+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Produk Hilir Sawit Diminati Pasar Global:

Produk Hilir Sawit Diminati Pasar Global: Pada 2018, konsumsi minyak sawit di dalam negeri dapat menyentuh angka 12,759 juta ton, lebih tinggi dari tahun lalu yang sebanyak 11,056 juta ton. Pemakaian CPO domestik digunakan lebih dominan kepada industri pangan. Dengan rincian, sebanyak 8,414 juta ton untuk makanan dan specialty fats. Sementara itu, 845 ribu ton untuk oleochemical dan soap noodle. Lalu, 3,5 juta ton memenuhi kebutuhan biodiesel,” kata Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif GIMNI. Merujuk dari data tersebut, ini berati industri hilir sawit tetap menjanjikan. Sahat Sinaga, menjelaskan industri hilir sawit tetap menarik di tahun ini baik untuk sektor minyak nabati, oleokimia, dan biodiesel. Hal ini diungkapkannya dalam silaturahmi bersama media dengan tiga asosiasi industri hilir sawit yaitu GIMNI, APROBI, APOLIN, di Jakarta. Sahat mengatakan ada sejumlah faktor yang mendukung pertumbuhan positif industri hilir yaitu produk biodiesel tidak lagi dibebani tarif tinggi oleh Uni Eropa, diplomasi dagang pemerintahan Joko Widodo yang sangat aktif, tindakan retaliasi USA dengan sejumlah negara seperti Tiongkok, Meksiko maupun Uni Eropa, dan menguatnya kurs mata uang Amerika Serikat. “Faktor inilah yang membawa angin segar bagi perdagangan sawit di pasar global,” kata Sahat. Sekadar informasi tahun 2017 lalu, konsumsi domestik minyak sawit sebesar 11,056 juta ton. Penggunaan ini ditujukan kepada sektor makanan dan specialty fats sebesar 8,149 juta ton. Industri oleokimia dan soap noodle sebanyak 688 ribu ton. Lalu biodiesel berjumlah 2,219 juta ton. Di tempat yang sama, Rapolo Hutabarat, Ketua Umum APOLIN, memproyeksikan volume ekspor produk oleokimia tumbuh 22% menjadi 4,4 juta ton, dibandingkan tahun lalu berjumlah 3,6 juta ton. Peningkatan ekspor oleokimia ditopang tren kenaikan konsumsi global produk oleokimia di sektor kosmestik, industri, ban, dan pengeboran minyak. Di dalam negeri, menurut Rapolo, kegiatan ekspor semakin menarik karena ada investasi baru oleokimia seperti PT Energi Sejahtera Mas dan Unilever. Seluruh faktor ini yang menopang pasokan industri oleokimia Indonesia ke pasar dunia. Nilai ekspor produk olekimia mencapai US$ 3,3 miliar pada 2017. “Tahun ini, kami perkirakan nilai ekspor naik menjadi 3,6 miliar dolar. Sampai triwulan pertama, volume ekspor oleokimia 1,1 juta ton dengan nilai perdagangan 915 juta dolar,”kata Rapolo. Di segmen minyak goreng, produk minyak goreng curah akan beralih kepada kemasan. Sahat Sinaga memperkirakan proses transisi ini akan selesai pada 2019. “Nanti tahun 2020 tidak ada lagi minyak goreng yang dijual curah,”jelasnya. Saat ini, pelaku industri minyak goreng menjalankan proses transisi dari proses produksi minyak goreng curah ke kemasan.Transisi dari minyak curah ke kemasan, dijelaskan Sahat, akan berdampak kepada harga. Sebab, pelaku industri mengalokasikan investasi mulai dari mesin untuk pengemasan, ruang penyimpanan yang lebih besar, termasuk kotak (kardus) kemasan luar, dalam proses tersebut. “Kendati demikian, faktor penentu memang tetap harga CPO. Sebab, biaya kemasan hanya berdampak sekitar 10-15%,” kata Sahat. (SAWITINDONESIA)

