+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Program Cepat Menghemat Subsidi

Koran Tempo | Selasa, 4 Februari 2020

Program Cepat Menghemat Subsidi

Pengusaha Kelapa Sawit memastikan pasokan untuk bahan baku biodiesel mencukupi hingga target B100 tercapai. Permintaan domestic market obligation untuk pasokan dan harga CPO yang diusulkan PT Pertamina (Persero) tak mendesak. Produksi Minyak Kelapa Sawit (juta ton)target Dampak kebijakan mandatory biodiesel Pengurangan emisi gas CO2 Program B20 pada 2018-2019 tercatat mengurangi emisi hingga 15,52 juta ton. Totalnya mencapai 2,85 persen dari total emisi gas CO2 yang dihasilkan di Indonesia. Jumlah emisi diperkirakan berkurang sebanyak 14,25 juta ton.saat. B30.diterapkan tahun ini. Penghematan devisa Pemerintah mengklaim menghemat devisa sekitar Rp 43,81 triliun dari implementasi program B20 tahun lalu. Jumlah devisa yang dapat dihemat diperkirakan mencapai Rp 63,39 triliun dengan berlanjutnya proyek campuran biodiesel hingga 30 persen tahun ini. Penyerapan CPO Program B20 mampu menyerap 6,7 juta kiloliter CPO sepanjang tahun lalu. APROBI memperkirakan jumlahnya akan bertambah menjadi 9,6 juta dengan implementasi program B30. Peningkatan pendapatan petani Apkasindo menyatakan, setiap peningkatan penggunaan biodiesel sebesar 10 persen, pendapatan petani dapat bertambah sebesar Rp 420 per kilogram per tandan buah segar. Dengan catatan, harga minyak dunia dalam kondisi normal.

Koran Tempo | Selasa, 4 Februari 2020

Pasokan Minyak Sawit Mentah Program biodiesel Melimpah

Pengusaha sawit memastikan bahan baku untuk produksi biodiesel melimpah. Kebijakan domestic market obligation (DMO) atau kewajiban mengalokasikan sebagian hasil produksi minyak sawit mentah (CPO) untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dinilai tak diperlukan. Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Joko Supriyono mengatakan produksi Kelapa Sawit tahun lalu meningkat sekitar 9 persen dibanding tahun sebelumnya. Produksi pada 2019 tercatat mencapai 51,8 juta ton, sementara pada 2018 hanya 47,43 juta ton. “Dari total tahun lalu, produksi CPO tercatat mencapai 47,18 juta ton, naik dari 43,1 juta ton pada 2018,” katanya di Jakarta, kemarin. Produksi sawit, menurut Joko, akan terus meningkat meski tak terlalu drastis. Pasalnya, kekeringan panjang tahun lalu diperkirakan berdampak pada produksi tahun ini. Harga CPO yang rendah sepanjang tahun lalu pun membuat segelintir pengusaha mengurangi pupuk yang akan berdampak pada produksi. Selain itu, program peremajaan sawit dinilai belum membuahkan hasil dalam lima tahun sejak dimulai pada 2018. Joko mengatakan peningkatan produksi setidaknya untuk tahun ini didukung cuaca yang bagus berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatolo-gi, dan Geofisika. Sedangkan untuk jangka panjang, pengusaha mengandalkan peningkatan produktivitas. “Produktivitas harus didorong, kalau bisa 4 juta ton per hektare,” kata dia.

Hingga tahun lalu, produktivitas sawit tercatat mencapai 2,8 ton per hektare dengan asumsi luas lahan perkebunan 14,3 juta hektare. Namun awal tahun ini Kementerian Pertanian menyatakan luas lahan perkebunan sawit mencapai 16,3 juta hektare, sehingga Joko menya- takan produktivitas sebenarnya hanya 2,6 ton per hektare. Meski tak akan meningkat drastis, Joko menyatakan pasokan CPO tetap cukup untuk program B30, bahkan hingga campuran fatty acid methyl ester (FAME) terus ditingkatkan. Dia mencontohkan produksi B50 yang diperkirakan membutuhkan 15 juta ton CPO. “Produksi tahun ini di kisaran 51 juta ton dan akan terus meningkat sehingga pasokannya masih berlebih untuk program B50,” kata dia. Dengan asumsi tersebut, Joko menilai kebijakan DMO CPO berupa kuota tak mendesak. “Soal harga, selama ini sudah ada BPBD Sawit yang membantu subsidi yang menjamin Pertamina dan pelaku usaha,” ujarnya. Ketua Harian Asosiasi Produsen biofuel Indonesia Paulus Tjakrawan pun sependapat bahwa DMO CPO belum mendesak. “Dari segi volume menurut kami belum perlu ada DMO. Sementara soal harga, tergantung pemerin- tah,” kata dia. Penerapan harga jual CPO kepada PT Pertamina (Persero) dinilai berdampak besar, seperti mengurangi pendapatan petani serta pendapatan pajak. Opsi subsidi dari BPBD Sawit, dia menuturkan, dapat menjadi alternatif selain DMO.

Pertamina sebelumnya meminta alokasi pasokan dan harga khusus CPO untuk bahan baku biodiesel. Selain khawatir akan pasokan CPO, Pertamina mengantisipasi kenaikan harga komoditas tersebut akibat tingginya permintaan. Vice President Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman, menuturkan perusahaan membutuhkan FAME sebanyak 8,38 juta kiloliter tahun ini untuk mendukung program B30. Jumlahnya meningkat dari tahun lalu yang hanya 5,51 juta kiloliter. “CPO banyak peruntukannya, bisa buat makanan dan industri juga, sehingga harus dipastikan alokasinya untuk energi juga mencukupi,” katanya. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif menyatakan akan membahas usul Pertamina dengan anggota asosiasi sawit yang terlibat. “Kami akan minta alokasi untuk dalam negeri,” kata dia. Sekretaris Menteri Koordinator Perekonomian pemerintah perlu mengkaji dulu usul Pertamina. “Penerapan DMO CPO perlu dikaji secara menyeluruh, mengingat saat ini ketersediaan CPO cukup banyak di dalam negeri,” katanya.

