+62 2129380882 office@aprobi.co.id

RI Ingin Tingkatkan Ekspor Sawit ke Italia

Investor Daily Indoensia | Rabu, 22 Januari 2020

RI Ingin Tingkatkan Ekspor Sawit ke Italia

Indonesia dan Italia berkomitmen untuk memperkuat kerja sama dan promosi pertanian, salah satunya ekspor minyak sawit. Produk sawit digunakan dalam industri makanan dan sebagai ba-han biodiesel di Italia, sedangkan ekspor sawit Indonesia ke Italia mencapai US$ 570 juta atau sekitar 29% dari total ekspor Indonesia ke Italia setiap tahunnya. Komitmen Indonesia dan Italia itu ditandai penandatanganan nota kesepakatan (MoU) antara Kementerian Pertanian RI dengan Kementerian Pertanian, Pangan, dan Kehutanan Republik Italia di Roma pada 20 Januari 2020. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) berkunjung ke Roma, Italia, dalam rangka kunjungan kerja dan membidik kerja sama pertanian. Kerja sama yang diinginkan adalah budidaya, mekanisme pertanian, pengelolaan sumber daya air, pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM).

SYL bersama Menteri Pertanian, Pangan, dan Kehutanan Italia Teresa Bellanova juga membahas isu bilateral terutama terkait peningkatan nilai perdagangan dan investasi bidang pertanian. Keunggulan komoditas pertanian Indonesia seperti karet, sawit, buah tropis, teh dan rempah rempah sudah tidak diragukan lagi dan Italia bisa memanfaatkan potensinya. SYL juga mengundang investasi Italia di sektor pertanian dan peternakan di Indonesia. “Produk Indonesia sudah memenuhi standar Uni Eropa (UE) sehingga bisa masuk ke pasar Eropa,” ujar SYL dalam keterangannya. SYL juga menegaskan bahwa sektor pertanian Indonesia telah menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) dan dikelola dengan berkelanjutan. Kedua menteri juga membahas ekspor sawit Indonesia, perlu diketahui produk sawit digunakan dalam industri makanan dan sebagai bahan biodiesel di Italia. Menurut data, ekspor sawit Indonesia ke Italia mencapai US$ 570 juta atau 29% dari total ekspor Indonesia ke Italia. Menteri Bellanova mengatakan pihaknya menerima penjelasan bahwa perkebunan sawit berperan dalam membuka lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan. Duta Besar Indonesia untuk Italia Esti Andayani menuturkan, penandatanganan MoU akan semakin memperkuat hubungan kedua negara dan dapat mendorong pembangunan sektor pertanian Indonesia. MoU tersebut akan mempermudah pelaksanaan dan pertukaran informasi pertanian, pelatihan untuk peningkatan kapasitas serta penyelenggaraan joint research. Indonesia da Italia sudah menjalin hubungan bilateral sejak 1959 dan merayakan 70 tahun hubungan diplomatik pada 2019. Italia adalah mitra dagang terbesar ketiga bagi Indonesia di antara negara negara UE, selama periode Januari-November 2019 nilai perdagangan kedua negara mencapai US$ 3,17 miliar,

Makassar Tribunnews | Selasa, 21 Januari 2020
Ditemui Tim USAID, Wagub Sulsel Tawarkan Kerjasama di Sektor Energi Terbarukan

Direktur Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) Ryan Washburn, menemui Wakil Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman di Kantor Gubernur Sulsel, Jl Urip Sumoharjo, Makassar, Selasa (21/1/2020). a mengatakan Sulawesi Selatan merupakan bagian penting dari kemitraan strategis USAID sebagai lembaga independen dibidang kemanusiaan, ekonomi dan pendidikan. Menurut dia, selama lima tahun terakhir, USAID telah bekerja dengan Provinsi Sulawesi Selatan untuk memperkuat perencanaan dan pembiayaan. Juga pelaksanaan solusi pembangunan yang meningkatkan pengelolaan sumber daya kelautan, memperkuat perawatan kesehatan ibu dan anak. Serta menghentikan penyebaran penyakit infeksi, dan meningkatkan akses energi, layanan air bersih, dan sanitasi. “Di Sulawesi Selatan kami akan mengunjungi beberapa lokasi kerja kami dan melihat langsung keberhasilan yang telah kita raih bersama,” ujarnya. Selin itu, tujuan lain dari kunjungan Ryan juga tak lain untuk memastikan bahwa kegiatan USAID selaras dengan prioritas pembangunan Indonesia.

