+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Produksi Biodiesel Lampaui Target

Bisnis Indonesia | Senin, 7 Januari 2019

Produksi Biodiesel Lampaui Target

Produksi Biodiesel sepanjang 2018 mencapai 6,01 juta kiloliter melampaui target yang ditetapkan sebesar 5,70 juta kiloliter. Produksi itu mencakup kepentingan ekspor ataupun pemanfaatan domestik untuk program B20, serta kepentingan domestik di luar B20. Direktur Bioenergi Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Andriati Feby Misna mengatakan, dari jumlah itu, pemanfaatan Biodiesel dalam negeri pada 2018 mencapai 4,02 juta kl yang meliputi penggunaan bagi program campuran Biodiesel 20% (B20) dalam BBM dan di luar program. Capaian ini berdampak pada penghematan devisa negara sekitar US$2,01 miliar atau setara dengan Rp28.42 triliun. Namun, lanjut Feby, implementasi B20 oleh badan usaha bahan bakar nabati (BUBBN), realisasinya masih mencapai 3,20 juta kl. “Jadi, tambahan lainnya untuk B20 itu. Mereka [produsen) kan ada yang pakai untuk industri mereka sendiri,” katanya, Jumat (4/1). Adapun, data ESDM menyebutkan bahwa secara berturut-turut produksi Biodiesel sejak 2014 sampai dengan 2017 adalah i,32 juta kl, 1.62 juta kl. 3,65 juta kl, dan 3,41 juta kl.

Naiknya serapan ini tak lain dikarenakan kebijakan B20 yang digalakkan pemakaiannya di berbagai sektor sejak 1 September 2018, mampu mengurangi beban impor BBM. Berdasarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 41 Tahun 2018, badan usaha BBM (BUBBM) yang tidak memenuhi ketentuan, yakni tidak melakukan pencampuran, akan dikenai sanksi administratif berupa denda sebesar Rp6.000 per liter volume Biodiesel yang wajib dicampur dengan volume Solar pada bulan berjalan dan berupa pencabutan izin usaha. Untuk meminimalisasi keterlambatan suplai fatty add methyl ester (FAME) dari BUBBN ke BUBBM dalam memenuhi kebutuhan tahun depan, Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) meminta BUBBM untuk dapat mengirimkan purchase order terkait dengan seberapa besar FAME yang harus dipasok jauh-jauh hari atau paling lambat 14 hari sebelum dimulainya pelaksanaan program B20 pada Januari 2019. Ketua Aprobi Paulus Tjakrawan mengaku sudah semua BUBBM telah mengirimkan order pembelian kebutuhan bahan baku B20 tersebut untuk pelaksanaan B20 mulai Januari 2019.

Harian Ekonomi Neraca | Senin, 7 Januari 2019

Gantikan AC, Pemerintah Dorong Penggunaan Green Chiller

Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan mendorong penggunaan sistem pendingin “green chiller” sebagai pengganti “air conditioner” (AC). “Kita juga mulai untuk mengintensifkan penggunaan green chiller,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) EBTKE Kementerian ESDM Rida Mulyana di Jakarta, akhir pekan kemarin. Ia menjelaskan bahwa penggunaan “green chiller” akan menggantikan perangkat elektronik AC yang selama ini menjadi perangkat yang mengonsumsi daya listrik paling besar di Indonesia. “Artinya AC-AC yang selama ini menjadi pengguna listrik paling besar, khususnya di negara-negara tropis termasuk Indonesia, akan kita ganti penggunaannya dengan sesuatu yang lebih ramah lingkungan, murah dan tidak perlu impor, itu juga akan kita dorong,” ujar Rida Mulyana dalam konferensi pers terkait capaian kinerja Kementerian ESDM sepanjang 2018.

