+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Serapan FAME untuk B20 Capai 95%

Bisnis Indonesia | Kamis, 11 Juli 2019
Serapan FAME untuk B20 Capai 95%

Serapan unsur nabati berupa fatty acid methyl ether atau FAME untuk biodiesel kadar 20% (B20) telah mencapai 2,9 juta kiloliter hingga Juni 2019. Jumlah itu setara dengan 95% dari target kumulatif hingga pertengahan tahun. Adapun, target penyerapan FAME hingga akhir tahun sebanyak 6,2 juta kiloloter (KL). Dengan demikian, serapan tersebut telah mencapai 46,77% dari target 2019. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM F.X. Sutijastoto mengatakan. Maret merupakan bulan dengan serapan biodiesel terbesar tahun ini. Penyerapan biodiesel bergantung pada kondisi cuaca dan kegiatan ekonomi masyarakat. Berdasarkan data yang diterima Bisnis, serapan FAME per bulan sepanjang semester 1/2019 terus berfluktuasi, Pada Januari serapannya sebanyak 517.000 kiloliter (KL), Februari 480.500 KL, Maret 536.000 KL, April 474.800 KL, Mei 522.300 KL, dan Juni 368.000 KL. “Belakangan ini kan musim penghujan, sehingga banyak tambang yang banjir jadi gak produksi, kegiatan ekonomi turun juga,” katanya, Rabu (10/7). Sejak mandatori B20 dimulai pada 2016, serapan FAME mengalami peningkatan. Pada 2017 realisasi serapan tercatat sebanyak 2,67 juta KL dan pada 2018 naik menjadi 4,02 juta KL.

Menurutnya, realisasi hingga pertengahan tahun ini cukup menggembirakan dibanding tahun lalu. “Realisasi hingga pertengahan tahun ini dua kali lipat dari kondisi sama tahun 2018,” ujarnya. Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati biodiesel pada Juli 2019 mengalami kenaikan tipis senilai Rp7 per liter lantaran pengaruh tingginya harga rata-rata crude Palm Oil (CPO) Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) periode 15 Mei hingga 14 Juni 2019 yang mencapai Rp6.573/kg. Sebelumnya, Kementerian ESDM menetapkan besaran Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) biodiesel senilai Rp6.970/liter dan bio-etanol RplO.255/liter untuk Juli 2019. Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan bahwa HIP BBN tersebut digunakan dalam pelaksanaan mandatori B20 dan berlaku untuk pencampuran minyak solar baik jenis bahan bakar minyak (BBM) tertentu maupun jenis BBM umum. Menurutnya, besaran harga HIP BBN untuk jenis biodiesel tersebut dihitung menggunakan formula Rata-rata CPO KPB ditambah 100 USD/ton yang kemudian dikalikan 870 Kg/m3 dan ditambah Ongkos Angkut.

Investor Daily Indonesia | Kamis, 11 Juli 2019
Per Juni, Serapan biodiesel 2,9 Juta KL

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan, realisasi penyerapan unsur nabati (fatty acid methyl ether/FAME) untuk program biodiesel 20% (B20) sampai Juni lalu mencapai 2,9 juta kiloliter (KL). Tahun ini, pemerintah menargetkan serapan FAME mencapai 6,2 juta KL. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM FX Sutijastoto mengatakan, jika dibandingkan alokasi biodiesel tahun ini, penyerapan hingga Juni itu memang baru 47%. Namun, angka tersebut tidak jauh berbeda jika melihat serapan enam bulan itu seharusnya 50% dari alokasi atau sekitar 3,1 juta KL. “Jadi dari target kumulatif sampai Juni, dari target itu [realisasi serapannya] 95%,” kata dia di sela rapat dengan Komisi VII DPR RI, Rabu (10/7). Berdasarkan data bulanan, Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Kementerian ESDM Andriah Feby Misnah mengung- kapkan, serapan FAME sertiap bulannya sekitar 300-500 ribu KL. Rincinya, serapan FAME pada Januari sebesar 517 ribu KL, Februari 480,5 ribu KL, Maret 536 ribu KL, April 474,8 ribu KL, Mei 522,3 ribu KL, dan Juni 368 ribu KL

