+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Produsen biodiesel PLN Belum Sepakat

Bisnis Indonesia | Senin, 6 Mei 2019

Produsen biodiesel PLN Belum Sepakat

Produsen biodiesel dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) belum sepakat terhadap harga bahan bakar nabati atau biodiesel dari minyak sawit sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga diesel atau PLTD. Oleh karena itu, Asosiasi Produsen biofuel Indonesia (Aprobi) berharap agar pada tahun ini PLN dapat menyerap biodiesel sebanyak 3 juta kiloliter (kl) untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar PLTD menggantikan Solar. Saat ini, pembangkit berbahan bakar diesel baru bisa menyerap biodiesel sebanyak 600.000 kl. Kondisi tersebut dikarenakan hanya sedikit mesin pembangkit berbahan diesel yang mampu mengonversi bahan bakar Solar ke biodiesel. Ketua Umum APROBI M.P. Tumanggor mengatakan bahwa untuk meningkatkan penyerapan CPO, saat ini pihaknya bersama PLN sedang menentukan formula harga jual minyak sawit tersebut. PLN menghendaki harga jual CPO untuk pembangkit sebesar 16% di bawah Mean of Platt Singapore (MoPS). Sementara itu, produsen sawit meminta harga jual CPO sebesar 2% di bawah MoPS.

“Kalau harga cocok itu mau 3 juta full CPO. Kalau mau kan ya PTPN [PT Perkebunan Nusantara] sama PLN tukar kantong kanan kantong kiri saja,” katanya, belum lama ini. Menurutnya, selama harga CPO tidak melebihi harga Solar dan masih di bawah MoPS, seharusnya hal tersebut tidak menjadi masalah bagi PLN. Apalagi, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) tidak perlu mengeluarkan dana untuk menutupi selisih antara harga indeks pasar (HIP) Solar dengan CPO. Berdasarkan data Kementerian ESDM, 60,5% bauran energi primer pembangkit listrik berasal dari batu bara. Sementara itu, 22,1% menggunakan gas bumi, 5% menggunakan bahan bakar minyak (BBM) dan bahan bakar nabati (BBN), dan 12,4% berasal dari energi baru terbarukan. Sementara itu, penjualan bahan bakar nabati atau biodiesel dari minyak Kelapa Sawit selama kuartal 1/2019 telah mencapai 1,5 juta kiloliter atau 24% dari target tahun ini. Realisasi penyaluran biodiesel selama kuartal 1/2019 tersebut naik 50,4% dibandingkan dengan periode yang sama 2018 sebanyak 757.268 kl. Ketua Harian APROBI Paulus Tjakrawan mengatakan bahwa dari volume distribusi biodiesel selama kuartal 1/2019 itu, sebanyak 11% atau 173.000 kl diekspor ke sejumlah negara terutama yang berada di Benua Eropa. Realisasi ekspor biodiesel pada kurtal 1/2019 lebih tinggi 6% dibandingkan dengan periode sama tahan lalu 97.455 kl.

The Jakarta Post | Senin, 6 Mei 2019

Big car brands to join B30 biofuel test at end of May

Stakeholders comprising private and state institutions will kick off a maiden road test for vehicles using diesel fuel containing 30 percent palm oil-based biofuel, known as B30 biofuel, at the end of this month. The road test, which will involve carmakers such as Nissan, Toyota, Isuzu and Mitsubishi, is part of the government\’s efforts to increase the blending rate of B20 biofuel currently being sold by state-owned oil and gas company Pertamina to 30 percent by 2020. According to biofuel Producers Association (APROBI) executive Paulus Tjakrawan, the association of Indonesian Automotive Manufacturers (Gaikindo) has provided at least 10 diesel vehicles from different brands to take part in the trial. “There will be Nissan, Toyota, Isuzu and Mitsubishi vehicles traveling about 500 kilometers from Lembang in Bandung [West Java] to Guci in Tegal [Central Java]. Each vehicle needs to complete a 40,000 km journey,” he said in a press conference about the B30 update on Thursday. The route was chosen for its hilly terrain and the cold temperatures of Lembang. Prior to the road test, Paulus said the related agencies had already started their machine preparation tests, called overhaul, .which included a cleaning of the engines and taking pho-tos of engine parts that would be used a “before-and-after comparison”.

