+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Program B100 Tidak Ganggu Ekspor CPO

Investor Daily Indonesia | Selasa, 11 Februari 2020

Program B100 Tidak Ganggu Ekspor CPO

Suplai minyak sawit nasional dipastikan mencukupi untuk menyongsong pengembangan B100 yang produksinya ditargetkan bisa dimulai pada 2022. Saat ini, dengan luas perkebunan kelapa sawit yang sudah tertanam 14 juta hektare (ha) produksi minyak sawit mencapai 52 juta ton, namun dengan peningkatan produktivitas hingga 1,50 kali lipat maka produksi minyak sawit pada 2022 akan mencapai sekitar 90 juta ton. Artinya, program B100 tetap bisa berjalan tanpa mengganggu ekspor minyak sawit khususnya minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Arif Budimanta menjelaskan, saat ini luas perkebunan sawit tertanam 14 juta ha dan paling lambat tiga tahun ke depan bisa jadi luas tertanam menjadi 15 juta ha. Dengan asumsi produktivitas tanaman sawit nasional hanya 4 ton per ha maka produksi minyak sawit nasional hanya 60 juta ha, namun saat ini pemerintah sedang menggenjot produktivitas sawit khususnya milik rakyat dengan program peremajaan tanaman (replanting). “Kita pompa produktivitas tanaman sawit hingga 1,50 kali lipat atau minimal sama dengan Malaysia, sehingga nanti produksi minyak sawit nasional bisa sampai 90 juta ton dalam beberapa tahun ke depan. Saya rasa (suplai minyak sawit) cukup (sampai B100),” kata Arif Budimanta dalam program Hot Economy, Beritasatu News Channel, yang tayang Senin (10/2).

Arif menjelaskan, melalui program B20, B30, B40, dan B100 memang nantinya akan ada masalah trade off, tapi dampak positif dari B20, B30, B40, dan B100 jauh lebih besar. Saat ini, ekspor minyak sawit dan turunannya setiap tahun kurang lebih 36 juta ton dari total produksi 52 juta ton, ekspor 36 juta ton tersebut setara US$ 19 miliar. Dengan B20, B30, B40, dan B100, Indonesia bisa menekan impor minyak fosil olahan di luar gas sekitar US$ 20 miliar. “Dengan program B20, B30, B40, dan B100 artinya kita bisa menghemat devisa, dengan digunakan di dalam negeri berarti kita menyelamatkan banyak petani yang produksinya 40% dari total produksi nasional, juga stabilitas harga minyak sawit juga menjadi lebih baik,” ungkap Arif. Dampak lebih besar dari program B20, B30, B40, dan B100, kata Arif Budimanta, adalah perbaikan neraca perdagangan sekaligus memperkuat perekonomian nasional. “Seperti yang disampaikan Bapak Presiden bahwa pengembangan B20, B30, B40, dan B100 akan berkontribusi dalam perbaikan neraca transaksi berjalan. Sekarang tantangannya tinggal bagaimana agar prinsipal otomatif melakukan adaptasi mesin, ini khusus untuk transportasi. Kalau untuk sektor industri dan rumah tangga banyak pilihan yang bisa digunakan tak harus sawit,” jelas dia.

Republika | Selasa, 11 Februari 2020
Aprobi: Uji Coba Biodiesel B40 Mulai Dilakukan Maret

