+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Pertamina Diminta Lanjutkan Program B30

Neraca.co.id | Rabu, 6 November 2019

Pertamina Diminta Lanjutkan Program B30

Pengamat energi Komaidi Notonegoro mendukung PT Pertamina (Persero) melanjutkan program pemerintah dalam pemakaian bahan bakar minyak dengan campuran 30 persen nabati atau B30. “Program B20 pemerintah yang dijalankan Pertamina sudah berlangsung dengan baik dan juga terbukti menguntungkan bagi negara, karena itu perlu dilanjutkan dengan B30,” katanya di Jakarta, Selasa (5/11). Pemerintah berencana memulai program B30 pada 1 Januari 2020. Direktur Eksekutif Reforminer Institute itu mengatakan peran Pertamina dalam program B20 cukup penting yakni sebagai ujung tombak implementasi kebijakan. Sejumlah keuntungan program B20 antara lain terbukti menghemat devisa negara dari pengurangan impor bahan bakar minyak jenis solar. Data Kementerian ESDM menyebutkan, pada 2018, dengan program B20, setidaknya ada sekitar empat juta kiloliter solar disubsitusi dengan nabati berasal dari minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dengan nilai penghematan devisa negara mencapai 1,88 miliar dolar AS. Lalu, pada periode Januari-Juni 2019, substitusi solar sudah mencapai 2,9 juta kiloliter dengan nilai penghematan devisa mencapai 1,66 miliar dolar AS. Adapun total target penghematan devisa pada 2019 adalah sebesar tiga miliar dolar AS. Komaidi melanjutkan keuntungan program B20 lainnya adalah menyerap CPO dalam negeri yang berarti meningkatkan kinerja industri termasuk para petaninya. “Lainnya, tentunya manfaat lingkungan yang menjadi lebih bersih,” ujarnya. Namun memang, tambah Komaidi, karena hanya melalui berupa pencampuran, program B20 masih menimbulkan kekhawatiran sebagian pengguna atas dampak yang ditimbulkan. “Karena itu, memang perlu dilakukan sosialisasi secara intensif dan duduk bersama dengan pengguna untuk mencari solusi terbaiknya,” katanya. Sebelumnya, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fajriyah Usman mengatakan sebagai pemegang mandat pemerintah terkait program biodiesel, Pertamina secara aktif mendukung penuh pelaksanaan uji jalan pemakaian bahan bakar B30 dengan menyediakan produk solar berjumlah 66,5 kiloliter. Selain itu, menurut dia, infrastruktur yang dimiliki Pertamina juga telah siap menjalankan program biodiesel. “Saat ini kami memiliki 111 terminal BBM yang siap untuk mendistribusikan biodiesel dengan 29 titik pencampuran yaitu 26 TBBM dan 3 kilang,” jelas Fajriyah. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan bahwa pemanfaatan biodiesel yang menjadi prioritas percepatan capaian bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional melalui mandatori B30 (campuran 30 persen biodiesel pada minyak solar) siap diimplementasikan awal 2020. “Untuk B30 sudah siap, ini tinggal (memastikan) suplainya, tinggal dijalankan,” tegas Arifin di Kantor Kementerian ESDM Jakarta, Jumat. Saat ini minyak bakar jenis solar di pasaran telah dicampur dengan bahan bakar nabati (biodiesel) sebanyak 20 persen atau yang disebut B20. Kesiapan yang disampaikan Arifin ini tidak lepas dari hasil uji coba penggunaan B30 pada kendaraan bermesin diesel. Setelah diluncurkan pada 3 Juni 2019, uji jalan menggunakan B30 dilakukan pada kendaraan uji kurang dari 3,5 ton dan lebih dari 3,5 ton. Hasilnya, pada kendaraan uji kurang dari 3,5 ton menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada kinerja kendaraan yang menggunakan bahan bakar B30 dibandingkan dengan B20 yang sudah diimplementasikan selama ini. Sementara itu untuk kendaraan besar (lebih dari 3,5 ton) masih menyelesaikan tahapan uji jalan.

