+62 2129380882 office@aprobi.co.id

PPI PTPN III Sepakat Bangun PLTS Di Sumut

Rakyat Merdeka | Selasa, 16 Juli 2019
PPI PTPN III Sepakat Bangun PLTS Di Sumut

PT Pertamina Power Indonesia (PPI) dan PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III) sepakat membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di KEK Sei Mangkei, Sumatera Utara. Proyek tersebut untuk meningkatkan bauran pembangkit energi baru dan terbarukan yang ada di kawasan tersebut. Presiden Direktur PPI Ginan-jar mengatakan, kerja sama tersebut diharapkan mampu mewujudkan konsep Green Economic Zone di KEK Sei Mangkei. Sehingga ke depan, bisa jadi rujukan pengembangan kawasan ekonomi yang mendukung pemanfaatan energi baru dan terbarukan. Selain membangun PLTS, anak perusahaan Pertamina dan PTPN HI ini sedang mendorong realisasi Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) berkapasitas 2,4 MW. Proyek tersebut akan segera menyelesaikan tahap konstruksi. Adapun pembangkit energi baru dan terbarukan yang memanfaatkan limbah pabrik cair Kelapa Sawit tersebut telah memulai kegiatan konstruksi sejak Desember 2018 yang lalu. Saat ini konstruksi sudah dalam tahap fasa akhir pembangunan sipilnya dan dalam tahap instalasi komponen utama pembangkit. Saat ini, PLTBg telah melakukan engine test atai Factory Acceptance Test (FAT). Tes mesin iti dilakukan atas komponen utama PLTBg berupa dua unit gas engine yang akan digunakan di PLTBg Sei Mangkei. Setelah engine tes ini berhasil, milestone berikutnya adalah gas engine tersebut ditargetkan on site pada bulan September 2019. Kerjasama ini merupakan bentuk partnership yang ideal, karena merupakan kerjasama dua perusahaan nasional, lintas industri, dan dengan basis Business to Business,” kata Ginanjar melalui siaran persnya, kemarin. Dia menuturkan, skema pendanaan nasional mungkin akan menghadapi tantangan keekonomian dan competitiveness project.Tetapi semua aliran dana ada di Indonesia, sehingga hal ini seharusnya tidak menjadi isu bagi para stakeholders.

Investor Daily Indonesia | Selasa, 16 Juli 2019
Ekspor Minyak Sawit ke Eropa Turun 4%

Ekspor minyak sawit nasional ke Uni Eropa (UE) pada Mei 2019 hanya mencapai 302.160 ton, atau turun 4% dari April 2019 yang masih sebesar 315.240 ton. Kebijakan antisawit (Delegated Act RED II) yang diadopsi UE telah ikut membangun sentimen negatif pasar minyak sawit RI di Eropa sehingga permintaan komoditas tersebut di Benua Biru itu pun melemah. Sentimen regulasi dari negara tujuan ekspor, khususnya UE, perlu diantisipasi Pemerintah Indonesia dengan meningkatkan serapan pasar domestik di antaranya dengan mengakselerasi program biodiesel 30% (B30). Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono mengatakan, penurunan kinerja ekspor minyak sawit nasional ke pasar UE sebenarnya telah terjadi sejak Maret 2019 atau sejak UE mengadopsi Delegated Act RED II. Dalam data yang diolah Gapki, pada Maret 2019 ekspor minyak sawit RI ke UE masih 498.240 ton, namun pada April turun 37% menjadi 315.240 ton, dan pada Mei turun 4% menjadi 302.160 ton. “Kebijakan Delegated Act RED II yang diadopsi UE tersebut tidak dapat dipungkiri telah ikut membangun sentimen negatif pasar minyak sawit RI di Eropa. Ekspor minyak sawit mentah {crude palm oil/ CPO) dan turunannya ke Benua Biru itu terus tergerus. Artinya, regulasi negara tujuan ekspor telah menjadi hambatan dagang,” kata Mukti di Jakarta, Senin (15/7).

