+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Pengusaha Sawit Sepakat Menolak Diskusi Soal ILUC

Harian Kontan | Kamis, 7 Februari 2019

Pengusaha Sawit Sepakat Menolak Diskusi Soal ILUC
Pengusaha Indonesia menyatakan keberatan atas rencana Uni Eropa untuk mangkas kelapa sawit dari daftar bahan bakar nabati. Ke depan, Pengusaha Sawit sepakat menolak diskusi yang membahas konsep Indirect Land Usage Change (ILUC) yang diinisiasi Uni Eropa. Derom Bangun, Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) menyampaikan, Indonesia dan Malaysia selaku dua produsen sawit terbesar dunia, tidak menerima parameter dalam metode ILUC versi Uni Eropa. “Makanya, kami sudah menolak, dan tidak mau diajak diskusi membahas konsep ini. Biarlah kalau mereka punya konsep biarkan saja tapi kami ada jalan lain,” kata Derom, Rabu (6/2). Ia menyampaikan bahwa bila Uni Eropa benar-benar akan menerbitkan konsep dalam Renewable Energy Directive (RED II), pihaknya siap mengajukan keberatan ke World Trade Organization (WTO). Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia Paulus Tjakrawan menambahkan, pihaknya juga sepakat untuk tidak akan mengikuti pembahasan mengenai ILUC. Tak hanya itu, pihaknya juga menerima banyak tekanan perdagangan dari pihak Eropa dan Amerika Serikat, terutama terkait tuduhan menerima subsidi dari pemerintah atau menerapkan dumping.

Investor Daily Indonesia | Kamis, 7 Februari 2019

Ekspor Minyak Sawit 2019 Naik 1,3 Juta Ton
Ekspor minyak sawit tahun ini diprediksi naik setidaknya 1,388 juta ton atau sekitar 4% dibandingkan ekspor tahun 2018. Adapun tahun lalu, ekspor minyak sawit mencapai 34,707 juta ton atau tumbuh 8% dibanding 2017, dengan perolehan devisa sebesar US$ 20,54 miliar. “Tahun 2018, meski dibilang tahun yang susah, ya susah. Tapi, masih oke juga. Intinya, kalau melihat kinerja produksi tahun 2018, terjadi peningkatan signifikan dibandingkan tahun 2017,” kata Ketua Umum Gabungan pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono saat jumpa pers tentang Refleksi Industri Kelapa Sawir 2018 dan Prospek 2019 di Jakarta, Rabu (6/2). Joko Supriyono menjelaskan, volume ekspor minyak sawit nasional tahun 2018 mencapai 34,707 juta ton atau meningkat 2,527 juta ton dibandingkan tahun 2017, yang volume ekspornya mencapai mencapai 32,18 juta ton. Ekspor 2018 tersebut terdiri atas 6,561 juta ton minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan 28,146 juta ton produk olahan sawit berupa minyak refinery, minyak lauric, biodiesel, dan oleochemical. Data Gapki menunjukkan, peningkatan ekspor tahun lalu terjadi ke Tiongkok, Bangladesh, Pakistan, negara-negara Afrika, dan Amerika Serikat. Ekspor ke Tiongkok naik 4,41 juta ton atau sebesar 18% dibandingkan dengan tahun 2017 sebesar 3,73 juta ton. Peningkatan ekspor ke Bangladesh mencapai 16%, negara-negara Afrika tumbuh 13%, Pakistan sekitar 12%, dan Amerika Serikat tumbuh 3%.

Adapun ekspor ke sejumlah negara turun, seperti ke India yang terkoreksi 12% dari 7,63 juta ton menjadi 6,71 juta ton. Ekspor ke negara-negara Timur Tengah turun 9% menjadi 1,94 juta ton tahun 2018, dari tahun 2017 sebesar 2,12 juta ton. Ekspor ke Uni Eropa juga terpangkas 5% menjadi 4,78 juta ton dari tahun 2017 yang sebesar 5,03 juta ton. Menurut Joko Supriyono, turunnya impor CPO asal Indonesia oleh India pada tahun 2018 disebabkan oleh kebijakan Pemerintah India yang menaikkan bea masuk (BM) atas CPO sebesar 44% dan refined products sebesar 54%, berlaku sejak 1 Maret 2018. “Setelah kebijakan itu, impor minyak sawit India anjlok pada bulan April dan Mei. Namun kemudian membaik, antara lain karena India menaikkan tarif bea masuk kedelai asal Amerika Serikat,” kata dia. Joko Supriyono melanjutkan, peningkatan ekspor tahun 2018 terutama dipicu oleh produk biodiesel. Ekspor Biodiesel tahun 2018 melonjak 851% menjadi 1,56 juta ton dari 164 ribu ton tahun 2017. Produk turunan CPO lainnya, yakni refined CPO dan lauric oil, menikmati pertumbuhan ekspor 7% menjadi 25,46 juta ton dibandingkan tahun 2017 yang tercatat sebanyak 23,89 juta ton. Ekspor oleochemical tercatat naik 16% menjadi 1,12 juta ton dibandingkan tahun 2017 yang sebesar 970 ribu ton. Sebaliknya, ekspor CPO justru merosot 8% menjadi 6,561 juta ton dibandingkan tahun 2017 yang mencapai 7,16 juta ton. Joko menjelaskan, penurunan ekspor CPO menunjukkan perkembangan industri hilir berbasis minyak sawit di Indonesia yang semakin bagus. Hilirisasi tersebut mendongkrak porsi ekspor produk bernilai tambah lebih tinggi. Sedangkan menyangkut produksi, total produk CPO dan PKO pada 2018 naik menjadi 47,437 juta ton. Tahun 2017, produksi total minyak sawit tercatat 42 juta ton. “Ekspor minyak sawit tahun 2018 juga tumbuh 8%, kalau tanpa Biodiesel dan oleochemical, naik 7%. Artinya, masih ada pertumbuhan positif. Tahun 2018 terlampaui dengan baik,” kata Joko.

