+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Pertamina Mulai Salurkan B30 di Papua

Liputan6 | Kamis, 19 Desember 2019

Pertamina Mulai Salurkan B30 di Papua

Pertamina mulai menyalurkan B30 di wilayah Sorong Papua Barat, pada pertengahan Desember 2019. Unit Manager Communication, Relations, & CSR MOR VIII PT Pertamina (Persero), Brasto Galih Nugroho mengatakan,‎ penyaluran ini merupakan yang pertama dilakukan di wilayah Marketing Operation Region VIII dan secara bertahap akan mulai disalurkan pula ke seluruh Terminal Bahan Bakar Minyak (BBM) atau Fuel Terminal di wilayah Maluku–Papua hingga Januari 2020. Penyaluran produk BBM ramah lingkungan Biosolar B30 ini merupakan bagian dari pelaksanaan mandat Pemerintah untuk menyediakan dan menyalurkan bahan bakar Biosolar dengan kandungan 30 persen FAME atau minyak nabati dari kelapa sawit. “Sebanyak 4.600 Kilo liter (KL) Biosolar B30 telah dipasok ke Fuel Terminal Sorong sejak Selasa (10/12/2019) dan siap disalurkan ke konsumen retail dan industri di wilayah Sorong dan sekitarnya,” kata Brasto, di Jakarta, Kamis (19/12/2019). ‎Dia mengungkapkan, Pertamina telah menyalurkan biosolar B30 ke 16 lembaga penyalur yang disuplai dari Terminal BBM Sorong diantaranya tiga Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) reguler wilayah Kota Sorong, 4 SPBU Kompak atau mini wilayah Kabupaten Sorong, 3 SPBU Kompak wilayah Kabupten Maybrat, 3 SPBU Kompak wilayah Kabupaten Tambraw, dan 3 SPBU Kompak di wilayah Sorong Selatan.

Jadi Percontohan

Brasto menambahkan, implementasi penyaluran Biosolar B30 di wilayah Sorong nantinya akan menjadi acuan dalam memastikan mekanisme penerimaan, proses pencampuran, dan penyaluran ke lembaga-lembaga penyalur sehingga dapat diterapkan di Terminal BBM lainnya pada Januari 2020. Biosolar B30 merupakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan karena emisi gas buang yang memiliki tingkat pencemaran yang rendah tanpa mengurangi performa kendaraan. Selain itu, Biosolar B30 juga lebih efisien dalam penggunaan bahan baku minyak mentah. “Pertamina berharap agar masyarakat dapat memanfaatkan produk Biosolar B30 dan turut menjaga kelestarian alam melalui penggunaan bahan bakar yang ramah lingkungan,” tandasnya.

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4138194/pertamina-mulai-salurkan-b30-di-papua

Detik | Kamis, 19 Desember 2019

Ahok Diminta Jokowi Urusi B30, Said Didu: Kepala Divisi Juga Bisa

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan tugas utama kepada Komisaris Utama (Komut) PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok untuk menekan impor migas. Salah satu caranya dengan menggenjot pengembangan energi baru terbarukan seperti biodiesel 30% (B30). Menanggapi hal itu, mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu mengatakan bahwa tugas tersebut terlalu mudah untuk ditangani Ahok. “Ahok kan orang hebat, jangan dikasih pekerjaan yang ecek-ecek, dia kan orang hebat,” tutur Said dalam diskusi publik Pertamina Sumber Kekacauan, di restoran Pulau Dua, Jakarta, Kamis (19/12/2019). Menurut Said, program B30 dapat diselesaikan dengan jabatan sekelas kepala divisi, bahkan untuk direksi pun terlalu mudah. “Kasih tugas yang berat dong, jangan B30. Itu bisa kepala divisi paling tinggi, bahkan bukan direksi. Kalau kerjaan mudah nanti malah ngantuk dia terus tidur,” kata Said. Sebelumnya, Ahok menjelaskan, pertemuan dengan Presiden Jokowi membahas mengenai penyelesaian defisit alias tekor neraca perdagangan yang disebabkan oleh impor minyak dan gas (migas) serta produk petrokimia. Hal tersebut diungkapkannya usai bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (9/12/2019). Pada saat pertemuan, Ahok mengatakan Nicke Widyawati selaku Bos Pertamina sudah menjabarkan apa saja yang akan dilakukan ke depannya. Mulai dari implementasi program mandatori biodiesel 30 persen (B30) sebagai bahan campuran BBM solar.