Bisnis Indonesia | Selasa, 4 Februari 2020

2020 Bakal Jadi Tahun Kebangkitan Ekspor Sawit

Kinerja ekspor minyak Kelapa Sawit mentah [crude palm oil/CPO) dan produk turunannya pada 2020 diperkirakan mulai bangkit dari sisa-sia keterpurukan tahun lalu, ditopang oleh optimisme kenaikan permintaan oleh sejumlah negara. Ekonom Indef Ahmad Heri Firdaus berpendapat permintaan global terhadap CPO dan produk turunannya masih bakal tinggi pada tahun ini, kendati diadang isu hambatan dagang dari Uni Eropa (UE). “[Indonesia] tidak tinggal diam menghadapi dinamika dari Uni Eropa, dan bahkan melanjutkan gugatan ke WTO. Selain itu, [Indonesia] terbuka pada konsultasi dan diskusi dengan berlandaskan aspek akademis. Saya kira ke depan hal ini bisa disanggah dan yang terpenting adalah memperbaiki citra sawit,” ujar Ahmad kepada Bisnis, Senin (3/2). Ahmad menilai hambatan dari UE bisa memberi dampak positif bagi Indonesia karena bisa memacu peng-hiliran industri kelapa sawit. Dari segi perdagangan, Indonesia dinilainya tetap bisa mengandalkan permintaan CPO dari pasar Asia Selatan yang terus tumbuh, meski ekspor ke Uni Eropa berpotensi terkoreksi.

“Sawit setidaknya menyerap 35% dari total kebutuhan minyak nabati Eropa. Permintaan global pun meningkat dan sejauh ini sawit menjadi yang paling efisien,” ujar Ahmad. Senada, Ketua Komite Tetap Bidang Ekspor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Handito Joewono meyakini periode 2020 bakal menjadi momentum kebangkitan kelapa sawit. Hal ini didukung pula dengan perbaikan permintaan dari pasar dalam negeri dan luar negeri. “Perlawanan terhadap sawit di tingkat global pun saya lihat mereda. Ada negara-negara di Eropa yang terbuka dan tak menentang, seperti di Prancis yang bahkan ada perlawanan dari dalam negeri,” kata Handito. Data terbaru Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memperlihatkan produksi CPO dan minyak bungkil sawit [palm kernel oil/PKO) sepanjang 2019 mencapai 51,82 juta ton, naik 9,37% dari 2018. Dari sisi ekspor, penjualan CPO pada 2019 mencapai 36,17 juta ton, naik 4,3% dari tahun sebelumnya. Adapun, konsumsi domestik CPO pada 2019 mencapai 16,67 juta ton, naik 23% dari tahun sebelumnya. Ketua Umum Gapki Joko Supriyono mengakui periode 2019 merupakan tahun yang penuh tantangan bagi industri Kelapa Sawit Indonesia. Implementasi RED II oleh EU serta kebijakan hambatan tarif oleh India yang berkepanjangan merupakan tantangan utama yang dihadapi industri sawit hampir sepanjang 2019.

“Untuk ekspor CPO 2020, kami perlu melihat bagaimana kondisi produksinya. Potensi serapan domestik akan meningkat sekitar 4 juta ton seiring implementasi B30. Apakah produksinya akan naik sebanyak itu? Jika tidak, kemungkinan besar kami akan potong ekspor. Namun, kami akan melihat dahulu kondisinya,” ujar Joko dalam kegiatan Refleksi Industri Sawit Tahun 2019 dan Prospek Tahun 2020, Senin (3/2). Sementara itu, Ketua Harian Asosiasi Produsen biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengemukakan adanya potensi koreksi ekspor biofuel berbahan dasar minyak Kelapa Sawit seiring dengan bertambahnya serapan dalam negeri. Pada 2019, dia menyatakan ekspor biofuel mencapai 1,3 juta kiloliter (kl) dengan serapan domestik mencapai 6,7 kl. Dia menyebutkan produksi biofuel tersebut telah mencakup lebih dari 80% kapasitas produksi nasional, sehingga perusahaan produsen biofuel perlu menambah kapasitas produksi jika ingin mengamankan pasar ekspor. “Sampai dengan akhir 2020, ada perusahaan yang akan menambah kapasitas sebesar 3,6 juta kl. Pada 2021, juga ada rencana tambahan dengan volume yang sama. Peningkatan produksi biofuel diperkirakan baru akan terjadi setidaknya setelah kuartal pertama tahun ini,” ujar Paulus.

Harian Seputar Indonesia | Selasa, 4 Februari 2020

Ekspor Produk Sawit Melonjak

Volume ekspor produk sawit Indonesia sepanjang 2019 menorehkan kenaikan. Kendati demikian, ekspornya secara nilai mengalami penurunan signifikan. Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyebutkan volume ekspor produksawitantaralain minyak sawit mentah/crude Palm Oil (CPO), oleokimia, dan biodiesel sepanjang 2019 mencapai 36,175 juta ton. Angka ini meningkat sekitar 4,2% dari capai-anperiodeyangsama2018yang tercatat34,707 juta ton. Walaupun mengalami peningkatan volume, nilai ekspornya turun 17% jika dibandingkan 2018. Pada 2019, nilai ekspor produk sawit sebesar USD19 miliar atau setara dengan Rp266 triliun (kurs Rpl4.000), sementara pada 2018 tercatat USD23 miliar atau setara Rp322 triliun. KetuaUmumGapkiJokoSu-priyono menjelaskan, penurunan nilai eksporini terjadi karena harga rata-rata produk sawit pada 2019 lebih rendah jika dibandingkan 2018. Kenaikan harga CPO baru terjadi pada akhir kuartal IV/2019 seiring dengan kebijakan pemerintah yang memberlakukan mandatori B30 awal tahun ini.