Devisa Menurun

Secara devisa, minyak sawit tahun 2018 menghasilkan US$ 20,54 miliar. Meski belum final, kata Joko, angka itu lebih rendah dibandingkan tahun 2017, di mana minyak sawit tercatat menghasilkan devisa sebesar US$ 22,97 miliar. “Kalau dari data BPDPKS, angka yang kami dapat, sumbangan devisa sawit tahun 2018 mencapai US$ 20,54 miliar. Intinya, tahun 2018 lebih rendah dibandingkan tahun 2017. Penyebabnya adalah harga. Pada tahun 2017, rata-rata harga CPO berkisar US$ 714 per ton. Sementara, tahun 2018, anjlok menjadi US$ 595 per ton,” kata Joko. Penurunan harga, ujar dia, disebabkan oleh berlimpahnya stok minyak nabati dunia, termasuk minyak sawit di Indonesia dan Malaysia. Penyebab lain adalah perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS). Selain itu, daya beli yang lemah karena perlambatan pertumbuhan ekonomi di beberapa negara tujuan ekspor. “Kondisi itu diperburuk adanya beberapa regulasi di negara tujuan ekspor diduga turut menekan harga CPO,” tegas Joko. Untuk tahun ini, lanjut Joko, produksi minyak sawit kemungkinan bisa naik 4-5%. Tahun 2018, produksi memang naik signifikan. Normalnya, produksi naik 1-2 juta ton, tapi tahun 2018 kenaikannya mencapai 4 juta ton. Joko menduga, setelah terkena El Nino tahun 2015, tahun 2016 produksi mulai pulih, tahun 2017 mulai naik, dan tahun 2018 tumbuh luar biasa. “Memang siklusnya begitu. Untuk ekspor, Insya Allah naik 4%. Ekspor masih akan didominaai produk turunan, baik untuk segmen pangan dan nonpangan,” kata Joko.

Biodiesel

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengatakan, tahun 2019, ekspor Biodiesel diperkirakan bakal sama seperti tahun 2018. Dia memaparkan, tahun 2018, serapan Biodiesel domestik mencapai 4,3-4,4 juta kiloliter (kl). Sedangkan ekspor berkisar 1,6 juta kiloliter. “Ekspor tahun 2019 setidaknya bisa sama seperti tahun 2018. Harapan kami tidak kurang dari tahun lalu. Meskipun ada tantangan dari Uni Eropa dan Amerika Serikat yang menuding Biodiesel disubsidi dan dumping. Kalau itu terjadi, ekspor ke kawasan tersebut akan terkoreksi. Untuk bisa menjaga kinerja ekspor, sebenarnya anggota kami juga terus mencari alternatif pasar Wu. Thailand dan Filipina bisa menjadi tujuan alternatif. Sedangkan ekspor ke Tiongkok dan India kita tetap yakin akan terus naik,” kata Paulus.

Di sisi lain, serapan CPO di pasar domestik menjadi harapan bagi pelaku usaha. Hal itu menyusul rencana implementasi B30 yang akan dipercepat dari agenda awal per tahun 2020. “Survei sudah dilakukan, tes untuk B30 bakal segera dilaksanakan. Rencananya, sepanjang 60 kilometer dengan 8 kendaraan. Kami berharap bisa mendukung keinginan Presiden bahwa pelaksanaan B30 tidak harus menunggu tahun 2020,” kata Paulus. Paulus mengatakan, pelaksanaan B30 akan mendongkrak serapan CPO di dalam negeri. Untuk tahun 2019, kata Paulus, konsumsi Biodiesel diperkirakan mencapai 6,1-6,2 juta kiloliter. Joko Supriyono menambahkan, salah satu faktor penentu harga CPO adalah biodiesel. “Target serapan Biodiesel tidak boleh meleset. Produksi CPO harus terjaga. Faktor-faktor ini harus dikelola dengan baik supaya ada sentimen positif terhadap harga. Harapan kami, harga bisa lebih bagus dari sekarang. Minimal, semester I bisa US$ 550-560 per ton, syukur-syukur US$ 570 per ton,” kata Joko. Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun memperkirakan, harga CPO bakal bergerak naik hingga memasuki kuartal II tahun 2019. “Harga secara perlahan akan naik sampai awal kuartal II, yakni bulan April. Tapi, kemudian bakal turun atau bertahan karena memasuki periode peningkatan produksi, 1 kata Derom,

Harian Seputar Indonesia | Kamis, 7 Februari 2019

Ekspor Minyak Sawit Capai 34,71 Juta Ton
Ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya pada 2018 mencapai 34,71 juta ton. Angka ini meningkat 8% bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 32,18 juta ton. “Di tengah berbagai tekanan negatif terhadap industri sawit, kinerja ekspor minyak sawit dan, produk turunannya meningkat 8%,” kata Ketua Umum Gabungan pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono dalam konferensi pers di Jakarta kemarin. Secara persentase, peningkatan paling signifikan dicatatkan oleh biodiesel, yaitusebesar 851% atau dari 164.000 ton pada 2017, meroket menjadi 1,56 juta ton pada 2018. “Peningkatan ekspor Biodiesel disebabkan Indonesia memenangkan kasus tuduhan antidumping Biodiesel oleh Uni Eropa di WTO,” kata Joko. Peningkatan ekspor juga diikuti oleh produk turunan CPO (refined CPO dan lauricoil) sebesar 7% atau dari 23,89 juta ton pada 2017 meningkat menjadi 25,46 juta ton pada 2018. Ekspor olechmical juga mencatatkan kenaikan 16% menjadi 1,12 juta ton pada 2018 bila dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 970.000 ton. Sebaliknya, untuk produk CPO membukukan penurunan sebesar 8% atau dari 7,16 juta ton pada 2017, menurun menjadi 6,56 juta ton pada 2018. “Penurunan ekspor CPO menunjukkan bahwa industri hilir sawit Indonesia terus berkembang sehingga produk dengan nilai tambah atau produk turunan lebih tinggi ekspornya dibandingkan dengan CPO,” ucapnya.

