+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Realisasi B20 Bisa Meleset dari Target

Harian Kontan | Jum’at, 21 Desember 2018

Realisasi B20 Bisa Meleset dari Target

Pemerintah terus menggenjot pemakaian Biodiesel sebesar 20% (B20). Kewajiban B20 terutama menya-sar sektor non-public service obligation (PSO) yang bergulir sejak September tahun ini. Selama Januari hingga Desember 2018, pemerintah menargetkan penyerapan unsur nabati atau fatty acid methyl ester (FAME) dalam implementasi B20, baik PSO dan non-PSO, bisa mencapai 3,9 juta kiloliter (kl). Hingga 28 November 2018, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat penyerapan FAME baru sebanyak 2,85 juta kl atau 73% dari target tahun ini. Jadi, pemerintah harus mengejar penyerapan FAME sekitar 900.000 kl selama bulan Desember. Namun pemerintah pesimistis target itu bisa tercapai. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Rida Mulyana, memproyeksikan penyerapan FAME hingga akhir tahun ini hanya 90% dari target. Implementasi B20 saat ini memang belum maksimal karena ada beberapa lokasi yang masih sulit menyerap FAME. Selain itu, ada kendala dalam rantai distribusi. “Misalnya karena kapal, yang harus bersertifikat. Jika pun kapal ada, dermaganya kurang. Makanya tahun depan kami akan evaluasi secara menyeluruh agar supply chain lebih maksimal,” ungkap Rida.

Meski demikian, dia menilai pencapaian implementasi B20 sudah cukup bagus, terutama untuk memperbaiki neraca perdagangan. “Nyatanya ini berjalan, meski kami akui belum maksimal karena beberapa penyebab,” jelas Rida. Sementara, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Energi dan Migas, Bobby Gafur Umar, menyatakan, kewajiban penggunaan B20 akan berdampak signifikan pada penurunan impor migas. Namun diajuga mengungkapkan, kebijakan tersebut tidak bisa menjadi solusi utama atas permasalahan ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak. “Jika harga Crude Palm Oil (CPO) yang menjadi bahan dasar Biodiesel naik, bagaimana? Malah terjadi defisit,” ujar dia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), defisit neraca perdagangan Indonesia pada November 2018 mencetak rekor tertinggi di tahun ini, yakni mencapai US$ 2,05 miliar. Dari angka itu, sektor migas menyumbang defisit sebesar US$ 1,46 miliar. Demi mengerek investasi di sektor hulu migas, pemerintah harus memberikan insentif yang menarik kepada investor yang memiliki niat untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Skema gross split yang saat ini diterapkan Kementerian ESDM dinilai belum menjadi magnet bagi investor asing masuk ke sektor hulu migas. “Pemodal juga perlu insentif fiskal,” kata Bobby.

Kompas | Jum’at, 21 Desember 2018

B20 Aman untuk Lokomotif

Pemerintah bersama sejumlah pihak terkait menyatakan bahwa penggunaan solar dengan campuran Biodiesel aman dipakai untuk mesin lokomotif pada kereta api. Hasil pengujian selama enam bulan pada dua jenis lokomotif milik PT Kereta Api Indonesia (Persero) menunjukkan bahwa kandungan 20 persen Biodiesel dalam solar atau B-20 tidak berdampak buruk bagi kinerja mesin. Namun, perlu pengawasan ketat pada penerapannya. Demikian pemaparan hasil kajian dan uji jalan penggunaan B-20 pada kereta api, Kamis (20/12/2018). di Jakarta B-20 adalah kebijakan pencampuran Biodiesel sebanyak 20 persen di dalam setiap liter solar. Pengujian dilakukan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian Perhubungan, PT KAI, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia (Aprobi), PT Pertamina (Persero), dan General Electric Indonesia.

Uji coba B-20 dilakukan pada dua lokomotif jenis CC 205 dan dua lokomotif jenis CC 206 yang dioperasikan PT KAI di sepanjang rute Stasiun Tanjung Enim di Sumatera Selatan hingga Stasiun Tarahan di Lampung. Jarak yang ditempuh pada jalur itu 800 kilometer. Uji coba digelar selama 10 Februari-10 Agustus 2018. Setiap lokomotif memakai solar bercampur Biodiesel 20 persen (B-20) dan solar murni (B-0). Direktur Operasi PT KAI, Slamet Suseno Priyanto mengatakan, berdasarkan hasil uji coba itu, mutu dan spesifikasi B-20 sudah sesuai dengan spesifikasi bahan bakar untuk mesin lokomotif yang dioperasikan PT KAI. Tak ada kerusakan pada mesin atau penurunan tenaga mesin lokomotif selama uji coba dilakukan. Selain itu, Biodiesel terbukti tidak merusak alat penyaring (filter) di dalam mesin. “Penggantian filter setiap tiga bulan atau sesuai dengan ketentuan untuk mesin lokomotif kami. Jadi, Biodiesel tidak berdampak buruk terhadap kinerja mesin. Oleh karena itu, kami dukung terus mandatori B-20,” kata Slamet Pada 2016, konsumsi BBM untuk PT KAI mencapai 207,4 juta liter. Lalu, konsumsi naik menjadi 220,1 juta liter pada 2017 seiring dengan penambahan sejumlah lokomotif baru. Lalu, sampai Oktober 2018, konsumsi BBM oleh PT KAI mencapai 192,3 juta liter.

