+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Sawit Layu, Malaysia Genjot Biodiesel

Bisnis Indonesia | Selasa, 26 Februari 2019

Sawit Layu, Malaysia Genjot Biodiesel

Malaysia membidik penggunaan minyak kelapa sawit dalam biodiesel yang digunakan untuk sektor transportasi menjadi 20%. Mengutip Bloomberg, Senin (25/2). cara itu ditempuh oleh Malaysia yang tengah berupaya untuk memotong rekor stok dan meningkatkan harga komoditas tersebut. Persediaan minyak sawit Malaysia dilaporkan turun menjadi 3 juta ton pada Januari. Namun, hal itu masih mendekati capaian tertinggi selama dua dekade, 3,22 juta ton yang tercatat pada bulan sebelumnya. Peningkatan jumlah minyak sawit ini dimandatkan dalam biodesel dikenal sebagai B20 untuk transportasi. Adapun BIO untuk penggunaan industri. Penggunaan sawit dalam biodesel tersebut diyakini dapat mengangkat penggunaan minyak nabati dalam biofuel menjadi 1,3 juta ton per tahun. Selain itu, Malaysia juga akan meningkatkan kandungan minyak kelapa sawit dalam biofuel untuk sektor industri menjadi 10% tahun depan dari kuota 7% yang diluncurkan Juli ini. Sementara, harga kelapa sawit justin tersungkur di zona merah pada penutupan perdagangan, Senin (25/2).

Merujuk data Bloomberg, harga minyak kelapa sawit kontrak pengiriman Mei 2019 di Bursa Derivatif Malaysia berakhir tuam 1,95% atau 44,00 poin menjadi 2.213 ringgit per ton. Penurunan ini pun menjadi yang terendah sejak November tahun lalu. Pelemahan tersebut terjadi di tengah spekulasi Malaysia akan menghadapi persaingan ketat dari Indonesia untuk merebut pasar India. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita membujuk India agar mau menurunkan bea masuk minyak kelapa sawit olahan dari Indonesia. Sebab, India masih mengenakan tarif 50% kepada Indonesia, lebih tinggi 5% dibandingkan dengan Malaysia. David Ng, analis di Philip Futures, Kuala Lumpur, mengatakan, langkah Indonesia itu berpotensi membatasi permintaan untuk pasokan sawit Malaysia. Selain itu, pasar sawit juga dihantui oleh perlambatan permintaan dunia.

Rakyat Merdeka | Selasa, 26 Februari 2019

PTPN III Dukung Ketahanan Energi

PT Perkebunan Nusantara III atau PTPN Holding menargetkan produksi Crude Palm Oil (CPO) mencapai 23 juta ton paJa tahun ini. Sebanyak 12 juta ton bakal disisihkan buat program biodiesel 20 persen (B20). Direktur Utama PTPN III Dolly P Pulungan mengatakan, PTPN komitmen untuk mendukung ketahanan energi melalui program B20. “Langkah ini dilakukan dengan memaksimalkan sinergi dengan BUMN bidang energi,” kata Dolly di Jakarta, kemarin. Sedangkan sisanya sebesar 1,1 juta ton akan dimaksimalkan dalam perdagangan internasional. Selain menambah pendapatan perseroan, hasil ekspor juga akan menambah pundi-pundi devisa negara. Tidak hanya CPO, Dolly mengatakan, perseroan juga serius menggenjot produksi teh, karet, kakao, gula, dan kopi. Dengan begitu, hilirisasi industri berbahan baku komoditas strategis bakal terus didorong agar berkontribusi terhadap perekonomian negara. Rencana jangka panjangnya, PTPN bisa memberikan kontribusi Rp 80 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di 2022. Proses transformasi ke sektor hilir, perseroan akan memanfaatkan penerapan teknologi, pengembangan riset, serta inovasi industri 4.0.

