+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Produksi Melimpah, Harga CPO Terpuruk

Harian Seputar Indonesia | Kamis, 8 November 2018

Produksi Melimpah, Harga CPO Terpuruk

Dayabeli minyak sawit oleh negara pengimpor masih menunjukkan pelemahan padaSeptember 2018. Alhasil, ekspor minyak sawit Indonesia termasuk Biodiesel dan oleochemical menurun 3% atau dari 3,3 juta ton padaAgustus tergerus menjadi 3,2 juta ton pada September. Direktur Eksekutif Gabungan pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono mengatakan, rendahnya harga minyak sawit mentah (ende palm oil/CPO) global tidak menjadi daya magnet yang kuat kepada negara impor. Pasalnya, harga minyak nabati lain juga sedang murah terutamakedelai, rapeseed, dan biji bunga matahari. “Harga kedelai jatuh hingga berada pada level terendah sejak 2007. Eskalasi perang dagang antara China dan AS mempunyai andil yang cukup besar dalam memengaruhi harga kedelai,”kata Mukti Sardjono dalam rilisnya di Jakarta kemarin. Pasar minyak sawit tidak bergeliat, meskipun harga sedang murah. Pasalnya, salah satu negara penghasil kedelai terbesar yaitu Argentina juga mengambil tindakan dengan mengurangi pajak ekspor kedelai guna menarik pembeli. “Produksi minyak sawit yang meningkat terutama di Indonesia dan Malaysia memperburuk situasi sehingga stok menumpuk di dalam negeri,” katanya.

Sepanjang September 2018, volume ekspor minyak sawit Indonesia (CPO, PKO, dan turunannya) tidak termasuk oleochemical dan Biodiesel hanya mampu mencapai 2,99 juta ton. Angka ini mengalami stagnasi dibandingkan bulan sebelumnya dengan kecenderungan menurun. Secara year on year kinerja ekspor minyak sawit dari Januari-September 2018 mengalami penurunan sebesar 1% atau dari 23,19 juta ton pada Januari-September 2017 turun menjadi 22,95 juta ton pada periodeyang sama 2018. India tetap menjadi negara pembeli tertinggi CPO dan produk turunannya dari Indonesia. Pada September ini impor India membukukan 779.440 ton. Angka ini mengalami penurunan 5% dibandingkan dengan impor bulan sebelumnya, di mana impor mencapai 823.340 ton. Baru-baru ini, kata Mukti Sardjono, pemerintah India merilis kebijakan tentang biofuel, di mana target pencampuran bensin 20% untuk etanol dan 5% pencampuran diesel untuk Biodiesel pada 2030. Kebijakan ini tentunya membuka peluang pasar lebih besar kepada Indonesia untuk memenuhi pencampuran Biodiesel berbasis sawit. Pemerintah sudah seharusnya memberikan perhatian khusus kepada pasar minyak sawit di India, terutama terkait tarif bea masuk. “Malaysia akan menikmati pengurangan tarif bea masuk masing-masing 5% untuk CPO dan refined productnya sebagai buah dari Free Trade Agreement (FTA) yang efektif diberlakukan pada 1 Januari 2019,” ujarnya.

Peluang Indonesia untuk mengisi kebutuhan minyak sawit India akan terus tergerus jika tidak ada langkah meningkatkan perdagangan baik melalui perjanjian bilateral (FTA) maupun perjanjian perdagangan khusus (preferential trade agreement). Data Gapki menunjukkan, penurunan impor CPO dan produk turunannya dari Indonesia juga dicatatkanoleh China (25%), Pakistan (24%), AS (50%), dan negara-negara Timur Tengah (21%). Di sisi lain, Uni Eropa membukukan kenaikan impor CPO dan produk turunannya sebesar 16%, diikuti Bangladesh sebesar 155% dan negara-negara Afrika sebesar 47%.Di sisi produksi, sepanjang September 2018 produksi diprediksi mencapai 4,41 juta ton ataunaiksekitar8,5%dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 4,06 juta ton. Naiknya produksi karena pada September sudah mulai memasuki siklus tinggi musim panen tahunan sawit. Naiknya produksi dan stagnannya ekspor mengakibat stok minyak sawit Indonesia meningkat hinggi mencapai 4,6 juta ton. Di sisi harga, sepanjang September 2018 harga bergerak di kisaran USD 517.50-570 per metrik ton, dengan harga rata-rata USD546.90 per metrik ton. Ini merupakan harga terendah yang dibukukan sejak Januari 2016.

Sebelumnya, Dorab E Mistry dari Godrej International Limited memuji perkembangan kebijakan Biodiesel Indonesia. Kebijakan ini telah mengakibatkan industri sawit lndonesia menjadi dinamis. Faktor pendukung lain, yaitu penandatanganan kerja sama Indonesia dan lndia unuk mempromosikan Indonesia sustainable palm oil QS PO) ke pasar India. Secara umum, dapat dikatakan bahwa prospek Indonesia sangat cerah. Kebutuhan energi dunia menunjukkan peningkatan. Demikian juga dengan peningkatan produksi pangan. Skenario pasokan minyak nabati dunia juga lebih baik, di mana peningkatan lebih rendah. Karena penumpukan stok, asumsi yang dipakai dalam membuat outlook di antara harga brent. Harga brent crude sekitar USD80-90 per barel, dengan kemungkinan peningkatan suku bunga The Fed pada Desember 2018 dan 2019 serta pelambatan pertumbuhan GDP dunia pada 2018. Harga minyak sawit diperkirakan akan menyentuh harga palingrendah dan kemudian akan meningkat lagi. Jika harga minyak solar dan bensin naik, PME blending akan menjadi makin menarik. Sementara diharapkan RBD Olein akan berada di angka kurangdari USD 550 FOB.

