+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Shell Rimula Diklaim Cocok untuk Alat Berat Biodiesel

Harian Seputar Indonesia | Senin, 15 Oktober 2018

Shell Rimula Diklaim Cocok untuk Alat Berat Biodiesel

Shell Lubricants Indonesia memastikan rangkaian produk pelumas Shell Rimula yang banyak digunakan di sektor industri cocok untuk mesin kendaraanberat berbahan bakar Biodiesel sesuai batas yangdiizinkan pabrikan mesin. Director of Marketing Shell Lubricants Indonesia Andreas Pradhana menjelaskan, pihaknya selalu berupaya memberikan yangterbaik bagikonsumen diberbagai sektorbisnis. Pelumas mesin diesel Shell Rimula telah banyak digunakan di sektor industri strategis di Indonesia, seperti pertambangan, transportasi, agrikultur, ketenagalistrikan, dan konstruksi. “Memastikan bahwa produk pelumas Shell cocok digunakan dengan bahan bakar biodiesel adalah bagian dari komitmen kami untuk memberikan produk dengan kualitas terbaiksesuai kebutuhan konsumen,” kata Andreas di Jakarta, Senin (8/10). Rangkaian produk pelumas mesin diesel Shell Rimula yang telah dinyatakan sesuai bahan bakar biodiesel an tara lain Shell Rimula R3MV15W40CI4,Shell Rimula R6 LM 10W40 CK4, dan R4MV15W40CK4 yang banyak digunakan di sektorpertambangan. Selain itu, ada Shell Rimula R4X15W40CI4 dan Shell Rimula R240 SAE 40 CFyangbanyak digunakan di sektor transportasi, agrikultur, ketenagalistrikan, dan konstruksi

“Sejalan dengan kampanye Shell untuk Indonesia, kami terus mendukungupaya Pemerintah Indonesia menggerakkan berbagai sektorindustri strategis di Indonesia,” kata Andreas. Dia menambahkan, informasi mengenai produk dan layanan terbaru dari Shell akan dibagikan dalam acara Expert Con-nect-MaximizingPerformance in B20 Implementation Era yang akan dilaksanakan pada Oktober 2018 di Jakarta. “Dalam acara tersebut, Shell akan menghadirkan para tenaga ahli dari bisnis bahan bakar dan pelumas melalui konsep diskusi dua arah. Diharapkan konsumen yang hadir akan mengerti lebih detail implementasibio-diesel sehingga proses produksi dan operasi dapatterusberjalan dengan efisien,” ucapnya.

Investor Daily Indonesia | Senin, 15 Oktober 2018

Program B20 Masih Terhambat, Badan Usaha Berpotensi Kena Denda

JAKARTA – Pemerintah mengakui perluasan program mandatori Biodiesel 20% CB20) belum berjalan 100%. Atas kondisi ini, badan usaha yang wajib menjalankan program ini berpotensi terkena denda sekitar Rp 270 miliar. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan, pemerintah telah mengidentifikasi badan usaha yang tidak maksimal menjalankan mandatori B20, baik badan usaha bahan bakar minyak (BBM) maupun badan usaha bahan bakar nabati (BBN). Sayangnya, Rida mengaku lupa jumlah badan usaha yang berpotensi didenda ini. “Dua-duanya (kena sanksi), tetapi lebih banyak di badan usaha BBN. Kalau berapa, terakhir di rapat di Kementerian Perekonomian, potensi (denda) temuan awal kurang lebih Rp 270 miliar,” kata dia di Jakarta, akhir pekan lalu. Meski demikian, lanjutnya, belum ada perusahaan yang dikenai denda hingga sekarang. Pasalnya, pemerintah masih membuat petunjuk teknis soal penerapan sanksi ini. Yang jelas, denda dikenakan pada volume BBM yang tidak dicampur dengan unsur nabati {fatty acid methyl eter/FAME). “Harusnya yang dicampur misalnya 1.000, yang dicampur hanya 800, berarti yang 200 yang didenda,” ujar Rida.

Ketentuan mengenai sanksi ini diatur dalam, Peraturan Menteri ESDM No 41 Tahun 2018. Pasal 18 beleid ini menyebutkan, jika badan usaha tidak memenuhi ketentuan mandatori, maka akan dikenai sanksi administratif berupa denda atau pencabutan izin usaha. Denda ditetapkan sebesar Rp 6.000 per liter volume Biodiesel yang wajib dicampur dengan volume BBM pada bulan berjalan. Namun, badan usaha BBM tidak dikenai sanksi jika hal tersebut dikarenakan ada keterlambatan, keterbatasan, dan/atau ketiadaan pasokan Biodiesel dari badan usaha BBN. Selain itu, badan usaha juga tidak akan didenda jika ada ketidaksesuaian pasokan Biodiesel dengan kualitas yang disepakati dalam kontrak. Masih mengacu beleid yang sama, realisasi pencampuran Biodiesel ini dihitung berdasarkan volume penyaluran solar di depot atau terminal BBM milik badan usaha BBM dikali dengan selisih antara persetase Biodiesel minimal penahapan dengan persentase Biodiesel hasil temuan. Bagi badan usaha BBN yang diberi sanksi, diperbolehkan mengajukan keberatan tertulis paling lambat 15 haru kerja sejak diterimanya pemberitahuan.