“Kami yakin akan menghasilkan kinerja keuangan yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kesejahteraan karyawan dan perekonomian masyarakat di sekitar perkebunan .”cetusnya. Sebagai informasi, perseroan saat ini memiliki luas areal lahan sekitar 1,1 juta hektare (ha) yang tersebar di pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan Sulawesi. Secara keseluruhan. lahan yang sudah bersertifikat Hak Guna Usaha (HGU) seluas 1 juta ha dan Hak Pengelolaan Lahan (HPL) sekitar4.300 ha. Jumlah karyawan PTPN tercatat mencapai 115 ribu orang. Sebelumnya, Menteri BUMN Rini Soemarno menyatakan, transformasi yang sedang berjalan harus bisa mendorong perseroan menjadi Indonesia Modern Agriculture Company. Salah satu upaya yang dilakukan dengan memperkuat keuangan, menerapkan teknologi modern dan efisien, meningkatkan riset dan pengembangan, serta mendorong terjadinya inovasi bisnis lain. Termasuk menjalin kerja sama strategis dengan BUMN dan swasta. Rini menerangkan, transformasi dilakukan dengan beberapa langkah utama yang berfokus kepada komoditas perkebunan strategis nasional seperti kelapa sawit, karet, gula, teh, kopi dan kokoa. PTPN juga sedang mengembangkan industri hilir yang berbasis komoditas utama dan berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan nasional seperti minyak goreng dan biofuel/green diesel. Langkah lainnya, PTPN terus meningkatkan produktivitas melalui penerapan Industri 4.0 di operasional perusahaan. Kemudian menjalankan praktik-praktik operasional perkebunan yang berkelanjutan, hingga meningkatkan eskpor produk perkebunan yang berkualitas kepada pangsa pasar regional dan global.

Bangka.tribunnews | Senin, 25 Februari 2019

Rudianto Tjen Dukung Program B20, Solusi Meningkatkan Produksi Petani Sawit di Bangka Belitung

Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Dapil Bangka Belitung (Babel), Rudianto Tjen, mengatakan bahwa saat ini pemerintah pusat sedang mengusahakan alternatif bahan bakar nabati (Biodiesel) melalui olahan kelapa sawit. Hal tersebut, merupakan kebijakan yang sudah dicanangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang disebut dengan program Biodiesel 20% (B20). Dikatakan Rudi, bahwa program tersebut adalah upaya meningkatkan produktivitas petani kelapa sawit di Indonesia, termasuk Babel. “Minyak sawit ini sekarang sedang diusahakan oleh pemerintah untuk membikin solar (Biodiesel), Seperti untuk minyak solar mobil, minyak solar mesin-mesin,” kata Rudianto Tjen, Minggu (24/2). “Supaya melalui program tersebut, kita bisa meningkatkan produktivitas hasil petani-petani kelapa sawit kita,” sambungnya. Politisi PDI Perjuangan itu menjelaskan, bahwa saat ini program tersebut sudah berjalan di beberapa daerah. Akan tetapi, untuk Babel dikatakan Rudi, belum memungkinkan untuk mengolah minyak sawit tersebut menjadi biodiesel.

“Dan sekarang sudah di beberapa daerah di Sumatera, yang punya cadangan sawit yang cukup sekarang ini sudah dibikin solar (Biodiesel), dan memang di Bangka ini sampai hari ini kita belum punya kemampuan untuk membuat minyak sawit itu menjadi solar (Biodiesel),” tandas Rudi. Rudi menambahkan pengolahan bahan bakar nabati tersebut salah satunya sudah ada di Palembang, dan dia berharap, jika program tersebut sudah optimal, maka hasil kelapa sawit di Babel bisa terjual sebagai bahan pengolahan biodiesel kedepan. Rudi juga berharap, jika program B20 itu berjalan dengan baik, maka warga Babel akan ikut diuntungkan dengan meningkatnya harga jual hasil kebun sawit warga Babel secara terus-menerus. “Tetapi, Kita tunggu saja, dalam waktu tidak terlalu lama lagi di Palembang akan memperluas pabrik sawit untuk solar ini, dan kita harapkan kalau seandainya di Palembang sana pabriknya sudah diperluas, sawit-sawit juga akan dibeli dan dibawa ke Palembang untuk dijadikan minyak solar,” jelas Rudi.