Rida juga mendorong aga rmasyarakat untuk berhemat menggunakan energi karena percuma energi disediakan oleh pemerintah secara besar-besaran tetapi pada saat yang sama masyarakat bersifat boros atau memboroskan penggunaan energi. “Green chiUer” merupakan sistem pendingin berbasis hidrokarbon yang bersifat ramah lingkungan. Selain mendorong penggunaan “green chiller” sebagai pengganti AC, Dirjen EBTKE juga sebelumnya mengungkapkan bahwa pihaknya akan segera mengonversi penggunaan bahan bakar dalam pembangkit lis-triktenaga diesel (PLTD) dengan Crude Palm Oil (CPO). “Selain tadi mengawal B20 yang tinggal melakukan monitoring dan evaluasi (monev), kita juga diminta oleh Menteri ESDM untuk segera mengonversi penggunaan PLTD dengan CPO seperti juga disampaikan bapak Menteri, tahun 2019 harus sudah jalan,” kata Rida.

Investor Daily Indonesia | Senin, 7 Januari 2019

Bahan Bakar PLTD akan Dikonversi CPO Tahun Ini

Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) segera mengonversi penggunaan bahan bakar dalam pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD), dari bahan bakar minyak (BBM) ke crude palm oil (CPO). Diharapkan konversi tersebut bisa direalisasikan tahun ini. “Selain tadi mengawal B20 yang tinggal melakukan monitoring dan evaluasi (monev), kita juga diminta oleh Menteri ESDM untuk segera mengonversi penggunaan PLTD dengan CPO seperti juga disampaikan bapak Menteri, tahun 2019 harus sudah jalan,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) EBTKE Rida Mulyana di Jakarta, akhir pekan lalu. Rida mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan dan PT PLN terkait upaya mengonversi penggunaan bahan bakar PLTD dengan CPO tersebut. Sebelumnya, Menteri ESDM Ignasius Jonan mengungkapkan bahwa PLTD masih digunakan untuk menerangi pulau-pulau terluar. Dia meminta dalam waktu dua tahun PLTD dengan kapasitas total mencapai 2.000 Megawatt (MW) tersebut menggunakan sawit sebagai bahan bakarnya. “Pembangkit itu diubah jadi pembangkit minyak kelapa sawit bisa sampai 100%,” ujarnya.

PLN juga tengah melakukan kajian mengenai penggunaan CPO sebagai bahan bakar PLTD. Dirjen EBTKE itu juga menyinggung rencana pihaknya yang akan lebih intens menangani “green fuel”. “Kita juga akan lebih intens menangani hal yang kita sebut green fuel,” kata Rida. Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Andrian Feby Misnah akhir tahun lalu mengungkapkan bahwa pemerintah mendorong upaya produksi “green fuel”. “Selain biodiesel, ke depan juga kita akan mengupayakan untuk memproduksi green fuel,” katanya. Sebelumnya, Direktur Perencanaan PLN Syofvie Rukman mengatakan, kajian yang dilakukan itu mengenai pengaruh kualitas CPO terhadap mesin pembangkit dan tingkat efisiensi dari harga jual CPO. Dia berharap harganya nanti sama dengan atau lebih murah dari bahan bakar gas. “Ini kami masih kaji. Kami juga harus lebih tahu kandungan CPO seperti apa yang cocok sama mesin,” kata Syofvie. Syofvie mengungkapkan, pihaknya dan Kementerian ESDM sedang membangun proyek PLTD 100% menggunakan CPO di Belitung. Ini menjadi proyek pertama yang menggunakan bahan bakar nabati dan ditargetkan pada akhir tahun ini. Proyek ini akan menjadi acuan kajian penggunaan 100% CPO di PLTD lain. Dia pun belum bisa memastikan apakah akan ada investasi lagi untuk membeli mesin agar bisa menyerap 100% CPO.