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) mengatakan uji coba program mandatori biodiesel 40 persen atau B40 akan dimulai bulan Maret mendatang. Uji coba B40 ini merupakan arahan Presiden Jokowi yang mengatakan program tersebut harus mulai berjalan pada Januari 2021 mendatang. “Saya kira mulai bulan depan, baru tadi saya dapat surat dari badan penelitian migas supaya mengirimkan bahan bakunya untuk diujicobakan. Jadi tentu semua harus diuji coba, road test dulu,” kata Ketua Umum Aprobi MP Tumanggor ditemui di Kemenko Kemaritiman dan Investasi Jakarta, Senin (10/2). Tumanggor mengatakan nantinya akan diujicoba dua model untuk program B40. Pertama, yakni dengan memasok fatty acid methyl ester (FAME) sebagai campuran membuat biodiesel langsung dengan kadar 40 persen. “Atau CPO-nya diproses melalui destilasi (penyulingan). Kalau destilasi bagaimana, kalau FAME bagaimana, kita lihat hasilnya nanti,” katanya. Ada pun terkait program B30 yang tahun ini resmi berjalan, Tumanggor mengatakan hingga kini tidak ada hambatan berarti dalam pelaksanaannya. “Baik dari perusahaan otomotifnya, baik dari segi penyaluran dari Pertamina, demikian juga suplai dari para produsen. Semua berjalan sesuai rencana,” katanya. Sebanyak 9,6 juta kiloliter bahan bakar dari minyak kelapa sawit tahun ini ditargetkan bisa diserap untuk program B30. Dengan jumlah tersebut, diperkirakan kebutuhan bahan bakar minyak nabati yang dibutuhkan untuk program itu mencapai sekitar 800 ribuan KL. “Mungkin kalau sekarang sudah sekitar 900 ribu KL. Soal penambahan saya rasa angka yang ditetapkan sudah disesuaikan dengan kebutuhan solar yang ada,” ungkapnya.
https://republika.co.id/berita/q5hs4f383/aprobi-uji-coba-biodiesel-b40-mulai-dilakukan-maret

Kompas | Selasa, 11 Februari 2020
B30 Resmi Berjalan, B40 Maret Diuji Coba

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) mengatakan ,uji coba program mandatori biodiesel 40 persen atau B40 akan dimulai bulan Maret 2020. “Saya kira mulai bulan depan, baru tadi saya dapat surat dari badan penelitian migas supaya mengirimkan bahan bakunya untuk diujicobakan,” kata Ketua Umum Aprobi MP Tumanggor ditemui di Kemenko Kemaritiman dan Investasi Jakarta, Senin (10/2/2020). Menurut dia, uji coba B40 akan segera dilakukan sebagaimana arahan Presiden Jokowi yang mengatakan program tersebut harus mulai berjalan pada Januari 2021 mendatang. “Jadi tentu semua harus diuji coba, road test dulu,” ujarnya. Tumanggor mengatakan, nantinya akan diujicoba dua model untuk program B40. Pertama, yakni dengan memasok fatty acid methyl ester ( FAME) sebagai campuran membuat biodiesel langsung dengan kadar 40 persen. “Atau CPO-nya diproses melalui destilasi (penyulingan). Kalau destilasi bagaimana, kalau FAME bagaimana, kita lihat hasilnya nanti,” katanya. Ada pun terkait program B30 yang tahun ini resmi berjalan, Tumanggor mengatakan hingga kini tidak ada hambatan berarti dalam pelaksanaannya. “Baik dari perusahaan otomotifnya, baik dari segi penyaluran dari Pertamina, demikian juga suplai dari para produsen. Semua berjalan sesuai rencana,” katanya. Sebanyak 9,6 juta kiloliter bahan bakar dari minyak kelapa sawit tahun ini ditargetkan bisa diserap untuk program B30. Dengan jumlah tersebut, diperkirakan kebutuhan bahan bakar minyak nabati yang dibutuhkan untuk program itu mencapai sekitar 800.000 KL. “Mungkin kalau sekarang sudah sekitar 900.000 KL. Soal penambahan saya rasa angka yang ditetapkan sudah disesuaikan dengan kebutuhan solar yang ada,” ungkapnya.
https://money.kompas.com/read/2020/02/11/060600426/b30-resmi-berjalan-b40-maret-diuji-coba

Motoris | Selasa, 11 Februari 2020
Pengusaha Bus dan Truk Keteteran, Pemerintah Sudah Siapkan B40