https://finance.detik.com/energi/d-4828906/ahokdiminta-jokowi-urusi-b30-said-didu-kepala-divisijuga-bisa

Info Sawit | Kamis, 19 Desember 2019

Rapot Biru BPDP Kelapa Sawit

Sejak dibentuk pada pertengahan tahun 2015 sampai saat, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) telah berhasil melakukan dukungan dana pada berbagai program pemerintah, antara lain, penyaluran dana dukungan program biodiesel. Penyaluran ini, selain dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia kepada impor minyak solar dan minyak mentah, juga merupakan instrumen kebijakan pemerintah untuk menciptakan stabilitas harga tandan buah segar (TBS) di dalam negeri. Dengan kemampuan untuk menyerap kelebihan CPO di pasar domestik, program biodiesel telah mendorong keseimbangan pasar menuju tingkat harga yang lebih baik dibandingkan periode sebelum BPDPKS didirikan. Sejak tahun 2015 sampai dengan saat ini, program biodiesel telah mempertahankan tingkat harga CPO rata-rata di atas US$ 550/ton. BPDPKS juga aktif mendukung dana untuk persiapan program pencampuran biodiesel ke diesel 30% (B30) di awal tahun 2020, seperti, untuk keperluan uji coba mesin dan bahan bakar biodiesel, dan sosialisasi program biodiesel kepada masyarakat. Program yang tidak kalah penting dalam mempertahankan komoditas utama di Indonesia ini adalah program peremajaan sawit rakyat (PSR) untuk meningkatkan produktivitas kebun swadaya, dan memenuhi permintaan minyak nabati dunia yang diproyeksikan akan terus meningkat. Untuk mensukseskan program PSR itu, BPDP-KS turut memberikan dukungan bantuan dana sebanyak Rp 25 juta per hektar per petani. Sampai dengan bulan November 2019 dana PSR telah tersalur sebesar Rp 2,4 triliun dengan luasan lahan sebesar 98.869 hektar dan melibatkan 43.881 pekebun yang tersebar di 21 provinsi dan 106 kabupaten di Indonesia. Pencapaian tersebut meningkat drastis pada tahun 2019, mencapai 622% dibandingkan tahun 2018. Hal itu disebabkan oleh adanya penyempurnaan proses bisnis dukungan dana peremajaan, antara lain, penyederhanaan proses yang semula terdiri dari 14 persyaratan namun kini menjadi 8 persyaratan. “Selain itu, untuk memberi akses yang lebih luas kepada para petani yang membutuhkan dana peremajaan, sejak pertengahan tahun 2019 telah diluncurkan program aplikasi Peremajaan Sawit Rakyat On-line (PSR On-line),” kata Direktur Utama BPDP-KS, Dono Beostami dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Kamis (19/12/2019). BPDP-KS juga memberikan dukungan untuk kemajuan industri sawit secara nasional di sektor penelitian dan pengembangan. Penelitian dan pengembangan berperan sangat besar dalam memastikan industri sawit Indonesia untuk terus berinovasi dan berkreasi untuk mengimbangi peningkatan permintaan dan tuntutan industri yang berkelanjutan dari pasar dunia. Pada tahun 2019 telah tersalurkan dana untuk penelitian dan pengembangan sebesar Rp 98,4 miliar. Jumlah tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan 2018 dengan realisasi penyaluran yang mencapai Rp 48,9 miliar.

https://www.infosawit.com/news/9554/rapot-biru-bpdp-kelapa-sawit