+62 2129380882 office@aprobi.co.id

PTPN V Bangun Pembangkit Listrik dari Limbah Pabrik Sawit.

Investor Daily Indonesia | Selasa, 5 Maret 2019
PTPN V Bangun Pembangkit Listrik dari Limbah Pabrik Sawit.

Pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg) hasil kerja sama antara PT Perkebunan Nusantara V dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, resmi beroperasi di pabrik kelapa sawit (PKS) Terantam PTPN V, Kecamatan Tapung Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, Senin (4/3). Pembangkit ini menghasilkan listrik dari limbah PKS Terantam. Peresmian ini dilakukan Direktur Utama PTPN V Jatmiko Krisna Santosa, Kepala BPPT Hammam Riza dan Deputi Bidang TIEM BPPT En-iya Listiani Dewi. Kegiatan tersebut juga dihadiri jajaran Direksi PTPN V, BPPT, dan manajemen perusahaan perkebunan negara berkomoditas sawit dan karet tersebut. “Setelah melalui banyak diskusi dan kajian, kami bersyukur pembangunan PLTBg di PKS Terantam hasil kerja sama dengan BPPT dapat diselesaikan dan diresmikan bersama-sama,” ujar Jatmiko Krisna Santosa. Menurut dia, PTPN V patut bersyukur, sebab perusahaan yang senantiasa fokus menerapkan budidaya perkebunan yang berkelanjutan itu, memperoleh berkah melalui kerja sama yang apik dengan BPPT. “BPPT punya riset, kajian, SDM (sumber daya manusia), teknologi, dan peralatannya, sedangkan kami memiliki potensi limbah sawit yang sangat besar, yang berasal dari hasil olah

PKS berkapasitas 575 ton TBS (tandan buah segar) perjam,” terang Jatmiko. Dia menuturkan, sinergi dengan BPPT dalam pembangunan pilot plan biogas yang dimulai dengan penandatanganan MoU di tahun 2016, dilanjutkan dengan pembangunannya pada 2017. “Apresiasi dan terima kasih kami kepada BPPT, dengan kerja sama yang baik, buah kesungguhan perusahaan untuk menjadi perusahaan perkebunan negara yang paling fokus mengembangkan energi terbarukan berbahan dasar limbah sawit, senantiasa terjaga,” tukas dia. Menurut dia, pembangunan PLTBg menelan nilai investasi Rp 27 miliar. Bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan listrik berasal dari palm oil mill effluent (POME) atau limbah cair dari pabrik kelapa sawit terantam, dan mampu menghasilkan listrik sebesar 700 kilowatt (kw). Dia menambahkan, PLTBg Teratam merupakan proyek kedua di PTPN V, setelah sebelumnya dibangun PLT Biogas pertama di lingkungan BUMN perkebunan berlokasi PKS Tandun-dengan daya 1,2 MW. Selanjutnya, Jatmiko berencana PLTBg ketiga. “Yang ketiga di PKS Sei Pagar, tetap bekerja sama dengan BPPT,” sebut Jatmiko. Hammam Riza menambahkan, pembangunan PLTBg ini merupakan pilot project bagi BPPT.

Kompas | Selasa, 5 Maret 2019
Limbah Sawit Sumber Listrik

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi bersama PT Perkebunan Nusantara V, Riau, mewujudkan kerja sama pengolahan limbah kelapa sawit menjadi energi. Senin (4/3/2019), Kepala BPPT Hammam Riza dan Direktur Utama PTPN V Jatmiko K Santoso meresmikan pengoperasian pembangkit listrik tenaga biogas dari limbah pabrik kelapa sawit berkapasitas 700 kilowatt di Pabrik Kelapa Sawit PTPN V di Terantam, Kampar, Riau. Pembangkit itu baru memakai setengah limbah buangan pabrik kelapa sawit berkapa- sitas 60 ton per jam. Produksi itu menghemat Dahan bakar solar 1,26 juta liter per tahun yang setara Rp 12,5 miliar. Kerja sama itu punya tiga fungsi penting, yakni mengurangi pencemaran lingkungan, mengurangi emisi gas rumah kaca atau pemanasan global, serta memanfaatkan limbah sebagai energi terbarukan. Pembangkit listrik biogas limbah pabrik PTPN V itu yang pertama dibangun BPPT. Selama ini, limbah berlimpah tak diolah. “Ini potensi besar. Ada 850 pabrik kelapa sawit dan hanya 10 persen yang sudah dimanfaatkan,” kata Hammam. Jatmiko mengatakan, penggunaan biogas sebagai pembangkit listrik di PTPN V bukan yang pertama. Tahun 2012, ada satu pembangkit berkapasitas 1 megawatt hasil kerja sama dengan swasta di Kebun Tandun. “Selama ini limbah kami sia-siakan, tidak dimanfaatkan. Dari setengah kapasitas pabrik saja sudah dihemat Rp 12,5 miliar. Bayangkan nilai yang dapat dihemat jika limbah 10 pabrik di PTPN diproses untuk menghasilkan energi,” katanya. Jika seluruh limbah sawit di PTPN V digunakan sebagai ba-han baku pembangkit, Jatmiko yakin, perusahaan bakal mam- pu swasembada listrik total. Bahkan, ada sisa energi yang dapat diikutkan ke jalur PLN.