http://www.neraca.co.id/article/124028/pertamina-diminta-lanjutkan-program-b30

Tribunnews.com | Rabu, 6 November 2019

Alasan Hino Pilih Boyong Hibrid ke Indonesia daripada Kendaraan Listrik

Meski regulasi mengenai kendaraan listrik di Indonesia telah dikeluarkan, tak membuat PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) buru-buru memboyong kendaraan listrik ke Indonesia. “Jika pemerintah sudah mengeluarkan peraturan yang jelas mengenai kendaraan listrik kami pasti akan support,” tutur Yuichi Naito di Training Center HMSI, Tangerang, Banten, Rabu (6/11/2019). Namun menurut HMSI, yang paling memungkinkan untuk dipasarkan di Indonesia saat ini ialah kendaraa hibrid. “Tetapi yang paling mungkin dan sudah keluar kebijakannya dari pemerintah itu yang hibrid. Principal kami di Jepang pasti akan support apa yang menjadi peraturan pemerintah di Indonesia,” imbuh Yuichi. Biodiesel yang melimpah di Indonesia akan mempercepat implementasikan kendaraan hibrid di Tanah Air. Terlebih imfrastruktur kendaraan hibrid tak semahal kendaraan listrik. “Kami melihat untuk sementara waktu ini kami akan menyediakan produk-produk hibrid. Kenapa? Satu, Indonesia masih bisa menggunakan biodiesel, sawit kita masih bisa dipakai. Kedua, tidak membutuhkan infrastruktur seperti charging station,” ungkap Direktur Penjualan dan Promosi HMSI, Santiko Wardoyo. Hino sendiri pernah memboyong truk hibridnya dalam gelaran GIIAS 2019 dan IEMS 2019 lalu. Truk tersebut ialah Hino Dutro Hybrid yang diklaim dapat menghemat konsumsi bahan bakar 13,6 km per liter dengan menggunakan diesel electric hybrid system. Soal tenaga, Hino Dutro Hybrid menggunakan mesin 4 langkah segaris turbocharger intercooler NO4C dan kombinasi HV motor. Berbekal mesin tersebut dapat menghasilkan tenaga 148 Tk pada 2.500 rpm dengan torsi puncak 411,8 Nm pada 1.400 rpm. Hino Dutro Hybrid menggunakan baterai NiMH yang memberi daya yang tinggi saat akselerasi, dibantu sistem PCU (Power Control Unit) yang merupakan gabungan ECU, inverter dan baterai.

https://www.tribunnews.com/bisnis/2019/11/06/alasan-hino-pilih-boyong-hibrid-ke-indonesia-daripada-kendaraan-listrik