Data CIF Rotterdam mencatat terjadi kenaikan harga CPO global sebesar 16,3% dari USD705 per ton menjadi USD820perton selama Desem- ber 2019. Harga rata-rata CPO pada kuartal IV/2019, yakni 37,3% lebih tinggi atau sebesar USD664.4 per ton dibandingkan periode yang sama 2018 yang hanya sekitar USD497.07 per ton. “Ekspor harus kita jaga. Mudah-mudahan (harga CPO) tahun ini lebih baik,” kata Joko dalam konferensi pers “Refleksi Industri Sawit Tahun 2019 dan Prospek Tahun2020″diJakarta kemarin. Joko mengatakan, destinasi utama ekspor produk minyak sawit pada 2019 selain oleokimia dan biodiesel Indonesia, adalah China sebesar 6 juta ton, India 4,8 juta ton, Uni Eropa 4,6 juta ton. Khusus untuk produk oleokimia dan biodiesel, ekspor terbesar adalah ke China sebesar 825.000 ton diikuti oleh Uni Eropa513.000ton. “Ekspor ke Amerika Serikat cenderungturun.begitupulake Uni Eropa. Ekspor ke China mengalami kenaikan paling besar,” kata Joko.

Ekspor minyak sawit ke Afrika yang naikl l%pada2019dari 2,6 juta ton pada 2018 menjadi 2,9 juta ton dan menunjukkan tren meningkat dari tahun ke tahun. “Ini memberikan sinyal positif untuk pasar produk mi- nyak sawit Indonesia,” tambahnya. Gapki, sambung, Joko menilai 2019 merupakan tahun yang penuh tantangan bagi industri sawit Indonesia. Implementasi Renewable Energy Directive II oleh Uni Eropa yang menghapuskan penggunaan minyak sawit sebagaibahan baku biodiesel, perbedaan tarif impor produk minyak sawit Indonesia ke India, kemarau yang berkepanjangan, perang dagang AS dan China, dan harga CPO yang terus menurun merupakan tantangan utama yang dihadapi industri sawit hampir sepanjang 2019. “Perang dagang Amerika Serikat (AS) danChiname-nyebabkan ekspor kedelai AS ke China terkendala sehingga petani AS yang biasanya memasok dalam jumlah besar ke China harus mencari pasar baru yang menyebabkan harga oilseed dan juga minyak nabati tertekan,”katanya. Sementara itu, produksi minyak sawit 2019 mencapai 51,82 juta ton, 10% lebih tinggi dari produksi pada 2018 yangberjumlah 47,38 juta ton. Adapun konsumsi domestik naik sekitar 24% menjadi 16,7 juta ton dengan rincian konsumsi biodiesel naik 49%, pangan naik 14%, dan oleokimia naik 9%.

Realisasi Penyaluran Biodiesel

Pada kesempatan yang sama, Ketua Harian Asosiasi Produsen biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengatakan realisasi penyaluran biodiesel untuk program pencampuran biodiesel ke ba-han bakar minyak (BBM) jenis solarsebesar20%atauB20pada 2019 mencapai 6,7 juta kiloliter (kl). Angka ini lebih tinggi di- bandingkan target yang ditetapkan sebelumnya sebesar 6,4 juta kl. “Angka 6,7 juta kl ini sama dengan menghemat devisa USD3.8 miliar jika mengimpor solar,” kata Paulus. Seiring dengan program mandatori B30 yang mulai ber-lakuawalJanuarilalu.penyalur-anbiodieselpada2020diharap-kan meningkat menjadi 9,6 juta kl. Angka ini sama dengan menghemat devisa USD5,4 miliarapabilamengimporsolar. Menurut Paulus, terdapat beberapa tantangan pada program mandatori biodiesel B30 ini. Terdapat beberapa tantangan teknis dalam jnenjalan-kan program B30 ini. Ini karena volumenya naik hampir sekitar 50%, maka soal transportasi, floating storage yang terbatas jadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, Paulus mengharapkan Pertamina untuk menambah floating storage. “Saat ini tantangan-tan-! tanganitusedangkitaatasi.Harapannya Maret mendatang persoalan-persoalan tersebut teratasi sehingga bulan-bulan ke depannya pendistribusian bisa berjalan sebagaimana yang kitaharapkan,”papamya. Di tempat yang sama, Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleo-chemical Indonesia (Apolin) Rapolo Hutabarat mengungkapkan realisasi ekspor oleo-chemical pada Januari-November 2019 mencapai 3,7 juta ton atau setara dengan USD2.1 miliar. Untuk pasar oleochemical di dalam negeri, kata Rapolo, akan ditopang oleh pertumbuhan ekonomi terutama pertumbuhan pariwisata, automotif, dan properti. “Saya melihat pasar produk oleochemical dalam negeri masih akangrowt/j,” kata Rapolo.

Kontan | Senin, 3 Februari 2020

Aprobi Perkirakan Ekspor Biodiesel Sulit Dilakukan Pada Awal 2020

Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) mengatakan, ekspor biodiesel akan sulit dilakukan pada awal tahun 2020 ini. Hal ini berkaitan dengan ketersediaan produksi biodiesel di dalam negeri. Ketua Harian Aprobi Paulus Tjakrawan mengatakan, saat ini kapasitas terpasang industri biodiesel di dalam negeri mencapai 12 juta kiloliter. Namun, biasanya kapasitas produksi hanya sekitar 85% atau hanya sekitar 10 juta kiloliter. Sementara, Indonesia masih harus memenuhi kebutuhan biodiesel di dalam negeri yakni sekitar 9,6 juta kiloliter di tahun ini. Hal ini disebabkan program mandatori B30 yang diperkirakan akan menyerap biodiesel dalam jumlah yang besar. Paulus menjelaskan, memang tahun ini terdapat produsen biodiesel yang akan menambah kapasitas produksi dan yang akan membangun pabrik bioidiesel baru. Berdasarkan data Aprobi sejauh ini, di 2020 akan terdapat tambahan kapasitas produksi sebesar 3,61 juta kiloliter dengan pengembangan yang dilakukan. Namun, tak semua pabrik tersebut bisa beroperasi di awal tahun. Ada yang selesai di April, ada yang selesai di pertengahan tahun dan akhir tahun. “Teorinya, kita tidak bisa ekspor minimum pada permulaan tahun ini. Tetapi nanti kalau sudah ada perusahaan yang bisa menambah kapasitas dan kebetulan mereka memiliki kemampuan untuk ekspor, baru mungkin bisa ekspor paling cepat di kuartal II atau III,” ujar Paulus, Senin (3/2).

