+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Serapan CPO Domestik Harus Ditingkatkan

Harian Seputar Indoensia | Kamis, 2 Mei 2019

Serapan CPO Domestik Harus Ditingkatkan

Diskriminasi yang dilakukan Uni Eropa terhadap minyak sawit mentah (crude Palm Oil /CPO) Indonesia akan berdampak pada industri hulu hingga hilir. Dengan berkurangnya pasar ekspor, diharapkan produksi CPO Indonesia bisa diserap lebih optimal di dalamnegeri. Direksi PT Unggul Widya Teknologi Lestari (UWTL) Mochtar Tanong mengatakan, meski bukan perusahaan eksportir, UWTL yang berfokus pada pengembangan sisi hulu tetap me rasakan dampak negatif. Untuk itu, pemerintah perlu mengop-timalkanpenggunaan CPO sebagai bauran bahan bakar solar. “Memang kami tidak bersen-tuhan langsung, tetapi dampaknya tetap ada. Harga CPO menjadi tertekan karena stok secara global tidak terserap maksimal,” ujarnya di Kecamatan Baras, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, kemarin. Menurut Mochtar, langkah yang dilakukan Uni Eropa untuk berhenti menggunakan dan mengimpor biofuel secara bertahap dari Indonesia merupakan strategi politik dagang. Uni Eropa ingin melindungi minyak nabati berbasis rapeseed dan sunflower karena kalah bersaing dengan CPO.

Harga CPO untuk setiap ton-nya lebih murah ketimbang minyak nabati berbahan baku rape-seed maupun sunflower. Ini bisa terjadi lantaran produktivitas tanaman Kelapa Sawit jauh lebih tinggijika diban dingkandengan kedua komoditas tersebut. “Artinya. Kita bisa menggunakan lahan yang sama, tetapi menghasilkan minyak lebih banyak dari mereka,” tuturnya. Saat ini pemerintah tengah mendorong percepatan penyerapan sawit domestik dari kadar pencampuran minyak sawit 20%\’ (B20) menjadi 30% (B30). “B20 sudah bisa mengurangi impor, kenapa tidak kita coba sampai B50.Kalau B100,saya tidak mimpi sampai ke sana,” katanya. UWTL memproduksi CPO dan kernel untuk konsumsi di dalam negeri. Dengan luas kebun inti sebesar 6.348 hektare (ha) dan kebun plasma 6.140ha, perusahaan menghasilkan CPO sebanyak 10.000 ton perbulan. Sebelumnya, Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Dono Boestami mengatakan, kebijakan mandatori biodiesel B20 berhasil meningkatkan harga CPO sejak diterapkan pada September 2018. Tahun ini volume untuk pengadaan biodiesel ditargetkan sebesar 6,2 juta kiloliter (kl). Menurut Dono, target sebesar 6,2 juta kl tahun 2019 bisa tercapai melihat dari serapan domestik yang sudah mencapai 1,2 juta ton dalam dua bulan pertama tahun ini. Dengan penerapan B30 pada tahun depan, penggunaan CPO akan mencapai 9 juta kl yang meningkat dari tahun ini sebesar 6,2 juta kl. “Kami targetkan B30 rampung pada Oktober mendatang dan siap digunakan tahun depan. Akan ada tambahan 3 juta kl pada tahun depan dengan adanya B30,” ujarnya.

Bisnis Indonesia | Kamis, 2 Mei 2019

Komoditas Energi Agrikultur Suram

World Bank mengubah pandangannya terhadap pergerakan harga komoditas, terutama sektor energi dan agrikultur, menjadi lebih pesimistis sepanjang 2019 akibat proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang melambat. Dalam laporan Commodity Markets Outlook April 2019 yang dirilis sepekan lalu, Bank Dunia memproyeksi rata-rata harga minyak mentah dunia pada 2019 lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata harga pada 2018. Harga minyak mentah dunia diperkirakan hanya akan bergerak di level US$66 per barel pada 2019 dan sebesar US$65 per barel pada 2020, lebih rendah dibandingkan dengan proyeksi rata-rata harga pada 2018 sebesar US$68 per barel. “Sementara untuk harga komoditas sektor non-energi pada 2019 diperkirakan akan tetap di bawah rata-rata harga 2018, sebelum nantinya akan naik moderat pada 2020 seiring dengan pertumbuhan ekonomi global yang diproyeksikan melambat,” tulis World Bank dalam laporan Commodity Markets Outlook April 2019, pekan lalu. Seperti diketahui, sebagian harga komoditas memperoleh momentum penguatan pada kuartal 1/2019 setelah mengalami penurunan pada tahun lalu dan pulih dari posisi terendahnya pada kuartal sebelumnya.