Among the institutions involved in the test are the Energy and Mineral Resources Ministry, Industry Ministry, Transportation Ministry, Assessment, and Application of Technology Agency (BPPT), Bandung Institute of Technology (ITB), state energy holding company Pertamina and APROBI. The test, however, does not include a train test, but Paulus said the results for cars and trucks could also be used to ascertain whether the fuel can be used by trains. Separately, Energy and Mineral Resources Ministry bio-energy director Andrian Feby Misna told The Jakarta Post that the series of tests was expected to be completed in October. “After we evaluate the test, we will provide a recommendation on whether B30 can be used or not. If the results are good, then we will apply for an Indonesia National Standard [SNI] certification,” she said, adding that if everything went as planned, the B30 policy could be implemented in January. APROBI estimated that once the policy is in place, Indonesia\’s consumption of biodiesel will increase by about 60 percent from the 2019 consumption target of 6.12 million kiloliters.

The association remains upbeat about the growth in the domestic market and believes that the current biofuel production capacity of 12 million kl a year will soon increase. “Two existing biofuel producers have already planned to increase their production by 300,000 kl and the same production is also expected from a new producer,” Paulus said. Besides pinning its hope on the 30 percent biodiesel policy, APROBI also expects additional demand from power plants as the government had ordered state electricity firm PLN to use palm oil-based biodiesel for its diesel power plants. APROBI chairman MP Tumanggor said PLN could require 3 million kl annually. To date, the firm has yet to use any palm oil-based biofuel due to a disagreement about crude Palm Oil (CPO) prices between the two parties. “We are still in talks [with PLN] regarding the price of CPO. PLN wants the price to be 16 percent below the Means of Platts Singapore [MOPS] oil price index, while we want it to be 2 percent below the MOPS,” he said, adding that the issue could be resolved soon as this year if a deal is reached. APROBI vice chairman Harry Hanawi further added that PLN had upgraded most of its diesel-fueled power plants so that it could use CPO-based biofuel. They can only use 600,000 kl of biofuel a year without any conversion. Last year, Energy and Mineral Resources Minister Igna-sius Jonan said PLN\’s diesel-fueled power plants must soon be converted into fuel-based plants in order to reduce the firm\’s dependency on fluctuating oil prices.

Bisnis | Senin, 6 Mei 2019

Biodiesel untuk Pembangkit Listrik : Produsen & PLN Belum Sepakati Harga

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia menanti kesepakatan harga jual minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) untuk pembangkit listrik dengan PLN yang saat ini belum menemukan titik temu. Adapun Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) mengharapkan setidaknya tahun ini, PLN dapat menyerap 3 juta crude palm oil untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit. Saat ini pembangkit berbahan diesel baru bisa menyerap 600.000 kiloliter crude palm oil. Kondisi tersebut dikarenakan hanya sedikit mesin pembangkit berbahan diesel yang mampu mengonversi crude palm oil sebagai bahan bakar. Ketua Umum Aprobi MP Tumanggor mengatakan untuk dapat menyerap semakin banyak CPO, saat ini pihaknya bersama PLN sedang menentukan formula harga jual yang saat ini belum menemukan titik temu. Adapun PLN menghendaki harga jual CPO untuk pembangkit yakni sebesar 16% dibawah Mean of Platt Singapore (MoPS). Sementara, produsen meminta harga jual adalah sebesar 2% dibawah MoPS. “Kalau harga cocok itu mau 3 juta full CPO. Kalau mau kan ya PTPN sama PLN tukar kantong kanan kantong kiri aja,” katanya, belum lama ini. Menurutnya, selama harga CPO tidak melebihi harga solar dan masih dibawah MoPS, seharusnya hal tersebut tidak menjadi masalah bagi PLN. Apalagi, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) tidak perlu mengeluarkan dana untuk menutupi selisih kurang antara Harga indeks pasar (HIP) solar dengan CPO. Berdasarkan data Kementerian ESDM, 60,5% bauran energi primer pembangkit listrik berasal dari batu bara. Sementara, 22,1% menggunakan gas bumi, 5% menggunakan bahan bakar minyak (BBM) dan bahan bakar nabati (BBN), dan 12,4% EBT.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190506/44/918865/biodiesel-untuk-pembangkit-listrik-produsen-pln-belum-sepakati-harga

