+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Pertamina Olah CPO Jadi Gasolin

Media Indonesia | Jum’at, 28 Desember 2018

Pertamina Olah CPO Jadi Gasolin

Pertamina telah berhasil memasuki babak baru dalam pengolahan minyak mentah menjadi bahan bakar minyak atau gasolin. Hal itu ditandai dengan keberhasilan mereka mengolah minyak mentah kelapa sawit menjadi green fuel atau bahan bakar ramah lingkungan. Direktur Pengolahan Pertamina Budi Santoso Syarif di Jakarta, kemarin, menjelaskan pengolahan CPO dilakukan di Residual Fluid Catalytic Cracking Unit (RFCCU) Kilang Pertamina Plaju. Palembang. Sumsel, yang berkapasitas 20 mbsd. Sejak awal Desember 2018, Refinery Unit (RU) III Plaju telah mampu mengolah crude palm oil (CPO) menjadi green gasoline dan green LPG dengan teknologi co-processing. Teknologi itu menggabungkan sumber bahan bakar alami dengan sumber bahan bakar fosil untuk diproses di dalam kilang sehingga menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan. CPO yang digunakan ialah jenis yang telah diolah dan dibersihkan getah serta baunya atau dikenal dengan nama RBDPO (refined bleached deodorized palm oil).

RBDPO kemudian dicampur dengan sumber bahan bakar fosil di kilang dan diolah dengan proses kimia sehingga menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan. “Pencampuran langsung CPO dengan bahan bakar fosil di kilang ini secara teknis lebih sempurna dengan proses kimia sehingga menghasilkan baharf bakar bensin dengan kualitas lebih tinggi karena nilai oktan mengalami peningkatan,” ujar Budi. Hasil implementasi co-processing tersebut telah menghasilkan green gasoline octane 90 sebanyak 405 mb/bulan atau setara 64.500 kiloliter/bulan, dan produksi green LPG sebanyak 11.000 ton perbulan. “Upaya ini sangat mendukung pemerintah dalam mengurangi penggunaan devisa. Pertamina akan bisa menghemat impor crude sebesar 7,36 ribu barel per hari atau dalam setahun menghemat hingga US$160 juta,” katanya. Budi mengatakan pengolahan CPO secara co-processing di kilang telah memberikan kontribusi positif bagi perusahaan dan negara. Langkah tersebut akan diikuti di kilang lainnya, yakni di RU Cilacap, Balongan, dan Dumai, serta akan diperluas untuk jenis bahan bakar lainnya, baik green diesel (solar) maupun green avtur. Pertamina bahkan sudah melakukan riset untuk menciptakan katalis buatan dalam negeri yang dapat digunakan untuk proses tersebut. Yang menjadi tantangan bagi Pertamina untuk terus memproduksi green gasoline ialah pasokan CPO yang digunakan. Saat ini, rantai pasokan bagi CPO untuk kebutuhan Pertamina belum tersedia 100% sehingga keberlan-jutannya masih menunggu kepastian pasokan CPO.

Campuran 100%

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mendorong Pertamina untuk bisa memproduksi bahan bakar minyak yang berasal dari minyak sawit. Hal itu penting agar sawit yang saat ini menjadi salah satu komoditas unggulan Indonesia dapat terserap dan tidak sepenuhnya bergantung pada pasar ekspor. Terkait dengan harapan Presiden Jokowi itu, guru besar ITB Subagjo memaparkan bahwa ITB bekerja sama dengan Pertamina telah menguji coba pemanfaatan 100% CPO untuk menjadi BBM. Saat ini uji laboratorium telah dilakukan dan akan diikuti uji produksi. Yang paling dekat dilakukan saat ini ialah mengolah minyak kelapa sawit menjadi green avtur. Diperkirakan, pada September tahun depan uji coba dapat terealisasi di kilang Cilacap. Campurannya ialah minyak kernel dengan kerosin.