Pemerintah bersama Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) merencanakan mulai bulan depan atau Maret nanti melakukan uji coba bahan bakar minyak biodiesel dengan campuran minyak nabati 40% atau B40. Pasalnya, pemerintah mematok target BBM B40 dapat diberlakukan mulai Januari 2021 mendatang. Kabar tersebut diungkapkan Ketua Umum Aprobi MP Tumanggor usai mengikuti rapat di kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jakarta, Senin (10/2/2020). “Kami, tadi sudah mendapatkan surat Badan Penelitian Migas. Isinya, kami diminta mengirimkan bahan baku B40 itu untuk diujicobakan,” kata dia. Tumanggor mengatakan, program pengembangan B40 ini merupakan tindkan lanjut dari penerapan BBM B30 yang saat ini berlangsung dan berjalan dengan baik. Menurut dia, sejauh ini tidak ada kendala produksi maupun distribusi B30. “Sekarang ini, produksi B30 mencapai sekitar 800.000 kiloliterm targetnya yang ditetapkan target Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) kan produksi itu bisa mencapai 10 juta kiloliter pada tahun ini. Sehingga, minyak sawit (CPO) yang terserap bisa mencapai 9,6 juta kiloliter,” papar dia.

Namun, berbeda dengan Tumanggor, Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia LEsani Adnan menyebut, penggunaan BBM B30 telah memunculkan beban baru bagi pengusahaan angkutan bus. “Seperti yang sampaikan berkali-kali dalam berbagai kesempatan. Berdasar pengalaman di lapangan teman-teman pengusaha bus dan awak bus. Penggunaan bahan bakar B30 ini mengharuskan perusahaan merogoh biaya tambahan lagi. Karena sifat biodiesel yang menghasilkan gel. Masalah ini sampai sekarang belum terpecahkan,” papar dia kepada Motoris, Senin (10/2/2020). Padahal, biaya tambahan yang harus dibelanjakan untuk membeli filter, aditif, dan lainnya untuk menyiasati munculnya gel itu mencapai Rp 30 juta per unit. “Salah satu APM (Agen Pemegang Merek) kendaraan komersial (truk maupun bus) katanya menyiapkan alat tambahan untuk menyikapi ini. Tapi APM ini kan hanya takut kepada pemerintah, jadi asal siap saja,” tegas Lesani. Pernyataan serupa juga diungkapkan oleh Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Kyatmaja Lookman yang dihubungi, Selasa (11/2/2020). Menurut dia, para pengusaha truk harus membelanjakan lebih banyak uang lagi untuk penggantian filter yang lebih sering di armada mereka.

“Selain itu, ada tambahan water separator. Bahkan ada juga yang harus meng-coating tangki bahan bakar agar karat-karat di tangki tidak terbawa ke mesin. Sebab, sifat biosolar itu korosif,” ucap dia. Baik Kyatmaja maupun Lesani berharap, jika pemerintah terus menjalankan program ini dan bahkan hingga tingkat kandungan minyak nabati semain banyak, seperti B40, maka persoalan teknologi harus diperhatikan. Jika pemerintah tidak melaukan riset yang tepat dan maksimal dalam mixing atau pencampuran minyak nabati dengan slar, mala terjadi gel pada BBM tersebut. “Karena kami harus menggunakan oli yang berspesifikasi high grade. Tentu ini biaya tambahan lagi. Artinya, biaya operasional kami semakin tinggi. Lalu dibebankan ke mana? Ke konsumen?. Prinsipnya satu saja, pemerintah harus memikirkan bagaimana menciptakan BBM dengan kualitas yang bisa kompatibel dengan teknologi engine yang sekarang semakin tinggi. Karena di dunia ini hanya Indonesia tercinta saja yang menggunakan BBM dengan prosetase campuran minyak nabati yang tinggi. Di Eropa saja hanya 7%,,” kata Lesani yang juga Direktur Utama PO SAN itu.