Harian Kontan | Kamis, 8 November 2018

Beleid B20 Suburkan Industri CPO

Beleid pemerintah tentang perluasan penggunaan bahan bakar nabati (BBN) 20% atau Biodiesel 20 (B20) untuk semua jenis kendaraan mulai berefek positif bagi industri minyak kelapa sawit nasional. Ketentuan yang berlaku mulai September 2018 itu mulai mendongkrak permintaan minyak sawit mentah atau palm crude oil (B20), seirama peningkatan penggunaan B20 di pasar domestik. Bahkan, tingkat pemakaian di pasar lokal pada September 2018 mencapai level tertinggi. Menurut data Gabungan pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki), jumlah penggunaan minyak sawit mentah pada September mencapai 1,22 juta ton, naik 13,51% dibandingkan dengan Agustus. Gapki berharap, perluasan mandatori B20 memperbesar penyerapan Biodiesel produksi lokal. Penyerapan Biodiesel pada September mencapai 402.000 ton, naik 39% dibandingkan dengan bulan sebelumnya hanya 290.000 ton. Meski begitu, “Penyerapan (biodiesel) masih kecil, belum sesuai target akibat terkendala infrastruktur,” kata Mukti Sardjono, Direktur Eksekutif Gapki, dalam keterangan tertulis yang diterima KONTAN, Rabu (7/11). Kendala itu antara lain titik penyebaran pengiriman bio-fuel sangat tersebar. Selain itu, belum terdapat tanki penimbunan yang memadai. Alhasil, dia menambahkan, realisasi purchase order (PO) Pertamina untuk pelaksanaan program mandatori B20 secara keseluruhan sampai pada September 2018 baru sebesar 74% dari target. Pemerintah juga menyadari atas sejumlan kendala itu. Oleh karena itu, Menko Perekonomian Darmin Nasution menggelar rapat koordinasi berkali-kali guna mengatasi persoalan tersebut. Darmin optimistis, berbagai persoalan itu bisa teratasi pada bulan kedua perluasan mandatory B20. “Oktober akan lancar, lebih efektif,” kata dia beberapa waktu lalu.

Ekspor tertekan

Mukti menyatakan, pelaksanaan program B20 bisa menyelamatkan industri minyak sawit dalam negeri seirama kenaikan permintaan lokal. “Diperkiraan sampai dengan akhir tahun 2018 penyerapan Biodiesel di dalam negeri akan bertambah 940.000 ton dari target awal,” kata dia. Dorongan program B20 ini ibarat penambal atas jebloknya pasar ekspor sawit, akibat permintaan maupun harga. Daya beli Crude Palm Oil (CPO) negara pengimpor masih menunjukkan pelemahan pada September 2018. Alhasil ekspor minyak sawit Indonesia termasuk Biodiesel dan oleo chemical tercatat menurun 3% atau dari 3,3 juta ton di bulan Agustus tergerus menjadi 3,2 juta ton September. Mukti mencontohkan, permintaan dari India pada September 2018 turun 5% menjadi 779.440 ton. Penurunan ini akibat kenaikan bea masuk CPO di India yang naik tinggi. Pada saat bersamaan, China, Pakistan, Amerika Serikat dan negara Timur Tengah juga mengurangi pembelian sawit dari Indonesia. Celakanya, saat permintaan turun, harga rata-rata CPO pada September 2018 turun menjadi US$ 546,90 per metrik ton, terendah sejak Januari 2016. Tren ini berpeluang berlanjut seirama penurunan harga minyak nabati lain. Selain seirama laju harga minyak nabati, menurut Direktur Garuda Berjangka, Ibrahim, harga CPO juga mengikuti harga minyak mentah di pasar dunia. Alhasil, CPO masih bisa turun lagi mengikuti harga minyak mentah di pasar global sepanjang bulan ini. Harga CPO berpotensi naik-menjelang akhir tahun. “Kebijakan B20 berpotensi mengatrol harga CPO,” kata Ibrahim. Kemarin, harga CPO di level US$ 507 per metrik ton. Prediksi Ibrahim, harga CPO di level US$ 577 per metrik ton di akhir tahun.

Harian Seputar Indonesia | Kamis, 8 November 2018

Menyesuaikan B20 dengan Mesin Mobil

Program Biodiesel B20 yang dicanangkan pemerintah sempat membuat waswas pemilik mobil. Alasannya, penggunaan B20 akan menyebabkan endapan jeli di tangki bahan bakar dan menyebabkan pergantian saringan bahan bakar minyak (BBM) lebih sering. ” Sejak ditetapkan sebagai kebijakan mandatory padal September 2018, penggunaan Biodiesel B20 menjadi pembicaraan masyarakat. Bahan bakar B20 dianggap sebagai bahan bakar jenis baru. Padahal, BBM jenis ini sudah dijual di SPBU milik Pertamina (Persero) sejak2016. “Sudah ada sejak 2016, namanya Bio-solar,” tegas Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Adiatma Sardjito. Pertamina menjamin kualitas bahan bakar Biodiesel B20 (campuran solar 80% dan minyak sawit 20%) untuk sektor subsidi dan nonsubsidi. Jaminan tersebut untuk menjawab keraguan kalangan agen pemegang merek dan pemilik mobil diesel. PT Toyota Motor Manufacuring lndonesia (TMMIN) sebagai pabrikan mobil terbesar di Indonesia menyambut baik rencana pemerintah untuk menerapkan penggunaan bahan bakar minyak (B BM) jenis solar dengan campuran 20% minyak sawit (B20) untuk kendaraan pribadi. TMMIN juga mengaku siap untuk mengikuti dan menerapkan aturan yang ditargetkan pemerintah bahwa akhir tahun semua kendaraan diesel sudah menggunakannya. “Kami mendukung kebijakan B20,” ujar Direktur PTToyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMiN) Bob Azam.

