+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Pertamina Kembangkan Energi dari Panel Surya dan Tenaga Angin:

• Pertamina Kembangkan Energi dari Panel Surya dan Tenaga Angin: PT Pertamina (Persero) berkomitmen membantu pemerintah untuk mencapai target porsi Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam bauran energi‎ sebesar 23 persen pada 2025. Senior Vice Presiden (SVP) Research & Technology Center Pertamina, Herutama Trikoranto‎ menuturkan, Pertamina sudah sejak lama menekuni bisnis EBT, mulai dari panas bumi atau geothermal, biomassa dan biodiesel. ‎ (LIPUTAN6)
http://bisnis.liputan6.com/read/3194820/pertamina-kembangkan-energi-dari-panel-surya-dan-tenaga-angin

• Pertamina akan Tingkatkan Porsi Energi Baru Terbarukan: PT Pertamina (Persero) terus berkomitmen meningkatkan porsi Energi Baru Terbarukan (EBT), sejalan dengan target porsi nasional sebesar 23 persen dari total bauran energi nasional pada tahun 2025. Energi Baru Terbarukan masuk ke dalam high priority (high economy attractiveness & technology maturity). Yang telah dieksekusi Pertamina antara lain, geothermal, biodiesel, biomass, mini hydro, dan solar PV. ‎ (REPUBLIKA)
http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/korporasi/17/12/13/p0voql423-pertamina-akan-tingkatkan-porsi-energi-baru-terbarukan

• Kelapa Sawit Diperhatikan (KREDIT KE SEKTOR PERKEBUNAN): Sebagian besar bank dan lembaga keuangan di Indonesia dinilai belum mengadopsi prinsip keberlanjutan dalam menyalurkan kredit ke perkebunan kelapa sawit. Akibatnya, risiko kredit bermasalah berpotensi meningkat. Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) Country Director, Indonesia Operation, Tiur Rumandang mengatakan, beberapa bank sedang dalam proses memperbaiki kebijakan agar lebih responsif terhadap isu lingkungan dan sosial terkait dengan perkebunan kelapa sawit. Isu lingkungan yang dimaksud mencakup deforestasi, gas rumah kaca, dan biodiversitas. Adapun isu sosial terdiri atas masyarakat adat, hak asasi manusia, dan pembagian keuntungan. Saat ini, posisi rasio kredit bermasalah perseroan pada sektor perkebunan sawit berada pada level 0%. Dihubungi terpisah, Divisi Risiko Kredit Korporasi PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Retno Muwarni mengatakan, perseroan memandang penting sertifikasi RSPO/ISPO dalam analisis lewat beberapa pertimbangan. Pasalnya, debitur yang telah mendapatkan sertifikat tersebut memiliki akses pasar yang lebih luas. “Khususnya ke pasar Eropa untuk produk CPO, biodiesel dan turunannya,” ujarnya. Retno menuturkan, debitur yang memiliki sertifikat itu juga akan memiliki standar yang lebih baik dalam pengelolaan operasional, lingkungan, dan sosial. Hal tersebut memudahkan bank dalam melakukan monitoring dan utamanya memenuhi ketentuan pemerintah terkait pengelolaan kebun sawit berkelanjutan. (BISNIS INDONESIA)