+62 2129380882 office@aprobi.co.id

PLTD Serap 1,4 Juta Kl

Bisnis Indonesia | Rabu, 19 Juni 2019

PLTD Serap 1,4 Juta Kl

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) memproyeksikan bahwa penyerapan bauran biodiesel 30% atau B30 pada 2020 untuk pembangkit listrik mencapai 1,46 juta kiloliter. Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019-2028, jumlah pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) per 2018 sebanyak 5.269 unit milik PLN dengan kapasitas total 4.27530 megawatt (MW). Selain itu, 393 PLTD sewa berkapasitas 1.878,97 MW, dan 16 PLTD excess power berkapasitas 503,40 MW. Pelaksana Tugas Direktur Utama PLN Djoko Rahardjo Abumanan mengatakan bahwa semua pembangkit listrik tenaga diesel telah mampu menyerap biodiesel hingga tingkat mandatory 60%. Saat ini, bahan bakar yang digunakan masih berupa B20 dan B30. Target bauran energi nasional pada 2025 untuk energi baru terbarukan sebesar 23% dengan target bahan bakar nabati sebesar 4,7 %. Kewajiban penggunaan biodiesel untuk pembangkit listrik telah dimulai sejak 2014. Pada 2015, mandatory biodiesel 25% berlaku untuk pembangkit listrik. Sementara itu, selama 2016-2025, mandatory biodiesel 30% berlaku untuk pembangkitan.

“Mesin PLN sudah menyerap biodiesel, bahkan sampai B60 sejak 2013,” katanya kepada Bisnis, Selasa (18/6). Kebutuhan biodiesel 20% (B20) untuk PLTD selama 2019 sebanyak 1,63 juta kiloliter dengan perincian 524,881 kl untuk PLTD di Regional Sumatra, 342.628 kl di Regional Kalimantan, 270.132 kl di Regional Sulawesi, 350.333 kl di Regional. Maluku dan Papua, 179 kl di Regional Jawa Bagian Barat, 2.625 kl di Regional Jawa Bagian Timur, dan 135.263 kl di Regional Bali dan Nusa Tenggara. “Dengan mandatory B30 dimulai 2020, nanti kami perlahan akan mengurangi B20 dan beralih ke B30, persoalannya apakah penyedia [produsen biodiesel] siap.” Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan, sejumlah pembangkit listrik tenaga diesel di Indonesia telah mulai menggunakan biodiesel 30% sebagai bahan bakar. Menurutnya, PLTD mampu mengunakan biodiesel sebagai bahan bakar. “B30 sudah lebih dahulu, waktu B20 dimulai, pembangkit sudah ada yang B30, ada yang bisa, ada yang tidak bisa.”

Menurutnya, penggunaan B30 memang bergantung pada kesiapan mesin pembangkit. Apabila ada mesin pembangkit yang tidak bisa menggunakan B30, bahan bakar lain akan digunakan untuk menjamin pasokan listrik ke masyarakat. Direktur Bioenergi, Kementerian ESDM Andrian Feby Misna mengatakan, berdasarkan data yang diterimanya, ada 11 PLTD yang telah menggunakan B30 sebagai bahan bakar dan sisanya menggunakan B20. Berdasarkan data Kementerian ESDM, hingga 2018,5% bauran energi primer pembangkit listrik adalah bahan bakar minyak (BBM) dan bahan bakar nabati (BBN). Penggunaan BBM sebagai bahan bakar pembangkit terus menurun sejak 2014. Pada 2014, porsi BBM mencapai 11,81%, pada 2015 sebesar 8.S9 %, kemudian turun menjadi 6,96% pada 2016, 6% pada 2017, dan pada 2018 sebesar 5%.

