk dilakukan blending solar sebagai B-20 untuk kemudian di – lifting melalui sarfas existing, baik via kapal maupun pipeline ke TBBM wilayah Sumatera Selatan, dan Lampung. “Kami berterima kasih atas apresiasi Menteri ESDM RI saat kunjungannya ke RU III lalu. Menciptakan energi bersih menjadi prioritas kami sebagai green refinery pertama di Indonesia,” sambungnya. Selain untuk memenuhi regulasi, injeksi FAME sebanyak 20% ke dalam produk solar dapat memberikan potensi improvement kualitas finish product. Pjs. General Manager Marketing Operation Region (MOR) II, Hendrix Eko Verbriono, pada launching perdana B-20 mengatakan, “Keunggulan B-20 ini memiliki CetaNe number di atas 50. Artinya, lebih tinggi bila dibandingkan dengan CetaNe number solar murni, yakni 48. Semakin tinggi angka cetane, semakin sempurna pembakaran sehingga polusi dapat ditekan. Kerapatan energi per volume yang diperoleh juga makin besar. Selain itu, campuran FAME menurunkan sulfur pada produk diesel tersebut”, tuturnya.

 

Penerapan bahan bakar ramah lingkungan ini, tentunya, juga berdampak pada pengendalian angka impor BBM. Diharapkan juga ikut mendukung stabilitas nilai rupiah dan menghemat devisa negara. Pemanfaatan minyak sawit ini, selain menyejahterakan petani sawit dengan menjaga stabilisasi harga CPO, juga mampu mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29% dari business as usual (BAU) pada tahun 2030. RU III Plaju merupakan salah satu dari 30 lokasi yang ditentukan menerima FAME dengan pertimbangan kebutuhan B-20 untuk Provinsi Sumatera Selatan dan Lampung sebanyak 3.500 – 5.000 kl/hari. Saat ini secara reguler, seluruhnya dapat dipenuhi dari RU III Plaju yang mampu menghasilkan biosolar (B-20) 180.000-200.000 KL/bulan. Ini merupakan bagian dari upaya PT. Pertamina menjamin ketahanan stok BBM ramah lingkungan di pasaran. PT. Pertamina akan  terus berinovasi menghasilkan  bahan bakar ramah lingkungan, di antaranya, langsung mengolah CPO di dalam kilang untuk menghasilkan green fuel, berupa, green gasoline, green diesel, dan green avtur.

https://www.infosawit.com/news/8743/pertamina-ru-iii-blanding-biodiesel-sawit–fame–40-000-kl-bulan

 

 

 

Infosawit | Rabu, 6 Februari 2019

Terminal BBM Gunung Sitoli Total Salurkan Biodiesel Sawit (B20)

  1. Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I mendukung kebijakan penerapan campuran minyak nabati 20% pada bahan bakar diesel atau Biodiesel B20. Mulai Januari 2019, Terminal BBM Gunung Sitoli akan total menyalurkan Biodiesel B20 dan menghentikan suplai B0. Sehingga keseluruhan terdapat 19 TBBM di wilayah MOR I dalam penyaluran B20. Pada 2018 lalu, Terminal BBM Gunung Sitoli selain menyalurkan B0 juga mensuplai lebih dari 16.200 kiloliter (kl) B20. Secara total, MOR I melalui Industrial Fuel & Marine menyalurkan hampir 600.000 kl Biodiesel B20 di seluruh wilayah Sumatera bagian utara. Jumlah ini akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya kemampuan suplai minyak nabati dari produsen. Operation Head Terminal BBM Gunung Sitoli, Abuzar menjelaskan bahwa penyaluran B20 akan berdampak pada beberapa instansi pengguna Solar B0. “Hingga kini instansi, seperti, PT PLN khusus PLTG, dan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) TNI masih menggunakan B0. PT. PLN, misalnya, karena spesifikasi pembangkit listrik tenaga gas (PLTG)-nya memang pakai B0,” ujar Abuzar dalam keterangan resmi kepada InfoSAWIT. Oleh karena itu, lanjut Abuzar, pihaknya telah mengirimkan surat pemberitahuan tanggal 4 Januari 2019 ke pihak-pihak terkait. Isinya, agar instansi-instansi pengguna B0 segera melakukan alih suplai B0 dari Terminal BBM Gunung Sitoli ke Terminal BBM Teluk Kabung, Terminal BBM Dumai, Terminal BBM Medan Group, Terminal BBM Tanjung Uban, ataupun Terminal BBM Pulau Sambu sehingga diharapkan tidak mengganggu operasional instansi-instansi tersebut. PT. Pertamina menjamin kehandalan suplai B0 di lokasi-lokasi terminal BBM tersebut. Kendati demikian, penyaluran dapat dilakukan setelah pihak-pihak terkait yang membutuhkan telah menyelesaikan proses alih suplai ke terminal BBM penyedia solar B0. Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM No. 2018 K/10/MEM/2018, pemerintah telah menetapkan 30 titik penerimaan biodiesel sehingga solar murni (B0) hanya akan tersedia di 30 titik penerimaan FAME (Fatty Acid Methyl Ester).