Penguraian jasad renik

Kepala Program Biogas BPPT Samuel Pati Senda mengatakan, secara teknis, pola pengolahan biogas menjadi energi merupakan penguraian limbah pabrik kelapa sawit yang disebut palm oil mill effluent (POME) dengan bantuan jasad renik jenis bakteri yang bekerja tanpa oksigen (anaerob). Ada empat proses penguraian. Empat langkah itu merupakan pola yang dikembangkan khusus peneliti BPPT yang su- dah dipatenkan. Inovasi itulah yang membedakan proses penguraian limbah dengan metode yang ada saat ini. “Persentase metana yang kami hasilkan di atas 60 persen. Pembangkit lain biasa hanya menghasilkan metana di atas 50 persen. Pembangkit kami lebih efisien,” ujar Samuel. Investasi untuk membangun satu pembangkit biogas di PTPN V sekitar Rp 27 miliar. Dana itu sudah termasuk biaya riset dan penelitian BPPT. Ke depan, seiring efisiensi dan penggunaan bahan lokal yang lebih besar, biaya pembangkit bakal semakin murah.

Sawitindonesia | Selasa, 5 Maret 2019
Mesin Volvo CE Cocok Gunakan B20

Volvo Construction Equipment (CE) siap menjalankan penggunaan B20 untuk mesinnya untuk mendukung peraturan pemerintah tentang penggunaan B20 di industri alat berat Indonesia. Kini, Volvo CE memastikan semua mesin dapat menggunakan bahan bakar yang mengandung 20 persen biodiesel. Volvo CE menjadi salah satu manufaktur yang menerapkan penggunaan biodiesel B20 untuk mesinnya demi memenuhi peraturan pemerintah. Peraturan tersebut mewajibkan 20 persen kandungan biodiesel lokal dalam solar. “Kami sangat senang bahwa kini Indonesia mulai beralih ke biodiesel yang tentu sejalan dengan wawasan Volvo,” jelas Indra Wirawan selaku Marketing Communications and Retail Development Director PT Volvo Indonesia dalam keterangan resmi. “Penggunaan biodiesel akan membantu mengurangi dampak merugikan bagi lingkungan yang disebabkan oleh emisi karbon dioksida, bahan partikulat, sulfur, dan hidrokarbon.” Seperti yang diketahui, pada akhir 2018 lalu pemerintah Indonesia mengenalkan mandatori B20 sebagai upaya untuk menekan angka impor migas sekaligus mengurangi dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap sektor industri. Volvo CE sendiri sudah cukup lama mengembangkan teknologi yang ramah lingkungan. Sejak 2009, Volvo CE telah melakukan serangkaian inovasi seperti penggunaan bahan bakar terbarukan di mesin mereka. Ditambah dengan mengenalkan teknologi kendaraan listrik di beberapa modelnya, Volvo diyakini mampu menjadi pemain penting dalam industri yang berbasis pada lingkungan.