Mukti Sardjono menjelaskan, secara umum pasar ekspor minyak sawit Indonesia pada April-Mei 2019 memang tergerus oleh sentimen regulasi di negera tujuan ekspor. Selain di UE, sentimen yang sama juga terjadi di India yang menaikkan tarif bea masuk minyak sawit sampai pada batas maksimum. Malaysia sebagai penghasil minyak sawit terbesar kedua mengambil langkah sigap menghadapi regulasi India dengan memanfaatkan perjanjian dagang berupa Comprehensive Economic Cooperation Agreement (CECA) yang telah ditandatangani sejak 2011 dengan perundingan lanjutan di Free Trade Agreement menghasilkan diskon bea masuk impor refined products yang lebih rendah dari bea masuk yang dikenakan kepada Indonesia. Tarif bea masuk refined product dari Malaysia 45% dari tarif berlaku 54%. Alhasil, dari diskon tarif bea masuk yang dinikmati Malaysia, pasar minyak sawit Indonesia ke India kian tergerus, pasar India didominasi oleh Malaysia. Ekspor minyak sawit Indonesia ke India pada Februari 2019 masih 516.530 ton, namun pada Maret turun menjadi 194.410 ton dan pada April makin turun menjadi 185.550 ton. “Menyikapi hal ini, Pemerintah Indonesia diharapkan dapat segera mengakselerasi kerja sama ekonomi dengan India untuk pemberlakuan tarif impor yang sama, sehingga Indonesia dapat berkompetensi memeriahkan pasar minyak sawit India,” jelas Mukti Sardjono.

Dalam catatan Gapki, ekspor minyak sawit nasional (CPO dan turunan, oleokimia, dan biodiesel) pada April 2019 turun 18% dari Maret 2019 yakni dari 2,96 juta ton menjadi 2,44 juta ton. Ekspor pada Mei mulai merangkak naik tetap masih di bawah ekspektasi. Pada Mei 2019, ekspor minyak sawit nasional mencapai 2,79 juta ton atau meningkat 14% dari realisasi April 2019 yang sebesar 2,44 juta ton. Sedangkan total ekspor CPO dan turunannya (tidak termasuk oleokimia dan biodiesel) pada April 2019 turun 27% atau dari 2,76 juta ton pada Maret menjadi 2,01 juta ton pada April, sedangkan pada Mei mencapai 2,40 juta ton atau meningkat 18% dari bulan sebelumnya. “Melemahnya pasar ekspor minyak sawit Indonesia akibat beberapa negara tujuan ekspor utama memberlakukan regulasi yang sudah masuk dalam kategori hambatan dagang tentu menjadi suatu pekerjaan rumah bagi industri sawit nasional,” kata Mukti. Pasar utama ekspor lain yang juga mengalami dinamika adalah Tiongkok yang pada April 2019 masih membukukan kenaikan impor sebesar 41% dibanding Maret (dari 353.460 ton menjadi 499.570 ton) namun pada Mei melorot 18% (dari 499.570 ton menjadi 410.560 ton). Hal ini juga diikuti oleh Bangladesh. Di sisi lain, penyerapan biodiesel di dalam negeri pada April 2019 hanya mampu mencapai 516 ribu ton atau terkikis 2% dari bulan sebelumnya. Pada Mei 2019, serapan biodiesel menunjukkan progres yang positif yaitu mencapai 557 ribu ton atau terkerek 8% dibandingkan April.