Bisnis Indonesia | Rabu, 19 Juni 2019

Ship Operators Object To B30 For Fear Of Poor Performance

The River, Lake and Water Transportation Operators Association (Gapasdap) has expressed its disapproval of next year\’s mandatory use of diesel mixed with 30 percent palm oil-based fuel, known as B30, after finding the poor performance of its ships after using the biofuel. Gapasdap secretary-general Aminuddin Rifai said that ships registered under the association would suffer significant losses if they had to use B30. “Most of the ships in Indonesia have old engines, which are not suitable for biodiesel fuel,” he said in Jakarta on Friday. Even the use of B20, which has been mandatdry since last September, has had a negative impact on ship operations such as by polluting the engines\’ combustion rooms, he added. “Compared to pure diesel fuel, B20 has a higher rate of viscosity, which results in the slowing of the combustion process in the engines and leaves more unburnt leftovers,” he said.. In addition, the lower calorie content and higher water content in B20 speeds up the life expectancy of the nozzle injector and fuel injection pump of a ship engine.

“It eventually leads to an increase in maintenance costs for spare parts by 9 percent to 10 percent,” he said, adding that B20 also increased fuel consumption. “B20\’s calorific value is 5 percent to 8 -percent lower than pure diesel fuel. At that rate, the fuel consumption increases from 100 liters to 130 or 140 liters for one-hour travel time.” So, even though the prices of B20 and pure diesel fuel were the same, Rp 5,150 (36 US cents) perliter, a trip using B20 costs more because of greater fuel consumption. “I hope that the price of B30 will be set lower than pure diesel so that the cost of fuel consumption can be balanced,” he said. The government began its biodiesel program in 2014 to reduce carbon emissions and reduce Indonesia\’s dependence on fuel imports by introducing the BIO biodiesel, a diesel fuel with 10 percent Palm Oil content. The use of biofuel became mandatory in September 2018 with B20 biodiesel, while B30 will be mandatory in 2020. Aminuddin said he also regretted that the government had only focused on testing the use of B30 for automotive engines before introducing a new policy.

“Supposedly, the government invited ship operators to assess and verify the use of B30, so that they would accept the policy,” he said. Responding to Gapasdap\’s statement, the Energy and Mineral Resources Ministry\’s research and development head, Dadan Kusdiana, said the ministry was currently preparing to examine the use of B30 for agricultural machinery, train engines and ship engines. “We will examine all biodiesel parameters, including the density, viscosity, calorific value, freezing point, FAME content and water content. If required, the specifications will be adjusted to the engines,” he told The Jakarta Post, referring to fatty acid methyl esters. Dadan acknowledged that the examination was part of efforts to realize the instruction of Energy and Mineral Resources\’Minister Ignasius Jonan to maximize the useofB30. Speaking at the launch of the B30 road test last Thursday, Jonan hoped that manufacturers and enginemakers could assess the road test and offer constructive input on the optimization of engines, so that the use of B30 could improve engines\’ performance and curb any increase in maintenance costs. “I hope that the road test will also promote the use of B30 among the community,” he said. Indonesian Palm Oil Producers Association (Gapki) deputy chairman Togar Sitanggang confirmed to the Post that Indonesia\’s total Palm Oil production was 45 million to 47 million tons per year, a quarter of which was used domestically. The government is targeting to use 9 million to 10 million tons of the output for the production ofB30. It has estimated that the annual use of biodiesel would\’reach 6.9 million kiloliters by 2025 from the current 3.8 million kiloliters.

