+62 2129380882 office@aprobi.co.id

RI defends palm oil against EU’s 2030 plan

The Jakarta Post | Jum’at, 15 Februari 2019

RI defends palm oil against EU’s 2030 plan

Indonesia, the world\’s biggest producer, of palm oil, refuses to accept a European Union plan to curb the use of crops that cause deforestation and argues that its higher production yield made it better placed to meet global demand, a senior Indonesian official said. An EU draft due to come into effect after four weeks of public consultation concluded that palm oil cultivation results in deforestation and its usage in transportation fuel should be phased out by 2030. Indonesia intends to challenge the plan, known as RED II, at the World Trade Organization (WTO) on the basis that it does not meet its free trade principles and that the method used to define sustainability unfairly favored European vegetable oils such as sunflower and rapeseed. “The EU wants to position it- self, especially in the current global circumstances, as a defender of free trade but they are acting like this,” said Mahendra Siregar, special staff at the foreign ministry. Siregar said environmental damage was also caused by other vegetable oils, while palm\’s higher production yield made it better placed to meet global vegetable oils demand expected to reach at least 320 million tons by 2025. To meet such demand, soy would require a cultivation area ten times the area required for palm and in the case of rapeseed up to six times, Siregar said.

“In this context, palm oil is the most sustainable,” said Siregar, who is also the executive director of the Council of Palm Oil Producing Countries. Rapid expansion of palm has been blamed for a massive clearance of forests that were home to endangered tigers, orang utans and elephants in the two top producing countries Indonesia and Malaysia. An EU representative in Jakarta has said the group consid- ers RED II to be in line with its WTO obligations and the European Commission will ensure its implementation meets fair and rule-based trade regime. The EU, in its proposal, said that 45 percent of the extra land used for palm oil production since 2008 had previously been forested, compared with 8 percent for rival oil crop soybeans and 1 percent for sunflowers and rapeseed. The EU accounts for around 15 percent of Indonesia\’s 2018 palm oils exports, valued at around US$19 billion, according to the Indonesian Palm Oil Association data. Last year, Indonesian Biodiesel producers resumed exports of palm-based fuel to Europe after the WTO ordered the EU to remove anti-dumping tariffs after challenges by Jakarta. Siregar said Indonesia and Malaysian were backed by ASEAN over the issue during the latest meeting with the EU in Brussels, resulting in a decision to form a joint working group to discuss palm issues.

Tempo | Kamis, 14 Februari 2019

Muba Terus Inovasi Minyak Sawit Jadi BBM

Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin berkomitmen untuk terus mengupayakan kesejahteraan petani sawit rakyat. Salah satunya dengan menggandeng Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit Kelapa Sawit (BPDP-KS), untuk mengelola inti kelapa sawit menjadi menjadi bahan bakar nabati. “Kabupaten Muba sangat cocok untuk nantinya mengolah inti kelapa sawit menjadi bahan bakar nabati karena daerahnya yang dikelilingi perkebunan kelapa sawit. Ini akan menjadi pilot project daerah yang mengolah dan menghasilkan bahan bakar nabati atau biofuel dari inti kelapa sawit,” ujar Dekan Fakultas Teknologi Industri Teknik Kimia ITB Dedi Kurniadi di sela kunjungan Bupati Musi Banyuasin dalam rangka Pertemuan dan Peninjauan Penelitian Pengembangan Biohydrocarbon Berbasis Sawit, Kerja Sama ITB dengan BBPDP-KS, di Kampus ITB, Kamis, 14 Februari 2019. Saat itu, dia didampingi Ketua Program Studi (Prodi) S2 dan S3 Teknik Kimia ITB, IGBN Makertihartha dan Dosen Teknik Kimia ITB Melia Gunawan.

Dijelaskan, pemanfaatan minyak nabati sebagai bahan bakar diharapkan dapat memberikan nilai ekonomi di bidang pertanian. “Pemilihan minyak kelapa sawit sebagai sumber energi alternatif sangat tepat dilakukan di Indonesia. Itu karena Indonesia merupakan negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar kedua di dunia setelah Malaysia,” ucap Dedi Kurniadi. ITB khususnya Prodi Teknik Kimia, menyambut baik langkah dan program terobosan yang akan dilakukan Bupati Muba dalam upaya mengembangkan bahan bakar dari inti kelapa sawit. “Kami sangat siap dan mendukung untuk merealisasikannya. Ini akan menjadi kerja sama yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat khususnya petani sawit rakyat,” tuturnya. Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin menyebutkan, saat ini luas lahan kebun sawit milik rakyat yang telah tertanam dan akan ditanam seluas 8.124 hektare. Itu dilaksanakan oleh 12 koperasi. Sedang yang dalam tahap proses usulan tahun 2019-2020 adalah seluas 5.360 hektare, dan hingga 2022, peremajaan kelapa sawit di Muba mencapai 42 ribu hektare. “Saat ini Pemkab Muba sedang menuju pembuatan bio fuel yang berbasis sawit. Muba dengan memiliki potensi kelapa sawit yang cukup luas berkeinginan untuk melakukan transformasi industri sawit, sehingga akan bisa mendongkrak haga jual TBS kelapa sawit pekebun. Oleh sebab itu, kehadiran kami ke ITB ini untuk bekerja sama dalam merealisasikan terobosan inovasi energi terbarukan bio fuel ini,” ujarnya.

