+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Pertamina Mulai Pasarkan BBM Biodesel 30

Tempo | Senin, 25 November 2019

Pertamina Mulai Pasarkan BBM Biodesel 30

PT Pertamina (Persero) mulai distribusi bahan bakar campuran solar dengan biodiesel sebesar 30 persen atau B30 baik untuk kebutuhan transportasi maupun industri. Pemasaran ini lebih cepat sekitar satu bulan dari target penerapan program B30 pada Januari 2020 mendatang. Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menyatakan perseroan telah memulai uji coba pencampuran solar dengan Fatty Acid Methel Ester (FAME) sebesar 30 persen di Terminal BBM pekan lalu. Di tahap awal pencampuran dilakukan di Terminal BBM Rewulu, Yogyakarta dan Terminal BBM Boyolali, Jawa Tengah. Hasil pencampuran kemudian dipasarkan kepada masyarakat dengan harga yang sama dengan B20. Uji coba pencampuran akan dilakukan di enam terminal BBM lainnya dalam waktu dekat yaitu di Balikpapan, Medan Group, Jakarta Group, Panjang, RU III Plaju, dan RU VII Kasim. Uji coba ini akan berlangsung hingga 31 Desember 2019. Pertamina menargetkan mampu mencampur solar dan FAME di 28 titik pencampuran pada Januari 2020. “Selama implementasi uji coba ini, B30 yang diproduksi sekitar 670 ribu kilo liter,” katanya, Ahad 24 November 2019. Fajriyah menuturkan perseroan sepenuhnya siap dengan percepatan implementasi B30 ini. Program ini diharapkan membawa dampak berganda bagi sektor lain, salah satunya di industri kelapa sawit yang menjadi bahan baku FAME. Menurut perhitungan Pertamina, penerapan penuh B30 tahun depan akan meningkatkan penyerapan FAME menjadi 690 ribu kilo liter per bulan atau sekitar 8,3 juta kilo liter per tahun. Hingga Oktober 2019, Pertamina telah menyerap FAME sekitar 460 ribu kilo liter per bulan untuk menghasilkan B20. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif meneken payung hukum distribusi B30 setelah uji coba bahan bakar itu terhadap kendaraan bermotor diesel dinyatakan tak bermasalah. Beleid itu tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Kepmen ESDM) Nomor 227 K/10/MEM/2019 Tentang Pelaksanaan Uji Coba Pencampuran Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel 30 persen (B30) ke Dalam Bahan Bakar Minyak Jenis Minyak Solar Periode 2019. Juru Bicara Kementerian Energi Agung Pribadi menyatakan beleid distribusi B30 diterbitkan untuk melihat kesiapan jalur pendistribusian dan kualitas bahan baku B30. “Dengan uji coba ini mudah-mudahan kita bisa melihat implementasinya berjalan lancar di 2020 nanti,” ujarnya. Agung menuturkan, uji coba distribusi B30 yang lebih awal ini akan memberikan tambahan penghematan devisa negara dari berkurangnya impor solar sekitar 10 persen. Keuntungan lainnya adalah adanya tambahan penyerapan sekitar 72 ribu liter biodiesel hingga akhir uji coba. Alokasi untuk program B20 tahun ini sendiri dialokasikan sekitar 6,6 juta kilo liter. Pemerintah telah menyelesaikan rangkaian uji jalan, uji perfoma kendaraan, pengawasan, dan evaluasi B30 pada kendaraan bermesin diesel bulan lalu. Hasilnya, mesin kendaraan dinyatakan bisa menerima bahan bakar tersebut dengan baik. GM Marketing PT Isuzu Astra Motor Indonesia, Attias Asril, membenarkan hal tersebut. Dalam uji coba menggunakan Isuzu Elf, dia tak menemukan kendala berarti. Dia menuturkan siap mengimplementasikan program pemerintah itu meski memiliki kendaraan yang telah menggunakan mesin commonrail. “Kami siap mengantisipasi dengan menggunakan double filter karena bahan bakar biodiesel memiliki efek soapy yang memungkinkan kerak terlepas dan dapat menyebabkan tersumbat di injector pump,” ujarnya.
