+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Produsen biodisel sudah siap mempercepat penerapan B30 di Indonesia

Kontan.co.id | Kamis, 7 November 2019

Produsen biodisel sudah siap mempercepat penerapan B30 di Indonesia

Penerapan bauran bahan bakar biodiesel sebanyak 30% semakin mendekati kenyataan. Hal ini setelah produsen biodiesel menunjukkan kesiapannya untuk mewujudkan kebijakan pemerintah tersebut. Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Master Parulian Tumanggor bilang, pihak Asprobi sebenarnya sudah siap menjalankan kebijakan B30 sejak Oktober kemarin. “Jadi kalau B30 mulai diterapkan di pertengahan November, dari sisi produsen tidak ada masalah. Kami juga siap kalau B30 akhirnya diterapkan bulan Januari nanti,” ungkap dia kepada Kontan.co.id, hari ini. Ia menyebut, pihak produsen sudah siap untuk memproduksi sekitar 10 juta kiloliter bahan bakar B30 untuk memenuhi kebutuhan konsumsi tahun 2020 nanti. Bahkan, di awal tahun depan, uji coba untuk penerapan B40 dan B50 juga akan dilakukan. Lebih lanjut, tantangan penerapan B30 saat ini lebih kepada pengaturan logistik saja. Hal tersebut juga menjadi kelemahan selama penerapan B20 sepanjang tahun ini. Evaluasi pun telah dilakukan oleh pihak Asprobi. Tak ketinggalan, Asprobi juga telah menyiapkan langkah antisipasi yang coba diterapkan di sisa tahun ini. “Salah satunya dengan menggunakan tangki darat berkapasitas 50.000 kiloliter di samping penggunaan 2 floating storage yang sudah ada,” terang Parulian. Di kesempatan berbeda, Direktur Keuangan Pertamina Pahala Mansury menyatakan, pihaknya juga telah siap memfasilitasi distribusi B30 dalam waktu dekat. Infrastruktur yang mendukung penerapan B30 pun telah disiapkan secara matang oleh Pertamina. “Infrastruktur tentu sudah siap. Kalau diterapkan bulan Desember atau Januari nanti, insyaallah kami sudah siap,” kata dia ketika ditemui di Jakarta International Expo, Kamis (7/11). Pahala berharap, penerapan B30 dapat membuat Indonesia tidak lagi mengimpor bahan bakar biodiesel di masa mendatang.

https://industri.kontan.co.id/news/produsen-biodisel-sudah-siap-mempercepat-penerapan-b30-di-indonesia

Kontan.co.id | Kamis, 7 November 2019

Pemerintah dorong percepatan penerapan B30

Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi ikut mendorong percepatan penerapan mandatori bauran biodiesel sebanyak 30% atau B30. Deputi Bidang Koordinator Infrastruktur Kemenko Maritim dan Investasi Ridwan Djamaluddin mengatakan, pihaknya sudah mendapat arahan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membantu percepatan B30 di Indonesia. Di satu sisi, pemerintah berupaya membantu menyiapkan pasokan sarana untuk penerapan B30. Di sisi lain, pemerintah juga terus berkomunikasi dengan para pelaku industri otomotif terkait kesiapan untuk mengimplementasikan B30 pada produk-produk kendaraannya. “Kami sudah tanyakan kesiapan ke pelaku-pelaku industri otomotif nasional. Sejauh ini tidak ada keluhan yang signifikan dari mereka,” ujarnya di sela acara Indonesia EBTKE ConEx 2019, Kamis (7/11). Pemerintah juga berupaya untuk membenahi regulasi yang berkaitan dengan penerapan B30 di dalam negeri. Ridwan berharap, jangan sampai regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat kemudian mengganggu kepentingan di sektoral masing-masing. Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Master Parulian Tumanggor bilang, pihak Asprobi sebenarnya sudah siap menjalankan kebijakan B30 sejak Oktober 2019. “Jadi kalau B30 mulai diterapkan di pertengahan November, dari sisi produsen tidak ada masalah. Kami juga siap kalau B30 akhirnya diterapkan bulan Januari nanti,” ungkap dia kepada Kontan, hari ini. Ia menyebut, pihak produsen sudah siap untuk memproduksi sekitar 10 juta kiloliter bahan bakar B30 untuk memenuhi kebutuhan konsumsi tahun 2020 nanti. Bahkan, di awal tahun depan, uji coba untuk penerapan B40 dan B50 juga akan dilakukan.