RI-Belanda Bahas Masa Depan Sawit di Pasar UE: Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Belanda Stephanus Abraham Blok membahas isu soal masa depan pasar produk minyak sawit di wilayah UE.”Dalam pertemuan itu, saya juga mengangkat isu soal minyak sawit dengan Menlu Blok. Kita telah membaca approve draft of the trialogue dan prihatin bahwa draf itu mengandung potensi tinggi diskriminasi terhadap minyak kelapa sawit (untuk wilayah Uni Eropa),” kata Menlu Retno Marsudi di Jakarta. Pada 14 Juni 2018, pertemuan trialog antara Komisi Eropa, Parlemen Eropa dan Dewan Uni Eropa menghasilkan beberapa poin terkait kelapa sawit. Namun, tidak ada rujukan khusus atau eksplisit untuk minyak sawit dalam perjanjian itu. Hasil pertemuan trialog itu juga bukan suatu larangan atau pun pembatasan impor minyak sawit atau biofuel berbasis minyak sawit. Selanjutnya, ketentuan yang relevan dalam Pedoman Energi Terbarukan (Renewable Energy Directive/RED) II hanya bertujuan untuk mengatur sejauh mana biofuel tertentu dapat dihitung oleh negara-negara anggota Uni Eropa untuk mencapai target energi berkelanjutan mereka. Akan tetapi, seperti dilansir Antara, teks RED II yang telah disetujui itu menetapkan bahwa kontribusi dari berbagai kategori biofuel tertentu, khususnya yang memiliki risiko tinggi terhadap perubahan penggunaan lahan secara tidak langsung (indirect land-use change/ ILUC) dan dari bahan pangan atau bahan baku yang mengalami ekspansi area produksi secara signifikan menjadi lahan dengan stok karbon tinggi, akan dibatasi pada tingkat konsumsi 2019. Menurut Menlu Retno, draf hasil trialog Uni Eropa itu menstipulasikan akan menggunakan ILUC sebagai kriteria, yang mencerminkan pandangan yang lebih bersifat Eropa sepihak daripada pandangan yang diterima secara internasional. Untuk itu, Menlu RI berbicara dengan Menlu Belanda untuk terus membahas bersama soal isu minyak sawit untuk wilayah Uni Eropa dan bekerja sama mencari solusi yang saling menguntungkan. “Bagi Indonesia, kita akan terus bekerja demi menjamin bahwa tidak ada lagi diskriminasi terhadap minyak kelapa sawit. Dan kita sepakat untuk berdiskusi dengan Uni Eropa tentang isu ini,” ujar Menlu Retno. (BERITASATU)

http://id.beritasatu.com/home/ri-belanda-bahas-masa-depan-sawit-di-pasar-ue/177437

Melakukan Transformasi Perekonomian Dari Tak Berkelanjutan Menjadi Berkelanjutan: Perkebunan Kelapa Sawit Realtif Hamat Air Perkebunan kelapa sawit lebih hemat air dibandingkan tanaman bambu, lantoro, pinus dan karet. Persentase curah hujan yang digunakan oleh perkebunan kelapa sawit yakni 40 persen dari curah hujan tahunan. Sehingga secara relatif kebun sawit hemat air. Untuk menghasilkan minyak/bioenergi, kelapa sawit termasuk salah satu tanaman yang paling hemat air. Kebun sawit minimum polusi tanah dan air.Perkebunan Kelapa Sawit Penghasil Energi Baru Terbarukan Yang Efisien Dan Ramah Lingkunga. Sawit tanaman biofuel paling efisien. Produktivitas minyak sawit yang dihasilkan oleh kelapa sawit 10 kali lipat tanaman lain. Perkebunan kelapa sawit lebih efisien memanen energi surya dibandingkan hutan tropis. Biodiesel sawithemat 62 persen emisi CO2 diesel, sehingga lebih abaik dibandingkan biodiesel berbahan kedelai, rapeseed,dan bunga matahari. Pengelolaan limbah cair pabrik kelapa sawit dengan teknologi biogas menurunkan emisi karbon dan menghasilkan biomas dan biolistrik. (SAWITINDONESIA)

