+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Siap Pasok B30, Aprobi: Kapasitas Biodiesel Naik Jadi 12 Juta KL

Indonesiainside.id | Senin, 4 November 2019

Siap Pasok B30, Aprobi: Kapasitas Biodiesel Naik Jadi 12 Juta KL

Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengungkapkan, pihaknya siap memasok bahan bakar biodiesel, utamanya program mandatori pencampuran solar dengan minyak sawit 30% (B30). Dia menyebutkan, produsen siap memenuhi pasokan biodiesel untuk mensukseskan program tersebut. Adapun kapasitas produksi biodiesel dalam negeri tahun ini sekitar 11 juta kiloliter (KL). Pertengahan tahun 2020 ada tambahan produksi biodiesel dari investasi pabrik baru sebanyak 1 juta KL. “Sehingga tahun depan produksi biodiesel nasional bisa mencapai 12 juta KL,” katanya. Paulus memperkirakan konsumsi biodiesel tahun depan bisa mencapai 9,6 juta KL, lebih besar dibandingkan tahun 2019 sebesar 6,6 juta KL. Dia menerangkan, tumbuhnya permintaan biodiesel lantaran akan diterapkannya mandatory B30. Selain itu, komitmen pemerintah menurunkan emisi gas rumah kaca sebanyak 26% pada tahun 2025. Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Migas ESDM Djoko Siswanto mengungkapkan, implementasi B30 bakal dimulai pada awal tahun 2020. “Pemerintah sudah melakukan ujicoba penggunaan B30 di 28 titik wilayah Indonesia yang dimulai November hingga Desember 2019,” terangnya.

Surabayainside.com | Senin, 4 November 2019

Sambut B30 Tahun Depan, Aprobi Siap Pasok Kebutuhan Biodiesel

Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengungkapkan, pihaknya siap memasok bahan bakar biodiesel, utamanya program mandatori pencampuran solar dengan minyak sawit 30% (B30). Dia menyebutkan, produsen siap memenuhi pasokan biodiesel untuk mensukseskan program tersebut. Adapun kapasitas produksi biodiesel dalam negeri tahun ini sekitar 11 juta kiloliter (KL). Pertengahan tahun 2020 ada tambahan produksi biodiesel dari investasi pabrik baru sebanyak 1 juta KL. “Sehingga tahun depan produksi biodiesel nasional bisa mencapai 12 juta KL,” katanya. Paulus memperkirakan konsumsi biodiesel tahun depan bisa mencapai 9,6 juta KL, lebih besar dibandingkan tahun 2019 sebesar 6,6 juta KL. Dia menerangkan, tumbuhnya permintaan biodiesel lantaran akan diterapkannya mandatory B30. Selain itu, komitmen pemerintah menurunkan emisi gas rumah kaca sebanyak 26% pada tahun 2025. Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Migas ESDM Djoko Siswanto mengungkapkan, implementasi B30 bakal dimulai pada awal tahun 2020. “Pemerintah sudah melakukan ujicoba penggunaan B30 di 28 titik wilayah Indonesia yang dimulai November hingga Desember 2019,” terangnya.

https://surabayainside.com/sambut-b30-tahun-depan-aprobi-siap-pasok-kebutuhan-biodiesel/