Proses Pengolahan Kelapa Sawit

Implementasi Pengolahan Bahan Bakar Sawit 1. Pengolahan sawit menjadi bahan bakar akan meningkalkan pemanfaatan sawit dan kesejahteraan petani sawit. 2. Pertamina mampu mengolah minyak sawit meniadi bahan bakar terbarukan (green gasoline green LPG). 3. Mengolah sawit menjadi bahan bakar memiliki tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang tinggi karena sawit berasal dari dalam negeri (bukan impor). 4 Mengurangi defisit transaksi negara Transaksi dalam rupiah karena sawit ialah bahan baku domestik sehingga mengurangi defisit anggaran negara. 5. Penggunaan minyak sawit sebagai sumber bahan bakar akan meningkatkan ketahanan energi nasional. 6. Pengolahan sawit akan memberi impact berupa penurunan konsumsi crude dengan penghematan yang signifikan. 7. Pengolahan minyak sawit menjadi bahan bakar secara ekonomis membutuhkan dukungan pemerintah

Indo Pos | Jum’at, 28 Desember 2018

Uji Coba Avtur Hijau CPO

PT Pertamina (Persero) bakal melakukan uji coba komersial produksi ba-han bakar minyak avtur hijau (green avtur) dari minyak inti kelapa sawit (kernel oil) pada September 2019. Produksi dilakukan menggunakan sistem pengolahan bersama di Kilang Cilacap, secara roses tidak terlalu rumit. “Ya, biji kelapa sawit diolah menjadi kernel lalu diolah dan dicampur bersama kerosone sehingga menjadi green avtur,” tutur Direktur Pengolahan Pertamina Budi Santoso Syarif di Jakarta, Kamis (27/12). Berdasar kajian Pertamina, pencampuran 10,4 ribu barel stream per hari (MBSD) kerosene dengan 2,6 MBSD minyak inti sawit akan menghasilkan 11,7 MBSD avtur hijau. Produksi avtur hijau sejalan dengan langkah pemerintah mengurangi defisit neraca perdagangan, melalui penurunan impor minyak atau produk minyak. Saat ini, kelapa sawit merupakan komoditas paling banyak diproduksi di Indonesia. Namun, industri itu menghadapi tantangan permintaan karena kampanye hitam dilakukan dunia internasional. Dengan produksi avtur hijau, Pertamina dapat menyerap produksi minyak sawit dalam negeri.

Berdasar kajian bersama Institut Teknologi Bandung (ITB), campuran kernel yang diperlukan untuk memproduksi green avtur berkisar 15-25 persen. Sebetulnya, saat ini tengah mengembangkan katalis untuk membantu memecah minyak inti kelapa sawit bisa menjadi avtur. Secara struktur kimia, minyak sawit seperti struktur hydrocarbon pada minyak tetapi masih memiliki unsur karbondioksida (CO2). Maka itu, proses konversi dilakukan dengan menghilangkan unsur oksigen (hydrodeoksigenasi). “Minyak inti sawit kalau diproses dengan hydrodeoksigenasi dan isomerisasi bisa menjadi bioavtur,” tutur Guru Besar ITB Bidang Teknologi Reaksi Kimia dan Katalis Subagio. Katalis diproduksi di dalam negeri itu telah tersedia untuk skala penelitian laboratorium. Namun, lanjut Subagjo, uji coba dengan menggunakan unit pengolahan komersial Pertamina menjadi avtur hijau baru akan dilakukan tahun depan. Sejatinya, sejak awal Desember 2018, Refinery Unit (RU) III Plaju telah mampu mengolah Crude Palm Oil (CPO) menjadi green gasoline (bahan bakar ramah lingkungan) dan green LPG dengan teknologi co-processing. Teknologi itu menggabungkan sumber bahan bakar alami dengan sumber bahan bakar fosil untuk diproses di dalam kilang sehingga menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan.

CPO yang digunakan adalah jenis telah diolah dan dibersihkan getah serta baunya atau dikenal dengan nama RBDPO (refined bleached deodorized palm oil). RBDPO kemudian dicampur dengan sumber bahan bakar fosil di kilang dan diolah dengan proses kimia sehingga menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan. “Pencampuran langsung CPO dengan bahan bakar fosil di kilang ini secara teknis lebih sempurna dengan proses kimia, sehingga menghasilkan bahan bakar bensin dengan kualitas lebih tinggi karena nilai oktan mengalami peningkatan,” tambah Budi. Hasil implementasi co-processing itu telah menghasilkan Green Gasoline Octane 90 sebanyak 405 MB/bulan atau setara 64.500 kiloliter/bulan, dan produksi green LPG sebanyak 11 ribu ton per bulan. Pengolahan CPO secara co-processing di kilang telah berkontribusi positif bagi perusahaan dan negara. Inovasi anak bangsa itu telah diuji coba dan memberikan hasil membanggakan baik dari kualitas produk, hasil ramah lingkungan dan berpotensi mengurangi impor minyak mentah. “Tingkat kandungan dalam negeri atau TKDN sangat tinggi, karena CPO yang diambil bersumber dari dalam negeri, transaksi yang dilakukan dengan rupiah sehingga mengurangi defisit anggaran negara, serta hasil bahan bakar ramah lingkungan,” jelas Budi.

