+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Program B30 Siap Diuji Coba

Media Indonesia | Selasa, 16 April 2019

Program B30 Siap Diuji Coba

Guna mengurangi impor migas, pemerintah sejak tahun lalu menerapkan kebijakan mandatori penggunaan 20% campuran minyak Kelapa Sawit dengan solar untuk bahan bakar minyak. Selain itu, tujuan program ini ialah meningkatkan serapan komoditas tersebut di dalam negeri. Tahun ini, program tersebut ditingkatkan menjadi sebesar 30% atau lazim disebut B30. Pemerintah menargetkan program pengembangan solar dengan bauran minyak sawit sebesar 30% akan rampung pada Oktober mendatang dan bisa digunakan secara publik tahun depan. Ketua Harian Asosiasi Produsen biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengungkapkan pihaknya saat ini baru akan melakukan uji coba dengan jarak 40 ribu kilometer guna memastikan bahan bakar bauran tersebut aman untuk kendaraan. “Selama tes itu kita akan cek olinya, gas buangnya, mesinnya, untuk memastikan semua aman,” ujar Paulus dalam acara Pembekalan Journalist Fellowship di Jakarta, kemarin. Dengan beresnya pengembangan B30, diyakini serapan minyak sawit mentah(crude palm OI//CPO) untuk keperluan biodiesel akan terus melonjak. Tahun depan, ditargetkan penggunaan CPO untuk bahan bakar di dalam negeri akan mencapai 9 juta kiloliter atau setara 7,8 juta ton. Jauh lebih tinggi dari proyeksi tahun ini yang hanya 6,2 juta kiloliter atau setara 5,4 juta ton.

Target-target tersebut dinilai bukan hal yang,sulit dicapai. Pasalnya, dalam dua bulan pertama tahun ini, serapan CPO untuk B20 (bauran 20% minyak sawit untuk bahan bakar kendaraan) sudah mencapai 1,2 juta ton. Artinya, rata-rata setiap bulan, ada 550 ribu ton minyak sawit yang digunakan untuk kebutuhan bahan bakar domestik. Paulus mengungkapkan penggunaan yang masif di dalam negeri juga akan membuat harga di tingkat global merangkak naik. Sejakemerintah menerap- kan B20 pada akhir tahun lalu, kata dia, harga CPO mulai mengalami perbaikan. Pada akhir tahun lalu, harga minyak sawit mentah sempat menyentuh di bawah US$500, tetapi pada Februari tahun ini sudah sedikit pulih ke angka rata-rata US$556,50 per ton. Serapan domestik yang begitu besar juga tentunya akan menghilangkan ketergantungan Indonesia terhadap pasar-pasar dunia terutama Uni Eropa. Dengan begitu, jika ada negara-negara yang memutuskan untuk tidak menggunakan minyak nabati bersumber CPO, Indonesia tidak akan kelabakan. “Tetapi tujuan kita bukan untuk menutup rapat-rapat ekspor CPO. Kita hanya ingin membatasi agar stok di dunia tidak banjir dan harga tetap terjaga,” jelasnya.

Serapan dalam negeri

Penggunaan CPO untuk bauran bahan bakar juga dilakukan untuk memangkas impor minyak yang selama ini menjadi momok besar karena menggerogoti devisa negara. “Kami sudah berkomitmen menyerap B20 untuk memperbanyak serapan dalam negeri. Kebutuhan kita itu banyak sekali. Target kita saja tahun ini 6,2 juta ton, jadi pasti ada dampaknya terhadap pengurangan impor migas,” ucap Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Kanya Lakshmi Sidarta. Menurut dia, serapan CPO untuk B20 memang terus bertumbuh dari bulan ke bulan. Pada Januari serapan CPO untuk B20 sebesar 552 ribu ton dan meningkat menjadi 648 ribu ton pada Februari.

Bisnis Indonesia | Selasa, 16 April 2019

Implementasi B100 Butuh Waktu Panjang

Penggunaan bahan bakar nabati atau biodiesel 100% secara luas untuk menggantikan bahan bakar fosil masih membutuhkan berbagai pengujian dan tahapan yang cukup panjang. Ketua APROBI Paulus Tjakrawan mengatakan bahwa untuk sekadar uji jalan B100, pihak swasta juga telah menerapkan penggunaan 100% biodiesel sejak 2006. Namun, implementasi B100 sebagai bahan bakar secara luas, katanya, tidak sederhana karena harus melewati berbagai tahap uji. “Kalau sekadar jalan, sejak 2006 juga sudah jalan. Beberapa perusahaan sudah menerapkan B100 dan itu jalan. Namun, perlu ada tes macam-macam setelahnya,” katanya kepada Bisnis, Senin (15/4). Paulus menjabarkan bahwa setidaknya ada lima tes yang perlu dijalani untuk menerapkan B100, seperti tes bahan bakar, uji emisi, uji kehematan, uji kemampuan pelumas, dan pengaruhnya terhadap mesin. Dia menjelaskan, untuk menguji B30, pabrikan otomotif butuh uji jalan minimal 40.000 km. Setelah uji jalan selesai, lanjutnya, pabrikan masih meminta tambahan sampai 100.000 km yang memakan waktu minimal 6 bulan. Pengujian pun melibatkan universitas, kementerian, badan usaha milik negara, dan asosiasi.

Dia menambahkan, penggunaan 100% biodiesel itu tidak hanya mempertimbangkan efek samping. Peningkatan B20 ke B30 akan diikuti dengan peningkatan standar, kualitas, dan mutu biodiesel. Hal tersebut yang menyebabkan implementasi biodiesel perlu waktu penelitian. “Bahkan, Jepang sampai ikut melakukan tes. Nanti setelah dites dibelah mesin dan dilihat pengaruhnya. Untuk yang akan datang setiap peningkatan harus ada tes yang komprehensif atau pabrik kendaraan tidak mau menggunakan (BIOO],” katanya. Aprobi, lanjutnya, sebagai produsen juga tidak berani terlalu mempercepat peningkatan karena harus menjaga standar. Pabrik kendaraan pun selalu meminta peningkatan secara bertahap. Dari sisi teknologi, katanya, hanya maksimal pada penggunaan B40. Sementara itu, penerapan B100 masih perlu penyesuaian dan penambahan berupa hydwginated vegetables\’ oil (HVO) yang saat ini masih diteliti oleh PT Pertamina (Persero) dan perusahaan migas asal Italia, Eni S.p.A.

Menurutnya, dengan campuran HVO dan biodiesel baru bisa ditemukan B100 di mana secara molekul sama bentuknya dengan Solar. “Sampai B30 belum [bisa], perlu ada penyesuaian. Lebih dari itu perlu penyesuaian pada mesin. Paling tinggi B40. Kalau B100 perlu ada HVO. Ini jenisnya beda masih dalam penelitian,” pungkasnya. Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Moekti Sardjono mengatakan bahwa penggunaan biodiesel harus sesusai dengan kelayakan teknis pada barang yang diaplikasikan. “Sebelum diimplementasikan tentu harus ada kelayakan. Baik kelayakan teknis telah diuji coba sesuai dengan standar uji coba dan tentunya layak secara finansial,” katanya kepada Bisnis. Menurutnya, penaikan bauran biodiesel dalam Solar dari B20 ke B30 akan mendongkrak permintaan terhadap minyak Kelapa Sawit hingga 6 juta ton. Ketika B30 diterapkan papda 2020, katanya, kebutuhan minyak Kelapa Sawit mencapai 9 juta ton. “Jelas [biodiesel] akan menambah serapan dalam negeri. Di samping itu, kami dorong penggunaan minyak sawit langsung untuk pembangkit listrik PT PLN [Persero]. Selain itu, kami juga dorong peningkatan ekspor ke negara Timur Tengah dan Afrika.”

Berdasarkan data Gapki, perluasan mandatory B20 ke sektor nonsubsidi sejak pertengahan 2018 terus meningkat. Sepanjang Februari 2019, penyerapan biodiesel di dalam negeri mencapai lebih dari 648.000 ton atau naik 17% dibandingkan dengan bulan sebelumnya 552.000 ton. Mukti berharap agar uji coba B30 dapat segera dilaksanakan dan diharapkan dapat mempercepat implementasi program mandatory B30. Peningkatan penggunaan biodiesel berbasis CPO akan meningkatkan konsumsi komoditas itu di dalam negeri sekaligus menghemat devisa impor.

