+62 2129380882 office@aprobi.co.id

PLN Uji Coba Bahan Bakar Sawit 100 Persen di Pembangkit

Harian Ekonomi Neraca | Jum’at, 16 Agustus 2019

PLN Uji Coba Bahan Bakar Sawit 100 Persen di Pembangkit

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) melakukan uji coba dengan beberapa mesin pembangkit dengan menggunakan 100 persen BBN jenis CPO atau sawit “Uji coba dengan CPO sudah kami lakukan diuji pada mesin MAK#1 dan MA-K#2,” kata Direktur Bisnis Regional Kalimantan PT PLN (Persero), Machnizon Masri, di Jakarta Convention Center, disalin dari Antara. Ia menjelaskan salah satu hasil ujinya adalah hasil pembakaran tidak sebaik dengan Biodiesel 20 persen atau B20. Kemudian, pasokan CPO untuk uji coba juga mengalami kendala yaitu kekurangan pasokan. Uji coba CPO tersebut dilakukan di Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Kanaan, Bontang. Untuk pasokan saat ini PLN tengah menyiapkan sebanyak 167 ton untuk nining test Pada kesempatan yang sama, Direktur Pengolahan PT Pertamina (Persero) Budi Santoso Syarif mengatakan program pemanfaatan bahan bakar nabati (BBN) dari olahan sawit berpotensi menghemat anggaran impor hingga 500 juta dolar AS per tahun. “Dari sawit, dapat menghasilkan minyak sebesar 8,7 juta ton per tahun, dan dari hasil minyak sawit tersebut mampu mengurangi BBM hingga 160 ribu barel per hari,” kata Budi Santoso pada seminar green energy di Jakarta.

Lebih lanjut ia menjelaskan, 160 ribu barel BBM per hari tersebut setara dengan penghematan 500 juta dolar AS. Saat ini, luas lahan sawit mencapai 14,3 juta hektare dengan sebesar 40,6 persennya dimiliki petani, sisanya BUMN dan perusahaan swasta. Pertamina sudah mampu mengolah sawit menjadi bahan bakar dengan pencampuran 30 persen ke dalam BBM menjadi biodiesel 30 persen atau B30. Selain itu pemanfaatan sawit yang berasal dari dalam negeri juga dapat meningkatkan ketahanan energi secara nasional.Dalam kesempatan yang lain, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar menyebutkan taha- nan uji coba bahan bakar B30 akan berakhir pada Oktober 2019. “B30 masih dalam uji coba nanti berakhir bulan Oktober,” kata Arcandra. Sementara itu, Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata Kementerian BUMN Edwin Hidayat Abdullah mengatakan bahwa PLN harus beranjak meninggalkan energi berbasis fosil atau konvensional. “Di negara lain konsep energi fosil sudah mulai ditinggalkan, nah ini harapan saya, PLN harus memiliki bahan bakar yang berasal dari Energi Baru dan Terbarukan (EBT),” kata Edwin di JCC, Jakarta, Rabu (14/8). Menurutnya, jika PLN masih belum memikirkan konsep bahan bakar yang terbarukan, akan selamanya PLN sulit mengendalikan biaya produksi. Sebab hingga saat ini tahan bakar yang digunakan adalah fosil atau berbasis minyak. Sedangkan, minyak saat ini juga masih banyak yang impor, sehingga harga jualnya ditentukan oleh pasar global di mana kendali bukan berada di PLN.

Rakyat Merdeka | Jum’at, 16 Agustus 2019

2021, Darmin Ingin Avtur CPO Sudah Bisa Digunakan

Penggunaan minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) sebagai ba-han bakar minyak (BBM) terus digenjot. Selain bio-solar, pemerintah sedang mengembangkan green avtur yang berasal dari CPO. Menko Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, green avtur atau avtur yang berasal dari CPO sudah dapat digunakan pada 2 hingga 2,5 tahun lagi atau sekitar tahun 2021. “Kalau avtur bisa segera, 2 sampai 2,5 tahun dari sekarang sudah bisa,” kata Darmin di Batam, Kepulauan Riau. Saat ini, kata Darmin, pemerintah terus mengembangkan pengolahan CPO menjadi berbagai jenis bahan bakar. Ke depan, dengan menggunakan avtur campur CPO, maka dapat menghemat biaya industri penerbangan hingga miliaran rupiah. Pemerintah juga telah membuat kesepakatan dengan pebisnis kelapa sawit dan pihak maskapai mener-bangan untuk pengembangan avtur dari CPO. “Nantinya pengembangan CPO tidak hanya biosolar dan avtur saja, bisa untuk bahan bakar lainnya,” tegas Darmin.