Bisnis.tempo.co | Rabu, 6 November 2019

Kejar Target Pertumbuhan Ekonomi 2019, Airlangga Fokus 3 Bidang

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan akan fokus pada perbaikan di sektor perdagangan, industri dan juga investasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun. Hal ini dilakukan setelah dia melihat struktur pertumbuhan ekonomi. “Kalau lihat dari struktur pertumbuhan ekonomi, konsumsi itu menyumbang 3,5 -3,6 persen, sisanya dari trade dan investasi maka kami musti konsentrasi di trade, industri dan investasi,” kata Airlangga ketika ditemui di Hotel Fairmont, Jakarta Selatan, Rabu 6 November 2019. Dengan sejumlah strategi ini Airlangga percaya diri bahwa momentum pertumbuhan ekonomi masih bisa dijaga sampai akhir 2019. Sampai akhir tahun, dia memperkirakan pertumbuhan ekonomi masih bisa stabil pada kisaran sedikit di atas 5 persen. Sebelumnya, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2019 sebesar 5,3 persen. Namun, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya berkisar 5,0-5,2 persen. Badan Pusat Statistik atau BPS baru saja merilis data pertumbuhan ekonomi sepanjang triwulan III 2019. Sepanjang triwulan III 2019, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,05 persen. Angka ini melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai angka 5,05 persen. Menurut catatan Airlangga, konsumsi rumah tangga dan juga konsumsi lembaga non profit yang melayani rumah tangga masih menyumbang 3,5-3,6 persen pertumbuhan ekonomi pada triwulan III 2019. Sedangkan sisanya dari investasi, perdagangan, dan industri. Adapun untuk mendorong investasi, kata Airlangga, pemerintah akan fokus untuk persiapan omnibus law. Kebijakan ini diharapkan bisa memotong kebijakan yang dianggap mengganggu iklim investasi. Selain itu, pemerintah ingin meningkatkan angka ease of doing bussines (EODB). Kemudian pemerintah akan terus mendorong kebijakan yang bisa membuat perbaikan pada neraca perdagangan. Salah satunya adalah terus menggenjot program pengolahan sawit menjadi biodisel atau B20, B30, B50 hingga B100. “Kalau dari B100 saja kami bisa hemat sampai Rp 18 miliar. kalau B30 itu sekitar Rp 6 miliar. Dengan demikian tekanan neraca perdagangan dari situ saja sudah bisa diselesaikan,” kata Airlangga. Untuk mendukung program biodiesel B20 sampai B100 pemerintah telah menyiapkan kilang refinery yang bisa mengkonversi sawit menjadi B20 dan B30. Kilang yang kini dimiliki oleh PT Pertamina tersebut, tengah di dorong oleh pemerintah, untuk dimanfaatkan lebih luas.

https://bisnis.tempo.co/read/1269054/kejar-target-pertumbuhan-ekonomi-2019-airlangga-fokus-3-bidang/full&view=ok

Validnews.id | Rabu, 6 November 2019

Jokowi Minta Menteri Ekonomi Segera Tekan CAD

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo atau Jokowi, meminta Kementerian Ekonomi di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang saat dipimpin oleh Airlangga Hartanto untuk segera menekan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD). Untuk bisa memperkecil CAD, defisit neraca dagang pun mesti segera digerus. Oleh karena itu, Jokowi meminta supaya jajaran kementerian ekonomi mendorong ekspor. Ditegaskan pula agar produksi untuk komoditas substitusi impor dan komoditas ekspor segera dipacu. “Jangan sampai kita tahu, misalnya impor petrochemical besar sekali, padahal kita bisa produksi petrochemical itu. Mengapa harus diteruskan impor?” katanya saat membuka Indonesia Banking Expo (IBEX) 2019 di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (6/11). Ia mengatakan, banyak komoditas di Indonesia yang bisa diolah menjadi produk substitusi impor. Komoditas tersebut, antara lain batu bara yang bisa diolah menjadi LPG dan biodiesel yang bisa menjadi produk substitusi impor migas seperti avtur. “Kenapa kita terus-menerus mengekspor dalam bentuk raw material, tidak barang setengah jadi, barang jadi? Ini yang bikin CAD dan defisit neraca dagang,” imbuhnya. Sepanjang Januari–September 2019, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca dagang sebesar US$1,94 miliar. Defisit ini terutama disebabkan oleh sektor migas yang neraca dagangnya tercatat defisit US$6,44 miliar. Defisit ini sebenarnya sudah bisa ditekan karena lebih rendah daripada periode yang sama tahun 2018 lalu dengan defisit sebesar US$9,45 miliar. Pada Januari–September 2018, defisit neraca dagang juga lebih besar yaitu US$3,81 miliar. Defisit neraca dagang tak ayal berimbas pada melebarnya defisit neraca transaksi berjalan. Bank Indonesia (BI) mencatat, defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal II-2019 mencapai US$8,44 miliar atau 3,04% dari produk domestik bruto (PDB). CAD tersebut lebih besar dibandingkan kuartal sebelumnya yang masih bertengger di angka US$7,0 miliar atau 2,6% dari PDB. Selain mempersempit CAD, Jokowi mengatakan, tujuan dari memproduksi baik komoditas substitusi impor dan komoditas ekspor ialah menciptakan lapangan pekerjaan. Hal ini dinilainya penting karena sebagaimana tercatat Indonesia masih memiliki sekitar 7 juta pengangguran. Untuk mendorong produksi itu pula, Indonesia masih membutuhkan investasi. Jokowi pun kembali mengingatkan bahwa pemerintah tengah membuat omnibus law yang akan merevisi 74 undang-undang sekaligus guna mempermudah investasi. “Kalau diajukan satu-satu dalam lima tahun, tiga aja enggak dapat kita. Sebanyak 74 (undang-undang) kita kumpulkan ajukan bareng dengan omnibus law,” ucapnya. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, ke depan akan berfokus membenahi perdagangan, investasi, dan industri. Terkait perdagangan, impor memang bisa ditekan hingga pada kuartal III-2019 pertumbuhannya minus 8,61%. Pertumbuhan ini jah lebih rendah dibandingkan impor pada kuartal III-2018 lalu yang sempat melaju 14,02%. Namun demikian, pada kuartal III-2019, ekspor juga hanya tumbuh 0,02%. Pergerakannya lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekspor pada kuartal III-2018 yang sebesar 8,08%. Pada saat yang sama, pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi tercatat melemah dari 6,96% menjadi 4,21%. “Untuk investasi kita menciptakan omnibus law cipta kerja yang diharapkan dapat memotong regulasi yang selama ini menghambat investasi,” ucap Airlangga, setelah menghadiri pembukaan IBEX di Hotel Fairmont, Rabu (6/11). Peringkat Ease of Doing Business (EoDB) Indonesia yang sebesar 73 dinilainya perlu didorong sehingga peringkat Indonesia bisa naik. Ia juga mengatakan, akan mengurangi defisit neraca dagang, antara lain dengan program biodiesel hingga B100 yang peta jalannya tengah disiapkan. “Kalau sampai B100, hemat US$18 miliar. Kalau B30, sekitar US$6 miliar. Tekanan neraca dagang dari situ saja bisa diselesaikan,” simpulnya.