Sementara menurut pasar atau negara tujuan utama secara tahunan menunjukkan peningkatan. Peningkatan ini terjadi padabeberapanegarase-perti China, Bangladesh, Pakistan, dan negara-negara Afrika dan Amerika Serikat. “2018, China naik 18%, Amerika naik 3%, dan Bangladesh 18%. Pasar lainnya juga meningkat dengan volume ekspor 6,5 juta ton. Meningkatnya pasar ekspor lain berarti kita berhasil mendiversifikasi pasar tidak hanya tergantung pasar-pasar besar,”ka ta Joko. Namun, ekspor CPO dan produk turunannya ke beberapa negara mengalami penurunan di antaranya yakni India yang turun 12% dari 7,63 juta ton pada 2017 menjadi 6,71 juta ton, negara-negara di kawasan Timur Tengah yang mengalami penurunan dari 2,12 juta ton pada 2017 menjadi 1,94 juta ton pada 2018, dan Eropa turun 5% dari 5,03 juta ton pada 2017 menjadi 4,78 juta ton pada 2018. Joko menjelaskan, penurunan ekspor CPO dan produk turunannya ke India disebabkan kebijakan Pemerintah India yang menaikkan bea masuk impor CPO sebesar 44% dan refined products sebesar 54% yang mulai berlaku sejak 1 Maret 2018. “Pemberlakuan regulasi ini menyebabkan impor minyak sawit India menurun tajam, khususnya di bulan April dan Mei,” papar Joko.

Kendati secara keseluruhan ekspor CPO dan produk turunannya meningkat, namun secara nilai ekspor mengalami penurunan. Nilai ekspor CPO dan produk turunannya pada 2018 mencapai USD20.54 mili aratau mengalami penurunan sekitar 11% ketimbang 2017 yang mencapai USD22.97 miliar. Penurunan ini disebabkan harga rata-rata CPO pada 2018 tercatat USD595.5 per metrik ton atau turun 17% dibandingkan harga rata-rata 2017 yang mencapai USD714.3 metrik ton. “Penurunan harga yang cukup signifikan ini disebabkan beberapa faktor antara lain perang dagang China-AS, daya beli yang lemah karena perlambatan ekonomi di beberapa negara tujuan ekspor dan beberapa regulasi negara tujuan eks-por,”kataJoko. Pada kesempatan yang sama, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengatakan, pihaknya mengantisipasi larangan ekspor Biodiesel berbasis sawit ke Eropa dengan mengincar pasar Asia. China dan negara-negara di Asia Tenggara merupakan pasar potensial yang akan disasar. Antisipasi ini dilakukan apabila aturan Renewable Energy Directive II yang dirancang Uni Eropa sah mengategorikan kelapa sawit sebagai komo-ditasdengan risiko tinggi untuk perubahan lahan atau indirect landusechange (ILUC). “Jikaitu dilakukan.maka potensi ekspor ke Eropa bakal turun atau bahkan bisa nol,” kata Paulus.

Ekspor Biodiesel sepanjang 2018, menurut Paulus, mencapai 1,6 juta kiloliter, hampir separuhnya ke Eropa. Pada 2018, ekspor Biodiesel ke China mencapai 800.000 kiloliter. “Tahun ini kami harapkan bisa mencapai 1 juta kiloliter,” katanya. Untuk negara lain, Paulus melihat peluang Malaysia yang berencana mengimplementasikan kebijakan Biodiesel 20% pada 2020. Saat ini Malaysia masih menerapkan BIO. Ada juga dari Thailand yang berniat melakukan percepatan kebijakan Biodiesel dari saat ini masih B5. Tak hanya pada luar negeri, Paulus juga masih optimistis sektor domestik akan terus berkembang berkat penerapan B20 dan rencana B30 pada 2020. Penerapan kebijakan B20 akan meningkatkan konsumsi dalam negerimencapai6,2 juta ton. Produksi Biodiesel 2018 mencapai 5,9 juta ton. Sebesar 4,3 juta digunakan di dalam negeri dan sisanya 1,6 juta ton diekspor.

Media Indonesia | Kamis, 7 Februari 2019

Gapki Dukung Penggunaan Energi Hijau
Ketua Umum Gabungan pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengapresiasi upaya pemerintah dalam meningkatkan konsumsi energi hijau sebagai bahan bakar kendaraan. Hal itu amat mendukung penyerapan produk industri sawit yang berujung pada peningkatan kesejahteraan petani. “Program Biodiesel mandatori B20 (biodiesel 20%) ini sangat kami apresiasi dan pemerintah mengambil langkah tepat dengan memberlakukan perluasan kepada non-PSO {public service obligation) atau nonsubsidi. Program ini mendukung penyerapan CPO (crudepalm o///minyak sawit) dalam negeri yang melimpah seperti pada 2018.” ujarnya pada diskusi bertajuk Refleksi industri kelapa sawit 2018 dan Prospek 2019, di Jakarta, kemarin. Menurut dia, berkat kebijakan itu, penyerapan Biodiesel di dalam negeri melalui program mandatori B20 mencapai 3,8 juta kiloliter atau naik 72% ketimbang tahun lalu yang hanya mencapai 2,22 juta kiloliter. Kinerja penyerapan Biodiesel ini menunjukkan program mandatori B20 berjalan dengan konsisten. “Karena itu, langkah im perlu dikembangkan lagi seperti B30 yang diharapkan segera teralisasi. Upaya ini akan memperluas pasar domestik di tengah penghadangan terhadap kelapa sawit yang terus terjadi di negara-negara Eropa dan AS.”

Koran-Sindo | Kamis, 7 Februari 2019

Ekspor Minyak Sawit Capai 34,71 Juta Ton
Ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil /CPO) dan produk turunannya pada 2018 mencapai 34,71 juta ton. Angka ini meningkat 8% bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 32,18 juta ton. ”Di tengah berbagai tekanan negatif terhadap industri sawit, kinerja ekspor minyak sawit dan produk turunannya meningkat 8%,” kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono dalam konferensi pers di Jakarta kemarin. Secara persentase, peningkatan paling signifikan dicatatkan oleh biodiesel, yaitu sebesar 851% atau dari 164.000 ton pada 2017, meroket menjadi 1,56 juta ton pada 2018. ”Peningkatan ekspor biodiesel disebabkan Indonesia memenangkan kasus tuduhan antidumping biodiesel oleh Uni Eropa di WTO,” kata Joko. Peningkatan ekspor juga diikuti oleh produk turunan CPO (refined CPO dan lauric oil ) sebesar 7% atau dari 23,89 juta ton pada 2017 meningkat menjadi 25,46 juta ton pada 2018. Ekspor olechmical juga mencatatkan kenaikan 16% menjadi 1,12 juta ton pada 2018 bila dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 970.000 ton. Sebaliknya, untuk produk CPO membukukan penurunan sebesar 8% atau dari 7,16 juta ton pada 2017, menurun menjadi 6,56 juta ton pada 2018. ”Penurunan ekspor CPO menunjukkan bahwa industri hilir sawit Indonesia terus berkembang sehingga produk dengan nilai tambah atau produk turunan lebih tinggi ekspornya dibandingkan dengan CPO,” ucapnya.