LEBIH HEMAT

Sementara itu, Kementerian Pertanian menyampaikan bahwa penggunaan biodiesel 100% (B100) Iebih efisien dibandingkan dengan Biosolar20% (B20). Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan bahwa jarak tempuh atau jangkauan alat dan mesin pertanian yang menggunakan 100% biosolar (B100) mencapai 13,1 kilometer (km) per liter. Harga bahan bakar nabati dari minyak Kelapa Sawit atau biodiesel sekitar Rp8.000 per liter. Dia membandingkan jangkauan alat dan mesin pertanian yang menggunakan Solar hanya mencapai 9,6 km per liter. Harga Solar industri (nonsubsidi) sekitar Rp9.000 per liter. Sementara itu, harga Solar bersubsidi Rp5.100 per liter. “Estimasi biaya [bahan bakar dengan Solar] per 1 kilometer itu Rp 1.000, (sedangkan dengan] menggunakan B100 sekitar Rp732 per kilometer,” katanya setelah peluncuran\’program B100 untuk alat dan mesin pertanian, Senin (15/4). Amran menjelaskan bahwa B100 yang sudah diujicobakan pada 18 mesin pertanian dan kendaraan menunjukkan bahwa biodiesel ini ramah lingkungan karena tidak mengeluarkan asap. “Jadi, kalau Uni Eropa melakukan protes dan sebagainya terkait sawit, kami bisa lawan dan manfaatkan CPO kami di dalam negeri [sebagai bahan bakar], ini solusi masa depan yang tepat untuk sawit kami.”

Amran berharap agar penggunaan 100% bahan bakar nabati mampu menghemat devisa negara sebesar Rpl50 triliun. Penggunaan B100 akan langsung menurunkan konsumsi Solar. Selama ini, Indonesia masih menjadi importir minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM). “Kami tahu impor [BBM] kita sampai 16 juta kiloliter per tahun nilainya [setahun] sampai Rpl50 triliun, bayangkan kalau bisa hemat Rpl 50 triliun,” katanya. Menurutnya, produksi Solar Indonesia dalam 1 tahun sekitar 20 juta kl sehingga dengan B100. Selain menghemat devisa negara, penggunaan B100 bisa meningkatkan pasar minyak Kelapa Sawit di dalam negeri. Dia menambahkan, pengembangan program B100 baik langsung maupun tidak langsung dapat menjamin dan meningkatkan kesejahteraan petani sawit. “Karena produksi sawit kita itu 46 juta ton [per tahun], khusus crude Palm Oil [CPO] ekspor [sebanyak] 34 juta ton, di mana sisanya digunakan di dalam negeri,” jelasnya. Amran mengatakan, uji coba yang dilakukan sebelumnya tidak memberikan dampak terhadap mesin kontraktor maupun mobil.

Kementerian Pertanian sedang melakukan uji coba penggunaan B100 untuk 50 alat dan mesin pertanian dan kendaraan dinas di kementerian itu. “Nanti akan bertahap, ini sedang kami persiapkan. Jadi, bukan hari ini langsung secara massal. Sekarang 50 unit dahulu, mungkin nanti 6 bulan kemudian ditambah 100 unit, berikutnya kami tambah lagi. Jadi bertahap,” jelas Amran. Dia menambahkan bahwa uji coba ini akan dilakukan dalam kurun waktu 1 tahun-2 tahun ke depan. “Kami lihat, kalau nanti sudah berhasil mudah-mudahan sudah bisa dikomersialkan,” katanya.

CPO UNTUK BIODIESEL

Indonesia menjadi produsen minyak Kelapa Sawit terbesar di dunia. Di sisi lain, Indonesia menjadi importir minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM). Penggunaan biodiesel untuk pengganti bahan bakar fosil akan mengurangi beban impor minyak mentari dan BBM yang telah membebani devisa negara selama ini.

Harian Ekonomi Neraca | Selasa, 16 April 2019

Anehnya Boikot Uni Eropa Terhadap Sawit Indonesia

Industri Kelapa Sawit Indonesia menjadi penopang terhadap perekonomian. Data dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mencatat kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) sektor Perkebunan, salah satunya sawit terhadap PDB Nasional pada 2014 (Rp338,50 triliun), 2015 (Rp345,16 triliun), 2016 (Rp357,14 triliun), 2017 (Rp373,05 triliun). Namun begitu, muncul serangan boikot terhadap produk sawit dari Indonesia yang dinilai tidak ramah lingkungan. Menurut Ketua Harian Asosiasi Produsen biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan, tanaman sawit ada di Indonesia tak terlepas dari peran negara-negara eropa yang membawa tanaman sawitke Indonesia. Makanya hingga sekarang masih adaperusahaan-perusa-haan sawitpeninggalan eropa yang dikelola oleh PTPN. Tak hanya itu, sertifikasi sawit yang diusung oleh Un i Eropa yaitu Roundtable on Sustainable Palm Oil (RS-PO) sudah dilakukan oleh perusahaan-perusahaan sawit asal Indonesia. “Ada sekitar 11 juta ton sawityang sudah tersertifikasi RSPO, sementara kebutuhan Eropa hanya 7 juta ton. Harusnya sih tidak ada masalah, toh kita juga telah mengikuti permintaan me- reka untuk disertifikasi,” ungkap Paulus saat Program Pembekalan Materi Kelapa Sawit di Jakarta, Senin (15-/4).

Selain itu, Paulus menceritakan hambatan pertama dilakukan oleh Uni Eropa saat di 2009 dengan diterbitkannya Renewable E-nergy Directive (RED) Iyang mana Eropa akan menerima biodiesel dengan pengurangan emisi 30% sementara sawit Indonesia hanya bisa mengurangi 19% saja. “Akhirnya kami menggandeng perusahaan sertifikasi asal Jerman untuk menghitung emisi karbonnya. Hasilnya adalah sawit Indo-nesiabisamengurangi hingga diatas 30%,” jelasnya. Yang terakhir, Uni Eropa menuduh sawit Indonesia mendapatkan subsidi sehingga bisa dijual murah di Eropa. “Setidaknya ada 12 tuduhan yang dialamatkan untuk sawit Indonesia diantaranya pabrik sawit berada di kawasan berikat, mendapatkan dukungan dari Eximbank, mendapatkan dukungan asuransi pemerintah. Kita ingin membuktikan bahwasanya itu tidak benar. Kalau perundingan itu masuk ke World Trade Organization (WTO) maka kita yakin menang namun butuh waktu hingga 3 tahun, padahal perdagangan sawit kita ke Eropa sedang naik. Sepertinya mereka tidak menginginkan perdagangan sawit kita naikke Eropa,” jelasnya.

Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Dono Boestami menyampaikan bahwa Indonesia diprediksi jadi kekuangan ekonomi ke 4 di dunia. “Namun hal itu tidak akan berjalan mulus jika sawit “dihajar” terus-terusan. Maka dari itu, sawit perlu dijaga dan didukung,” jelasnya. I )is,imping icu juga, dari tahun 2000-2016 setidaknya ada lOjutaorangyang keluar dari garis kemiskinan lantaran mendapatkan penghasilan dari sawit. Meskin sawit Indonesia diboikot, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan neraca perdagangan antara Indonesia dan Uni Eropa masih positif. “Secara u- mum neraca perdagangan ke Eropa masih positif,” kata Kepala BPS Suhariyanto. Ia memaparkan pada Januari-Maret 2019 nilai ekspor ke Uni Eropa adalah sebesar US$3,6 miliar, sedangkan impornyaUS$3,02mil-iar.

Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia ke Uni Eropa masih surplus sekitar US$580 juta. “Tentu ada situasi yang berbeda-beda, kita dengan Jerman mengalami defisit, dengan Belanda kita surplus. Secara umum masih bagus karena kita masih surplus US$587 juta,” paparnya. Namun mengenai nilai ekspor sawit ke beberapa negara di Uni Eropa memang mengalami penurunan seperti ke Inggris selama Januari-Maret 2019 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ni-lai-nya turun 22 persen, ke Belanda juga mengalami penurunan 39 persen, begitu pula dengan ekspor ke negara lainnya seperti Jerman, Italia, dan Spanyol. Ia berpendapat bahwa penurunan terjadi karena ada kampanye negatif terhadap produk Kelapa Sawit Indonesia. “Saya yakin pemerintah sudah mengantisipasinya dan akan bemegosiasidengan negara-negara Eropa (terkait kampanye negatif) itu,”ucap-nya.