https://industri.kontan.co.id/news/pemerintah-dorong-percepatan-penerapan-b30

Gatra | Kamis, 7 November 2019

Genjot BBN, Pertamina Uji Coba B30 di 2020

Pertamina siap menggenjot pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) yang lebih ramah lingkungan untuk mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional. Sekaligus pula demi mendukung energi hijau untuk mewujudkan Indonesia sehat. Pengembangan BBN ini turut menyukseskan program bauran energi terbarukan yang ditargetkan pemerintah sebesar 23 persen pada 2025. “Mulai 2016, Pertamina telah memproduksi Bahan Bakar Nabati B20 baik untuk PSO maupun Non-PSO yang dikembangkan secara luas. Ini sejalan dengan mandatori perluasan B20 oleh Pemerintah pada 1 September 2019. Kita akan lanjut dengan B30 di 2020,” ujar Direktur Pengolahan Pertamina, Budi Santoso Syarif dalam keterangan yang diterima Gatra.com, Kamis (7/11). Sejak 2016 hingga September 2019, Pertamina telah mendistribusikan B20 sebanyak 61,48 juta KL dengan total biodiesel atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang diserap mencapai 13,71 juta KL. Pada 2018, penyerapan FAME mencapai 3,2 juta KL. Sementara hingga September 2019, penyerapan FAME telah mencapai 4,02 juta KL atau 67 persen dari target penyaluran 2019. “Sejalan dengan program perluasan penggunaan B20, penyerapan FAME dalam dua tahun terakhir menunjukkan peningkatan signifikan. Pertamina terus memperluas pasokan B20 tidak hanya untuk kendaraan bermotor tetapi juga untuk kebutuhan industri,” sebutnya. Program B20 telah membantu penghematan devisa. Pada 2018 tercatat capaian Rp28,4 triliun. Tahun ini ditargetkan mencapai US$3 miliar. Setelah itu, tahun depan Pertamina akan mulai melakukan uji coba untuk program B30 sesuai dengan kebijakan Pemerintah. “Pertamina mendukung penuh Program Pemerintah untuk menerapkan B30 yang akan dijalankan mulai Januari 2020,” imbuh Budi. Pertamina juga telah melakukan uji coba Biorefinery pertama di Indonesia melalui metode Co-Processing pada kilang Dumai dan Plaju. Keberhasilan dalam uji coba penerapan teknologi ini, menjadikan Pertamina siap mengembangkan bahan bakar nabati dengan bahan baku CPO. Pertamina juga siap mengadopsi teknologi Standalone untuk pengolahan CPO menjadi bahan bakar nabati. Program Green Refinery ini ditargetkan tuntas pada 2024.

https://www.gatra.com/detail/news/455533/ekonomi/genjot-bbn-pertamina-uji-coba-b30-di-2020

Otomania.com | Kamis, 7 November 2019

Dukung Program Pemerintah, Hino Bakal Hadirkan Truk dan Bus Hybrid Ke Tanah Air

Tidak lama lagi PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) akan menghadirkan kendaraan truk dan bus hybrid ke Tanah Air. Hal tersebut dilakukan HMSI untuk mendukung program pemerintah mengenai percepatan kendaraan listrik. Seperti yang disampaikan oleh Santiko Wardoyo, Direktur Penjualan dan Promosi HMSI di Tangerang, Rabu (6/11/2019). “Jadi mungkin enggak lama lagi akan tes kendaraannya, tahun depan pertengahan, semester satu ok lah,” kata Santiko Wardoyo, dikutip dari GridOto.com. Dalam mendatangkan suatu produk yang baru ini, dia mengaku tidak mau sembarangan, dalam arti untuk dipakai jangka panjang. “Kami ingin supaya langgeng, spare partnya juga jelas, agar harganya enggak mahal, kami di sini (Indonesia) itu sudah 37 tahun, dan kami enggak mau asal-asalan datengin,” ujar Santiko. Maka, dikatakannya, studi yang dilakukan untuk truk perpaduan mesin diesel dan motor listrik ini harus secara mendalam, mulai secara teori dan praktiknya di lapangan, apakah cocok untuk iklim di Indonesia. Selain itu, pihaknya juga didorong untuk memenuhi kebutuhan Pemerintah dalam pengadaan transportasi, salah satunya adalah bus. Ia ingin, nantinya bus hybrid bisa dibuat di Indonesia, agar perawatannya mudah dan murah, sehingga ongkos transportasi juga murah. “Kami coba buat supaya tetap murah, Kalau unit itu dibuat di indonesia tentunya akan lebih murah,” imbuhnya. Lebih lanjut, menurut Santiko, produk Hybrid ini masih menjadi alternatif yang cocok untuk kondisi di Indonesia sebelum menghadirkan kendaraan murni elektrik. Selain bisa memanfaatkan biodiesel yang dihasilkan dari sawit, hybrid juga tidak membutuhkan infrastruktur charging station. “Karena yang namanya truk ini larinya ke mana-mana, enggak cuma di Jakarta saja, kan juga ke daerah yang mungkin infrastrukturnya belum memadai,” jelasnya. Sehingga, ia rasa hybrid yang paling fleksibel dan sementara ini cocok untuk Indonesia.