Penambahan kapasitas produksi tak hanya dilakukan di 2020 saja. Paulus mengatakan, investasi pun akan dilanjutkan di 2021, dimana di tahun itu terdapat penambahan kapasitas produksi sebesar 3,6 juta kiloliter. Paulus menjelaskan, faktor yang memengaruhi ekspor biodiesel tak hanya soal kapasitas produksi, tetapi juga berkaitan dengan bea masuk yang dibayarkan. Pasalnya, saat ini terdapat beberapa perusahaan yang dikenai pungutan tambahan sebesar 8% hingga 18%. “Kemugkinan yang mendapatkan [pungutan tambahan] 8%-18% ini mungkin masih bisa [ekspor] ,tetapi praktis dengan ada aturan seperti ini sulit masuk Eropa,” terang Paulus. Sementara itu, ekspor ke China diperkirakan masih bisa meningkat dari ekspor tahun lalu yang sebesar 612.947 kiloliter. Meski begitu, kemampuan ekspor ini pun harus melihat kapasitas produksi yang diperkirakan sudah berkurang memenuhi kebutuhan biodiesel di dalam negeri. Sebagai catatan, ekspor biodiesel Indonesia di 2019 hanya sebesar 1,31 juta kiloliter, turun sekitar 18,7% dari eskpor 2018 yang sebesar 1,6 juta kiloliter. Menurut Paulus, ini disebabkan adanya pengenaan pungutan tambahan yang diberlakukan Uni Eropa.

https://industri.kontan.co.id/news/aprobi-perkirakan-ekspor-biodiesel-sulit-dilakukan-pada-awal-2020?page=all

Antara | Senin, 3 Februari 2020

Aprobi: Produsen Biofuel Tambah Kapasitas Hingga 3,6 Juta KL

Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia (Aprobi) menyebutkan perusahaan produsen biofuel menambah kapasitas produksi mereka hingga 3,6 juta kilo liter (KL) pada tahun ini untuk mendukung program mandatori B30. Ketua Harian Aprobi Paulus Tajkrawan mengatakan selain untuk mendukung B30, peningkatan kapasitas produksi dilakukan karena minat ekspor biodiesel yang masih tinggi, salah satunya ke China. “Tahun 2020 ada beberapa perusahaan yang siap menambah kapasitas, dan ada juga yang berniat membuat baru pabrik biodiesel. Ada yang selesai pertengahan tahun, kuartal ke-II dan ke-IV,” kata Paulus pada konferensi pers Refleksi Industri Sawit Tahun 2019 dan Prospek Tahun 2020 di Jakarta, Senin. Paulus menyebutkan bahwa peningkatan kapasitas produksi juga diperlukan karena pemerintah meningkatkan mandatori campuran bahan bakar nabati dan solar tersebut dari B20 menjadi B30 pada tahun ini. Aprobi mencatat kebutuhan biodiesel untuk penerapan B30 sebesar 9,6 juta KL. Sementara itu, kapasitas terpasang 19 perusahaan produsen biodiesel di Indonesia sekitar 12 juta KL per tahun. “Kapasitas dalam negeri kita praktis sudah habis. Kapasitas yang ada hampir 12 juta KL, namun pada praktiknya, kapasitas produksi hanya 80 persen, otomatis yang terpakai hanya 9,6 juta KL,” kata Paulus.

Selain itu, penambahan kapasitas produksi ini juga dapat meningkatkan ekspor biofuel Indonesia. Menurut Paulus, China masih menjadi pasar ekspor yang tinggi bagi perusahaan biofuel. Aprobi mencatat ekspor biodiesel pada tahun 2019 sebesar 1,3 juta KL atau turun sekitar 18 persen dari tahun 2018 yang mencapai 1,6 juta KL. Pasar ekspor tersebut, yakni Uni Eropa, China dan Hongkong. “Tahun lalu, China itu mendapat biodiesel dari Indonesia sebanyak 61.947 KL. Kemungkinan ini bisa meningkat untuk China. Namun, ada faktor lain yaitu kapasitas dalam negeri kita yang sudah habis,” kata Paulus. Ada pun investasi untuk penambahan kapasitas produksi biodiesel sebesar 3,6 juta KL ini diperkirakan mencapai Rp6 triliun. Pada tahun 2021, kapasitas produksi biodiesel juga diperkirakan bertambah 3,6 juta KL sehingga diperkirakan kapasitas terpasang menjadi sekitar 19,2 juta KL.

https://www.antaranews.com/berita/1277941/aprobi-produsen-biofuel-tambah-kapasitas-hingga-36-juta-kl

