+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Pengolahan Sampah biodiesel Telan Investasi Rp630 Miliar

Indo Pos | Kamis, 25 Juli 2019

Pengolahan Sampah biodiesel Telan Investasi Rp630 Miliar

Walikota Bogor Bima Arya dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bersama CEO Plastic Energy Inggris Carlos Monreal telah menyepakati pembangunan pengolahan sampah plastik menjadi biodiesel di Bogor. Rencananya, pembangunan tersebut akan dilakukan awal 2020. Investasi untuk pembangunan pengolahan sampah tersebut diperkirakan mencapai USD45 juta atau sekitar Rp63O miliar. Diperkirakan, pengolahan sampah tersebut akan dibangun di atas lahan 10 hektar kawasan TPA Galuga. Jika pembangunan terlaksana, pengolahan sampah tersebut akan mampu memilah 1.000 ton sampah perhari menjadi 100 ton plastik. Hal itu bisa dilakukan setiap harinya di Galuga, tanpa perlu mengeluarkan biaya timbang sampah atau tipping fee bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor. “Pembangunan ini akan sangat membantu program pelestarian lingkungan, melalui pengelolaan sampah yang ramah lingkungan. Diharapkan nantfnya dapat membantu menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga lokal di sekitar TPA Galuga,” kata Wali Kota Bogor Bima Arya, Rabu (23/7). Program ini merupakan yang pertama di Asia Tenggara yang telah disetujui oleh Presiden Joko Widodo menurut Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Pemkot Bogor berkewajiban untuk menyiapkan segala perizinannya, termasuk sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai upaya pemilahan sampah rumah tangga. Sebagai tindak lanjut dari pertemuan tersebut Gubernur Jawa Barat meminta agar Wali Kota Bogor Bima Arya berkoordinasi dengan Bupati Bogor Ade Munawaroh untuk persiapan dan pelaksanaan pembangunan pengolahan sampah plastik menjadi biodiesel,

Bisnis Indonesia | Kamis, 25 Juli 2019

Green Fuel 100% Hadapi Tantangan Harga

Harga green fuel 100% menjadi salah satu tantangan di masa depan untuk pengembangan balian bakar kendaraan niaga. Harganya diprediksi bakal dua kali lipat dari harga solar saat ini karena proses kimia yang lebih panjang. Green fuel merupakan bahan bakar yang diproduksi dari kilang bahan bakar ramah lingkungan sehingga diharapkan kualitas campuran akan lebih baik. Hal itu berbeda dengan B20 yang selama ini dicampur di tangki BBM. Marketing Technical Support Manager PT Pertamina (Persero) Remigius Choemiadi Tomo mengatakan, terdapat banyak jenis green fuel salah satunya adalah yang dikenal dengan biodiesel. Saat ini, pemerintah tengah melakukan uji coba bauran biodiesel 30% yang akan belaku pada tahun depan. “Biodiesel itu tidak bisa 100% gantikan solar, perlu campur sedikit demi sedikit, makanya ada BIO, B20 dan B30,”ujarnya kepada Bisnis di sela-sela GIIAS, Rabu (24/7). Choemiadi menjelaskan, Pertamina bekerja sama dengan Eni, perusahaan migas asal Italia untuk menghasilkan bahan bakar dari tumbuh-tumbuhan yang identik dengan solar. Artinya, bahan bakar itu tidak perlu dicampur lagi tetapi langsung digunakan pada kendaraan. Namun, terdapat satu tantangan utama penerapan teknologi itu yakni harga green fuel 100% itu akan jauh lebih mahal. Harga bahan bakar nabati ini, katanya, bisa dua kali lipat dibandingkan dengan yang ada saat ini.