Media Indonesia | Selasa, 16 April 2019

Program B30 Siap Diuji Coba

Guna mengurangi impor migas, pemerintah sejak tahun lalu menerapkan kebi­jak­an mandatori penggunaan 20% campuran minyak kelapa sawit dengan solar untuk bahan bakar minyak. Selain itu, tujuan program ini ialah meningkatkan serapan komoditas tersebut di dalam negeri. Tahun ini, program tersebut ditingkatkan menjadi sebesar 30% atau lazim disebut B30. Pemerintah menargetkan ­program pengembangan solar dengan bauran minyak sawit sebesar 30% akan rampung pada Oktober mendatang dan bisa digunakan secara publik tahun depan. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan meng-ungkapkan pihaknya saat ini baru akan melakukan uji coba dengan jarak 40 ribu kilometer guna memastikan bahan bakar bauran tersebut aman untuk kendaraan. “Selama tes itu kita akan cek olinya, gas buangnya, mesinnya, untuk memastikan semua aman,” ujar Paulus dalam aca-ra Pembekalan Journalist Fellowship di Jakarta, kemarin.

Dengan beresnya pengembangan B30, diyakini serapan minyak sawit mentah(crude palm oil/CPO) untuk keperluan biodiesel akan terus melonjak. Tahun depan, ditargetkan penggunaan CPO untuk bahan bakar di dalam negeri akan men­­capai 9 juta kiloliter atau setara 7,8 juta ton. Jauh lebih tinggi dari proyeksi tahun ini yang hanya 6,2 juta kiloliter atau setara 5,4 juta ton. Target-target tersebut dinilai bukan hal yang sulit dicapai. Pasalnya, dalam dua bulan pertama tahun ini, serapan CPO untuk B20 (bauran 20% mi-nyak sawit untuk bahan bakar kendaraan) sudah mencapai 1,2 juta ton. Artinya, rata-rata setiap bulan, ada 550 ribu ton minyak sawit yang digunakan untuk kebutuhan bahan bakar domestik. Paulus mengungkapkan penggunaan yang masif di dalam negeri juga akan membuat harga di tingkat global merangkak naik. Sejak pemerintah menerap­kan B20 pada akhir tahun la­lu, kata dia, harga CPO mulai mengalami perbaikan. Pada akhir tahun lalu, harga minyak sawit mentah sempat menyen-tuh di bawah US$500, tetapi pada Februari tahun ini sudah sedikit pulih ke angka rata-rata US$556,50 per ton. Serapan domestik yang begitu besar juga tentunya akan menghilangkan ketergantungan Indonesia terhadap pasar-pasar dunia terutama Uni Ero­pa. Dengan begitu, jika ada negara-negara yang memutuskan untuk tidak menggunakan minyak nabati bersumber CPO, Indonesia tidak akan ke­labakan.

“Tetapi tujuan kita bukan un­tuk menutup rapat-rapat ekspor CPO. Kita hanya ingin membatasi agar stok di dunia tidak banjir dan harga tetap terjaga,” jelasnya. Serapan dalam negeri Penggunaan CPO untuk baur­an bahan bakar juga dilaku­kan untuk memangkas impor minyak yang selama ini menjadi momok besar karena menggerogoti devisa negara. “Kami sudah berkomitmen menyerap B20 untuk memperbanyak serapan dalam negeri. Kebutuhan kita itu banyak se­kali. Target kita saja tahun ini 6,2 juta ton, jadi pasti ada dampaknya terhadap pengurangan impor migas,” ucap Sek­retaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Kanya Lakshmi Sidarta. Menurut dia, serapan CPO untuk B20 memang terus bertumbuh dari bulan ke bulan. Pada Januari serapan CPO un­tuk B20 sebesar 552 ribu ton dan meningkat menjadi 648 ribu ton pada Februari.

http://mediaindonesia.com/read/detail/229842-program-b30-siap-diuji-coba

Harian Seputar Indonesia | Selasa, 16 April 2019

B100 Pangkas Biaya Operasional Kendaraan

Penggunaan biodiesel 100% (B100) pada alat mesin pertanian (alsintan) dan kendaraan bermotor bisa memangkas biaya operasional hingga 25%. Karena itu, Menteri Perta-jiian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menginstruksikanpeng-gunaan B100 pada alsintan dan kendaraan operasional di lingkup Kementerian Pertanian (Kementan). “Para pejabat Kementan mulai dari menteri hingga pejabat lainnya dan kendaraan jemputan pegawai nantinya harus menggunakan B100,” ujar Mentan pada acara uji coba perdana produk biodiesel B100 di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, kemarin. Selain itu, nanti para petani juga diharapkan menggunakan B100 saat mengoperasikan alsintan. Olehkarenaitu, Mentan meminta produsen yang memproduksi alsintan agar menyesuaikan spesifikasi mesinnya ke B100. Upaya tersebut dilakukan untuk menambah konsumsi minyak sawit mentah (.crude palm oil/CPO) di dalam negeri. Apalagi mulai 2021, Uni Eropa berencana melarang penggunaan CPO sebagai ba-hanbaku biodiesel. Apabila rencana itu diterapkan, maka akan melukai industri CPO di Indonesia.

Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyebutkan total ekspor CPO ke sejumlah negara di Eropa pada 2018 mencapai 4,78 juta ton. Angka itu mengalami penurunan sekitar 5% jika dibandingkan tahun 2017 yang tercatat 5,03 juta ton. “Secara politik, Eropa yang menolak sawit, kita bisa melawan dengan menambah penggunaan sawit di dalam negeri,” katanya. Pada kesempatan tersebut, Mentan Amran memaparkan, penggunaan B100 pada kendaraan bermotor maupun alsintan lebih hemat jika dibandingkan menggunakan solar. Jangkauan perlliterB100mencapail3,lki-lometer (KM), sementara solar per liter hanya bisa menjangkau 9,6 km. Dengan demikian,menurutnya,kendaraan yang meng-gunakan solar menghabiskan Rpl.000 per kilometer, sedangkan yang menggunakan B100 hanyamenghabiskanRp732per kilometer atau menghemat sekitar 25%.

Amran mengatakan, B100 yang sudah diujicobakan pada 18 mesin pertanian dan kendaraan menunjukkan bahwa biodiesel ini tidak berdampak negatif terhadap kinerja mesin. Saatini Kementan sedangmela-kukan uji coba penggunaan B100untuk50mesinpertanian dan kendaraan dinas Kementerian Pertanian. “Nanti akan bertahap, ini kan kita persiapkan. Jadi bukan bahwa hari ini langsung secara massal, bukan. Bertahap. Sekarang 50 unit dulu, mungkin nanti 6 bulan kemudian ditambah 100 unit, berikutnya kita tambah lagi. Jadi bertahap,” kata Amran. Produk B100 merupakan salah satu inovasi yang dihasilkan Kementan melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan). Para peneliti Balitbangtan mengembangkan reaktor biodiesel multifungsi yang sudah mencapai generasi ketujuh. Mesin ini tiap harinya dapat mengolah CPO sebanyak 1.600 liter. “Impian Indonesia menciptakan biodiesel B100 dari CPO berhasil terwujud. Bahan bakar yang berasal dari 100% CPO dengan rendemennya 87% ini masih terus dikembangkan. Semua tidak ada campuran,” kata Amran.

Sebelum berhasil mengembangkan B100, Indonesia juga telah berhasil mengembangkan B20 menuju B30. Selama kurun waktu 2014-2018, perkembangan B20 di Indonesia cukup pesat. Pada 2018 produksi biodiesel B20 mencapai 6,01 juta kiloliter meningkat 82,12% dibandingkan tahun 2014 sebesar 3,30 juta kiloliter. Meskipun demikian, Amran menyebutkan, Indonesia masih mengimpor solar 10,89 juta kiloliter. “Mencermati hal tersebut, pengembangan B100 menjadi sebuah keniscayaan,” katanya. Sementara itu, Kepala Badan Litbang Pertanian Fadjri Jufri mengatakan, pengemba- ngan bahan bakar nabati (BBN) sudah dilakukan sejak 2009 dengan 21 komoditas di anta-ranyakemiri sunan, jarak pagar, dan sawit yang kini menghasilkan B100. “Saat ini sudah ada tiga paten biofuel/biodiesel yang kita miliki, termasuk alat-ala tnya,” uj amy a. Untuk produk B100 ini, menurut Fadjri, sudah sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Namun, pihaknya akan melihat lebih lanjut dampak penggunaan B100 terhadap mesin kendaraan. “Dari hasil uji coba sementara, kendaraan yang menggunakan B100 lebih irit. Per 1 liter B100 mampu mencapai 13,1 km, sedangkan solar hanya 9,6 km,” ungkapnya.