Republika | Jum’at, 28 Desember 2018

Produksi BBM Hijau Ditingkatkan

PT Pertamina akan memperluas jaringan produksi bahan bakar minyak (BBM) hijau (green fuel) atau BBM ramah lingkungan. Sejauh ini Pertamina berhasil memproduksi BBM hijau di Kilang Plaju. Mulai tahun depan, Pertamina akan mencoba melakukan mekanisme yang sama di Kilang Balongan, Cilacap, dan Dumai. Direktur Pengolahan Pertamina Budi Santoso Syarif menjelaskan, pengolahan yang dilakukan untuk membuat green fuel, yaitu mencampurkan kernel oil atau minyak inti kelapa sawit dengan minyak mentah, agar bisa langsung diolah menjadi avtur, diesel, elpiji dan BBM dengan oktan di atas 90. “Kita sekarang sudah menemukan katalis sebagai pemecah kernel oil sehingga ke depan kita bisa langsung memproduksi green fuel,” ujar Budi, Kamis (27/12). Katalis merupakan suatu zat yang dapat mempercepat dan mengarahkan reaksi kimia supaya menghasilkan produk yang diinginkan. Dengan katalis ini, minyak sawit bisa langsung diolah dengan minyak mentah menjadi BBM ramah lingkungan. Cara ini berbeda dengan pembuatan BBM campuran Biodiesel 20 persen (B-20) yang selama ini dilakukan pada tangki BBM. Pasalnya, BBM ramah lingkungan bisa langsung dilaksanakan di kilang Pertamina.

Dengan adanya produksi BBM hijau langsung dari kilang, penggunaan B-20 diharapkan bisa makin masif. Hal itu akan berdampak pada ketergantungan impor minyak mentah, terutama untuk solar dan avtur, yang selama ini membuat defisit neraca perdagangan. Langkah ini pun bisa membuat produksi sawit yang meningkat tiap tahun terserap maksimal, terlebih penjualan ke luar negeri makin seret. Budi mengatakan, pada 2019 Pertamina akan berupaya memaksimalkan kinerja dalam pemenuhan BBM hijau hingga ke tingkat konsumen. Untuk mendukung aksi ini, pemerintah diminta memperbaiki regulasi dan tata kelola kernel oil agar bisa langsung dipasok dari perusahaan sawit ke Pertamina sebagai perusahaan pengolah. Jika sistem tersebut sudah berjalan dengan kapasitas tiga kilang, potensi penghematan devisa bisa mencapai 500 juta dolar AS per tahun. “Kalau untuk Kilang Plaju saja sudah bisa hemat 160 juta dolar AS per tahun,” ujar Budi. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rida Mulyana, mengatakan, penerapan pengolahan minyak sawit di di tiga kilang akan berlangsung bertahap. Kilang Dumai akan mulai uji coba pengolahan minyak sawit pada Februari 2019, sedangkan di Kilang Balongan dilakukan April 2019. “Untuk di Kilang Dumai, rencananya akan menghasilkan solar ramah lingkungan (green gasoline),” ujar Rida. Sementara itu, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat M Sinaga yang juga ikut dalam diskusi ini mengatakan, pengolahan minyak sawit di Kilang Dumai nantinya akan diterapkan hingga loo persen. Dengan demikan, kilang akan murni mengolah sawit untuk kemudian menghasilkan solar ramah lingkungan Hal ini berbeda dengan Biodiesel yang masih menggunakan campuran minyak fosil. “Ini full 100 persen minyak sawit bisa langsung jadi diesel,” ujar Sahat.