Toyota sudah melakukan pengujian sejak 2015 dan tidak berdampak pada penurunan kerja mesin. Pengetesan dilakukan bersama Pertamina lewat serangkaian testdrive sepanjang 100.000 km. Data yang diperoleh tersebut bisa jadi acuan mengetahui dampak penggunaan B20 terhadap kinerja mesin dan kenyamanan penumpang. Seluruh mobil dengan mesin diesel produksi TMMIN, kinerjanya tetap andal dan aman saat mengonsumsi B20 . sebagai bahan bakarnya. Bahkan, untuk perawatan mesin juga tidak ada masalah. Artinya, konsumen Toyota tidak akan mengalami hambatan. Perawatannya tetap sama dengan mesin diesel yang menggunakan BBM konvensional atau solar. Begitu juga dengan tingkat efisiensi konsumsi bahan bakar. Direktur Eksekutif Gabungan pengusaha kelapa sawit Indonesia M Fadhil Hasan menilai, mandatory B20 memberikan manfaat besar bagi petani kelapa sawit. Namun, terdapat tantangan penerapan kebijakan B20, di antaranya lemahnya pengawasan.

Di samping itu, terdapat masalah logistik yang tidak efisien karena mekanisme pencampuran tidak terpusat. Tantangan kebijakan B20 , lainnyaadalah terdapat disinsentif ekonomi. “Saat ini tidak ada insentif bagi Pertamina dan perusahaan lain untuk melaksanakan program ini. Dapat dikatakan, tidak cukup komitmen dari semua pemangku kepentingan untuk mempercepat program,” katanya. Selain itu, lemahnya permintaan untuk bahan bakar diesel juga berkontribusi terhadap kecilnya penyerapan Biodiesel Fadil Hasan berpendapat, perkembangan harga minyak bumi yang terus turun, apalagi Iran berencana menyuplai pasokan minyak bumi sekitar 500.000 barel per hari. Ini berdampak pada tertekannya harga minyak fosil di pasar dunia. “Yang menjadi pertanyaan, sejauh mana kemampuan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sawit untuk membayar subsidi Biodiesel apabila ditingkatkan dari B15 menjadi B20,” paparnya. Pada tahun ini dana pungutan CPO diperkirakan Rp 10 triliun, ditambah sisa dana tahun lalu bisa Rp6 triliun, total dana yang terkumpul Rpl6 triliun. Namun, dengan rencana penerapan program B20 pada tahun ini akan butuh dana antara Rpl8 triliun-Rpl9 triliun. Jika keadaannya seperti ini, maka dana BPDP tidak akan mencukupi. “Perlu evaluasi menyeluruh dan ini penting supaya program subsidi tetap berjalan, termasuk replanting dan program lain seperti riset,” sebutnya. Ke depan tidak mungkin lagi industri diminta bantuannya dengan kenaikan nilai pungutan. Ada beberapa opsi yang bisa dijalankan, antara lain pemerintah alokasikan tambahan subsidi dari APBN. Cara lain adalah menunda pelaksanaan mandatory B20 dan tetap B15 seperti tahun lalu. Sebab, pembentukan BPDPbukan sebatas ditujukan untuk membayar subsidi biodiesel tetapi pengembangan industri sawit secara keseluruhan . Tujuannya dengan peningkatan konsumsi di dalam negeri dan pengurangan ekspor.

“Supaya memberikan manfaat kepada semua pemain hulu dan hilir. Kalau program BPDP belum berhasil mendorong kenaikan harga signifikan, maka perlu upaya lain,” sebutnya. Setyorini Tri Hutami, Direktur Pembinaan Usaha Hilir Migas, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementrian ESDM, mengatakan, pemanfaatan biodiesel membantu memecahkan stok BBM yang kerap menjadi pekerjaan rumah bagi Ditjen Migas, pengembangan Biofuel ataupun Biodiesel diharapkan dapat berkontribusi terhadap ketersediaan BBM nasional, di mana kebutuhan masyarakat akan BBM terus meningkat. “Peran Biodiesel ini diharapkan dapat terus menurunkan volume impor solar sehingga tidak lagi mengakibatkan pembengkakan APBN, ataupun defisit belanja negara,” katanya. Dengan kondisi migas yang kurang baik saat ini, pemerintah telah mengambil beragam strategi dalam kebijakan migas. Kebijakan hilir migas diarahkan untuk jaminan pasokan bahan bakar, diversifikasi bahan bakar, standar dan mutu bahan bakar, penetapan harga bahan bakar, dan penghematan BBM. Peran Biodiesel diharapkan dapat mendorong pasokan BBM nasional sehingga mendukung penghematan BBM serta berkontribusi pada kestabilan harga BBM.