Sementara menurut pasar atau negara tujuan utama secara tahunan menunjukkan peningkatan. Peningkatan ini terjadi pada beberapa negara seperti China, Bangladesh, Pakistan, dan negara-negara Afrika dan Amerika Serikat. ”2018, China naik 18%, Amerika naik 3%, dan Bangladesh 18%. Pasar lainnya juga meningkat dengan volume ekspor 6,5 juta ton. Meningkatnya pasar ekspor lain berarti kita berhasil mendiversifikasi pasar tidak hanya tergantung pasar-pasar besar,” kata Joko. Namun, ekspor CPO dan produk turunannya ke beberapa negara mengalami penurunan di antaranya yakni India yang turun 12% dari 7,63 juta ton pada 2017 menjadi 6,71 juta ton, negara-negara di kawasan Timur Tengah yang mengalami penurunan dari 2,12 juta ton pada 2017 menjadi 1,94 juta ton pada 2018, dan Eropa turun 5% dari 5,03 juta ton pada 2017 menjadi 4,78 juta ton pada 2018.

Joko menjelaskan, penurunan ekspor CPO dan produk turunannya ke India disebabkan kebijakan Pemerintah India yang menaikkan bea masuk impor CPO sebesar 44% dan refined products sebesar 54% yang mulai berlaku sejak 1 Maret 2018. ”Pemberlakuan regulasi ini menyebabkan impor minyak sawit India menurun tajam, khususnya di bulan April dan Mei,” papar Joko. Kendati secara keseluruhan ekspor CPO dan produk turunannya meningkat, namun secara nilai ekspor mengalami penurunan. Nilai ekspor CPO dan produk turunannya pada 2018 mencapai USD20,54 miliar atau mengalami penurunan sekitar 11% ketimbang 2017 yang mencapai USD22,97 miliar. Penurunan ini disebabkan harga rata-rata CPO pada 2018 tercatat USD595,5 per metrik ton atau turun 17% dibandingkan harga rata-rata 2017 yang mencapai USD714,3 metrik ton. ”Penurunan harga yang cukup signifikan ini disebabkan beberapa faktor antara lain perang dagang China-AS, daya beli yang lemah karena perlambatan ekonomi di beberapa negara tujuan ekspor dan beberapa regulasi negara tujuan ekspor,” kata Joko.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengatakan, pihaknya mengantisipasi larangan ekspor biodiesel berbasis sawit ke Eropa dengan mengincar pasar Asia. China dan negara-negara di Asia Tenggara merupakan pasar potensial yang akan disasar. Antisipasi ini dilakukan apabila aturan Renewable Energy Directive II yang dirancang Uni Eropa sah mengategorikan kelapa sawit sebagai komoditas dengan risiko tinggi untuk perubahan lahan atau indirect land use change (ILUC). ”Jika itu dilakukan, maka potensi ekspor ke Eropa bakal turun atau bahkan bisa nol,” kata Paulus. Ekspor biodiesel sepanjang 2018, menurut Paulus, mencapai 1,6 juta kiloliter, hampir separuhnya ke Eropa. Pada 2018, ekspor biodiesel ke China mencapai 800.000 kiloliter. ”Tahun ini kami harapkan bisa mencapai 1 juta kiloliter,” katanya. Untuk negara lain, Paulus melihat peluang Malaysia yang berencana mengimplementasikan kebijakan biodiesel 20% pada 2020. Saat ini Malaysia masih menerapkan B10. Ada juga dari Thailand yang berniat melakukan percepatan kebijakan biodiesel dari saat ini masih B5. Tak hanya pada luar negeri, Paulus juga masih optimistis sektor domestik akan terus berkembang berkat penerapan B20 dan rencana B30 pada 2020. Penerapan kebijakan B20 akan meningkatkan konsumsi dalam negeri mencapai 6,2 juta ton. Produksi biodiesel 2018 mencapai 5,9 juta ton. Sebesar 4,3 juta digunakan di dalam negeri dan sisanya 1,6 juta ton diekspor.

http://koran-sindo.com/page/news/2019-02-07/2/0/Ekspor_Minyak_Sawit_Capai_34_71_Juta_Ton

Infosawit | Kamis, 7 Februari 2019

Ekspor Biodiesel Sawit 2018 asal Indonesia Naik 851%
Selama periode 2018 lalu ekspor minyak sawit Indonesia tercatat positif, utamanya dari biodiesel. Dari Catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), terdapat kenaikan signifikan, yakni dari 164 ribu Kl pada 2017 lalu meningkat 851% atau menjadi sekitar 1,56 juta Kl di 2018. Dikatakan Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Paulus Tjakrawan, ini disebabkan Indonesia memenangkan kasus antidumping biodiesel sawit oleh Uni Eropa di WTO. Lebih lanjut kata Paulus, kemenangan ini memicu kegiatan ekspor ke negara-negara di Uni Eropa dan bahkan terbuka pasar baru di China dan India, kendati volumenya masih kecil tetapi berpotensi untuk terus tumbuh. Sementara itu, untuk produksi biodiesel sawit nasional tahun 2018 mencapai 5,9 juta Kl, dimana sebanyak 4,3 juta Kl diserap di dalam negeri dan sisanya digunakan untuk ekspor. “Peningkatan serapan ini karena adanya kebijakan perluasan mandatori biodiesel hingga non PSO yang diterapkan pada September 2018 lalu,” katanya kepada InfoSAWIT, Rabu (6/2/2019)di Jakarta. Untuk tahun 2019, diprediksi serapan untuk domestik mencapai 6,2 juta Kl, sementara volume ekspor diharapkan akan sama seperti tahun 2018, terlebih kasus Anti Dumping biodiesel sawit di Amerika Serikat belum rampung. “Kasusnya masih berjalan, dan rencanannya kami akan bawa ke WTO juga,” tandas Paulus.

https://www.infosawit.com/news/8746/ekspor-biodiesel-sawit-2018-asal-indonesia-naik-851-