The Jakarta Post | Sabtu, 4 Mei 2019

Biofiiel Producers Continue To Push For Exports Despite Trade Barriers

The export market will remain attractive for biofuel producers despite “trade barriers” in the European Union and mandatory biofuel mix policy. Local producers aim to export their products to increase profit, given the fact biodiesel commands a much higher price when sold to the European market father than domestically. “The export market is more attractive because it offers a better price, which could reach USS7O per ton higher than what we can get from the domestic market,” Indonesian biofuel Producers Association (APROBI) cochair-person Paulus Tjakrawan said Thursday. Exports of the palm oil-based biofuel, such as that to the EU, United States and China, made up more than 30 percent.of the country\’s biodiesel sales last year at 5.33 million kiloliters, nearly 50 percent of total production capacity of 12 million kl. Biodiesel exports in the first quarter of 2019 reached 173.543 kl, 78 percent up quarter-to-quarter at only 97,455 kl owing to EU antidumping duties on biodiesel imports. Paulus also said efforts to secure export markets had also taken into account the amount of foreign exchange that could be gained from biodiesel exports, especially as a processed product.

“Besides that, we can\’t lose in defending our products against their allegations. Otherwise, they will think we\’re guilty [of producing unsustainable products],” he said. “And then other countries could use it [the dumping allegations and etc] as a weapon to impose tariffs on our country\’s Palm Oil products.” APROBI chairman MP Tumanggor further added that three industries in Europe had opted for Indonesian biofuel, which is made from palm oil, rather than the EU\’s biofuel, such as from rapeseed. “They [some European industries] want to use our biofuel, because it\’s cheaper than their rapeseed biofuel. However, their parliament is defending the voices of the rapeseed farmers,” he said. APROBI said its members were facing three trade barriers, namely subsidy and dump- ing allegations by the US, subsidy accusations in the EU and the EU\’s Renewable Energy Directive (RED) II policy to phase out Palm Oil use. Paulus said the EU had twice attempted in the past two years to limit Indonesia\’s Palm Oil imports after the World Trade Organization ruled out the EU\’s antidumping duties on the import of Indonesian biodiesel last March.

“After we won in March, the export of biodiesel to the EU increased. But, it [probably] made them lodge another accusation, saying our products are subsidized by the government despite the fact that we use a non-state budget scheme,” he said. Regarding domestic biofuel use in the transportation sector) Palm Oil must be sold below or at least the same price as diesel fuel, known as Solar, ensuring the biodiesel policy is viable. On the other hand, APROBI is optimistic about growth in the domestic market and believes biofuel production capacity of 12 million kl will increase. Business players are upbeat about the government\’s ongoing biofuel mix policy, the percentage of which will be increased from 20 percent (B20) to 30 percent (B30) next year. “Two companies are set to add 300,000 kl to their production capacity and one new company with around the\’same production capacity,” he said. Sahat Sinaga, executive director of the Indonesian Vegetable Oil Refiners Association (GIM-NI), said the success of the B30 policy would help absorb more than half of national Palm Oil production by 2025. “I hope it [ the B30 policy] will be successful as it\’ll help make up to 60 percent of our production for domestic use, 20 percent for food products and 20 percent for the energy sector. If that happens, we shouldn\’t be worried about what the world\’s going to do with [our] palm oil,” he said. I ndonesia, which holds 54 percent of the crude Palm Oil (CPO) market share, is the world\’s largest CPO producing country with total average production of 40 million tons. The Indonesian Palm Oil Producers Association (GAPKI) recorded the export of 34.71 million tons of Palm Oil last year, while the domestic market absorbed around 13 million tons.