Sutijastoto menjelaskan, serapan FAME tercatat cukup tinggi biasanya terjadi di awal Maret. Sementara beberapa bulan terakhir, serapan biodiesel ini tidak setinggi pada Maret lalu lantaran musim penghujan membuat kegiatan ekonomi berkurang. “Di Maret [serapan] sampai 104% dari target,” ujarnya. Sejak mandatori B20 dimulai pada 2016, serapan biodiesel terus naik setiap tahunnya. Pada 2017, realisasi serapan biodiesel tercatat hanya sebesar 2,57 juta KL. Pada 2018, serapan FAME untuk Program B20 tercatat naik menjadi 4,02 juta KL. Selanjutnya di tahun ini, serapan FAME ditargetkan mencapai 6,2 juta KL. Target penyerapan FAME pada tahun ini dipatok tinggi lantaran adanya perubahan kebijakan pemerintah. Pada 2016 hingga kuartal ketiga 2018, mandatori pencampuran biodiesel hanya diberlakukan untuk bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi. Namun, mulai September tahun lalu, mandatori B20 diperluas hingga ke solar nonsubsidi baik untuk transportasi, pembangkit listrik, maupun industri. Pemerintah sendiri telah menetapkan 19 badan usaha BBN yang menyediakan pasokan biodiesel di tahun depan adalah PT Cemerlang Energi Perkasa 449.753 KL, PT Wilmar Bioenergi Indonesia 844.949 KL, PT Pelita Agung Agrind-ustri 145.396 KL, PT Ciliandra Perkasa 171.854 KL, PT Darmex biofuels 85.680 KL, PT Musim Mas 745.504 KL, PT Wilmar Nabati Indonesia 904.431 KL, dan PT Bayas biofuels 229.075 KL.

Selanjutnya, pemasok lainnya yakni PT LDC Indonesia 292.927 KL, PT SMART Tbk 269.914 KL, PT Tunas Baru Lampung 216.875 KL, PT Multi Nabati Sulawesi 253.427 KL, PT Permata Hijau Palm Oleo 261.183 KL, PT Intibenua Perkasatama 241.053 KL, PT Batara Elok Semesta Terpadu 78.818 KL, PT Dabi biofuels 207.344 KL, PT Sinarmas Bio Energy 262.011 KL, PT Kutai Refinery Nusantara 220.189, KL, serta PT Sukajadi Sawit Mekar 219.677 KL. Roadmap penerapan pencampuran biodiesel diatur dalam Peraturan Menteri ESDM No 20 Tahun 2014. Mengacu beleid itu, porsi campuran biodiesel untuk sektor transportasi ditetapkan sebesar 20% mulai 2016. Selanjutnya, porsi ini ditingkatkan menjadi 30% mulai Januari 2020 dan terus stabil pada angka tersebut hingga Januari 2025. Pada Juni lalu, pemerintah telah memulai uji jalan penggunaan biodiesel 30% (B30) pada 11 uni kendaraan, yakni 3 unit truk dan 8 kendaraan penumpang. Ketiga unit truk direncanakan menempuh jarak total 40 ribu kilometre (km), sementara kendaran penumpang sepanjang 50 km.

Harian Ekonomi Neraca | Kamis, 11 Juli 2019
ESDM Terus Dorong Sawit Jadi Energi Ramah Lingkungan

Direktur Pembinaan Usaha Hilir Migas, Kementerian ESDM, Muhammad Rizwi Jinalisaf Hisjam, mengatakan, pemanfaatan Kelapa Sawit sebagai sumber Balun 1 Bakar Nabati (BBN) semakin masif digalakkan. Rizwi menyampaikan Kementerian ESDM telah meluncurkan road test penggunaan bahan bakar B30 (campuran biodiesel 30 persen pada bahan bakar solar) pada kendaraan bermesin diesel, yang akan mulai diimplementasikan untuk transportasi pada 2020 mendatang. Rizwi mengutip data United States Department of Agriculture (USDA) yang mencatat, sejak 2015, Indonesia merupakan negara penghasil terbesar sawit dengan presentase 54 persen dari produksi dunia, yakni sekitar 32 juta metrik ton per tahun, diikuti oleh Malaysia. “Indonesia dan Malaysia mengusai market share Kelapa Sawit dunia sebesar 84 persen,” ujar Rizwi dalam keterangan tertulis, Rabu (10/7). Rizwi menambahkan, kebijakan mandatori biodiesel yang telah dicanangkan pemerintah sejak Agustus 2015 sangat bermanfaat. Kata dia, kebijakan tersebut telah berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 13,6 juta ton CO2e, meningkatkan demand terhadap CPO, penggunaan biodiesesl dari sawit sebesar 9,12 juta KL, pajak yang dibayarkan kepada negara Rp 2,47 trilliun, dan penghematan devisa akibat tidak perluimporsolar hingga Rp 51,5 trilliun.

