+62 2129380882 office@aprobi.co.id
Produsen-biodiesel-terombang-ambing-kepastian-harga

Produsen Biodiesel Terombang-ambing Kepastian Harga

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku usaha biodiesel masih menunggu keputusan pemerintah dalam menetapkan rumusan harga guna mengetahui proyeksi industrinya tahun ini.
Ketua Harian Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengatakan pihaknya menginginkan rumusan harga biodiesel tidak lagi mengikuti harga Mean of Platts Singapore (Mops), tetapi harga CPO ditambah dengan biaya produksi dan 3% margin.
“Ada tahapan-tahapan. Sekarang menunggu rumusan harga. Berikutnya dengan Pertamina, bagaimana dengan kontrak-kontrak yang sudah berjalan,” ujarnya saat memaparkan refleksi 2014 dan Outlook 2015 penghiliran sawit, Jumat (6/2/2015).
Dia menambahkan harga biodiesel yang selama ini mengikuti Mops menyebabkan kerugian yang besar. Saat ini saja, terhitung sudah ada dua perusahaan yang menghentikan pasokan. Bahkan, kemungkinan jumlah perusahaan yang bernasib apes seperti itu akan bertambah banyak.
Paulus mengatakan saat ini saja pengusaha biodiesel bisa merugi sebesar US$900.000 atau sekitar Rp11 miliar per harinya. Total kerugian ini dihitung berdasarkan minimum pasokan sebesar 6.000 kiloliter per hari dengan ongkos produksi sekitar US$150.
“Proyeksi tahun ini tergantung keputusan harga itu dan Pertamina. Kalau tidak disepakati industri ini akan semakin merugi,” katanya.
Setelah harga dirumuskan, lanjutnya, kepastian industri ini pun masih menunggu proses dengan Pertamina. Selama ini, Paulus mengatakan Pertamina belum tentu mau mengikuti rumusan harga yang telah ditetapkan pemerintah.
“Harapan kami indeks harga ini diikuti oleh Pertamina. Kemudian juga nanti melihat bagaimana dengan kontrak yang sudah berjalan sampai dengan 2015 yang dua tahun itu,” ujarnya.
Sekretaris Jenderal Aprobi Togar Sitanggang menjelaskan saat ini harga CPO tercatat sebesar US$650. Sementara itu, harga Mops sebesar US$450. Seharunya, lanjut dia, biodiesel dijual lebih dari US$800 mengingat ongkos produksi diasumsikan sebesar US$150.
“Jual ke pertamina US$450 sekarang ini. Bila kondisi indeks harga berubah berarti ada selisih US$350. Dengan demikian, nanti Pertamina yang akan mendapatkan US$350 itu sekitar Rp4.400,” katanya.
Sebelulmnya, beberapa hari lalu DPR menyetujui subsidi BBN biodiesel sebesar Rp4.000 per liter, sedangkan BBN bioethanol sebesar Rp3.000 per liter. Togar mengatakan selisih harga yang bisa didapatkan Pertamina nantinya sudah melebihi subsidi BBN biodiesel yang ditetapkan sebesar Rp4.000 tadi.