Rida menjelaskan, program mandatori B20 belum berjalan maksimal lantaran adanya kendala logistik dan transportasi. Salah satunya yakni soal kapal, pihaknya hanya memastikan bahwa jumlah kapal yang tersedia mencukupi Nyatanya, kapal yang dipakai untuk mengangkut Biodiesel harus memiliki spesifikasi khusus. “Bukannya kami tidak mitigasi, tetapi ini diluar ekspektasi kami. Waktu dicek hanya jumlah kapalnya, cukup. Ternyata belakangan kapalnya itu harus spesifikasi khusus. Intinya, bahwa ini masih belum optimal, iya, tetapi getting better” paparnya. Rida mengaku belum memiliki angka realisasi mandatori B20 sepanjang September lalu. Namun, berdasarkan data PT Pertamina (Persero), sejak 1 September hingga 25 September kemarin, FAME yang diterima oleh pihaknya tercatat baru sebesar 224.607 kiloliter (KL) dari rencana penerimaan periode tersebut sebesar 359.734 KL Sementara jumlah FAME yang dipesan sepanjang September ini mencapai 431.681 KL Dari 112 terminal BBM yang ada, sejauh ini hanya 7 terminal yang menerima langsung pasokan FAME dari Badan Usaha BBN. Namun, sampai 10 September, perseroan telah memastikan ketersediaan B20 di 69 terminal BBM miliknya.

Mengacu data Pertamina, sampai 17 September, jumlah terminal yang mendistribukan B20 ini telah bertambah menjadi 74 terminal. Tambahan ini yakni Terminal BBM Jobber Ketapang, Tual, Badas, Tahuna, Waingapu, Maumere, Banggai, Ampenan, dan Reo. Dalam mandatori B20, pemerintah memberikan relaksasi bagi tidak sektor, yakni pembangkit listrik, alat utama sistem persenjataan (alutsista), dan kendaraan Tambang PT Freeport Indonesia. Terkait hal ini, Rida menuturkan, pihaknya telah memeriksa kondisi di Tambang Freeport di Timika, Papua. “Intinya, mereka, para expert yang mengerti mesin dan BBM akan rapat lagi kira-kira langkah apa. Yang pasti, mereka sudah tahu kondisi di sana seperti apa,” kata dia. Dalam kunjungan lokasi itu, lanjutnya, baru sebatas dilakukan pemetaan. Tim memetakan di mana lokasi tangkinya, serta berapa BBM yang disalurkan ke Tambang di atas dan ke daerah di bawah. Selanjutnya, tim juga mengambi sampel bahan bakar yang dibawa ke atas yang merupakan daerah dingin dan ke bawah. “Makanya akan didiskusikan dengan ahli BBM-nya. Artinya, sementara mereka masih boleh memakai BO alias solar murni,” tutur Rida.

Untuk pemakaian B20 di alutsista, dikatakannya, hingga kini masih dalam proses uji coba dengan Kepolisian dan TNI. Sementara di pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD), PT PLN (Persero) tinggal memberikan daftar berapa pembangkit yang bisa memakai Biodiesel dan berapa yang tidak bisa. Pada tahun ini, pemerintah memproyeksikan penyerapan FAME bisa mencapai 3,9 juta KL, yakni untuk solar bersubsidi 2,8 juta KL dan nonsubsidi 1,08 juta KL Sementara potensi penghematan devisa diperkirakan sebesar Rp 30,59 triliun.

Kontan | Minggu, 14 Oktober 2018

B20 berlaku, harga TBS sawit petani masih stagnan

Sudah satu setengah bulan sejak program biodiesel 20% (B20) berlaku pada 1 September 2018. Tapi, harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani kelapa sawit masih belum meningkat. Menurut Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), harga TBS di tingkat petani masih sekitar Rp 1.200 per kg untuk yang bermitra sedangkan sekitar Rp 800 per kg untuk yang tidak bermitra. Kebijakan penggunaan CPO pada bahan bakar solar sedianya diharapkan bisa mendongkrak harga TBS di petani. tapi sampai saat ini harga TBS di tingkat petani masih belum terlihat naik. Direktur Eksekutif Gapki, Mukti Sardjono menjelaskan, harga TBS tidak mengalami peningkatan karena harga Crude Palm Oil (CPO) dunia masih rendah. “Sementara stok di Indonesia dan Malaysia sebagai negara produsen terbesar masih tinggi,” lanjutnya kepada Kontan, Sabtu (13/10).

https://industri.kontan.co.id/news/b20-berlaku-harga-tbs-sawit-petani-masih-stagnan

Investor Daily Indonesia | Sabtu, 13 Oktober 2018

Pertamina Kaji Proyek Kilang Hasilkan Green Diesel

masih mengkaji proyek perbaikan dua kilang agar dapat menghasilkan green diesel atau solar yang diolah dari minyak mentah nabati murni. Jika kilang domestik dapat memproduksi green diesel, maka impor solar bisa dihilangkan. Wakil Menteri ESDM Arcandra Ta-har mengatakan, green diesel berbeda dengan Biodiesel yang kini beredar di pasar. Biodiesel dihasilkan dengan mencampur solar dengan unsur nabati {fatty acid methyl eter/FAME), sementara green diesel dihasilkan dari pengolahan minyak nabati secara hydrotreated. Dari sisi kualitas, green diesel lebih bagus dan lebih ramah lingkungan dari biodiesel. Saat ini, lanjutnya, Pertamina tengah mengkaji perbaikan dua kilangnya agar dapat menghasilkan green diesel, yakni Klang Plaju dan Dumai. “Yang saya terima laporannya dari Pertamina, apakah mengubah atau convert sebagian eksisting kilang, revamping kilang, atau membangun yang baru, itu masih dalam kajian,” kata dia di Jakar ta, Jumat (12/10). Arcandra menambahkan, jika kilang domestik dapat menghasilkan green diesel, maka manfaat yang diperoleh negara cukup besar. Pertama, Indonesia tidak pelu lagi mengimpor solar lantaran kebutuhan yang ada bisa ditutup dengan green diesel. Selain itu, impor minyak mentah juga dapat berkurang mengingat bahan bakar green diesel adalah minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