Setyorini Tri Hutami mengatakan, agar mandatory BBM melakukan langkah pengembangan sistem pengawasan yang komprehensif dari hulu hingga titik serah konsumen. Pemerintah mengakui terdapat resistensi untuk menggunakan biosolar. Hal ini karena keterbatasan garansi dari OEM mesin kendaraan maupun mesin alatberat terhadap pemakaian B20 (saat ini garansi maksimal B7). Selain itu, Setyorini mengungkapkan terdapat masalah stok Biodiesel bahwa ketersediaan biodiesel belum terdistribusi di seluruh wilayah sehingga menimbulkan biaya transportasi yang besar, terutama jika volumenya kecil dan lokasinya jauh dari produsen. Masalah lainnya adalah ketersediaan infrastruktur penyimpanan maupun blending BBM masih terbatas. Di samping itu, pemerintah perlu memberikan pembiayaan selisih harga FAME tidak hanya untuk BBM jenis minyak solar sektor PSO dan PLN, tetapi juga untuk BBM jenis minyak solar sektor non-PSO.

Harian Ekonomi Neraca | Kamis, 8 November 2018

Harga Biodiesel Ditetapkan rp7.277 per liter

Kementerian ESDM melalui Direktorat lenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) menetapkan harga Biodiesel pada November sebesar Rp7.277 per liter. Harga ini berlaku juga untuk pelaksanaan program mandatori B-20 atau campuran Biodiesel ke Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar 20 persen. Berdasarkan Surat Direktur lenderal EBTKE Nomor 5307/I2/DJE/2018 tanggal 26 Oktober 2018yang dikutip Antara, Rabu (7/11), pemerintah menetapkan Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) un tuk dua jenis komoditas bahan bakar, yaitu Biodesel dan Bioetanol. Kedua komoditas tersebut mengalami perubahan yang berbeda. HIP untuk Biodiesel mengalami penurunan, sementara HIP Bioetanol mengalami kenaikan. Untuk harga Biodiesel sebesar Rp7.277 per liter belum termasuk ongkos angkut yang telah ditetapkan sebelumnya dalam Keputusan Menteri ESDM No. 1770 K/12/MEM/2018. Jika dibandingkan bulan sebelumnya, harga Biodiesel mengalami penurunan Rp64 per liter dari HIP di bulan Oktober 2018 yang mencapai Rp7.341 perliter. Turunnya harga Biodiesel didorong oleh turunnya harga minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO) di pasaran global lantaran masih melimpahnya stok minyak sawit Untuk itu, kebijakan B-20 diharapkan mampu mengerek kembali harga dan penyerapan CPO.

Berdasarkan catatan Gabungan pengusaha kelapa sawit Indonesia (GAPKI), rata-rata harga sawit dunia sepanjang Agustus 2018hanya577,5dolar AS permetrik ton dan bergerak di kisaran 542,5 dolar AS hingga 577,5 dolar AS per metrik ton. Sementara itu, kenaikan harga terjadi pada HIP bioetanol. Harga pasar Bioetanol diplot sebesar Rpl0.457 per liter oleh Pemerintah, terjadi kenaikan sebesar Rp80 dari Oktober 2018 yaitu sebesar Rpl0.377 per liter. Faktor kenaikan ini ditentukan oleh rata-rata tetes tebu Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) selama 25 Juni 2017 – 24 Desember 2018 tercatat sebesar Rpl.619 per kg ditambah besaran dolar AS, yaitu 0,25 dolar AS per liter dikali 4,125 kg per liter. Untuk diketahui, HIP BBN ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit 6 bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE.

Harian Seputar Indonesia | Kamis, 8 November 2018

Realisasi Mandatori B20 Capai 95%

Pemerintah menyatakan realisasi mandatori Biodiesel 20% (B20) hingga Oktober 2018 telah mencapai 95%. Realisasi tersebut naik sekitar 10% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. “Capaian dihitung dari penggunaan B20 PSO (public service obligation ) maupun non-PSO, tapi saya lupa volumenya berapa. Tapi yang jelas mampu menekan impor minyak di dalam negeri,” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mjval (ESDM) Djoko Siswanto di Jakarta, kemarin. Menurut dia, hingga kuartal III/2018 penyaluran B20 sudah mencapai 2,53 juta kilpliter (kl) dari target tahun ini sebesar 3,92 juta kl. Untuk mencapai target tersebut, kata dia, pemerintah terus berupaya menyelesaikan kendala yang dihadapi. Pihaknya tidak menampik jika distribusi pasokan minyak sawit (fatty acid methyl esters /FAME) dari Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BBN) ke Badan UsahaBahan Bakar Minyak (BBM) masih menjadi kendala dilapangan. Sebab itu, pemerintah akhirnya mengatur batas waktu pengiriman hingga memangkas sejumlah titik pengiriman supaya lebih efisien. Ia berharap tahun depan kendala pasokan distribusi bisa selesai sehingga 100% dapat tersalurkan. “Semoga besok lebih baik. Ini kita perbaiki semua satu per satu,” kata dia.

Direktur Bioenergi pada Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Andriati Feby Misna mengatakan, rencananya dari 112 titik lokasi terminal bahan bakar minyak (TBBM) bakal dipangkas menjadi 10 titik penerima yang terdiri dari enam kilang Pertamina dan empat tempat eks impor bahan bakar minyak (BBM). Pengurangan titik distribusi tersebut mulai diberlakukan paling lambat 1 Januari2019. Adapun pengurangan titik pengiriman paling banyak untuk wilayah Indonesia Timur. Alasannya, permintaan FAME di wilayah Indonesia Timur dari sisi volume cenderung kecil. Sementara itu, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) Paulus Tjarawan mengungkapkan, capaian yang belum optimal karena program baru berjalan pada l September 2018 itu masih proses penyesuaian. Namun, pihaknya mengklaim hingga saat ini proses pengiriman sudah berjalan lebih baik. Meski begitu, Paulus tidak menampik ada permasalahan pada pengiriman sehingga harus ada mekanisme klasterisasi. “Hampir semua sudah berjalan bagus, tetapi masih belum optimal,” katanya.