Rizwi menyebut implementasi B20 justru memberikan manfaat dari sisi performa kendaraan. “Manfaat dari B20 secara bahan bakar performanya lebih bagus. Secara kelemahan, nilai kalomya dari BBN ini lebih rendah dari BBM, tapi secara performa bahan bakar lebih bagus. Secara umum, benefltnya lebih banyak,” kata Rizwi. Setelah B20, lanjut Rizwi, pemerintah juga serius mengembangkan B30, di mana pemerintah telah meluncurkan road test B30 dengan memberangkatkan tiga unit truk dan delapan unit kendaraan penumpang berbahan bakar B30 yang masing-masing akan menempuh jarak 40 ribu dan 50 ribu kilometer (km). Hal ini sebagai bagian promosi ke masyarakat bahwa B30 memiliki performa yang baik dan ramah lingkungan. “Kenapa kita mau mengembangkan terus B30 hingga keBl00?B100iniked epannya bukan artinya seluruhnya B100 dari BBN, tapi bahan bakunya menjadi bahan baku refinery. Jadi solar dicampurnya langsung di bahan bakunya. B20, B30 itu campuran dua produk akhir yaitu FAME dicampur BBM Solar. Kalau B100 bahan bakunya yang dicampur dengan crude oil di proses di refinery, dan sudah ada campuran BBN di situ,” ucap Rizwi.Kepala Pengembangan Biodisel BPDP KS Muhammad Fernan mengatakan proses pemanfaatan CPO untuk biodiesel ini, di mana CPO dari bahan baku kelapa sawit, Bahan Bakar Nabatinya itu bahan bakunya CPO kemudian diproses lebih lanjut (transeksteri-tik.isi) menjadi komponen Faty Acid Metil Ester (FAME). “FAME ini punya sulfurnya sangat rendah, bahkan tidak ada. Padahal kalau menghilangkan sulfur di minyak bumi perlu proses teknologi yang tinggi. Kalau BBN sulfurnya bisa dikatakan 0 persen sehingga lebih ramah lingkungan,” kata Fenian.

Investor | Rabu, 10 Juli 2019
Per Juni, Serapan Biodiesel 2,9 Juta KL

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan, realisasi penyerapan unsur nabati (fatty acid methyl ether/FAME) untuk program biodiesel 20% (B20) sampai Juni lalu mencapai 2,9 juta kiloliter (KL). Tahun ini, pemerintah menargetkan serapan FAME mencapai 6,2 juta KL. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM FX Sutijastoto mengatakan, jika dibandingkan alokasi biodiesel tahun ini, penyerapan hingga Juni itu memang baru 47%. Namun, angka tersebut tidak jauh berbeda jika melihat serapan enam bulan itu seharusnya 50% dari alokasi atau sekitar 3,1 juta KL. “Jadi dari target kumulatif sampai Juni, dari target itu [realisasi serapannya] 95%,” kata dia di sela rapat dengan Komisi VII DPR RI, Rabu (10/7). Berdasarkan data bulanan, Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Kementerian ESDM Andriah Feby Misnah mengungkapkan, serapan FAME sertiap bulannya sekitar 300-500 ribu KL. Rincinya, serapan FAME pada Januari sebesar 517 ribu KL, Februari 480,5 ribu KL, Maret 536 ribu KL, April 474,8 ribu KL, Mei 522,3 ribu KL, dan Juni 368 ribu KL.