“Kalau kami mau mengubah mesin yang ada sekarang untuk itu, ya saya butuh investasi baru. Tapi kalau ternyata saya butuhnya mesin baru, ya saya tinggal beli saja yang baru,” ujarnya. Sementara itu, pemerintah juga menyatakan terdapat tiga kilang eksisting yang disiapkan agar dapat mengolah minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO) menjadi bahan bakar minyak (BBM) hijau mulai 2022. Pada saat yang sama, pemerintah tetap mengupayakan diterapkannya mandatori biodiesel 30% (B30) mulai 2020. Andriah Feby Misnah menuturkan, diversifikasi ke bioenergi ini dilakukan guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang mencapai 40% dari total bauran energi nasional. Kementerian menargetkan, pemanfaatan bioenergi ini dapat mencapai 13,8 juta kiloliter (KL) pada 2025. Sejumlah langkah telah dilakukan pihaknya untuk mencapai target tersebut. Salah satunya, pihaknya mendorong dilakukannya pilot project dual processing CPO dan minyak mentah di kilang oleh PT Pertamina (Persero). Ada tiga kilang yang disiapkan untuk pilot project ini yakni Kilang Plaju yang akan mengolah CPO menjadi green fuel, Kilang Dumai menghasilkan green diesel, dan Kilang Balongan memproduksi green avtur. “Ini masih uji coba teman-teman ITB, katalisnya sudah ada. Coba dulu di kilang-kilang Pertamina. Kalau oke, 2022 komersialisasi. Karakternya mirip dengan fossil fuel,” kata dia belum lama ini. Pertamina sendiri sebelumnya telah meneken nota kesepahaman kerja sama terintegrasi dengan Eni, salah satunya untuk potensi pengembangan kilang ramah lingkungan. Perseroan menggandeng Eni lantaran ke-berhasilkannya mengkonversi kilang konvensional menjadi bio-refinery di Porto Maghera pada 2014 lalu, serta menjadi pelopor konversi kilang pertama di dunia.

Investor Daily Indonesia | Senin, 7 Januari 2019

Serapan Tinggi, HIP Biodiesel Januari 2019 Turun

Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati pada Januari 2019 turun penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. HIP bahan bakar biodiesel turun sebesar Rp 218 per liter menjadi Rp 6.371 per liter dari bulan Desember 2018. Harga tersebut ditambah besaran ongkos angkut sesuai dengan ketentuan Keputusan Menteri ESDM No. 350/K/12/ MEM/2018. Sebelumnya, berdasarkan data Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, HIP biodiesel terus merosot sejak bulan Oktober 2018 dari Rp 7.341 per liter menjadi Rp 6.371 per liter pada bulan Januari 2019. Bila dibandingkan year on year (yoy), pergerakan harga Biodiesel ini mirip pada periode tahun sebelumnya dimana HIP biodiesel melemah sejak bulan Oktober 2017 dari Rp 8.518 per liter menjadi Rp 8.000 per liter pada bulan Januari 2018. Penurunan HIP biodiesel pada Januari ini, seperti dikutip situs resmi Kementerian ESDM, www.esdm.go.id dipicu oleh harga rata-rata minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/ CPO) Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) periode 15 November 2018 – 14 Desember 2018. Adapun harga CPO juga mengalami penurunan menjadi Rp 5.872 per kg dari sebelumnya Rp 6.086 per kg.

Penurunan harga terjadi pula pada Bioetanol pada awal tahun ini. Pemerintah cq Kementerian ESDM menetapkan HIP Bioetanol sebesar Rp 10.274 per liter. Terhitung sejak November 2018, HIP Bioetanol menurun dalam kurun waktu tiga bulan terakhir dari RplO.457 (November) dan RplO.362 (Desember). HIP Bioetanol ditentukan oleh rata-rata tetes tebu KPB selama 15 Juli sampai 14 Desember 2018 sebesar Rpl.611 per kg ditambah besaran dolar Amerika sebesar 0,25 USD per liter. Besaran rata-rata tetes tebu KPB tercatat sama untuk perhitungan bulan sebelumnya. Sebagai informasi, besaran HIP BBN tersebut digunakan dalam rangka pelaksanaan man-datori B20 dan berlaku untuk pencampuran Minyak Solar baik jenis BBM Tertentu Dan Umum. HIP BBN sendiri ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit 6 bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE. Sementara itu, langkah Pemerintah dalam menggenjot pemanfaatan Biodiesel dalam negeri pada tahun 2018 menuai hasil positif. Sepanjang tahun tersebut, produksi campuran Biodiesel sebanyak 20% (B20) dalam BBM sebanyak 6,01 juta kilo liter dari yang ditargetkan sebesar 5,70 juta kilo liter.