Harga Biodiesel

Di sisi lain, Kementerian ESDM melalui Direktorat Jenderal EBTKE menetapkan harga Biodiesel pada November sebesar Rp7.277 per liter. Harga ini berlaku juga untuk pelaksanaan program mandatori B20. Berdasarkan Surat Direktur Jenderal EBTKE Nomor 5307/ 12/DJE/2018 tanggal 26 Oktober 2018, pemerintah telah menetapkan Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) untuk dua jenis komoditas bahan bakar, yaitu biodesel dan bioetanol. Kedua komoditas tersebut mengalami perubahan yang berbeda. HIP untuk Biodiesel mengalami penurunan sementara HIP bio -etanol mengalami kenaikan. Direktur Jenderal ETKE Kementerian ESDM Ridha Mulyana mengatakan, untuk harga Biodiesel sebesar Rp7.277 per liter belum termasuk ongkos angkut yang telah ditetapkan sebelumnya dalam Keputusan, Menteri ESDM Nomor 1770 K/12/MEM/2018. Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, harga Biodiesel mengalami penurunan Rp64 per liter dari HIP Oktober 2018 yang mencapai Rp7.341 per liter. “Turunnya harga Biodiesel didorong oleh turunnya harga minyak sawit (crude palm oil/ CPO) di pasaran global karena masih melimpahnya stok minyak sawit.Untukitu.kebijakan B20 diharapkan mampu mendorong kembali harga dan penyerapan CPO,”kata dia. Seperti diketahui, HIP BBN ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit enam bulan sekali oleh Direktorat Jenderal EBTKE.

Jawapos | Rabu, 7 November 2018

Wilmar Tingkatkan Kapasitas CPO

Manajemen PT Wilmar Nabati Indonesia (WNI) siap meningkatkan produksi CPO (crude palm oil) karena dapat dipakai untuk bahan baku bio solar alias B20. Direktur Holding PT WNI, Erik Tjia, mengatakan peningkatan produksi CPO tersebut untuk mendukung program pemerintah. Diantara kebijakan pemberlakukan B20 dan B30. Atau bauran 20 persen minyak sawit di dalam bahan bakar solar. “Nantinya kapasitas produksi CPO untuk bahan baku bio solar sebesar 35 ribu ton sebulan yang belum diolah. Kemudian 150 ribu ton yang sudah diolah,” ujarnya. Dikatakan, demi memenuhi kebutuhan CPO itu, lanjut Erik, pihaknya bakal memproduksi di beberapa plant CPO milik WNI. Diantaranya di Riau, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Sulawesi Utara dan Kalimantan Barat. Ditambahkan, dari delapan plant, WNI mampu memproduksi CPO sebesar 30 persen bio solar. Kemudian dikirim ke PT Pertamina, PT AKR Corporindo Tbk dan PT Petro Andalan Nusantara. Sementara itu Anggota Komisi VII DPR RI, Syaikhul Islam, saat melakukan kunjungan kerja menuturkan, hasil dari rapat dengan jajaran direksi PT WNI soal CPO akan dibawa dalam rapat Komisi VII. “Keran lebar yang dibuka oleh pemerintah terhadap pemakaian B20 menumbuhkan semangat baru untuk produk CPO,” paparnya. Dijelaskannyaa, B20 merupakan bahan bakar biodiesel yang 20 persennya diambil dari CPO. Keberadaan B20 tersebut diharapkan bisa mendongkrak penyerapan CPO di saat maraknya kampanye hitam yang dihembuskan Uni Eropa. “Hal ini membuat produksi CPO di Indonesia mengalami over supply,” tandasnya.

https://radarsurabaya.jawapos.com/read/2018/11/07/102354/wilmar-tingkatkan-kapasitas-cpo

Bisnis | Rabu, 7 November 2018

Harga Biodiesel Ditetapkan Rp7.277 per Liter

KEMENTERIAN ESDM melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) menetapkan harga Biodiesel pada November sebesar Rp7.277 per liter. Harga ini berlaku juga untuk pelaksanaan program mandatori B-20 atau campuran Biodiesel ke Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar 20%. Berdasarkan Surat Direktur Jenderal EBTKE Nomor 5307/12/DJE/2018 tanggal 26 Oktober 2018 yang dihimpun Antara di Kementerian ESDM Jakarta, Rabu (7/11), pemerintah menetapkan Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) untuk dua jenis komoditas bahan bakar, yaitu Biodesel dan Bioetanol. Kedua komoditas tersebut mengalami perubahan yang berbeda. HIP untuk Biodiesel mengalami penurunan, sementara HIP Bioetanol mengalami kenaikan. Untuk harga Biodiesel sebesar Rp7.277 per liter belum termasuk ongkos angkut yang telah ditetapkan sebelumnya dalam Keputusan Menteri ESDM No. 1770 K/12/MEM/2018. Jika dibandingkan bulan sebelumnya, harga Biodiesel mengalami penurunan Rp64 per liter dari HIP di bulan Oktober 2018 yang mencapai Rp7.341 per liter. Turunnya harga biodiesel didorong oleh turunnya harga minyak sawit (crude palm oil/CPO) di pasaran global lantaran masih melimpahnya stok minyak sawit. Untuk itu, kebijakan B-20 diharapkan mampu mengerek kembali harga dan penyerapan CPO.