Harian Kontan | Jum’at, 28 Desember 2018

Pertamina Siap Mengolah Energi Alternatif

Ikhtiar PT Pertamina (Persero) untuk menekan impor minyak terus bergulir. Perusahaan migas pelat merah ini menggenjot pengembangan energi ramah lingkungan. Salah satu strateginya, Pertamina akan mengolah minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) menjadi green gasoline (bahan bakar ramah lingkungan). Upaya tersebut ditempuh melalui kilang minyak atau refinery unit (RU) III Plaju dengan menggunakan teknologi co-processing. Teknologi itu juga dinilai mampu menggabungkan sumber bahan bakar alami dengan sumber bahan bakar fosil untuk diproses menjadi green LPG. Implementasi co-processing tersebut menghasilkan Green Gasoline Octane 90 sebanyak 64.500 kilo liter per bulan dan produksi green LPG sebesar 11.000 ton per bulan. Direktur Pengolahan PT Pertamina, Budi Santoso Syarif mengemukakan, upaya Pertamina mengembangkan energi hijau turut membantu pemerintah mengelola cadangan devisa. Bahkan hal itu bisa berkontribusi positif bagi perusahaan dan negara. “Pertamina bisa menekan impor minyak sebanyak 7.360 barel per hari (bph) atau dalam setahun menghemat hingga US$ 160 juta,” ungkap dia, Kamis (27/12). Budi bilang, proses pengolahan minyak sawit mentah dilakukan di fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking Unit (RFCCU) yang berlokasi di kilang Pertamina Plaju, berkapasitas 20.000 barel stream per hari. Adapun CPO yang digunakan adalah jenis yang telah diolah dan dibersihkan getah serta baunya atau dikenal dengan nama Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO).

Selanjutnya, RBDPO itu dicampur dengan sumber bahan bakar fosil di kilang dan diolah dengan proses kimia sehingga menghasilkan bahan bakar yang ramah lingkungan. Adapun pencampuran langsung CPO dengan bahan bakar fosil di kilang ini secara teknis lebih sempurna dengan proses kimia. “Sehinggameng-hasilkan bahan bakar bensin dengan kualitas lebih tinggi karena nilai octane mengalami peningkatan,” ungkap Budi. Namun Pertamina belum bisa memastikan kapan realisasi BBM beroktan tinggi dengan campuran RBDPO ini bisa dipasarkan secara komersial. Sebab, pengolahan ini masih terkendala supply chain RBDPO yang harus menunggu dari produsen sawit dan masih tahap uji coba. “Yang perlu kita bicarakan adalah supplay chain, sebab tergantung pada ketersediaan pasokan RBDPO. Jadi kalau ditanya realisasinya agak susah,” kata Budi.

Negara pertama

Selain di Plaju, uji coba serupa akan diikuti kilang lainnya, yakni di RU Cilacap, Dumai dan Balongan. Co-processing ini akan dikembangkan untuk bahan bakar jenis green gasoline, green diesel dan green avtur. Jika uji coba green gasoline dijadwalkan pada Desember 2018, maka green diesel dijadwalkan Februari 2019 dan green avtur pada September 2019. Apabila uji coba ini berhasil, menurut Budi, maka Indonesia menjadi negara pertama yang sukses memproduksi BBM dengan RBDPO langsung dari kilang. Alhasil, dengan adanya pengembangan energi ramah lingkungan ini, impor BBM diharapkan bisa ditekan. Jika upaya itu berjalan mulus, Pertamina bisa menghemat hingga US$ 500 juta per tahun. “Sehingga ini bisa mendukung pemerintah untuk ketahanan energi, nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih tinggi karena sawit bukan impor dan mengurangi defisit transaksi berjalan,” ungkap Budi. Berdasarkan data Kementerian ESDM, volume impor BBM Ron 92 per akhir November 2018 mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hingga 11 bulan di tahun ini, volume impor BBM jenis Pertamax sebesar 8,5 juta kl, lebih besar dibandingkan November 2017 yang sebanyak 6,6 juta kl. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, defisit di sektor migas masih menjadi penyumbang defisit neraca perdagangan terbesar pada November tahun ini.

Republika | Kamis, 27 Desember 2018

Pertamina Ubah CPO Jadi BBM Oktan Tinggi

PT Pertamina (Persero) akan segera merealisasikan proyek kilang pengolahan khusus green fuel. Kilang ini nantinya akan mengolah crude oil dengan tambahan senyawa turunan dari kelapa sawit yang langsung diolah dan menghasilkan bahan bakar yang ramah lingkungan. Berbeda dengan penerapan B20 atau Biodiesel 20 persen yang hanya melakukan pencampuran Fame dan minyak mentah di tangki BBM. Untuk green fuel ini pencampuran langsung dilakukan di kilang dengan minyak sawit murni. Direktur Pengolahan Pertamina Budi Santoso Syarif menjelaskan CPO yang digunakan adalah jenis yang telah diolah dan dibersihkan getah serta baunya atau dikenal dengan nama RBDPO (Refined Bleached Deodorized Palm Oil). RBDPO tersebut kemudian dicampur dengan sumber bahan bakar fosil di kilang dan diolah dengan proses kimia sehingga menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan. “Pencampuran langsung CPO dengan bahan bakar fosil di kilang ini secara teknis lebih sempurna dengan proses kimia, sehingga menghasilkan bahan bakar bensin dengan kualitas lebih tinggi karena nilai oktan meningkat,” ujar Budi, Kamis (27/12).

