+62 2129380882 office@aprobi.co.id

RI Mulai Setop Impor Solar, Amankah Pasokan B20?

CNBC Indonesia | Minggu, 12 Mei 2019

RI Mulai Setop Impor Solar, Amankah Pasokan B20?

Pemerintah mengklaim, produksi solar dalam negeri sudah cukup memenuhi kebutuhan domestik sehingga tidak perlu lagi mengimpor. Pekan lalu, Menteri Koordinator bidang Perekonomian mengungkapkan mulai bulan Mei 2019 Pertamina sudah tidak perlu lagi mengimpor solar, yang selama ini membebani defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD). “Kita memang masih dibebani dengan defisit yang agak besar di sektor migas. Sebetulnya mulai bulan depan migas itu, terutama avtur sama solar kita tak akan impor lagi,” kata Darmin di kantornya, Jumat (10/5/2019). “Kita mau pakai produk kita di dalam negeri yang diolah di sini. Mulai Mei ini sudah mulai [stop impor],” tegas Menko. Ditemui secara terpisah, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Djoko Siswanto juga menegaskan hal yang sama. Penghentian impor solar menurutnya disebabkan program B20 yang berjalan dengan baik. Lantas, sudah seberapa besar penyaluran bauran Bahan Bakar Nabati (BBN/biodiesel) berbasis minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) sebanyak 20% yang sejak 1 September tahun lalu digalakkan pemerintah?

Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengungkapkan, sepanjang kuartal I 2019 ini, biodiesel yang telah tersalurkan sekitar 1,5 juta kilo liter (KL) dengan target hingga akhir tahun mencapai 6,2 juta KL. “Itu adalah perencanaannya, bisa lebih atau kurang tergantung dari pemakaian solar mendatang,” kata Paulus kepada CNBC Indonesia, Minggu (12/5/2019). Pemerintah mencatat, terhitung sejak Januari hingga 22 April 2019, serapan biodiesel telah mencapai kisaran 1,74 juta KL. “Itu sekitar 28% dari target yang sebesar 6,2 juta KL,” ujar Direktur Bioenergi, Ditjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Feby Andriah kepada CNBC Indonesia pekan lalu.

https://www.cnbcindonesia.com/news/20190512201423-4-71958/ri-mulai-setop-impor-solar-amankah-pasokan-b20

Republika | Minggu, 12 Mei 2019

Pakar: Optimalkan Olahan Sawit Jadi Solar dan Avtur

Pakar ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi menilai, langkah pemerintah menghentikan impor bahan bakar minyak jenis solar dan avtur cukup positif. Menurut Fahmy, langkah itu bisa dicapai dengan memaksimalkan pengolahan biodiesel 100 (B-100) dari minyak sawit menjadi solar dan avtur. “Saya kira ini sangat bagus untuk memperkuat Kementerian ESDM dan Pertamina untuk menurunkan impor solar dan avtur yang besar,” kata Fahmy kepada Republika.co.id, Ahad (12/5). Fahmy melanjutkan, pengolahan minyak sawit menjadi solar dan avtur bukan suatu hal yang mustahil untuk saat ini. Sebab, pada Januari lalu, Pertamina telah menandatangani kerja sama dengan perusahaan energi asal Italia untuk pengolahan minyak sawit menjadi bahan bakar minyak (BBM). Kerja sama tersebut, dikatakan Fahmy, harus benar-benar dimanfaatkan kedua perusahaan agar keinginan dari masing-masing negara dapat tercapai. Di sisi lain, pengolahan sawit menjadi BBM dalam jangka menengah akan meningkatkan permintaan, sehingga diyakini meningkatkan harga sawit dan menggairahkan petani perkebunan sawit.

“Harus ada kebijakan domestic market obligation (DMO) khusus sawit. Ini untuk memastikan produksi sawit bagi dalam negeri sekaligus harga yang ditetapkan,” ujarnya. Sementara itu, untuk pengolahan solar dan avtur dari minyak mentah yang dihasilkan perusahaan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), dinilai bakal menguntungkan Pertamina dan KKKS. Kendati penjualan minyak mentah KKKS ke dalam negeri dikenakan pajak penjualan, hal itu akan lebih murah ketimbang harus mengeluarkan biaya ekspor. Hanya saja, permasalahan terjadi pada kecukupan minyak mentah dari KKKS untuk memenuhi permintaan solar dan avtur dalam negeri. Sekaligus, tingkat kemampuan dari kilang-kilang yang dimiliki Pertamina saat ini. “Tapi saya kira itu sudah dihitung untuk kebutuhannya. Optimalisasi pembelian minyak mentah oleh Pertamina kepada KKKS saya rasa lebih banyak mutual benefit-nya,” kata dia.