Sebelumnya, Presiden Jokowi sudah menginstruksikan agar minyak sawit atau CPO juga diolah menjadi bahan bakar berjenis “green avtur” (bahan bakar avtur yang ramah lingkungan). “Saya mendengar CPO ini juga bisa dibuat avtur. Tolong ini ditekuni lagi lebih dalam sehingga kalau itu bisa akan sangat menguntungkan. Khususnya mengurangi impor avtur, sehingga defisit ne- raca perdagangan, defisit neraca transaksi berjalan akan semakin baik,” kata Presiden. Jokowi juga meminta Pertamina untuk pemanfaatan CPO melalui \’coprocessing\’ guna memproduksi green diesel maupun green gasoline di sejumlah kilang minyak PT Pertamina. Dia juga mengarahkan perusahaan-perusahaan kelapa sawit dapat mendorong pemrosesan minyak sawit menjadi bahan bakar ramah lingkungan. “Itu penting semua untuk melaksanakan ini dan kita harapkan juga mempercepat perkembangan industri \’green refinery\’ kita,” jelas Presiden. Jokowi berharap penggunaan Biodiesel B20 pada Januari 2020 dapat berpindah ke B30. “Dan selanjutnya nanti di akhir 2020 sudah meloncat lagi ke B50,” kata Jokowi. Saat ini Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) sudah melaksanakan ujicoba penggunaan biodiesel 50 persen (B50) pada dua mobil bermesin diesel yang menempuh jalur lintas timur Sumatera dari Medan ke Jakarta selama tiga hari, dengan perjalanan sepanjang 2.300 kilometer. “Alhamdulillah lancar, mobil tidak mengalami hambatan apapun. Tapi saya tegaskan ini hasil sementara,” ujar Ketua Tim Road Test Biodiesel B50 PPKS Muhammad Ansori Nasution. Berdasarkan hasil tes, mobil yang menggunakan B50 lebih responsif. Sementara, konsumsi bahan bakar, mobil uji yang menggunakan B50 sedikit lebih boros jika dibandingkan mobil yang menggunakan B20.

Republika | Jum’at, 16 Agustus 2019

Pemkot Bogor Olah Sampah Jadi Biodiesel

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor melanjutkan pembahasan dengan perusahaan pengelola sampah plastik menjadi energi biodiesel asal Inggris, yaitu Plastic Energy Limited. Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengatakan, pihaknya segera bertemu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor untuk memenuhi persyaratan yang diinginkan perusahaan yang bermarkas di London itu. Saat berkunjung ke Inggris pada 21-24 Juli 2019, Bima yang diajak Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil melakukan pertemuan dengan pimpinan Plastic Energy Limited. Kedua pihak kala itu menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk membangun pengolahan sampah plastik menjadi biodiesel di tempat pembuangan akhir (TPA). Menurut Bima, kerja sama itu akan berjalan lancar kalau pemkot menggandeng pemkab dalam menyuplai ketersediaan sampah. “Untuk pemerintah kota menyiapkan lahan dan memastikan jumlah volume plastik. Minimal berapa, mereka (yang menentukan) dan berinvestasi,” ujar Bima di Kota Bogor, Kamis (15/8). Dia menjelaskan, kerja sama yang sudah disepakati memerlukan persiapan matang. Karena itu, kebutuhan sampah plastik per hari yang diminta Plastic Energy Limited dapat terpenuhi. “Kita perlu memastikan berapa jumlah sampah plastik yang bisa dikirim, baik dari kota maupun kabupaten,” kata Bima.

Dia menuturkan, pembangunan pengelola sampah plastik menjadi energi biodiesel memerlukan lahan luas. Karena itu, pihaknya memilih TPA Galuga, Kabupaten Bogor, sebagai pilihan pertama untuk dikembangkan. Saat ini TPA Galuga memiliki luas sekitar 42 hektare dan lebih mudah diperluas daripada mendirikan TPA baru. Bima melanjutkan, pemkot bisa saja memilih Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Nambo menjadi lokasi alternatif yang disepakati. Karena dua lokasi itu berada di Kabupaten Bogor, dia menambahkan, mau tidak mau penentuan lahan membutuhkan kesepakatan dengan pemkab. Jika pembahasan tersebut tuntas, menurut Bima, pembangunan pengolahan sampah plastik menjadi biodiesel dapat dimulai pada 2020. “Saya sudah sampaikan dengan Ibu Bupati (Ade Munawaroh Yasin). Intinya, nanti akan dibicarakan titiknya di mana, apakah di Galuga apa di Nambo,” tuturnya. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor menyatakan kerja sama dengan Plastic Energy Limited akan memberi dampak positif. Kepala DLH Kota Bogor Elia Buntang menyebut, keuntungan kerja sama dengan perusahaan Inggris itu adalah tidak menggunakan dana APBD sedikit pun. “Ini solusi yang betul-betul bisa menyelesaikan persoalan kita, tanpa kita mengeluarkan APBD,” ujar Elia. Jika pembangunan segera terealisasi, menurut Elia, permasalahan sampah yang tidak dapat diolah dapat teratasi. Plastik yang selama ini hanya menjadi tumpukan di Galuga dan Nambo, kata dia, dapat didaur ulang. “Apalagi, kami minta itu, bisa gak mengelola sampah plastik yang bertahun-tahun, diiyakan (sama mereka), justru itu kalau akan membantu menyesuaikan sampah di TPS juga,” tutur Elia. Dia mengungkapkan, Plastic Energy Limited meminta pemkot menyediakan sekitar 100 ton sampah plastik. Saat ini, berdasarkan data DLH, peredaran sampah plastik di Kota Bogor menyentuh angka 70 ton sampah plastik per hari. Karena itu, kebutuhan 100 ton yang diminta Plastic Energy Limited dapat memangkas habis sampah plastik di wilayahnya dan sisanya dipenuhi dari kabupaten.