https://bisnis.tempo.co/read/1276108/pertamina-mulai-pasarkan-bbm-biodesel-30?page_num=2

Kompas | Senin, 25 November 2019
Pemakaian Solar B 30 Dipercepat
(Semula pemanfaatan kandungan biodiesel 30 persen di dalam solar mulai 1 Januari 2020. Akan tetapi, saat ini B-30 sudah tersedia di SPBU di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah)
PT Pertamina (Persero) mulai menjual solar dengan kandungan biodiesel 30 persen atau B-30. Penjualan ini lebih cepat dari 1 Januari 2020, yang merupakan jadwal semula. Menurut rencana, hasil uji penggunaan B-30 untuk kendaraan diumumkan pemerintah pekan ini. Pada masa mendatang, pemanfaatan biodiesel 100 persen atau B-100 untuk kendaraan dimungkinkan. Sekarang ini B-30 sudah bisa dibeli di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sejak dua pekan lalu, Pertamina sudah memproses pencampuran biodiesel 30 persen ke dalam solar di Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Rewulu di DIY dan TBBM Boyolali di Jawa Tengah. Harga jual B-30 sama dengan biosolar (B-20) sekarang, yaitu Rp 5.150 per liter. “Percepatan pemakaian B-30 bakal berdampak positif bagi kemandirian energi nasional dan perkebunan sawit. Sebab, seluruhnya bisa dipenuhi dari dalam negeri, baik untuk biodiesel maupun solar yang diproduksi di kilang Pertamina,” ujar Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman, akhir pekan lalu, di Jakarta. Sebenarnya, pemanfaatan B-30 baru akan dimulai per 1 Januari 2020. Hal ini berdasarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No 12 Tahun 2015 tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain. Dalam aturan itu, kebijakan pencam- puran biodiesel dimulai 2015 dengan kadar 15 persen (B-15), Kadar pencampuran jadi B-20 pada 2016 dan menjadi B-30 pada 1 Januari 2020.
Menambah terminal
Menurut Fajriyah, Pertamina menambah TBBM yang siap memproses pencampuran biodiesel 30 persen ke dalam solar menjadi delapan terminal hingga Desember. Pada Januari 2020, ditambah lagi menjadi 28 TBBM. Pertamina menjamin harga jual B-30 sama dengan harga jual B-20. Penyerapan biodiesel oleh Pertamina sampai dengan Oktober 2019 rata-rata 460.000 kiloliter per bulan. Apabila kebijakan B-30 diterapkan sepe-nunya, serapan biodiesel meningkat menjadi 690.000 kiloliter per bulan. Sementara itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan pada Kementerian ESDM Dadan Kusdiana menyampaikan, pengujian B-30 pada kendaraan sudah selesai. Pemerintah akan mengumumkan hasil uji B-30 kepada publik pekan ini. Secara garis besar, ia menyebutkan, berdasarkan hasil uji, B-30 siap diimplementasikan di pasar. “Implementasi B-30 secara penuh mulai 1 Januari 2020 membutuhkan dukungan dan kesiapan dari produsen biodiesel, infrastruktur pencampuran B-30, dan publik,” katanya Biodiesel diandalkan pemerintah untuk mengurangi defisit neraca perdagangan migas. Produksi minyak di dalam negeri kurang dari 800.000 barel per hari, sedangkan konsumsi BBM nasional 1,5 juta barel per hari. Kekurangan ini ditutup melalui impor. Sebelumnya, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pemerintah menyiapkan realisasi program B-100 atau biodiesel sebagai BBM pengganti solar. Jika program ini sukses, produksi biodiesel di Indonesia bisa menggantikan kebutuhan solar sebanyak 47 juta kiloliter pada 2025.