Gatra | Selasa, 18 Juni 2019

Kementan: Implementasi B100 Terhadap Alsintan Masih Proses Persiapan

Kementerian Pertanian (Kementan) mencanangkan kewajiban penggunaan bahan bakar Biodiesel B-100 atau 100% Biosolar pada alat dan mesin pertanian (Alsintan). Namun, implementasinya masih dalam proses menuju komersialisasi. Direktur Alsintan Kementan, Andi Nur Alamsyah mengungkapkan, kewajiban tersebut sudah tertuang dalam kontrak dengan produsen alsintan. “Dari sisi aturan, barang yang kita beli menggunakan B100,” ungkapnya di sela-sela Rapat Kerja Kementan dengan Komisi IV DPR-RI, Senin (16/6) kemarin. Andi menjamin petani yang menggunakan B100 akan mendapatkan garansi dari penyedia. Hal ini telah menjadi persyaratan kontrak terhadap produsen. Namun, Ia mengakui ketersediaan B100 masih terbatas. Pihaknya menjamin alsintan yang menggunakan B100 dapat berfungsi dengan baik. “Dari BBP Mektan (Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian), traktor tidak ada masalah,” tuturnya. Direktur Jenderal Perkebunan, Kasdi Subagyono mengungkapkan B100 sudah digunakan dalam 50 mobil di lingkungan Kementerian Pertanian. Bahan bakarnya disuplai oleh Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) yang memiliki reaktor dengan kapasitas 1600 liter/hari.

Berdasarkan hasil uji coba Badan Penilitian dan Pengembangan Pertanian dengan Mobil Toyota Hilux Turbo 2400 cc double cabin, mobil tersebut dapat menempuh jarak hingga 6.173 km. “B100 lebih efisien daripada solar. Satu liter biodiesel B100 setara dengan 13,1 km, sedangkan satu liter solar hanya 9,6 km,” terangnya ketika dihubungi oleh Gatra.com, Selasa (18/6). Menurutnya, implementasi B100 masih dalam tahap uji coba kepada mobil dinas lingkungan Kementan. “Traktor, combined harvester, planter, dan Alsintan lainnya mulai kapan (implementasi) harus koordinasi dulu dengan Kementerian ESDM (Energi dan Sumberdaya Mineral) juga. Kalau dalam uji coba sudah seratus persen dapat digunakan,” jelasnya. Kasdi mengakui B100 masih dalam level penelitian. Ia menambahkan dalam implementasi dan komersialisasi merupakan ranah Kementerian ESDM. “Itu (implementasi B100) merupakan tantangan ketika kita bisa meningkatkan konsumsi dalam negeri melalui bioindustri. Selama ini, tiap tahun kita mengekspor 30-31 juta ton CPO (minyak kelapa sawit),” ungkapnya.

https://www.gatra.com/detail/news/422745/economy/kementan-implementasi-b100-terhadap-alsintan-masih-proses-persiapan

Republika | Selasa, 18 Juni 2019

Mentan Belum Ketahui Efek Samping B-100 ke Mesin

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, Kementerian Pertanian terus memacu perkembangan biodiesel 100 persen (B-100) yang sudah diujicobakan ke 50 mobil dinas dan alat mesin pertanian (alsintan). Kendati begitu dia mengatakan belum mengetahui lebih jauh perihal efek samping B-100 terhadap mesin. Seperti diketahui, sejak dua tahun terakhir Kementan melakukan penelitian dan pengembangan B-100 guna mengurangi ekspor Crude Palm Oil (CPO) yang ditentang Eropa. Hal tersebut, kata Amran, dilakukan guna menggenjot konsumsi CPO di dalam negeri semakin besar selain dialokasikan sebagai bahan baku produk-produk olahan. “Yang penting, B-100 ini bisa dipakai ke mesin. Bisa dijalankan itu mesinnya dari Bogor ke Surabata, Surabaya ke Jakarta,” kata Amran kepada Republika.co.id, Selasa (18/6). Amran menyebut, penggunaan B-100 memiliki nilai lebih jika dibandingkan dengan minyak diesel lainnya seperti solar. Jika dibandingkan, kata dia, B-100 memiliki efektivitas yang tinggi dibandingkan dengan solar. Dengan jarak tempuh sebesar 13,5 kilometer (km) per liter, Amran menyebut B-100 lebih hemat jarak tempuh dibandingkan solar yang hanya mampu menempuh 9 km per liter.