Republika | Kamis, 7 Februari 2019

Industri Biodiesel akan Tambah Investasi
Industri biodiesel nasional bersiap untuk menambah investasi. Penambahan investasi ini seiring dengan peningkatan permintaan pasar domestik terkait perluasan penggunaan biodiesel 20 persen (B20) dan tren penggunaan biodiesel di sejumlah negara. “Kami diajak Malaysia untuk mendukung mereka mengimplementasikan B20 pada 2020,” kata Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan di Jakarta, Rabu (6/2). Tidak hanya Malaysia, kata dia, Thailand juga akan menerapkan biodiesel 5 persen atau B5, yang bisa menjadi peluang pasar baru bagi industri biodiesel Indonesia. Selain itu, lanjut Paulus, ada wacana mempercepat penggunaan B30 tahun ini, atau setidaknya pada kuartal IV 2019. Kalau itu terjadi, kata dia, beberapa industri biodiesel nasional harus meningkatkan mutu sesuai dengan SNi yang diterapkan. “Mudah-mudahan dalam uji coba, uji jalan B30 nanti, para perusahaan tidak perlu melakukan perbaikan. Kalau harus improve artinya harus ada investasi,” kata Paulus. Selain itu, bila B30 dilaksanakan maka akan dibutuhkan 9-10 juta kilo liter biodiesel, sementara kapasitas terpasang industri biodiesel nasional saat ini 12 juta kilo liter. “Sudah pasti kapasitas pabrik kurang, bila digabungkan dengan kebutuhan pasar ekspor,” katanya.

Belum lagi, ia menyebut, ada peluang dari rencana penggunaan green diesel. Bila percobaannya berhasil, kata Paulus, maka maka juga dibutuhkan investasi untuk pabrik katalisnya. Oleh karena itu, industri biodiesel nasional tidak terlalu ambil pusing dengan ancaman tuduhan subsidi dari Uni Eropa atas biodiesel Indonesia. “Kalau itu benar-benar direalisasikan, (tuduhan) subsidi, maka ekspor biodiesel ke Eropa akan turun dan mungkin nol,” kata Paulus. Namun, kata dia, ada peluang pasar lain yang besar seperti China dan India. Paulus menyebut bisa jadi industri biodiesel Indonesia meninggalkan pasar eropa yang potensi gangguannya besar. Pada 2018 ekspor biodiesel Indonesia melonjak 851 persen dari 164 ribu ton pada 2017 menjadi 1,56 juta ton. Sementara akibat penggunaan wajib B20 pada 1 September hingga akhir Desember permintaan biodiesel domestik naik 72 persen dari 2,2 juta ton pada 2017 menjadi 3,8 juta ton pada 2018. Tren peningkatan permintaan biodiesel di dunia juga disampaikan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono. “Sejak 2010 sampai 2017 permintaan minyak sawit mentah (CPO) untuk nonpangan terus mendominasi mencapai 43 persen, sebagian besar digunakan untuk energi, termasuk biodiesel,” kata Joko.

https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/migas/19/02/07/pmj498383-industri-biodiesel-akan-tambah-investasi

Antaranews | Kamis, 7 Februari 2019

Industri biodiesel bersiap tambah investasi
Industri biodiesel nasional bersiap untuk menambah investasi seiring dengan peningkatan permintaan pasar domestik terkait perluasan penggunaan biodiesel 20 persen (B20) dan tren penggunaan biodiesel pada sejumlah negara, khususnya di ASEAN. “Kami diajak Malaysia untuk mendukung mereka mengimplementasikan B20 pada 2020,” kata Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan di Jakarta, Rabu. Tidak hanya Malaysia, kata dia, Thailand juga akan menerapkan biodiesel 5 persen atau B5, yang bisa menjadi peluang pasar baru bagi industri biodiesel Indonesia. Selain itu, lanjut Paulus, ada wacana mempercepat penggunaan B30 tahun ini, atau setidaknya pada triwulan IV 2019. Kalau itu terjadi, kata dia, beberapa industri biodiesel nasional harus meningkatkan mutu sesuai dengan SNi yang diterapkan. “Mudah-mudahan dalam uji coba, uji jalan B30 nanti, para perusahaan tidak perlu melakukan perbaikan. Kalau harus ‘improve’ artinya harus ada investasi,” kata Paulus. Selain itu, bila B30 dilaksanakan maka akan dibutuhkan 9-10 juta kilo liter biodiesel, sementara kapasitas terpasang industri biodiesel nasional saat ini 12 juta kilo liter.

“Sudah pasti kapasitas pabrik kurang, bila digabungkan dengan kebutuhan pasar ekspor,” katanya. Belum lagi, ia menyebut, ada peluang dari rencana penggunaan “green diesel”. Bila percobaannya berhasil, kata Paulus, maka maka juga dibutuhkan investasi untuk pabrik katalisnya. Oleh karena itu, industri biodiesel nasional tidak terlalu ambil pusing dengan ancaman tuduhan subsidi dari Uni Eropa atas biodiesel Indonesia. “Kalau itu benar-benar direalisasikan, (tuduhan) subsidi, maka ekspor biodiesel ke Eropa akan turun dan mungkin nol,” kata Paulus. Namun, kata dia, ada peluang pasar lain yang besar seperti China dan India. Paulus menyebut bisa jadi industri biodiesel Indonesia meninggalkan pasar eropa yang potensi gangguannya besar. Pada 2018 ekspor biodiesel Indonesia melonjak 851 persen dari 164 ribu ton pada 2017 menjadi 1,56 juta ton. Sementara akibat penggunaan wajib B20 pada 1 September hingga akhir Desember permintaan biodiesel domestik naik 72 persen dari 2,2 juta ton pada 2017 menjadi 3,8 juta ton pada 2018. Tren peningkatan permintaan biodiesel di dunia juga disampaikan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono. “Sejak 2010 sampai 2017 permintaan minyak sawit mentah (CPO) untuk nonpangan terus mendominasi mencapai 43 persen, sebagian besar digunakan untuk energi, termasuk biodiesel,” kata Joko.

https://www.antaranews.com/berita/795585/industri-biodiesel-bersiap-tambah-investasi

Id.beritasatu | Kamis, 7 Februari 2019

Gapki Optimistis Prospek Industri Sawit 2019 Tetap Baik
Pelaku usaha industri minyak sawit Indonesia khususnya Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) tetap optimistis pada tahun 2019 industri sawit Indonesia tetap memiliki prospek yang baik. Hal ini didukung dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semakin membaik. Demikian dikemukakan Ketua Umum Gapki Joko Supriyono dalam Jumpa Pers Gapki “Refleksi Industri Kelapa Sawit 2018 dan Prospek 2019 di Jakarta, Rabu (6/2/2019). Hadir dalam acara tersebut selain Joko Supriyono, Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun, Dirut Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) Dono Boestami, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan, Sekjen Gapki Kanya Lakshmi Sidarta, dan Direktur Executive Gapki Mukti Sardjono.