Rekomendasi

Perekayasa dari BPPT, Taufik Suryantoro, menambahkan, ada beberapa rekomendasi yang harus dijalankan berdasarkan hasil kajian penggunaan B-20 pada mesin lokomotif PT KAI. Beberapa rekomendasi itu yakni perlu penyetelan ulang mesin lokomotif untuk mendapat tenaga yang optimal. Selain itu, pengawasan ketat harus terus dijalankan dan rutin mengganti filter setiap tiga bulan. “Begitu pula saat mesin di-over haul. Mesin harus diperiksa dengan detail untuk mendapat informasi dan data akurat,” kata Taufik. Atas hasil tersebut, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi pada Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan, penggunaan B-20 bisa diterima oleh mesin lokomotif. Penggunaan B-20 akan mengurangi impor solar dan ujungnya adalah mengurangi defisit perdagangan Indonesia. “Sudah terbukti pemakaian B-20 untuk kereta api tidak ada masalah. Namun, tetap perlu pengawasan ketat dan konsistensi pemakaiannya,” kata Bida. Pemerintah mempercepat program kewajiban pencampuran Biodiesel ke dalam solar yang merambah ke seluruh sektor, yakni pelayanan publik (PSO) dan non-PSO per 1 September 2018. Program ini juga bertujuan mengurangi defisit perdagangan sektor minyak dan gas bumi. Tahun depan, pemerintah menargetkan penghematan devisa sebesar 4 miliar dollar AS dari kebijakan ini. Sebelumnya, pemerintah mengaku ada masalah dalam distribusi Biodiesel di sejumlah wilayah lantaran terbatasnya kapal angkut Dari 86 titik serah Biodiesel yang semula ditentukan kini dipangkas jadi 10 titik. Sampai triwulan III-2018, penyaluran Biodiesel mencapai 2,1 juta kiloliter dari target 3,92 juta kiloliter tahun ini. Program B-20 jadi andalan pemerintah menekan defisit perdagangan. Cara lainnya adalah meminta Pertamina membeli jatah minyak kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) hulu migas yang volumenya mencapai 225.000 barel per hari. Namun, kebijakan ini baru akan direalisasikan pada Januari 2019.

Investor Daily Indonesia | Jum’at, 21 Desember 2018

Badan Usaha BBN Mulai Pengadaan Biodiesel 6,2 Juta KL

Badan usaha bahari bakar nabati (BBN) telah menerima pesanan {purchase order/PO) pengadaan unsur nabati (fatty acid methyl ete//FAME) dari seluruh badan usaha bahan bakar minyak (BBM) sebesar 6,2 juta kiloliter (KL) untuk tahun depan. Pengadaan FAME dimulai akhir tahun ini guna meminimalkan terjadinya keterlambatan pasokan di 2019. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Cakrawan mengatakan, keterlambatan pasokan FAME yang terjadi di awal perluasan mandatori pencampuran Biodiesel (B20) lantaran keterlambatan masuknya PO dari badan usaha BBM. Karenanya, untuk tahun depan, PO sudah dimasukkan di akhir tahun ini, termasuk dari PT Pertamina (Persero). Meski demikian, diakuinya, hal ini bukan jaminan keterlambatan pasokan FAME tidak akan terjadi lagi. Pasalnya, adanya perubahan titik pasokan FAME berpotensi menimbulkan keterlambatan pasokan. Hal ini mengingat beberapa terminal yang tadinya menerima FAME langsung, harus menunggu pasokan B20 dari terminal lain, salah satunya dari Terminal Tuban ke Makassar. Sementara pasokan FAME kedua terminal ini habis pada saat yang sama, yakni 31 Desember.

“Tetapi kami adari asosiasi, perusahaan, Pertamina, dan semua badan usaha BBM sedang bekerja keras untuk meminimalisasi ini (keterlambatan pasokan), supaya ontime,” kata dia di Jakarta, Kamis (20/12). Keterlambatan pasokan, tambahnya, utamanya kemungkinan besar terjadi di masa peralihan berakhirnya PO lama dan dimulainya pesanan baru. Direktur Bioenergi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Andriah Feby Misnah menambahkan, sedianya mulai 2019, titik pasok Biodiesel dipangkas menjadi 25 titik saja. Namun, adanya hambatan di mana beberapa terminal BBM tidak dapat memasok B20 ke terminal lainnya, membuat pihaknya menambah jumlah titik pasokan ini. Sehingga, khusus beberapa terminal, kembali menerima pasokan FAME. “Jadi memang ketika Tuban enggak bisa, kami kembali ke mekanisme lama karena mekanisme lama sudah lancar,” ujar dia. Mengacu Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No 2018k/10/ MEM/2018 tentang pengadaan bahan bakar nabati jenis Biodiesel untuk pencampuran jenis bahan bakar minyak periode Januari-Desember 2019, pasokan Biodiesel tahun depan ditetapkan sebesar 6,2 juta KL. Sebanyak 19 badan usaha BBN telah ditetapkan sebagai pemasok biodiesel. Mengacu beleid ini, 19 badan usaha BBN yang menyediakan pasokan Biodiesel di tahun depan adalah PT Cemerlang Energi Perkasa 449.753 KL, PT Wilmar Bioenergi Indonesia 844.949 KL, PT Pelita Agung Ag-rindustri 145.396 KL, PT Ciliandra Perkasa 171.854 KL, PT Darmex Biofuels 85.680 KL, PT Musim Mas 745.504 KL, PT Wilmar Nabati Indonesia 904.431 KL, dan PT Bayas Biofuels 229.075 KL.