http://bangka.tribunnews.com/2019/02/25/rudianto-tjen-dukung-program-b20-solusi-meningkatkan-produksi-petani-sawit-di-bangka-belitung

Antaranews | Senin, 25 Februari 2019

Kemiri Sunan, tanaman penghasil biodiesel pesaing sawit

Bentuk dan warnanya hampir seperti buah kecapi tapi bersegi sejajar dan mengerucut di ujungnya. Orang-orang menyebutnya kemiri sunan (reutealis trisperma (blanco) airy shaw), buah yang beracun dan dijauhi. Namun demikian, buah yang sering dipakai untuk pembasmi tikus di sawah ini ternyata mengandung minyak yang dahulu sering dipakai sebagai pernis dan pengawet kapal-kapal kayu. Belakangan ini, minyaknya bahkan bisa menjadi pengganti bahan bakar fosil. Dengan kemampuannya menjadi minyak nabati pengganti solar ini, kemiri sunan semakin dilirik para periset menjadi salah satu tanaman pilihan selain kelapa sawit yang selama ini sangat diandalkan sebagai biodiesel. Apalagi sawit telah dinilai para aktivis lingkungan sebagai perusak hutan Indonesia, yang luas tanam totalnya mencapai 14,31 juta hektare, dengan CPO yang dihasilkan untuk kebutuhan biodiesel pada 2019 sebesar 10,25 juta ton. Kebutuhan ini memang makin meningkat karena sejak September 2018, Indonesia memberlakukan penggunaan solar yang mengandung 20 persen biodiesel (B-20) dari sawit dalam negeri untuk mengekang impor migas (minyak dan gas).

Kebijakan yang memicu protes Greenpeace, dengan alasan pemberlakuan B20 tersebut akan membuka peluang deforestasi baru sebesar 4,5 juta hektare pada 2030 dengan permintaan biofuel yang diprediksi sampai 67 juta ton. Namun tidak seperti sawit yang memerlukan lahan dengan kondisi lingkungan tropis yang bagus, kemiri sunan cenderung mudah beradaptasi di lahan marjinal, seperti lahan kering relatif ekstrem dan berbatu, tanah kering masam hingga tanah pasir. “Jadi untuk menanam kemiri sunan tidak perlu membuka hutan seperti halnya sawit,” kata Kepala Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian Dr Syafaruddin Deden. Balittri sudah mengujicobakannya di lahan eks tambang timah di Bangka Belitung, eks tambang bauksit di Bintan, Kepulauan Riau, eks tambang emas di Pulau Buru, Maluku dan eks tambang batu bara di Kalimantan Timur dengan hasil bagus. Karena kemampuannya berkembang di lahan kritis itu, menurut dia, kemiri sunan sangat potensial mensubstitusi sawit sebagai biodiesel, apalagi lahan kritis di Indonesia sangat luas, sampai 14 juta ha.

Banyak Keunggulan

Peneliti biofuel Balittri Dibyo Pranowo mengatakan, kemiri sunan memang memiliki banyak keunggulan, bukan saja dari kemampuan tumbuh dan berkembang di lahan rusak dan miskin hara, tapi juga dari produktivitasnya dan sifat lainnya. Dibyo telah meneliti 21 tanaman penghasil biofuel dan membanding-bandingkannya, antara lain kelapa (Cocos nucifera), kesambi (Schleichera oleosa), bintaro (Cerbera manghas), jarak pagar (Jatropha curcas), kepuh (Sterculia foetida L.), kipahang laut (Pongamia pinnata), nyamplung (Calophyllum Inophyllum L) dan tentu saja sawit (Elaeis guineensis). Namun dari berbagai tanaman yang ditelitinya itu, rendemen (perbandingan antara minyak mentah yang dihasilkan dan buahnya) kemiri sunan adalah yang tertinggi, bisa lebih dari 50 persen. Bandingkan dengan sawit yang selama ini dinilai paling unggul, dengan rendemennya (perbandingan antara CPO (minyak sawit mentah) dalam setiap kilogram tandan buah segar) yang tidak sampai 20 persen. Selain itu usia produktif pohon kemiri sunan sangat panjang, bisa sampai 75 tahun, bahkan bisa hidup ratusan tahun.