Indo Premier | Senin, 3 Februari 2020

Bidik Ekspor, APROBI Harap Ada Tambahan Kapasitas Produksi FAME Tahun Ini

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) berharap ada tambahan kapasitas produksi 3,62 juta kilo liter (KL) tahun ini, untuk mendukung ekspor produk bahan bakar nabati tersebut. Indonesia saat ini memiliki kapasitas untuk memproduksi 12 juta KL metil ester asam lemak minyak kelapa sawit ( FAME ), konten bio yang digunakan dalam campuran dengan bahan bakar diesel fosil untuk membuat biodiesel. Namun, dalam praktiknya produsen hanya dapat memanfaatkan hingga 85% dari kapasitas, atau sekitar 10 juta KL, kata Wakil Ketua APROBI Paulus Tjakrawan kepada wartawan, Senin (3/2). Berkaitan dengan program pemerintah Indonesia yang memperluas mandatori program biodiesel saat ini sebesar 30% FAME , produsen telah melihat sedikit ruang untuk ekspor bahan bakar, katanya. Indonesia pada akhir 2019 mengadopsi apa yang disebut program B30 yang menggunakan 30% FAME dalam biodiesel. Program ini diperluas dari yang sebelumnya dengan 20% bio-konten dan pemerintah berencana untuk segera memulai pengujian untuk 40% bio-konten dalam bahan bakar. Sekitar 9,6 juta KL bahan bakar berbasis kelapa sawit diperkirakan akan digunakan di dalam negeri tahun ini untuk program B30. Kemungkinan besar pada awal tahun tidak akan ada ekspor. Yang paling cepat kami ekspor adalah pada kuartal kedua ketika beberapa kapasitas baru mulai beroperasi,” kata Tjakrawan. Kapasitas 3,6 juta KL lainnya juga diharapkan akan mulai beroperasi pada 2021, tambahnya. Indonesia mengekspor 1,32 juta KL FAME tahun lalu, turun dari 1,6 juta KL setahun sebelumnya, karena bea masuk anti-subsidi yang dikenakan oleh Uni Eropa. Tjakrawan mengatakan ada peningkatan permintaan untuk biodiesel di China, yang menyumbang sekitar setengah dari ekspor biodiesel Indonesia tahun lalu. “Ini (ekspor ke China) masih bisa tumbuh, tetapi kapasitas domestik kita praktis habis,” kata Tjakrawan.

https://www.indopremier.com/ipotnews/newsDetail.php?jdl=Bidik_Ekspor__APROBI_Harap_Ada_Tambahan_Kapasitas_Produksi_FAME_Tahun_Ini&news_id=115358&group_news=IPOTNEWS&taging_subtype=PG002&name=&search=y_general&q=,&halaman=1

Reuters | Senin, 3 Februari 2020

Indonesia Biodiesel Group Says More Capacity In 2020 Could Help Exports

The Indonesian Biofuel Producers Association (APROBI) is expecting 3.62 million kilo litres (KL) of additional production capacity this year, which could support biodiesel exports, it said on Monday. Indonesia currently has the capacity to produce 12 million KL of palm oil’s fatty acid methyl ester (FAME), the bio-content used in blending with fossil diesel fuel to make biodiesel. However, in practice producers could only utilise up to 85% of the capacity, or around 10 million KL, APROBI’s vice chairman Paulus Tjakrawan told reporters on Monday. With the Indonesian government expanding its mandatory biodiesel programme, producers have seen little room for exports of the fuel, he said. Indonesia in late 2019 adopted a so-called B30 programme which use 30% of FAME in biodiesel. The programme was expanded from a previous one with 20% bio-content and the government plans to soon start testing for 40% bio-content in the fuel. Around 9.6 million KL of the palm-based fuel are expected to be used domestically this year for the B30 programme. “Most likely at the beginning of the year there will be no exports. The soonest we can export is in the second quarter when some of new capacity comes into operation,” Tjakrawan said. Another 3.6 million KL of capacity is also expected to come online 2021, he added. Indonesia exported 1.32 million KL of FAME last year, down from 1.6 million KL a year earlier, due to anti-subsidy import duties imposed by the European Union. Tjakrawan said there was growing demand for biodiesel in China, which accounted for around half of Indonesia’s biodiesel exports last year. “This (exports to China) can still grow, but our domestic capacity is practically used up,” Tjakrawan said.

https://www.reuters.com/article/indonesia-biodiesel/indonesia-biodiesel-group-says-more-capacity-in-2020-could-help-exports-idUSL4N2A32V4

Majalah Hortus | Senin, 3 Februari 2020

Tahun Ini, Prospek Industri Sawit Cerah

Memasuki tahun 2020, industri sawit Indonesia cukup menggembirakan. Hal ini ditandai dengan kondisi iklim yang membaik dan harga sawit yang cukup tinggi. Bahkan, menurut BMKG, iklim tahun 2020 akan lebih baik daripada iklim 2019, musim kemarau diperkirakan akan dimulai pada bulan April-Mei. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Joko Supriyono mengemukakan, Gapki tetap optimis pada tahun 2020 industri sawit Indonesia memiliki prospek yang baik. “Meskipun kondisi ekonomi dunia tahun 2020 masih belum menentu; situasi politik di Timur Tengah masih panas, perang dagang USA-China belum berakhir, masih adanya tuntutan sustainability di EU; peningkatan penggunaan biofuel di dalam negeri, semakin banyaknya perusahaan yang bersertifikasi ISPO dan terbukanya tujuan-tujuan ekspor baru akan lebih menjamin pasar minyak sawit Indonesia di pasar global, Gapki tetap optimis pada tahun 2020 industri sawit lebih baik,” kata Joko dalam kegiatan “Refleksi Industri Sawit Tahun 2019 dan Prospek Tahun 2020” di Jakarta, baru-baru ini.