Koran-jakarta.com | Senin, 4 November 2019

Produsen Yakin Biofuel Terserap

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) menyatakan optimis­tis tingkat penyerapan biofuel domestik pada tahun depan. Apabila pelaksanaan program mandatori B-30 pada awal ta­hun 2020 terlaksana dengan baik, akan mendorong pe­ningkatan konsumsi biodiesel hingga 9,6 juta kiloliter (kl) ta­hun 2020. “Tetap optimis tahun de­pan, sebab semua aspek yang mendukung produksi B-30 su­dah siap mulai dari kapasitas industri biodiesel sebesar 12 juta kl, serta dukungan dari stakeholders terkait,” ungkap Ketua Harian Asosiasi Produ­sen Biofuel Indonesia (Apro­bi), Paulus Tjakrawan, dalam Indonesia Palm Oil Conferen­ce, kemarin, di Nusa Dua, Bali. Menurutnya, pengem­bangan industri biodiesel di tahun 2019 mampu menca­pai 6,2 juta kl untuk domestik dan dua juta kl untuk ekspor, sedangkan di 2020 diproyeksi­kan 9,4 juta kl, jadi tahun 2020 bisa mengurangi impor bahan bakar minyak hingga 9,6 juta kl atau setara lima miliar dol­lar AS. “Terkait penerapan ini, sudah melakukan uji jalan dan performa kendaraan meng­gunakan B-30 dari Lembang, Jawa Barat sampai Guci, Jawa Tengah, menempuh 50.000 km dan hasilnya positif,” tuturnya. Terkait pengurangan emisi, Paulus mengatakan banyak sekali nilai strategis biofuel se­perti reduksi emisi gas dengan target di tahun 2020 sebanyak 26 persen dan 29 persen untuk tahun 2030 sesuai dengan ko­mitmen Nationally Determined Contributions UNFCCC. Sementara itu, peneliti dari Center for Catalysis and Reaction Engineering Insti­tut Teknologi Bandung (CaRE ITB), I Gusti Bagus Ngurah Makertihartha, mengatakan Indonesia sebagai produsen minyak kelapa sawit harus bisa menggunakan bahan ba­kar dari kelapa sawit. “Semua stakeholder yang terkait harus berkonsolidasi mengembang­kan infrastruktur industri bio­fuel minyak sawit agar man­datori B30 bisa terlaksana,” terang Gusti. Dia menuturkan, sejak tahun 1983 tim riset ITB sudah be­kerja sama dengan Pertamina, BPDPKS dan Riset Dikti untuk memulai penelitian menge­nai pengolahan minyak nabati menjadi biofuel. Produk pene­litian menghasilkan katalis yang mampu mencampur senyawa hidrokarbon minyak nabati de­ngan bahan bakar fosil sehingga dapat menjadi biofuel.

Harga CPO

Pakar minyak sawit seka­ligus Direktur Godrej Inter­national Ptd, Dorab E Mistry mengatakan, pasar dunia menginginkan harga CPO ti­dak melonjak tahun depan. Se­bab, lonjakan harga yang ter­lalu cepat dikhawatirkan akan merugikan konsumen global, apalagi Indonesia merupakan pemasok CPO terbesar dunia. “Diproyeksikan harga CPO tahun depan mencapai level 2.700 RM per ton. Hal ini de­ngan asumsi diantaranya harga Brent pada level 60-80 dollar AS per barel, serta ke­bijakan The Fed, dan pengaruh kekacauan politik di Amerika Serikat (AS), serta pelemahan dolar AS,” terang Mistry. Sementara, analis Oil World di Jerman, Thomas Mielke memprediksi harga CPO pada periode Januari–Juni 2020 akan bergerak rata-rata pada level 650–700 dollar AS (FOB/ Freight On Board). Sementara, produksi CPO tahun 2020 di­perkirakan naik 1,8 juta ton menjadi 45,4 juta ton dari ta­hun 2019 yang diproyeksikan mencapai 43,6 juta ton atau naik dua juta ton dari 2018.