“Mesin buatan Volvo sebenarnya telah kompatibel dengan biodiesel sejak 2009. Kami senang bahwa pelanggan kami di Indonesia sekarang bisa ikut memanfaatkan teknologi biodiesel, sehingga tidak sebatas mengikuti anjuran pemerintah soal B20 namun juga dapat turut serta membangun lingkungan yang lebih baik,” terang Indra. Kini, Volvo CE telah mengenalkan compact excavator bertenaga listrik pertama di dunia, EX2, yang dilengkapi dengan sistem penggerak listrik dan aktuator linear elektromekanis. Meskipun terlalu dini untuk mengatakan bahwa Volvo akan beralih sepenuhnya ke mesin listrik, namun Volvo percaya elektrifikasi bakal menjadi masa depan industri alat berat. Prototipe EX2 membuktikan determinasi Volvo dalam menghasilkan emisi 0% tanpa mengorbankan tenaga seperti yang dilakukan mesin diesel konvensional. Selain pada model compact excavator, Volvo juga memproduksi prototipe hybrid untuk model wheel loader, LX1. Kendati tidak sepenuhnya digerakkan oleh tenaga listrik seperti EX2, LX1 telah lolos uji ratusan jam kerja dan terbukti mampu menghemat bahan bakar sebesar 50% dibandingkan wheel loader konvensional. Hal ini juga dapat diartikan sebagai 35% pengurangan konsumsi bahan bakar dan emisi gas rumah kaca. Selain kedua model di atas, Volvo juga memiliki HX1, prototipe kendaraan angkut tanpa awak bertenaga baterai. Konsep ini merupakan jawaban atas tantangan untuk menginisiasi elektrifikasi di tambang terbuka. Prototipe ini juga telah meraih penghargaan bergengsi di bidang inovasi industri.

Antara | Senin, 4 Maret 2019
Kebijakan biodisel B20 didesak segera diwujudkan

Anggota DPR RI Komisi XI?asal Dapil Kalimantan Barat, G Michael Jeno mengatakan kebijakan B20 atau campuran biodiesel sebanyak 20 persen dalam solar harus segera diwujudkan dengan maksimal karena akan menjadi solusi untuk kemajuan sektor industri perkebunan kelapa sawit. “Kebijakan B20 dalam negeri sudah dicanangkan sejak tahun lalu, namun penerapannya belum dimulai. Kita berharap kebijakan ini dapat segera terlaksana dalam waktu dekat ini karena akan sangat membantu sektor industri perkebunan kelapa sawit,” ujarnya di Pontianak, Senin. Ia menjelaskan bahwa dengan adanya B20, posisi Indonesia akan sangat fleksibel dan variatif, apakah mau diekspor atau dikonsumsi dalam negeri. Indonesia juga lebih leluasa dalam menentukan negara tujuan ekspor. “Sekarang di Kalbar, para petani sawit mengeluh harga anjlok. Hal itu karena memang permintaannya sedang turun. Dengan adanya B20 ini, maka CPO kita akan terserap. Untuk ekspor dan domestik,” papar dia. Kembali ia mendorong penerapan B20 perlu dipercepat untuk mendongkrak harga CPO. Ujungnya, terjadi pertumbuhan ekonomi di sektor perkebunan.

Kalbar sendiri, menurut dia, akan terdampak langsung karena struktur ekonomi Kalbar didominasi sektor pertanian, di mana perkebunan kelapa sawit mengambil porsi terbesar. “Kepada para pemangku kepentingan, saya meminta kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani supaya B20 ini bisa didorong dan segera terwujud. Karena kebijakan ini tentu berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” kata dia. Jeno juga menyinggung soal rencana Presiden Joko Widodo yang ingin segera masuk ke B100 alias bahan bakar murni biodiesel. Menurutnya hal tersebut bisa terwujud. “Hanya saja B20 perlu diluncurkan terlebih dahulu untuk mengetahui seberapa besar pelaksanaannya. Kita berharap segera dimaksimalkan kebijakan yang ada,” papar dia, Sementara itu, Guru Besar Universitas Tanjungpura Prof Dr Thamrin Usman DEA mengatakan, Kalbar cocok untuk menjadi pusat pabrik biodiesel. Selain memiliki bahan baku melimpah, Kalbar juga strategis dalam geografis. “Kemudian industri biodiesel tidak membutuhkan bahan baku minyak sawit yang sangat bagus. Kalbar melimpah sawit,” kata dia. Dia juga menyebut bahwa sudah ada teknologi tinggi dalam mengubah limbah sangat jelek menjadi biodiesel yang ramah lingkungan. Apabila hal ini bisa ditingkatkan menjadi skala industri, maka masalah lingkungan dari limbah sawit serta keluhan mahalnya bahan baku untuk biodiesel dapat teratasi secara bersamaan. “Proyek ini pada gilirannya dapat diklaim sebagai program sawit bersih. Hal ini menjadi kampanye kepada masyarakat dunia bahwa industri sawit di Kalbar ramah lingkungan. Dengan demikian, Indonesia dapat terhindar dari embargo dari negara-negara konsumen, baik di Eropa maupun Amerika dan Jepang,” kata Thamrin.
https://kalbar.antaranews.com/berita/375725/kebijakan-biodisel-b20-didesak-segera-diwujudkan