Sutijastoto menjelaskan, serapan FAME tercatat cukup tinggi biasanya terjadi di awal Maret. Sementara beberapa bulan terakhir, serapan biodiesel ini tidak setinggi pada Maret lalu lantaran musim penghujan membuat kegiatan ekonomi berkurang. “Di Maret [serapan] sampai 104% dari target,” ujarnya. Sejak mandatori B20 dimulai pada 2016, serapan biodiesel terus naik setiap tahunnya. Pada 2017, realisasi serapan biodiesel tercatat hanya sebesar 2,57 juta KL. Pada 2018, serapan FAME untuk Program B20 tercatat naik menjadi 4,02 juta KL. Selanjutnya di tahun ini, serapan FAME ditargetkan mencapai 6,2 juta KL. Target penyerapan FAME pada tahun ini dipatok tinggi lantaran adanya perubahan kebijakan pemerintah. Pada 2016 hingga kuartal ketiga 2018, mandatori pencampuran biodiesel hanya diberlakukan untuk bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi. Namun, mulai September tahun lalu, mandatori B20 diperluas hingga ke solar nonsubsidi baik untuk transportasi, pembangkit listrik, maupun industri. Pemerintah sendiri telah menetapkan 19 badan usaha BBN yang menyediakan pasokan biodiesel di tahun depan adalah PT Cemerlang Energi Perkasa 449.753 KL, PT Wilmar Bioenergi Indonesia 844.949 KL, PT Pelita Agung Agrindustri 145.396 KL, PT Ciliandra Perkasa 171.854 KL, PT Darmex Biofuels 85.680 KL, PT Musim Mas 745.504 KL, PT Wilmar Nabati Indonesia 904.431 KL, dan PT Bayas Biofuels 229.075 KL.

Selanjutnya, pemasok lainnya yakni PT LDC Indonesia 292.927 KL, PT SMART Tbk 269.914 KL, PT Tunas Baru Lampung 216.875 KL, PT Multi Nabati Sulawesi 253.427 KL, PT Permata Hijau Palm Oleo 261.183 KL, PT Intibenua Perkasatama 241.053 KL, PT Batara Elok Semesta Terpadu 78.818 KL, PT Dabi Biofuels 207.344 KL, PT Sinarmas Bio Energy 262.011 KL, PT Kutai Refinery Nusantara 220.189, KL, serta PT Sukajadi Sawit Mekar 219.677 KL. Roadmap penerapan pencampuran biodiesel diatur dalam Peraturan Menteri ESDM No 20 Tahun 2014. Mengacu beleid itu, porsi campuran biodiesel untuk sektor transportasi ditetapkan sebesar 20% mulai 2016. Selanjutnya, porsi ini ditingkatkan menjadi 30% mulai Januari 2020 dan terus stabil pada angka tersebut hingga Januari 2025. Pada Juni lalu, pemerintah telah memulai uji jalan penggunaan biodiesel 30% (B30) pada 11 uni kendaraan, yakni 3 unit truk dan 8 kendaraan penumpang. Ketiga unit truk direncanakan menempuh jarak total 40 ribu kilometre (km), sementara kendaran penumpang sepanjang 50 km. Pada tahun lalu, mandatori B20 berhasil menghemat devisa negara sekitar Rp 28,42 triliun atau setara US$ 2,01 miliar. Jika B30 diimplementasikan, Kementerian ESDM pernah menghitung, maka total penghematan devisa bisa mencapai US$ 6 miliar, termasuk penghematan tahun lalu. Hal ini dengan hitungan Program B30 akan memangkas impor solar sebanyak 8-9 juta KL. Sebelumnya, dari sisi pasokan, Ketua Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor menuturkan, sebanyak 19 pabrik dengan total kapasitas produksi total 12 juta KL siap memasok FAME untuk kebutuhan mandatori biodiesel. Dari kapasitas yang ada, sekitar 1,5 juta KL dikirim ke luar negeri. Sementara saat ini untuk kebutuhan dalam sekitar 6 juta KL. Artinya, masih ada 5 juta KL yang mampu mencukupi kebutuhan B30. “Kalau 2020 tambah lagi 3 juta, baru 9 juta KL. Tambah ekspor 1,5 juta KL baru 10,5 juta KL [total serapa]. Masih ada idle [kapasitas] 1-1,5 juta KL,” ujarnya.
https://investor.id/business/per-juni-serapan-biodiesel-29-juta-kl