Optimisme tersebut dikarenakan produksi minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) dalam negeri pada tahun lalu yang mencapai rekor tertinggi sebanyak 43 juta ton. “Produksi CPO pada tahun 2018 mencapai 43 juta ton naik sebesar 12% dibanding produksi tahun 2017 yang 38 juta ton,” ujar Joko Supriyono. Meski tetap optimistis, Joko memprediksi produksi minyak kelapa sawit tahun ini tidak bakal sebesar tahun lalu. “Kami perkirakan produksi 2019 tidak akan sebanyak 2018 yang mengalami peningkatan 4 juta lebih. Mungkin hanya naik 5%,” katanya. Joko mengatakan, pada tahun 2019 ini program kerja Gapki akan disesuaikan dengan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan investasi, meningkatkan ekspor khususnya ke pasar non tradisional, meningkatkan produktivitas nasional dan pengurangan kemiskinan serta kesenjangan ekonomi. “Kami akan terus melakukan perbaikan iklim usaha dalam negeri melalui advokasi sinkronisasi kebijakan dan regulasi pemerintah,” katanya. Gapki, lanjut dia, juga akan terus melakukan advokasi atas berbagai regulasi di daerah, mendorong percepatan implementasi Sustainability/ISPO, mendorong peningkatan dan pengembangan ekspor serta penanganan berbagai hambatan perdagangan di pasar global.

Berkaitan dengan pengalaman tahun 2018 di mana tekanan kampanye negatif makin gencar dan mengancam citra industri sawit, Joko menegaskan bahwa Gapki juga akan memperluas kampanye positif sawit, baik di dalam negeri maupun di berbagai negara tujuan ekspor utama. Yang terakhir, lanjut Joko, Gapki akan mendorong dan ikut menyukseskan program Replanting atau peremajaan sawit rakyat (PSR) yang dicanangkan oleh pemerintah dengan mendorong para anggota melakukan replanting serta turut aktif membina petani swadaya melakukan PSR. “Dengan memperhatikan berbagai tantangan yang dihadapi tahun 2018 serta berbagai langkah yang telah dan dilakukan, ke depan khususnya implementasi B20 dan ada kemungkinan akselerasi B30 di 2019 maka Gapki optimistis tahun 2019 industri kelapa sawit akan lebih baik,” kata Joko Supriyono.

https://id.beritasatu.com/agribusiness/gapki-optimistis-prospek-industri-sawit-2019-tetap-baik/185167

Berita Satu | Kamis, 7 Februari 2019

Industri Biodiesel Siap Tambah Investasi
Industri biodiesel nasional bersiap untuk menambah investasi seiring dengan peningkatan permintaan pasar domestik terkait perluasan penggunaan biodiesel 20 persen (B20) dan tren penggunaan biodiesel di sejumlah negara, khususnya di ASEAN. “Kami diajak Malaysia untuk mendukung mereka mengimplementasikan B20 pada 2020,” kata Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan di Jakarta, Rabu (6/2). Tidak hanya Malaysia, kata dia, Thailand juga akan menerapkan biodiesel 5 persen atau B5, yang bisa menjadi peluang pasar baru bagi industri biodiesel Indonesia. Selain itu, lanjut Paulus, ada wacana mempercepat penggunaan B30 tahun ini, atau setidaknya pada triwulan IV 2019. Kalau itu terjadi, kata dia, beberapa industri biodiesel nasional harus meningkatkan mutu sesuai dengan SNi yang diterapkan. “Mudah-mudahan dalam uji coba, uji jalan B30 nanti, para perusahaan tidak perlu melakukan perbaikan. Kalau harus ‘improve’ artinya harus ada investasi,” kata Paulus. Selain itu, bila B30 dilaksanakan maka akan dibutuhkan 9-10 juta kilo liter biodiesel, sementara kapasitas terpasang industri biodiesel nasional saat ini 12 juta kilo liter.

“Sudah pasti kapasitas pabrik kurang, bila digabungkan dengan kebutuhan pasar ekspor,” katanya. Belum lagi, ia menyebut, ada peluang dari rencana penggunaan “green diesel”. Bila percobaannya berhasil, kata Paulus, maka maka juga dibutuhkan investasi untuk pabrik katalisnya. Oleh karena itu, industri biodiesel nasional tidak terlalu ambil pusing dengan ancaman tuduhan subsidi dari Uni Eropa atas biodiesel Indonesia. “Kalau itu benar-benar direalisasikan, (tuduhan) subsidi, maka ekspor biodiesel ke Eropa akan turun dan mungkin nol,” kata Paulus. Namun, kata dia, ada peluang pasar lain yang besar seperti China dan India. Paulus menyebut bisa jadi industri biodiesel Indonesia meninggalkan pasar eropa yang potensi gangguannya besar. Pada 2018 ekspor biodiesel Indonesia melonjak 851 persen dari 164 ribu ton pada 2017 menjadi 1,56 juta ton. Sementara akibat penggunaan wajib B20 pada 1 September hingga akhir Desember permintaan biodiesel domestik naik 72 persen dari 2,2 juta ton pada 2017 menjadi 3,8 juta ton pada 2018. Tren peningkatan permintaan biodiesel di dunia juga disampaikan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono. “Sejak 2010 sampai 2017 permintaan minyak sawit mentah (CPO) untuk nonpangan terus mendominasi mencapai 43 persen, sebagian besar digunakan untuk energi, termasuk biodiesel,” kata Joko.

https://www.beritasatu.com/ekonomi/536698-industri-biodiesel-siap-tambah-investasi.html