https://otomania.gridoto.com/read/241911255/dukung-program-pemerintah-hino-bakal-hadirkan-truk-dan-bus-hybrid-ke-tanah-air?page=all

Inews | Kamis, 7 November 2019

Dorong Ekonomi, Menko Airlangga Siapkan 30 Program Prioritas Jangka Pendek

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto tengah menyiapkan sejumlah program, baik jangka pendek (quick wins) maupun jangka pendek. Program-program tersebut ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sesuai visi misi Joko Widodo-Ma’ruf Amin. “Jadi program dibagi atas program prioritas dan program jangka panjang. Kepada seluruh kementerian nanti programnya di-list dan akan diadakan pertemuan dengan eselon I,” katanya di Jakarta, Kamis (7/11/2019). Menko Airlangga menyebut, seluruh program ini harus disiapkan oleh kementerian dalam sepuluh hari ke depan. Untuk jangka pendek, dia menyebut setidaknya ada 30 program prioritas, terutama yang menjadi fokus Presiden Jokowi. “Kira-kira ada 30 target jangka pendek yang akan di-list dan dalam 10 hari kita akan selesaikan satu satu. Prioritas itu kita sudah punya 15 tetapi list-nya masih bertambah,” ujarnya. Di antara program prioritas itu, kata dia, terkait dengan Omnibus Law Perpajakan, Cipta Lapangan Kerja, UMKM, biodiesel 30 persen, hingga kalibrasi data di sektor pertanian. “Terkait Kementan (Kementerian Pertanian)-BPS (Badan Pusat Statistik) sudah ada kesepakatan di mana bulan Desember ini data pertanian akan selesai,” tutur Ketua Umum Partai Golkar itu.

https://www.inews.id/finance/makro/dorong-ekonomi-menko-airlangga-siapkan-30-program-prioritas-jangka-pendek