Walaupun demikian, secara keseluruhan komoditas energi telah turun 8% di kuartal 1/2019 dengan penurunan paling tajam berasal dari harga batu bara dan gas alam di saat harga minyak berhasil mengalami reli penguatan. Harga minyak berhasil naik karena penurunan produksi oleh OPEC dan sekutunya di saat ekspor gas alam US menekan pasar gas alam yang secara tidak langsung juga memengaruhi harga batu bara. Sebagai hasil dari awal yang lemah pada tahun ini, harga komoditas energi pada 2019 diproyeksikan turun 5,4% dibandingkan pada 2018 dan diikuti oleh sedikit penurunan pada 2020. Prospek harga komoditas, terutama minyak, semakin rentan terhadap risiko yang terkait dengan kebijakan. Hal tersebut termasuk rencana pertemuan OPEC pada Juni 2019 terkait dengan rencana keberlanjutan kebijakan pengurangan produksi, sebagai efek sanksi Iran dan kebijakan emisi oleh Organisasi Maritim Internasional. Risiko lain, termasuk peristiwa geopolitik seperti konflik di Libya, pertumbuhan lebih lemah daripada perkiraan di negara konsumen minyak utama, terutama China, Jepang, dan Amerika Serikat, serta kebijakan yang ramah lingkungan. Proyeksi lebih rendah juga ditujukan kepada harga komoditas agrikultur, yang diperkirakan turun 2,6% pada 2019 di tengah kondisi pasar dengan jumlah pasokan yang cukup banyak. Laporan Commodity Markets Outlook April 2019 yang dipimpin oleh John Baffes, seorang ekonom senior, memperkirakan pada 2020 harga komoditas agrikultur akan berbalik naik 1,7 % seiring dengan harapan adanya pemangkasan biaya penanaman di AS dan biaya yang lebih tinggi untuk energi dan pupuk. Biaya energi dalam agrikultur yang lebih tinggi dari perkiraan dapat mengangkat harga beberapa tanaman seperti biji-bijian dan biji minyak. Pertumbuhan produksi biofuel yang lebih besar dari yang diproyeksikan juga dapat menyebabkan harga lebih tinggi untuk beberapa komoditas pangan.

LOGAM LEBIH CERAH

Berbeda dengan dua sektor komoditas yang mendapatkan proyeksi lebih buruk, World Bank justru memproyeksikan peningkatan yang lebih cerah untuk komoditas logam. Setelah jatuh dan bergerak stagnan di level terendahnya pada kuartal terakhir 2018, sebagian besar harga logam dapat memulihkan kerugiannya pada Maret 2019, dengan berhasil rebound cukup kuat. Harga logam diperkirakan terus melanjutkan proses pemulihan harganya pada 2019 hingga 2020. Pemulihan harga logam tersebut mencerminkan prospek pertumbuhan yang baik bagi China, yang menyumbang separuh dari konsumsi logam global. Serangkaian kejadian yang menghambat pasokan dan stimulus fiskal di China diharapkan dapat memberikan dukungan lanjutan untuk harga logam. Adapun, kejadian yang menghambat pasokan, seperti kecelakaan bendungan Vale di Brazil yang mengganggu pasokan bijih besi dan nikel, banjir besar di Chili dan aksi protes di Peru yang mengganggu pasokan tembaga, pembatasan ekspor di Indonesia dan pembatasan smelter karena alasan lingkungah di China telah mengganggu pasokan timah dan seng. Maraknya kebijakan yang lebih ramah lingkungan daripada perkiraan juga akan membantu dorongan harga karena mengakselerasi gangguan produksi sehingga memberikan tekanan pada pasokan. Di sisi lain, risiko kerugian berasal dari permintaan yang lemah dari perkiraaan semula meski ada kebijakan stimulus oleh Pemerintah China dan negosiasi yang berkepanjangan dalam hubungan perdagangan AS dan China.