https://www.infosawit.com/news/8745/terminal-bbm-gunung-sitoli-total-salurkan-biodiesel-sawit–b20-

 

Bisnis | Selasa, 5 Februari 2019

Uji Coba Biodiesel B50, Berhasil Tempuh Perjalanan Medan-Jakarta

Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) melaksanakan uji coba penggunaan biodiesel 50% (B50) pada dua mobil bermesin diesel menempuh  perjalanan dari Kota Medan, Sumatra Utara, Jumat (25/1) dan tiba di Jakarta, Senin (28/1).  Setelah menembus jalur lintas timur Sumatra selama 3 hari perjalanan sepanjang 2.300 kilometer, mobil dengan jenis dan merek sama tersebut tiba di ibu kota tanpa hambatan apapun.   “Alhamdulillah lancar, mobil tidak mengalami hambatan apapun. Saya tegaskan bahwa ini adalah hasil sementara,” ujar Muhammad Ansori Nasution, Ketua Tim Road Test Biodiesel B50 PPKS.  Menurut doktor dari Tsukuba University Japan ini, penggunaan B50 dan B20 menghasilkan data konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang yang berbeda.  Selain itu, hasil dyno test menunjukkan bahwa power mobil yang menggunakan B50, lebih rendah empat persen dibanding pada mobil yang menggunakan B20. “Data lebih lengkap akan saya laporkan setelah kedua kendaraan menempuh perjalanan kembali dari Jakarta ke Medan,” kata Peneliti Rekayasa Teknologi & Pengelolaan Lingkungan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) itu. Berdasarkan pengakuan pengemudi, lanjutnya, mobil yang menggunakan B50 lebih responsif.

 

Berdasarkan konsumsi bahan bakar, mobil uji yang menggunakan B50 sedikit lebih boros jika dibandingkan mobil kontrol yang menggunakan B20.  Jika mobil kontrol dalam 1 liter bahan bakar bisa menempuh perjalanan sejauh 10,86 kilometer, mobil uji hanya 10,61 kilometer. “Namun dari rata-rata emisi gas buang mobil uji lebih ramah lingkungan ketimbang mobil kontrol,” tegas Ansori. Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono mengapreasiasi uji coba yang dilakukan PPKS itu. Menurutnya, dengan semakin tingginya harga minyak bumi akhir-akhir ini, sudah saatnya  Indonesia lebih meningkatkan penggunaan biodiesel, khususnya berasal kelapa sawit, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor.”Penggunaan biodiesel untuk kendaraan bermotor di dalam negeri yang berfungsi ganda yaitu diversifikasi produk hilir kelapa sawit dan penyediaan energi ramah lingkungan. Di samping itu sekaligus dapat menghemat devisa impor minyak fosil,”  katanya. Sementara itu, Direktur PPKS Hasril Hasan Siregar mengatakan bahwa salah satu produk hilir dari minyak sawit yang dapat dikembangkan di Indonesia adalah biodiesel yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif, terutama untuk mesin diesel. “Biodiesel ialah bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, tidak beracun dan dibuat dari minyak nabati,” tegas Hasril.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190205/99/885551/uji-coba-biodiesel-b50-berhasil-tempuh-perjalanan-medan-jakarta

 

 

 