Bisnis | Kamis, 7 November 2019

Rekind Rampungkan Proyek PLTU Mamuju 2×25 MW

PT Rekayasa Industri (Rekind) berhasil merampungkan proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Mamuju di Sulawesi Barat dengan kapasitas 2×25 MW. Proyek tersebut merupakan bagian dari implementasi percepatan pembangkit tenaga listrik 35.000 MW. PLTU Mamuju telah mendapat Commercial Operation Date (COD) dari PT PLN (Persero) pada September 2018 dan kini memasuki tahap komersial. Direktur Utama Rekind Yanuar Budinorman mengatakan pihaknya memang terlibat dalam sejumlah proyek-proyek strategis nasional. Selain PLTU Mamuju, Rekind juga mengerjakan proyek Jambaran – Tiung Biru (JTB) di Bojonegoro, Jawa Timur. Proyek yang dikelola PT Pertamina EP Cepu merupakan proyek strategis nasional yang memiliki kapasitas produksi gas sebesar 192 MMscfd. Pada Desember 2018 Rekind juga dipercaya PT Pertamina (Persero) untuk mengerjakan proyek kilang Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur, sebagai upaya mewujudkan ketahanan energi di Tanah Air. Rekind juga dipercaya mengerjakan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Muara Laboh milik PT Supreme Energy Muara Laboh (SEML) dan PLTP Rantau Dedap milik PT Supreme Energy Rantau Dedap (SERD). “Satu-satunya perusahaan EPCC milik bangsa ini juga dipercaya untuk pengerjaaan infrastruktur Tambat Tower Land & Sea Pipes and Tanks for Balongan Refinery milik PT Pertamina,” katanya mengutip keterangan resmi, Rabu (6/11/2019). Yanuar mengakui persaingan bisnis di bidang EPCC memang semakin ketat, baik dari dalam negeri maupun asing. Dalam upaya menyikapi dinamika tersebut, Rekind berkomitmen untuk terus berinovasi salah satunya dengan meningkatkan kerja sama dengan beberapa perusahaan global yang reputasinya sudah dikenal di mancanegara. Dia berharap Rekind mampu menjadi perusahaan yang lebih stabil dengan laba perusahaan yang meningkat tajam. “Namun, untuk bisa menghasilkan pendapatan yang berkelanjutan, manajemen tidak hanya fokus pada proyek yang dikerjakan, tetapi juga berinvestasi di sejumlah proyek, antara lain pembangkit listrik, gas, dan industri biofuel,” katanya. Perlu diketahui, Petrokimia merupakan unit bisnis yang pertama kali berdiri di Rekind. Dari total 14 Pabrik Pupuk Urea yang terdapat di Indonesia, sembilan di antaranya dibangun oleh Rekind. Kesembilan Pabrik tersebut adalah Asean Aceh Fertilizer Plant, POPKA Urea IV, Pupuk Kaltim-3, Pupuk Kaltim-4, Pusri IB, Pusri IIB, Kujang IB, Pupuk Iskandar Muda (PIM) 1, dan PIM 2. Proyek Petrokimia di lingkup Asia Pasifik di antaranya adalah Asean Bintulu Fertilizer, Brunei Methanol, Sabah Ammonia Urea (Samur, Malaysia) dan NPK Fertilizer Malaysia. Saat ini, perusahaan yang telah berdiri sejak 12 Agustus 1981 tersebut juga tengah merealisasikan proyek pipa gas Cirebon – Semarang (Cisem). Proyek tersebut ditargetkan melakukan groundbreaking pada Desember 2019. Rekind juga berpartisipasi aktif dalam pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di bidang biodiesel dan bioenergi. Saat ini, Rekind tengah merumuskan desain pabrik biomassa yang akan dipatenkan sebagai hak cipta milik Rekind. Meski demikian, desain itu dapat digunakan oleh seluruh pihak sebagai tolak ukur dalam pembangunan pabrik biomassa yang efisien. “Selama 38 tahun mengabdi kepada bangsa dan negara, Rekind mampu menyelesaikan 146 proyek pembangunan fasilitas produksi di bidang migas, petrokimia, mineral, infrastruktur dan pembangkit listrik baik di dalam negeri maupun luar negeri,” katanya. Teranyar, perusahaan EPCC tersebut kembali meraih penghargaan bergengsi yakni dengan memboyong tiga penghargaan sekaligus di ajang BUMN Branding & Marketing Award 2019. Rekind dianugerahi penghargaan untuk tiga kategori. Pertama, Brand Strategy Terbaik – Corporate Branding Anak Perusahaan BUMN. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Djoko Sasono, Sekjen Kementerian Perhubungan kepada Direktur Utama Rekind Yanuar Budinorman. Rekind juga dianugerahi penghargaan untuk kategori International Sales & Marketing Terbaik-Corporate Marketing Anak Perusahaan BUMN. Penghargaan ini diterima Direktur Komersil Rekind, Qomaruzzaman yang diberikan oleh Prof. TM Budi Haryono, Guru Besar Universitas Kristen Krida (Ukrida) Wacana. Qomaruzzaman juga dinobatkan sebagai penerima penghargaan CMO Marketing Performance-CMO Anak Perusahaan BUMN, atas kiprahnya dalam upaya mengembangkan strategi di bidang usaha Rekind. Penghargaan ini disematkan oleh Rhenald Kasali selaku Ketua Dewan Juri BUMN Branding And Marketing Award 2019 dan Guru Besar FEB UI. “Ini merupakan penghargaan yang luar biasa, sekaligus penghormatan besar atas kinerja terbaik yang sejak awal terus dikedepankan Rekind,” tegas Qomaruzzaman.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20191107/44/1167849/rekind-rampungkan-proyek-pltu-mamuju-2×25-mw-