“Crude yang diolah di kilang kita bisa berkurang, karena apa, diganti dengan CPO. Bahan CPO diolah menjadi green diesel,” ujarnya. Sebelumnya, Pertamina dan Eni telah meneken nota kesepahaman kerja sama terintegrasi, salah satunya potensi pengembangan kilang ramah lingkungan dan peluang bisnis perdagangan, baik migas maupun produk lainnya. Menurut Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, kerja sama ini merupakan komitmen perseroan dalam menyediakan bahan bakar ramah lingkungan. Perseroan menggandeng Eni lantaran keberhasilkannya mengkonversi kilang konvensional menjadi bio-refinery di Porto Maghera pada 2014 lalu, serta menjadi pelopor konversi kilang pertama di dunia. “Kami akan menjajaki potensi konversi serupa untuk pengembangan kilang di Dumai dan Plaju, mengingat kilang tersebut berdekatan dengan sumber bahan baku green fuel, yaitu kelapa sawit Dalam hal ini juga, sebagai bentuk sinergi BUMN, Pertamina akan menjalin kerja sama dengan PTPN,” ujar Nicke. Kerja sama dengan PTPN guna memperoleh pasokan kelapa sawit Sebagai informasi, sebagaimana dikutip dari lamannya, ENI merupakan perusahaan migas pertama di dunia yang menghasilkan green diesel dari kilang miliknya, yakni Eni Venice Green Refinery. Green diesel ini dihasilkan dari hidrogen murni, yakni hydrotreated vegetable oil (HVO), bukan methanol yang biasa digunakan untuk memproduksi biodiesel. Green diesel ini memiliki komposisi hydro-carburic penuh dan kandungan energi yang sangat tinggi.

Ditambahkan Nicke, kerja sama dengan Eni dalam pengembangan kilang ramah lingkungan ini juga sejalan dengan komitmen Pertamina dalam menjalankan program penyaluran Biodiesel 20% (B20) dari pemerintah. Saat ini, perseroan telah menyalurkan B20. Seperti diketahui, mulai 1 September lalu, pemerintah baru menerapkan perluasan mandatori Biodiesel 20% (B20) mencakup sektor industri. Kebijakan ini merupakan langkah pemerintah untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah dan mengurangi impor produk bahan bakar minyak (BBM). Namun, bahan bakar jenis ini ternyata tidak cocok untuk semuajenis mesin, salah satunya untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) milik PT PLN (Persero).

Instruksikan PLN

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Rida Mulyana menuturkan, Menteri ESDM Ignasius Jonan telah menugaskan PLN untuk mengganti bahan bakar PLTD dari solar ke CPO. Namun, perubahan bahan bakar ini membutuhkan investasi untuk mengubah teknologi di pembangkit listrik. Meski demikian, konversi bahan bakar ini belum dipastikan apakah akan CPO murni atau green diesel seperti di Eropa. “Mereka (PLN) kaji dulu apakah seperti Eropa bio-refinery murni feedstock nabati atau dicampur. Opsinya bisa CPO murni juga. Kalau mau pakai kerangka BPDP bisa sawit saja,” kata dia. Hingga sekarang, lanjutnya, masih dibicarakan lebih lanjut soal operasional konversi bahan bakar ini. Kementerian ESDM menginginkan hal ini bisa direalisasikan dalam dua tahun, mengingat ada mesin yang harus ditambahkan. Selain itu, konversi bahan bakar ini dilakukan sepanjang harga CPO tidak lebih mahal dari biodiesel. “Berapa targetnya, kurang lebih 1,5-1,8 gigawatt (GW) dan itu sudah diketok, sepanjang harga CPO nya tidak lebih mahal dari biodiesel,” tutur Rida. Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menuturkan, green diesel memiliki karakter yang serupa dengan minyak solar. Sehingga, bahan bakar jenis ini dapat langsung dipakai di kendaraan bermesin diesel. Namun, lantaran proses pembuatannya perlu fasilitas hydrotreating, perlu kilang pengolahan sendiri untuk menghasilkan green diesel. “Artinya perlu investasi tambahan untuk kilang produksi green diesel,” ujarnya.

Krjogja | Sabtu, 13 Oktober 2018

Pemerintah Wacanakan Program Solar Hijau

Pemerintah berencana mengolah minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) menjadi solar hijau (green diesel) guna mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar. Hal itu digulirkan setelah program campuran biodiesel 20 persen (B20) berjalan tak terlalu mulus karena hambatan pasokan. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar menyebut pengolahan CPO menjadi solar hijau akan dilakukan di dua kilang milik PT Pertamina (Persero). Alih-alih mengimpor produk BBM dari luar negeri, nantinya Pertamina akan menyerap CPO dari pasar domestik. Pada akhirnya, akan mengurangi tekanan defisit neraca perdagangan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), impor migas periode Januari hingga Agustus 2018 berada di angka US$19,77 miliar, atau melonjak 28,29 persen dibanding tahun lalu US$15,41 miliar. Ini menyebabkan defisit neraca perdagangan menjadi US$4 miliar di waktu bersamaan. “Setidaknya dengan green diesel, Indonesia tidak perlu impor Solar, karena Solar diganti green diesel. Kedua, kalau ini bisa digunakan lebih banyak lagi, crude yang biasanya diolah diganti CPO, jadi CPO kilang kami akan produksi menjadi green diesel,” jelas Arcandra.