Infosawit | Selasa, 16 April 2019

Mentan: Penggunaan Biodiesel Sawit Bisa Hemat Uang Negara Puluhan Triliun

Guna menjawab tantangan global terhadap energi terbarukan yang ramah lingkungan melalui penggunaan bahan pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan) melaunching uji coba perdana biodiesel 100% (B100) di kantor pusat Kementan, Jalan Ragunan, Jakarta Selatan, Senin (15/4/2019). “Inilah energi masa depan kita dan dunia dalam menjawab kebutuhan masyarakat di era mendatang,” kata Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT. Amran menjelaskan, pengembangan energi terbarukan menjadi keniscayaan untuk memenuhi kebutuhan lokal dan internasional. Karena itu, perlu adanya sumber energi pengganti bahan bakar fosil seperti biodiesel yang harus dikembangkan. Produksi biodiesel B20 pada tahun 2018 mencapai kurang lebih 6,01 juta kiloliter. Jumlah tersebut meningkat tajam jika dibanding tahun sebelumnya yang hanya mencapai 3,30 kiloliter. Namun demikian, tutur Amran, perkembangan biodiesel ini masuk pada pembahasan isu strategis di belahan dunia manapun. Untuk saat ini Indonesia tercatat telah sukses mengembangkan B20 yang disusul dengan B30. Selanjutnya Indonesia berhasil meracik bahan bakar menjadi B100.

Pengembangan biodiesel berbasis sawit di Indonesia dianggap lebih maju ketimbang negara tetangga, tercatat negara jiran baru menerapkan campuran biodiesel 7% (B7) dan baru akan menuju B10. Kata Amran capaian Indonesia menerapkan kebijakan biodiesel merupakan prestasi yang luar biasa. “Apalagi, penggunaan biodiesel B100 ini juga mampu menghemat devisa dan efisiensi solar,” katanya. Merujuk data Kementerian ESDM, kebutuhan solar nasional mencapai 31,19 kiloliter. Sementara produksi solar dalam negeri mencapai 20,8 juta kiloliter. Maka Indonesia masih membutuhkan impor solar sebanyak 10,89 juta kiloliter atau setara Rp 157,44 triliun.

“Untuk menutupi impor solar, kita membutuhkan produksi biodiesel B100 sebanyak 14,14 juta kiloliter atau setara Rp 115,38 triliun. Artinya, kalau kita bisa menutupi kebutuhan impor solar dengan pengembangan biodiesel ini, maka ada penghematan mencapai kurang lebih Rp 42 triliun per tahun,” katanya. Seperti diketahui bersama, bahan dasar energi ini merupakan minyak sawit kasar atau Crude Palm Oil (CPO). Produksi CPO sendiri saat ini mencapai 41,6 juta ton. Sedangkan ekspor CPO mencapai kurang lebih 34 juta ton atau setara Rp 270 triliun. Adapun biodiesel B100 ini adalah bahan bakar yang digunakan secara langsung pada mesin diesel tanpa dicampur dengan minyak fosil. “Kementan sendiri sudah melakukan berbagai upaya bahkan berhasil membuat reaktor biodiesel multifungsi generasi ke-7 yang mampu mengolah 1.600 liter bahan baku per hari,” tandas dia.

https://www.infosawit.com/news/8943/mentan–penggunaan-biodiesel-sawit-bisa-hemat-uang-negara-puluhan-triliun

Indo Pos | Senin, 15 April 2019

Uji Coba Biodiesel B100 untuk Alat Pertanian

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menggelar uji coba perdana soft launching Biodiesel B100. Soft launching tersebut, dilakukan terhadap alat-alat pertanian, traktor roda dua, empat dan kendaraan roda empat, Senin (15/4/2019). Ia menyebutkan bahwa ini bukan hal baru. Karena sudah memulai 2 hingga 3 tahun lalu. Berkat arahan Presiden, dari B20 melompat ke B100. Profesor Sudibyo yang meneliti prosesing dan ada 10 mobil diuji coba dengan 60 ribu kilometer (km). Kemudian pihaknya mencoba 50 mobil dan ini tahap uji coba. “Kedepan kita kurangi impor. Kebutuhan dalam negeri kita yang 20 juta ton menghemat devisa 600 triliun rupiah. Ini menghemat dan ramah lingkungan,” ujar Andi Amran Sulaiman tersenyum dalam soft launching Biodiesel B100 di Halaman Kementerian Pertanian, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (15/4/2019). Amran menambahkan, meningkatkan petani sawit. Produksinya capai 46 juta cpo, 34 juta untuk ekspor. Nantinya uji coba, dilihat, amati khusus traktor roda 2 dan 4 meminta dirjen PSP. Agar menyesuaikan menggunakan B100 cpo mulai sekarang. “Ini energi masa depan untuk Indonesia. Menghemat 30 persen, tidak ada polusi,” tandasnya. “Menghemat cadangan fosil. Ini tidak menggunakan asap dan ramah lingkungan,” tambahnya.

https://www.indopos.co.id/read/2019/04/15/171850/uji-coba-biodiesel-b100-untuk-alat-pertanian

Detik | Senin, 15 April 2019

Traktor Pertanian Pakai Biodiesel akan Diproduksi dalam 5 tahun

Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan produksi massal traktor dengan bahan bakar biodiesel 100% (B100) dalam 5 tahun ke depan. Hal itu dilakukan setelah uji coba dalam dua tahun ini. Menurut Menteri Pertanian Amran Sulaiman saat ini uji coba masih berlangsung di Balitbang Kementan. Bila tak ada aral melintang pihaknya akan komersilkan traktornya bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian dan Kementerian ESDM. “Uji coba ini 1-2 tahun. Kemudian kita akan tingkatkan penggunaannya, mudah-mudahan 1-5 tahun sudah bisa kita produksi massal. Nantinya kalau sudah dikomersilkan, kita serahkan Menperin, dan Menteri ESDM,” ujar Amran di sela-sela uji coba B100 di Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (15/4/2019). Lebih lanjut, ia memaparkan selama melakukan percobaan selama dua tahun, tak ada catatan masalah yang terjadi. Maka dari itu, ia juga akan meminta kepada perusahaan produsen traktor untuk menyesuaikan mesinnya dengan B100. “Nggak ada masalah. Khusus untuk alat pertanian itu kami minta ke seluruh produsen itu langsung menyesuaikan dengan B100. Kami sudah minta ke dirjen kirimkan surat ke perusahaan traktor apa bisa menyesuaikan,” jelas Amran. Sementara itu, dalam setahun pihaknya merencanakan untuk memproduksi 100-200 unit alat pertanian berbahan dasar biodiesel 100%.

https://finance.detik.com/industri/d-4511233/traktor-pertanian-pakai-biodiesel-akan-diproduksi-dalam-5-tahun

Okezone | Senin, 15 April 2019

Uji Coba Perdana B100, Mentan: B100 Hemat Devisa Puluhan Triliun Rupiah

Kementerian Pertanian (Kementan) melaunching uji coba perdana B100 di kantor pusat Kementan, Jalan Ragunan, Jakarta Selatan, Senin (15/4). Uji coba ini digelar untuk menjawab tantangan global terhadap energi terbarukan melalui penggunaan bahan pertanian. “Inilah energi masa depan kita dan dunia dalam menjawab kebutuhan masyarakat di era mendatang,” kata Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. Amran menjelaskan, pengembangan energi terbarukan menjadi keniscayaan untuk memenuhi kebutuhan lokal dan internasional. Karena itu, perlu adanya sumber energi pengganti bahan bakar fosil seperti biodiesel yang harus dikembangkan. Produksi biodiesel B20 pada tahun 2018 mencapai kurang lebih 6,01 juta kiloliter. Jumlah tersebut meningkat tajam jika dibanding tahun sebelumnya yang hanya 3,30 kilometer. Tapi, kata Amran, perkembangan biodiesel ini masuk pada pembahasan isu strategis di belahan dunia manapun. Dalam hal ini, posisi Indonesia sukses mengembangkan B20 yang disusul dengan B30. Selanjutnya Indonesia berhasil meracik bahan bakar tadi menjadi B100. “Sementara Malaysia saja baru bisa meracik sampai titik B7 menuju B10. Tentu ini prestasi yang luar biasa bagi bangsa kita. Apalagi, penggunaan biodiesel B100 ini juga mampu menghemat devisa dan efisiensi solar,” katanya.