Republika | Rabu, 10 Juli 2019
ESDM Dorong Sawit Jadi Energi Ramah Lingkungan

Direktur Pembinaan Usaha Hilir Migas, Kementerian ESDM, Muhammad Rizwi Jinalisaf Hisjam, mengatakan, pemanfaatan kelapa sawit sebagai sumber Bahan Bakar Nabati (BBN) semakin masif digalakkan. Rizwi menyampaikan Kementerian ESDM telah meluncurkan road test penggunaan bahan bakar B30 (campuran biodiesel 30 persen pada bahan bakar solar) pada kendaraan bermesin diesel, yang akan mulai diimplementasikan untuk transportasi pada 2020 mendatang. Rizwi mengutip data United States Department of Agriculture (USDA) yang mencatat, sejak 2015, Indonesia merupakan negara penghasil terbesar sawit dengan presentase 54 persen dari produksi dunia, yakni sekitar 32 juta metrik ton per tahun, diikuti oleh Malaysia. “Indonesia dan Malaysia mengusai market share kelapa sawit dunia sebesar 84 persen,” ujar Rizwi dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id di Jakarta, Rabu (10/7). Rizwi menambahkan, kebijakan mandatori biodiesel yang telah dicanangkan pemerintah sejak Agustus 2015 sangat bermanfaat. Kata dia, kebijakan tersebut telah berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 13,6 juta ton CO2e, meningkatkan demand terhadap CPO, penggunaan biodiesesl dari sawit sebesar 9,12 juta KL, pajak yang dibayarkan kepada negara Rp 2,47 trilliun, dan penghematan devisa akibat tidak perlu impor solar hingga Rp 51,5 trilliun.

Rizwi menyebut implementasi B20 justru memberikan manfaat dari sisi performa kendaraan. “Manfaat dari B20 secara bahan bakar performanya lebih bagus. Secara kelemahan, nilai kalornya dari BBN ini lebih rendah dari BBM, tapi secara performa bahan bakar lebih bagus. Secara umum, benefitnya lebih banyak,” kata Rizwi. Setelah B20, lanjut Rizwi, pemerintah juga serius mengembangkan B30, di mana pemerintah telah meluncurkan road test B30 dengan memberangkatkan tiga unit truk dan delapan unit kendaraan penumpang berbahan bakar B30 yang masing-masing akan menempuh jarak 40 ribu dan 50 ribu kilometer (km). Hal ini sebagai bagian promosi ke masyarakat bahwa B30 memiliki performa yang baik dan ramah lingkungan. “Kenapa kita mau mengembangkan terus B30 hingga ke B100? B100 ini ked epannya bukan artinya seluruhnya B100 dari BBN, tapi bahan bakunya menjadi bahan baku refinery. Jadi solar dicampurnya langsung di bahan bakunya. B20, B30 itu campuran dua produk akhir yaitu FAME dicampur BBM Solar. Kalau B100 bahan bakunya yang dicampur dengan crude oil di proses di refinery, dan sudah ada campuran BBN di situ,” ucap Rizwi. Kepala Pengembangan Biodisel BPDP KS Muhammad Ferrian mengatakan proses pemanfaatan CPO untuk biodiesel ini, di mana CPO dari bahan baku kelapa sawit, Bahan Bakar Nabatinya itu bahan bakunya CPO kemudian diproses lebih lanjut (transeksterifikasi) menjadi komponen Faty Acid Metil Ester (FAME). “FAME ini punya sulfurnya sangat rendah, bahkan tidak ada. Padahal kalau menghilangkan sulfur di minyak bumi perlu proses teknologi yang tinggi. Kalau BBN sulfurnya bisa dikatakan 0 persen sehingga lebih ramah lingkungan,” kata Ferrian.
https://republika.co.id/berita/puf1gm423/esdm-dorong-sawit-jadi-energi-ramah-lingkungan

Antaranews | Rabu, 10 Juli 2019
Rizwi: B20 Tingkatkan Performa Kendaraan

Direktur Pembinaan Usaha Hilir Migas Kementerian ESDM, Muhammad Rizwi Jinalisaf Hisjam menyebutkan bahwa dalam pengimplementasian B20 justru memberikan manfaat dari sisi performa kendaraan. “Manfaat dari B20 secara bahan bakar performanya lebih bagus. Secara kelemahan, nilai kalornya dari BBN ini lebih rendah dari BBM, tapi secara performance bahan bakar lebih bagus, benefitnya lebih banyak”, ungkap Rizwi dalam informasi yang dihimpun Antara di Jakarta, Rabu. Setelah B20, Pemerintah pun serius mengembangkan B30. Riswi menyampaikan bahwa baru-baru ini ini Pemerintah meluncurkan road test B30 dengan memberangkatkan 3 unit truk dan 8 unit kendaraan penumpang berbahan bakar B30 yang masing-masing akan menempuh jarak 40 ribu dan 50 ribu kilometer. Hal ini sebagai bagian promosi ke masyarakat bahwa B30 memiliki performa yang baik dan ramah lingkungan. “Kenapa kita mau mengembangkan terus B30 hingga ke B100? B100 ini kedepannya bukan artinya seluruhnya B100 dari BBN, tapi bahan bakunya menjadi bahan baku refinery. Jadi solar dicampurnya langsung di bahan bakunya. B20, B30 itu campuran 2 produk akhir yaitu FAME dicampur BBM Solar. Kalau B100 bahan bakunya yang dicampur dengan crude oil di proses di refinery, dan sudah ada campuran BBN disitu,” jelas Rizwi.