Lebih lanjut, ia menilai green diesel lebih berkualitas dibanding biodiesel lantaran kadar sulfurnya lebih rendah. Selain itu, green diesel tidak seperti bahan bakar nabati (BBN) dalam bentuk Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang bisa menyebabkan degradasi logam (korosi). “Segala hal memang lebih bagus karena ini ramah lingkungan. Dan negara yang bisa dicontoh dari implementasi green diesel ini adalah Italia, kemarin Bu Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sudah ke sana,” imbuh dia. Rencananya, dua kilang Pertamina yang akan menjadi sarana pengolahan green diesel adalah Plaju dan Dumai. Namun, karena masih kajian, Arcandra masih belum tahu, apakah dua kilang tersebut akan benar-benar dikonversi khusus CPO atau akan ditambah beberapa unit baru.

http://www.krjogja.com/web/news/read/80172/Pemerintah_Wacanakan_Program_Solar_Hijau

Solopos | Sabtu, 13 Oktober 2018

UII Jogja Sulap Cairan Sampah Jadi Bahan Bakar

Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Jogja menawarkan konsep integrasi pengolahan limbah air lindi guna menghasilkan bahan bakar biodiesel, energi listrik, dan air bersih. Air lindi adalah cairan yang merembes dari tumpukan sampah yang terbentuk karena pelarutan dan pembilasan materi-materi yang terlarut dan proses pembusukan oleh aktivitas mikroba. Hal ini merupakan respons atas kondisi tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) yang kotor, berbau, dan mengganggu kenyamanan warga sekitar. Para mahasiswa UII yang menggagas pembuatan bahan bakar biodiesel, energi listrik, dan air bersih dari cairan sampah itu adalah Iis Setianingrum (Jurusan Kimia, angkatan 2015), Vivin Viani (Jurusan Kimia, angkatan 2015), dan Andri Ramadhani (Jurusan Kimia, angkatan 2016). Mereka dibimbing Rudy Syah Putra untuk menawarkan konsep Environmental Sustainable Energy Network yang merupakan keterpaduan remediasi lingkungan dengan energi. “Dalam pengaplikasian konsep ini kami menggunakan beberapa metode yang nantinya dapat berjalan secara berkelanjutan,” jelas Iis seperti disampaikan dalam rilis yang diterima Harianjogja.com dari Solopos Group, Senin (27/8/2018).

Konsep integrasi pengolahan limbah air lindi hadir sebagai jawaban atas keprihatinan mengenai masalah penumpukan sampah. Penumpukan sampah merupakan permasalahan global yang mudah ditemui sehari-hari. Di Indonesia, sudah sangat banyak terdapat TPST. Tapi, kondisi lingkungan TPST yang kotor dan berbau sangat mengganggu kenyamanan masyarakat, yang tinggal di sekitar daerah tersebut, terlebih lagi dengan adanya genangan air lindi. “Berangkat dari permasalahan itulah kami menawarkan konsep ini,” jelas Iis. Air lindi adalah cairan yang merembes ke bawah dari tumpukan sampah yang terbentuk karena pelarutan dan pembilasan materi-materi terlarut dan proses pembusukan oleh aktivitas mikroba setelah adanya air eksternal yang masuk ke dalam tumpukan sampah itu. Vivin menambahkan, konsep integrasi pengolahan limbah air lindi juga memiliki beberapa keunggulan seperti green environmental, zero waste, sustainable development, dan renewable energy. “Dengan munculnya inovasi ini, kami berharap konsep ini dapat menjadi alternatif solusi dalam menyelesaikan permasalahan lingkungan dan juga membantu dalam kecukupan energi di Indonesia,” jelas Vivin. Vivin, mewakili kawan-kawannya dari tim UII Jogja, juga menyatakan terima kasih kepada Kemenristekdikti karena telah memberikan insentif melalui proposal Program Kreativitas Mahasiswa-Gagasan Tertulis (PKM-GT). “Dan telah mengizinkan untuk mempresentasikan konsep ini dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional [PIMNAS] ke-31 di Universitas Negeri Yogyakarta, yang akan diselenggarakan sejak 28 Agustus sampai 2 September 2018.”

http://semarang.solopos.com/read/20181013/515/945663/uii-jogja-sulap-cairan-sampah-jadi-bahan-bakar

Cnbcindonesia | Sabtu, 13 Oktober 2018

RI Punya B20, AS Sedang Berjuang untuk E15

Prediksi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tentang rencana untuk meningkatkan permintaan etanol menarik sorak-sorai di sebuah rally Iowa, Selasa (9/10/2018). Namun, industri penyulingan minyak akan mengajukan gugatan untuk memblokir langkah Trump. Pada Selasa, Trump menunjukkan Badan Perlindungan Lingkungan AS harus mengizinkan pembebasan untuk bensin etanol yang lebih tinggi, dikenal sebagai E15, untuk dijual sepanjang tahun. Sebelumnya, E15 telah dilarang karena kekhawatiran kabut asap. Trump tidak menyebutkan ancaman gugatan dan tidak menanyakan tentang kekhawatiran tersebut. Menurut pakar industri serta preseden hukum, Trump membutuhkan tindakan Kongres untuk mengubah aturan. Hakim Pengadilan Tinggi yang baru, Brett Kavanaugh menulis pada tahun 2012 bahwa Environmental Protection Agency (EPA) tidak dapat mengubah aturan kecuali kongres mengubah hukum, dan industri pengilangan telah berjanji untuk menuntut jika agensi tersebut tetap mencoba. Namun, beberapa pakar industri etanol mengatakan dukungan politik Trump di negara-negara bagian akan memberinya cukup perlindungan untuk mendorong tindakan dari Kongres atau regulator.