https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/pertanian/19/05/12/pre8vc416-pakar-optimalkan-olahan-sawit-jadi-solar-dan-avtur

Republika | Sabtu, 11 Mei 2019

Pemerintah Setop Impor Solar dan Avtur

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, pemerintah akan menghentikan impor solar dan avtur mulai Juni 2019. Kebijakan tersebut dilakukan agar defisit transaksi berjalan (current account deficit/ CAD) tidak makin melebar. Darmin mengatakan, sebagai gantinya, pengolahan minyak dalam negeri menjadi avtur dan solar akan dimaksimalkan. “Menurut Pertamina dan (Kementerian) ESDM, nanti sudah tidak impor (avtur dan solar) bulan depan,” ujarnya ketika ditemui di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (10/5). Terkait rencana penghentian impor avtur dan solar, Darmin memastikan, kebutuhan domestik tidak akan terganggu. Mantan gubernur Bank Indonesia itu mengatakan, Pertamina sudah melakukan persiapan. “Pertamina menjelaskan kepada kami, mereka akan cukup memenuhi kebutuhan domestik, jadi tidak terganggu,” tuturnya. Darmin menambahkan, proses pengolahan minyak hasil dalam negeri yang dimulai pada bulan ini akan terasa efeknya pada Juni. Dia memproyeksikan hal itu akan membantu penurunan impor migas dan memperbaiki CAD.

Sementara itu, Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menjelaskan, pemerintah sudah mengimbau para pelaku industri untuk bisa memakai solar dalam negeri guna menekan angka impor. Arcandra memastikan, Pertamina mampu memenuhi kebutuhan solaf tersebut. “Sebisa mungkin, solar yang diproduksi oleh Pertamina itu digunakan atau dibeli oleh industri di dalam negeri,” ujar Arcandra di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, pada Jumat (10/5). Arcandra menjelaskan, kebijakan ini sudah menjadi salah satu kesepakatan pemerintah untuk bisa menekan angka impor solar. Salah satu caranya, kata Arcandra, Pertamina akan menyerap minyak mentah produksi KKKS langsung dan mengolahnya ke kilang. “Itu makanya kebijakan kita beli dari dalam negeri. Jadi, bisa menekan angka impor. Pengolahannya langsung di kilang Pertamina,” ujar Ar- candra. Selain itu, kata Arcandra, untuk bisa menekan angka impor solar adalah dengan implementasi wajib biodiesel 20 persen (B20). Menurut Arcandra, dengan kebijakan tersebut sekitar 20 persen dari penggunaan solar sudah digantikan dengan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) atau ba-han baku biodiesel. “Ya, tentunya dari B20 itu pasti berkurang kebutuhan solar kita,” ujar Arcandra.

Bank Indonesia (BI) mengumumkan, CAD pada kuartal 12019 sebesar 6,97 miliar dolar AS atau setara 2,6 persen terhadap PDB. Angka itu turun dibandingkan CAD pada kuartal IV 2018 yang menembus 9,22 miliar dolar AS. Tapi, kondisi CAD kuartal I 2019 lebih tinggi dibandingkan CAD kuartal 12018 sebesar 5,2 miliar dolar AS. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko mengatakan, penurunan CAD, terutama karena peningkatan surplus neraca perdagangan barang. Surplus neraca perdagangan nonmigas tercatat meningkat dan terjadi perbaikan defisit neraca perdagangan migas. Hal ini dipengaruhi penurunan impor yang lebih tajam dibandingkan penurunan ekspor. “Ini sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk melakukan pengendalian impor beberapa komoditas tertentu yang diterapkan sejak akhir 2018,” katanya. Transaksi modal dan finansial pada kuartal I 2019 mencatat surplus sebesar 10,1 miliar dolar AS. Hal ini, kata Onny, mencerminkan optimisme investor terhadap prospek perekonomian domestik. Selain itu, berkurangnya risiko ketidakpastian di pasar keuangan global turut menjadi faktor pendorong aliran masuk modal asing dalam bentuk investasi langsung dan investasi portofolio. Secara keseluruhan, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal 12019 mencatatkan surplus sebesar 2,4 miliar dolar AS. Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir Maret 2019 menjadi sebesar 124,5 miliar dolar AS. Jumlah cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,8 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah. Angka itu juga masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Ke depan, kinerja NPI dierkira-kan membaik dan dapat terus menopang ketahanan sektor eksternal. Pemerintah menargetkan defisit transaksi berjalan menurun hingga menuju kisaran 2,5 persen dari PDB pada 2019.