Dari hasil riset, kemiri sunan semakin dewasa semakin produktif, dari mulai berbuah di usia 5 tahun seberat rata-rata 7,5 ton biji/ha/tahun menjadi 22 ton biji pada usia 10 tahun, lalu mencapai 43 ton/ha/tahun dalam bentuk biji pada usia 25 tahun. “Kalau dihitung sampai selesai diolah, kemiri sunan bisa menghasilkan rata-rata 8-9 ton minyak kasar /ha/tahun atau setara dengan 6-8 ton biodiesel /ha/tahun, cukup produktif,” katanya. Sementara usia produktif sawit, mulai usia sekitar 2 tahun sampai 25 tahun saja dengan produktivitas tak sampai 25 ton tandan buah segar (TBS) /ha/tahun atau hanya 2-6 ton CPO/ha/tahun, yang harus diolah lagi menjadi biodiesel. Rinciannya, satu pohon kemiri sunan bisa menghasilkan sekitar 150 kg biji kering per tahun dimana dari 1 kg buah kemiri sunan bisa menghasilkan 0,48 kg biodiesel, dan 1 ha lahan bisa ditanami sampai 150 pohon. Produktivitas kemiri sunan ini dinilainya juga sebagai yang terbaik dibanding tanaman penghasil biodiesel lainnya yang telah dirisetnya seperti kelapa, kesambi, nyamplung hingga jarak pagar. “Sawit memang sudah lama diunggulkan untuk menghasilkan biodiesel, tapi kan pasar lebih menginginkan sawit jadi minyak goreng daripada jadi solar. Ini membuat kebijakan biodiesel selama ini terhambat. Sementara kemiri sunan tidak bisa dimakan, jadi ini juga kelebihannya, tak bersaing dengan pangan,” katanya.

Balittri telah mulai meneliti tanaman kemiri sunan ini sejak 2008 dan telah mengeluarkan empat varietas unggul, kemiri sunan 1 dan 2 serta kermindo 1 dan 2 yang kegunaannya beragam. Kelebihan lainnya, Dibyo menambahkan, tanaman kemiri sunan tahan terhadap penyakit seperti hama daun (ulat kantung), tahan tanaman pengganggu dan juga tahan busuk. Selain itu, buah kemiri sunan juga tidak perlu dipetik, karena berguguran dengan sendirinya untuk kemudian bisa langsung diolah, sehingga biaya memanennya juga bisa lebih dihemat. “Kemiri sunan ini selain bijinya menjadi biodiesel, kulit sabutnya bisa untuk pupuk dan pestisida alami, bungkilnya untuk pakan ternak, dan produk sampingnya gliserol bisa untuk produksi sabun, serta terpentin untuk cat dan bahan oleokimia lainya, seperti halnya sawit,” katanya. Soal pengolahannya, Dibyo mengatakan, Balittri juga sudah membuatkan sejumlah prototipe mesinnya, dari mulai pengupasan dari tempurung, pengepresan untuk mengeluarkan minyak dari biji, hingga mesin pengolahan dari minyak kasar ke biodiesel dan pemurnian biodiesel.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa kualitas biodiesel yang dihasilkan dari minyak kemiri sunan telah memenuhi standar SNI-04-7182-2006, ujarnya, sehingga layak untuk dikembangkan lebih lanjut. Saat ini prototipe reaktor untuk mengolah dari minyak kasar ke biodiesel tersebut telah mencapai generasi VI dengan produksi 1.500 liter per hari dan akan ditingkatkan menjadi 10.000 liter per hari mulai tahun ini. Dengan demikian, hasil panen kemiri sunan yang telah diuji coba tanam Kementerian Pertanian ribuan hektare di sejumlah daerah itu sudah bisa diproses untuk menjadi biodiesel dan sudah siap jika diproduksi massal menyaingi sawit. Tampaknya sungguh disayangkan jika pohon rimbun berakar dalam dengan dahan kayu keras yang tingginya bisa sampai 15 meter itu hanya dijadikan hiasan peneduh di pemakaman.