Beberapa orang mengatakan liputan media tentang proposal itu sendiri akan membantu anggota kongres Republik dalam perlombaan ketat di negara bagian yang unggul dalam pertaniannya tersebut. “Anda tidak dapat memberitahu Saya bahwa ini tidak memiliki dampak politik,” kata Monte Shaw, kepala Asosiasi Energi Terbarukan Iowa. Dia mengatakan di Cedar Rapids, Iowa, sarapan hari Jumat ketika seorang pelayan mengucapkan selamat kepadanya atas pengumuman Trump. Dia mengatakan, bagaimanapun Trump harus mempublikasikan aturan menjelang pemilihan November atau Demokrat akan mencoba untuk menggunakan pengumuman tersebut dalam kepentingan politik. Bahan bakar AS yang dijual di musim panas mengandung 10% etanol. Selama bertahun-tahun, industri biofuel telah berusaha untuk mencabut larangan musim panas pada E15, dengan 15% etanol, untuk meningkatkan permintaan domestik atas etanol berbasis jagung. Sejak Trump menjabat, telah ada tarik ulur tentang kebijakan etanol dalam pemerintahannya.

Mantan penasehat Trump, miliarder perminyakan Carl Icahn, memimpin upaya untuk mengubah aturan yang mengharuskan penyuling untuk memadukan biofuel ke dalam bensin atau menyerahkan pada mereka yang bisa melakukannya. Industri biofuel dan Demokrat mengecam usaha tersebut. Mereka mengatakan kepemilikannya di perusahaan penyulingan CVR Energy menciptakan konflik kepentingan. Icahn akhirnya mundur sebagai penasihat presiden. Trump telah mencoba bersaing pada industri jagung dan minyak pesaing, dengan mencari cara untuk meningkatkan permintaan etanol secara keseluruhan sambil memberikan bantuan penyuling dari biayanya. Pemerintah tidak dapat menjamin jaminan dari industri pengilangan untuk tidak menuntut kembali atas pencabutan larangan E15. Namun dengan pemilihan paruh waktu menjulang, Trump mendapatkan simpati publik dan berpihak pada pendukung Pertanian Belt yang membantu mengamankan kemenangan pemilu 2016 yang sempit.

Beberapa pakar industri mengatakan bahwa Clean Air Act melarang perubahan seperti itu tanpa tindakan Kongres. “EPA tidak dapat mengubah aturan yang dibuat oleh Kongres,” kata Jonathan Lewis, penasihat senior untuk Clean Air Task Force, lembaga nonprofit yang bekerja untuk mengurangi polusi. “Mereka membutuhkan Kongres untuk mengubah Undang-Undang Udara Bersih.” Dalam sebuah kasus tahun 2012 yang diberhentikan dengan alasan prosedural, Kavanaugh menulis: “Pengabaian mungkin adalah kebijakan yang baik; jika demikian, Kongres memiliki kekuatan untuk memberlakukan undang-undang baru yang memungkinkan E15. Tetapi di bawah undang-undang seperti yang ditulis saat ini, EPA tidak memiliki otoritas untuk pengabaian.” Industri pengilangan telah ikut terlibat. “Kami dan organisasi lain akan menuntut. Saya pikir kasusnya cukup hitam-putih bahwa itu melanggar hukum,” kata Chet Thompson, kepala Produsen Bahan Bakar dan Petrokimia Amerika. Terlepas dari tantangan ini, Trump mengaburkan rencananya pada rapat umum pada Selasa di Council Bluffs, Iowa, bagian dari distrik kongres di mana Perwakilan Presiden AS David Young menghadapi pertarungan yang sulit.

“Saya percaya pemerintah memahami betapa pentingnya masalah ini bagi banyak petani di seluruh negeri,” kata Andrew Walmsley, seorang direktur di American Farm Bureau, kelompok kepentingan. “Jika Kongres tidak dapat melakukannya, mungkin EPA harus mencoba – itulah pola pikir.” Di Indonesia, pemerintah baru saja menerapkan kebijakan B20 dimana bahan bakar solar dicampur dengan 20% biodiesel. Kebijakan ini diterapkan untuk mengurangi impor bahan bakar minyak yang menekan nilai tukar rupiah.

https://www.cnbcindonesia.com/market/20181013120250-17-37249/ri-punya-b20-as-sedang-berjuang-untuk-e15

Cnnindonesia | Sabtu, 13 Oktober 2018

Setelah B20, Kini Pemerintah Wacanakan Program Solar Hijau

Pemerintah berencana mengolah minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) menjadi solar hijau (green diesel) guna mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar. Hal itu digulirkan setelah program campuran biodiesel 20 persen (B20) berjalan tak terlalu mulus karena hambatan pasokan. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar menyebut pengolahan CPO menjadi solar hijau akan dilakukan di dua kilang milik PT Pertamina (Persero). Alih-alih mengimpor produk BBM dari luar negeri, nantinya Pertamina akan menyerap CPO dari pasar domestik. Pada akhirnya, akan mengurangi tekanan defisit neraca perdagangan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), impor migas periode Januari hingga Agustus 2018 berada di angka US$19,77 miliar, atau melonjak 28,29 persen dibanding tahun lalu US$15,41 miliar. Ini menyebabkan defisit neraca perdagangan menjadi US$4 miliar di waktu bersamaan.