Sedangkan terkait harga, Amran memastikan harga B-100 tidak akan lebih mahal dari solar. Kendati, ia memproyeksi, harga B-100 bisa saja sama atau mungkin lebih rendah dibandingkan harga solar. Untuk itu, saat ini dia mendorong penggunaan B-100 di lingkup pertanian agar memacu penggunaannya. Mengingat realisasi penggunaan B30 belum dimungkinkan, Amran tetap meyakini bahwa B-100 sudah siap pakai dan sudah mampu menjawab tantangan nasional dan internasional. Dia mengklaim, penggunaan B-100 nantinya dapat mengurangi impor solar sebesar 16 juta ton. Sebab saat ini, kata dia, Indonesia sudah mengekspor CPO sebesar 20 juta ton. “Nanti suruh produsen-produsen itu ubah mobilnya agar sesuai dengan biofuel. Kita maksimalkan ini nanti B-100,” kata dia.

https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/pertanian/19/06/18/ptabt1423-mentan-belum-ketahui-efek-samping-b100-ke-mesin

Bisnis | Selasa, 18 Juni 2019

Program B-100 Akan Hemat Devisa Rp100 Triliun

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebutkan, program biodiesel 100 persen (B-100) yang kini tengah dikembangkan oleh Kementerian Pertanian akan menghemat devisa hingga Rp100 triliun, ketika sudah optimal. “Bisa kita menghemat devisa, mungkin Rp100 triliun lebih kalau ini nanti sudah sempurna,” ujarnya usai menggelar kegiatan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Pertanian (Musrenbangtan) 2019 di Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (18/6/2019). Menurutnya, energi yang bakal digunakan untuk mesin diesel ini sudah diujicobakan pada 50 mobil dinas dan alat mesin pertanian (alsintan). Hasil sementara, mesin berjalan stabil dan cenderung lebih hemat penggunaan. “Mesinnya bagus masih stabil. Bisa menghemat energi 35 persen, ramah lingkungan tidak berasap,” sebutnya. Amran mengatakan, jika sebuah kendaraan menggunakan bahan bakar solar bisa menempuh jarak 9 kilometer per liter, menggunakan B-100 bisa menempuh lebih jauh, yakni 13,4 kilometer per liter. “Ini adalah energi masa depan kita. Sudah jalan B100, tinggal dikomersilkan oleh Kementerian ESDM dan Perindustrian. Nanti kita lihat, yang jelas ini bisa dipakai oleh kendaraan 100 persen,” kata Amran.

Di samping itu, Amran juga membeberkan sejumlah capaian Kementerian Pertanian saat menggelar kegiatan Musrenbangtan. “Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh kepala dinas provinsi dan kabupaten/kota se-Indonesia atas partisipasinya terhadap produksi produktivitas ekspor, inflasi, kemiskinan menurun, kemudian ekspor kita meningkat itu atas kerja keras kita semua,” ujarnya. Menurutnya, meski anggaran Kementerian Pertanian menyusut dari Rp32 triliun menjadi Rp21 triliun, tapi sektor pertanian bisa meningkatkan hasil produksi buah dari kebijakan yang tepat dan juga tepat sasaran. Sedangkan kebijakan-kebijakan yang dianggap tidak produktif dan tidak bisa mendorong pertumbuhan produksi akan dicabut sesuai arahan langsung dari Presiden Joko Widodo. “Program yang tidak produktif seperti biaya yang tidak penting, perjalanan dinas, seminar yang tidak penting, moratorium beli motor beli mobil itu tidak penting, cat kantor itu kita hilangkan,” bebernya. Sebaliknya, program-program yang sudah baik di era kepemimpinan Jokowi – Jusuf Kalla menurutnya akan terus dilanjutkan, sehingga bisa meningkatkan investasi dan ekspor. Karena dua hal itu yang dianggap Amran bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190618/99/935203/program-b-100-akan-hemat-devisa-rp100-triliun