The Jakarta Post | Sabtu, 5 Januari 2019

Pertamina speeds up green fuel test for production

State energy holding company Pertamina plans to further test the commercial production of green fuels to reduce ballooning oil imports, which account for more than half of national demand. Green fuel is what Pertamina refers to as fuels that are processed in a refinery with treated crude palm oil, called refined bleached deodorized palm oil (RBDPO), through a treatment called coprocessing. There are three types of green fuel, namely gasoline, diesel and aviation turbine (avtur). The processing method is different from 20 percent biodiesel blend, where the CPO material, fatty acid methyl ester, is blended only after the crude oil becomes fuel. The Bandung Institute of Technology (ITB) said through coprocessing, the biofuel may have a higher blend than 20 percent. “Biodiesel still contains oxygen, but with coprocessing the fuels specification becomes similar to fossil fuels and will even have a higher octane number,” ITB expert on chemical reaction and catalyst technology Subagjo said at a recent press briefing with Pertamina about green fuel.

There are four Pertamina refineries that have been earmarked for the green project, namely in Plaju in South Sumatra, Cilacap in Central Java, Dumai in Riau and Balongan in West Java. The initial plant test in Plaju kicked off in early December for a week, while a second test will be rolled out this September for a month. Meanwhile, plant tests in Dumai, Cilacap and Balongan will be carried out in February, September and next year, respectively. Pertamina refinery director Budi Santoso Syarif said on the same occasion that if the plant tests are successful, the company could then produce green gasoline with a research octane number of 92 at 487,800 kiloliters per month. “The effort is in accordance with the governments mission to [secure] foreign exchange. We could also reduce crude [imports] by 23,000 barrels per day, or the equivalent to [saving] US$500 million each year,” he said. Data from Pertamina shows that the production of green liquefied petroleum gas, green diesel and green avtur could reach 104,000 tons per month, 11,500 barrel stream per day (bsd) and 11,700 bsd, respectively. The plant tests, however, are facing obstacles in terms of RBDPO supply, which may delay commercial production of green fuel. Budi said RBDPO is a material that is generally utilized by margarine and cooking oil producers.

“RBDPO is mainly produced by private [companies], so basically we still depend on other people. Hence, we cant be sure on the exact timeline for commercial production [of green fuel],” he said. Budi explained that one of the examples of supply problems was during the plant test in Plaju, which was initially planned to kick off in October, but was delayed until December because of a lack of supply. He further said the green projects have the potential to be included in the firms two refinery development plans, namely the Refinery Development Master Plan and the Grass Root Refinery. “Five out of six refinery development projects are still in the negotiation phase. Hence it could be included in those projects,” he added. In November, Statistics Indonesia recorded the countrys trade deficit at $2.05 billion. The increase was triggered by a $1.46 billion monthly deficit in oil and gas trade despite declining oil prices, both in international indexes and the Indonesia Crude Price, which set the oil price at $62.98 per barrel in November from $77.56 per barrel the month before.

Sindonews | Sabtu, 5 Januari 2019

Serapan Tinggi, HIP Biodiesel Januari 2019 Turun

Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati pada bulan Januari 2019 mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. HIP bahan bakar biodiesel turun sebesar Rp 218 per liter menjadi Rp 6.371 per liter dari bulan Desember 2018. Harga tersebut ditambah besaran ongkos angkut sesuai dengan ketentuan Keputusan Menteri ESDM No. 350/K/12/MEM/2018. Sebelumnya, berdasarkan data Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, HIP biodiesel terus merosot sejak bulan Oktober 2018 dari Rp 7.341 per liter menjadi Rp 6.371 per liter pada bulan Januari 2019. “Bila dibandingkan year on year (yoy), pergerakan harga Biodiesel ini mirip pada periode tahun sebelumnya dimana HIP biodiesel melemah sejak bulan Oktober 2017 dari Rp 8.518 per liter menjadi Rp 8.000 per liter pada bulan Januari 2018,” seperti dilansir laman resmi Kementerian ESDM, Sabtu (5/1/2019). Penurunan HIP biodiesel pada Januari ini dipicu oleh harga rata-rata minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) periode 15 November 2018 – 14 Desember 2018. Adapun harga CPO juga mengalami penurunan menjadi Rp 5.872 per kg dari sebelumnya Rp 6.086 per kg.