Investor Daily Indonesia | Jum’at, 16 Agustus 2019

B30 Mampu Hadapi Cuaca Ekstrem

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan uji coba penggunaan pencampuran biodiesel 30% (B30) telah mencapai 50%. Hal itu ditandai dengan lulus uji di cuaca dingin ekstrim yang dilakukan terhadap 6 unit Toyota Innova Diesel. Biodiesel 30% atau B30 merupakan bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar yang dicampur dengan bahan bakar nabati sebanyak 30%. Jenis bahan bakar ini merupakan program lanjutan dari sebelumnya yakni biodiesel 20% (B20). Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral (Balitbang ESDM) Dadan Kus-diana mengatakan, pengujian B30 ditargetkan mencapai 90% pada pertengahan September nanti. Hasil serangkaian tes tersebut kemudian disampaikan kepada pemerintah sebagai pertimbangan dalam penerapan di 2020 mendatang. Serangkaian uji coba B30 sudah dimulai sejak awal Juni kemarin. “Uji B30 ini sudah setengah jalan. Dengan hasil tes pada hari ini kami optimis B30 bisa diterapkan,” kata Dadan ditemui usai pengujian di Dieng, Rabu (14/8).

Investor Daily berkesempatan menyaksikan langsung pengujian B30 yang berlangsung di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Adapun tes yang dilakukan yakni uji start ability guna mengetahui kemampuan kendaraan untuk dinyalakan setelah didiamkan (soaking) selama beberapa hari pada kondisi udara dingin. Pengujian dilakukan pada 2 kelompok kendaraan dimana tiap kelompok terdiri atas 3 unit Toyota Innova Diesel. Kelompok pertama dilakukan 3 kali soaking yaitu selama 3 hari, 7 hari, dan 14 hari. Sedangkan untuk kelompok kedua dilakukan soaking selama 21 hari. Kendaraan itu sudah menempuh jarak sekitar 150 kilometer lalu didiamkan. Sekitar pukul 03.00 WIB tiga kap mesin Innova dibuka. Ketiga Innova itu merupakan kelompok kedua yang sudah didiamkan selama 21 hari. Sebelum kendaraan dinyalakan sejumlah persiapan dilakukan diantaranya memastikan aki dalam kondisi prima. Kemudian mengukur tekanan suhu BBM pada tangki penyimpanan. Kendaraan pertama yang dinyalakan menggunakan BBM Solar murni (BO) dengan temperatur sekitar 17,3 derajat celcius. Sementara suhu di sekitar lokasi pada dini hari itu sekitar 15 derajat celcius. Dalam waktu 1,05 detik unit pertama berhasil dinyalakan.

Uji start ability kemudian beralih ke kendaraan kedua yang menggunakan B30 dengan nilai kandungan Monog-liserida 0,4%. Tahapan pemeriksaan aki dan temperatur pun dilakukan. Tercatat suhu B30 tersebut sama dengan BO sekitar 17,3 derajat celcius. Unit ini berhasil menyala dalam tempo 1,18 detik. Pengujian kemudian bergeser ke unit terakhir yang menggunakan B30 dengan nilai kandungan Monogliserida 0,55%. Suhu B30 tercatat 16,9 derajat celcius. Kendaraan ini pun berhasil dinyalakan dalam waktu 0,997 detik. Dadan menerangkan, uji start ability ini dengan mempertimbangkan kebiasaan masyarakat dalam menggunakan kendaraan di mana tidak semua kendaraan digunakan setiap hari. Oleh sebab itu, uji ability dilakukan dengan enam unit kendaraan dengan interval penyalaan mesin yang berbeda-beda. “Hasil uji start ability menunjukkan bahwa mobil dapat dinyalakan secara normal. Mobil dapat dinyalakan normal ini membuktikan B30 menga- lir dengan baik di mesin walau telah didiamkan selama 21 hari pada kondisi dingin,” ujarnya.

Dadan menuturkan Dieng dipilih sebagai lokasi pengujian lantaran dikenal dengan wilayah dengan temperatur dingin. Dia mengungkapkan beberapa pekan yang lalu kendaraan itu diterpa suhu di bawah nol derajat celcius. Hanya pada saat pengujian berlangsung suhu di sekitar lokasi berada di level 15 derajat celcius. “Kalau di Pulau Jawa, Dieng ini temperatur cukup ekstrim ditambah musim kemarau yang dingin. Kendaraan ini sudah melewati temperatur yang minus seminggu lalu,” tuturnya. Lebih lanjut Dadan menjelaskan perhitungan, waktu menyalakan ketiga unit itu rata-rata satu detik. Menurutnya, itu sesuai dengan permintaan Gaikindo dengan tempo menyalakan kendaraan di bawah 5 detik. Pasalnya, kendaraan keluaran terbaru sudah menggunakan keyless atau tidak perlu memasukkan kunci untuk menghidupkan mobil. Keyless itu memiliki waktu maksimum 5 detik untuk menghidupkan kendaraan. “Jadi tadi ada perbedaan waktu dalam menyalakan mobil. Itu hanya masalah respon tangan yang menyalakan dengan stopwatch. Kalau menyalakan lebih dari 5 detik maka gagal,” jelas dia. Suara tepukan tangan riuh terdengar acap kali Innova berhasil menyala. Wajah semringah tampak terpancar dari para pihak yang menyaksikan uji start ability di dini hari kemarin. Turut hadir dalam acara ini yakni Ketua Harian Asosiasi Produsen biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan serta Direktur Penyalur Dana Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit Edi Wibowo.