Seperti yang tertera pada data Kementerian ESDM, kebutuhan solar nasional mencapai 31,19. Sementara produksi solar dalam negeri mencapai 20,8 juta. Maka Indonesia masih membutuhkan impor solar sebanyak 10,89 juta kiloliter atau setara Rp 157,44 triliun. “Untuk menutupi impor solar, kita membutuhkan produksi biodiesel B100 sebanyak 14,14 juta kiloliter atau setara Rp 115,38 triliun. Artinya, kalau kita bisa menutupi kebutuhan impor solar dengan pengembangan biodiesel ini, maka ada penghematan mencapai kurang lebih 42 triliun rupiah per tahun,” katanya. Seperti diketahui bersama, bahan dasar energi ini merupakan minyak sawit kasar atau Crude Palm Oil (CPO). Produksi CPO sendiri saat ini mencapai 41,6 juta ton. Sedangkan ekspor CPO mencapai kurang lebih 34 juta ton atau setara Rp 270 triliun. Adapun biodiesel B100 ini adalah bahan bakar yang digunakan secara langsung pada mesin diesel tanpa dicampur dengan minyak fosil. “Kementan sendiri sudah melakukan berbagai upaya bahkan berhasil membuat reaktor biodiesel multifungsi generasi ke-7 yang mampu mengolah 1.600 liter bahan baku per hari,” katanya.

Dikatakan Amran, penggunaan biodiesel ini lebih efisien dibandingkan dengan penggunaan solar. Hal itu sudah dibuktikan dengan uji transportasi yang dilakukan Badan Litbang Pertanian. Dalam pengujian tersebut, satu liter biodiesel ternyata mampu menempuh jarak 13,1 km. Sementara solar hanya 9,6 km dan efisiensi mencapai 136,4 persen, sehingga upaya konversi solar ke biodiesel sangat diperlukan. Selain itu, lanjut dia, tingkat emisi biodiesel ini relatif rendah bila dibandingkan bahan bakar solar. Sebagai contoh, karbonmonoksida (CO) biodiesel B100 lebih rendah 48% dibanding solar. “Kesimpulannya adalah, bahwa pengembangan B100 ini sangat berdampak pada meningkatnya kesejahteraan petani kebun sawit. Kemudian bisa menghemat devisa, menghemat bahan bakar fosil, menghemat energi, memitigasi tindakan diskriminasi Uni Eropa dan yang pasti menciptakan peluang pasar baru. Tentu saja kita berharap soft launching ini menjadi tonggak sejarah bagi bangsa kita untuk memasuki era B100 yang lebih massal di masa yang akan datang,” katanya.

https://news.okezone.com/read/2019/04/15/1/2043699/uji-coba-perdana-b100-mentan-b100-hemat-devisa-puluhan-triliun-rupiah

Antara | Senin, 15 April 2019

BPDPKS gelar pembekalan jurnalis satukan persepsi sawit nasional

Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Kementerian Keuangan menggelar pembekalan jurnalis dalam program Journalist Fellowship Gelombang I untuk menyatukan persepsi terkait industri kelapa sawit dalam negeri. “Narasi nasional tentang perkelapasawitan Indonesia belum seragam, bukan salah tetapi karena masing-masing berbeda kepentingannya, baik kepada Aprobi, GAPKI dan BPDPKS sendiri. Oleh karena itu di sini kita bisa ‘sharing’,” kata Direktur Utama BPDPKS Dono Boestami pada kegiatan pembekalan jurnalis di Jakarta, Senin. Dono menyatakan Journalist Fellowship Program digelar untuk memberikan kesempatan kepada jurnalis dalam memperdalam berbagai hal seputar kelapa sawit. Kegiatan ini perlu dilakukan mengingat kelapa sawit merupakan komoditas penting bagi bangsa Indonesia sehingga publik di dalam negeri maupun di lingkup global perlu mendapatkan informasi yang benar mengenai sawit. Oleh karena itu, para jurnalis sebagai penyampai informasi perlu memahami seluk beluk kelapa sawit dengan baik.

Journalist Fellowship Program merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh BPDPKS untuk memberikan kesempatan kepada jurnalis memperdalam pengetahuan dan keahlian jurnalistik terkait kelapa sawit. Program ini diselenggarakan dalam bentuk pelatihan dan riset berbagai hal seputar kelapa sawit yang mencakup isu lingkungan, kesehatan, dampak ekonomi, standardisasi keberlanjutan, produk-produk sawit, serta isu-isu lain yang relevan. Dalam setiap gelombang, para peserta Journalist Fellowship Program ini akan mengikuti sejumlah tahapan kegiatan. Untuk tahap I digelar pembekalan di Jakarta. Pada tahap ini peserta diberikan pembekalan dengan tujuan memahami konteks terkait isu kelapa sawit nasional, peran dan fungsi Badan Pengelola Sawit Nasional serta program yang dilakukan oleh BPDPKS.

Pada tahap II peserta melakukan kunjungan lapangan di dalam negeri. Untuk di dalam negeri kegiatan dilakukan dengan mengunjungi salah satu lokasi perkebunan sawit yang memiliki laboratorium sawit di Bangka. Tahapan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai kondisi lapangan perkebunan sawit. Usai tahap II, peserta akan melakukan penulisan mandiri dengan bahan dan materi yang dikumpulkan pada tahap Pembekalan dan melakukan kunjungan ke lokasi yang telah ditentukan. Peserta diberikan keleluasaan untuk melakukan riset mandiri untuk menambah pengetahuan dan referensi mengenai industri sawit nasional. Riset mandiri juga dapat dilengkapi dengan data berupa riset lapangan, studi pustaka, atau kegiatan lain yang dianggap perlu. Sebanyak tiga peserta dengan hasil penulisan terbaik diberikan kesempatan untuk melakukan kegiatan di luar negeri yang merupakan bagian dari tahap III program ini. Kegiatan di luar negeri direncanakan digelar antara lain di Oslo, Moskow, dan salah satu kota di Jepang. Dalam kegiatan ini peserta akan mengikuti kegiatan BPDPKS di luar negeri untuk melihat respons masyarakat internasional terhadap sawit selain juga untuk menambah pengetahuan seputar sawit.

https://www.antaranews.com/berita/831151/bpdpks-gelar-pembekalan-jurnalis-satukan-persepsi-sawit-nasional

Republika | Senin, 15 April 2019

Pengusaha Berharap Pemerintah Terus Upayakan Diplomasi Sawit

Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan berharap upaya negosiasi dan upaya diplomasi sawit yang dilakukan pemerintah tidak berhenti pada pertemuan di Brussel saja. Paulus berharap pemerintah dan juga pihak terkait tetap berusaha melakukan diplomasi untuk ekspor sawit Indonesia. “Kami sangat menghargai upaya pemerintah untuk berkomunikasi dengan Parlemen Eropa. Kami berharap semua pihak tetap melakukan segala upaya untuk menyelesaikan persoalan ini,” ujar Paulus saat dihubungi Republika.co.id, Senin (15/4). Berbagai upaya dari pemerintah juga para pengusaha untuk melakukan diplomasi kepada dewan parlemen Eropa atas penolak sawit Indonesia masih akan terus dilakukan. Paulus menjelaskan belum ada keputusan final atas persoalan ini. Keberatan dan penolakan kita terhadap penetapan standar yang tanpa dasar untuk sawit. Kita semua akan melanjutkan upaya hukum di eropa dan di WTO,” ujar Paulus. Senada dengan Paulus, Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono menjelaskan pengusaha sawit sangat menghargai upaya diplomasi pemerintah. Perusahaan juga mengatakan masih akan tetap melakukan berbagai upaya untuk menyelesaikan persoalan sawit ini. Ia menilai selain upaya diplomasi ia juga mengatakan perlu ada upaya lain baik memperkuat ketahanan dan pasar domestik juga mencari pasar lain sebagai salah satu ekspansi. Ia menjelaskan, pengusaha sawit sedang berupaya untuk melakukan hal tersebut secara paralel. “Semua upaya harus dilakukan secara paralel maupun sequential secara konsisten,” ujar Joko saat dihubungi, Senin.

https://republika.co.id/berita/ekonomi/korporasi/pq036m370/pengusaha-berharap-pemerintah-terus-upayakan-diplomasi-sawit