Selanjutnya, pemasok lainnya yakni PT LDC Indonesia 292.927 KL, PT SMART Tbk 269.914 KL, PT Tunas Baru Lampung 216.875 KL, PT Multi Nabati Sulawesi 253.427 KL, PT Permata Hijau Palm Oleo 261.183 KL, PT Intibenua Perkasatama 241.053 KL, PT Batara Elok Semesta Terpadu 78.818 KL, PT Dabi Biofuels 207.344 KL, PT Sinarmas Bio Energy 262.011 KL, PT Kutai Refinery Nusantara 220.189, KL, serta PT Sukajadi Sawit Mekar 219.677 KL.

Floating Storage

Pada saat yang sama, guna memastikan kelancaran pasokan B20 tahun depan, Feby mengungkapkan bahwa pengadaan fasilitas penampungan terapung (floating storage) masih dalam pembahasan. Beberapafloating storage akan ditambahkan di beberapa terminal BBM untuk menyimpan FAME. “Pastinya (jumlah floating storage) di Pertamina, karena ini masih tahap diskusi karena ini butuh investasi besar,” tutur dia. Namun, pihaknya akan mengupayakan agar floating storage ini bisa digunakan mulai Januari 2019. Paulus menambahkan, pihaknya dan Pertamina masih mempelajari mekanisme pengadaan floating storage ini. Namun jika memang floating storage itu belum siap, pasokan FAME tetap akan dikirim sesuai mekanisme yang saat ini berjalan. “Intinya sedang kajian perundingan teknis bagaimana agar bisa cepat,” kata dia. Sebelumnya, pengurangan titik pasok FAME dari 68 terminal BBM menjadi 25 terminal BBM dilakukan guna mengoptimalkan penyerapan biodiesel. Namun, pengurangan titik pasok ini akan dilakukan dengan menambah fasilitas floating storage di terminal tujuan. Walaupun, fasilitas tambahan ini diperkirakan akan menimbulkan biaya. Sejak mandatori B20 dimulai pada 2016, serapan Biodiesel terus naik setiap tahunnya. Pada 2017, realisasi serapan Biodiesel tercatat hanya sebesar 2,57 juta KL. Pada tahun ini, serapan FAME untuk Program B20 ditargetkan bisa mencapai 3,92 juta KL.

Viva | Jum’at, 21 Desember 2018

Pakai Biodiesel B20, Mesin Tak Perlu Dimodifikasi

Sejak pemerintah memberlakukan aturan penggunaan bahan bakar diesel jenis baru, muncul banyak pertanyaan dari para penggunanya. Aturan itu mulai diterapkan pada 1 September 2018. Selain soal kualitas dan performa dari bahan bakar itu sendiri, pengguna kendaraan bermesin diesel juga penasaran soal kecocokan BBM baru yang disebut biodiesel B20 itu dengan mobil atau truk yang dipasarkan di dalam negeri. Sejauh ini, beberapa produsen kendaraan sudah angkat bicara soal hal itu. Contohnya Suzuki Indonesia, yang menyatakan bahwa produk mereka aman mengonsumsi B20. “Kami sudah enggak menjual Ertiga Diesel Hybrid, setelah All New Ertiga dijual. Tapi, sudah diuji, enggak masalah pakai B20,” kata Direktur Pemasaran Divisi Roda Empat PT Suzuki Indomobil Sales, Donny Saputra kepada VIVA. Hal senada juga diungkapkan Sales and Marketing Director PT Mitsubishi Krama Yudha Tiga Berlian Motors, Duljatmono. Menurutnya, semua produk Fuso dan Colt yang dipasarkan aman mengonsumsi biodiesel B20. “Soal B20, Mitsubishi Fuso siap dengan itu. Jadi, tidak ada masalah antara semua produk Mitsubishi Fuso dengan B20,” ujarnya di Pekanbaru, Riau belum lama ini. Duljatmono juga memastikan, kendaraan Mitsubishi yang mereka jual tidak memerlukan modifikasi, agar B20 bisa digunakan dengan aman.“Kami enggak memodifikasi mesin, hanya mempersiapkan kendaraan. Contohnya, Colt Diesel kami pasang double filter. Untuk mengantisipasi penggunaan B20,” tuturnya.

https://www.viva.co.id/berita/nasional/1105140-pakai-biodiesel-b20-mesin-tak-perlu-dimodifikasi

Viva | Jum’at, 21 Desember 2018

Mau Pakai Biodiesel B20 Tanpa Masalah, Caranya Gampang Banget

Salah satu hal yang dikeluhkan pengguna bahan bakar diesel jenis baru di Indonesia, adalah soal penyumbatan pada saringannya. BBM tersebut diklaim membuat pemilik kendaraan harus lebih sering mengganti filter. Biodiesel yang dijual di Indonesia saat ini berjenis B20, yang merupakan campuran dari 80 persen minyak bumi dan 20 persen minyak hasil pengolahan kelapa sawit. Ini sesuai dengan aturan pemerintah, yang mulai diberlakukan pada 1 September 2018. Terkait penyumbatan yang terjadi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengatakan, biodiesel B20 memiliki sifat mirip seperti deterjen. Saat berada di dalam tangki bahan bakar, BBM tersebut akan melarutkan kotoran yang menempel di dinding tangki. Kotoran itu kemudian terbawa bersama bahan bakar ke penyaring. Hal itu yang menyebabkan saringan harus diganti lebih awal, saat pemakaian B20 pertama. Menurut Sales and Marketing Director PT Mitsubishi Krama Yudha Tiga Berlian Motors, Duljatmono, hal itu bisa dicegah dengan cara yang mudah. “Pada kondisi tertentu, B20 bisa berubah menjadi pembersih. Itu pada kondisi dingin, BBM berubah menjadi seperti gel,” ujarnya di Pekanbaru, Riau belum lama ini. Untuk mengatasi hal itu, yang perlu dilakukan pemilik sangat sederhana. Mereka hanya harus mengoperasikan kendaraan bermesin diesel itu setiap hari. “Kalau diam enggak diapa-apain, bisa berubah menjadi gel. Kalau lama enggak dipakai, tangki perlu dibersihkan. Tapi kalau tiap hari dipakai, enggak masalah,” tuturnya.