Rakyat Merdeka | Sabtu, 4 Mei 2019

Aprobi: B30 Bisa Tekan Impor BBM

ASOSIASI Produsen biofuels Indonesia (Aprobi) mendukung rencana pemerintah dalam rangkaian uji jalan (road test) kendaraan berbahan bakar biodiesel campuran 30 persen (B30). Uji jalan B30 akan diluncurkan oleh Kementerian Energi Sumberdaya Mineral (ESDM) pada Mei 2019. “B30 akan membangkitkan nasionalisme Indonesia karena biodiesel ini produk buatan dalam negeri. Manfaat yang diberikan sangatlah besar untuk penghematan devisa dan menekan impor bahan bakar minyak bumi,” ujar Ketua APROBI MP Tumanggor di Jakarta, kemarin. Penggunaan B30 diperkirakan menambah konsumsi Crude Palm Oil (CPO) domestik antara 9 juta -10 juta ton. Bahkan B30 ini dapat menghemat impor minyak solar sekitar 55 juta barel per tahun. Ketua Harian APROBI Paulus Tjakrawan mengatakan.uji jalan kendaraan B30 akan menempuh jarak 40 ribu kilometer (km) mulai dari Lembang, Cirebon sampai Guci (Tegal). Melalui hasil uji jalan diharapkan menjadi rujukan pemerintah dalam membuat keputusan B30. “Pelaksanaan uji jalan diharapkan selesai pada September 2019. Harapan kami bisa lebih cepat di bulan Agustus. Karena uji ini menambah volume biodiesel. Tidak ada penambahan komponen baru.” kata Paulus.

Menurut Paulus, pelaku otomotif yang tergabung dalam Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) juga memberikan dukungan. Ada 11 mobil dan truk milik Gaikindo telah diserahkan untuk diujicobakan. Kendaraan ini sedang menjalani tahapan bongkar mesin (over haul) oleh tim rating. Bongkar mesin ini dilakukan untuk membersihkan mesin-mesin agar siap dan sesuai bagi penggunaan B30. “Mesin dibongkar semua mulai dari tangki, pipa semua dibuka dan dibersihkan. Kegiatan ini sudah mulai 29 April 2019 lalu,” papar Paulus. Menurutnya, tes jalan ini tidak sebatas coba-coba, tetapi melewati rangkaian riset mendalam dan komprehensif. Kendaraan akan melewati berbagai medan jalan seperti dataran rendah, tinggi, jalan yang naik dan turun, lalu lintas padat, dan jalan tol. “Tujuannya mendapatkan hasil uji jalan terbaik dan dapat dipertanggungjawabkan,” kata Paulus. Seiring dengan rencana B30, investasi juga bertambah. Paulus mengatakan, ada tiga perusahaan berinvetasi di sektor biodiesel. Satu perusahaan membangun kapasitas produksi baru sebesar 300 ribu Kl. Dua perusahaan meningkatkan kapasitas yang sudah ada (eksisting), masing-masing sebesar sebesar 300 ribu kl. Sehingga total tambahan sebanyak 900 ribu kiloliter (kl). Saat ini, kapasitas produksi biodiesel nasional baru 12 juta Kl. Dengan adanya investasi baru tadi, maka kapasitas produksi dapat mencapai 125 jut Kl. Penambahan kapasitas industri biodiesel ini untuk mengantisipasi kenaikan permintaan biodiesel di pasar domestik, termasuk ekspor ke luar negeri. Paulus menjelaskan, program B20 yang telah berjalan delapan bulan lamanya tidak menghadapi hambatan. Sepanjang kuartal pertama 2019, penyaluran biodiesel sebesar 13 juta Kl berjalan lancar di seluruh Indonesia. “Kami tidak menemui kendala yang berarti, sampai saat ini masih tetap berlangsung dengan baik,” pungkas Paulus.