Hasil implementasi co-processing tersebut telah menghasilkan Green Gasoline Octane 90 sebanyak 405 MB per bulan atau setara 64.500 kiloliter (kl) per bulan dan produksi green LPG sebanyak 11 ribu ton per bulan. “Selama seminggu (uji coba) itu, secara skala pilot hanya mencapai lima persen, tapi ternyata dioperasikan 2,5 persen spesifikasinya memenuhi persyaratan. Sampai 7,5 persen pun seperti itu. Namun sampai 7,5 persen minyak sawit kita sudah habis. Makanya kita hentikan dan kemudian dievaluasi, hasilnya juga mengejutkan bahwa nilai Oktannya bisa naik satu, dari Oktan 90,3 ke 91,7,” paparnya. Oleh karena itu, Pertamina berencana melanjutkan percobaan tersebut hingga mencapai oktan yang diharapkan, yakni sebesar 92. “Itu baru di kilang Plaju. Kita punya kilang yang sama juga ada di Cilacap dan Balongan, nanti di ketiga balongan itu kita akan memasukkan kembali minyak nabati ke dalam kilang-kilang tersebut,” ujarnya.

https://republika.co.id/berita/ekonomi/migas/18/12/27/pke44y383-pertamina-ubah-cpo-jadi-bbm-oktan-tinggi

Katadata | Kamis, 27 Desember 2018

Penyerapan FAME Hingga Awal Desember di Bawah Target

Penyerapan minyak sawit (Fatty Acid Methyl Esters/FAME) sejak September hingga awal Desember 2018 masih di bawah target. Salah satu penyebabnya adalah distribusi yang kurang optimal. Data Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2018, menyebutkan penyerapan FAME dalam kurun waktu tiga bulan itu sekitar 3,03 juta kiloliter (KL) atau 87% dari target 3,9 juta KL. “Masih ada kendala seperti kondisi buruk yang membuat kapal pengangkut tidak bisa berlayar, “ kata Direktur Bioenergi Ditjen EBTKE, Adrian Febi Misna, kepada Katadata.co.id, Kamis (27/12). Febi pun tidak bisa memastikan penyerapan FAME hingga akhir tahun 2018. Ini karena dirinya tidak bisa memprediksi cuaca yang terjadi saat ini. Seperti diketahui, FAME tersebut akan disalurkan kepada beberapa badan usaha untuk dicampur dengan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar dalam rangka program B20. Salah satu badan usaha yang mendapatkan alokasi FAME adalah PT Pertamina (Persero) di sektor subsidi (Public Service Obligation/PSO) adalah sebanyak 1,91 juta KL. Lalu, PT AKR Corporindo Tbk., sebanyak 40.000 KL.

Selain itu, untuk nonsubsidi terdapat sebelas badan usaha penyalur BBM yang akan melakukan pencampuran biodiesel. Mereka adalah Pertamina sebesar 595.000 KL, AKR sebesar 120.800 KL, PT Exxonmobile Lubricants Indonesia sebesar 73.000 KL, PT Jasatama Petroindo sebesar 26.400 KL, dan PT Petro Andalan Nusantara sebesar 60.000 KL. Ada juga alokasi untuk PT Shell Indonesia sebesar 21.040 KL. Kemudian, alokasi PT Cosmic Indonesia sebesar 1.640 KL, PT Cosmic Petroleum Nusantara 4.309 KL, PT Energi Coal Prima 26.400 KL, PT Petro Energy 1.600 KL, dan PT Gasemas 10.000 KL. Sedangkan, untuk tahun 2019 target penyerapan FAME ditargetkan 6,2 juta liter. Dengan begitu bisa menghemat devisa mencapai US$ 3 miliar karena ada penurunan impor Solar. “Diharapkan 2019 dalam pelaksanan B20 penghematan devisa bisa lebih dari US$ 3 miliar,” kata Asisten Deputi Produktivitas Energi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Andi Novianto, di Jakarta, Rabu (5/12). Namun, Andi mengatakan target tersebut bisa tercapai jika tidak ada kendala dalam proses pendistribusiannya. Untuk itu, seluruh pihak terkait harus terus mendukung kebijakan ketahanan energi dari B20 ini.

https://katadata.co.id/berita/2018/12/27/penyerapan-fame-hingga-awal-desember-di-bawah-target