Berdasarkan catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), rata-rata harga sawit dunia sepanjang Agustus 2018 hanya US$577,5 per metrik ton dan bergerak di kisaran US$542,5 hingga US$577,5 per metrik ton. Sementara itu, kenaikan harga terjadi pada HIP bioetanol. Harga pasar bioetanol diplot sebesar Rp10.457 per liter oleh Pemerintah, terjadi kenaikan sebesar Rp80 dari Oktober 2018 yaitu sebesar Rp10.377 per liter. Faktor kenaikan ini ditentukan oleh rata-rata tetes tebu Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) selama 25 Juni 2017 – 24 Desember 2018 tercatat sebesar Rp1.619 per kg ditambah besaran dolar AS, yaitu US$0,25 per liter dikali 4,125 kg per liter. Untuk diketahui, HIP BBN ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit 6 bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE

http://m.mediaindonesia.com/read/detail/196221-harga-biodiesel-ditetapkan-rp7277-per-liter

Bisnis | Rabu, 7 November 2018

Inilah Perincian Harga Biodiesel & Bioetanol Selama November 2018

Kementerian ESDM menetapkan harga bahan bakar nabati (biodiesel) pada November sebesar Rp7.277 per liter. Harga ini berlaku juga untuk pelaksanaan program mandatory B20 atau campuran biodiesel ke dalam bahan bakar minyak (BBM) sebesar 20%. Berdasarkan Surat Direktur Jenderal EBTKE nomor 5307/12/DJE/2018 tanggal 26 Oktober 2018, pemerintah menetapkan Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) untuk dua jenis komoditas bahan bakar, yaitu biodesel dan bioetanol. Kedua komoditas tersebut mengalami perubahan yang berbeda. HIP untuk biodiesel mengalami penurunan, sedangkan HIP bioetanol mengalami kenaikan. Menurut surat itu, untuk harga biodiesel Rp 7.277/liter belum termasuk ongkos angkut yang telah ditetapkan sebelumnya dalam Kepmen ESDM No. 1770 K/12/MEM/2018. Jika dibandingkan bulan sebelumnya, harga Biodiesel mengalami penurunan Rp 64/liter dari HIP pada Oktober 2018 yang mencapai Rp7.341/liter. “Turunnya harga biodiesel didorong oleh turunnya harga minyak sawit (crude palm oil/CPO) di pasaran global lantaran masih melimpahnya stok minyak sawit. Untuk itu, kebijakan B20 diharapkan mampu mengerek kembali harga dan penyerapan CPO,” ungkap laporan yang dirilis Selasa (6/11/2018).

Berdasarkan catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), rata-rata harga sawit dunia sepanjng Agustus 2018 hanya US$577,5 per ton dan bergerak di kisaran US$542,5 hingga US$577,5 per ton. Sementara itu, kenaikan harga terjadi pada HIP bioetanol. Harga pasar bioetanol diplot sebesar Rp 10.457 per liter oleh Pemerintah, terjadi kenaikan sebesar Rp80 dari bulan Oktober 2018 yaitu sebesar Rp10.377 per liter. Faktor kenaikan ini ditentukan oleh rata-rata tetes tebu Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) selama 25 Juni 2017 – 24 Desember 2018 tercatat sebesar Rp 1.619 per kg ditambah besaran dolar Amerika Serikat, yaitu USD 0,25 per liter dikali 4,125 kg per liter. Untuk diketahui, HIP BBN ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit 6 bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE.

http://industri.bisnis.com/read/20181107/44/857339/inilah-perincian-harga-biodiesel-bioetanol-selama-november-2018

Republika | Rabu, 7 November 2018

Kementerian ESDM Tetapkan Harga Biodiesel Rp 7.277 per Liter

Kementerian ESDM melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) menetapkan harga Biodiesel pada November sebesar Rp 7.277 per liter. Harga ini berlaku juga untuk pelaksanaan program mandatori B20 atau campuran biodiesel ke bahan bakar minyak (BBM) sebesar 20 persen. Berdasarkan Surat Direktur Jenderal EBTKE Nomor 5307/12/DJE/2018 tanggal 26 Oktober 2018 yang dihimpun Antara, Rabu (7/11), pemerintah menetapkan Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) untuk dua jenis komoditas bahan bakar, yaitu biodesel dan bioetanol. Kedua komoditas tersebut mengalami perubahan yang berbeda. HIP untuk biodiesel mengalami penurunan. Sementara HIP bioetanol mengalami kenaikan. Untuk harga biodiesel sebesar Rp7.277 per liter belum termasuk ongkos angkut yang telah ditetapkan sebelumnya dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 1770 K/12/MEM/2018. Jika dibandingkan bulan sebelumnya, harga Biodiesel mengalami penurunan Rp64 per liter dari HIP di bulan Oktober 2018 yang mencapai Rp 7.341 per liter. Turunnya harga biodiesel didorong oleh turunnya harga minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO) di pasaran global lantaran masih melimpahnya stok minyak sawit. Untuk itu, kebijakan B20 diharapkan mampu mengerek kembali harga dan penyerapan CPO.