http://www.koran-jakarta.com/produsen-optimis-biofuel-terserap/

Medaninside.id | Senin, 4 November 2019

Tahun Depan Menteri ESDM Gulirkan B30

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif bakal mengoptimalkan potensi energi baru terbarukan (EBT) yang dimiliki Indonesia. Salah satunya, pemanfaatan biodiesel yang menjadi prioritas percepatan capaian bauran EBT nasional melalui mandatori B30 (campuran 30% biodiesel pada minyak solar). “Untuk B30 sudah siap, ini tinggal (memastikan) suplainya, tinggal dijalankan,” tegas Arifin di Jakarta, Minggu (3/11). Sebagaimana diketahui saat ini minyak bakar jenis solar di pasaran telah dicampur dengan Bahan Bakar Nabati (biodiesel) sebanyak 20% atau yang disebut B20. Kesiapan yang disampaikan Arifin ini tak lepas dari hasil uji coba penggunaan B30 pada kendaraan bermesin diesel. Setelah dilaunching pada 3 Juni 2019, uji jalan menggunakan B30 dilakukan pada kendaraan uji kurang dari 3,5 ton dan lebih dari 3,5 ton. Hasilnya, pada kendaraan uji kurang dari 3,5 ton menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada kinerja kendaraan yang menggunakan bahan bakar B30 dibandingkan dengan B20 yang sudah diimplementasikan selama ini. Sementara untuk kendaraan besar (lebih dari 3,5 ton) masih menyelesaikan tahapan uji jalan. Road test B30 ini dilaksanakan Badan Litbang ESDM dengan melibatkan berbagai Kementerian/Lembaga dan stakeholder terkait antara lain, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), PT Pertamina (Persero) dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Sebelumnya, Presiden Joko Widodo pada Rapat Terbatas (Ratas) tentang Penyampaian Program dan Kegiatan bidang Kemaritiman dan Investasi, di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (30/10), kembali menekankan kebijakan energi baru terbarukan yang harus dipercepat lagi ke depannya, terutama mandatory dari B20 menjadi B30, hingga ke B50 dan B100. Arifin menuturkan, peralihan dari satu tahap ke tahapan lainnya membutuhkan proses dan evaluasi yang berkesinambungan. “Memang Kita harus stepping, harus bertahap. B30, B40, B50 itu harus dicek kesesuaiannya dengan pemakaian. Ini kita harus menjaga kualitas saat di transportasi, tingkat security-nya. Nilai bakarnya dan sebagainya atau engine akan bermasalah,” beber Arifin.

https://medaninside.com/tahun-depan-menteri-esdm-gulirkan-b30/

Indonesiainside.id | Senin, 4 November 2019

Awal 2020, Menteri ESDM Siap Gulirkan B30

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif bakal mengoptimalkan potensi energi baru terbarukan (EBT) yang dimiliki Indonesia. Salah satunya, pemanfaatan biodiesel yang menjadi prioritas percepatan capaian bauran EBT nasional melalui mandatori B30 (campuran 30% biodiesel pada minyak solar), yang akan diimplementasikan awal tahun depan. “Untuk B30 sudah siap, ini tinggal (memastikan) suplainya, tinggal dijalankan,” tegas Arifin di Jakarta, Minggu (3/11). Sebagaimana diketahui saat ini minyak bakar jenis solar di pasaran telah dicampur dengan Bahan Bakar Nabati (biodiesel) sebanyak 20% atau yang disebut B20. Kesiapan yang disampaikan Arifin ini tak lepas dari hasil uji coba penggunaan B30 pada kendaraan bermesin diesel. Setelah dilaunching pada 3 Juni 2019, uji jalan menggunakan B30 dilakukan pada kendaraan uji kurang dari 3,5 ton dan lebih dari 3,5 ton. Hasilnya, pada kendaraan uji kurang dari 3,5 ton menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada kinerja kendaraan yang menggunakan bahan bakar B30 dibandingkan dengan B20 yang sudah diimplementasikan selama ini. Sementara untuk kendaraan besar (lebih dari 3,5 ton) masih menyelesaikan tahapan uji jalan. Road test B30 ini dilaksanakan Badan Litbang ESDM dengan melibatkan berbagai Kementerian/Lembaga dan stakeholder terkait antara lain, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), PT Pertamina (Persero) dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Sebelumnya, Presiden Joko Widodo pada Rapat Terbatas (Ratas) tentang Penyampaikan Program dan Kegiatan bidang Kemaritiman dan Investasi, di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (30/10), kembali menekankan kebijakan energi baru terbarukan yang harus dipercepat lagi ke depannya, terutama mandatori dari B20 menjadi B30, hingga ke B50 dan B100. Arifin menuturkan, peralihan dari satu tahap ke tahapan lainnya membutuhkan proses dan evalusi yang berkesinambungan. “Memang Kita harus stepping, harus bertahap. B30, B40, B50 itu harus dicek kesesuaiannya dengan pemakaian. Ini kita harus menjaga kualitas saat di transportasi, tingkat security-nya. Nilai bakarnya dan sebagainya atau engine akan bermasalah,” tandas Arifin.