Kompas | Senin, 25 November 2019
TAK PERLU KHAWATIR GUNAKAN BIODIESEL Ada Langkah Sederhana Jaga Performa
“Bandel” dan irit bahan bakar menjadi salah satu alasan orang memilih mobil bermesin diesel. Belum lagi ditambah keunggulan lain berkat hadirnya teknologi baru seperti turbochorged, TDI, DI, inter-cooled, dan common roil. Lalu, bagaimana dengan perawatannya, termasuk penggunaan solar dengan campuran minyak sawit (biodiesel)? Tak perlu khawatir karena ada langkah sederhana untuk menjaga performa. HAL paling menguntungkan dalam merawat mesin diesel yaitu berfokus pada bahan bakar dan udara yang masuk ke dalam mesin. Karena pada dasarnya, mesin diesel mengusung “self ignition” yang memanfaadcan panas kompresi yang sangat tinggi untuk membakar solar yang telah diinjeksi ke ruang bakar. Itulah yang menyebabkan beban kerja pada mesin diesel cukup berat. Oleh karena itu, dibutuhkan pelumas mesin dengan viskositas cukup stabil, yang mampu bertahan pada suhu dan tekanan tinggi. Tak hanya itu, pelumas mesin diesel berkualitas biasanya memiliki aditif penetra! asam sulfur (TBN) serta deterjen untuk membilas kotoran yang timbul agar tidak berubah menjadi kerak. Menggunakan campuran pelumas pada saat mengganti pelumas juga dapat membantu meningkatkan kualitas serta usia pakai pelumas. Pada bahan bakai jenis solar, terdapat zat yang menimbulkan dampak buruk terhadap mesin, yaitu sulfur. Oleh karena itu, memilih solar dengan kualitas lebih tinggi dapat meminimalkan kandungan sulfur. Di sinilah peran filter solar mencegah air dan kotoran masuk ke ruang bakar. Mengganti filter solar secara rutin akan membuat mesin diesel Anda bekerja maksimal. Biasanya, pengemudi disarankan untuk memeriksa filter solar secara rutin dengan maksimum pemakaian 15.000 kilometer. Bagian injektor pun kinerjanya harus senantiasa baik, dikarenakan injektor mesin diesel tekanan injeksinya harus besar karena akan disemprotkan pada saat piston sedang berada pada tingkat kompresi cukup tinggi.
Minyak kelapa sawit
Saat ini, penggunaan bahan bakar dicampur dengan kandungan minyak kelapa sawit sebesar 20 persen atau disebut biodiesel B-20 sudah mulai digunakan secara masif sehingga nantinya dapat mengurangi ketergantungan akan bahan bakar fosil serta meningkatkan komoditas kelapa sawit nasional. Namun, di sisi lain, seperti kadar air yang tinggi, titik beku yang tinggi, serta deposit kotoran, dapat memengaruhi performa mesin diesel. Hal ini tidak menjadi masalah besar bila Anda dapat lebih cermat dalam merawat kendaraan. Misalnya, menggunakan campuran bahan bakar untuk meningkatkan kualitas dari biodiesel pada mobil Anda. Untuk menjaga serta merawat mesin diesel berada pada performa puncak, terdapat beberapa hal sederhana yang bisa Anda lakukan, yaitu menggunakan produk berkualitas dari STT, yang bisa dijadikan pilihan tepat untuk melindungi mesin diesel Anda. STT Synthetic Diesel Oil 15W-40 dengan kategori API Service CI-4 dapat Anda gunakan pada mobil kesayangan Anda. Pelumas ini dilengkapi dengan teknologi tropical formula yang diperkaya dengan zat aditif pelumas \’terkini, yang tepat untuk penggunaan di daerah Odifn tropis. Oli ini lebih tahan panas akibat gesekan mesin terus-menerus. Pelumas berkualitas ini memiliki daya tahan pelumasan yang optimal, serta TBN tinggi yang dapat membantu menetralkan sulfur serta menjaga oli dari perusakan dini. Detcrgent-dispersants yang terkandung di dalamnya dapat membantu mencegah pembentukan deposit seperti lumpur/sludge, tar, dan varnish. Selain itu, mengurangi keausan sehingga mesin lebih awet dan hemat bahan bakar. Sementara itu, untuk meningkatkan kualitas pelumas, campurkan STP Diesel Oil Treatment dengan pelumas mesin diesel Anda. Cairan ini dapat membantu mengurangi keausan pada torak dan dinding silinder, meningkatkan usia pakai pelumas mesin diesel, serta menetralkan kadar sulfur di oli. Dan, untuk sistem injektor, Anda dapat menambahkan STP Diesel Fuel Treatment and Injector Cleaner pada bahan bakar solar.