Berdasarkan catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), rata-rata harga sawit dunia sepanjang Agustus 2018 hanya 577,5 dolar AS per metrik ton dan bergerak di kisaran 542,5 dolar AS hingga 577,5 dolar AS per metrik ton. Sementara itu, kenaikan harga terjadi pada HIP bioetanol. Harga pasar bioetanol diplot sebesar Rp 10.457 per liter oleh Pemerintah, terjadi kenaikan sebesar Rp 80 dari Oktober 2018 yaitu sebesar Rp 10.377 per liter. Faktor kenaikan ini ditentukan oleh rata-rata tetes tebu Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) selama 25 Juni 2017-24 Desember 2018 tercatat sebesar Rp 1.619 per kg ditambah besaran dolar AS, yaitu 0,25 dolar AS per liter dikali 4,125 kg per liter. Untuk diketahui, HIP BBN ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit 6 bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE.

https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/migas/18/11/07/phsyfc383-kementerian-esdm-tetapkan-harga-biodiesel-rp-7277-per-liter

Merdeka | Rabu, 7 November 2018

November 2018, ESDM tetapkan harga biodiesel sebesar Rp 7.277 per liter

Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga Biodiesel pada November sebesar Rp 7.277 per liter. Harga ini berlaku juga untuk pelaksanaan program mandatori B-20 atau campuran Biodiesel ke Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar 20 persen. Berdasarkan Surat Direktur Jenderal EBTKE Nomor 5307/12/DJE/2018 tanggal 26 Oktober 2018 yang dihimpun Antara di Kementerian ESDM Jakarta, Rabu, pemerintah menetapkan Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) untuk dua jenis komoditas bahan bakar, yaitu Biodesel dan Bioetanol. Kedua komoditas tersebut mengalami perubahan yang berbeda. HIP untuk Biodiesel mengalami penurunan, sementara HIP Bioetanol mengalami kenaikan. Untuk harga Biodiesel sebesar Rp7.277 per liter belum termasuk ongkos angkut yang telah ditetapkan sebelumnya dalam Keputusan Menteri ESDM No. 1770 K/12/MEM/2018. Jika dibandingkan bulan sebelumnya, harga Biodiesel mengalami penurunan Rp64 per liter dari HIP di bulan Oktober 2018 yang mencapai Rp7.341 per liter. Turunnya harga biodiesel didorong oleh turunnya harga minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO) di pasaran global lantaran masih melimpahnya stok minyak sawit. Untuk itu, kebijakan B-20 diharapkan mampu mengerek kembali harga dan penyerapan CPO.

Berdasarkan catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), rata-rata harga sawit dunia sepanjang Agustus 2018 hanya 577,5 dolar AS per metrik ton dan bergerak di kisaran 542,5 dolar AS hingga 577,5 dolar AS per metrik ton. Sementara itu, kenaikan harga terjadi pada HIP bioetanol. Harga pasar bioetanol diplot sebesar Rp10.457 per liter oleh Pemerintah, terjadi kenaikan sebesar Rp80 dari Oktober 2018 yaitu sebesar Rp10.377 per liter. Faktor kenaikan ini ditentukan oleh rata-rata tetes tebu Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) selama 25 Juni 2017 sampai 24 Desember 2018 tercatat sebesar Rp 1.619 per kg ditambah besaran dolar AS, yaitu 0,25 dolar AS per liter dikali 4,125 kg per liter. Untuk diketahui, HIP BBN ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit 6 bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE.

https://www.merdeka.com/uang/november-2018-esdm-tetapkan-harga-biodiesel-sebesar-rp-7277-per-liter.html

Batam.tribunnews | Rabu, 7 November 2018

Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Tanjunguban Menjadi Bagian Urat Nadi Penyaluran Biodiesel 20

Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Tanjunguban, Bintan Utara menjadi salah satu urat nadi penyaluran biodisel 20 persen atau B20. Penyaluran Biodisel tersebut telah diterapkan sejak 1 September 2018 lalu. Dikutip dari situs www.pertamina.com, 10 TBBM Utama yang menerima FAME (Fatty Acid Methyl Eter) dan menyalurkan B20 ke TBBM di sekitarnya adalah Terminal BBM Tanjunguban. Direktur Logisitk Supply Chain dan Infrastruktur Pertamina Gandhi Sriwidodo, menyebutkan TBBM Tanjunguban merupakan terminal utama yang menyerap FAME sekitar 8.700 KL per-bulan. Kemudian BBM campuran nabati atau Biosolar B20 dari TBBM Tanjung Tuban didistribusikan ke TBBM Kijang, Kabil-Batam, dan Natuna. “Terminal BBM Utama ini tidak hanya menyalurkan B20 ke TBBM tetapi juga melayani kebutuhan B20 untuk SPBU, SPBB (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Bunker), dan konsumen industri setempat,” kata Gandhi Sriwidodo. Selain TBBM Tanjunguban, sembilan TBBM lainnya yang menyalurkan B20 ke TBBM sekitarnya yakni Surabaya, Tanjung Wangi, Manggis, Kupang, Pontianak, Makassar, Bau-Bau, Bitung dan Wayame Ambon. Gandhi Sriwidodo menambahkan Pertamina juga telah terus menambah terminal-terminal BBM yang akan menyalurkan B20 ke SPBU Pertamina yang ditargetkan mencapai 112 Terminal BBM Pertamina. “Pada awal September lalu baru 60 TBBM kami yang siap menyalurkan B20, dan alhamdulillah hingga 14 September kemarin, sudah ada tambahan 9 TBBM lagi sehingga menjadi 69 TBBM yang menyalurkan B20,” kata Gandhi.