Liputan 6 | Jum’at, 3 Mei 2019

Ada Program B20, Produksi Solar Dalam Negeri Sudah Penuhi Kebutuhan

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan, produksi solar dalam negeri sudah cukup memenuhi kebutuhan, akibat program campuran solar dengan 20 persen biodiesel (B20) berjalan dengan baik. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Djoko Siswanto mengatakan, saat ini Indonesia sudah bisa tidak impor solar, sebab kebutuhannya sudah dicukupi dari dalam negeri. “Solar sudah enggak impor,” kata Djoko, di Jakarta, Jumat (3/5/2019). Menurut Djoko, kebutuhan solar dapat dipenuhi dari dalam negeri, sebab program B20 berjalan dengan baik. Untuk diketahui, program B20 mengurangi porsi solar karena 20 persennya digantikan biodiesel.”Karena B20 berjalan dengan baik, selebihnya tanya ke Pertamina,” tegasnya. VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengungkapkan, saat ini pasokan solar dengan kebutuhan dalam negeri sudah berimbang. Namun, Pertamina masih Memiliki kontrak jangka panjang pengadaan solar. Sehingga meski pasokan dalam negeri sudah cukup, impor solar tidak bisa langsung dihentikan. “Masih balance, cuma begini ngertikan ada yang longterm dan apa, kalau link internasional tak bisa langsung stop. Tetapi itu secara kebutuhan dan produksi sudah cukup tapi untuk jenis 2500 ppm,” tandasnya.

https://www.liputan6.com/bisnis/read/3956480/ada-program-b20-produksi-solar-dalam-negeri-sudah-penuhi-kebutuhan

Bisnis | Jum’at, 3 Mei 2019

Penyaluran B20 Baru Capai 24% dari Target 2019

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia mencatat penyaluran bahan bakar nabati atau biodisel 20% pada kuartal I/2019 telah mencapai 1,5 juta kiloliter atau baru 24% dari target tahun ini. Jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu, penyaluran B20 mengalami peningkatan sebesar 50,4% atau hanya sebesar 757.268 kiloliter. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Paulus Tjakrawan mengatakan dari jumlah yang tersalurkan tersebut sebanyak 11% atau 173.000 kiloliter diekspor ke sejumlah negara terutama yang berada di Benua Eropa. Adapun realisasi ekspor pada kurtal I/2019 lebih tinggi 6% dibanding periode sama tahun lalu yang hanya mencapai 97.455 kiloliter. Kondisi ini disebabkan karena tidak terjadi ekspor biodiesel pada Januari 2018. “Dalam ekspor kita mengalami sejumlah kendara pertama tuduhan subsidi,” katanya, Kamis (2/5/2019). Menurutnya, selama melakukan eskpor tersebut, produsen biofuel kerap mengalami beberapa kendala salah satunya tuduhan melakukan subsidi. Tuduhan tersebut tidak hanya datang sekali, tetapi pernah dialami sebelumnya yakni dari Amerika Serikat. Namun, tuduhan tersebut berhasil dipatahkan dengan kemenangan peradilan berada di pihak Indonesia pada Maret 2018 lalu. “Jadi itu tuduhan lama sebenarnya karena ekspor kita naik terus ke sana,” katanya.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190503/44/918423/penyaluran-b20-baru-capai-24-dari-target-2019

Antara | Jum’at, 3 Mei 2019

Aprobi Dukung Uji Jalan Kendaraan Berbahan Bakar B30

Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) mendukung rencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan uji jalan (road test) kendaraan berbahan bakar biodiesel campuran 30 persen atau B30 pada Mei ini. Penggunaan B30 akan membantu ekonomi Indonesia dari aspek penghematan devisa dan pembukaan lapangan kerja. “B30 akan membangkitkan nasionalisme Indonesia karena biodiesel ini produk buatan dalam negeri. Manfaat yang diberikan sangatlah besar untuk penghematan devisa dan menekan impor bahan bakar minyak bumi,” ujar Master Parulian Tumanggor, Ketua Umum Aprobi di Jakarta, Jumat. Penggunaan B30 diperkirakan menambah konsumsi CPO domestik antara 9 juta -10 juta ton. Bahkan B30 ini dapat menghemat impor minyak solar sekitar 55 juta barel per tahun. Dalam keterangan tertulis Ketua Harian Aprobi Paulus Tjakrawan menambahkan sejumlah kementerian dan lembaga terkait mendukung road test kendaraan B30 antara lain Kementerian ESDM melalui Ditjen, Ditjen Migas, dan Balitbang ESDM, Lemigas, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perhubungan, BPPT, ITB, Aprobi, Gaikindo dan Pertamina. Dalam waktu dekat, uji jalan akan diresmikan oleh Kementerian ESDM.