Tempo | Kamis, 7 Februari 2019

Permintaan Biodiesel Naik, Produsen Siap Tambah Investasi
Industri biodiesel nasional bersiap untuk menambah investasi seiring dengan peningkatan permintaan pasar domestik terkait perluasan penggunaan biodiesel 20 persen (B20) dan tren penggunaan biodiesel di sejumlah negara, khususnya di ASEAN. “Kami diajak Malaysia untuk mendukung mereka mengimplementasikan B20 pada 2020,” kata Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan di Jakarta, Rabu, 6 Februari 2019. Tidak hanya Malaysia, kata dia, Thailand akan menerapkan biodiesel 5 persen atau B5, yang bisa menjadi peluang pasar baru bagi industri biodiesel Indonesia. Selain itu, lanjut Paulus, ada wacana mempercepat penggunaan B30 tahun ini, atau setidaknya pada triwulan IV 2019. Kalau itu terjadi, kata dia, beberapa industri biodiesel nasional harus meningkatkan mutu sesuai dengan SNi yang diterapkan. “Mudah-mudahan dalam uji coba, uji jalan B30 nanti, para perusahaan tidak perlu melakukan perbaikan. Kalau harus ‘improve’ artinya harus ada investasi,” kata Paulus.

Selain itu, bila B30 dilaksanakan maka akan dibutuhkan 9-10 juta kilo liter biodiesel. Sementara kapasitas terpasang industri biodiesel nasional saat ini 12 juta kilo liter. “Sudah pasti kapasitas pabrik kurang, bila digabungkan dengan kebutuhan pasar ekspor,” katanya. Belum lagi, ia menyebut, ada peluang dari rencana penggunaan “green diesel”. Bila percobaannya berhasil, kata Paulus, maka maka juga dibutuhkan investasi untuk pabrik katalisnya. Karena itu, industri biodiesel nasional tidak terlalu ambil pusing dengan ancaman tuduhan subsidi dari Uni Eropa atas biodiesel Indonesia. “Kalau itu benar-benar direalisasikan, (tuduhan) subsidi, maka ekspor biodiesel ke Eropa akan turun dan mungkin nol,” kata Paulus. Namun, kata dia, ada peluang pasar lain yang besar seperti Cina dan India. Paulus menyebut bisa jadi industri biodiesel Indonesia meninggalkan pasar Eeropa yang potensi gangguannya besar. Pada 2018 ekspor biodiesel Indonesia melonjak 851 persen dari 164 ribu ton pada 2017 menjadi 1,56 juta ton. Sementara akibat penggunaan wajib B20 pada 1 September hingga akhir Desember permintaan biodiesel domestik naik 72 persen dari 2,2 juta ton pada 2017 menjadi 3,8 juta ton pada 2018. Tren peningkatan permintaan biodiesel di dunia juga disampaikan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono. “Sejak 2010 sampai 2017 permintaan minyak sawit mentah (CPO) untuk nonpangan terus mendominasi mencapai 43 persen, sebagian besar digunakan untuk energi, termasuk biodiesel,” kata Joko.

https://bisnis.tempo.co/read/1173009/permintaan-biodiesel-naik-produsen-siap-tambah-investasi/full&view=ok

Kontan | Rabu, 6 Februari 2019

Ekspor biodiesel ke Eropa terhambat, pengusaha biofuel incar pasar Asia
Para pengusaha dalam bidang biofuel Indonesia mengantisipasi larangan ekspor biodiesel berbasis sawit ke Eropa dengan mengincar pasar Asia. Terutama pasar China dan negara-negara kawasan Asia Tenggara yang berencana meningkatkan implementasi energi hijau terbarukan. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia Paulus Tjakrawan menyampaikan, bila aturan Renewable Energy Directive II yang dirancang Uni Eropa sah mengkategorikan kelapa sawit sebagai komoditas dengan risiko tinggi untuk perubahan lahan atau indirect land use change (ILUC) maka potensi ekspor ke Eropa bakal turun atau hingga nol. Ekspor biodisel sepanjang tahun 2018, menurut Paulus, mencapai angka 1,6 juta kiloliter. Hampir separuhnya ditujukan kepada Eropa. Maka, bila kebijakan ILUC jadi diterapkan dan menghapus pasar Eropa, pihaknya mengincar pasar dari negara Asia seperti China, Malaysia dan Thailand. Pada tahun 2018 sendiri, ekspor biodiesel ke China mencapai 800.000 kiloliter. “Tahun ini, kami harapkan bisa mencapai 1 juta kiloliter,” jelasnya, Rabu (6/2). Sedangkan untuk negara lainnya, Paulus melihat peluang dari Malaysia yang berencana mengimplementasikan kebijakan biodiesel 20% pada tahun 2020. Saat ini, Malaysia masih menerapkan B10. Ada juga dari Thailand yang berniat melakukan percepatan kebijakan biodiesel dari saat ini masih B5.

Ekspor biodisel sepanjang tahun 2018, menurut Paulus, mencapai angka 1,6 juta kiloliter. Hampir separuhnya ditujukan kepada Eropa. Maka, bila kebijakan ILUC jadi diterapkan dan menghapus pasar Eropa, pihaknya mengincar pasar dari negara Asia seperti China, Malaysia dan Thailand. Pada tahun 2018 sendiri, ekspor biodiesel ke China mencapai 800.000 kiloliter. “Tahun ini, kami harapkan bisa mencapai 1 juta kiloliter,” jelasnya, Rabu (6/2). Sedangkan untuk negara lainnya, Paulus melihat peluang dari Malaysia yang berencana mengimplementasikan kebijakan biodiesel 20% pada tahun 2020. Saat ini, Malaysia masih menerapkan B10. Ada juga dari Thailand yang berniat melakukan percepatan kebijakan biodiesel dari saat ini masih B5.

https://industri.kontan.co.id/news/ekspor-biodiesel-ke-eropa-terhambat-pengusaha-biofuel-incar-pasar-asia