Kumparan | Sabtu, 23 November 2019
Musi Banyuasin Kebut Pembangunan Pabrik Pengelolaan Sawit Jadi Biofuel
Bupati Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Dodi Reza Alex Noerdin, terus mencarikan solusi untuk memperbaiki kesejahteraan petani kelapa sawit di daerah tersebut. Salah satunya dengan merealisasikan pembangunan pabrik Industri Palm Oil dan Crude Palm Oil (IPO-CPO) yang akan menghasilkan bahan bakar nabati berupa biofuel. Bupati Musi Banyuasin, Dodi Reza Alex Noerdin, mengatakan setelah melaksanakan MoU dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk pengelolaan Tandan Buah Segar (TBS) menjadi biofuel atau bahan bakar nabati, kini pihaknya fokus untuk merealisasikan pembangunan proyek strategis berupa pabrik IPO dan CPO. “Hal ini juga selaras dengan pemerintah daerah dalam mengembangkan kawasan industri hijau,” katanya, Sabtu (23/11). Dodi bilang, perencanaan pembangunan pabrik IPO dan CPO akan difinalkan pada awal Desember 2019 dan pada awal 2020 pembangunan dimulai dan untuk lokasi yang sudah di survei yakni di Kecamatan Sungai Lilin. “Untuk pembangunan diprediksi akan memakan waktu satu tahun sehingga awal 2021 operasional pabrik sudah dimulai,” katanya. Menurutnya, ada beberapa skema yang telah disusun untuk realisasi dan pengelolaan pabrik CPO dan IPO di Musi Banyuasin, dan nantinya diprediksi akan menyentuh nilai investasi yang cukup besar. “Nantinya, dalam realisasi pembangunan pabrik ini akan melibatkan secara langsung petani sawit yang ada di Musi Banyuasin,” katanya. Sekretaris Daerah, H Apriyadi, mengatakan pemerintah daerah optimis realisasi proyek IPO dan CPO ini akan mengangkat kesejahteraan petani, sekaligus menjadi jalan keluar dari keterpurukan harga sawit yang selama ini anjlok. “Kami akan support total, tentu proyek ini tidak mudah namun kita optimis kita telah mendapatkan dukungan beberapa Kementerian terkait dan yang paling penting ini merupakan harapan dari Presiden RI, Joko Widodo,” katanya. Tim Pembangunan Pabrik Industri Palm Oil dan Crude Palm Oil (IPO-CPO), Dr IGBN Makertihartha, mengatakan realisasi pembangunan pabrik IPO dan CPO di Musi Banyuasin dapat mendorong kesejahteraan petanni sawit dan dapat menjadi proyek industri percontohan di Indonesia. Menurutnya, hasil turunan produksi pabrik IPO juga akan menghasilkan bahan bakar nabati berupa biofuel, avtur hijau, dan gasoline yang kualitasnya di atas bahan bakar minyak pada umumnya. “Jadi, pemanfaatan TBS di Musi Banyuasin nantinya dapat terserap dengan baik dan sangat menguntungkan,” katanya.
https://kumparan.com/urbanid/musi-banyuasin-kebut-pembangunan-pabrik-pengelolaan-sawit-jadi-biofuel-1sJ9LpzfZ4U

Investor Daily Indonesia | Sabtu, 23 November 2019
GIMNI Sarankan Jelantah Jadi Bahan Baku Biodiesel
Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mengusulkan kepada pemerintah untuk menjadikan minyak jelantah sebagai alternatif bahan baku biodiesel. Selain suplainya melimpah, harga minyak jelantah juga jauh lebih murah ketimbang minyak sawit mentah {crude palm oil/CPO). Jelantah adalah minyak goreng sisa atau minyak bekas dipakai untuk menggoreng. Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga menilai penggunaan minyak jelantah bisa dijadikan alternatif bahan baku biodiesel. Harga minyak jelantah jauh lebih murah dan bisa dijadikan alternatif jika harga CPO mengalami kenaikan. Jelantah merupakan minyak goreng bekas yang sudah diolah kembali sehingga jauh lebih ekonomis. “Minyak jelantah merupakan alternatif paling tepat sebagai bahan baku biodiesel, jelantah gampang didapatkan,” ujar dia di Jakarta, kemarin. Sahat Sinaga menjelaskan, bahan baku utama biodiesel saat ini adalah CPO yang harganya tidak menentu dan bisa mencapai Rp 6.700 per liter, sementara harga minyak jelantah mencapai Rp 3.000 per liter. GIMNI mendukung penuh kebijakan biodiesel dari pemerintah, karena kebijakan itu bisa menurunkan defisit neraca perdagangan. “Kami dukung penuh kebijakan biodiesel, untuk itu pemerintah juga harus bisa mencari alternatif bahan baku selain CPO. Sejauh ini, yang paling tepat memang minyak jelantah,” ungkap Sahat Sinaga. Untuk itu, kata Sahat Sinaga, pemerintah sebaiknya mulai membuat regulasi turunan terkait penyulingan minyak jelantah. Di sisi lain, di setiap daerah harus dipastikan ada penge-pul minyak jelantah dari hotel dan restoran untuk kemudian disalurkan kepada industri biodiesel. “Tidak ada yang salah dalam penggunaan minyak jelantah, asalkan pengaturannya tepat maka bisa mendukung industri biodiesel di Tanah Air,” jelas Sahat Sinaga. Sementara itu, GIMNI juga mendukung kebijakan yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan (Kemend-ag) yang mengajak pengusaha agar mengisi pasar dengan minyak goreng kemasan sederhana. Kebijakan itu membuat konsumen lebih terlindungi karena minyak aman dikonsumsi. Pengusaha siap menjalankan aturan tersebut dengan menjual sesuai ketentuan harga eceran tertinggi (HET) yaitu Rp 11 ribu per liter. “Kebijakan yang dikeluarkan Kemendag soal minyak goreng itu positif untuk keamanan konsumen dan GIMNI mendukungnya,” ujar dia. Dengan adanya kebijakan minyak goreng dalam kemasan itu membuat industri sawit dan turunannya lebih berdaya saing.