https://www.viva.co.id/berita/nasional/1105137-mau-pakai-biodiesel-b20-tanpa-masalah-caranya-gampang-banget

Detik | Kamis, 20 Desember 2018

ESDM: Tanpa B20, Neraca Dagang Nggak Ada Harapan

Neraca perdagangan Indonesia kembali tekor. Salah satunya karena disebabkan oleh impor migas. Pemerintah sendiri telah menerapkan biodiesel 20% atau B20 untuk menekan impor tersebut. Lalu, apakah B20 kurang efektif menekan lajunya? Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana menerangkan, program B20 salah satunya memang untuk menekan impor. Namun, dia mengaku belum mendapat data terkait dampak penerapan B20. “Kemarin kalau Pak Darmin (Menko Perekonomian) selalu mengingatkan sedikit banyaknya memperbaiki neraca perdagangan, seberapa negatif plusnya saya sendiri belum punya data,” kata dia di kantornya, Kamis (20/12/2018). Meski demikian, dia mengatakan, jika tanpa B20 maka neraca perdagangan bisa tambah buruk. “Bayangkannya gini kalau nggak ada B20 tambah nggak ada harapan,” tambahnya. Lebih lanjut, Rida mengaku penerapan B20 sendiri memang belum optimal. Masalah penyaluran B20 ialah di rantai pasok. “Ini udah jalan kok, cuma tekanan neraca perdagangan secara keseluruhan aja. Nyatanya ini jalan, meskipun kita akui belum optimum karena beberapa penyebab. Kan ada masih ada beberapa titik belum bisa lancar, artinya serapan FAME terganggu gitu aja,” terangnya. Sebagai informasi, neraca dagang secara kumulatif Januari-November defisit US$ 7,52 miliar. Secara kumulatif, defisit disebabkan oleh impor migas.”Defisit terjadi karena migas,”kata Kepala BPS Suhariyanto saat jumpa pers di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (17/12/2018). Untuk November 2018, nilai impor migas tercatat US$ 1,37 miliar. Nilai ini turun 10,75% dibanding bulan sebelumnya.

https://finance.detik.com/energi/d-4352395/esdm-tanpa-b20-neraca-dagang-nggak-ada-harapan

Sindonews | Kamis, 20 Desember 2018

Pemerintah Tingkatkan Penggunaan Sumber Energi Alternatif

Kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri terus meningkat. Pasokan BBM biasanya diusahakan dari produksi dalam negeri maupun impor. Saat ini produksi minyak Indonesia sebesar 775.000 barel per hari, jauh di bawah konsumsi BBM dalam negeri sebesar 1,3 juta barel per hari. Sementara kebutuhan BBM Indonesia pada 2040 diperkirakan mencapai 3,47 juta barel per hari, sedangkan produksi nasional hanya 695.000 barel per hari sehingga dibutuhkan impor 2,77 juta barel per hari. Konsumsi BBM diproyeksikan masih akan terus mendominasi beberapa tahun ke depan, apabila pengembangan energi baru terbarukan (EBT) lamban dilakukan. Berdasarkan data pemerintah, total kebutuhan energi nasional sebesar 1.030 MTOE, sementara pada 2017 bauran energi EBT mencapai 11%. Ketergantungan terhadap impor BBM tentu akan berdampak buruk bagi perekonomian nasional. Dampak impor BBM membuat cadangan devisa tergerus, melemahkan nilai tukar rupiah, dan membuat lemahnya ketahanan energi nasional sehingga berdampak pada krisis energi masa depan.

Guna mengantisipasi itu, pemerintah terus berupaya mengembangkan sumber-sumber energi alternatif sebagai pengganti BBM. Energi alternatif itu, yakni bahan bakar nabati, panas bumi, biomassa, tenaga air, tenaga surya, dan tenaga angin. Bahkan, akhir-akhir ini pemerintah gencar mengembangkan biodiesel sebagai salah satu energi alternatif terbarukan. Biodiesel sangat potensial mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil seperti minyak bumi. Perhatian serius terhadap EBT pun terus ditunjukkan pemerintah. Salah satunya dengan memandatkan pencampuran 20% fatty acid methyl ester (FAME) BBM jenis solar untuk sektor industri dan transportasi. Walaupun pada pelaksanaannya belum optimal. Hal itu ditunjukkan dengan berbagai realitas yang terjadi dalam penyediaan. PT Pertamina (Persero) sebagai penjual biofuel belum mampu melakukan secara optimal di seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) karena terbatasnya pasokan. Realisasi mandatori biodiesel 20% (B20) hingga Oktober 2018 telah mencapai 95%. Realisasi tersebut naik sekitar 10% dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