Kontan | Jum’at, 16 Agustus 2019

RI: UE Terkesan Mencari Kesalahan Indonesia Terkait Biodiesel

Pemerintah Indonesia telah berulang kali menyampaikan tanggapan kepada Uni Eropa (UE) terkait tuduhan subsidi. Salah satu yang digugat adalah berkaitan dengan insentif yang diberikan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) terhadap industri biodiesel. “Pemerintah sudah berulang kali memberikan tanggapan dan kami juga sudah menyampaikan tanggapan,” ujar Kepala BPDPKS Dono Boestami saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (15/8). Dono mengungkapkan pihak UE terkesan mencari kesalahan Indonesia. Hal itu untuk membatasi masuknya produk biodiesel Indonesia di UE. Berdasarkan dokumen keputusan Komisi UE, pengadu menyampaikan bahwa ada subsidi yang dilakukan pemerintah Indonesia melalui BPDPKS. Subsidi dilakukan dengan memberikan hibah kepada produsen biodiesel Indonesia. BPDPKS membayar jumlah perbedaan antara harga referensi Indonesia untuk biodiesel dan harga referensi untuk minyak diesel. Tuntutan tersebut dibantah mengingat BPDPKS bukan merupakan bagian dari pemerintah. “Sumber dana kami tidak ada Rp 1 pun yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),” tegas Dono. Komisi UE mengungkapkan bahwa uang BPDPKS merupakan uang yang dikumpulkan oleh bea cukai. Retribusi ekspor pada CPO selama periode investigasi ditetapkan sebesar US$ 50 per ton sedangkan pada turunannya, termasuk biodiesel, sebesar US$ 20 per ton. Selain itu, Indonesia pun dinilai melakukan intervensi terhadap harga CPO. Intervensi dilakukan dengan mengendalikan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) untuk menjual CPO dengan harga terendah.

https://nasional.kontan.co.id/news/ri-ue-terkesan-mencari-kesalahan-indonesia-terkait-biodiesel

Koran Jakarta | Jum’at, 16 Agustus 2019

RI Akan Kenakan Bea Masuk Susu dari Eropa

Indonesia telah menyiapkan serangan balasan terhadap rencana pengenaan bea masuk anti subsidi (BMAS) biodiesel oleh Komisi Uni Eropa (UE). Indonesia akan melakukan hal yang sama bila Uni Eropa tetap menerapkan bea masuk anti subsidi terse­but. Rencananya, Indonesia akan mengenakan bea masuk anti subsidi bagi produk susu dari Uni Eropa. “Uni Eropa kenakan tarif (bea masuk) 8–18 persen, ya kita juga bisa kenakan tarif 20–25 persen,” ujar Menteri Perda­gangan, Enggartiasto Lukita, di Jakarta, Kamis (15/8). Namun, kebijakan itu baru akan dikeluarkan bila UE resmi menerapkan bea masuk anti subsidi. Saat ini, Enggar bilang pemerintah masih seka­dar mengimbau agar importir produk susu dari UE mengalihkan impor ke negara lain. Sebelumnya, Enggar juga bilang beberapa produk impor dari UE telah dialihkan. Salah satunya adalah produk minu­man beralkohol. “Sekarang minuman beralkohol yang dari UE enggak ada yang ajukan,” terang Enggar. Komisi UE akan mengena­kan bea masuk anti subsidi (BMAS) sebesar 8–18 persen terhadap impor biodiesel asal Indonesia mulai Rabu (14/8) atau Selasa (13/8) waktu se­tempat. Kebijakan itu bertu­juan untuk mengembalikan tingkat kesetaraan di pasar dengan produsen asal UE. “Bea impor baru dikenakan sementara waktu, sejalan dengan kelanjutan penyelidikan hingga akhirnya diterapkan langkah-langkah definitif pada pertengahan Desember 2019,” kata eksekutif UE. Komisi UE yang bertugas merumuskan kebijakan perda­gangan bagi kawasan tersebut telah memulai investigasi an­tisubsidi pada Desember 2018. Penyelidikan itu menyusul ke­luhan Dewan Biodiesel Eropa. Dalam penyelidikan itu, Komisi UE mengklaim telah memiliki bukti jika produsen biodiesel Indonesia mendapatkan subsi­di berupa hibah, subsidi pajak, dan akses bahan baku di bawah harga pasar.

http://www.koran-jakarta.com/ri-akan-kenakan-bea-masuk-susu-dari-eropa/

Cnbcindonesia | Kamis, 15 Agustus 2019

Uji Coba B30 Kelar Bulan Depan, Siap Meluncur 2020?