Biodiesel Rakyat
Sementara itu, Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Ramah Lingkungan Kota Tarakan, Kalimantan Utara, telah mampu berinovasi dengan mengolah minyak jelantah atau limbah minyak goreng menjadi sumber energi terbarukan yakni biodiesel. “Saat ini sudah mampu produksi 50 liter biodiesel per bulan, baik untuk B20 maupun B50,” kata Sardji Sarwan, Ketua KSM Ramah Lingkungan, seperti dilansir Antara, di Kampung VI Kota Tarakan, kemarin. KSM Ramah Lingkungan semula dibentuk sebagai depo bank sampah warga pada 2008. Ada sekitar 895 rumah atau 1.300 Kepala Keluarga (KK) dari 13 Rukun Tetangga (RT) Kampung VI Tarakan yang dilayani Sardji bersama sembilan orang anggotanya. Biodiesel yang dibuat berbahan dasar minyak jelantah dengan campuran bioetanol dari limbah rumput laut dan soda api, biodiesel KSM Ramah Lingkungan justru menyelamatkan lingkungan. “Seperti yang kita ketahui minyak jelantah bila dibuang dapat merusak tanah dan air, sedangkan limbah rumput menyebabkan polusi udara,” kata Sardji yang juga pensiunan pegawai Pertamina EP Bunyu ini. Sardji sempat bimbang setelah dari studi bandingnya ke Bogor, Jawa Barat, ternyata harga mesin untuk mengolah minyak jelantah tersebut mencapai Rp 200 juta per unitnya. Akhirnya ia memutuskan untuk membuat sendiri instalasi pengolahan minyak jelantah tersebut dengan dukungan dari Pertamina EP Tarakan Field. Dengan mendesain sendiri alat tersebut, Sardji hanya menghabiskan dana Rp 60 juta. “Biaya segitu sudah dapat empat alat yaitu untuk pengolahan biomassa, biogas, bioetanol, dan biodiesel,” katanya. Untuk bahan bakunya, Sardji mendapatkan minyak jelantah dari warga sekitar Kampung VI Tarakan dengan cara barter. Setiap 5 liter jelantah ditukar dengan 1 liter minyak goreng murni. Menurut dia, biodiesel produksi KSM Ramah Lingkungan setara dengan produk BBM Pertamina Dex. Bedanya biodiesel yang ia buat hanya butuh biaya Rp 8.000 per liter sehingga bisa dijual Rp 11 ribu per liter. Harga Pertamina Dex di SPBU bisa mencapai Rp 11.700-11.800 per liter.

Tempo | Senin, 25 November 2019
Siap Memproduksi 12 Juta Ton PerTahun
PEMERINTAH optimistis mampu mewujudkan program B30 pada Januari 2020. Saat ini ada 26 produsen biofuel yang siap memenuhi pasokan bahan bakar campuran itu. Kapasitas produksi terpasang dari seluruh perusahaan itu mencapai 12 juta ton per tahun.