Belum lama ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga telah meluncurkan Road Test Penggunaan Bahan Bakar B30 (campuran biodiesel 30 persen pada bahan bakar solar) pada kendaraan bermesin diesel, yang akan mulai diimplementasikan untuk transportasi pada 2020 nanti. United States Department of Agriculture (USDA) mencatat, semenjak tahun 2015, Indonesia merupakan negara penghasil terbesar sawit dengan presentase 54 persen dari produksi dunia, yakni sekitar 32 juta Metrik Ton per tahun, diikuti oleh Malaysia. Indonesia dan Malaysia mengusai market share kelapa sawit dunia sebesar 84 persen. Kebijakan mandatori biodiesel yang telah dicanangkan Pemerintah sejak Agustus 2015 pun sangat bermanfaat. Kebijakan tersebut telah berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 13,6 juta ton CO2e, meningkatkan demand terhadap CPO, penggunaan biodiesesl dari sawit sebesar 9,12 juta KL, pajak yang dibayarkan kepada negara Rp 2,47 trilliun dan penghematan devisa akibat tidak perlu import solar hingga Rp51,5 trilliun.
https://sumsel.antaranews.com/berita/389591/rizwi-b20-tingkatkan-performa-kendaraan

Kontan | Rabu, 10 Juli 2019
Menyoal Peniadaan Tarif Impor Etanol

Etanol atau etil alkohol termasuk dalam alkohol primer merupakan obat psikoaktif dan ditemukan dalam minuman beralkohol dan termometer. Pakistan merupakan pengekspor etanol terbesar ke empat di dunia karena negara seribu cahaya ini mengekspor mayoritas produksi etanolnya. Ini karena Pakistan merupakan negara berbentuk Republik Islam yang mengharamkan dan melarang masyarakat mereka untuk mengkonsumsi produk beralkohol. Di Indonesia etanol digunakan sebagai pelarut berbagai bahan kimia untuk konsumsi langsung dan tidak langsung manusia. Contohnya adalah pelarut parfum, minuman keras, perasa, pewarna makanan, obat-obatan dan bahan bakar energi terbarukan. Industri etanol dalam negeri berkait erat dengan petani tebu. Penyebabnya karena industri etanol membutuhkan hasil samping pembuatan gula dari tebu yaitu tetes (molasse) sebagai bahan baku. Jika industri etanol gulung tikar, akan merugikan petani tebu karena tidak ada yang membeli molasse. Penghapusan tarif masuk etanol dari Pakistan dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Dua dampak tersebut adalah peningkatan peredaran minuman keras (miras) dan mematikan industri etanol dalam negeri.

Dengan bertambahnya pasokan etanol sebagai sumber bahan baku miras, maka akan menurunkan harga miras. Miras merupakan barang konsumtif habis sekali pakai. Meningkatnya kemiskinan, pengangguran dan angka kriminalitas adalah sisi negatif yang timbul ketika konsumsi miras naik. Namun pada sisi lain, peniadaan tarif impor etanol berpotensi mendorong implementasi penggunaan bahan bakar nabati (biofuel) di Indonesia. Alasannya kaena akan membantu pemerintah menyediakan stok etanol dalam negeri sebagai bahan baku ramah lingkungan dengan harga keekonomian. Selama ini kurangnya pasokan etanol produksi dalam negeri menjadi salah satu alasan pemerintah belum menerapkan Instruksi Presiden (Inpres) No. 1 tahun 2006 tentang penyediaan dan pemanfaatan biofuel sebagai bahan bakar. Padahal, pemanfaatan biofuel dari etanol (bioetanol) sebagai bahan bakar memiliki multiplayer effect yaitu mengurangi efek rumah kaca, diversifikasi energi dan industri yang berujung pada penciptaan lapangan kerja. Menanggapi persoalan diatas, penulis menawarkan pembentukan Lembaga Ekpor Impor Etanol (LEIT) sebagai win-win solution bagi stakeholder terkait. LEIT menjadi satu-satunya lembaga dengan kewenangan menentukan jenis etanol, kuota ekspor impor dan harga transaksi di Indonesia.