Tingkatkan Serapan Domestik

Menurut Mukti, dengan melihat dinamika pasar global yang terus bergejolak terutama akibat sentimen regulasi dari negara tujuan ekspor dan dikombinasi dengan cukup tingginya stok di Malaysia dan Indonesia maka Pemerintah Indonesia diharapkan dapat segera mengakselerasi implementasi B30 segera setelah road test/ uji coba kendaraan selesai dilakukan pada Oktober nanti. Demikian juga PLN yang semestinya dapat segera merealiasikan penggunaan minyak sawit untuk pembangkit listrik. Dia menuturkan, apabila program penyerapan dalam negeri dapat berjalan maksimal, yakni B30 menyerap sekitar 9 juta ton minyak sawir dan PLN sekitar 3 juta ton, maka akan meningkatkan serapan pasar domestik dan mengurangi dampak tingginya stok. “Pada saat yang sama Indonesia dapat mengurangi impor minyak bumi dan tidak perlu bergantung sepenuhnya kepada pasar global, khususnya Eropa,” jelas Mukti. Pada saat ini juga adalah waktu yang tepat untuk mempercepat program peremajaan kebun sawit (replanting) untuk menjaga keseimbangan stok. Replanting akan mengurangi produksi untuk beberapa tahun ke depan tapi Indonesia akan memperbaiki produktivitas dan efisiensi dalam jangka panjang. Produksi minyak sawit pada April 2019 dan Mei 2019 menunjukkan tren kenaikan. Produksi April mencapai 4,64 juta ton dan Mei sebesar 4,73 juta ton. Faktor cuaca yang masih baik mendorong kenaikan produksi. Sementara stok minyak sawit Indonesia mulai menumpuk, sampai Mei stok bertengger di level 3,53 juta ton atau naik 11% dari April yang sebesar 3,18 juta ton. Dari sisi harga, sepanjang Mei harga CPO CIF Rotterdam bergerak di kisaran US$ 492,5-535 per metrik ton dengan rata-rata US$ 511,9 per metrik ton.

Bisnis | Selasa, 16 Juli 2019
Satu-satunya Jurus Tangkal Pelemahan Harga CPO Global

Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Master P. Tumanggor berpendapat, upaya paling realistis yang dapat dilakukan oleh Indonesia dalam menghadpi anjoknya harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) global dan hambatan dagang negara mitra adalah peningkatan konsumsi dalam negeri. “Tidak ada cara lain yang lebih efektif, selain peningkatan konsumsi dalam negeri melalui percepatan pelaksanaan program B30. Kita selain dihadapkan pada hambatan dagang, juga harus mengantisipasi kelebihan stok CPO di Malaysia dan Indonesia,” ujarnya kepada Bisnis.com, Senin (15/7/2019). Dia mengatakan, apabila program uji coba B30 selesai dilakukan pada Oktober 2019, dan PT PLN (Persero) segera merealiasikan penggunaan minyak sawit untuk pembangkit listrik, maka kelebihan stok di dalam negeri akan berkurang. Hal itu akan membuat harga CPO di pasar global akan terkerek. Dia mengestimasikan serapan CPO dari program B30 akan mencapai 9 juta ton dan pengunaan minyak sawit untuk campura bahan bakar pembangkit listri PLN mencapai 3 juta ton per tahun. Volume itu akan meningkatkan serapan pasar domestik dan mengurangi dampak tingginya stok dalam negeri.

Adapun, berdaasarkan data Gapki, penyerapan biodiesel di dalam negeri sepanjang April 2019 hanya mampu mencapai 516.000 ton atau turun 2% dibandingkan dengan Maret lalu. Sementara itu, pada Mei serapan menunjukkan pertumbuhan dengan mencapai 557.000 ton atau terkerek 8% dari April. Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Karyanto Suprih mengatakan, pemerintah tidak tinggal diam untuk mengurai persoalan hambatan dagang yang melanda CPO Indonesia. Terlebih, menurutnya, komoditas tersebut merupakan andalan ekspor Indonesia. “Untuk hambatan dagang India, pekan lalu Pak Mendag [Enggartiasto Lukita] sudah berkunjung ke India untuk kembali melobi agar bea masuk produk turunan kita bisa setara dengan India. Respon dari pemerintah India pun bagus, dan semoga dalam waktu dekat permintaan kita bisa direalisasikan,” jelasnya. Sementara itu, untuk kasus penerapan Delegated Act RED II oleh Uni Eropa, pemerintah telah melakukan persiapan pelaporan ke WTO dengan mengumpulkan sejumlah dokumen pendukung. Di sisi lain,pemerintah Indonesia juga aktif memasukkan CPO sebagai komoditas yang dilonggarkan impornya di sejumlah pakta perdagangan yang melibatkan negara Uni Eropa, seperti Indonesia-EFTA CEPA, Indonesia-Uni Eropa CEPA dan perjanjian dagang Indonesia-Eurasia. Berdasarkan data Gapki, ekspor minyak kelapa sawit secara total pada April mengalami penurunan 18% menjadi 2,44 juta ton dari bulan sebelumnya. Sementara itu, pada Mei, ekspor komoditas itu mulai naik kembali sebesar 14% menjadi 2,79 juta ton. Namun demikian, kenaikan volume ekspor pada Mei tersebut masih di bawah ekspektasi para pelaku usaha.
https://ekonomi.bisnis.com/read/20190716/12/1124646/javascript