Infosawit | Kamis, 2 Mei 2019

Masih Ada Penolakan Program Biodiesel Sawit

Penggunaan bahan bakar berbasis minyak sawit yang akrab disebut biodiesel sejatinya telah diperkenalkan semenjak tahun 2006 dan dimulai dengan B 5, B 7, lalu B 10, B 15. Sejak September 2018 kebijakan B 20 (campuran Fame ke solar sebanyak 20%) pun diterapkan. Kala itu masih dibedakan antara PSO dan Non-PSO. Tetapi sejak Januari 2019 keduanya tidak dibedakan lagi. Kapasitas produksi biodiesel saat ini sekitar 12 juta kilo liter. Untuk tahun 2019 solar yang beredar di Indonesia mencapai 34 juta kilo liter. Bila dikurangi sebanyak 20% maka ada kebutuhan biodiesel sebanyak 6,8 juta kilo liter. Namun anehnya masih saja ada penolakan terhadap penggunaan B20. Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), MP Tumanggor memberi contoh mengenai angkutan umum, padahal sudah dijalankan tahun 2016. “Sebelumnya, asosiasi truk juga memprotes padahal sejak 2016 sudah dipakai. Mereka protes karena kerusakan mesin mobil. Kita menduga, ada yang mendorong mereka mengatakan tidak setuju B20,” kata dia dalam Acara Diskusi Sawit Bagi Negeri yang diadakan InfoSAWIT awal tahun lalu. Tumanggor mengakui, akan ada orang yang dirugikan karena berkurang impornya dan ada asosiasi kapal mengatakan, pihaknya sudah menggunakan sampai B50, tetapi ada satu asosiasi lain lagi mengatakan dan akan menuntut Pertamina karena penggunaan B20 merusak mesin kapal. “Green fuel ini sesuai dengan kebijakan moratorium untuk menjawab dan merespon tuntutan Uni Eropa untuk industri yang berbasis sawit. Saya harapkan KSP menyampaikan kepada Pak Presiden,” tandas dia.

https://www.infosawit.com/news/8978/masih-ada-penolakan-program-biodiesel-sawit

Cnnindonesia | Kamis, 2 Mei 2019

Cerita Dosen ITB Rintis Bisnis Teknologi Pemroses Biofuel

Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin mendorong pengembangan riset dan inovasi di Indonesia. Hal itu dilakukan sebagai senjata Indonesia menghadapi revolusi industri 4.0. Namun, upaya pengembangan riset dan inovasi tidaklah mudah. Setidaknya itu yang dialami oleh Guru Besar Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) Subagjo dalam merintis industri katalis di Indonesia. Katalis merupakan bahan yang dapat mempercepat dan mengarahkan reaksi kimia. Bahan ini merupakan kunci teknologi proses yang digunakan pada berbagai industri mulai dari kimia, petrokimia, pengilangan minyak dan gas, termasuk teknologi energi terbarukan berbasis biomassa dan minyak nabati. Sejak menjadi mahasiswa di ITB pada 1971, Subagjo mulai tertarik pada reaksi kimia dan katalis. Ketertarikannya terus dipupuk hingga ia menyelesaikan pendidikan doktor di Universite de Poitier di Perancis pada 1981. Setelah kembali, ia mulai meneliti lebih dalam tentang katalis bersama tim Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis ITB (TRKK-ITB) pada 1982. Dengan keterbatasan, tim mulai merakit mesin untuk meneliti katalis sembari mencari formula katalis yang tepat sesuai kebutuhan.

Menurut Subagjo, orang Indonesia cenderung lebih mempercayai teknologi dari luar dibandingkan teknologi yang dihasilkan oleh orangnya sendiri. Kondisi ini membuat para inovator dalam negeri harus bekerja keras untuk membuktikan bahwa produknya tak kalah saing. “Tahun 1996 saya baru mendapatkan tantangan dari industri. Sebelum-sebelumya, industri belum ada yang mau,” ujar Subagjo kepada CNNIndonesia.com di kampus ITB, Selasa (30/4). Hampir dua dekade kemudian, pada 2011, TRKK-ITB berhasil memproduksi katalis komersial pertama yang kemudian disebut dengan Katalis Merah Putih.”Dulu, cita-cita kami cuma asal sedikit lebih buruk dibandingkan katalis impor juga enggak papa tetapi katalis pertama kami itu lebih bagus dari impor,” ujarnya. Beberapa katalis pengolahan minyak bumi yang dikembangkan TRKK-ITB bersama PT Pertamina (Persero) telah digunakan oleh perseroan di beberapa kilangnya. Bahkan, sejumlah katalis yang dihasilkan berhasil membantu proses pengolahan minyak kelapa sawit menjadi bensin nabati, diesel nabati, hingga avtur nabati dalam skala kecil. Proses pengolahan minyak kelapa sawit menjadi bahan bakar nabati tersebut dikembangkan tim bersama Pertamina.