LEIT ini diisi oleh perwakilan Kementerian Perdagangan (Kemdag), Kementerian Perindustrian (Kemprin), Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM), organisasi produsen etanol baik pemerintah atau swasta, trader etanol dan aparat berwajib yang berkompeten. LEIT dibutuhkan untuk menciptakan transparansi, akuntabilitas dan keseimbangan pasokan dan permintaan etanol di Indonesia. Sehingga menghilangkan kecurigaan antar stakeholder dalam kegiatan impor etanol. Bila terwujud, keberadaan lembaga ini akan menjamin beberapa hal. Pertama, surplus perdagangan Indonesia dengan Pakistan. Kedua, tidak terjadinya masalah sosial akibat “banjir” etanol sebagai bahan baku minuman keras. Ketiga, optimalisasi penggunaan bahan bakar terbarukan dari bioetanol. Keempat, petani tebu tidak merugi. Kelima, tidak ada pengangguran akibat penutupan pabrik bioetanol dalam negeri. Pemerintah harus jelas, cepat, cermat dan tegas bersikap untuk menyelesaikan persoalan ini. Tujuan peniadaan tarif impor etanol tidak menjadi alasan Indonesia kehilangan surplus ekonomi dari Pakistan.
https://analisis.kontan.co.id/news/menyoal-peniadaan-tarif-impor-etanol?page=2

Antaranews | Rabu, 10 Juli 2019
Kementerian ESDM : B20 Tingkatkan Performa Kendaraan

Direktur Pembinaan Usaha Hilir Migas Kementerian ESDM, Muhammad Rizwi Jinalisaf Hisjam menyebutkan bahwa dalam pengimplementasian B20 justru memberikan manfaat dari sisi performa kendaraan. “Manfaat dari B20 secara bahan bakar performanya lebih bagus. Secara kelemahan, nilai kalornya dari BBN ini lebih rendah dari BBM, tapi secara performance bahan bakar lebih bagus, benefitnya lebih banyak”, ungkap Rizwi dalam informasi yang dihimpun Antara di Jakarta, Rabu. Setelah B20, Pemerintah pun serius mengembangkan B30. Riswi menyampaikan bahwa baru-baru ini ini Pemerintah meluncurkan road test B30 dengan memberangkatkan 3 unit truk dan 8 unit kendaraan penumpang berbahan bakar B30 yang masing-masing akan menempuh jarak 40 ribu dan 50 ribu kilometer. Hal ini sebagai bagian promosi ke masyarakat bahwa B30 memiliki performa yang baik dan ramah lingkungan. “Kenapa kita mau mengembangkan terus B30 hingga ke B100? B100 ini kedepannya bukan artinya seluruhnya B100 dari BBN, tapi bahan bakunya menjadi bahan baku refinery. Jadi solar dicampurnya langsung di bahan bakunya. B20, B30 itu campuran 2 produk akhir yaitu FAME dicampur BBM Solar. Kalau B100 bahan bakunya yang dicampur dengan crude oil di proses di refinery, dan sudah ada campuran BBN disitu,” jelas Rizwi.

Belum lama ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga telah meluncurkan Road Test Penggunaan Bahan Bakar B30 (campuran biodiesel 30 persen pada bahan bakar solar) pada kendaraan bermesin diesel, yang akan mulai diimplementasikan untuk transportasi pada 2020 nanti. United States Department of Agriculture (USDA) mencatat, semenjak tahun 2015, Indonesia merupakan negara penghasil terbesar sawit dengan presentase 54 persen dari produksi dunia, yakni sekitar 32 juta Metrik Ton per tahun, diikuti oleh Malaysia. Indonesia dan Malaysia mengusai market share kelapa sawit dunia sebesar 84 persen. Kebijakan mandatori biodiesel yang telah dicanangkan Pemerintah sejak Agustus 2015 pun sangat bermanfaat. Kebijakan tersebut telah berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 13,6 juta ton CO2e, meningkatkan demand terhadap CPO, penggunaan biodiesesl dari sawit sebesar 9,12 juta KL, pajak yang dibayarkan kepada negara Rp 2,47 trilliun dan penghematan devisa akibat tidak perlu import solar hingga Rp51,5 trilliun.
https://pemilu.antaranews.com/berita/949372/kementerian-esdm-b20-tingkatkan-performa-kendaraan