Penurunan harga terjadi pula pada Bioetanol pada awal tahun ini. Pemerintah c.q Kementerian ESDM menetapkan HIP Bioetanol sebesar Rp 10.274 per liter. Terhitung sejak November 2018, HIP Bioetanol menurun dalam kurun waktu tiga bulan terakhir dari Rp10.457 (November) dan Rp10.362 (Desember). HIP Bioetanol ditentukan oleh rata-rata tetes tebu KPB selama 15 Juli sampai 14 Desember 2018 sebesar Rp1.611 per kg ditambah besaran dolar Amerika sebesar 0,25 USD per liter. Besaran rata-rata tetes tebu KPB tercatat sama untuk perhitungan bulan sebelumnya. Sebagai informasi, besaran HIP BBN tersebut digunakan dalam rangka pelaksanaan mandatori B20 dan berlaku untuk pencampuran Minyak Solar baik jenis BBM Tertentu Dan Umum. HIP BBN sendiri ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit 6 bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE. Langkah Pemerintah sendiri dalam menggenjot pemanfaatan Biodiesel dalam negeri pada tahun 2018 sendiri menuai hasil positif. Sepanjang tahun tersebut, produksi campuran Biodiesel sebanyak 20% (B20) dalam BBM sebanyak 6,01 juta kilo liter dari yang ditargetkan sebesar 5,70 juta kilo liter. Secara berturut-turut produksi biodiesel dari 2014 adalah sebagai berikut: 3,32 Juta KL (2014), 1,62 Juta KL (2015), 3,65 Juta KL (2016) dan 3,41 Juta KL (2017). Capaian ini berdampak pada penghematan devisa negara sekitar USD 2,01 miliar atau setara dengan Rp28,42 triliun. Naiknya serapan ini tak lain karena kebijakan B20 yang digalakkan massif di berbagai sektor sejak 1 September 2018 lalu. Dengan demikian, mampu mengurangi beban impor BBM.

https://ekbis.sindonews.com/read/1368124/34/serapan-tinggi-hip-biodiesel-januari-2019-turun-1546689568

Bisnis | Minggu, 6 Januari 2019

Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati Januari Turun Rp218 Per Liter

Harga indeks pasar (HIP) bahan bakar nabati (BBN) pada Januari 2019 turun dibandingkan dengan bulan sebelumnya. HIP biodiesel turun Rp218 per liter menjadi Rp6.371 per liter dari Desember 2018. Harga tersebut ditambah besaran ongkos angkut sesuai dengan ketentuan Keputusan Menteri ESDM No. 350/K/12/MEM/2018. Sebelumnya, berdasarkan data Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, HIP biodiesel terus merosot sejak Oktober 2018 dari Rp7.341 per liter menjadi Rp6.371 per liter pada Januari 2019. Bila dibandingkan secara year on year (yoy), pergerakan harga biodiesel ini mirip pada periode tahun sebelumnya saat HIP biodiesel melemah sejak Oktober 2017 dari Rp8.518 per liter menjadi Rp8.000 per liter pada Januari 2018. Penurunan HIP biodiesel pada Januari ini dipicu oleh harga rata-rata minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) periode 15 November 2018 – 14 Desember 2018, harga CPO juga turun menjadi Rp5.872 per kg dari sebelumnya Rp6.086 per kg.