Produk katalis dan proses pengolahan yang dikembangkan TRKK-ITB akan digunakan Pertamina dalam memproduksi produk bahan bakar ramah lingkungan dalam skala besar. Subagjo berkisah perjuangan ia dan timnya tidak akan berhasil tanpa dukungan pemerintah melalui bantuan dana penguatan inovasi dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi. Tim juga mendapatkan bantuan dana dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) untuk merancang dan membangun pabrik pilot untuk produksi bensin nabati dari minyak sawit berkapasitas 10 hingga 20 liter per hari di kampus. Tak kalah penting, peran serta industri yang memiliki semangat merah putih dalam mendukung inovasi juga diperlukan. Dengan demikian, hasil penelitian bisa digunakan oleh industri. Dalam hal ini, Pertamina dan sejumlah perusahaan lain yang mempercayai kualitas produk katalis yang dihasilkan. “Mitra industri itu penting. Kalau sudah dapat tapi tidak bisa diuji coba untuk skala besar untuk apa? Dulu itu, susahnya tidak ada mitra industri,” ujarnya. Ke depan, pengembangan industri katalis di Indonesia masih panjang. Subagjo masih ingin mewujudkan cita-cita untuk bisa membangun pabrik katalis buatan anak bangsa di Indonesia. Cita-cita yang kemungkinan akan terwujud tahun depan dengan dukungan PT Pupuk Kujang, PT Pupuk Iskandar Muda, PT Rekayasa Industri, dan Pertamina. Selain itu, untuk mendukung ekosistem industri, TRKK-ITB juga tengah merancang dan mengembangkan unit produksi bensin nabati berkapasitas 100 liter per hari dan 8 ton per jam. Unit berkapasitas besar ini tengah diupayakan TRKK-ITB bersama perusahaan pelat merah PT Energi Manajemen Indonesia.

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190430235947-97-391001/cerita-dosen-itb-rintis-bisnis-teknologi-pemroses-biofuel

Kompas | Rabu, 1 Mei 2019

Kenalan dengan Kijang Innova Peneguk Biodiesel B50

Arena test drive di ajang Telkomsel IIMS 2019 menjadi sasaran keramaian pengunjung yang ingin mencoba mobil keluaran terbaru. Namun, ada satu tenda di lokasi yang menawarkan produk berbeda dari peserta pameran lainnya. Tepatnya, berlokasi di dekat tenda registrasi test drive, arena outdoor JI Expo Kemayoran. Merupakan peserta dari Lembaga Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) memajang Toyota Kijang Innova yang diklaim sudah mampu mengonsumsi bahan bakar biodiesel B50. Mereka juga menampilkan tampilan bahan bakar dengan bauran biodesel 50 persen tersebut. “Tujuan kami ikut IIMS 2019 adalah untuk mengenalkan jenis bahan bakar B50 ke masyarakat. Selain itu juga ingin mengenalkan bahwa selama ini bahan bakar yang dikonsumsi untuk kendaraan diesel masyarakat adalah biodiesel karena sampai sekarang banyak yang belum sadar,” ucap peneliti dari PPKS Muhammad Ansori saat ditemui Rabu (1/5/2019). Ansori mengungkapkan pihaknya juga membuka kesempatan untuk masyarakat yang datang mencoba kendaraan uji Innova yang sudah diisi B50. Ia meyakinkan penggunaan bahan bakar bauran biodiesel ini tidak berbeda dengan bahan bakar yang sudah digunakan selama ini. PPKS selama ini telah melakukan uji bahan bakar pada mobil diesel tanpa ubahan atau sesuai dengan spesifikasi pabrikan. Pada 2005, PPKS menggunakan B10 dan melakukan uji jalan dari Medan-Jakarta-Medan dengan menggunakan dua jenis kendaraan niaga dan penumpang. Berlanjut pada 2007, PPKS kembali melakukan pengujian B10 dengan mesin diesel canggih common rail sejauh 20.000 kilometer. Hasil pengujian ini diserahkan kepada pemerintah untuk mengambil kebijakan mengenai biodiesel. Terbaru adalah B50. Parameter uji jalan meliputi konsumsi bahan bakar, dyno tes, emisi gas buang, analisa terhadap tekanan injektor ruang bakar dan uji di dataran tinggi.

https://otomotif.kompas.com/read/2019/05/01/124200915/kenalan-dengan-kijang-innova-peneguk-biodiesel-b50-