Jawa Pos | Senin, 25 November 2019
MENJAGA PERFORMA MESIN DIESEL SELALU MAKSIMAL
PENGGUNA mobil bermesin diesel pasti sudah mengetahui berbagai keunggulan seperti bandel dan iritnya bahan bakar. Terlebih, saat ini, banyak teknologi yang diaplikasikan pada mesin dengan bahan bakar solar, yaitu turbocharged, TDI, DI, intercooled, dan common rail. Namun, dengan berbagai teknologi yang terpasang di mesin diesel tersebut, apakah perawatannya tetap mudah atau jadi ribet? Hal yang paling menguntungkan dalam merawat mesin diesel adalah hanya berfokus pada bahan bakar dan udara yang masuk dalam mesin. Sebab, pada dasarnya, mesin diesel mengusung self ignition yang memanfaatkan panas kompresi yang sangat tinggi untuk membakar solar yang telah diinjeksi ke dalam ruang bakar. Itulah yang mengakibatkan beban kerja pada mesin diesel cukup berat. Jadi, dibutuhkan pelumas mesin dengan viskositas yang cukup stabil yang mampu bertahan pada suhu serta tekanan yang cukup tinggi. Bukan hanya itu, pelumas mesin diesel berkualitas biasanya memiliki aditif penetral asam sulfur (TBN) serta detergen untuk mem-bilas kotoran yang timbul agar tidak berubah menjadi kerak di komponen mesin. Menggunakan campuran pelu- mas pada saat mengganti pelumas juga dapat membantu meningkatkan kualitas serta usia pakai pelumas. Pada bahan bakar jenis solar, ada zat yang menimbulkan dampak buruk terhadap mesin, yaitu sulfur. Karena itu, memilih solar dengan kualitas yang lebih tinggi akan memastikan kandungan sulfur pada solar semakin rendah. Di sinilah peran filter solar pada mesin diesel mencegah air dan kotoran memasuki ruang bakar. Mengganti filter solar secara rutin akan membuat mesin diesel Anda bekerja dengan maksimal. Biasanya, pengemudi disarankan untuk memeriksa filter solar secara rutin dengan maksimum pemakaian 15.000 km. Pada bagian injector, kinerjanya harus senantiasa baik. Pada injector mesin diesel, tekanan injeksinya harus besar karena akan disemprotkan pada saat piston sedang berada pada tingkat kompresi yang cukup tinggi. Karena itu, jika terdapat sumbatan pada injector, tekanan injeksi dan volume bahan bakar yang disemprotkan ke ruang bakar akan terganggu. Selain itu, dapat berakibat pada semprotan injector yang tidak sama di setiap silinder sehingga suplai bahan bakar ke tiap silinder tidak sama dan mengakibatkan ketidakseimbangan. Saat ini, penggunaan bahan bakar yang dicampur dengan kandungan minyak Kelapa Sawit sebesar 20 persen atau disebut biodiesel B-20 sudah digunakan hampir secara menyeluruh sehingga penggunaan biodiesel di Indonesia nanti dapat mengurangi ketergantungan akan bahan bakar fosil serta dapat meningkatkan komoditas Kelapa Sawit di tanah air. Namun, kadar air yang tinggi, titik beku yang tinggi, serta deposit kotoran dapat memengaruhi performa mesin diesel. Namun, hal tersebut tidak menjadi masalah besar jika Anda lebih teliti dalam merawat kendaraan seperti menggunakan campuran bahan bakar untuk meningkatkan kualitas dari biodiesel yang digunakan. Untuk menjaga serta merawat mesin diesel agar performanya senantiasa maksimal, ada beberapa hal sederhana yang bisa Anda lakukan. Yaitu, menggunakan produk berkualitas dari STP yang bisa Anda jadikan pilihan untuk melindungi mesin diesel Anda. Untuk penggantian pelumas mesin diesel, STP synthetic diesel oil dengan varian pelumas mesin diesel kendaraan 15W-40 dan kategori API Service CI-4 telah dilengkapi dengan teknologi tropical formula yang diperkaya dengan zat aditif pelumas terkini yang sangat tepat untuk penggunaan di daerah iklim tropis sehingga lebih tahan panas akibat gesekan mesin terus-menerus. Selain itu, daya tahan pelumasan tetap sempurna, TBN tinggi mampu menetral-kan sulfur serta menjaga oli dari perusakan dini, detergent-dispersants yang mencegah pembentukan deposit seperti lumpur/s/udge, tar, dan varnish, serta mengurangi keausan sehingga mesin lebih awet serta hemat bahan bakar. Sementara itu, untuk meningkatkan kualitas pelumas, Anda dapat mencampurkan STP diesel oil treatment dengan pelumas mesin diesel Anda. STP diesel oil treatment dapat membantu mengurangi keausan pada torak dan dinding silinder, meningkatkan usia pakai pelumas mesin diesel, serta menetralkan kadar sulfur di oli. Untuk sistem injector, Anda dapat menambahkan STP diesel fuel treatment and injector cleaner pada bahan bakar solar Anda. Campuran bahan bakar itu dapat membersihkan injector, mengikat dan membuang kadar air di dalam tangki solar, dan mencegah karat maupun korosi. Selain itu, dapat mengurangi asap dan polusi, menghemat bahan bakar, serta meningkatkan kualitas bahan bakar solar yang Anda gunakan.