“Capaian dihitung dari penggunaan B20 PSO (public service obligation ) maupun non-PSO. Tapi yang jelas mampu me ne – kan impor minyak di dalam negeri,” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto di Jakarta, belum lama ini. Hingga kuartal III/2018 penyaluran B20 sudah mencapai 2,53 juta kiloliter (kl) dari target tahun ini sebesar 3,92 juta kl. Rencananya dari 112 titik lokasi terminal bahan bakar minyak (TBBM) bakal dipangkas menjadi 10 titik penerima yang terdiri dari enam kilang Pertamina dan empat tempat eks impor BBM. Pengurangan titik distribusi tersebut mulai diberlakukan paling lambat 1 Januari 2019. Adapun pengurangan titik pengiriman paling banyak untuk wilayah Indonesia Timur. Alasannya, permintaan FAME di wilayah Indonesia Timur dari sisi volume cenderung kecil. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengungkapkan, capaian yang belum optimal karena program baru berjalan pada 1 September 2018 itu masih proses penyesuaian. Namun, pihaknya mengklaim hingga saat ini proses pengiriman sudah berjalan lebih baik. Meski begitu, Paulus tidak menampik ada permasalahan pada pengiriman sehingga harus ada mekanisme klasterisasi. Tak hanya itu, pemerintah juga terus mendorong pengembangan panas bumi. Adapun capaian investasi, khususnya di sektor panas bumi, bisa mencapai target tahun ini sekitar USD1,2 miliar. Pasalnya, banyak investor ingin mengembangkan panas bumi di Indonesia.

https://ekbis.sindonews.com/read/1364454/34/pemerintah-tingkatkan-penggunaan-sumber-energi-alternatif-1545300458

Cnn Indonesia | Kamis, 20 Desember 2018

Uji Jalan Rampung, B20 Tak Hambat Performa Kereta Api

Pemerintah menyatakan penggunaan biodiesel 20 persen (B20) tidak mempengaruhi performa mesin kereta api. Hal itu berdasarkan hasil kajian dan uji jalan (rail test) yang dilakukan selama enam bulan pada Februari-Agustus 2018 dengan jarak tempuh 66 ribu kilometer (km). “Saya tidak kaget. Sudah diduga hasilnya seperti itu. Waktu kami melakukan uji coba terhadap mesin transportasi di darat yang lebih rumit hasilnya tidak bermasalah apalagi mesin kereta api yang lebih tahan banting,” ujar Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Rida Mulyana dalam pemaparan hasil uji jalan penggunaan B20 pada KAI di kantornya, Selasa (20/12). Kajian dan uji jalan penggunaan B20 pada KAI mencakup uji kualitas bahan bakar, uji kinerja mesin lokomotif, uji konsumsi bahan bakar, uji emisi, uji pelumas, dan uji material injektor, hose, dan fuel pump. Perekayasa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) M Taufik Suryantoro, selaku penanggung jawab uji mesin, mengungkapkan keandalan mesin lokomotif yang menggunakan B20 juga relatif sama dengan B0. Dengan catatan, ada konsistensi kualitas bahan bakar serta mengikuti tata cara penanganan dan penyimpanan bahan bakar yang direkomendasikan.

Dalam hal ini, sebelum dilakukan uji coba, tim telah mengganti alat penyaring (filter) dan membersihkan tangki bahan bakar. “Di awal, B20 akan membersihkan tangki dan saluran bahan bakar. Kami sudah bersihkan di awal jadi tidak ada masalah,” ujar Taufik. Selain itu, penggunaan B20 juga terbukti mengurangi emisi. Berdasarkan hasil uji emisi gas buang pada lokomotif PRL/EMD berbahan bakar B20 menunjukkan penurunan NOx dan CO sebesar 10 persen dibanding B0. Kemudian, hasil uji emisi gas buang pada lokomotif GE berbahan bakar B20 juga menunjukkan penurunan NOx sebesar 20 persen dan CO sebesar 10 persen. Penurunan emisi tersebut sejalan dengan target pemerintah yang ingin menekan emisi hingga 29 persen pada 2030. Terkait konsumsi bahan bakar, Taufiq tak memungkiri penggunaan B20 sedikit lebih boros dibandingkan B0. Namun, jumlahnya tak signifikan yaitu hanya berkisar satu hingga dua persen. “Kandungan energi B20 memang berbeda, lebih rendah sekitar dua hingga tiga persen (dibandingkan B0), jadi wajar konsumsinya juga naik satu hingga dua persen,” jelasnya. Direktur Operasi KAI Slamet Suseno mengungkapkan KAI diperkirakan mengkonsumsi sekitar 240 ribu kiloliter (kl) bahan bakar pada tahun ini. Adapun konsumsi B20 selama periode 1 September hingga 17 Oktober 2018 mencapai 5.346 ribu kl.

Tahun depan, konsumsi bahan bakar KAI diperkirakan meningkat menjadi 304 ribu kl. Artinya, dengan kabar 20 persen, total bahan bakar nabati (BBN) jenis fame yang digunakan berkisar 60 ribu kl atau hanya berkisar satu persen dari total kuota fame tahun depan yang mencapai 6,2 juta kl. “Semua lokomotif kami telah menggunakan B20 sesuai ketentuan mandatori,” Penggunaan B20, lanjut Suseno, juga tidak mengubah periode perawatan rutin. Selama ini perawatan dilakukan setiap tiga bulan sekali. Sejak 1 September 2018 seluruh lokomotif yang berjumlah 485 unit telah menggunakan B20. Adapun uji coba dilakukan terhadap 200 unit lokomotif CC 205 dan CC206. Sebagai informasi, kajian dan uji jalan melibatkan sejumlah lembaga pemerintah dan non pemerintah antara lain Kemeterian ESDM, Kementerian Perhubungan, KAI, BPPT, Lemigas, PT Pertamina, ITB, GE, EMD, BPDP Kelapa Sawit, dan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi).