Penurunan harga terjadi pula pada bioetanol pada awal tahun ini. Kementerian ESDM menetapkan HIP bioetanol Rp10.274 per liter. Terhitung sejak November 2018, HIP bioetanol menurun dari Rp10.457 (November) dan Rp10.362 (Desember). HIP bioetanol ditentukan oleh rata-rata tetes tebu KPB selama 15 Juli sampai 14 Desember 2018 sebesar Rp1.611 per kg ditambah US$0,25 per liter. Besaran rata-rata tetes tebu KPB tercatat sama untuk perhitungan bulan sebelumnya. HIP BBN tersebut digunakan dalam rangka pelaksanaan mandatori B20 dan berlaku untuk pencampuran minyak solar baik jenis BBM tertentu dan umum. HIP BBN ditetapkan setiap bulan dan dievaluasi paling sedikit 6 bulan sekali oleh Ditjen EBTKE.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190106/44/875861/harga-indeks-pasar-bahan-bakar-nabati-januari-turun-rp218-per-liter

Okezone | Minggu, 6 Januari 2019

Harga Bahan Bakar Biodiesel Merosot, Apa Penyebabnya?

Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati pada bulan Januari 2019 mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. HIP bahan bakar biodiesel turun sebesar Rp218 per liter menjadi Rp6.371 per liter dari bulan Desember 2018. Harga tersebut ditambah besaran ongkos angkut sesuai dengan ketentuan Keputusan Menteri ESDM No. 350/K/12/MEM/2018. Seperti dilansir dari Kementerian ESDM, Jakarta, Minggu (6/1/2019), berdasarkan data Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, HIP biodiesel terus menurun sejak Oktober 2018 dari Rp7.341 per liter menjadi Rp6.371 per liter pada Januari 2019. Bila dibandingkan year on year (yoy), pergerakan harga Biodiesel ini mirip pada periode tahun sebelumnya dimana HIP biodiesel melemah sejak bulan Oktober 2017 dari Rp8.518 per liter menjadi Rp8.000 per liter pada bulan Januari 2018. Penurunan HIP biodiesel pada Januari ini dipicu oleh harga rata-rata minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) periode 15 November 2018-14 Desember 2018. Adapun harga CPO juga mengalami penurunan menjadi Rp5.872 per kg dari sebelumnya Rp6.086 per kg.

Penurunan harga terjadi pula pada Bioetanol pada awal tahun ini. Pemerintah melalui Kementerian ESDM menetapkan HIP Bioetanol sebesar Rp10.274 per liter. Terhitung sejak November 2018, HIP Bioetanol menurun dalam kurun waktu tiga bulan terakhir dari Rp10.457 pada November dan Rp10.362 di bulan Desember. HIP Bioetanol ditentukan oleh rata-rata tetes tebu KPB selama 15 Juli sampai 14 Desember 2018 sebesar Rp1.611 per kg ditambah besaran dolar Amerika sebesar 0,25 USD per liter. Besaran rata-rata tetes tebu KPB tercatat sama untuk perhitungan bulan sebelumnya. Sebagai informasi, besaran HIP BBN tersebut digunakan dalam rangka pelaksanaan mandatori B20 dan berlaku untuk pencampuran Minyak Solar baik jenis BBM Tertentu Dan Umum. HIP BBN sendiri ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit 6 bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE.

Tingginya Serapan Biodiesel

Langkah Pemerintah sendiri dalam menggenjot pemanfaatan Biodiesel dalam negeri pada tahun 2018 sendiri menuai hasil positif. Sepanjang tahun tersebut, produksi campuran Biodiesel sebanyak 20% (B20) dalam BBM sebanyak 6,01 juta kilo liter dari yang ditargetkan sebesar 5,70 juta kilo liter. Secara berturut-turut produksi biodiesel dari 2014 adalah sebagai berikut: 3,32 Juta KL (2014), 1,62 Juta KL (2015), 3,65 Juta KL (2016) dan 3,41 Juta KL (2017). Capaian ini berdampak pada penghematan devisa negara sekitar USD2,01 miliar atau setara dengan Rp28,42 triliun. Naiknya serapan ini tak lain karena kebijakan B20 yang digalakkan massif di berbagai sektor sejak 1 September 2018 lalu. Dengan demikian, mampu mengurangi beban impor BBM.

https://economy.okezone.com/read/2019/01/06/320/2000592/harga-bahan-bakar-biodiesel-merosot-apa-penyebabnya