Dodi menyebutkan, upaya tersebut juga berangkat dari keseriusan Koperasi Unit Desa (KUD) yang ada di Muba, yang terus gencar dan mendukung menyukseskan replanting perkebunan sawit. Terlebih pada Desember 2018 lalu, KUD di Muba juga mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pertanian karena dinilai sukses sebagai pilot project peremajaan sawit di lahan seluas 4.446 hektare. “Dukungan banyak pihak dan khususnya petani sawit rakyat, ini yang membuat kami terus semangat untuk terus mencari dan mengembangkan inovasi baru untuk kelapa sawit,” ucapnya. Dodi menambahkan, upaya pembenahan tersebut diharapkan mampu menyentuh kebutuhan pokok pekebun sawit untuk memperjuangkan terwujudnya pekebun sawit yang sejahtera, mandiri, berdaulat dan berkelanjutan. “Kita juga nantinya berencana akan membangun mini refinery untuk penampungan sementara. Dan sebagai langkah awal, produksi turunan dari tandan buah segar itu akan dikirim ke kilang minyak milik PT. Pertamina di Plaju, Palembang,” tuturnya.

Mantan anggota DPR RI dua periode ini juga menambahkan, setelah berjalan, nantinya di tahap awal dirinya akan mewajibkan seluruh kendaraan dinas di lingkungan Pemkab Muba menggunakan bahan bakar atau biofuel tersebut untuk operasional. “Dalam waktu dekat MoU akan segera kita lakukan bersama ITB dan BPDP-KS untuk segera merealisasikan ini. Dan nantinya, tahap awal, kendaraan dinas di Pemkab Muba wajib pakai bio fuel Muba ini sebagai wujud implementasi pemanfaatan energi terbarukan dan sustanaible atau berkelanjutan,” kata Dodi. Pada kesempatan tersebut, Bupati Muba Dodi Reza turut didampingi Kepala Bapeda Zukfakar, Kadisperindag Zainal Arifin, Plt Kepala DPMPTSP Erdian Syahri, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Andi Wijaya Busro, Kepala Dinas Perkebunan Iskandar Syahrianto, Kabag Humas Herryandi Sinulingga AP, dan Plt Kabag Protokol Rangga Perdana Putra. Turut hadir juga Kepala Divisi Pengembangan Biodiesel BPDP-KS Muhammad Ferian.

https://nasional.tempo.co/read/1175728/muba-terus-inovasi-minyak-sawit-jadi-bbm/full&view=ok

Bisnis | Kamis, 14 Februari 2019

CPO Kebun Peremajaan Musi Banyuasin Potensial Menyuplai B100

Kelapa sawit dari kebun peremajaan di Kabupaten Musi Banyuasin Sumatra Selatan ditargetkan menjadi bahan baku utama Biosolar hingga B100 atau solar dengan kandungan minyak 100% kelapa sawit. Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex mengatakan hasil minyak sawit mentah (CPO) dari kebun muda dan pemanfaatan produksi gas ini akan dijadikan Biosolar dalam upaya menaikkan harga sawit petani rakyat. “Muba merupakan daerah pertama di Sumsel yang mendapat program Peremajaan Sawit Rakyat [PSR] dari pusat. Oleh karena itu kami merintis suplai CPO hasil replanting kelapa sawit untuk green energy Biosolar,” katanya, Kamis (14/2/2019). Dodi menegaskan bahwa kabupaten sentra kelapa sawit itu berhasil meremajakan sawit rakyat seluas 7.500 hektar sejak 2017. Sementara tahun ini, pihaknya sudah mengajukan replanting lagi seluas 5.000 ha sehingga total mencapai 12.500 ha. “Kami juga berpotensi menghasilkan Biosolar hingga B100 dari replanting kelapa sawit, dan mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah pusat, jadi kita tidak lagi berbicara B20, tapi sudah memikirkan energi terbarukan dan kebutuhan masa depan,” paparnya. Diketahui, pemerintah meminta segera menerapkan mandatori Biodiesel 30% (B30) sebagai salah satu lagkah untuk mengatasi tekanan ekonomi global. Target produksi Biosolar pada 2018 mencapai 3,5 juta kiloliter dengan kapasitas terpasang 11,6 juta kiloliter. Dia melanjutkan jika kegiatan CPO menjadi Biosolar terwujud akan meningkatkan pendapatan petani sawit dari nilai tambah produk. Untuk mewujudkan upaya itupula, dalam waktu tak lama Muba segera merealisasikan Verified Source Area (VSA). Penerapan VSA selain efektif juga menguntungkan. Sebab sistem ini memastikan semua komoditas sawit dan karet dari Muba terverikasi nantinya sehingga penyelenggaraan atau klaim produk tak akan terjadi. “Artinya tidak bisa lagi pihak dari luar menyerang isu deforestasi dari hasil komoditas sawit,” katanya.

https://sumatra.bisnis.com/read/20190214/534/888798/cpo-kebun-peremajaan-musi-banyuasin-potensial-menyuplai-b100