Liputan6 | Kamis, 7 November 2019

Pertamina Ciptakan Kemandirian Energi Nasional lewat Bahan Bakar Nabati

PT Pertamina (Persero) berkomitmen meningkatkan ketahanan dan kemandirian energi nasional. Caranya, dengan memproduksi bahan bakar ramah lingkungan melalui mengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN). Direktur Pengolahan Pertamina Budi Santoso Syarif mengatakan, pengembangan BBN merupakan terobosan perusahaan dalam meningkatkan penggunaan energi terbarukan. Upaya ini demi mencapai target porsi EBT dalam bauran energi yang ditetapkan pemerintah sebesar 23 persen pada 2025. “Sejak tahun 2016, Pertamina telah memproduksi Bahan Bakar Nabati B20 baik untuk PSO maupun Non-PSO,” kata Budi,di Jakarta, Kamis (7/11/2019). Pengembangan BBN juga bertujuan untuk mendukung program pemerintah untuk mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM). Langkah yang dilakukan berupa mandatori pencampuran 20 persen Fatty Acid Methyl Ester (Fame) yang berbahan baku minyak kelapa sawit dengan solar (B20). Dari program B20 yang dijalankan Pertamina terbukti telah membantu menghemat devisa. Pada 2018 tercatat Rp 28,4 triliun dan tahun ini ditargetkan mencapai USD 3 miliar. ‎”Dikembangkan secara luas sejalan dengan mandatori perluasan B20 oleh Pemerintah pada 1 September 2019,” tutur Budi. Menurut Budi, setelah sukses dengan B20, Pertamina sudah siap mendukung kebijakan pemerintah meningkatkan campuran Fame pada solar menjadi 30 persen (B30) pada 2020.‎ ‎”Pertamina mendukung penuh Program Pemerintah untuk menerapkan B30 yang akan dijalankan mulai Januari 2020,” imbuh Budi. Sejak 2016 hingga September 2019, Pertamina telah mendistribusikan B20 sebanyak 61,48 juta Kilo Liter (KL) dengan total FAME yang diserap mencapai 13,71 juta KL. Pada 2018 penyerapan FAME mencapai 3,2 juta KL, sementara hingga September 2019 penyerapan FAME telah mencapai 4,02 juta KL atau 67 persen dari target penyaluran pada 2019. “Sejalan dengan program perluasan penggunaan B20, penyerapan FAME dalam 2 tahun terakhir menunjukkan peningkatan signifikan. Pertamina terus memperluas pasokan B20 tidak hanya untuk kendaraan bermotor tetapi juga untuk kebutuhan industri,” terang Budi. Untuk meningkatkan kemandirian energi, Pertamina juga telah melakukan uji coba Biorefinery pertama di Indonesia melalui metode Co-Processing pada kilang Dumai dan Plaju. Keberhasilan dalam ujicoba penerapan teknologi ini, menjadikan Pertamina siap mengembangkan bahan bakar nabati dengan bahan baku minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO). Pertamina juga siap mengadopsi teknologi Standalone untuk pengolahan CPO menjadi bahan bakar nabati. “Program Green Refinery ini ditargetkan tuntas pada tahun 2024, sehingga kita akan memasuki era baru menuju Indonesia hijau,” tandasnya.

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4105332/pertamina-ciptakan-kemandirian-energi-nasional-lewat-bahan-bakar-nabati

Kontan | Jum’at 8 November 2019

Perlu Dukungan Industri Otomotif

Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menyatakan siap menjalankan kebijakan mandatori bauran bahan bakar biodiesel sebanyak 30% atau B30 dalam waktu dekat. Ketua BPDPKS, Dono Boestami, mengatakan dari hasil uji jalan dan simulasi distribusi, seharusnya sudah tidak ada lagi hambatan-hambatan yang perlu dikhawatirkan terkait implementasi B30 secara nasional. “Persiapan B30 juga sudah berlangsung cukup lama dengan melibatkan seluruh stakeholder terkait,” ujar dia kepada KONTAN, Kamis (7/11). Berdasarkan pengalaman dari implementasi B20 yang memakan waktu hampir dua tahun, BPDPKS berharap sudah cukup untuk memberikan pelajaran bahwa tidak boleh lagi ada pihak-pihak terkait yang belum siap menjalankan program B30. Pasalnya, BPDPKS telah menyiapkan implementasi B30 sejak Maret 2019. Bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta seluruh stakeholder terkait, BPDPKS juga telah melakukan uji jalan dan menyiapkan kebutuhan logistik agar penerapan B30 bisa berjalan dengan lancar. Dono pun mengharapkan semua kebijakan maupun regulasi yang dibutuhkan bisa segera diterbitkan oleh pemerintah. Memang, sejumlah tantangan dinilai masih akan menjadi pekerjaan rumah ketika B30 diterapkan secara nasional nanti. Misalnya, pengaturan kualitas campuran antara minyak sawit dengan bahan bakar solar. Di samping itu, potensi masalah bisa muncul terkait distribusi dan penampungan bahan bakar B30. “Konsumen juga harus disosialisasikan dengan baik dan perlu dukungan dari industri otomotif,” tambah Dono.