https://www.antaranews.com/berita/802333/kemiri-sunan-tanaman-penghasil-biodiesel-pesaing-sawit

Tempo | Senin, 25 Februari 2019

Kemiri Sunan, Pohon Racun Pesaing Sawit untuk Biodiesel

Bentuk dan warnanya hampir seperti buah kecapi, tetapi bentuknya persegi dan mengerucut di ujungnya. Masyarakat menyebutnya kemiri sunan atau reutealis trisperma (blanco) airy shaw. Biasanya dikenal sebagai buah beracun, sehingga dijauhi. Namun demikian, buah yang sering dipakai untuk pembasmi tikus di sawah ini ternyata mengandung minyak. Dahulu minyak kemiri sunan sering dipakai sebagai pernis dan pengawet kayu kapal. Belakangan ini, baru diketahui minyaknya bisa menjadi pengganti bahan bakar fosil. Dengan kemampuannya menjadi minyak nabati pengganti solar, kemiri sunan semakin dilirik para periset. Menjadikannya salah satu tanaman pilihan selain kelapa sawit yang selama ini sangat diandalkan sebagai biodiesel. Apalagi sawit telah dinilai para aktivis lingkungan sebagai perusak hutan Indonesia, yang luas tanam totalnya mencapai 14,31 juta hektare, dengan CPO yang dihasilkan untuk kebutuhan biodiesel pada 2019 sebesar 10,25 juta ton. Kebutuhan ini memang makin meningkat karena sejak September 2018, Indonesia memberlakukan penggunaan solar yang mengandung 20 persen biodiesel (B-20) dari sawit dalam negeri untuk mengekang impor migas.

Kebijakan yang memicu protes Greenpeace, dengan alasan pemberlakuan B20 tersebut akan membuka peluang deforestasi baru sebesar 4,5 juta hektare pada 2030 dengan permintaan biofuel yang diprediksi sampai 67 juta ton. Tidak seperti sawit yang memerlukan lahan dengan kondisi lingkungan tropis yang bagus, kemiri sunan cenderung mudah beradaptasi di lahan marjinal, seperti lahan kering relatif ekstrem dan berbatu, tanah kering masam hingga tanah pasir. “Jadi untuk menanam kemiri sunan tidak perlu membuka hutan seperti halnya sawit,” kata Kepala Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian Dr Syafaruddin Deden. Balittri sudah mengujicobakannya di lahan eks tambang timah di Bangka Belitung, eks tambang bauksit di Bintan, Kepulauan Riau, eks tambang emas di Pulau Buru, Maluku dan eks tambang batu bara di Kalimantan Timur dengan hasil bagus. Karena kemampuannya berkembang di lahan kritis itu, menurut dia, kemiri sunan sangat potensial mensubstitusi sawit sebagai biodiesel, apalagi lahan kritis di Indonesia sangat luas, sampai 14 juta ha.