“Pemerintah Amerika serikat berkomitmen untuk terus bekerja sama dengan pemerintah dan masyarakat Sulawesi Selatan,” paparnya. Sementara itu, Wagub Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, mengatakan bahwa Pemprov Sulsel mengapresiasi upaya – upaya yang dilakukan USAID dalam mewujudkan program kemasyarakatan di Sulsel. Selain itu dia juga mamaparkan rencana strategis mengenai energi terbarukan, masalah sanitasi yang sedang dikaji Pemprov Sulsel. “Tentu kita meminta segala yang bermanfaat untuk masyarakat kita, kemudian bisa terus bekerja sama dengan Pemrov dalam bentuk program jangka pendek maupun jangka panjang, sehingga terjalin komunikasi, apa yang bisa USAID intervensi dan Pemprov Intervensi,” jelas Andi Sudirman. Ia pun berharap kontribusi dari USAID bisa membantu masyarakat di Sulawesi Selatan, untuk bagaimana hidup lebih baik.

https://makassar.tribunnews.com/2020/01/21/ditemui-tim-usaid-wagub-sulsel-tawarkan-kerjasama-di-sektor-energi-terbarukan?page=2

Indo Premier | Selasa, 21 Januari 2020
Perpres Tentang EBT Tak Terlalu Terdampak Terhadap INCO

Rencana penerbitan Peraturan Presiden (Perpres) tentang harga jual listrik dari pembangkit energi baru terbarukan (EBT) ternyata tidak terlalu terdampak terhadap PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Menurut alasan Head of Investor Relations & Treasury INCO, Adi Susatio, INCO mengelola PLTA untuk kepentingan bisnis operasional perusahaan itu sendiri. Wajar apabila perusahaan ini tidak terlalu terpengaruh keberadaan kebijakan baru dari pemerintah. Meski perseroan memiliki beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Air ( PLTA ) INCO mengelola tiga PLTA yang meliputi PLTA Larona, PLTA Balambano, dan PLTA Karebbe. PLTA Larona sudah berdiri sejak 1979 dan memproduksi listrik rata-rata sebesar 165 megawatt (MW). PLTA Balambano berdiri pada 1995 dan memiliki kapasitas sebesar 110 MW. Adapun PLTA Karebbe dibangun pada 2011 dengan kapasitas sebesar 90 MW. Ketiga PLTA ini berfungsi sebagai pemasok listrik untuk mengoperasikan furnace atau pengolahan bijih nikel milik INCO di Sorowako.

Adi menyebut, keberadaan PLTA sangat berpengaruh terhadap biaya dan pengurangan gas emisi. Biaya EBT dari PLTA pun dinilai jauh lebih murah dibandingkan dengan mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Disel ( PLTD ). “Gas emisi bisa berkurang dengan memaksimalkan penggunaan PLTA ,” ujarnya seperti Kontan, Selasa (21/1). Saat ini, INCO sedang melakukan studi untuk mencari sumber EBT yang baru guna mendukung target produksi sebanyak 90.000 ton nikel dalam matte. Adi belum bisa mengungkapkan nilai investasi yang dibutuhkan INCO untuk kegiatan tersebut. Sebab, INCO masih menimbang beberapa opsi sumber energi terbarukan yang akan dimanfaatkan oleh perusahaan. Misalnya, tenaga surya, air, pemanfaatan energi panas, hingga program konservasi energi. “Harapan ke depan, semua terfokus pada penggunaan energi baru terbarukan,” ungkapnya.
https://www.indopremier.com/ipotnews/newsDetail.php?jdl=Perpres_Tentang_EBT_Tak_Terlalu_Terdampak_Terhadap_INCO&news_id=365521&group_news=RESEARCHNEWS&taging_subtype=PG002&name=&search=y_general&q=,&halaman=1