Indo Pos | Jum’at, 8 November 2019

Garap Geotermal USD2 Miliar

Pertamina Komitmen Energi Baru Terbarukan

PT Pertamina menyiapkan anggaran sekitar USD2 miliar. Dana setara Rp27 triliun itu untuk pengembangan aset geotermal atau panas bumi sepanjang enam-tujuh tahun ke depan. Angka itu merupakan komitmen untuk pengembangan energi baru terbarukan (EBT). Selain itu, sekaligus mendukung program bauran energi terbarukan yang diproyeksi 23 persen pada 2025 mendatang. “Komitmen kami pengembangan geotermal,” tutur Direktur Keuangan Pertamina Pahala Mansury, di Jakarta, Kamis (7/11). Pahala mengakui, besaran komitmen pengembangan geotermal itu masih kecil dibanding investasi total sekitar USD8O miliar untuk pengem- bangan bisnis Pertamina. “Memang dengan kondisi yang ada, regulasi ada, dan off take contract (kontrak pembelian) belum memungkinkan untuk mengembangkan lebih dari itu,” imbuhnya. Terlebih, mandat yang diemban Pertamina terkait pengelolaan energi nasional sesuai UU Energi Nomor 30 Tahun 2007 adalah availability (ketersediaan), accessibility (aksesibilitas), I affordability (keterjangkau-\’ an), acceptability (penerimaan), dan sustainability (keberlanjutan) bahan bakar. Namun, Pahala menambahkan, pihaknya membuka peluang peningkatan pengembangan EBT melalui kemitraan dengan mitra strategis. Misalnya, kemitraan dengan PT PLN untuk memproduksi listrik dan uap melalui aset geotermal Pertamina. Pertamina hingga 2020 memiliki 670 Giga Watt (GW) kapasitas ter- pasang bersumber dari geotermal. Pada 2026, perseroan menargetkan untuk meningkatkan kapasitasnya hingga menjadi 1.100 GW. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan dari segi potensi, Indonesia telah memiliki 400 GW potensi listrik yang dihasilkan dari sumber EBT. Namun, pemanfaatan energi baru terbarukan di Indonesia baru menginjak pada angka 8 persen atau sekitar 32 GW. Sementara perusahaan siap menggenjot pengembangan produksi Bahan Bakar Nabati (BBN) lebih ramah lingkungan untuk mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional. Sekaligus mendukung energi hijau untuk mewujudkan Indonesia sehat. Selain itu, untuk mendukung program bauran energi terbarukan yang dipatok pemerintah 23 persen pada 2025. Pertamina terus melakukan terobosan mengembangkan energi terbarukan dengan Program B20, dilanjut dengan B30 tahun depan. Sejak 2016, perusahaan telah memproduksi BBN B20 baik untuk PSO dan Non-PSO yang dikembangkan secara luas. “Itu sejalan mandatori perluasan B20 oleh Pemerintah pada 1 September 2019,” tegas Direktur Pengolahan Pertamina Budi Santoso Syarif. Menurut Budi, sejak 2016 hingga September 2019, Pertamina telah mendistribusikan B20 sebanyak 61,48 juta kilo liter (KL) dengan total minyak nabati atau fatty acid methyl ester (FAME) yang diserap mencapai 13,71 juta KL. Tahun lalu, penyerapan FAME mencapai 3,2 juta KL. Dan, hingga September 2019, penyerapan FAME telah mencapai 4,02 juta KL atau 67 persen dari target penyaluran sepanjang tahun ini. “Seiring program perluasan penggunaan B20, penyerapan FAME dua tahun terakhir meningkat signifikan. Pertamina terus memperluas pasokan B20 juga untuk kebutuhan industri,” ucap Budi. Program B20, telah membantu penghematan devisa. Tahun lalu, tercatat Rp28,4 triliun, dan tahun ini diproyeksi mencapai USD3 miliar. Setelah sukses dengan B20, tahun depan akan mulai uji coba program B30 sesuai kebijakan pemerintah. Pertamina, juga telah menguji coba Biorefinery pertama melalui metode Co-Processing pada kilang Dumai dan Plaju. Keberhasilan dalam ujicoba penerapan teknologi itu, menjadikan Pertamina siap mengembangkan ba-han bakar nabati dengan bahan baku crude Palm Oil (CPO). Pertamina juga siap mengadopsi teknologi Standalone untuk pengolahan CPO menjadi bahan bakar nabati. “Program Green Refinery itu ditarget tuntas pada 2024, sehingga akan memasuki era baru menuju Indonesia hijau,” ucap Budi.