Pemerintah ingin mempercepat selesainya uji jalan B30. Targetnya dipercepat dari Oktober menjadi September. Sejauh ini, uji jalannya sudah sejauh 50 km. “Oktober kan selesai, tapi kami harapkan dipercepat, ya kalau bisa September selesai bisa lebih bagus. Kalau tanda-tandanya tidak ada masalah kami percepat,” ujar Plt Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Djoko Siswanto saat dijumpai di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (15/8/2019). Lebih lanjut, ia mengatakan, sejauh ini, selama uji coba B30 tersebut tidak ditemui banyak masalah. Adapun, target implementasinya masih tetap Januari tahun depan, dan untuk keputusan Menteri ditargetkan keluar pada Oktober mendatang. “Nanti kami tetapkan berapa jumlah FAME yang dibutuhkan, nanti keputusan menterinya kalau bisa Oktober, nanti kontrak-kontraknya dengan Pertamina dan seluruh badan usaha FAME itu di November. “Sehingga, pelaksanaan persiapan B30, infrastrukturnya, tangki-tangkinya, secara bertahap, sekarang B20, Januari B30,” pungkas Djoko. Di sisi lain, setelah lolos di uji penghidupan mesin (start ability) pada suhu dingin ekstrim di dataran tinggi Dieng, Kementerian ESDM melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) ESDM melanjutkan uji jalan (road test) B30 hingga jarak tempuh 640 KM yang dimulai pada Kamis (15/8/2019) pukul 03.00 WIB di dataran rendah Lembang, Jawa Barat.

“Road test B30 ini akan menguji bahan bakar b30 pada kendaraan bermesin diesel terkait performa mesin dan emisi gas buang. Uji jalan ini akan melewati beberapa kondisi jalan raya di Jawa Barat dan Jawa Tengah kurang lebih sekitar 640 KM,” ungkap Widhiatmaka, Peneliti dari Puslitbang Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (P3Tek KEBTKE) Kementerian ESDM yang ikut dalam road test B30 melalui keterangan resminya, Kamis (15/8/2019). Uji jalan ini terbagi dua jenis kendaraan bermesin diesel, yaitu kendaraan dengan bobot di atas dan di bawah 3,5 ton. “Masing-masing bobot kendaraan tersebut memiliki rute yang berbeda. Medan jalan yang dilalui melewati track (lintasan) tanjakan, turunan, tikungan hingga lurus seperti di jalan tol,” kata peneliti P3Tek KEBTKE lainnya Indra Al-Irsyad. Pada lintasan lurus, kestabilan mobil saat uji coba dijaga dengan kecepatan maksimal 100 kilometer (km) per jam. Kendaraan uji dengan bobot diatas 3,5 ton yang turut serta adalah truk Mitsubishi Fuso Colt Diesel, Isuzu NMR71TSD, dan UD Truck dengan rute tempuh adalah Lembang – Karawang – Cipali – Subang – Lembang sejauh 350 Kilo Meter (KM). Target total jarak tempuh hingga Oktober adalah 40 ribu KM.

Setiap selesai menempuh jarak 10 ribu km pada kendaraan uji di atas 3,5 ton, dilakukan pengujian berupa uji emisi opasitas, uji peforma metoda akselerasi dan uji filter blocking. Sementara itu, kendaraan uji dengan bobot dibawah 3,5 ton adalah Toyota Fortuner, Nissan Terra, Mitsubishi Pajero, dan DFSK SuperCab. Rute yang ditempuh dengan sistem looping adalah Lembang – Cileunyi – Panjalu – Majalengka – Kuningan – Ciledug – Tegal – Slawi – Guci – Lembang sejauh 640 KM. Target total jarak tempuh hingga Oktober adalah 50 ribu KM. “Sistem pengujiannya berbeda dengan kendaraan yang di atas 3,5 ton. Kalau yang di bawah 3,5 ton dilakukan uji emisi metode ECE R83, uji fuel economy metode ECE R101, uji peforma metode casis dynamometer dan uji filter blocking setelah mencapai 10 KM,” kata Indra. Sebagai analisis perbandingan dampak B30, Balitbang ESDM juga melakukan uji perbandingan pada kendaraan dengan bahan bakar B20 selama road test B30 dengan rute dan jarak tempuh yang sama. “Jumlah penumpang (beban) kedua unit tersebut harus sama yaitu maksimal 2 penumpang (diluar supir),” jelas Indra.

Sebagai informasi, pelaksana uji jalan merupakan kerja sama Puslitbang Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (P3Tek KEBTKE) Kementerian ESDM, Puslitbang Teknologi Minyak dan Gas (LEMIGAS) KESDM, Balai Teknologi Bahan Bakar dan Rekayasa Desain (BTBRD) BPPT, serta Balai Teknologi Termodinamika Motor dan Propulsi (BT2MP) BPPT. Adapun pendanaan road test berasal dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit. Dukungan lain yang diberikan industri adalah bantuan bahan bakar dari PT Pertamina (Persero) dan Asosiasi Produsen Bioufel Indonesia (APROBI), serta penyediaan kendaraan uji dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).

https://www.cnbcindonesia.com/news/20190815161252-4-92276/uji-coba-b30-kelar-bulan-depan-siap-meluncur-2020