https://indonesiainside.id/ekonomi/2019/11/03/awal-2020-menteri-esdm-siap-gulirkan-b30

Duniatambang.co.id | Senin, 4 November 2019

Balitbang ESDM Uji Penggunaan B30, Januari 2020 Siap Diterapkan

Indonesia mempunyai mimpi besar untuk mencapai bauran energi pada 2025. Namun, pengembangan energi baru terbarukan masih jauh dari target yang ditetapkan sehingga Indonesia masih dominan menggunakan energi fosil. Ketika menteri ESDM periode baru dilantik penggiat EBT berharap banyak bahwa ke depannya pengembangan EBT mendapat perhatian khusus. Kini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif akan mengoptimalkan potensi energi baru terbarukan (EBT) dengan memprioritaskan penggunaan biodiesel melalui mandatori B30 (campuran 30% biodiesel pada minyak solar), yang rencananya akan mulai diterapkan pada Januari 2020. Saat ini bahan bakar campuran biodiesel 30% atau B30 sedang memasuki tahap uji coba melalui kementerian ESDM yang dalam hal ini Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang). Jika tidak ada halangan yang berarti maka penerapannya akan sesuai jadwal per 1 Januari 2020. Penerapan B30 ini bukan hanya untuk menggiatkan penggunaan EBT melalui pemanfaatan biodiesel melainkan juga bertujuan untuk menekan impor minyak demi memperbaiki defisit neraca perdagangan. Pemerintah yang dalam hal ini ESDM akan terus melakukan pengembangan-pengembangan secara bertahap mulai dari B20, B30, B40, hingga B50 nantinya. Tahap pengujian ini pertama kali dilakukan pada kendaraan dengan muatan kurang dari 3,5 ton. Sejauh ini belum menunjukkan kendala yang signifikan. B30 ini juga diklaim lebih irit dibandingkan dengan B20. Road test B30 ini dilaksanakan Badan Litbang ESDM dengan melibatkan berbagai Lembaga dan stakeholder terkait antara lain, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), PT Pertamina (Persero) dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Namun, penerapan B30 ini masih menyisakan pekerjaan rumah yang harus diatasi seperti pendistribusian yang dalam hal ini moda transportasi produk B30 ke seluruh tanah air, selain itu, sebaran Badan Usaha BBN Biodiesel tidak merata (saat ini pabrik biodiesel lebih banyak berada di Indonesia bagian barat) dan keterbatasan sarana dan fasilitas di TBBM (Terminal Bahan Bakar Minyak). Untuk itu, sebelum B30 diterapkan pemerintah masih harus menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah ini agar tak ada kendala lagi ketika kebijakan tersebut resmi diterapkan.

https://duniatambang.co.id/Berita/read/372/Balitbang-ESDM-Uji-Penggunaan-B30-Januari-2020-Siap-Diterapkan

Borneonews.co.id | Senin, 4 November 2019

Awal 2020 Biodiesel B30 Siap Diterapkan

Pemanfaatan biodiesel yang menjadi prioritas percepatan capaian bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional melalui mandatori B30 (campuran 30 persen biodiesel pada minyak solar) siap diimplementasikan awal 2020. “Untuk B30 sudah siap, ini tinggal (memastikan) suplainya, tinggal dijalankan,” tegas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif di Jakarta akhir pekan lalu.Saat ini minyak bakar jenis solar di pasaran telah dicampur dengan bahan bakar nabati (biodiesel) sebanyak 20 persen atau yang disebut B20.Kesiapan yang disampaikan Arifin ini tidak lepas dari hasil uji coba penggunaan B30 pada kendaraan bermesin diesel. Setelah diluncurkan pada 3 Juni 2019, uji jalan menggunakan B30 dilakukan pada kendaraan uji kurang dari 3,5 ton dan lebih dari 3,5 ton.Hasilnya, pada kendaraan uji kurang dari 3,5 ton menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada kinerja kendaraan yang menggunakan bahan bakar B30 dibandingkan dengan B20 yang sudah diimplementasikan selama ini. Sementara itu untuk kendaraan besar (lebih dari 3,5 ton) masih menyelesaikan tahapan uji jalan.Road test B30 ini dilaksanakan Badan Litbang ESDM dengan melibatkan berbagai kementerian/lembaga dan stakeholder terkait antara lain Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), PT Pertamina (Persero) dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Sebelumnya, Presiden Joko Widodo pada Rapat Terbatas (Ratas) tentang Penyampaian Program dan Kegiatan bidang Kemaritiman dan Investasi di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (30/10/2019), kembali menekankan kebijakan energi baru terbarukan yang harus dipercepat lagi terutama mandatori dari B20 menjadi B30, hingga ke B50 dan B100. Arifin menuturkan, peralihan dari satu tahap ke tahapan lainnya membutuhkan proses dan evalusi yang berkesinambungan.”Memang kita harus stepping, harus bertahap. B30, B40, B50 itu harus dicek kesesuaiannya dengan pemakaian. Ini kita harus menjaga kualitas di transportasi, tingkat security-nya. Nilai bakarnya dan sebagainya atau mesin akan bermasalah,” tandas Arifin.