https://www.validnews.id/Jokowi-Minta-Menteri-Ekonomi-Segera-Tekan-CAD-Oke

Tribunnews.com | Rabu, 6 November 2019

Hemat Miliaran Dolar AS, Menko Airlangga Siapkan Kilang Pertamina Jadi B100

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, sedang menyiapkan program terhadap kilang minyak PT Pertamina untuk menghasilkan Biodiesel 100 persen atau B100. Airlangga menjelaskan, langkah tersebut dilakukan guna memperbaiki posisi defisit neraca perdagangan di sektor minyak dan gas (migas). “Tekanan neraca dagang dari situ (kebijakan B100) saja bisa diselesaikan dan Pertamina punya salah satu kilang minyak supaya dibenahi jadi B100,” ujarnya dalam acara Indonesia Banking Expo 2019. Sementara saat ini, pemerintah baru mendorong penggunaan B30 tahun depan dengan penghematan mulai dari 6 miliar dolar AS hingga 18 miliar dolar AS untuk B100. “Mulai B30 sampai B100 itu peta jalannya kita siapkan. Kalau sampai B100 hemat 18 miliar dolar AS, kalau B30 sekitar 6 miliar dolar AS,” kata Airlangga. Adapun program biodiesel yang menelan investasi besar tersebut harus dilakukan melalui skema perizinan yang ramah dan terorganisir. “Untuk supaya beroperasi ada beberapa perizinan, ini yang kita sinkronisasi. Indeks kemudahan bisnis kita juga mendatar di peringkat 73, harus kita tekan kebawah,” pungkasnya.

https://www.tribunnews.com/bisnis/2019/11/06/hemat-miliaran-dolar-as-menko-airlangga-siapkan-kilang-pertamina-jadi-b100