“Proses kimia sangat panjang. Kalau biodiesel sekarang, tidak terlalu rumit. Kalau yang identik dengan solar perlu reaksi lebih lanjut, reaksi kimianya lebih panjang makanya biayanya sangat mahal. Bisa dua kali lipat, itu kendalanya,” paparnya di sela-sela acara Gaikindo International Automotive Conference (GIAC) di Tangerang. Produsen kendaraan komersial sebelumnya mengaku siap raeneguk bauran minyak nabati dan solar 30% (B30) yang rencananya berlaku pada 2020. Director Sales and Marketing PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors Duljatmono mengatakan, pemerintah bersama beberapa produsen kendaraan diesel tengah uji coba B30. Kendaraan yang digunakan berstandar Euro 2. “Sekarang B20 masih sesuai dengan Euro 2, sedang uji coba B30, sedang dipersiapkan baru diuji coba. [Hasilnya] mungkin semester kedua atau kuartal IV/2019. Pakai mobil yang ada cuma bahan bakarnya B30,” ujarnya. Direktur Penjualan dan Promosi PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) Santiko Wardoyo mengatakan, untuk penggunaan B20 pada kendaraan Hino sejauh ini tidak ada masalah berarti. B20 memang menyebabkan penggantian filter solar yang lebih cepat dan konsumsi bahan bakar yang sedikit lebih boros. “Filter solar yang biasanya 20.000 km sekarang 10.000 km, artinya filter lebih pendek life time-nya, pencampuran FAME ini mungkin perlu perhatian khusus supaya lebih baik,” ujarnya. Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika menjelaskan, secara global terjadi kompetisi antara mobil listrik dan green fuel. Menurutnya, pengembangan green fuel di Indonesia tidak membutuhkan biaya yang besar dibandingkan dengan kendaraan listrik. “Green fuel engine atau flexi engine yang biayanya lebih murah, dan infrastruktur yang sekarang seperti pompa bensin itu bisa digunakan. Selain itu, kendaraan yang sekarang juga bisa digunakan.

Borneonews | Rabu, 24 Juli 2019

Begini Cara Atasi Anjloknya Harga CPO Global

Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) menyatakan upaya paling realistis yang dapat dilakukan Indonesia dalam menghadapi penurunan harga Crude Palm Oil (CPO) global dan hambatan dagang negara mitra adalah peningkatan konsumsi dalam negeri. “Tidak ada cara lain yang lebih efektif selain peningkatan konsumsi dalam negeri melalui percepatan pelaksanaan program B30,” kata Ketua Umum Aprobi, Master P. Tumanggor, di Jakarta, Selasa (23/7/2019). Apabila program uji coba B30 selesai dilakukan pada Oktober 2019 dan PT PLN (Persero) segera merealiasikan penggunaan minyak sawit untuk pembangkit listrik, menurut Tumanggor, kelebihan stok di dalam negeri akan berkurang. “Serapan CPO dari program B30 akan mencapai 9 juta ton dan pengunaan minyak sawit untuk campuran bahan bakar pembangkit listri PLN mencapai 3 juta ton per tahun. Volume itu akan meningkatkan serapan pasar domestik dan mengurangi dampak tingginya stok dalam negeri,” papar dia. Berdasarkan data GAPKI, penyerapan biodiesel di dalam negeri sepanjang April 2019 hanya mampu mencapai 516.000 ton atau turun 2% dibandingkan dengan Maret lalu. Pada Mei, serapan menunjukkan pertumbuhan dengan mencapai 557.000 ton atau terkerek 8% dari April. Sementara itu, untuk kasus penerapan Delegated Act RED II oleh Uni Eropa, pemerintah telah melakukan persiapan pelaporan ke WTO dengan mengumpulkan sejumlah dokumen pendukung. Di sisi lain, pemerintah Indonesia juga aktif memasukkan CPO sebagai komoditas yang dilonggarkan impornya di sejumlah pakta perdagangan yang melibatkan negara Uni Eropa, seperti Indonesia–EFTA CEPA, Indonesia–Uni Eropa CEPA dan perjanjian dagang Indonesia–Eurasia.

https://www.borneonews.co.id/berita/132612-begini-cara-atasi-anjloknya-harga-cpo-global