https://www.borneonews.co.id/berita/143426-awal-2020-biodiesel-b30-siap-diterapkan

Kompas | Selasa, 5 November 2019

Jangan Abaikan Persoalan

Pemerintah jangan mengabaikan persoalan hulu minyak dan gas bumi di dalam negeri. Persoalan itu adalah produksi yang kian susut, sedangkan konsumsi terus meningkat. Penemuan cadangan baru sangat penting dan mendesak. Optimalisasi pemanfaatan gas alam untuk menekan defisit perdagangan minyak dan gas bumi merupakan langkah tepat kendati bersifat jangka pendek. “Kunci untuk mengurangi defisit perdagangan migas adalah meningkatkan produksi migas dalam negeri. Makanya, eksplorasi harus terus didorong sampai menemukan sumber cadangan baru,” “ujar Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, Senin (4/11/2019), di Jakarta. Strategi pemerintah mengoptimalkan pemanfaatan gas alam untuk menekan defisit perdagangan migas, kata Komaidi, bisa tepat. Sebab, impor elpiji Indonesia menyumbang sekitar 40 persen terhadap de- fisit perdagangan migas. Selebihnya defisit disumbang impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM). “Pemanfaatan gas alam untuk rumah tangga sebagai pengganti impor elpiji sifatnya hanya jangka pendek. Solusi jangka panjang adalah dengan menaikkan produksi migas di dalam negeri lewat eksplorasi untuk menemukan sumber cadangan baru,” kata Komaidi. Komaidi juga menyoroti sektor transportasi, selain industri, yang banyak mengonsumsi BBM. Kebijakan pencampuran biodiesel dalam solar membantu mengurangi defisit perdagangan migas Indonesia. Saat ini, pemerintah memberlakukan kebijakan pencampuran biodiesel 20 persen di dalam setiap liter solar atau yang dikenal sebagai kebijakan B20. Neraca perdagangan Indonesia pada Januari-September 2019 defisit 1,945 miliar dollar AS. Surplus dari nonmigas 4,496 miliar dollar AS belum menutupi defisit perdagangan migas sebesar 6,441 miliar dollar AS. Setiap hari, Indonesia harus mengimpor minyak mentah dan BBM 700.000-800.000 barel. Impor sebesar itu setengah dari konsumsi BBM nasional yang mencapai 1,5 juta-1,6 juta barel per hari. Kemampuan produksi dalam negeri kurang dari 800.000 barel per hari. Direktur Asosiasi Perminyakan Indonesia (IPA) Nanang Abdul Manaf mengatakan, dari 128 cekungan hidrokarbon di Indonesia, masih ada 74 cekungan yang belum diteliti dan diketahui potensinya. Sebagian besar cekungan hidrokarbon itu ada di Indonesia bagian timur dan terletak di perairan dalam. Dibutuhkan investasi besar dan teknologi tinggi untuk mencari sumber cadangan migas di wilayah seperti itu. “Namun, secara teknis ada peluang untuk temuan cadangan baru. Terakhir kali ditemukan sumber cadangan besar adalah Lapangan Banyu Urip awal 2000-an,” ujarnya