Koran Jakarta | Sabtu, 11 Mei 2019

Komponen Minyak Kayu Putih untuk Biofuel

Analisis genetik dari 480 tanaman eucalyptus (eukaliptus) yang dilaku­kan oleh para peneliti di Michigan Technological University, mampu memberikan petunjuk un­tuk memodifikasi kultivar tanaman eukaliptus untuk hasil yang lebih besar, baik untuk minyak esensial atau bahan bakar jet. Carsten Külheim, profesor di Se­kolah Sumberdaya Hutan dan Ilmu Lingkungan Michigan Technological Univeristy ini telah menghabiskan 10 tahun terakhir dalam karir pene­litianya untuk mempelajari tanaman eukaliptus. Eukaliptus merupakan tanaman yang sangat beragam, spesies yang tumbuh dengan cepat yang menca­kup semak belukar dan pohon ber­bunga setinggi 300 kaki ini sebagian besar berasal dari Australia, tetapi juga New Guinea dan Indonesia. Secara khusus, Külheim mem­pelajari terpene, senyawa organik yang ditemukan di daun tanaman. Terpene memungkinkan spesies ter­tentu (kebanyakan tanaman, tetapi juga beberapa serangga) menghasil­kan dan mengeluarkan bau kuat un­tuk menghalangi hama atau menarik penyerbuk. Misalnya, pada hop.

Bahan utama dalam bir, mengan­dung terpene, yang memberikan aroma pinus pada hop. Varietas tertentu kayu putih dan pohon teh juga menghasilkan terpene dalam jumlah besar, yang dapat digunakan untuk minyak atsiri atau penyulin­gan biofuel. Dikatakan bahwa Blue Moun­tains Australia mengambil nama mereka dari pohon eucalyptus yang menyerupai kabut asap, khususnya pada hari-hari yang panas; kabut ini terdiri dari terpene yang menguap dalam panas. Külheim dan rekan-rekan penelitinya ingin tahu tentang tingkat genetik, yang menyebabkan produksi sekitar 50 terpene berbeda sehingga mereka dapat menghidupkannya untuk menggunakan minyak sebagai bahan bakar terbarukan. Dalam artikel “Kepadatan pen­anda tinggi, GWAS memberikan wawasan baru tentang arsitektur genom hasil minyak terpene di Eucalyptus” dalam jurnal Phytolo­gist, Külheim dan rekan penulisnya menyelidiki dasar variasi genetik dalam hasil minyak di mallee biru, eukaliptus asli dari Australia. Ini akan memungkinkan domes­tikasi yang lebih cepat dan lebih efisien, membuat produksi bahan bakar terbarukan dari perkebunan kayu putih lebih layak. Salah satu alasan minat pada minyak kayu putih adalah karena bioetanol (biasanya dibuat dari jagung) dan biodiesel (biasanya dibuat dengan minyak nabati dan kedelai) tidak memiliki kepadatan energi yang cukup untuk berguna bagi industri penerbangan.

Minyak kayu putih, ba­gaimanapun, dapat dikonversi men­jadi biofuel berenergi tinggi yang dapat digunakan untuk bahan bakar jet dan bahkan bahan bakar rudal taktis (JP-10). Namun, banyak eukaliptus saat ini belum didomestikasi dan sangat bervariasi dalam hasil minyaknya. Menggunakan studi asosiasi ge­nome-wide (GWAS), Külheim telah mengidentifikasi gen yang mengha­silkan komponen minyak kayu putih yang dapat digunakan untuk bahan bakar jet, dan aspek-aspek yang dapat digunakan untuk produksi biodiesel. “Ini memungkinkan kami me­milih pohon yang sebagian besar menghasilkan komponen minyak bermanfaat untuk keperluan kami; kami dapat menggunakan biotekno­logi untuk menghilangkan gen un­tuk komponen yang tidak diinginkan atau meningkatkan yang diingin­kan,” kata Külheim. Kulheim berharap , nantinya temuanya ini dapat memberi infor­masi kepada para petani eucalyptus untuk memilih pohon pada tahap awal melalui penanda genetik yang ada dalam pertumbuhan mereka, untuk bisa memproduksi terpene yang lebih tinggi. Dengan memilih untuk mena­nam pohon baru dari produsen terpene daya tinggi, petani dapat menciptakan generasi baru dari tanaman yang secara alami yang menghasilkan lebih banyak minyak. Tetapi di luar skema minyak kayu putih untuk bahan bakar nabati dan industri kecantikan dan kesehatan, spesies ini juga dapat membuktikan tanaman komersial yang sangat baik bagi petani di daerah kering. Pohon-pohon tumbuh dengan baik di daerah yang panas dan kering, tidak perlu diairi, dan dengan demikian tidak bersaing dengan produksi pangan di lahan yang subur.

http://www.koran-jakarta.com/komponen-minyak-kayu-putih-untuk-biofuel/