Infosawit | Selasa, 16 Juli 2019
Serapan Biodiesel Sawit Mei Naik 8%

Sepanjang periode Mei 2019 serapan biodiesel sawit menunjukkan progress yang positif yakni mencapai 557 ribu ton atau terkerek 8% dibandingkan April2019. Dengan alasan terjadinya dinamika pasar global yang terus bergejolak terutama sentimen regulasi dari negara tujuan ekspor, berkombinasi dengan cukup tingginya stock di Malaysia dan Indonesia, pihak Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), mendorong Pemerintah Indonesia untuk segera mengakselerasi implementasi B30 setelah road test/uji coba kendaraan selesai dilakukan di Oktober 2019 nanti. Demikian juga PLN yang semestinya dapat segera merealiasikan penggunaan minyak sawit untuk pembangkit listrik. “Jika program penyerapan dalam negeri dapat berjalan maksimal (B30 sekitar 9 juta ton dan PLN sekitar 3 juta ton) sehingga meningkatkan serapan pasar domestik dan mengurangi dampak tingginya stock,” Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Senin (15/7/2019). Sehingga pada saat yang sama Indonesia dapat mengurangi impor minyak bumi dan tidak perlu bergantung sepenuhnya kepada pasar global, khususnya Eropa. Saat ini catat GAPKI, pula merupakan waktu yang tepat untuk mempercepat program peremajaan kebun sawit/replanting guna menjaga keseimbangan stok. “Program peremajaan sawit rakyat (PSR) bakal mengurangi produksi untuk beberapa tahun ke depan, sekaligus untuk memperbaiki produktivitas dan efisiensi dalam jangka panjang,” tandas Mukti.
https://www.infosawit.com/news/9145/serapan-biodiesel-sawit-mei-naik-8-

Wartaekonomi | Senin, 15 Juli 2019
Usai Uji Coba, Gapki Minta Pemerintah Segera Implementasi B30

Serapan biodiesel di dalam negeri menunjukkan progres yang positif pada Mei 2019, yaitu mencapai 557 ribu ton atau terkerek 8% dibandingkan bulan sebelumnya. Sepanjang April serapan biodiesel hanya mencapai 516 ribu ton atau terkikis 2% dibandingkan Maret lalu. Di sisi lain, ekspor minyak sawit Indonesia mulai tergerus akibat dari dampak regulasi beberapa negara tujuan utama ekspor minyak sawit, seperti India, Bangladesh, dan Eropa. Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono pun menyarankan Pemerintah Indonesia untuk segera mengakselerasi implementasi B30 setelah uji coba kendaraan selesai dilakukan di Oktober nanti. “PLN juga semestinya segera merealiasikan penggunaan minyak sawit untuk pembangkit listrik,” kata dia dalam keterangannya, Senin (15/7/2019). Jika program penyerapan dalam negeri dapat berjalan maksimal (B30 sekitar 9 juta ton dan PLN sekitar 3 juta ton), serapan pasar domestik dapat meningkat dan dampak tingginya stok bisa berkurang. “Pada saat yang sama Indonesia dapat mengurangi impor minyak bumi dan kita tidak perlu bergantung sepenuhnya kepada pasar global, khususnya Eropa. Saat ini juga adalah waktu yang tepat untuk mempercepat program peremajaan kebun sawit atau replanting untuk menjaga keseimbangan stok,” tegas Mukti. Replanting, menurutnya, akan mengurangi produksi untuk beberapa tahun ke depan, sehingga Indonesia bisa memperbaiki produktivitas dan efisiensi dalam jangka panjang. Dari sisi harga, sepanjang Mei harga CPO CIF Rotterdam bergerak di kisaran US$492,5–US$535 per metrik ton dengan harga rata-rata US$511,9 per metrik ton. Produksi minyak sawit pada April dan Mei pun menunjukkan tren kenaikan, masing-masing mencapai 4,64 juta ton dan Mei 4,73 juta ton. “Faktor cuaca yang masih baik juga mendorong kenaikan produksi. Sementara stok minyak sawit Indonesia mulai menumpuk. Sampai Mei, stok bertengger di 3,53 juta ton atau naik 11% dibandingkan dengan stok April sebesar 3,18 juta ton,” tukasnya.
https://www.wartaekonomi.co.id/read236563/usai-uji-coba-gapki-minta-pemerintah-segera-implementasi-b30.html