Menurut Paulus, uji jalan kendaraan B30 akan menempuh jarak 40 ribu kilometer mulai dari Lembang, Cirebon sampai Guci (Tegal). Melalui hasil uji jalan diharapkan menjadi rujukan pemerintah dalam membuat keputusan B30. “Pelaksanaan uji jalan diharapkan selesai pada September 2019. Harapan kami bisa lebih cepat di bulan Agustus. Karena uji ini menambah volume biodiesel. Tidak ada penambahan komponen baru,” kata Paulus. Dari kalangan pelaku otomotif melalui Gaikindo telah memberikan dukungan. Menurut Paulus, 11 mobil dan truk milik Gaikindo telah diserahkan untuk diujicobakan. Kendaraan ini sedang menjalani tahapan bongkar mesin (overhaul) oleh tim rating. Bongkar mesin ini dilakukan untuk membersihkan mesin mesin agar siap dan sesuai bagi penggunaan B30. “Mesin dibongkar semua mulai dari tangki, pipa semua dibuka dan dibersihkan. Kegiatan ini sudah mulai 29 April 2019 lalu,” kata Paulus.

Menurut dia, Tes jalan ini tidak sebatas coba-coba tetapi melewati rangkaian riset mendalam dan komprehensif. Kendaraan akan melewati berbagai medan jalan seperti dataran rendah, tinggi, bermacam klimat, jalan yang naik dan turun, lalulintas padat, dan jalan tol. ” Tujuannya mendapatkan hasil uji jalan terbaik dan dapat dipertanggungjawabkan,” kata Paulus. Seiring dengan rencana B30, investasi juga bertambah. Paulus mengatakan ada tiga perusahaan berinvestasi di sektor biodiesel. Satu perusahaan membangun kapasitas produksi baru sebesar 300 ribu Kl. Dua perusahaan meningkatkan kapasitas yang sudah ada (eksisting), masing-masing sebesar sebesar 300 ribu kl. Sehingga total tambahan sebanyak 900 ribu kl. Saat ini, kapasitas produksi biodiesel nasional baru 12 juta Kl. Dengan adanya investasi baru tadi, maka kapasitas produksi dapat mencapai 12,9 juta Kl. Penambahan kapasitas industri biodiesel ini untuk mengantisipasi kenaikan permintaan biodiesel di pasar domestik, termasuk ekspor ke luar negeri. Untuk mengatasi tersebut, sebanyak tiga perusahaan produsen biodiesel mengaku akan menambah kapasitas produksi masing-masing sebesar 300 ribu kl. Sehingga total tambahan sebanyak 900 ribu kl. Paulus menjelaskan bahwa program B20 yang telah berjalan delapan bulan lamanya tidak menghadapi hambatan. Sepanjang kuartal pertama 2019, penyaluran biodiesel sebesar 1,5 juta Kl berjalan lancar di seluruh Indonesia. “Kami tidak menemui kendala yang berarti , sampai saat ini masih tetap berlangsung dengan baik,” ujar Paulus.

https://www.antaranews.com/berita/855046/aprobi-dukung-uji-jalan-kendaraan-berbahan-bakar-b30