Merdeka.com | Rabu, 6 November 2019

BTKE ConEX 2019 Targetkan Gaet Investor Energi Baru Terbarukan

Pameran energi baru terbarukan EBTKE ConEX 2019 resmi digelar pada Rabu (6/11). Bertempat di Jakarta International Expo (JIExpo), pameran EBTKE ConEX dibuka langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif. Ketua Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Surya Darman, menyebutkan pameran ini bisa jadi potensi menggaet investor dalam industri energi terbarukan lebih banyak lagi. “Diharapkan pameran ini bisa jadi wadah untuk meningkatkan iklim investasi dan menarik investor, serta memberikan masa depan terbarukan bagi generasi milenial,” ujarnya. Menteri Arifin menyatakan potensi energi terbarukan yang dimiliki Indonesia harus bisa dimanfaatkan dengan baik dan tepat sasaran. “Kegiatan ini (pameran) tentunya bermanfaat untuk menentukan arah pemanfaatan energi nasional jangka panjang. Kita punya banyak sumber energi yang harus kita utilisasi,” ujarnya di Jakarta. Sebagai informasi, pameran ini bertajuk “Energy Transition Towards the Renewable Energy Era”, yang fokus memperkenalkan alternatif bahan bakar dari fosil ke bahan bakar minim karbon yang berkelanjutan (sustainable). Tidak hanya berkonsentrasi pada lingkungan, pameran ini juga secara tak langsung bisa menumbuhkan pasar energi baru terbarukan baru. Pameran yang diinisiasi oleh METI ini akan berlangsung selama 2 hari, yaitu dari tanggal 6 November hingga 8 November 2019.

https://www.merdeka.com/uang/ebtke-conex-2019-targetkan-gaet-investor-energi-baru-terbarukan.html

Sindonews.com | Rabu, 6 November 2019

Antre Solar, Sopir Truk di Pangkep Rela Menginap di SPBU

Puluhan truk mengantre di depan sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Pangkep. Truk tersebut mengantre untuk menunggu giliran mengisi BBM jenis solar. Salah seorang sopir truk, Rusman (52 tahun) mengatakan, kondisi kekurangan solar ini sudah terjadi hampir sepekan. Ia mengaku datang mengantre sejak pukul 08.00 Wita, namun hingga pukul 14.30 Wita gilirannya masih jauh. “Sudah satu minggu begini, kami mengantre untuk dapat solar. Biasanya kami antre berjam-jam, bahkan ada teman-teman yang bermalam di sini,” ujarnya, Rabu (7/11/2019). Rusman menuturkan, kondisi ini sangat merugikan bagi sopir karena waktu mereka habis untuk mengantre. Hal itu lalu dibenarkan oleh rekan-rekan sopirnya yang juga mengantri. “Biasa saya sampai tujuh rate, sekarang bagus kalau kita bisa dapat satu rate,” ucapnya. Salah seorang petugas SPBU di Pangkep yang enggan disebut namanya mengatakan, antrean tersebut disebabkan karena stok solar yang kurang. Sebelumnya, pihaknya mendapat jatah 16 KL solar yang datang setiap pagi. “Sekarang tinggal 8 KL solar perhari, itu juga datang jelang sore,” katanya. Sementara itu, GM Humas dan CSR Pertamina Wilayah VII, Hatim Ilwan mengatakan, dari data yang ada, konsumsi solar untuk sektor ritel di Sulsel mencapai 51 persen dari konsumsi seluruh provinsi yang ada di Sulawesi. “Prinsipnya, Pertamina akan terus menjalankan tugasnya dalam menyalurkan solar meski realisasi konsumsi hingga September 2019 sudah lebih 15 persen dari kuota semestinya,” terangnya. “Kuota solar 2019 Sulsel lebih rendah 10 persen dibanding reailisasi 2018. Sementara secara nasional umumnya solar tumbuh sekitar 3-5 persen per tahunnya,” lanjutnya. Menurut dia, meningkatnya konsumsi solar ini juga dipengaruhi faktor alam. Di mana, musim kemarau yang lebih panjang serta dikebutnya proyek-proyek akhir tahun berdampak pada kebutuhan energi untuk mobilitas. “Ada juga indikasi munculnya panic buyer dari masyarakat,” pungkasnya.