“Setidaknya dengan green diesel, Indonesia tidak perlu impor Solar, karena Solar diganti green diesel. Kedua, kalau ini bisa digunakan lebih banyak lagi, crude yang biasanya diolah diganti CPO, jadi CPO kilang kami akan produksi menjadi green diesel,” jelas Arcandra, Jumat (12/10). Lebih lanjut, ia menilai green diesel lebih berkualitas dibanding biodiesel lantaran kadar sulfurnya lebih rendah. Selain itu, green diesel tidak seperti bahan bakar nabati (BBN) dalam bentuk Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang bisa menyebabkan degradasi logam (korosi). “Segala hal memang lebih bagus karena ini ramah lingkungan. Dan negara yang bisa dicontoh dari implementasi green diesel ini adalah Italia, kemarin Bu Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sudah ke sana,” imbuh dia. Rencananya, dua kilang Pertamina yang akan menjadi sarana pengolahan green diesel adalah Plaju dan Dumai. Namun, karena masih kajian, Arcandra masih belum tahu, apakah dua kilang tersebut akan benar-benar dikonversi khusus CPO atau akan ditambah beberapa unit baru. “Kami juga belum tahu apakah proyek green diesel ini akan masuk dari bagian penambahan kompleksitas dan kapasitas kilang Pertamina (Refinery Development Master Plan/RDMP) karena kajian ini masih terlalu dini,” pungkas Arcandra. Sebelumnya, Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan dua kilang Pertamina akan digunakan untuk mengolah green diesel. Bahkan, pemerintah akan menggandeng perusahaan asal Italia, Eni untuk melakukan kerja sama dengan Pertamina terkait hal tersebut.

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20181012162841-85-338012/setelah-b20-kini-pemerintah-wacanakan-program-solar-hijau

Kumparan | Jum’at, 12 Oktober 2018

Arcandra Ingin Tekan Impor Solar dengan Green Diesel

PT Pertamina (Persero) telah menjalin kerja sama dengan perusahaan energi raksasa asal Italia, Eni, untuk pengembangan kilang ramah lingkungan. Kilang Plaju dan Kilang Dumai akan dimodifikasi agar mampu memproduksi green diesel dari minyak sawit mentah (CPO). Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya (ESDM) Arcandra Tahar berharap produksi green diesel dari kedua kilang tersebut nantinya dapat mengurangi impor Solar. “Jadi at least dengan adanya green diesel, kita enggak perlu lagi impor solar karena yang solar ini diganti oleh green diesel,” ucapnya saat ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Jumat (12/10).Arcandra menambahkan, green diesel ini sedikit berbeda dengan Fatty Acid Methly Ester (FAME) dan sangat mirip dengan Solar. Kualitas green diesel lebih baik dibandingkan biodiesel. Sayangnya pihaknya belum dapat memperkirakan berapa harga green diesel saat dipasarkan. “Saya belum tahu harganya green diesel. Kualitasnya lebih bagus (dari FAME),” imbuhnya. Bedanya lagi dengan biodiesel, green diesel tak perlu dicampur dengan Solar seperti biodiesel, bisa langsung dipakai untuk bahan bakar kendaraan. “Bisa. Green diesel itu lebih bagus bisa digunakan langsung tidak seperti FAME yang dicampur. Ini beda, green diesel beda, kualitas lebih bagus,” pungkasnya.

https://kumparan.com/@kumparanbisnis/arcandra-ingin-tekan-impor-solar-dengan-green-diesel-1539343458628344125

Bisnis | Jum’at, 12 Oktober 2018

Cassandra Lin, Aksi Bocah 10 Tahun Mengubah Minyak Goreng Bekas Jadi Biodiesel

Cassandra Lin baru menginjak usia 10 tahun dan duduk di bangku sekolah dasar ketika memiliki ide membangun sebuah proyek untuk mengubah minyak goreng buangan menjadi bahan bakar. Di usia yang masih sangat muda, Cassandra memang telah memiliki keinginan untuk melakukan hal nyata yang dapat membantu lingkungan sekitarnya. Baginya, usia bukanlah faktor penentu apakah seseorang benar-benar memiliki keinginan untuk membuat perbedaan atau tidak. Melalui ide cemerlangnya, TGIF (Turn Grease Into Fuel) berdiri. Organisasi ini mengumpulkan minyak goreng bekas dari restoran-restoran untuk dapat didaur ulang dan diubah menjadi bahan bakar hayati (biodiesel) bermanfaat bagi masyarakat yang membutuhkan. Cassandra dan timnya di Proyek TGIF telah ditampilkan dalam banyak artikel dan publikasi. Ia sendiri didaulat masuk dalam banyak daftar usahawan muda maupun yang berkaitan dengan lingkungan. Yang paling bergengsi mungkin adalah daftar 25 Orang Muda Paling Berpengaruh di Dunia oleh Youth Service America, yang benar-benar menunjukkan bagaimana Cassandra begitu menginspirasi banyak orang.