Bisnis | Senin, 15 April 2019

Konsumsi B20 Naik 45 persen, Kemen ESDM Siapkan Uji Coba B30

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tengah menyiapkan uji coba penggunaan biodiesel 30% (B30) pada kendaraan darat setelah konsumsi domestik pada B20 meningkat 45%. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral Dadan Kusdiana mengatakan setelah mandatori biodiesel ditetapkan sejak 2016, dari tahun ke tahun produksi dan pemanfaatan biodiesel terus meningkat. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat pada 2018 konsumsi domestrik naik 45% atau sekitar 3,75 juta kilo liter dibandingkan 2017. Menurutnya, B30 akan melalui berbagai macam uji standar internasional yang dikawal berbagai pihak, antara lain Kementerian ESDM, BPPT, Aprobi, Gaikindo, dan Pertamina. “Tidak ada negara di manapun yang menggunakan B20, kecuali Indonesia. Kita yang memulai, kita melakukan uji coba, kita juga yang mengimplementasikan. Dan saat ini kita sedang menyiapkan uji coba (uji jalan) untuk B30, 30 persen minyak sawit (FAME) pada solar,” katanya, seperti dikutip dalam rilis, Senin (15/4/2019). Menurutnya, keberhasilan implementasi B20 ini tidak terlepas dari upaya pemerintah memberikan insentif dana Sawit untuk menutup selisih antara Harga Indeks Pasar (HIP) Biodiesel dengan HIP Solar. Pemerintah juga menetapkan sanksi administratif dan denda bagi distributor biodiesel dan distributor bahan bakar diesel yang gagal mematuhi peraturan yang ditetapkan.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190415/44/912171/konsumsi-b20-naik-45-persen-kemen-esdm-siapkan-uji-coba-b30

Kontan | Senin, 15 April 2019

Tingkatkan pemanfaatan biodiesel, pemerintah siapkan Road Test B30

Setelah mengimplementasikan penggunaan Bahan Bakar Nabati untuk campuran solar sebesar 20% atau B20, pemerintah tengah menyiapkan uji coba penggunaan Biodiesel 30% (B30) pada kendaraan darat. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan ESDM Dadan Kusdiana mengatakan, sebelum diterapkan pada kendaraan B30 akan melalui berbagai macam uji standar internasional. Uji jalan tersebut dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, antara lain Kementerian ESDM, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi), Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), dan Pertamina. “Kita akan siapkan uji jalan untuk B30, 30% minyak sawit pada solar dalam waktu dekat, dan diharapkan akan memberikan hasil positif,” ungkap Dadan dalam keterangan tertulisnya, Senin (15/4). Dadan menyampaikan, setelah mandatori biodiesel ditetapkan sejak 2016, dari tahun ke tahun produksi dan pemanfaatan biodiesel terus meningkat. Konsumsi domestik diharapkan meningkat melalui perluasan B20 Non PSO (public service obligation) yang diinstruksikan Presiden medio 2018.

Kementerian ESDM mencatat, pada tahun 2018 konsumsi domestrik naik 45% atau sekitar 3,75 juta kilo liter dibandingkan 2017. Dadan bilang, keberhasilan implementasi B20 tak lepas dari upaya pemerintah memberikan insentif dana Sawit untuk menutup selisih antara Harga Indeks Pasar (HIP) Biodiesel dengan HIP Solar. Pemerintah bersama pihak terkait pun melakukan beragam pengujian termasuk studi komprehensif uji kinerja serta pemantauan kualitas dan kuantitas atas penggunaan B20. Secara berkala, sambung Dadan, pemerintah melakukan pemantauan dan evaluasi intensif terhadap pencampuran biodiesel serta menetapkan sanksi administratif dan denda bagi distributor biodiesel dan bahan bakar diesel yang tidak mematuhi peraturan.

https://industri.kontan.co.id/news/tingkatkan-pemanfaatan-biodiesel-pemerintah-siapkan-road-test-b30

Liputan 6 | Senin, 15 April 2019

Uji Coba Biodiesel B100, Bahan Bakar Nabati yang Siap Jadi Produk Unggulan

Biodiesel merupakan bahan bakar nabati atau biofuel untuk mesin atau motor diesel. Uji coba produk perdana Biodesel B100 resmi dilakukan di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (15/4). Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman optimistis B100 akan menjadi produk lokal unggulan yang mampu memperkuat ketahanan energi nasional. “B100 adalah energi masa depan kita. Ini adalah peluang besar karena produksi CPO kita sebanyak 41,6 juta ton, meningkat 42 persen dibandingkan produksi 2014 yang mencapai 29,28 juta ton. Bisa dibayangkan berapa triliun yang bisa dihemat. Ke depannya kita sudah tidak akan tergantung lagi dengan BBM impor,” terang Amran. Biodiesel adalah bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari bahan alami terbarukan seperti minyak nabati dan hewani. Sifat fisik biodiesel sama dengan minyak solar dan dapat digunakan sebagai bahan bakar pengganti untuk kendaraan bermesin diesel. Selama ini, biodiesel masih dicampur dengan bahan bakar minyak bumi dengan perbandingsn tertentu. Tapi dengan teknologi pengembangan B100, biodiesel mengandung 100 persen bahan alami, tanpa dicampur dengan BBM.

Produk B100 merupakan salah satu inovasi yang dihasilkan oleh Kementan melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan). Para peneliti Balitbangtan mengembangkan Reaktor biodiesel multifungsi generasi ke-7. Mesin ini dapat mengolah 1.600 liter bahan baku setiap harinya. “Impian Indonesia ciptakan biodiesel B100 dari CPO berhasil terwujud. Bahan bakar yang berasal dari 100 persen CPO dengan rendemennya 87 persen ini masih terus dikembangkan. Semua tidak ada campuran,” jelas Amran. Sebelum berhasil mengembangkan B100, Indonesia telah berhasil mengembangkan B20 menuju B30. Selama kurun waktu 2014-2018, perkembangan B20 di Indonesia pun cukup pesat. Pada 2018 produksi biodiesel B20 mencapai 6,01 juta kiloliter meningkat 82,12 persen dibanding 2014 sebesar 3,30 juta kiloliter. Meskipun demikian Amran menyebutkan bahwa Indonesia masih mengimpor solar 10,89 juta kiloliter. Pengembangan biodiesel B100 diharapkan Amran memiliki banyak dampak positif. Salah satunya, B100 telah teruji lebih efisien. “Perbandingannya saja untuk satu liter B100 bisa menempuh perjalanan hingga 13,4 kilometer sementara satu liter solar hanya mampu sembilan kilometer,” terang Amran.

Dampak positif lainnya, B100 merupakan energi ramah lingkungan. Sebagai contoh, karbonmonoksida (CO) biodiesel B100 lebih rendah 48% dibanding solar. Pengembangan B100 juga diharapkan berpengaruh positif terhadap kesejahteraan petani sawit. Sawit Indonesia hingga kini masih menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar. Ekspor CPO diperkirakan mencapai 34 juta ton. Tapi jika hanya mengekspor dalam bentuk mentah, harga jualnya lebih rendah bila dibandingkan bentuk produk turunan. “Dalam situasi ini, Diharapkan dengan langkah hilirisasi melalui peningkatan daya serap biodiesel ini dapat menjadi fondasi kita untuk menciptakan hilirisasi sawit dengan produk akhir yang lain,” ujarnya.

https://www.liputan6.com/news/read/3942128/uji-coba-biodiesel-b100-bahan-bakar-nabati-yang-siap-jadi-produk-unggulan

Cnnindonesia | Senin, 15 April 2019

Kementan Uji Coba Biodiesel 100 Persen pada Traktor

Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar uji jalan penggunaan biodiesel 100 persen (B100) terhadap 50 mobil dan traktor bermesin diesel. Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengungkapkan uji coba penggunaan biodiesel bagi Kementerian Pertanian sebenarnya bukan hal baru. Sejak tiga tahun lalu, Kementan telah menguji coba penggunaan biodiesel pada lima mobil dengan jarak tempuh 6 ribu kilometer (km). Berdasarkan hasil uji coba awal, Amran mengklaim tidak ada gangguan terhadap mesin. Dalam uji coba sebelumnya, tim juga tidak melakukan penyesuaian mesin. Selain ramah lingkungan, penggunaan biodiesel juga diklaim lebih hemat dibandingkan solar. “Dari uji coba 6 ribu km, 1 liter biodiesel bisa menempuh 13,1 km sedangkan 1 liter Solar 9,6 km,” ujar Amran dalam acara peluncuran di kantornya, Senin (15/4). Secara nominal, lanjut Amran, biaya yang dikeluarkan B100 hanya Rp732 per km. Biaya tersebut dibuat dengan asumsi harga biodiesel Rp8.400 per liter.