CPO Melemah, Harga Biodiesel Kembali Turun: Kementerian ESDM merilis besaran Harga Indeks Pasar BBN, yang meliputi biodiesel dan bioetanol untuk Juli 2018. Harga kedua komoditas tersebut mengalami penurunan diakibatkan faktor melemahnya harga CPO maupun menguatnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Mengutip laman resmi Kementerian ESDM, Rabu, tarif biodiesel ditetapkan sebesar Rp7.949 per liter atau turun tipis Rp191 dari bulan Juni 2018, yaitu Rp 8.140/liter. Harga tersebut masih belum termasuk dengan perhitungan ongkos angkut, yang berpedoman pada Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No.1770 K/12/MEM/2018. Penurunan ini terjadi akibat menurunnya harga minyak kelapa sawit, pada perhitungan yang tertera pada Surat Direktur Jenderal EBTKE. HIP biodiesel ini ditopang oleh harga rata-rata CPO sepanjang 25 Mei 2018 hingga 24 Juni 2018 sebesar Rp7.740 per kilogram (kg). Harga ini lebih rendah pada periode sebelumnya, yaitu Rp7.954 per kg. Penurunan harga terjadi pula pada HIP bioetanol. Harga pasar bioetanol diplot sebesar Rp9.900 per liter oleh Pemerintah setelah selama 5 bulan terakhir sempat mengalami kenaikan dari Rp10.059 (Februari), Rp10.083 (Maret), Rp10.140 (April), Rp10.147 (Mei), dan Rp10.210 (Juni). Faktor penurunan ini ditentukan oleh rata-rata tetes tebu Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) selama 25 Agustus 2018 – 24 Juni 2018 tercatat sebesar Rp1.533 per kg ditambah besaran dolar Amerika Serikat, yaitu US$ 0,25 per liter dikali 4,125 kg per liter. Untuk diketahui, HIP BBN ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit 6 bulan selali oleh Direktur Jenderal EBTKE. (BISNIS)

http://industri.bisnis.com/read/20180704/44/812954/cpo-melemah-harga-biodiesel-kembali-turun

Selain Nikel, Sektor Perkebunan Untung Selama Perang Dagang: Harga minyak mentah mencapai US$ 73,94 per barel diharapkan dapat membawa angin segar bagi emiten perkebunan sawit. Biasanya, saat harga minyak naik, maka biodiesel, produk turunan sawit, jadi buruan. Maklum, biodiesel kerap jadi substitusi minyak. Permintaan biodiesel sendiri antara lain datang dari pemerintah. Tahun ini, pemerintah menargetkan kenaikan konsumsi biodiesel menjadi 22,4% year on year (yoy) menjadi 3,5 juta kiloliter untuk 2018, dari 2,86 juta kiloliter tahun lalu. Kepala Riset Narada Aset Manajemen Kiswoyo Adi Joe melihat, pertumbuhan konsumsi ini bisa meningkatkan permintaan dan harga jual CPO. Maklum, sudah dua tahun sektor CPO lesu karena harga jual turun. Cek kinerja keuangan Selain itu, beberapa sentimen global juga diharapkan dapat mengerek harga jual minyak sawit mentah alias CPO. Salah satunya, sentimen perang dagang antara AS dan China. China antara lain mengenakan tarif impor atas produk kedelai asal AS. Hal ini bisa membuat konsumen minyak kedelai beralih menggunakan CPO, yang merupakan produk substitusi minyak kedelai. Analis Senior Paramitra Alfa Sekuritas William Siregar menyebut, siklus tahunan El Nino yang biasanya terjadi di kuartal tiga juga dapat mendorong permintaan CPO. Meski begitu, investor perlu melihat kinerja laporan keuangan emiten di kuartal kedua sebelum memutuskan masuk ke saham-saham CPO. “Ada sentimen lain yang mungkin belum terdeteksi, seperti hari ini rupiah kembali tertekan,” ujar William. Kiswoyo memaparkan, meski punya prospek menarik tak semua saham CPO layak jadi pilihan. “Emiten yang punya usia tanaman lebih produktif bisa jadi unggulan,” kata Kiswoyo. Kiswoyo merekomendasikan PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT). Meksi masih mencatatkan kerugian sebesar Rp 56,67 miliar, usia tanaman BWPT berkisar enam hingga delapan tahun. “Masa keemasan tanaman sawit sampai 15 tahun, produksi buahnya bisa meningkat cepat,” ujar dia. Kiswoyo memasang target harga BWPT di Rp 400 per saham. “Untuk jangka panjang, setahun sampai dua tahun ke Rp 500 masih bisa,” kata dia. William merekomendasikan PT PP LSIP dan PT TBLA. Ia menilai LSIP punya potensi bagus lantaran DER terjaga di level 23,01 kali. “LSIP juga punya porsi tanaman produktif seluas 87.046 hektare (ha) dan tanaman muda seluas 8.258 ha. Selain itu, penjualan LSIP lebih banyak ke pasar domestik, karena itu tidak terpengaruh sentimen nilai tukar,” kata William. Sementara prospek TBLA bagus karena diversifikasinya di tanaman tebu. Saat harga jual CPO rendah, TBLA punya potensi pendapatan dari penjualan tebu. William memprediksi pendapatan TBLA capai Rp 9,1 triliun tahun ini. (TRIBUNNEWS)

http://kaltim.tribunnews.com/2018/07/04/selain-nikel-sektor-perkebunan-untung-selama-perang-dagang