Kalahkan Sawit

Peneliti biofuel Balittri Dibyo Pranowo mengatakan, kemiri sunan memang memiliki banyak keunggulan, bukan saja dari kemampuan tumbuh dan berkembang di lahan rusak dan miskin hara, tapi juga dari produktivitasnya dan sifat lainnya. Dibyo telah meneliti 21 tanaman penghasil biofuel dan membanding-bandingkannya, antara lain kelapa (Cocos nucifera), kesambi (Schleichera oleosa), bintaro (Cerbera manghas), jarak pagar (Jatropha curcas), kepuh (Sterculia foetida L.), kipahang laut (Pongamia pinnata), nyamplung (Calophyllum Inophyllum L) dan tentu saja sawit (Elaeis guineensis). Dari berbagai tanaman yang ditelitinya itu, rendemen (perbandingan antara minyak mentah yang dihasilkan dan buahnya) kemiri sunan adalah yang tertinggi, bisa lebih dari 50 persen. Bandingkan dengan sawit yang selama ini dinilai paling unggul, dengan rendemennya tidak sampai 20 persen. Selain itu usia produktif pohon kemiri sunan sangat panjang, bisa sampai 75 tahun, bahkan bisa hidup ratusan tahun. Dari hasil riset, kemiri sunan semakin dewasa semakin produktif, dari mulai berbuah di usia 5 tahun seberat rata-rata 7,5 ton biji/ha/tahun menjadi 22 ton biji pada usia 10 tahun, lalu mencapai 43 ton/ha/tahun dalam bentuk biji pada usia 25 tahun. Tinggi kemiri sunan ini bisa mencapai 15 meter.

“Kalau dihitung sampai selesai diolah, kemiri sunan bisa menghasilkan rata-rata 8-9 ton minyak kasar /ha/tahun atau setara dengan 6-8 ton biodiesel /ha/tahun, cukup produktif,” katanya. Usia produktif sawit, mulai usia sekitar 2 tahun sampai 25 tahun saja dengan produktivitas tak sampai 25 ton tandan buah segar (TBS) /ha/tahun atau hanya 2-6 ton CPO/ha/tahun, yang harus diolah lagi menjadi biodiesel. Rinciannya, satu pohon kemiri sunan bisa menghasilkan sekitar 150 kg biji kering per tahun. Dari 1 kg buah kemiri sunan bisa menghasilkan 0,48 kg biodiesel, dan 1 ha lahan bisa ditanami sampai 150 pohon. Produktivitas kemiri sunan ini dinilainya juga sebagai yang terbaik dibanding tanaman penghasil biodiesel lainnya seperti kelapa, kesambi, nyamplung hingga jarak pagar. “Sawit memang sudah lama diunggulkan untuk menghasilkan biodiesel, tapi kan pasar lebih menginginkan sawit jadi minyak goreng daripada jadi solar. Ini membuat kebijakan biodiesel selama ini terhambat. Sementara kemiri sunan tidak bisa dimakan, jadi ini juga kelebihannya, tak bersaing dengan pangan,” katanya.

Balittri telah mulai meneliti tanaman kemiri sunan ini sejak 2008 dan telah mengeluarkan empat varietas unggul, kemiri sunan 1 dan 2 serta kermindo 1 dan 2 yang kegunaannya beragam. Soal pengolahannya, Dibyo mengatakan, Balittri juga sudah membuatkan sejumlah prototipe mesin, dari mulai pengupasan dari tempurung, pengepresan untuk mengeluarkan minyak dari biji, hingga mesin pengolahan dari minyak kasar ke biodiesel dan pemurnian biodiesel. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kualitas biodiesel yang dihasilkan dari minyak kemiri sunan telah memenuhi standar SNI-04-7182-2006, ujarnya, sehingga layak untuk dikembangkan lebih lanjut. Saat ini prototipe reaktor untuk mengolah dari minyak kasar ke biodiesel tersebut telah mencapai generasi VI dengan produksi 1.500 liter per hari dan akan ditingkatkan menjadi 10.000 liter per hari mulai tahun ini. Dengan demikian, hasil panen kemiri sunan yang telah diuji coba tanam Kementerian Pertanian ribuan hektare di sejumlah daerah itu sudah bisa diproses untuk menjadi biodiesel dan sudah siap jika diproduksi massal menyaingi sawit.

https://tekno.tempo.co/read/1179367/kemiri-sunan-pohon-racun-pesaing-sawit-untuk-biodiesel/full&view=ok