Antara | Senin, 15 Juli 2019
GAPKI: Penyerapan Biodiesel Domestik Capai 2,8 Juta Ton

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat penyerapan biodiesel dalam negeri hingga Mei 2019 telah mencapai 2,8 juta ton seiring dengan perluasan mandatori biodiesel 20 persen (B20). Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono merinci sepanjang April 2019, serapan biodiesel di dalam negeri hanya mampu mencapai 516.000 ton atau terkikis 2 persen dibandingkan Maret lalu. “Pada Mei ini serapan menunjukkan ‘progress’ yang positif yaitu mencapai 557.000 ton atau terkerek 8 persen dibandingkan April,” kata Mukti melalui keterangan resmi GAPKI yang diterima di Jakarta, Senin. Sepanjang 2019 ini, tercatat penyerapan biodiesel pada Januari mencapai 552.000 ton, Februari sebesar 648.000 ton dan Maret 527.000 ton. Mukti menilai Pemerintah Indonesia diharapkan segera mengakselerasi implementasi B30 segera setelah uji coba kendaraan (road test) selesai dilakukan pada Oktober mendatang. Hal itu melihat dinamika pasar global yang terus bergejolak, terutama sentimen regulasi dari negara tujuan ekspor, seperti India dan cukup tingginya stok minyak kelapa sawit (CPO) di Malaysia dan Indonesia.

Menurut dia, PLN juga semestinya dapat segera merealisasikan penggunaan minyak sawit untuk pembangkit listrik. Jika program penyerapan dalam negeri dapat berjalan maksimal, yakni mandatori B30 sekitar 9 juta ton dan PLN sekitar 3 juta ton, dapat meningkatkan serapan pasar domestik dan mengurangi dampak tingginya stok. Pada saat yang sama, Indonesia dapat mengurangi impor minyak bumi dan tidak perlu bergantung sepenuhnya kepada pasar global, khususnya Eropa. “Pada saat ini juga adalah waktu yang tepat untuk mempercepat program peremajaan kebun sawit atau replanting untuk menjaga keseimbangan stok,” kata Mukti. Replanting akan mengurangi produksi untuk beberapa tahun ke depan dan Indonesia dapat memperbaiki produktivitas dan efisiensi dalam jangka panjang. Dari sisi harga, sepanjang Mei harga CPO CIF Rotterdam bergerak di kisaran 492,5 dolar AS sampai 535 dolar AS per metrik ton dengan harga rata-rata 511,9 dolar AS per metrik ton. Produksi minyak sawit pada 2 bulan terakhir menunjukkan tren kenaikan, yakni mencapai 4,64 juta ton pada April, kemudian meningkat menjadi 4,73 juta ton pada Mei. Faktor cuaca yang masih baik mendorong kenaikan produksi. Sementara itu, stok minyak sawit Indonesia mulai menumpuk. Sampai Mei, stok bertengger di 3,53 juta ton atau naik 11 persen dibandingkan dengan April sebesar 3,18 juta ton.
https://www.antaranews.com/berita/956704/gapki-penyerapan-biodiesel-domestik-capai-28-juta-ton