Antara News | Senin, 10 Februari 2020
Asosiasi produsen biofuel sebut uji coba B40 mulai bulan depan

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) mengatakan uji coba program mandatori biodiesel 40 persen atau B40 akan dimulai bulan Maret mendatang. “Saya kira mulai bulan depan, baru tadi saya dapat surat dari badan penelitian migas supaya mengirimkan bahan bakunya untuk diujicobakan,” kata Ketua Umum Aprobi MP Tumanggor ditemui di Kemenko Kemaritiman dan Investasi Jakarta, Senin. Tumanggor menjelaskan uji coba B40 akan segera dilakukan sebagaimana arahan Presiden Jokowi yang mengatakan program tersebut harus mulai berjalan pada Januari 2021 mendatang. “Jadi tentu semua harus diuji coba, road test dulu,” ujarnya. Tumanggor mengatakan nantinya akan diujicoba dua model untuk program B40. Pertama, yakni dengan memasok fatty acid methyl ester (FAME) sebagai campuran membuat biodiesel langsung dengan kadar 40 persen. “Atau CPO-nya diproses melalui destilasi (penyulingan). Kalau destilasi bagaimana, kalau FAME bagaimana, kita lihat hasilnya nanti,” katanya. Ada pun terkait program B30 yang tahun ini resmi berjalan, Tumanggor mengatakan hingga kini tidak ada hambatan berarti dalam pelaksanaannya. “Baik dari perusahaan otomotifnya, baik dari segi penyaluran dari Pertamina, demikian juga suplai dari para produsen. Semua berjalan sesuai rencana,” katanya. Sebanyak 9,6 juta kiloliter bahan bakar dari minyak kelapa sawit tahun ini ditargetkan bisa diserap untuk program B30. Dengan jumlah tersebut, diperkirakan kebutuhan bahan bakar minyak nabati yang dibutuhkan untuk program itu mencapai sekitar 800 ribuan KL. “Mungkin kalau sekarang sudah sekitar 900 ribu KL. Soal penambahan saya rasa angka yang ditetapkan sudah disesuaikan dengan kebutuhan solar yang ada,” ungkapnya.
https://www.antaranews.com/berita/1288530/asosiasi-produsen-biofuel-sebut-uji-coba-b40-mulai-bulan-depan

Kata Data | Senin, 10 Februari 2020
B40 Dimulai Tahun Depan, Asosiasi Produsen Uji Coba Produk pada Maret

Pemerintah menargetkan program pencampuran minyak sawit dalam solar sebesar 40% atau Biodiesel 40% (B40) dapat diterapkan mulai Januari 2021. Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) pun menyatakan uji coba produk akan dilakukan pada bulan depan. Ketua Umum Aprobi MP Tumanggor mengatakan uji coba harus dilakukan untuk menghasilkan produk yang cocok. “Baru tadi saya mendapatkan surat dari badan penelitian migas, supaya mengirimkan bahan bakunya untuk diuji cobakan,” kata dia di kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jakarta, Senin (10/2). Program B40 merupakan kelanjutan dari program B30 saat ini alias program pencampuran minyak sawit dalam solar sebesar 30%. Menurut dia, program B30 telah berjalan dengan baik. Sebab, tidak ada kendala dalam produksi maupun distribusi. Pertamina ditunjuk sebagai distributor dari semua produsen. Adapun produksi B30 diperkirakan sekitar 800 ribu kiloliter (KL) per bulan. Ini dengan memperhitungkan target Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yakni produksi 10 juta KL sepanjang tahun ini. Dengan program B30, ia memperkirakan, potensi penghematan solar sekitar 9,6 juta kiloliter. Ini dengan perhitungan konsumsi solar mencapai 32 juta kiloliter (KL), sedangkan kandungannya 30% digantikan oleh minyak sawit. Seiring berjalannya program ini, produksi biodiesel nasional terus bertambah. Pada 2019, jumlahnya mencapai 8,37 juta KL, melebihi target 7,37 juta KL.
https://katadata.co.id/berita/2020/02/10/b40-dimulai-tahun-depan-asosiasi-produsen-uji-coba-produk-pada-maret

Antara | Senin, 10 Februari 2020
DMSI Prediksi Ekspor CPO Indonesia ke RRT Turun Pada 2020