Harga tersebut jauh jika dibandingkan dengan solar. Pasalnya kalau menggunakan bahan bakar tersebut dengan asumsi harga Rp9.600 per liter total biaya bahan bakar mencapai Rp1.000 per km. “Artinya, penggunaan B100 bisa menghemat 25 hingga 30 persen dibandingkan Solar,” ujarnya. Amran mengungkapkan uji coba akan dilakukan selama satu sampai dua tahun. Jika tidak ada masalah maka penggunaan B100 akan dikomersialkan. Adapun produksi B100 saat ini masih terbatas oleh Kementan. Jika berhasil diimplementasikan, Amran menyebut Indonesia dapat menghemat devisa dari substitusi impor Solar. Secara politis, penggunaan B100 juga bisa menjadi senjata untuk melawan diskriminasi Uni Eropa terhadap produk CPO. Pasalnya, jika permintaan Uni Eropa turun, Indonesia akan menyerap sendiri produksi CPO domestik. “Mungkin ekspor CPO kami kurangi. Kami lihat negara mana yang bersahabat, negara yang agak resek akan kami kurangi (ekspor) duluan,” ujarnya.

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190415113806-85-386445/kementan-uji-coba-biodiesel-100-persen-pada-traktor

Sindonews | Senin, 15 April 2019

Penggunaan Biodiesel Berpotensi Hemat Devisa Rp150 Triliun

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menerangkan telah melakukan uji coba biodiesel berbahan dasar 100% kelapa sawit atau B100 pada 50 traktor dan mobil di Kementerian Pertanian (Kementan). Hal ini dilakukan sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menggenjot penggunaan kelapa sawit serta mengurangi impor solar. Dia menyebutkan, dengan penggunaan biodesel ini membuat pemerintah hemat devisa mencapai Rp150 triliun. “Bahkan nanti bisa penuhi kebutuhan dalam negeri 20 juta ton. Artinya menghemat devisa negara Rp150 triliun,” ujar Mentan Amran di Jakarta, Senin (15/4/2019). Sambung dia menerangkan, uji coba pada 50 traktor dan kendaraan tersebut dilakukan setelah hal serupa dilakukan selama dua tahun waktu oleh Balitbang Kementan. Hasilnya, tak ada catatan masalah selama menggunakan B100 dengan jarak tempuh 6.000 kilometer (km). “Pertanian uji coba dua tahun dan sekarang berhasil. Ada 10 mobil itu dengan jarak 6.000 km dan hari ini coba 50 mobil,” jelasnya. Dia menegaskan uji coba B100 ini juga sebagai langkah melawan kampanye hitam kelapa sawit yang dilakukan oleh Uni Eropa. Dengan begitu, produksi sawit masih akan tetap terjamin. “Terakhir ada Eropa melakukan protes sawit ini bisa menekan dan melawan dengan cara memanfaatkan CPO dalam negeri dan solusi masa depan sawit, dan buat para petani sawit juga sejahtera,” terang dia.

https://ekbis.sindonews.com/read/1395967/34/penggunaan-biodiesel-berpotensi-hemat-devisa-rp150-triliun-1555312879

Antara | Senin, 15 April 2019

Mentan ujicoba perdana Biodiesel B100

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman pada hari ini menggelar peluncuran (soft launching) sekaligus melakukan uji coba perdana Biodiesel 100 (B100) dari kelapa sawit atau crude palm oil (CPO). “Pertama-tama apa yang kita lakukan pada hari ini merupakan arahan dari bapak Presiden Joko Widodo, dimana setiap ada pertemuan mengenai energi baru dan terbarukan beliau selalu menyampaikan bahwa dipercepat (pengembangan) B15, B20, B30, bahkan B100,” ujar Mentan Amran di Jakarta, Senin. Mentan menjelaskan bahwa tujuan dari pengembangan biodiesel ini adalah kita menghemat devisa, energi, mendorong energi ramah lingkungan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani khususnya petani sawit. Menurut Amran, Indonesia merupakan produsen CPO terbesar di dunia dengan produksi komoditas tersebut mencapai sekitar 41,6 juta ton, dan yang diekspor sebanyak 34 juta ton sawit. “B100 adalah energi masa depan kita. Ini adalah peluang besar karena produksi CPO kita sebanyak 41,6 juta ton. Pada kurun waktu 2014 – 2018, produksi CPO meningkat 29,5 persen setiap tahunnya .Bisa dibayangkan berapa triliun yang bisa dihemat. Ke depannya kita sudah tidak akan tergantung lagi dengan BBM impor,” tuturnya.

B100, menurut Mentan, dianggap menarik karena mobil yang menggunakan energi terbarukan tersebut sudah berhasil menempuh jarak 6.000 kilometer dan masih dalam kondisi baik. “Kalau menggunakan B100 dari CPO ini, satu liternya bisa menjangkau 13 Km sedangkan satu liter solar menjangkau 9,6 Km,” ujar Amran. Mudah-mudahan, lanjut Mentan, dalam lima tahun B100 ini sudah bisa diproduksi massal oleh Indonesia. “Nantinya kalau sudah dikomersialkan, (B100) itu kita serahkan kepada Menteri Perindustrian dan Menteri ESDM,” katanya. Saat ini B100 dibuat di bagian penelitian dan pengembangan Kementerian Pertanian (Kementan) dan diujicobakan pada 50 mobil dan traktor. Biodiesel adalah bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari bahan alami yang terbarukan seperti minyak nabati dan hewani. Karena memiliki sifat fisik yang sama dengan minyak solar, biodiesel dapat digunakan sebagai bahan bakar pengganti untuk kendaraan bermesin diesel. Selama ini, biodiesel masih dicampur dengan bahan bakar minyak bumi dengan perbandingan tertentu. Tapi dengan teknologi pengembangan B100, biodiesel mengandung 100 persen bahan alami, tanpa dicampur dengan BBM. “Impian Indonesia ciptakan biodiesel B100 dari CPO berhasil terwujud. Bahan bakar yang berasal dari 100 persen CPO dengan rendemennya 87 persen ini masih terus dikembangkan. Semua tidak ada campuran,” jelas Amran. Sebelum berhasil mengembangkan B100, Indonesia telah berhasil mengembangkan B20 menuju B30. Selama kurun waktu 2014 – 2018, perkembangan B20 di Indonesia pun cukup pesat. Pada 2018 produksi biodiesel B20 mencapai 6,01 juta kiloliter meningkat 82,12 persen dibanding 2014 sebesar 3,30 juta kiloliter.

https://www.antaranews.com/berita/830813/mentan-ujicoba-perdana-biodiesel-b100

The Jakarta Post | Senin, 15 April 2019

Agriculture Ministry launches trial for B100 biodiesel fuel

The Agriculture Ministry started on Monday the trial period for the use of a 100-percent biodiesel ( B100 ) of fuel that uses fatty acid methyl ester from crude palm oil (CPO) in a move that expands its reach within the domestic palm oil market and reduces the dependency on imported fossil fuels. Agriculture Minister Amran Sulaiman said during the event that the trial would involve 50 of the ministry’s official cars and tractors. He said B100 fuel allowed vehicles to travel 13.1 kilometers per liter, which was more efficient than using Solar-branded fossil fuels that limited travel to 9.6 kilometers per liter. In early testing, cars that used B100 fuel could travel 6,000 kilometers in total, he added. The ministry also began discussing the possible mass production of B100 fuel with state-owned enterprises and private companies. Amran estimated the commercial price of B100 to be around Rp 8,000 (57 US cents) per liter. “Users should not only think about cutting costs, but they have also to think about protecting the environment. B100 produces less pollution than diesel [fossil] fuels,” he said on the sidelines of the launch. Amran expressed hope that the widespread use of B100 could be implemented to cut imports of fossil fuels and boost the domestic use of CPO amid the European Union’s campaign against the commodity. In September, 2018, Indonesia issued a policy to begin the widespread use of 20 percent blended biodiesel ( B20 ) and would soon campaign for the use of B30 fuel.

https://www.thejakartapost.com/news/2019/04/15/agriculture-ministry-launches-trial-for-b100-biodiesel-fuel.html

Jawa Pos | Senin, 15 April 2019

Kementan Soft Launching Biodiesel B100, Lebih Efisien dari Solar

Pengembangan energi terbarukan merupakan sebuah keniscayaan. Tiap tahun, kebutuhan energi makin meningkat seiring makin bertambahnya penduduk serta dinamisnya aktivitas manusia. Salah satu sumber energi pengganti bahan bakar fosil adalah biodiesel. Indonesia memiliki potensi yang amat besar dalam hal pengembangan biodiesel. Khususnya Crude Palm Oil (CPO). Pasalnya, Indonesia adalah penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Pada 2018 produksi CPO mencapai 41,67 juta ton. Sementara ekspor CPO mencapai 34 juta ton dengan nilai sekitar Rp 270 triliun. Merespons hal tersebut, hari ini (15/4) Kementan meluncurkan soft launching uji coba perdana penggunaan B100. Biodiesel B100 merupakan bahan bakar biodiesel yang digunakan secara langsung pada mesin diesel tanpa dicampur dengan minyak fosil. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, pengembangan B100 merupakan langkah nyata pemerintah dalam mengurangi penggunaan energi fosil. Sejak 2014 hingga 2018, pemerintah mulai merintis mengembangkan Biodiesel B20.