Uni Eropa Berulah, Ekspor Sawit Tertekan: Perang dagang (trade war) global menjadi mimpi buruk negara-negara berkembang (emerging market). Indonesia sebagai salah satu emerging market merasakan efek trade war AS dan Tiongkok tersebut. Pasalnya, negara-negara lain ikut-ikutan melakukan hal serupa. UE misalnya bakal melarang ekspor CPO. Kalau tak aral melintang, UE telah mengambil jalan perang dengan melarang ekspor CPO pada 2030 mendatang. Kebijakan itu diambil bersandar pada sikap Parlemen Eropa yang menyebut sawit Indonesia menjadi penyebab deforestasi. Situasi dan kondisi tersebut sejatinya sangat riskan. Itu mengingat indonesia merupakan produsen dan eksportir terbesar CPO dunia. Karena itu, kalau pemerintah tidak salah langkah dan taktis mengambil sikap, bisa berakibat fatal. Maklum, tidak kurang 16 juta jiwa menggantungkan hidup pada sawit. masih menurut data Gapki, lonjakan permintaan siginfikan justru datang dari AS. Negeri Paman Sam itu mencatat permintaan CPO sebesar 68 persen menjadi 193,47 ribu ton dari posisi Desember 2017 di kisaran 115,29 ribu ton. Tuduhan dumping biodiesel terhadap Indonesia tidak memengaruhi permintaan minyak sawit. Selain itu, Bangladesh juga mencatat kenaikan permintaan minyak sawit dari Indonesia 244 persen dan Pakistan 3 persen. Lalu, pada sektor biodiesel, serapan biodiesel di dalam negeri pada mencatat lonjakan 14 persen menjadi 218 ribu ton dari periode Desember 2017 di kisaran 191 ribu ton. Serapan biodiesel di dalam negeri masih konsisten setiap bulan meski ada fluktuasi. Sebelumnya, tim lobi Indonesia akan menemui UE. Tim lobi itu ketuai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan itu bakal menjelaskan tentang proses bisnis industri kelapa sawit Indonesia termasuk serapan tenaga kerja dan mengenai tuduhan deforestasi, sebagai dasar Parlemen Eropa mengajukan kebijakan itu. (INDOPOS)

https://www.indopos.co.id/read/2018/07/04/143193/uni-eropa-berulah-ekspor-sawit-tertekan

Pelemahan Harga Minyak Sawit Dorong Penurunan HIP BBN: Memasuki bulan Juli 2018, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali merilis besaran Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati (BBN), yang meliputi biodiesel dan bioetanol. Harga kedua komoditas tersebut mengalami penurunan diakibatkan faktor melemahnya harga minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO) serta menguatnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Dilansir Kementerian ESDM, biodiesel ditetapkan sebesar Rp7.949 per liter atau turun tipis Rp191 dari bulan Juli 2018 lalu, yaitu Rp8.140/liter. Harga tersebut masih belum termasuk dengan perhitungan ongkos angkut, yang berpedoman pada Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No.1770 K/12/MEM/2018. Penurunan ini terjadi akibat menurunnya harga minyak kelapa sawit, pada perhitungan yang tertera pada Surat Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Nomor 3381/10/DJE/2018 HIP biodiesel ini ditopang oleh harga rata-rata minyak kelapa sawit (CPO) sepanjang 25 Mei 2018 hingga 24 Juni 2018 sebesar Rp7.740/kg. Harga ini lebih rendah pada periode sebelumnya, yaitu Rp7.954/kg. Penurunan harga terjadi pula pada HIP bioetanol. Harga pasar bioetanol diplot sebesar Rp9.900/liter oleh Pemerintah setelah selama lima bulan terakhir sempat mengalami kenaikan dari Rp10.059 (Februari), Rp10.083 (Maret), Rp10.140 (April), Rp10.147 (Mei), dan Rp10.210 (Juni). Faktor penurunan ini ditentukan oleh rata-rata tetes tebu Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) selama 25 Agustus 2018-24 Juni 2018 tercatat sebesar Rp1.533/kg ditambah besaran dolar sebesar USD0,25/liter dikali 4,125 kg/liter. (SINDONEWS)

https://ekbis.sindonews.com/read/1318705/34/pelemahan-harga-minyak-sawit-dorong-penurunan-hip-bbn-1530676073