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20181220151112-92-355222/uji-jalan-rampung-b20-tak-hambat-performa-kereta-api

Okezone | Kamis, 20 Desember 2018

Hasil Uji Coba B20 pada Kereta Api, Emisi Berkurang hingga Tak Ganggu Performa Mesin

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI) telah melakukan uji coba penggunaan bahan bakar biodielsel 20% atau B20 pada lokomotif kereta api. Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM pun melaporkan hasil kerja uji selama 6 bulan tersebut, yakni sejak Februari hingga Agustus 2018. Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Rida Muyana menjelaskan, pelaksaan uji coba ini diberlakukan pada 2 jenis lokomotif buatan dari PRL/EMD dan General Electric (GE), yakni lokomotif CC 1106 dan CC 1101. Kedua jenis lokomotif itu masing-masing dibandingkan penggunaanya antara B0 dan B20. Pengujian dilakukan melalui uji kualitas bahan bakar, kinerja engine lokomotif, konsumsi bahan bakar, emisi, pelumnas, hingga material injektor, hose dan fuel pump. Pelaksanaanya dilakukan di tiga lokasi yakni Tanjung Enim, Tiga Gajah dan Tarahan. Sampel uji diambil dari Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM), Tangki Truk, Nosel Pengisian dan Tangki Lokomotif. Kedua lokomotif digunakan untuk menarik kereta batu bara rangkaian panjang (babaranjang) dengan jarak tempuh 58 ribu hingga 62 ribu kilometer.

“Dipilihnya Babaranjang pada kajian ini, dengan pertimbangan beban engine pada lokomotif yang menarik babaranjang merupakan lokomotif dengan beban terberat dibandingkan lokomotif lain yang dimiliki PT KAI,” ujarnya di Kantor Ditjen EBTKE, Jakarta, Kamis (20/12/2018). Hasil pengujian pun dinilai baik karena tak ada masalah pada filter, hose, maupun injektor. Hal ini sekaligus meyakinkan bahan bakar B20 dapat digunakan dengan aman pada lokomotif PT KAI. “Hasilnya oke banget. Tiga faktor yang dilihat yaitu bahan bakar yang dilakukan Lemigas, performance mesin oleh BPPT, dan material karena selama ini ada black campaign agar tak bergulir. Tapi saya enggak kaget bahwa ini hasil bagus. Kereta ini mesinnya lebih tahan banting, jadi bisa menerima B20,” paparnya. Rida juga menjelaskan, dari sisi emisi gas buang yang dihasilkan selama penggunaan B20 di 6 bulan ini, polusi pada kendaraan juga berkurang. Hasil uji coba yang jalan ini juga menunjukkan bahwa keandalan mesin lokomotif yang menggunakan bahan bakar B20 sangat tergantung kepada konsistensi kualitas, tata cara penanganan dan penyimpanan bahan bakar.

“Faktor-faktor tersebut harus dipenuhi sesuai dengan acuan/pedoman resmi yang ada untuk menghindari terjadinya masalah dalam penggunaan bahan bakar B20. Hal ini membuktikan bahwa bahan bakar B20 dapat digunakan dengan aman di lokomotif PT KAI,” katanya. Dia menyatakan, hasil pengujian ini melibatkan banyak pihak, terdiri dari lintas kementerian, perusahaan BUMN, hingga badan usaha penyedia Fame (fatty acid methyl este) atau minyak sawit yang digunakan sebagai campuran solar. Oleh sebab itu, ke depan setiap pihak memang harus mendorong penggunaan B20 sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). “Jadi ini harus dijalankan. Siapa pun yang terkait, termasuk private sector mendukung ini. Kalau ada yang belum siap, ya siapkan. Keberhasilan ini akan lebih berguna kalau ditindaklanjuti. Komitmen harus dijalankan konsisten,” ucap dia.

https://economy.okezone.com/read/2018/12/20/320/1994049/hasil-uji-coba-b20-pada-kereta-api-emisi-berkurang-hingga-tak-ganggu-performa-mesin

Liputan6 | Kamis, 20 Desember 2018

Selesai Uji Coba Kereta Api Pakai Minyak Sawit, Begini Hasilnya

Pemerintah telah menyelesaikan uji pengunaan solar yang dicampur dengan 20 persen biodiesel (B20) pada lokomotif kereta. Hasilnya, transportasi masal tersebut mampu menyerap B20. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM), Rida Mulyana mengatakan,‎ uji coba penggunaan B20 dilakukan dari beberapa aspek yaitu kualitas bahan bakar dilakukan Lemigas, kinerja mesin oleh Badan Pengkajian Pusat Teknologi (BPPT) dan komponen B20. Hasil uji coba tersebut memuaskan, lokomotif mampu menyerap dengan baik B20. “Saya tidak kaget bahwa ini bagus. Kereta yang mesinnya lebih tahan banting rasa rasanya bisa menerima B20‎,” kata Rida, di Jakarta, Kamis (20/12/2018). Rida mengungkapkan, uji penggunaan B20 pada lokomotif ‎dilakukan sejak 10 Februari 2018 hingga 10 Agustus 2018. Ada dua jenis lokomotif yang diujicoba, yaitu Electro Moive Diesel (EMD) dan General Electric (GE). Hasil uji coba pada lokomotif EMD, saat dicampur dengan B20 jauh lebih banyak menggunakan bahan bakar 1 sampai 4 persen, ketimbang‎ menggunakan solar tanpa campuran biodiesel. Sedangkan hasil uji coba pada lokomotif GE tidak ada perubahan. Untuk hasil uji coba emisi pada lokomotif EMD dengan jenis mesin dua langkah atau dua tak, tingkat emisinya tidak mengalami perubahan ketika menggunakan B20 dengan solar tanpa campuran. Sedangkan untuk mesin lokomotif GE dengan jenis mesin empat tak, terjadi penurunan emisi Karbondiogsida (CO2) sebesar 20 persen-30 persen. Namun, di sisi lain peningkatan gas buang jenis Nox, dengan tingkat kenaikan sekitar 20 persen.