Detik | Kamis, 15 Agustus 2019

Diuji Coba, B30 Lebih Irit dari B20

Bahan bakar campuran biodiesel 30% atau dikenal B30 sedang diuji coba. Serangkaian uji coba ini dilakukan oleh Kementerian ESDM, BPPT (Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi), Aprobi (Asosiasi Produsen Biofuel), Pertamina, Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia), BLU Promise dan didukung BPDP (Badan Pengelolaan Dana Perkebunan) Sawit. Uji coba dilakukan diberbagai aspek, seperti start ability hingga road test. Untuk uji jalan dilakukan terhadap 2 jenis kendaraan yakni mobil berat di bawah 3,5 ton yang berisi mobil-mobil ternama bermesin diesel seperti Fortuner, Pajero, Nissan Terra dan DFSK. Jenis kedua untuk kendaraan dengan berat di atas 3,5 ton antara lain, truk Mitsubishi Fuso Colt Diesel, Isuzu NMR71TSD, dan UD Truck. Uji jalan sudah dilakukan sejak sekitar Mei 2019. Hingga saat ini progresnya sudah mencapai 50-60%. Uji ini dilakukan oleh supir-supir yang sudah berpengalaman dalam uji kendaraan. Setiap kendaraan berisi 2 supir. Salah satu supir yang sudah ikut dalam uji jalan ini selama beberapa bulan ini mengaku merasa lebih irit penggunaan B30 ketimbang B20 yang sudah dipasarkan.

“Ini lebih irit. Misalnya kalau mobil isi B30 ini sama B20 kan dites bareng nih, isinya sama. Tapi pas isi lagi B30 itu isi 27 liter yang B20 bisa 30 liter,” ujarnya kepada detikFinance, Kamis (15/8/2019). Dari sisi performa, dia mengakui tidak menemukan gangguan berarti. Mobil masih bisa dipacu mulus baik itu di rpm rendah maupun rpm tinggi. “Tarikannya juga lebih enak. Perbedaannya ada sedikitlah sama B20,” ujarnya. Uji jalan ini untuk kendaraan kategori berat di bawah 3,5 ton targetnya menempuh jarak 50 ribu km dengan jarak tempuh per hari 640 km, sementara kendaraan berat di atas 3,5 ton targetnya 40 ribu km dengan jarak tempuh per hari 340 km. Target 50 ribu km dan 40 ribu km itu sengaja dipasang untuk menyamakan persepsi penerapan garansi mesin yang biasanya diberikan oleh produsen mobil. Untuk mobil berat di bawah 3,5 ton mengambil rute Lembang menuju Tegal, melalui Nagrek, Tasikmalaya, Kuningan. Setelah sampai Tegal rombongan akan menuju Subang melalui tol Trans Jawa. Sementara untuk mobil berat di atas 3,5 ton mengambil rute Lembang menuju Karawang. Kemudian kembali lagi menuju Subang.

https://finance.detik.com/energi/d-4667330/diuji-coba-b30-lebih-irit-dari-b20

Bisnis | Kamis, 15 Agustus 2019

Ketika Pengusaha Biodiesel RI Mulai ‘Campakkan’ Pasar Uni Eropa

Produsen biodiesel Indonesia akan menghentikan ekspor produknya ke Uni Eropa (UE), lantaran adanya pengenaan bea masuk antisubsidi (BMAS) atas produk tersebut per kemarin, 14 Agustus 2019. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengatakan, para eksportir akan menghitung dampak besaran BMAS terhadap harga jual fame yang diekspor ke UE. Menurutnya, apabila besaran bea masuk tersebut membuat harga fame Indonesia menjadi lebih mahal atau mendekati harga produk biodiesel lain di pasar UE, maka para eksportir akan menyetop ekspornya ke kawasan tersebut. “Tiap perusahaan BMAS-nya berbeda-beda. Kita akan lihat, kalau harganya tidak sesuai, ya setop saja ekspornya ke UE. Kita bisa mencari pasar lain untuk tetap menjaga kontribusi kita terhadap devisa ekspor. Inti kebijakan ini kan mereka ingin setop impor sawit kita,” ujarnya kepada Bisnis.com. Dia melanjutkan, harga produk biodiesel dari sawit lebih murah dibandingkan dengan produk serupa dari minyak nabati lain. Namun, dengan adanya kebijakan bea masuk tersebut, selisih harga antara fame sawit Indonesia dengan minyak nabati lain menjadi menipis.

Kondisi itu, menurutnya, akan membuat importir dari UE akan memilih menggunakan biodiesel dari produk nabati yang diproduksi domestik. Terlebih, para petani produk minyak nabati lain seperti biji bunga matahari dan biji rapa terus mendesak agar menghentikan penggunaan minyak nabati dari sawit. Penyetopan ekspor biodiesel oleh RI ke negara lain, lanjutnya, sempat dilakukan saat AS menetapkan bea masuk antidumping (BMAD) untuk produk tersebut sebesar 276% pada Februari 2018. Menurutnya, kebijakan BMAS dari UE tersebut berpotensi membuat target ekspor biodiesel RI ke kawasan tersebut meleset dari target pada tahun ini. Dia mengatakan, sebelum adanya kebijakan BMAS UE tersebut ekspor RI ke UE ditargetkan mencapai 1 juta ton, naik dari capaian tahun lalu yang menembus 700.000 ton. Berdasarkan data Parlemen Uni Eropa, penggunaan biodiesel dari sawit asal Indonesia di UE mencapai 40% dari total kebutuhan kawasan tersebut.