Kompas | Rabu, 6 Februari 2019

Konsumsi Biodiesel Dalam Negeri Mencapai 3,8 Juta Ton di 2018
Penyerapan biodiesel di dalam negeri melalui program mandatori B20 mencapai 3,8 juta ton di 2018. Angka ini naik 72 persen dibandingkan dengan 2017 Ialu yang hanya mampu mencapai 2,22 juta ton. “Kinerja penyerapan biodiesel ini menunjukkan bahwa program mandatori B20 berjalan dengan konsisten,” ujar Ketua Umum Gapki, Joko Supriyono di Jakarta, Rabu (6/2/2019). Joko mengaku mengapresiasi langkah pemerintah yang mengambil langkah tepat dengan memberlakukan perluasan mandatori B20 kepada Non-PSO. “Program ini cukup mendukung dalam penyerapan CPO di dalam negeri yang melimpah,” kata Joko. Meski permintaan CPO dipastikan meningkat seiring dengan program B20, ekspor komoditas itu diperkirakan tetap tumbuh 4-5 persen tahun 2019. Joko memprediksi kontribusi ekspor CPO dan turunannya masih dominan dibandingkan penyerapan pasar dalam negeri. “Kalau dalam negerinya meningkat signifikan, paling ekspornya berkurang,” kata Joko. Berdasarkan data GAPKI, sepanjang 2018 total ekspor CPO dan turunannya mencapai 34,6 juta ton naik sekitar delapan persen dibanding 2017 sebesar 32,1 juta ton. Kendati volume ekspor meningkat, secara nilai, ekspor turun sekitar 11 persen persen pada 2018 menjadi 20, 54 miliar dollar AS dibandingkan 2017 sebesar 22,97 miliar dollar AS.

https://ekonomi.kompas.com/read/2019/02/06/203900026/konsumsi-biodiesel-dalam-negeri-mencapai-3-8-juta-ton-di-2018

Warta Ekonomi | Rabu, 6 Februari 2019

Ekspor Minyak Sawit Naik Sepanjang 2018, Biodiesel Paling Besar
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Joko Supriyono mengatakan, ekspor minyak sawit (CPO dan turunannya) sepanjang 2018 mencapai 34,71 juta ton. Angka ini meningkat 8% bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 32,18 juta ton. “Ekspor meningkat 8%,” kata Joko dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (6/2/2019). Joko mengatakan, peningkatan yang paling signifikan secara persentase dicatatkan oleh biodiesel, yaitu sebesar 851% atau dari 164 ribu ton pada 2017, meroket menjadi 1,56 juta ton di 2018. “Peningkatan ekspor biodiesel disebabkan Indonesia memenangkan kasus tuduhan anti-dumping biodiesel oleh Uni Eropa di WTO,” tambahnya. Peningkatan ekspor juga diikuti oleh produk turunan CPO (refined CPO dan lauric oil) sebesar 7% atau dari 23,89 juta ton pada 2017 meningkat menjadi 25,46 juta ton di 2018. Ekspor Olechmical juga mencatatkan kenaikan 16% menjadi 1,12 juta ton di 2018 bila dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 970 ribu ton. Sebaliknya untuk produk CPO membukukan penurunan sebesar 8% atau dari 7,16 juta ton pada 2017, menurun menjadi 6,56 juta ton di 2018.

“Penurunan ekspor CPO menunjukkan bahwa industri hilir sawit Indonesia terus berkembang, sehingga produk dengan nilai tambah atau produk turunan lebih tinggi ekspornya dibandingkan dengan minyak mentah sawit (CPO),” ucapnya. Sementara, menurut pasar atau negara tujuan utama, secara tahunan menunjukkan peningkatan. Peningkatan ini terjadi pada beberapa negara seperti China, Bangladesh, Pakistan, dan negara-negara Afrika dan Amerika Serikat. “2018, China naik 18%, Amerika naik 3%, dan Bangladesh 18%. Pasar lainnya juga meningkat dengan volume ekspor 6,5 juta ton. Meningkatnya pasar ekspor lain berarti kita berhasil mendiversifikasi pasar tidak hanya tergantung pasar-pasar besar,”pungkasnya.

https://www.wartaekonomi.co.id/read214525/ekspor-minyak-sawit-naik-sepanjang-2018-biodiesel-paling-besar.html

Bisnis | Rabu, 6 Februari 2019

Ekspor Sawit Diyakini Tumbuh 5% Tahun Ini di Saat Permintaan Domestik Naik
Ekspor komoditas minyak sawit mentah diperkirakan tetap tumbuh 4%-5% tahun 2019 ini, meskipun permintaan minyak sawit mentah (CPO) dipastikan meningkat seiring dengan program Biodiesel 20 (B20). Hal itu dikemukan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono pada paparan kinerja industri CPO dan turunannya 2018 dan prospek 2019 di Jakarta, Rabu. Dia memperkirakan kontribusi ekspor CPO dan turunannya masih dominan dibandingkan penyerapan pasar dalam negeri. “Kalau dalam negerinya meningkat signifikan, paling ekspornya berkurang,” kata Joko. Dia juga memperkirakan kenaikan produksi CPO tahun 2019 tidak sebesar tahun 2018 yang mencapai lebih dari empat juta ton dari sekitar 38 juta ton pada 2017 menjadi sekitar 43 juta ton pada tahun 2018. “Produksi normal naik 1,5 juta sampai dua juta ton per tahun,” kata Joko. Berdasarkan data GAPKI, sepanjang 2018 total ekspor CPO dan turunannya mencapai 34,6 juta ton naik sekitar delapan persen dibanding 2017 sebesar 32,1 juta ton. Kendati volume ekspor meningkat, secara nilai, ekspor turun sekitar 11 persen persen pada 2018 menjadi 20, 54 miliar dolar dibandingkan 2017 sebesar US$22,97 miliar. “Penurunan nilai ekspor terjadi karena harga CPO turun,” kata Joko.

Pada 2017 rata-rata harga CPO sekitar 714,3 dolar AS per ton dan pada 2018 turun 17 persen menjadi rata-rata 595,5 dolar AS per ton. Joko optimistis kendati banyak tantangan di pasar ekspor, terkait antara lain bea masuk yang tinggi di India dan tuduhan subsidi oleh Uni Eropa, peluang peningkatan ekspor sangat terbuka karena banyak negara-negara nontradisional belum digarap optimal seperti Timur Tengah dan Asia Selatan. “Ini sesuatu yang bagus, pasar domestik kuat, tapi kita tetap kembangkan pasar ekspor,” ujar Joko yang berharap program B20 berjalan lancar sesuai target sepanjang 2019.

https://market.bisnis.com/read/20190206/94/885961/javascript