https://www.liputan6.com/bisnis/read/3853414/selesai-uji-coba-kereta-api-pakai-minyak-sawit-begini-hasilnya

Bisnis | Kamis, 20 Desember 2018

Hasil Uji Teknis, Biosolar (B20) Aman untuk Mesin Kereta Api

Tim Uji Teknis Kajian dan Uji Jalan Penggunaan B20 pada PT KAI menyatakan uji jalan atau rail test penggunaan campuran biodiesel 20% (B20) pada kereta api selama 6 bulan memberikan hasil yang baik. Hasil uji jalan penggunaan B20 selama 6 bulan pada lokomotif GE dan PRL/EMD telah berhasil dengan baik, tanpa ada masalah pada filter, hose, dan injektor. Hal ini membuktikan bahwa bahan bakar B20 dapat digunakan dengan aman di lokomotif PT KAI. Kualitas bahan bakar B20 juga memenuhi spesifikasi yang ditetapkan pemerintah dan komponen filter lokomotif masih berfungsi dengan baik, yakni sudah memenuhi rekomendasi OEM periode penggantian filter, yaitu selama 3 bulan. “Tidak ada perubahan, tidak ada problem di kerja engine. Tidak ditemukan masalah di filter karena sejak awal dia punya sifat solvent. Awalnya mesin kotor dia akan menguras, bersihkan tangki. Agar filternya sesuai itu harus bersihkan di awal, jaga kualitas bahan bakarnya. Dulu tidak dijaga makanya filternya cepat kotor,” ujar Taufik Suryantoro, Tim Uji Teknis dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, dalam acara Penutupan Uji Jalan dan Sosialisasi Hasil Kajian dan Uji Jalan Penggunaan B20 Pada Kereta Api, Kamis (20/12/2018).

Hasil dari uji jalan ini juga menunjukkan bahwa keandalan mesin lokomotif yang menggunakan B20 sangat tergantung kepada konsistensi kualitas, tata cara penanganan dan penyimpanan bahan bakar. Faktor-faktor tersebut harus dipenuhi sesuai dengan pedoman resmi yang ada untuk menghindari terjadinya masalah dalam penggunaan bahan bakar B20. Rail Test B20 pada kereta api menggunakan 2 unit lokomotif CC205 (PRL/EMD) dan 2 unit lokomotif CC206 (GE) dengan bahan bakar B0 dan B20, yang digunakan untuk menarik kereta batu bara rangkaian panjang (babaranjang) dengan rute Stasiun Tanjung Enim – Stasiun Tiga Gajah – Stasiun Tarahan (PP) yang berjarak ± 800 KM dengan waktu tempuh ± 2,2 hari. Total waktu yang diperlukan adalah 6 bulan dimulai pada 10 Februari 2018. Adapun beberapa rekomendasi untuk penggunaan B20 pada kereta api, antara lain PT KAI (Persero) agar menyiapkan Standard Operation Procedure (SOP) khusus untuk penanganan dan penyimpanan bahan bakar B20 mengacu kepada Buku Pedoman Penanganan dan Penyimpanan bahan bakar B20; KAI, PT Pertamina Patraniaga, dan OEM melaksanakan sosialisasi di internal PT KAI (Persero) terutama kepada operator dan teknisi di lapangan. Kemudian pada awal penggunaan B20 perlu dilakukan audit material compatibility sistem bahan bakar. Hal ini meminimalkan permasalahan pada penggunaan B20 dalam jangka waktu lama. Agar kompatibel dengan B20,Lokomotof GE dianjurkan menggunakan nosel carbon steel karena mempunyai ketangguhan menahan perambatan retak dan rancangan saluran bahan bakarnya streamline sehingga tidak mengakibatkan turbulensi berlebihan pada fuel chamber. Lokomotif GE juga dianjurkan mengganti material hose NBRPVC blend pada sisi supply dengan hose polytetrafluoro ethylene. “Hasil rail test ini saya harap yakinkan betul SOP-nya, misal dari tata penyimpanan, agar tidak terjadi masalah konsistensi kualitas itu perlu juga di PT KAI. Itu jadi cek ulang aja bahan dari Pertamina bahan B20 sesuai spek nggak. Pertamina aja cek ulang dari Aprobi soal FAME,”ujar Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana

https://ekonomi.bisnis.com/read/20181220/44/871781/hasil-uji-teknis-biosolar-b20-aman-untuk-mesin-kereta-api

Detik | Kamis, 20 Desember 2018

Bahan Bakar Kereta Api Pakai B20, Apa Hasilnya?