Kontan | Jum’at, 22 November 2019
GIMNI desak pemerintah implementasikan minyak goreng wajib kemasan mulai Januari 2020
Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mendesak pemerintah menjalankan kewajiban minyak goreng kemasan mulai Januari 2020. Hal ini sesuai dengan mandat Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 09/2019 bahwa minyak goreng kemasan harus dimulai per 1 Januari 2020. Ketua Umum GIMNI Bernard Riedo mengatakan, industri yang tergabung dalam GIMNI mendukung kebijakan minyak goreng wajib kemasan mulai awal tahun depan. “Kami ikut arahan pemerintah namun dan tetap mendukung kebijakan minyak goreng kemasan yang higienis,” ujar Bernard Riedo dalam Seminar Minyak Goreng Kemasan Sederhana Halal dan Higienis, Kamis (21/11). Hadir dalam seminar ini antara lain Enggartiasto Lukita, Menteri Perdagangan periode 2016-2019, Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif GIMNI, MP Tumanggor, Ketua Umum APROBI, Kanya Lakshmi, Sekjen GAPKI, dan Suhanto, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag. Dalam kesempatan tersebut, Sahat mengapresiasi kerja Enggartiasto selama menjabat Menteri Perdagangan karena dapat mewujudkan program menyak goreng kemasan ini. “Saya sudah (ikuti) lima menteri, tetapi minyak goreng kemasan tidak berjalan. Barulah di era Pak Enggar minyak goreng kemasan bisa dijalankan,” tutur Sahat. Menurut Sahat, program minyak goreng kemasan merupakan momen besar bagi Indonesia untuk mengubah kebiasaan masyarakat, yang biasanya pakai curah untuk beralih lebih besar. “Jika tanggal 1 Januari 2020 dimulai, seharusnya Presiden (Jokowi) launching program ini. Dengan memakai minyak goreng kemasan maka biaya kesehatan (BPJS) dapat ditekan. Saran saya, program minyak goreng kemasan serius dibicarakan di kabinet sekarang,” pintanya. Ia melanjutkan, di masyarakat marak terjadi pemakaian minyak jelantah yang tidak diketahui asal usulnya. Apalagi pemerintah belum punya aturan mengenai minyak jelantah yang berbahaya bagi kesehatan. Itu sebabnya, Sahat meminta program minyak kemasan dijalankan awal tahun depan. Tidak lagi ditunda atau diundur waktunya. Penjualan minyak goreng curah di pasar retail mencapai 3,35 juta ton atau ekuivalen 3,38 miliar liter pada 2019. Jika program kemasan berjalan, maka butuh 10,71 miliar kantong plastik apabila dibungkus produsen migor. Ini artinya dibutuhkan 1.558 filling machine dengan kecepatan 800 pack/jam. Dalam kesempatan itu, Enggartiasto menyarankan kalangan industri aktif mempromosikan penggunaan minyak goreng kemasan. Tujuannya, masyarakat memahami pemakaian kemasan ini bermanfaat bagi kesehatan mereka, tidak sebatas kepentingan pemerintah atau pelaku usaha. “Kalangan pelaku industri dapat melibatkan perguruan tinggi dan stakeholder lainnya, sehingga minyak goreng kemasan dapat diterima dengan baik,” ucapnya. Sahat mengusulkan pemerintah mengoptimalkan merek Minyakkita yang sudah berjalan baik selama setahun terakhir ini. Produk Minyakkita dapat ditopang penghapusan PPn selama 12 bulan sehingga harga dapat bersaing dengan migor curah.
https://industri.kontan.co.id/news/gimni-desak-pemerintah-implentasikan-minyak-goreng-wajib-kemasan-mulai-januari-2020?page=all