https://makassar.sindonews.com/read/34231/4/antre-solar-sopir-truk-di-pangkep-rela-menginap-di-spbu-1573042294

Kompas | Kamis, 7 November 2019

Energi Terbarukan Jauh dari Target

Secara bertahap, porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional ditingkatkan. Sebaliknya, porsi minyak bumi dikurangi. Namun, realisasinya masih jauh dari harapan. Pencapaian energi terbarukan dalam bauran energi nasional masih jauh dari harapan. Dalam Kebijakan Energi Nasional, target energi terbarukan dalam bauran energi nasional sedikitnya 23 persen pada tahun 2025. Saat ini, realisasinya baru sekitar 9 persen. Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Surya Dharma mengatakan, amanat Presiden Joko Widodo di sektor energi untuk mengurangi impor minyak dan gas bumi dengan mengoptimalkan sumber energi terbarukan adalah sebuah tantangan besar. Di lain pihak, energi nasional kian bergantung pada sumber yang tak terbarukan dan diperoleh dari impor. “Target tersebut sampai saat ini masih jauh dari harapan dan penuh tantangan untuk mencapainya. Sampai dengan akhir 2018, peran energi terbarukan 8,6 persen dalam bauran energi nasional. Sekarang sudah mencapai 9 persen,” kata Surya dalam pidato pembukaan Indonesia EBTKE Conex 2019, Rabu (6/11/2011), di Jakarta Dalam Kebijakan Energi Nasional, porsi energi terbarukan 23 persen pada 2025, dan dinaikkan menjadi 31 persen pada 2050. Sebaliknya, porsi minyak bumi diturunkan dari 25 persen pada 2025 menjadi 20 persen di 2050. Sementara, porsi gas bumi dan batubara pada 2025 masing-masing 22 persen dan 30 persen. Pada 2050, porsi gas bumi dinaikkan menjadi 24 persen, sedangkan batubara dikurangi menjadi 25 persen.

Dioptimalkan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengakui, pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia masih terbilang minim. Dari sumber daya energi terbarukan di Indonesia yang secara keseluruhan sebanyak 400.000 megawatt, pemanfaatannya baru sekitar 8 persen atau 32.000 megawatt Menurut dia, perlu perencanaan matang untuk mengoptimalkan sumber energi terbarukan di dalam negeri. “Saya membuka pintu untuk menampung ide-ide terbaik demi mendorong pertumbuhan energi terbarukan di Indonesia. Memang ada masa transisi sehingga perlu ada dialog dengan seluruh pemangku kepentingan untuk mengoptimalkan energi terbarukan,” ujar Arifin. Pekan lalu, Arifin mengungkapkan, prioritas pemerintah di sektor energi terbarukan adalah merealisasikan kebijakan pencampuran biodiesel ke dalam solar atau mandatori B30. Kebijakan ini mewajibkan setiap liter solar mengandung campuran 30 persen biodiesel. Mandatori B30 berlaku efektif per 1 Januari 2020. Sebelumnya, Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform Fabby Tumiwa menegaskan perlu perbaikan iklim investasi untuk mengoptimalkan energi terbarukan. Kendati sudah ada perbaikan regulasi, iklim investasi energi terbarukan belum cukup menggembirakan. Penetapan tarif listrik dari energi terbarukan kurang ekonomis bagi pengembang. Akibatnya, investor enggan berpartisipasi di sektor ini. “Hal yang menjadi prioritas dikenakan terlebih dahulu adalah memulihkan kepercayaan investor dengan memperbaiki iklim investasi energi terbarukan,” kata Fabby. Berdasarkan data Kementerian ESDM, realisasi investasi sektor energi terbarukan sampai dengan semester 1-2019 adalah 900 juta dollar AS. Adapun target investasi sektor itu pada tahun ini 1,8 miliar dollar AS. Target tahun ini lebih tinggi dari realisasi investasi tahun lalu, yakni 1,6 miliar dollar AS.