Joko menambahkan, komitmen pemerintah untuk mengimplementasi B30 pada 2020, menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia sangat serius dan dampaknya akan sangat berpengaruh terhadap perdagangan minyak nabati dunia dan perdagangan minyak di dalam negeri. Kebutuhan dalam negeri 2020 diperkirakan mencapai 8,3 juta ton untuk biodiesel yang mungkin akan berpengaruh pada ketersediaan produk minyak sawit untuk ekspor. Meski demikian, Gapki tetap memperhatikan tantangan dan peluang pasar ekspor maupun domestik dalam negeri serta adanya iklim usaha yang lebih berpihak kepada peningkatan investasi. Untuk itu, program kerja seluruh stakeholder sawit tahun 2020 perlu difokuskan pada : Peningkatan produktivitas baik melalui perbaikan teknik produksi maupun replanting. Mendorong percepatan implementasi sustainability/ISPO. Mendorong pengembangan ekspor terutama di negara tujuan ekspor baru dan penanganan berbagai hambatan perdagangan di pasar global. Meningkatkan kecintaan masyarakat Indonesia terhadap minyak sawit dan produk turunannya serta memperluas dan mengembangkan kampanye positif sawit yang efektif, baik di dalam negeri maupun di berbagai negara tujuan ekspor utama. “Dengan melihat berbagai peluang dan tantangan yang dihadapi pada tahun 2020 serta dukungan pemerintah yang sangat besar terhadap industri sawit maka Gapki optimis tahun 2020 industri kelapa sawit akan lebih baik dari tahun 2019,” kata Joko meyakinkan.

Refleksi 2019

Joko Supriyono juga menjelaskan, tahun 2019 merupakan tahun yang penuh tantangan bagi industri sawit Indonesia. Implementasi RED II oleh EU yang menghapuskan penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku bioidiesel, perbedaan tarif impor produk minyak sawit Indonesia ke India, kemarau yang berkepanjangan, perang dagang USA dan China dan harga CPO yang terus menurun merupakan tantangan utama yang dihadapi industri sawit hampir sepanjang tahun 2019. “Perang dagang USA dan China menyebabkan ekspor kedelai USA ke China terkendala sehingga petani USA yang biasanya memasok dalam jumlah besar ke China harus mencari pasar baru yang menyebabkan harga oil seed dan juga minyak nabati tertekan,” jelas Joko. Menurut dia, ada hal yang menarik pada tahun 2019, tepatnya pada 16 Agustus 2019, Presiden Jokowi menyampaikan dalam pidato kenegaraannya bahwa Indonesia akan lebih banyak mengkonsumsi minyak sawit untuk keperluan dalam negeri, terutama untuk biofuel. Dampaknya, harga CPO rata-rata KPBN terus melonjak menjadi US$ 483, 497, 582, dan 651 per ton pada September-Desember 2019. “Produksi minyak sawit 2019 mencapai 51,8 juta ton atau sekitar 10% lebih tinggi dari produksi tahun 2018 sementara konsumsi domestik naik 24% menjadi 16,7 juta ton dengan rincian konsumsi biodiesel naik 49%, pangan naik 14% dan oleokimia naik 9%. Volume ekspor produk sawit tahun 2019 sebesar 35,7 juta ton naik 4% dari ekspor 2018,” paparnya.

Nilai ekspor produk minyak sawit termasuk oleokimia dan biodiesel 2019 diperkirakan mencapai US$ 19 miliar. Nilai ekspor ini sekitar 17% lebih rendah dari ekspor produk minyak sawit tahun 2018 yang nilainya sebesar US$ 23 miliar. Destinasi utama ekspor produk minyak sawit tahun 2019 selain oleokimia dan biodiesel Indonesia adalah China (6 juta ton), India (4,8 juta ton), EU (4.6 juta ton). Khusus untuk produk oleokimia dan biodiesel, ekspor terbesar adalah ke China (825 ribu ton) diikuti oleh EU (513 ribu ton). Ekspor minyak sawit ke Afrika yang naik 11% pada 2019 dari 2,6 juta ton pada 2018 menjadi 2,9 juta ton dan menunjukkan tren meningkat dari tahun ke tahun memberikan sinyal positif bagi pasar produk minyak sawit Indonesia. Tahun 2019 yang penuh tantangan ditutup dengan harga yang melonjak diatas US$ 800/ton CIF Rotterdam dan penyamaan tarif impor minyak sawit Indonesia di India. Situasi finansial yang baik ini perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pekebun terutama untuk membiayai pemulihan tanaman dan infrastruktur yang mungkin pemeliharaannya tertinggal ketika harga rendah.

“Akhir tahun 2019 mulai dipersiapkan pelaksanaan implementasi B30 yang membuat cemas importir terkait dengan kemungkinan akan turunnya ketersediaan minyak sawit Indonesia untuk ekspor,” tambah Joko. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Paulus Tjakrawan menambahkan, produksi biodiesel tahun lalu terpakai mencapai 6,7 juta kiloliter (kl), sehingga menghemat devisa untuk impor solar sebesar US$ 3,8 miliar. Meski demikian, tahun ini industri biodiesel akan menghadapi beberapa tantangan yang cukup berat. Tahun ini, lanjut Paulus, B30 menghadapi tantangan terkait peningkatan kualitas. Kemudian transportasi, karena adanya peningkatan volume yang melonjak 30%, sulit mencari transportasi yang sesuai dan tersertifisi untuk bahan bakar. Kemudian, perlu adanya penambahan tangki timbun atau storage dan peningkatan kapasitas pelabuhan.”Kita berharap ke depan makin baik dan lancar. Jika membaik tahun ini, biodiesel akan terpakai 9,6 juta kl. Sebab, tahun lalu dari perkiraan 6,4 juta kl ternyata terpakai 6,7 juta kl,” kata Paulus. Dengan adanya peningkatan pemakaian biodiesel tahun ini diperkirakan akan menghemat devisa US$ 5,4 miliar. Menurut dia, ke depan, Aprobi sedang mendiskusikan mengenai campuran lebih tinggi dari B30, keputusannya akan segera diambil sembari melakukan pembenahan. “Untuk memenuhi kebutuhan, tahun depan sudah ada perusahaan yang siap menambah kapasitas sebesar 3,6 juta KL,” pungkas Paulus.