Media Indonesia | Rabu, 1 Mei 2019

Penerapan Intensif Biodiesel Bisa Jadi Senjata Perangi Uni Eropa

Direksi PT Unggul Widya Teknologi Lestari Mochtar Tanong mengatakan upaya penjegalan produk biodiesel oleh Uni Eropa membawa pengaruh buruk bagi industri kelapa sawit di dalam negeri. Meskipun bukan perusahaan eksportir, UWTL yang fokus pada pengembangan sisi hulu tetap merasakan dampak negatif. “Kami memang tidak bersentuhan langsung karena bukan eksportir tapi dampaknya tetap terasa. Harga CPO menjadi tertekan karena stok secara global tidak terserap maksimal,” ujar Mochtar di Pasangkayu, Sulawesi Barat, Rabu (1/5). Ia pun mendukung jika pemerintah harus mengambil kebijakan retaliasi guna memberi tekanan balik kepada Uni Eropa. Namun, menurutnya, akan lebih baik jika pemerintah mengoptimalkan program penggunaan minyak sawit mentah sebagai bauran bahan bakar solar sebanyak 20% atau B20. “Kita fokus saja ke program biodiesel. Kalau kita bisa serap CPO maksimal untuk B20 bahkan nanti B50, stok yang akan keluar negeri akan berkurang. Stok yang berkurang akan membuat pasar global berebut, harga jadi tinggi. Eropa akan mengemis-ngemis ke kita,” ucapnya. Sepanjang dua bulan pertama tahun ini, kebutuhan CPO untuk program biodiesel dalam negeri mencapai 1,2 juta ton. Ditargetkan, sepanjang 2019, serapan akan mencapai 6,2 juta ton dan akan menyentuh 9 juta ton pada 2020. “Kalau kita bisa B50, serapan kita bisa 20 juta ton setahun. Hampir separuh dari produksi CPO kita yang mencapai 47 juta ton,” tandasnya.

https://mediaindonesia.com/read/detail/232865-penerapan-intensif-biodiesel-bisa-jadi-senjata-perangi-uni-eropa

Antaranews | Selasa, 30 April 2019

Perusahaan Sawit Harapkan “Political Will” Pemerintah Soal Biodiesel

Perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Unggul Widya Teknologi Lestari (UWTL) mengharapkan adanya “political will” atau keberpihakan dari pemerintah yang lebih masif terkait penyerapan biodiesel di dalam negeri. Direktur PT UWTL Mochtar Tanong menilai dampak dari diskriminasi Uni Eropa terhadap minyak kelapa sawit (CPO) Indonesia akan sangat mengganggu rantai bisnis hulu dan hilir industri ini. Dengan berkurangnya pasar ekspor, produksi CPO Indonesia diharapkan bisa diserap di pasar dalam negeri. “Kalau ada political will, pemerintah bisa mencoba bagaimana bisa dikonsumsi dan terpakai di dalam negeri. B20 sudah bisa mengurangi impor, kenapa tidak kita coba sampai B50. Kalau B100 saya tidak mimpi sampai ke sana,” kata Mochtar di sela-sela kunjungan media ke Perkebunan Kelapa Sawit (PKS) UWTL di Kecamatan Baras, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, Selasa. Mochtar mengatakan langkah Uni Eropa untuk berhenti menggunakan dan mengimpor biofuel secara bertahap dari Indonesia merupakan strategi politik dagang yang sah-sah saja untuk dilakukan.

Menurut dia, Uni Eropa tentu ingin agar minyak nabati produksi mereka, seperti rapeseed, sunflower dan soybean juga bisa bersaing dengan CPO yang lebih produktif dan efisien dari segi penggunaan lahan. “Saya mengerti ini sebuah politik ekonomi mereka. Negara mana pun pasti akan mempertahankan apa yang menjadi produksi mereka. Dari sisi budidaya, padahal CPO jauh lebih produktif. Kembali lagi, bagaimana ‘political will’ pemerintah,” katanya. UWTL sendiri memproduksi CPO, palm kernel oil atau inti kelapa sawit, dan cangkang. Dengan luas kebun inti sebesar 6.348 hektare (ha) dan kebun plasma 6.140 ha, perusahaan menghasilkan CPO sebanyak 10.000 ton per bulan (dengan rendemen 21-22 persen). Pemerintah diharapkan lebih masif lagi untuk melakukan mandatori atau kewajiban campuran bahan bakar nabati hingga 50 persen (B50). Sejauh ini dengan mandatori B20, penyerapan biodiesel di dalam negeri mencapai 1,2 juta ton, yakni 552.000 ton pada Januari 2019 dan 648.000 ton pada Februari 2019. Serapan biodiesel hingga akhir tahun ini ditargetkan sebesar 6,2 juta kiloliter atau setara 5,4 juta ton CPO.

https://www.antaranews.com/berita/851158/perusahaan-sawit-harapkan-political-will-pemerintah-soal-biodiesel