Dewan.Minyak Sawit Indonesia (DMSI) memprediksi akan terjadi penurunan ekspor crude palm oil (CP0) dan produk turunannya.ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada 2020 . “Selain dampak serangan virus corona, perayaan Imlek yang tertunda di Februari membuat permintaan CPO dan.produk turunan dari RRT berkurang,” ujar Ketua Umum DMSI, Derom Bangun di Medan, Sumatera Utara, Senin. Penurunan ekspor diperkirakan terjadi minimal hingga triwulan I atau semester I 2020. Padahal, pada akhir tahun 2019, ekspor minyak sawit Indonesia meningkat. Menurut catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), ujar Derom, ekspor ke RRT selama tahun 2019 mencapai 6 juta ton di luar oleokimia dan biodiesel. Catatan Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) dan Asosiasi Produsen Biofuel (Aprobi) , ekspor oleokimia dan biodiesel ke RRT mencapai 825 ton. “Untuk 2020 akan terjadi penurunan ekspor terutama di kwartal pertama dampak virus corona dan menurunnya permintaan karena perayaan Imlek terganggu sehingga konsumsi yang biasanya meningkat pada saat itu berkurang,” ujarnya. Penurunan ekspor akan semakin dirasakan karena ada perundingan baru antara AS dan RRT mengenai perdagangan . Perundingan baru itu kemungkinan besar akan memulihkan perdagangan antara AS dan RRT. Pulihnya kembali impor kedelai RRT dari AS, akan kembali mengurangi impor minyak sawit dari Indonesia. “DMSI berharap ekspor CPO.ke RRT bisa kembali pulih pada kuartal II.Semoga virus corona yang mewabah di RRT bisa diatasi sehingga perdagangan negara itu kembali normal,” ujarnya.
https://www.antaranews.com/berita/1288190/dmsi-prediksi-ekspor-cpo-indonesia-ke-rrt-turun-pada-2020

Medcom | Senin, 10 Februari 2020
Ekspor CPO Indonesia ke Tiongkok Turun pada 2020

Dewan.Minyak Sawit Indonesia (DMSI) memprediksi akan terjadi penurunan ekspor crude palm oil (CP0) dan produk turunannya ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada 2020. “Selain dampak serangan virus korona, perayaan Imlek yang tertunda di Februari membuat permintaan CPO dan produk turunan dari RRT berkurang,” ujar Ketua Umum DMSI, Derom Bangun di Medan, Sumatra Utara, dikutip dari Antara, Senin, 10 Februari 2020. Penurunan ekspor diperkirakan terjadi minimal hingga kuartal I atau semester I-2020. Padahal, pada akhir 2019, ekspor minyak sawit Indonesia meningkat. Peningkatan ekspor terjadi didorong oleh ketegangan hubungan dagang antara Amerika Serikat dan RRT. Menurut catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), ujar Derom, ekspor ke RRT selama 2019 mencapai enam juta ton di luar oleokimia dan biodiesel. Catatan Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) dan Asosiasi Produsen Biofuel (Aprobi) , ekspor oleokimia dan biodiesel ke RRT mencapai 825 ton. “Untuk 2020 akan terjadi penurunan ekspor terutama di kuartal pertama dampak virus corona dan menurunnya permintaan karena perayaan Imlek terganggu sehingga konsumsi yang biasanya meningkat pada saat itu berkurang,” ujarnya. Penurunan ekspor akan semakin dirasakan karena ada perundingan baru antara AS dan RRT mengenai perdagangan. Perundingan baru itu kemungkinan besar akan memulihkan perdagangan antara AS dan RRT. Pulihnya kembali impor kedelai RRT dari AS, akan kembali mengurangi impor minyak sawit dari Indonesia. “DMSI berharap ekspor CPO.ke RRT bisa kembali pulih pada kuartal II.Semoga virus korona yang mewabah di RRT bisa diatasi sehingga perdagangan negara itu kembali normal,” ujarnya.
https://www.medcom.id/ekonomi/mikro/wkBYVLDb-ekspor-cpo-indonesia-ke-tiongkok-turun-pada-2020?utm_source=newsstand&utm_medium=newsstand&utm_campaign=newsstand