Indonesia, lanjutnya, memasok kebutuhan kawasan tersebut masing-masing 50% dalam bentuk fame dan 50% lainnya dalam bentuk minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) yang kemudian diolah oleh produsen di UE untuk menjadi fame. Kendati demikian, dia mengatakan, para eksportir biodiesel RI akan bekerja sama dengan pemerintah untuk menyiapkan sanggahan atas tuduhan praktik subsidi atas biodiesel Indonesia. Menurutnya, Indonesia masih memiliki waktu 15 hari sejak BMAS sementara biodiesel diterapkan pada 14 Agustus 2019. “Kami baru saja mendapatkan dokumen dari UE mengenai kebijakan itu. Bersama pemerintah kami akan siapkan sanggahan sekaligus pertanyaan mengapa penerapan BMAS sementara, dipercepat dari jadwal awalnya yakni 6 September 2019,” tegasnya. Paulus menambahkan, guna mengantisipasi langkah UE dan dihentikannya ekspor ke negara itu, para eksportir akan mengalihkan pengirimannya ke negara lain. China dalam hal ini disasar sebagai negara potensial, lantaran pasar di negara tersebut sedang tumbuh. Selain itu, para produsen juga akan memaksimalkan penyerapan di dalam negeri melalui kebijakan biodiesel 30% (B30). Dia memperkirakan, apabila kebijakan itu berjalan, maka 9 juta ton produksi biodiesel RI akan terserap oleh pasar domestik.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190815/12/1136952/ketika-pengusaha-biodiesel-ri-mulai-campakkan-pasar-uni-eropa

Kontan | Kamis, 15 Agustus 2019

Soal Diskriminasi Biodiesel, Pemerintah Akan Ajukan Nota Keberatan ke UE

Pemerintah akan mengajukan nota keberatan ke Uni Eropa (UE) terkait pengenaan Bea Masuk Anti Subsidi (BMAS) biodiesel. Hal itu diungkapkan oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Enggar bilang nota keberatan tersebut akan segera dilakukan dalam waktu dekat. “Kita masukin nota keberatan dulu, harusnya dalam berapa hari ini, dalam 1-2 hari ini kita kirim,” ujar Enggar usai menghadiri pembukaan Hari Belanja Diskon Indonesia (HBDI), Kamis (15/8). Sebelumnya Komisi UE resmi menetapkan BMAS terhadap biodiesel Indonesia. Hal itu ditetapkan berdasarkan kesimpulan yang dicapai oleh komisi tentang subsidi UE. Berdasarkan kesimpulan tersebut BMAS harus dibebankan pada impor biodiesel yang berasal dari Indonesia. “Kita masukin nota keberatan dulu, harusnya dalam berapa hari ini, dalam 1-2 hari ini kita kirim,” ujar Enggar usai menghadiri pembukaan Hari Belanja Diskon Indonesia (HBDI), Kamis (15/8). Sebelumnya Komisi UE resmi menetapkan BMAS terhadap biodiesel Indonesia. Hal itu ditetapkan berdasarkan kesimpulan yang dicapai oleh komisi tentang subsidi UE. Berdasarkan kesimpulan tersebut BMAS harus dibebankan pada impor biodiesel yang berasal dari Indonesia.

https://nasional.kontan.co.id/news/soal-diskriminasi-biodiesel-pemerintah-akan-ajukan-nota-keberatan-ke-ue

Beritasatu | Kamis, 15 Agustus 2019

Ketangguhan B30 Diuji Sepanjang 640 Kilometer Tiap Hari

Iringan mobil berkelir putih yang disertai stiker kelapa sawit keluar dari sebuah wisma di daerah Lembang, Jawa Barat setiap hari pukul 03.00 WIB. Kemudian diikuti oleh tiga unit truk. Delapan unit mobil itu akan menempuh jarak sekitar 640 kilometer setiap harinya. Sementara rangkaian truk tiap harinya mengaspal sejauh 350 kilometer. Di badan kendaraan serta kap mesin tertera tulisan Road Test Biodiesel 30 persen (B30). Kendaraan ini memang diperuntukan menguji penggunaan B30. Pasalnya B30 akan diterapkan pada 2020 mendatang. B30 merupakan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang dicampur dengan bahan bakar nabati sebanyak 30 persen atau disebut Biodiesel 30 persen. Jenis bahan bakar ini merupakan program lanjutan dari sebelumnya yakni Biodiesel 20 persen (B20). Beritasatu.com berkesempatan mengikuti langsung uji jalan kendaraan B30 tersebut dengan menumpang Mitsubishi Pajero. Dari Lembang, mobil melaju Cileunyi melalui jalan tol. Kemudian mengarah ke Nagrek-Panjalu-Majalengka-Kuningan-Ciledug, Cirebon. Dari Ciledug, iringan kendaraan memasuki tol Trans Jawa menuju Tegal. Setelah itu menuju Slawi-Guci. Sekitar pukul 13.00 WIB delapan unit sampai di kawasan wisata Guci. Dari Lembang sampai Guci tercatat kendaraan tersebut menempuh jarak sejauh 305,7 kilometer. Jarak tempuh itu hampir separuh dari jumlah yang harus diselesaikan dalam sehari. Di Guci ada tempat untuk mengisi kembali BBM kendaraan. Sekitar 27 liter B30 dipompa ke tangki BBM kendaraan. Setelah mengisi BBM, kendaraan kembali menuju Lembang. Adapun rute yang ditempuh menuju Pemalang kemudian masuk tol Trans Jawa menuju Subang. Dari Subang kembali ke wisma yang berada di Lembang. Sementara rombongan truk melaju dari Lembang menuju– Karawang – Cipali – Subang dan kembali lagi ke Lembang.