Antara | Jum’at, 3 Mei 2019

Aprobi Dukung Uji Jalan Kendaraan Berbahan Bakar B30

Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) mendukung rencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan uji jalan (road test) kendaraan berbahan bakar biodiesel campuran 30 persen atau B30 pada Mei ini. Penggunaan B30 akan membantu ekonomi Indonesia dari aspek penghematan devisa dan pembukaan lapangan kerja. “B30 akan membangkitkan nasionalisme Indonesia karena biodiesel ini produk buatan dalam negeri. Manfaat yang diberikan sangatlah besar untuk penghematan devisa dan menekan impor bahan bakar minyak bumi,” ujar Master Parulian Tumanggor, Ketua Umum Aprobi di Jakarta, Jumat. Penggunaan B30 diperkirakan menambah konsumsi CPO domestik antara 9 juta -10 juta ton. Bahkan B30 ini dapat menghemat impor minyak solar sekitar 55 juta barel per tahun. Dalam keterangan tertulis Ketua Harian Aprobi Paulus Tjakrawan menambahkan sejumlah kementerian dan lembaga terkait mendukung road test kendaraan B30 antara lain Kementerian ESDM melalui Ditjen, Ditjen Migas, dan Balitbang ESDM, Lemigas, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perhubungan, BPPT, ITB, Aprobi, Gaikindo dan Pertamina. Dalam waktu dekat, uji jalan akan diresmikan oleh Kementerian ESDM.

Menurut Paulus, uji jalan kendaraan B30 akan menempuh jarak 40 ribu kilometer mulai dari Lembang, Cirebon sampai Guci (Tegal). Melalui hasil uji jalan diharapkan menjadi rujukan pemerintah dalam membuat keputusan B30. “Pelaksanaan uji jalan diharapkan selesai pada September 2019. Harapan kami bisa lebih cepat di bulan Agustus. Karena uji ini menambah volume biodiesel. Tidak ada penambahan komponen baru,” kata Paulus. Dari kalangan pelaku otomotif melalui Gaikindo telah memberikan dukungan. Menurut Paulus, 11 mobil dan truk milik Gaikindo telah diserahkan untuk diujicobakan. Kendaraan ini sedang menjalani tahapan bongkar mesin (overhaul) oleh tim rating. Bongkar mesin ini dilakukan untuk membersihkan mesin mesin agar siap dan sesuai bagi penggunaan B30. “Mesin dibongkar semua mulai dari tangki, pipa semua dibuka dan dibersihkan. Kegiatan ini sudah mulai 29 April 2019 lalu,” kata Paulus. Menurut dia, Tes jalan ini tidak sebatas coba-coba tetapi melewati rangkaian riset mendalam dan komprehensif. Kendaraan akan melewati berbagai medan jalan seperti dataran rendah, tinggi, bermacam klimat, jalan yang naik dan turun, lalulintas padat, dan jalan tol. ” Tujuannya mendapatkan hasil uji jalan terbaik dan dapat dipertanggungjawabkan,” kata Paulus.

Seiring dengan rencana B30, investasi juga bertambah. Paulus mengatakan ada tiga perusahaan berinvestasi di sektor biodiesel. Satu perusahaan membangun kapasitas produksi baru sebesar 300 ribu Kl. Dua perusahaan meningkatkan kapasitas yang sudah ada (eksisting), masing-masing sebesar sebesar 300 ribu kl. Sehingga total tambahan sebanyak 900 ribu kl. Saat ini, kapasitas produksi biodiesel nasional baru 12 juta Kl. Dengan adanya investasi baru tadi, maka kapasitas produksi dapat mencapai 12,9 juta Kl. Penambahan kapasitas industri biodiesel ini untuk mengantisipasi kenaikan permintaan biodiesel di pasar domestik, termasuk ekspor ke luar negeri. Untuk mengatasi tersebut, sebanyak tiga perusahaan produsen biodiesel mengaku akan menambah kapasitas produksi masing-masing sebesar 300 ribu kl. Sehingga total tambahan sebanyak 900 ribu kl. Paulus menjelaskan bahwa program B20 yang telah berjalan delapan bulan lamanya tidak menghadapi hambatan. Sepanjang kuartal pertama 2019, penyaluran biodiesel sebesar 1,5 juta Kl berjalan lancar di seluruh Indonesia. “Kami tidak menemui kendala yang berarti , sampai saat ini masih tetap berlangsung dengan baik,” ujar Paulus.

https://www.antaranews.com/berita/855046/aprobi-dukung-uji-jalan-kendaraan-berbahan-bakar-b30