Cnnindonesia | Rabu, 10 Juli 2019
Hingga Juni, Penyaluran Biodiesel Baru 47 Persen dari Target

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi penyaluran biodiesel hingga akhir Juni 2019 mencapai 2,9 juta kiloliter (kl). Realisasi itu setara dengan 47 persen dari alokasi sepanjang tahun ini yang mencapai 6,2 juta kl. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) FX Sutijastoto mengungkapkan secara umum penyaluran biodiesel tahun ini relatif baik. Dibanding prognosa target penyaluran selama periode Januari-Juni 2019, realisasinya sudah di atas 90 persen. “Target penyaluran (biodiesel) enam bulan 50 persen, sudah tercapai sekitar 47 persen. Artinya, realisasinya sudah 95 persen,” ujar pria yang akrab disapa Toto ini di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Rabu (10/7). Menurut dia, penyaluran biodiesel relatif kencang pada Maret-April. Pada periode tersebut, rata-rata realisasinya mencapai 100 hingga 104 persen dari target bulanan. Sementara, pada periode musim penghujan, penyalurannya relatif melambat karena menurunnya kebutuhan minyak Solar.

“Belakangan ini kan penghujan, banyak tambang-tambang yang banjir, sehingga tidak berproduksi,” jelasnya. Melihat capaian hingga tengah tahun, Toto optimistis realisasi penyaluran biodiesel hingga akhir tahun akan tercapai. “Realisasi (penyaluran biodiesel) sekarang (Januari-Juni) itu dua kali lipat dari periode yang sama 2018,” terang dia. Penetapan alokasi volume biodiesel merupakan bentuk pelaksanaan Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 41 Tahun 2018 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN) Jenis Biodiesel dalam Kerangka Pembiayaan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit, sebagaimana telah diubah dengan Permen ESDM Nomor 45 Tahun 2018. Alokasi biodiesel tersebut diperlukan untuk melaksanakan mandatori pencampuran biodiesel sebanyak 20 persen pada minyak Solar (B20). Penetapan alokasi biodiesel untuk tahun ini dituangkan dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 2018 K/10/MEM/2018 tentang Pengadaan Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel Untuk Pencampuran Jenis Bahan Bakar Minyak Periode Januari-Desember 2019. Total Badan Usaha Bahan Bakar Nabati yang ditunjuk pemerintah untuk menyediakan biodiesel sebanyak 19 badan usaha. Kemudian, Badan Usaha Bahan Bakar Minyak (BBM) yang ditunjuk sebanyak 18 badan usaha.
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190710185840-85-410990/hingga-juni-penyaluran-biodiesel-baru-47-persen-dari-target

Cnbcindonesia | Rabu, 10 Juli 2019
Hingga Juni 2019, Serapan Biodiesel Capai 46% Target

Pemerintah mencatat, terhitung sejak Januari 2019 sampai dengan 30 Juni 2019, serapan biodiesel ada di 2,9 juta kiloliter (kl). “Itu sekitar 46,78% dari target yang sebesar 6,2 juta kl,” ujar Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Andriah Feby saat dijumpai di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Rabu (10/7/2019). Adapun, sebelumnya, pemerintah juga sudah melakukan uji coba penggunaan B30 pada kendaraan bermesin diesel. Penggunaan B30 ini dinilai mampu menghemat impor hingga senilai Rp 70 triliun. Ditargetkan penggunaan bahan bakar B30 dilakukan di tahun depan. Kepala Badan Litbang Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana menjelaskan volume impor solar tahun depan bisa hemat 8-9 juta kilo liter (kl). Dengan asumsi harga solar per liter Rp 8.900, maka nilainya sebesar Rp 70 triliun setara dengan US$ 6 miliar. “Kalau B30 berjalan maka 8-9 juta kl akan bisa kita hindari di impor solar. Harga Rp 8.900 per liter tinggal dikalikan 8-9 juta KL. Jadi sekitar Rp 70 triliunan,” ungkap Dadan dalam Konferensi Pers usai Launching Road Test Penggunaan Bahan Bakar B30 di Kementerian ESDM, Kamis (13/6/2019). Menteri ESDM Ignatius Jonan juga pernah menyampaikan penggunaan bahan bakar B30 akan menurunkan defisit neraca perdagangan akibat impor bahan bakar yang selama ini dilakukan.
https://www.cnbcindonesia.com/news/20190710151448-4-83964/hingga-juni-2019-serapan-biodiesel-capai-46-target