Terbukti pada 2018 produksi biodiesel B20 mencapai 6,01 juta kiloliter meningkat 82,12% dibanding 2014 sebesar 3,30 juta kiloliter. “Meskipun demikian, Indonesia masih mengimpor solar 10,89 juta kiloliter. Karena kebutuhan solar dalam negeri untuk 2019 diproyeksikan mencapai 31,19 juta kiloliter, sementara produksi solar dalam negeri 20,8 juta kiloliter. Maka dari itu, kehadiran B100 ketika digunakan secara massal diharapkan mampu menggantikan solar,” ujar Amran di Kantor Kementan, Jalan HM Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan. “Kami saat ini telah berhasil membuat reaktor biodiesel multifungsi generasi ke-7 yang mampu mengolah 1.600 liter bahan baku/hari,” lanjut dia. Dari hasil penelitian, jelas Amran, penggunaan biodiesel lebih efisien dibandingkan dengan penggunaan solar. Untuk transportasi mobil berdasarkan hasil pengujian oleh Badan Litbang Pertanian, 1 liter biodiesel bisa menempuh jarak 13,1 km, sementara solar hanya 9,6 km. Dengan kata lain, efisiensi biodiesel mencapai 136,4% sehingga upaya konversi solar ke biodiesel sangat diperlukan.

“Pada sektor pertanian, produksi biodiesel B100 selain digunakan untuk kendaraan angkut (mobil) produk-produk pertanian juga dapat dimanfaatkan untuk alat dan mesin pertanian seperti traktor roda 2 dan traktor roda 4 dan lainnya,” ungkap Amran. Amran memaparkan, untuk mengkonversi kebutuhan solar 10,39 juta kiloliter yang berasal dari impor senilai Rp 99,74 triliun, dibutuhkan 7,61 juta kiloliter biodiesel B100 senilai Rp 73,09 triliun. Atau setara dengan 8,83 juta ton CPO. “Berdasar perhitungan ini, diperoleh penghematan devisa senilai Rp 26,65 triliun. Kita juga berpotensi menghemat impor solar 7,79 juta kilo liter senilai Rp 74,8 triliun” ungkap menteri asal Bone, Sulawesi Selatan tersebut. Dia mengungkapkan bahwa selain dari aspek ekonomi, penggunaan biodiesel juga secara teknis mengefisienkan penggunaan energi dan ramah lingkungan. Sebagai contoh, karbonmonoksida (CO) biodiesel B100 lebih rendah 48% dibanding solar. “Selain itu industri biodisel juga bisa meningkatan kesejahteraan pekebun sawit melalui terciptanya peluang pasar domestik yang besar,” jelas dia. Amran optimistis bahwa dengan produksi B100 9,99 juta kiloliter denga nilai Rp 84,6 triliun mampu mengurangi solar 34,4 persen. “Soft launching uji coba perdana penggunaan B100 lingkup terbatas ini, menjadi tonggak sejarah bagi bangsa kita untuk memasuki era B100 yang lebih massal di masa yang akan datang,” pungkasnya.

Berita Satu | Senin, 15 April 2019

Kementan Uji Coba Perdana Bahan Bakar Biodiesel B100

Kementerian Pertanian menggelar soft launching uji coba perdana bahan bakar Biodiesel B100. Biodiesel B100 merupakan bahan bakar yang tidak lagi menggunakan minyak berbasis fosil, melainkan bahan baru terbarukan dari CPO atau crude palm oil. “Sebenarnya ini bukan hal baru. Kita sudah memulai 3 tahun, 2 tahun lalu,” jelas Menteri Pertanian Amran Sulaiman di Jakarta, belum lama ini. Uji coba ini dilakukan untuk 50 kendaraan yang terdiri dari mobil dinas dan traktor. Amran mengatakan sebelumya telah dilakukan uji coba pada 10 mobil. Hasilnya secara keseluruhan mobil dalam kondisi baik. “Dan sekarang berhasil 10 mobil. Kita uji coba sudah kilometernya mencapai Rp 6.000 km,” kata Amran.

https://www.beritasatu.com/nasional/548907/kementan-uji-coba-perdana-bahan-bakar-biodiesel-b100

Jpnn | Senin, 15 April 2019

Kementan: Biodiesel Arahan Jokowi Menghemat Bahan Bakar 30 Persen

Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar uji coba biodiesel B100 yang merupakan arahan Presiden Joko Widodo alias Jokowi. Mentan Andi Amran Sulaiman mengatakan, jika bisa digunakan secara massal, biodiesel B100 bisa menghemat sekitar 30 persen. “Yang menarik adalah kalau menggunakan CPO itu, satu liter bisa menjangkau 13,1 kilometer, kalau solar hanya 9,6 kilometer,” kata Amran di sela pelepasan kendaraan dalam rangka uji coba di Kementan, Jakarta Selatan, Senin (15/4). Menurut Amran, dengan biodiesel B100 ini ada selisih persen dibanding dengan diesel konvensional. “Biaya per kilometer untuk CPO itu hanya Rp 732 per kilometer, tetapi kalau solar Rp 1.000 per kilometer. Ini bentuk penghematan luar biasa mengejar 25 sampai 30 persen,” kata Amran. Amran mengungkapkan bahwa uji coba biodiesel ini merupakan arahan Presiden Joko Widodo yang mana penemuan terkait energi terbaharukan harus segera diwujudkan. “Ini bukan sejarah Indonesia, tetapi sejarah dunia,” kata Amran. Jika biodiesel ini berhasil diproduksi secara massal, kata Amran, maka akan menghemat devisa, menghemat energi, ramah lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan petani. Menteri asal Sulsel ini menerangkan, Indonesia saat ini mengimpor diesel sekitar 16 juta ton per tahun dengan nilai kurang lebih Rp 150 triliun. Amran membayangkan jika biodiesel B100 ini terealisasi, maka Rp 150 triliun bisa dihemat.

https://www.jpnn.com/news/kementan-biodiesel-arahan-jokowi-menghemat-bahan-bakar-30-persen

Detik | Senin, 15 April 2019

Mentan Uji Coba 50 Traktor dan Mobil Pakai Biodiesel 100

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman hari ini melakukan uji coba biodiesel berbahan dasar 100% kelapa sawit atau B100 pada 50 traktor dan mobil di Kementerian Pertanian (Kementan). Menurut Amran hal itu dilakukan sesuai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menggenjot penggunaan kelapa sawit serta mengurangi impor solar. “Ini bukan hal baru, ada B15, B20, B30 tapi atas arahan Pak Presiden melompat ke B100,” ungkap dia saat melakukan uji coba di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Senin (15/4/2019). Lebih lanjut, ia mengungkapkan uji coba pada 50 traktor dan kendaraan tersebut dilakukan setelah uji coba selama dua tahun waktu oleh Balitbang Kementan. Hasilnya, tak ada catatan masalah selama menggunakan B100 dengan jarak tempuh 6.000 kilometer (km). “Pertanian uji coba dua tahun dan sekarang berhasil. Ada 10 mobil itu dengan jarak 6.000 km dan hari ini coba 50 mobil,” ungkapnya. Ia mengungkapkan, penggunaan B100 ini bisa mengurangi impor minyak mentah secara bertahap atau menghemat dengan Rp 150 triliun. Rencananya, percobaan masih akan dilakukan dalam 1-2 tahun lagi. “Kebutuhan solar kita 16 juta, B20 itu sudah memenuhi 6 juta dan nanti secara bertahap yang 10 juta ini kita kurangi dan ini ke depan bisa memenuhi 20 juta dan menghemat devisa negara Rp 150 triliun. Ini masih akan dilakukan 1-2 tahun lagi,” terangnya. Selain itu, kata Amran, uji coba B100 ini juga sebagai langkan melawan kampanye hitam sawit yang dilakukan oleh Uni Eropa. Dengan begitu, produksi sawit masih akan tetap terjamin. “Terakhir ada Eropa melakukan protes sawit ini bisa menekan dan melawan dengan cara memanfaatkan CPO dalam negeri dan solusi masa depan sawit,” tutup dia.

https://finance.detik.com/industri/d-4510922/mentan-uji-coba-50-traktor-dan-mobil-pakai-biodiesel-100