http://batam.tribunnews.com/2018/11/07/terminal-bahan-bakar-minyak-tbbm-tanjunguban-menjadi-bagian-urat-nadi-penyaluran-biodiesel-20

Id.beritasatu | Rabu, 7 November 2018

Produksi Melimpah, Harga CPO Terpuruk

Daya beli minyak sawit oleh negara pengimpor masih menunjukkan pelemahan pada September 2018. Alhasil ekspor minyak sawit Indonesia termasuk biodiesel dan oleochemical tercatat menurun 3% atau dari 3,3 juta ton di bulan Agustus tergerus menjadi 3,2 juta ton di September. Rendahnya harga CPO global tidak menjadi daya magnet yang kuat kepada negara impor pasalnya harga minyak nabati lain juga sedang murah terutama kedelai, rapeseed, dan biji bunga matahari. Harga kedelai sendiri jatuh hingga berada pada level terendah sejak tahun 2007. Eskalasi perang dagang antara China dan AS mempunyai andil yang cukup besar dalam mempengaruhi harga kedelai. Demikian dikemukakan Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (7/11). Menurut dia, pasar minyak sawit tidak bergeliat meskipun harga sedang murah. Pasalnya salah satu negara penghasil kedelai terbesar yaitu Argentina juga mengambil tindakan dengan mengurangi pajak ekspor kedelai guna menarik pembeli. Produksi minyak sawit yang meningkat terutama di Indonesia dan Malaysia memperburuk situasi sehingga stok menumpuk di dalam negeri.

Data Gapki mencatat, sepanjang September 2018, volume ekspor minyak sawit Indonesia (CPO, PKO dan turunannya) tidak termasuk oleochemical dan biodiesel hanya mampu mencapai 2,99 juta ton. Angka ini mengalami stagnasi dibandingkan bulan sebelumnya dengan kecenderungan menurun. Secara year on year kinerja ekspor minyak sawit dari Januari – September 2018 mengalami penurunan sebesar 1% atau dari 23,19 juta di Januari – September 2017 turun menjadi 22,95 juta ton pada periode yang sama 2018. “India tetap menjadi negara pembeli tertinggi CPO dan produk turunannya dari Indonesia,” ujarnya. Mukti Sardjono memaparkan, pada September ini impor India membukukan 779,44 ribu ton. Angka ini mengalami penurunan 5% dibandingkan dengan impor bulan sebelumnya dimana impor mencapai 823,34 ribu ton. Perlu diketahui, baru-baru ini pemerintah India meliris kebijakan tentang biofuel dimana target pencampuran bensin 20% untuk etanol dan 5% pencampuran diesel untuk biodiesel pada 2030. “Kebijakan ini tentunya membuka peluang pasar lebih besar kepada Indonesia untuk memenuhi pencampuran biodiesel berbasis sawit,” katanya. Pemerintah, lanjut Mukti, sudah seharusnya memberikan perhatian khusus kepada pasar minyak sawit di India terutama terkait tarif bea masuk. Malaysia akan menikmati pengurangan tarif bea masuk masing-masing 5% untuk CPO dan refined product-nya sebagai buah dari Free Trade Agreement (FTA) yang efektif diberlakukan 1 Januari 2019.

Kata Mukti, peluang Indonesia untuk mengisi kebutuhan minyak sawit India akan terus tergerus jika tidak ada langkah meningkatkan perdagangan baik melalui perjanjian bilateral (FTA) atau perjanjian perdagangan khusus (preferential trade agreement). Penurunan impor CPO dan produk turunannya dari Indonesia juga dicatatkan oleh China (25%), Pakistan (24%), AS (50%) dan negara-negara Timur Tengah (21%) Di sisi lain, lanjut Mukti, Uni Eropa membukukan kenaikan impor CPO dan produk turunannya sebesar 16% diikuti Bangladesh sebesar 155% dan negara-negara Afrika sebesar 47%. Kenaikan ini merupakan kenaikan normal karena pada bulan sebelumnya ada penurunan. Pada bulan September, sudah tidak ada lagi panen rapeseed dan bunga matahari di Eropa dan kawasan tersebut sudah mau memasuki musim dingin. Khusus untuk produk RBD Palm Olein atau minyak goreng, ekspor ke beberapa negara Afrika terus mengalami kenaikan secara konsisten setiap bulannya. “Negara-negara Afrika memiliki potensi besar untuk menjadi pasar utama minyak goreng jika pemerintah dapat memberikan insentif melalui pengurangan pungutan untuk ekspor minyak goreng dalam bentuk kemasan.,” katanya. Di sisi produksi, sepanjang bulan September 2018 produksi diprediksi mencapai 4,41 juta ton atau naik sekitar 8,5% dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 4,06 juta ton. Naiknya produksi karena memang pada bulan September sudah mulai memasuki siklus tinggi musim panen tahunan sawit. Naiknya produksi dan stagnannya ekspor mengakibat stok minyak sawit Indonesia meningkat hingga mencapai 4,6 juta ton. Di sisi harga, sepanjang September 2018 harga bergerak di kisaran US$ 517.50 – US$ 570 per metrik ton, dengan harga rata-rata US$ 546.90 per metrik ton. Ini merupakan harga terendah yang dibukukan sejak Januari 2016 lalu. “Harga CPO global terus tertekan karena harga minyak nabati lain yang sedang jatuh khususnya kedelai dan stok minyak sawit yang cukup melimpah di Indonesia dan Malaysia,” demikian Mukti Sardjono.

http://id.beritasatu.com/agribusiness/produksi-melimpah-harga-cpo-terpuruk/182354