Kontan | Senin, 4 Februari 2019

Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) sukses uji coba penggunaan B50 Medan-Jakarta

Upaya pemerintah untuk meningkatkan penggunaan biodiesel untuk kendaraan dalam negeri tampaknya sudah di depan mata. Setelah sukses menyelenggarakan program biodiesel 20% atau B20, kini pemerintah bisa meningkatkan penggunaan biodiesel menuju biodiesel 50% atawa B50. Upaya menuju B50 sepertinya tidak terlalu sulit, hal itu dibuktikan dengan uji coba yang dilakukan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) pada akhir Januari 2019 lalu. Ketua Tim Road Test Biodiesel B50 PPKS Muhammad Ansori Nasution mengatakan, pihaknya telah melakukan ujicoba penggunaan B50 dan B20 pada dua mobil bermesin diesel pada akhir bulan lalu. Kedua mobil ini memulai perjalanan dari Kota Medan, Sumatra Utara pada Jumat (25/1) dan tiba di Jakarta pada Senin (28/1). “Setelah menerabas jalur lintas timur Sumatra selama tiga hari, mobil jenis dan merek yang sama tersebut tiba di Ibu Kota tanpa ada hambatan apa pun, meski ini baru hasil riset sementara,” ujar Ansori, Senin (4/2). Peneliti Rekayasa Teknologi dan Pengelolaan LIngkungan PPKS ini melanjutkan, penggunaan B50 dan B20 dalam uji coba tersebut menunjukkan kalau bahan bakar dan emisi gas buang keduanya berbeda. Selain itu, hasil dyno test menunjukkan bahwa power mobil yang menggunakan B50, 4% lebih rendah daripada mobil yang menggunakan B20.

 

Lebih lanjut Ansori menjelaskan, Road Test B50 menggunakan dua kendaraan uji merek Toyota Innova diesel keluaran tahun 2018. Mobil kontrol menggunakan bahan bakar diesel komersil yang diperoleh dari SPBU Pertamina, odometer sebelum pengujian menunjukkan angka 3.855 km. Sementara itu, mobil uji menggunakan bahan bakar dengan komposisi bauran biodiesel sejumlah 50% (B50), odometer sebelum pengujian menunjukkan angka 74 km. Sebelum road test dimulai, kedua mobil diperlakukan sama. Untuk menghindari bias terkait dengan gaya mengemudi, dalam ujicoba ini pengemudi pada kendaraan pertama dan kedua saling bertukar posisi kemudi setiap 500 km. “Berdasarkan pengakuan kedua driver, mobil yang menggunakan B50 lebih responsif. Tapi pengakuan ini tidak terukur,” kata Ansori. Berdasarkan konsumsi bahan bakar, mobil uji yang menggunakan B50 sedikit lebih boros jika dibandingkan mobil kontrol yang menggunakan B20. Jika mobil kontrol dalam satu liter bahan bakar bisa menempuh perjalanan sejauh 10,86 km, mobil uji hanya 10,61 km.  “Namun dari rata-rata emisi gas buang mobil uji lebih ramah lingkungan ketimbang mobil kontrol,” tegas Ansori.

 

Direktur PPKS Hasril Hasan Siregar mengatakan, bahwa salah satu produk hilir dari minyak sawit yang dapat dikembangkan di Indonesia adalah biodiesel yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif, terutama untuk mesin diesel. “Biodiesel ialah bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, tidak beracun dan dibuat dari minyak nabati,” tegas Hasril. Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sardjono menambahkan, bahwa pihaknya mengapreasiasi ujicoba yang dilakukan PPKS ini. Menurutnya, dengan semakin tingginya harga minyak bumi akhir-akhir ini, sudah saatnya apabila Indonesia lebih meningkatkan penggunaan biodiesel khususnya berasal kelapa sawit, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor. “Penggunaan biodiesel untuk kendaraan bermotor di dalam negeri berfungsi ganda yaitu diversifikasi produk hilir kelapa sawit dan penyediaan energi ramah lingkungan. Di samping itu sekaligus dapat menghemat devisa impor minyak fosil”,  kata Mukti.

https://industri.kontan.co.id/news/pusat-penelitian-kelapa-sawit-ppks-sukses-uji-coba-penggunaan-b50-medan-jakarta