Peneliti Uji Jalan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Muhammad Indra Al Rasyid mengatakan delapan unit kendaraan yang diuji terdiri dari empat unit menggunakan B20 dan empat unit menggunakan B30. “Ini untuk perbandingan hasil dan menguji eifisiensi dari bahan bakar tersebut yang nantinya akan kita cek selanjutnya,” kata Indra di Tegal, Kamis (15/8/2019). Indra menuturkan rute uji jalan yang dilalui kendaraan dengan medan bervariasi. Ada yang berkelok-kelok disertai tanjakan dan turunan serta jalan lurus. Berbagai kontur jalan tersebut merupakan rute yang biasa dilalui oleh masyarakat. Dia menyebut total jarak yang harus diselesaikan sebanyak 50.000 kilometer untuk kedelapan unit kendaraan tersebut. Sementara untuk tiga unit truk harus menyelesaikan sebanyak 40.000 kilometer. “Setiap menyelesaikan 10.000 kilometer akan ada serangkaian pengecekan antara lain seperti filter BBM,” ujarnya. Ke-11 unit kendaraan sudah melakukan uji jalan sejak Juni kemarin. Namun jumlah kilometer yang dilalui tidak seragam. Ada yang sudah mencapai 40.000 kilometer, yakni unit Pajero. Sementara kendaraan lainnya bervariasi antara 20.000-30.000 kilometer. Ditargetkan pada pertengahan September mendatang seluruh kendaraan sudah menyelesaikan uji jalan dan hasilnya kemudian disampaikan kepada pemerintah.

https://www.beritasatu.com/ekonomi/569826/ketangguhan-b30-diuji-sepanjang-640-kilometer-tiap-hari

Jpnn | Kamis, 15 Agustus 2019

Mitsubishi Pajero Sport dan Triton Bisa Minum Biodiesel 30 Persen

PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) memastikan seluruh kendaraannya siap untuk ‘meminum’ Biodiesel B30 yang saat ini sedang dilakukan pengujian oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Director of Sales & Marketing Division MMKSI Irwan Kuncoro menegaskan, seluruh mesin diesel yang telah digunakan oleh beberapa model Mitsubishi sudah dilakukan penyesuaian sehingga tidak ada masalah ketika menggunakan Biodiesel B30. “Engine baru sudah dipakai di Pajero Sport. Pajero Sport sendiri sudah banyak digunakan di wilayah-wilayah dengan bahan bakar minyak (bbm) kurang baik dan itu terbukti tidak ada masalah,” ungkap Irwan di sela acara media test drive New Triton di Serpong, BSD, Kamis (15/8). Selain Pajero Sport, lanjut Irwan, Triton terbaru juga sudah diuji dengan solar jelek atau biasa, juga tidak ada masalah pada mobil tersebut. “Jadi tidak perlu khawatir dengan BBM jelek sekalipun,” tegasnya. Di Indonesia sendiri, Mitsubishi Pajero Sport dan Triton sama-sama dibekali mesin baru dengan kode 4N15 berkapasitas 2.4L yang menawarkan tenaga 181 Hp. Mesin tersebut dikawinkan melalui transmisi manual/otomatis 6-percepatan. Soal harga, Mitsubishi Triton terbaru ditawarkan dalam 6 varian di mana dua model untuk kabin tunggal dan sisanya kabin ganda. Pikap asal Jepang itu ditawarkan dengan harga mulai dari Rp 250,5 juta sampai Rp 480,5 juta.

https://www.jpnn.com/news/mitsubishi-pajero-sport-dan-triton-bisa-minum-biodiesel-30-persen

Liputan 6 | Kamis, 15 Agustus 2019

Uji Coba B30, Pemerintah Geber Kendaraan 640 Km

Uji jalan pencampuran 30 persen biodiesel dengan solar (B30) terus dilakukan. Hal ini dilakukan guna membuktikan program yang bertujuan untuk mengurangi impor solar tersebut bisa diterapkan sesuai target pada 2020. Liputan6.com berkesempatan mengikuti uji jalan B30, kendaraan yang di uji dengan bobot dibawah 3,5 ton adalah Toyota Fortuner, Nissan Terra, Mitsubishi Pajero, dan DFSK SuperCab. Rute yang ditempuh adalah Lembang – Cileunyi – Panjalu – Majalengka – Kuningan – Ciledug – Tegal – Slawi – Guci – Lembang sejauh 640 km. Target total jarak tempuh hingga Oktober adalah 50 ribu km. Medan yang dilintasi delapan kendaraan yang diuji coba berupa pegunungan, jalan berkelok dan lurus dengan kecepatan bervariasi. Peneliti Uji Jalan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral (Balitbang ESDM), Muhammad Indra Irsyad mengatakan, uji jalan tersebut untuk mengukur uji emisi metode ECE R83, uji fuel economy metode ECE R101, uji peforma metode casis dynamometer, dan uji filter blocking setelah menempuh jarak 10 ribu Km untuk kendaraan dibawah bobot 3,5 ton. “Ini uji jalan, sebelum B30 diterapkan,” kata Indra, di Lembang Jawa Barat, Kamis (15/8/2019).

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4038435/uji-coba-b30-pemerintah-geber-kendaraan-640-km?utm_expid=.9Z4i5ypGQeGiS7w9arwTvQ.0&utm_referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2F