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama dengan instansi lain telah melakukan uji coba biodiesel 20% atau B20 pada kereta api. Uji coba dilakukan selama 6 bulan dari Februari hingga Agustus 2018. Lantas apa hasilnya? Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana menerangkan, ujicoba ini dilakukan pada 2 unit lokomotif CC205 (PRL/EMD) dan 2 lokomotif CC206 (GE) yang digunakan untuk menarik kereta batu bara dengan rute Tanjung Enim-Tiga Gajah-Tarahan yang berjarak kurang lebih 800 km. Dia menerangkan, dari hasil uji tersebut, bahan bakar B20 sesuai spesifikasi standar yang ditentukan oleh pabrikan lokomotif. “Saya sendiri tidak kaget, sudah diduga, saat menggunakan engine transportasi darat itu juga nggak masalah, logikanya dengan kereta api rasa-rasanya lebih bisa diterima, dengan berbagai metode dan cara memuaskan,” kata dia di kantornya, Jakarta, Kamis (20/12/2018). Uji coba ini melibatkan berbagai instansi lembaga, yakni Kementerian Perhubungan, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, PT KAI (Persero), BPDPKS, BPPT, ITB, PT Pertamina (Persero), Aprobi, GE, dan lain-lain. Untuk konsumsinya, lokomotif PRL/EMD lebih banyak menggunakan bahan bakar sebanyak 2,5% dibanding menggunakan B0. Sementara, untuk lokomotif GE menggunakan bahan bakar lebih banyak 1,1% dibanding B0. Selanjutnya, bahan bakar B20 lebih ramah lingkungan. Hasil uji gas buang PRL/EMD untuk parameter NOx lebih rendah 10% dibanding B0. Lalu, untuk CO lebih rendah 10% dibanding B0. Lalu, untuk lokomotif GE kadar CO-nya lebih rendah 10% dibanding B0. “Saya atas nama pemerintah, Kementerian ESDM mengucapkan terimakasih pada tim,” tutupnya.

https://finance.detik.com/energi/d-4352169/bahan-bakar-kereta-api-pakai-b20-apa-hasilnya

Bisnis | Kamis, 20 Desember 2018

BAURAN ENERGI, Keterlambatan Pasokan FAME B20 Terus Diminimalisir

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) menyatakan sudah semua badan usaha bahan bakar minyak (BU BBM) telah mengirimkan purchase order (PO) kebutuhan Fatty Acid Methyl Esters (FAME), bahan baku B20, untuk pelaksanaan B20 mulai Januari 2019. Kendati pemesanan sudah dilakukan jauh-jauh hari, menurut Ketua Harian Aprobi Paulus Tjakrawan, hal tersebut belum menjamin realisasi B20 mulai 1 Januari 2019 bisa terlaksana tepat waktu 100%. Pasalnya, terdapat penyesuaian mekanisme suplai tahun depan. Untuk mengoptimalkan implementasi perluasan mandatori B20 ke sektor non-PSO, pemerintah memutuskan untuk menyederhanakan titik tujuan penyaluran FAME dari badan usaha bahan bakar nabati (BU BBN) kepada PT Pertamina (Persero) dari 112 titik menjadi 25 titik. Penerapan penyaluran ke 25 titik lokasi tersebut akan efektif diberlakukan mulai 1 Januari 2019. Nantinya, biodiesel yang sudah dicampur di 25 titik tersebut akan didistribusikan sendiri oleh Pertamina ke SPBU-SPBU miliknya. Sehingga BU BBN tak perlu lagi memasok ke 112 fasilitas blending Pertamina yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Pasti ada keterlambatan. Misalnya, di Kertapati sekarang di suplai langsung (BU BBN). Tanggal 31 Desember [pasokan] dia habis, tidak ada suplai. [Suplai tahun depan] dia harus menunggu dari Pajang, di sana kan PO-nya untuk tanggal 1 Januari. Dari Pajang, Pertamina butuh waktu berapa hari untuk angkut suplai ke Kertapati,” ujar Paulus di Jakarta, Kamis (20/12/2018). “Itu memang kalau ada peralihan begitu.” Namun dia yakin setelah sistem penyaluran pada 1 Januari 2019 berjalan, kedepan keterlambatan pasokan FAME tidak akan menjadi kendala. Pihaknya dan semua BU BBM tengah berusaha keras untuk meminimalisir keterlambatan pasokan B20. Di sisi lain, upaya mengejar realisasi B20 sebesar 100% terus dilakukan dengan mempersiapkan floating storage atau tempat penyimpanan mengambang FAME di perairan Balikpapan, Kalimatan Timur dan Tuban, Jawa Timur. Paulus berujar pengadaan floating storage tersebut masih terus didiskusikan. Pihaknya dan Pertamina masih mengkaji secara teknis penyediaan floating storage tersebut. “[Floating storage] ada beberapa ya. Yang di Tuban sedang di cek teknisnya. Kami sedang kajian perundingan teknis bagaimana agar bisa cepat,” katanya. Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Andriah Febby Misna mengatakan bahwa berdasarkan kajian lebih lanjut, 25 titik-titik pusat distribusi FAME ke Pertamina ternyata belum siap sepenuhnya. “Kami upayakan memang 25 titik. Tapi seperti kemarin Tuban nggak bisa makanya kami tambah beberapa titik lagi. Mungkin akan lebih dari 25 titik. Tapi target kami bagimana B20 bisa tersalurkan 100% kan, jadi ketika Tuban nggak bisa, kami kembali ke mekanisme lama karena yang lama sudah lancar,” kata Febby.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20181220/44/871786/bauran-energi-keterlambatan-pasokan-fame-b20-terus-diminimalisir