Surabaya Online | Senin, 3 Februari 2020

Refleksi Industri Kelapa Sawit 2019 Dan Prospek 2020

Tahun 2019 merupakan tahun yang penuh tantangan bagi industri sawit Indonesia. Implementasi RED II oleh EU yang menghapuskan penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku bioidiesel, perbedaan tariff impor produk minyak sawit Indonesia ke India, kemarau yang berkepanjangan, perang dagang USA dan China dan harga CPO yang terus menurun merupakan tantangan utama yang dihadapi industri sawit hampir sepanjang tahun 2019. Perang dagang USA dan China menyebabkan ekspor kedelai USA ke China terkendala sehingga petani USA yang biasanya memasok dalam jumlah besar ke China harus mencari pasar baru yang menyebabkan harga oilseed dan juga minyak nabati tertekan. Ada hal yang menarik pada tahun 2019, tepatnya pada 16 Agustus 2019, Presiden Jokowi menyampaikan dalam pidato kenegaraannya bahwa Indonesia akan lebih banyak mengkonsumsi minyak sawit untuk keperluan dalam negeri, terutama untuk biofuel. Dampaknya, harga CPO rata-rata KPBN terus melonjak menjadi USD 483, 497, 582, dan 651 per ton pada September-Desember 2019. Produksi minyak sawit 2019 mencapai 51,8 juta ton atau sekitar 10% lebih tinggi dari produksi tahun 2018 sementara konsumsi domestik naik 24% menjadi 16,7 juta ton dengan rincian konsumsi biodiesel nailk 49%, pangan naik 14% dan oleokimia naik 9%. Volume ekspor produk sawit tahun 2019 sebesar 35,7 juta ton naik 4% dari ekspor 2018.

Nilai ekspor produk minyak sawit termasuk oleokimia dan biodiesel 2019 diperkirakan mencapai USD 19 milyar. Nilai ekspor ini sekitar 17% lebih rendah dari ekspor produk minyak sawit tahun 2018 yang nilainya sebesar USD 23 milyar. Destinasi utama ekspor produk minyak sawit tahun 2019 selain oleokimia dan biodiesel Indonesia adalah China (6 juta ton), India (4,8 juta ton), EU (4.6 juta ton). Khusus untuk produk oleokimia dan biodiesel, ekspor terbesar adalah ke China (825 ribu ton) diikuti oleh EU (513 ribu ton). Ekspor minyak sawit ke Afrika yang naik 11% pada 2019 dari 2,6 juta ton pada 2018 menjadi 2,9 juta ton dan menunjukkan tren meningkat dari tahun ke tahun memberikan sinyal positif bagi untuk pasar produk minyak sawit Indonesia Tahun 2019 yang penuh tantangan ditutup dengan harga yang melonjak diatas USD 800/ton CIF Rotterdam dan penyamaan tariff impor minyak sawit Indonesia di India. Situasi finansial yang baik ini perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pekebun terutama untuk membiayai pemulihan tanaman dan infrastruktur yang mungkin pemeliharaannya tertinggal ketika harga rendah. Akhir tahun 2019 mulai dipersiapkan pelaksanaan implementasi B30 yang membuat cemas imprortir terkait dengan kemungkinan akan turunnya ketersediaan minyak sawit Indonesia untuk ekspor.

Prospek Tahun 2020

Memasuki tahun 2020, industri sawit Indonesia dikaruniai dengan kondisi iklim yang membaik dan harga yang cukup tinggi. Menurut BMKG, iklim tahun 2020 akan normal dan lebih baik daripada iklim 2019, musim kemarau diperkirakan akan dimulai pada bulan April-Mei.Komitmen pemerintah untuk mengimplementasi B30 pada 2020, menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia sangat serius dan dampaknya akan sangat berpengaruh terhadap perdagangan minyak nabati dunia dan perdagangan minyak di dalam negeri. Kebutuhan dalam negeri 2020 diperkirakan mencapai 8,3 juta ton untuk biodiesel yang mungkin akan berpengaruh pada ketersediaan produk minyak sawit untuk ekspor. Meskipun kondisi ekonomi dunia tahun 2020 masih belum menentu; situasi politik di Timur Tengah masih panas, perang dagang USA-China belum berakhir, masih adanya tuntutan sustainability di EU; peningkatan penggunaan biofuel di dalam negeri, semakin banyaknya perusahaan yang bersrtifikasi ISPO dan terbukanya tujuan-tujuan ekspor baru akan lebih menjamin pasar minyak sawit Indonesia di pasar global, sehingga GAPKI tetap optimis pada tahun 2020 industri sawit Indonesia tetap memiliki prospek yang baik.

Memperhatikan tantangan tantangan peluang pasar

ekspor maupun domestik dalam negeri serta adanya iklim usaha yang lebih berpihak kepada peningkatan investasi, maka program kerja seluruh stakeholder sawit tahun 2020 perlu difokuskan pada :

1. Peningkatan produktivitas baik melalui perbaikan teknik produksi maupun replanting.

2. Mendorong percepatan implementasi sustainability/ISPO

3. Mendorong pengembangan ekspor terutama di negara tujuan ekspor baru dan penanganan berbagai hambatan perdagangan di pasar global.

4. Meningkatan kecintaan masyarakat Indonesia terhadap minyak sawit dan produk turunannya serta memperluas dan mengembangkan kampanye positif sawit yang efektif, baik di dalam negeri maupun di berbagai negara tujuan ekspor utama.