Peduli Lingkungan

Lahir pada tahun 1998 di Westerly, Rhode Island, Cassandra tumbuh dalam sebuah keluarga yang memiliki dedikasi besar untuk membantu masyarakat. Sifat dan kebiasaan sosial dalam keluarganya menular dalam diri Cassandra. Sedari kecil ia telah memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan berkeinginan membantu sesama dengan cara-cara yang tak banyak dipikirkan oleh gadis seusianya. “Saya mendengar isu perubahan iklim yang semakin dahsyat. Saya menemukan bahwa penyebab utama masalah global ini adalah konsumsi manusia dari bahan bakar fosil. Kita membakar begitu banyak batu bara dan minyak sehingga dunia kita secara harfiah memanas,” jelasnya di kemudian hari. “Tentu saja, sebagai seorang gadis muda di dunia yang besar ini, saya benar-benar merasa ngeri,” tambahnya, dilansir dari My Name My Story. Ia menyadari tinggal di sebuah kota pantai kecil yang hanya memiliki waktu tempuh lima menit dari lautan. Jika pemanasan global dibiarkan berlanjut dengan laju saat itu, bagian-bagian dari kotanya dan banyak wilayah lain pada akhirnya bisa terendam air. “Saya berjanji pada diri sendiri bahwa saya akan melakukan segala upaya semampu saya untuk mencoba dan menghentikan permasalahan yang memburuk ini,” tekadnya.

Hal ‘Kecil’ di Usia 10 Tahun

Cassandra kemudian menghimpun teman-temannya dan membentuk tim layanan masyarakat yang berdedikasi untuk membantu masyarakat dan lingkungan pada saat yang bersamaan. Kelompok mereka dinamakan tim WIN (Westerly Innovations Network), yang namanya diinspirasikan dari sebuah kelompok layanan masyarakat bentukan kakak laki-lakinya. “Kemudian kami duduk di meja bundar, mencari tahu apa yang ingin kami capai. Apa yang bisa kami, anak-anak berusia delapan hingga sepuluh tahun, lakukan untuk membantu memecahkan masalah ini?” ujar Cassandra. Layaknya kelompok ilmiah mereka berdiskusi dan bertukar pikiran. Mereka memahami bahwa pemanasan global dapat diperlambat dengan mengganti bahan bakar fosil dengan energi alternatif, seperti biodiesel. Pada 2008, mereka berkesempatan menghadiri sebuah konferensi energi dan mempelajari bahwa minyak goreng buangan dapat dimurnikan menjadi bahan bakar hayati. Namun, yang benar-benar menggerakkan kelompok mereka adalah sebuah artikel dalam surat kabar setempat. Artikel itu mengabarkan kegiatan amal para warga untuk memenuhi bantuan pemanas darurat bagi keluarga yang membutuhkan di tengah dinginnya New England. Di sinilah, ide untuk TGIF bermula.“Kami meningkatkan kesadaran akan pemanasan global dengan membagikan 6.300 selebaran, 4.500 kalender dapur, menayangkan PSA dengan COX Media dan membuat presentasi,” terang Cassandra.

Gaet Restoran dan Lobi Kencang

Dilansir Biodiesel Magazine, fokus awal Cassandra dan timnya ditujukan pada kampung halaman mereka di Westerly. Mereka mengunjungi restoran-restoran lokal dan mendorong perusahaan-perusahaan untuk berpartisipasi dalam program minyak goreng buangan (waste cooking oil). Tak mudah memang bagi sebuah organisasi kecil berisikan sosok-sosok muda untuk menghadapi kerasnya dunia luar. Kelompok ini mendapati pertentangan karena banyak bisnis yang benar-benar menghasilkan pendapatan dengan menjual minyak bekas. Cassandra turun tangan. Bocah ini melancarkan negosiasi cerdas. Perusahaan-perusahaan dapat berkontribusi sekitar 10% hingga 100% dari WCO mereka dan mempertahankan sisanya untuk dijual demi keuntungan. Setelah melakukan banyak kunjungan serta bergulat dengan bermacam diskusi yang persuasif, Cassandra akhirnya mampu menggaet 132 restoran untuk berpartisipasi dalam program daur ulang WCO-nya. Ia dan timnya menghubungi banyak perusahaan, di antaranya Grease Co., Newport Biodiesel, dan Guardian Fuel untuk membantu memurnikan dan mengolah minyak. Setiap bulannya, tim ini bisa mengumpulkan lebih dari 4.000 galon minyak bekas. TGIF juga bekerja sama dengan organisasi-organisasi nirlaba lokal untuk mendistribusikan bahan bakar, khususnya kepada keluarga-keluarga yang kesulitan secara finansial dalam memenuhi kebutuhan untuk pemanas.