Palmoilmagazine | Rabu, 24 Juli 2019

Palm oil Biodiesel in 2018 Decreased 10,58 Million Tonss of CO2 Emission Eq

The environmental energy development keeps developing in Indonesia namely in palm oil – base. In the previous years the mixture of palm oil biodiesel (FAME) to fossil fuel about 20% or famously known as B20 was successful. The biodiesel production in 2018 reached 6,167 million kiloliters (kl) and well absorbed. For the domestic usage reached 3,750 million kl and for the exports reached about 1,785 million kl. Daily Chairman of Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Paulus Tjakrawan said that the palm oil biodiesel development in 2018 decreased the emission release. The green-house gas emission is believed to be less than it from fossil fuel, and decreases pollution. In 2018, Paulus continued that palm oil biodiesel from Indonesia decreased the diesel emission reaching about 27% or equal to ~10,58 million tons of CO2. “Palm oil biodiesel is environmental and it is the hope to decrease the fossil fuel dependence,” he said, Monday (22/7/2019) in Jakarta. The emission reduction is the same with what the government targeted in Nationally Determined Contributions UNFCCC about 26% in 2020 and 29% in 2030. Unfortunately the target of emission reduction in 2020 may be forgotten though it is ahead. It may happen for the policy makers pay attention to the emission reduction in 2030 for it is longer.

If the commitment of emission reduction is in the same target, the biodiesel absorption could run well. Since June 2019 the road test of biodiesel mixture to fossil fuel about 30% runs. It is said that the cold test is running. It means that the mixture of biodiesel would run in cold weather and would be in Dieng, Central Java province. Besides decreasing the emission, palm oil biodiesel is the hope to release the fuel import dependence that may reduce the exchange of the country. “It could reduce the import material dependence. The fuel usage in Indonesia reached about 1,4 million barrel per day while Indonesia could only produce 778 thousand barrel per day,” Paulus said. Based on Aprobi, in 2018, the palm oil biodiesel absorption in the domestic reached 3,75 million kl or equal to ~ 23,58 million barrel.

https://www.palmoilmagazine.com/news/7482/palm-oil-biodiesel-in-2018-decreased-10-58-million-tonss-of-co2-emission-eq

Detik | Rabu, 24 Juli 2019

Biodiesel B20 Bikin Mesin Diesel Cepat Kotor?.

Pemerintah Indonesia mendorong energi baru terbarukan, salah satunya adalah menggunakan kelapa sawit sebagai sumber energi menggantikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Hal ini diwujudkan dengan mendorong penerapan B20 pada bahan bakar solar, campuran 20 persen biodiesel sawit dan 80 persen solar. Direktur Utama PT Autochem Industry, Henry Sada, perusahaan yang memproduksi oli kendaraan bermotor merk Master dan juga pembersih injektor mesin diesel menilai B20 yang digaungkan pemerintah lebih kepada mendorong penggunaan produk dalam negeri. “B20 itu dipakai bukan karena itu (bahan bakar) lebih bagus, (B20) supaya mendukung ekonomi Indonesia. Karena sekarang kita (Indonesia) punya banyak sekali kelapa sawit, Eropa ga mau beli karena dia (negara lain) bilang merusak lingkungan dan lain-lain,” ujar Henry di GIIAS, ICE BSD, Jakarta (22/7/2019). “Itu kan sebenarnya hanya alasan politis supaya produk mereka yang lebih laku bukan produk Indonesia,” ujarnya. Lebih lanjut Henry menyoroti sifat B20 yang lebih kental dan kotor dibanding solar lebih jauh memberikan dampak pada injektor alias penyemprot bahan bakar di mesin. Pun kemungkinan lebih sering menguras tangki bahan bakar. Ia mengungkapkan keunggulan salah satu produk injector pembersih untuk diesel. “Dengan pemakaian ini dia kan membersihkan, kadar sulfur mungkin tidak menurunkan tapi kalau misalnya air dia mungkin bisa mengikat. Jadi air yang di dalam tangki itu kan kecampur dengan bahan bakar dieselnya terbuang, akhirnya air itu tidak ada lagi di tangki daripada kuras tangki kan itu lebih major,” ujar Henry. “Jadi kita coba tuang ini dulu, kalau belum berhasil ya baru kuras tangki,” jelasnya.