Dengan memperhatikan berbagai peluang dan tantangan yg dihadapi pada tahun 2020 serta dukungan pemerintah yang sangat besar terhadap industri sawit maka GAPKI optimis tahun 2020 industri kelapa sawit akan lebih baik dari tahun 2019.

https://surabayaonline.co/2020/02/03/refleksi-industri-kelapa-sawit-2019-dan-prospek-2020/

Antara News | Senin, 3 Februari 2020

2020, GAPKI siap tingkatkan bauran B30

Ketua umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono menyatakan siap mendukung komitmen pemerintah untuk meningkatkan bauran biodiesel 30 persen atau B30 menjadi B40 pada 2020. Pasalnya, B30 telah sukses diterapkan di seluruh Indonesia per 1 Januari 2020. “Saat ini, kami tengah mendiskusikan hal tersebut. Kami optimistis dapat mencapai target itu, mengingat pada 2020 ada perusahaan yang berkomitmen menambah kapasitas biodiesel,” ungkapnya di Jakarta, Senin. Joko melanjutkan, selain adanya komitmen untuk menambah kapasitas pengolahan biodiesel, juga tidak sedikit perusahaan kelapa sawit yang siap untuk membangun pabrik biodiesel. Dengan demikian, total volume produksi biodiesel pada 2020 diprediksi mendapat tambahan 3,6 juta kilo liter. “Pada 2019, penggunaan biodiesel di pasar domestik sebesar 5,67 juta kilo liter, yang mampu menghemat impor solar hingga 3,8 miliar dolar AS. Jika pada 2020, volume biodiesel sampai 9,6 juta kilo liter, maka dapat menghemat sekitar 5,4 miliar dolar AS,” tambahnya.

Di tengah positifnya tren pertumbuhan biodiesel, industri kelapa sawit masih harus menghadapi sejumlah tantangan dalam hal perluasan dan retensi pasar, yakni peningkatan kualitas produk biodiesel, melonjaknya kebutuhan transportasi bersertifikasi karena volume melonjak hingga 50 persen, dan tuntutan penambahan kapasitas pelabuhan. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan menuturkan, seluruh pemangku kepentingan industri kelapa sawit, khususnya biodiesel, sepakat untuk memprioritaskan kebutuhan pasar domestik, sambil tetap menjaga laju ekspor ke pasar mancanegara. “Dengan adanya perang dagang AS-Tiongkok dan tuntutan standar sustainability Uni Eropa, kami berharap pasar tetap stabil, walau kita semua tahu cenderung volatil,” katanya. Lebih lanjut, GAPKI dan segenap asosiasi industri kelapa sawit dan turunannya mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk berfokus pada peningkatan produktivitas melalui penanaman kembali (replanting), mendorong percepatan implementasi ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil), mendorong pengembangan ekspor, dan meningkatkan kecintaan masyarakat Indonesia terhadap sawit Indonesia. “Kelapa sawit adalah salah satu komoditas yang paling kontributif bagi perekonomian bangsa. Oleh karena itu, ini menjadi tugas semua pihak,” tutupnya.

https://www.antaranews.com/berita/1277615/2020-gapki-siap-tingkatkan-bauran-b30

Bisnis | Senin, 3 Februari 2020

Volume Ekspor CPO Berpotensi Terpangkas

Volume ekspor produk sawit dan turunannya pada 2020 berpotensi terpangkas dari tahun lalu lantaran sangat bergantung dengan pasokan dan produksi dari dalam negeri. Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) data tutupan sawit termutakhir seluas 16,31 juta hektare, produktivitas sawit nasional diperkirakan tak setinggi perkiraan sebelumnya. “Untuk ekspor 2020 kami perlu melihat bagaimana kondisi produksinya. Potensi serapan domestik akan meningkat sekitar 4 juta ton seiring implementasi B30. Apakah produksinya akan naik sebanyak itu? Jika tidak, kemungkinan besar kami akan potong ekspor tapi kami akan melihat dulu kondisinya,” ujar Ketua Umum Gapki Joko Supriyono di Jakarta, Senin (3/2/2020). Joko melanjutkan, pada tahun ini perkebunan sawit sendiri diperkirakan akan dikaruniai kondisi iklim yang membaik dan harga yang cukup tinggi. Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), iklim tahun 2020 cenderung normal dan lebih baik daripada iklim 2019 dengan musim kemarau di sentra produksi yang dimulai pada April-Mei. “Terdapat perkiraan produksi tahun ini akan terimbas kemarau tahun lalu, tapi kami masih melihatnya realisasinya. Adapun dampak replanting yang dilakukan pada 2018 belum akan terlalu terlihat pada tahun ini, baru akan terasa setidaknya 5 tahun setelah penanaman,” jelas Joko.

Data terbaru Gapki memperlihatkan bahwa produksi sawit (CPO dan palm kernel oil/PKO) sepanjang 2019 berada di angka 51,82 juta ton, naik 9,37 persen dibandingkan produksi pada 2018 yang berjumlah 47,38 juta ton. Produktivitas sawit pada 2018 diperkirakan sebesar 3,3 ton/ha dengan asumsi luas sawit 14,3 juta hektare. Jika merujuk pada luas baru, maka produktivitas sawit hanya berkisar di angka 3,17 ton/ha. Dari sisi ekspor, Gapki mencatat adanya kenaikan sebesar 4,3 persen dari 34,7 juta ton pada 2018 menjadi 36,175 juta ton pada 2019. Lonjakan pertumbuhan justru terlihat dari konsumsi domestik yang berada di angka 13,5 juta ton pada 2018 menjadi 16,67 juta ton atau naik 23% dan banyak didorong oleh serapan CPO untuk program biodiesel Sementara itu, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengemukakan adanya potensi koreksi ekspor biofuel seiring bertambahnya serapan dalam negeri. Pada 2019, dia menyatakan ekspor biofuel mencapai 1,3 juta KL dengan serapan domestik mencapai 6,7 KL. Dia menyebutkan proudksi biofuel tersebut telah menyerap lebih dari 80% kapasitas produksi nasional sehingga perusahaan produsen biofuel perlu menambah kapasitas produksi jika ingin mengamankan pasar ekspor. “Sampai akhir tahun 2020 ada perusahaan yang akan menambah kapasitas sebesar 3,6 juta KL, tahun 2021 juga ada rencana tambahan dengan volume yang sama. Peningkatan produksi biofuel diperkirakan baru akan terjadi setidaknya setelah kuartal pertama tahun ini,” ujar Paulus.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20200203/12/1196842/volume-ekspor-cpo-berpotensi-terpangkas