Prestasi Mengesankan

Bertahun-tahun kemudian, Cassandra telah mengembangkan metodenya serta memperluas jangkauan bantuannya ke komunitas-komunitas lain, di antaranya di Connecticut, Rhode Island, dan Massachusetts. Dia juga telah mengembangkan sebuah toolkit, yang menyediakan dokumentasi untuk kelompok-kelompok lain untuk memulai proyek di komunitas mereka sendiri. Semangat dan tekad Lin telah memberi manfaat bagi banyak keluarga dan lingkungan. Badan perlindungan lingkungan di Amerika Serikat (Environmental Protection Agency/EPA) memperkirakan adanya keseimbangan terhadap lebih dari 2 juta pon karbon dioksida karena penggunaan biodiesel WCO. Prestasinya di usia muda yang sangat mengesankan bertambah. Ia menginisiasi dan membantu meloloskan Used Cooking Oil Recycling Act of 2011, sebuah aturan untuk daur ulang minyak goreng bekas, di Rhode Island. Ia mampu meyakinkan Westerly School District untuk menjalankan bahan bakar hayati berdaur ulang serta berhasil menjalankan program TGIF-nya. Oleh banyak orang, Proyek TGIF disebut serangkali disebut ‘win-win solution’. Namun di atas dari segala pencapaiannya, Cassandra ingin agar semua orang menyadari bahwa proyeknya adalah sesuatu yang dapat dilakukan dan diraih oleh siapa pun di mana saja. “Biodiesel dapat digunakan dalam banyak cara, sangat serbaguna. Ini menjawab banyak kebutuhan dan [program TGIF] benar-benar mudah untuk dimulai,” ucap Cassandra dalam suatu kesempatan.

Pemimpin Masa Depan

Cassandra kini berusia 20 tahun dan seorang mahasiswa di salah satu kampus bergengsi, Stanford University. Namun, bukan berarti tekadnya untuk membuat perbedaan menjadi terhenti. Justru prestasinya semakin bergema. Ia pernah didaulat sebagai salah satu peraih L’Oreal Paris Women of Worth. Penulis dan jurnalis kenamaan CNN, Anderson Cooper, bahkan menyebut Cassandra sebagai ‘Young Hero’. “Setelah melakukan program ini, saya merasa lebih sadar akan mereka yang kurang beruntung. Saya telah belajar banyak dari mereka dan dari pengalaman ini. Saya bisa melihat langsung dampak yang kami buat. Itu jelas mengubah saya,” ujar Cassandra dalam suatu wawancara, seperti dikutip The Extraordinary. Sebagian orang mungkin berpikir bahwa untuk melakukan sesuatu yang baik bagi masyarakat, diperlukan banyak sumber daya, pelatihan, dan tenaga.

Kita seringkali berpikir harus memulai hal yang besar, dan karena itu pada akhirnya menjalani hidup tanpa mendapatkan kesempatan untuk membantu seseorang. Tetapi ini jelas bukan pola pikir Cassandra. Baginya, melakukan sesuatu yang baik untuk lingkungan di sekeliling Anda bisa dimulai dari tindakan baik kecil yang mungkin tampaknya tidak penting untuk ditawarkan. Ia juga percaya setiap anak adalah pemimpin masa depan. “Sejak berusia muda, saya menyadari bahwa terkadang Anda tidak bisa menunggu perubahan untuk terjadi. Anda harus mewujudkannya, dan jadilah pahlawan Anda sendiri. Jika sekelompok anak usia 10 tahun dapat membuat perbedaan di dunia, Anda juga bisa!”

http://entrepreneur.bisnis.com/read/20181012/265/848657/cassandra-lin-aksi-bocah-10-tahun-mengubah-minyak-goreng-bekas-jadi-biodiesel

Inews | Jum’at, 12 Oktober 2018

Pemerintah Kaji Green Diesel, Kualitas Lebih Baik daripada Biodiesel

Pemerintah tengah mengkaji penggunaan green diesel di dalam negeri karena memiliki kualitas yang lebih bagus dari biodiesel. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan, dengan kehadiran green diesel, impor solar tidak diperlukan lagi. Hal ini berbeda dengan biodiesel yang membutuhkan solar untuk dicampur. “Jadi at least dengan adanya green diesel, kita tidak perlu lagi impor solar karena yang solar ini diganti oleh green diesel. Kalau nanti ini bisa digunakan CPO-nya lebih banyak lagi artinya crude nanti yang diolah ke kilang kita juga bisa berkurang,” ujarnya di Jakarta, Jumat (12/10/2018). Arcandra menyebut, rencana untuk memproduksi green diesel masih tahap awal sehingga belum diketahui kilang mana yang akan memproduksinya.

“Ini sedang dikaji apakah mengubah atau meng-convert sebagian dari exiisting (kilang) kita atau reventing ke kilang atau membangun yang baru, masih dalam kajian,” kata dia. Kualitas biodiesel selama ini dikeluhkan oleh konsumen karena meninggalkan karbon yang cukup banyak pada mesin sehingga membuat mesin cepat rusak. Selain itu, biodiesel juga mempunyai kelemahan yaitu membeku pada suhu yang sangat rendah. Dari sisi efisiensi dan performa, green diesel juga lebih baik dibandingkan biodiesel. Arcandra menilai, green diesel lebih ramah lingkungan dibanding biodiesel karena diproses secara hidro. Berbeda dengan biodiesel yang meninggalkan oksigen, green diesel menggunakan hidrogen seperti petro diesel. “Green diesel lebih bagus. Segala hal dia lebih bagus, lebih ramah lingkungan, jadi lebih hydrogenation process,” ucapnya. Sama seperti biodiesel, green diesel merupakan produk turunan dari minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO). Namun, keduanya diproses secara berbeda sehingga mempunyai kualitas yang berbeda. “Green diesel itu lebih bagus bisa digunakan langsung tidak seperti FAME yang dicampur (solar),” ucapnya. Besok, Pertamina akan menekan nota kesepemahaman dengan perusahaan multinasional Italia yang bergerak di bidang eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi, Eni S.p.A. Kerja sama ini untuk menyediakan BBM yang ramah lingkungan seperti green diesel.

https://www.inews.id/finance/read/pemerintah-kaji-green-diesel-kualitas-lebih-baik-daripada-biodiesel/279001