https://oto.detik.com/mobil/d-4636994/biodiesel-b20-bikin-mesin-diesel-cepat-kotor

Bisnis | Rabu, 24 Juli 2019

Harga Green Fuel 100 Persen Bisa 2 Kali Lipat Solar

Tingginya harga green fuel 100% menjadi salah satu tantangan di masa depan untuk pengembangan bahan bakar kendaraan niaga. Harga green fuel 100% diprediksi bakal dua kali lipat dari harga solar saat ini karena proses kimia yang lebih panjang. Marketing & Technical Support Manager PT Pertamina (Persero) Remigius Choerniadi Tomo mengatakan, terdapat banyak jenis green fuel salah satunya ialah yang dikenal dengan biodiesel. Saat ini, pemerintah tengah melakukan uji coba bauran biodiesel 30% akan belaku pada tahun depan. “Biodiesel itu tidak bisa 100% gantikan solar, perlu campur sedikit demi sedikit, makanya ada B10, B20 dan B30,” ujarnya kepada Bisnis di sela-sela GIIAS 2019, Rabu (24/7/2019). Choerniadi menjelaskan, Pertamina bekerja sama dengan Eni, perusahaan migas asal Italia untuk menghasilkan bahan bakar dari tumbuh-tumbuhan yang identik dengan solar. Artinya, bahan bakar itu tidak perlu dicampur lagi tetapi langsung digunakan pada kendaraan. Namun, terdapat satu tantangan utama penerapan teknologi itu yakni harga green fuel 100% itu akan jauh lebih mahal. Harga bahan bakar nabati ini, katanya, bisa dua kali lipat dibandingkan dengan yang ada saat ini. “Proses kimia sangat panjang. Kalau biodiesel sekarang, tidak terlalu rumit. Kalau yang identik dengan solar perlu reaksi lebih lanjut, reaksi kimianya lebih panjang makanya biayanya sangat mahal. Bisa dua kali lipat, itu kendalanya,” ujarnya.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190724/44/1128278/harga-green-fuel-100-persen-bisa-2-kali-lipat-solar

Antara | Rabu, 24 Juli 2019

Bogor-Inggris Kerja Sama Pengolahan Sampah Plastik Jadi Biodiesel

Wali Kota Bogor, Bima Arya dan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dengan CEO Plastic Energy Inggris, Carlos Monreal telah menyepakati pembangunan pengolahan sampah plastik menjadi biodiesel di Bogor pada awal tahun 2020 dengan nilai investasi sebesar 45 juta dollar Amerika atau Rp. 630 Miliar diatas lahan 10 hektar di kawasan TPA Galuga. Nantinya, sebanyak 100 ton plastik akan dipilah dari 1.000 ton sampah per hari di Galuga tanpa adanya biaya timbang sampah atau tipping fee bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor. “Pembangunan ini akan sangat membantu program pelestarian lingkungan melalui pengelolaan sampah yang ramah lingkungan, serta diharapkan dapat membantu menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga lokal di sekitar TPA Galuga,” kata Wali Kota Bogor, Bima Arya, Selasa (22/07/2019). Program ini merupakan yang pertama di Asia Tenggara yang telah disetujui oleh Presiden Joko Widodo menurut Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Pemkot Bogor berkewajiban untuk menyiapkan segala perizinannya, termasuk sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai upaya pemilahan sampah rumah tangga. Sebagai tindak lanjut dari pertemuan tersebut Gubernur Jawa Barat meminta agar Wali Kota Bogor Bima Arya berkoordinasi dengan Bupati Bogor Ade Munawaroh untuk persiapan dan pelaksanaan pembangunan pengolahan sampah plastik menjadi biodiesel.

https://megapolitan.antaranews.com/berita/65014/bogor-inggris-kerja-sama-pengolahan-sampah-plastik-jadi-biodiesel