+62 2129380882 office@aprobi.co.id

SSMS Akan Membangun Pabrik Biodiesel

Harian Kontan | Kamis, 14 Maret 2019

SSMS Akan Membangun Pabrik Biodiesel

Untuk mengatasi fluktuasi harga minyak sawit mentah atawa crude Palm Oil (CPO), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk berinisatif menghasilkan produk turunan yang memiliki nilai jual lebih. Salah satunya, biodiesel. Perusahaan dengan kode emiten SSMS ini menargetkan bisa mulai membangun pabrik biodiesel di akhir 2019. Saat ini perusahaan sawit ini sedang melakukan persiapan guna merealisasikan rencananya tersebut. Rencananya, pembangunan pabrik biodiesel tersebut dilakukan di area perkebunan milik perusahaan ini yang berada di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. “Kami masih mempersiapkan pembangun- an, sekarang dalam tahap perencanaan. Kemungkinan baru akhir tahun (pembangunan),” kata Andre Taufan Pratama, Corporate Communication SSMS, kepada KONTAN, Rabu (13/3). Dia juga mengungkapkan bahwa SSMS saat ini belum menentukan besaran dana yang dibutuhkan untuk pembangunan pabrik tersebut. Hal ini lantaran, emiten tersebut masih mempertimbangkan teknologi yang sesuai dengan perkembangan saat ini dan mendatang.

“Kami masih mencari teknologi yang mana, yang akan kami gunakan. Apakah B20 atau B30, agar ketika dipasang nantinya tidak ketinggalan teknologinya,” jelas Andre. Andre menambahkan bahwa perusahaan produsen CPO ini berpeluang mengembangkan proyek hilirisasi lainnya. Nantinya, SSMS bisa mencari investor maupun bermitra dengan pihak lain. “SSMS baru memproduksi CPO dan biogas, sedangkan untuk hilirisasi berada di perusahaan afiliasi SSMS,” ungkap dia. Sambil menunggu hal terse- but, SSMS bakal segera mengoperasikan pabrik milik anak usahanya, yakni PT Mirza Pratama Putra (MPP) yang diakuisisi pada 2015 lalu. Pabrik tersebut akan digunakan untuk memproduksi CPO dengan kapasitas terpasang sebesar 60 ton tandan buah segar perjam. Untuk 2019, SSMS menargetkan produksi CPO sebanyak 540.000 ton. Total belanja modal atau capital expenditure (capex) yang disiapkan baik untuk kebutuhan planting maupun nonplanting sebesar Rp 788 miliar. “Sumber pendanaan capex tersebut dari kas internal perusahaan,” tandas dia.

Harian Kontan | Kamis, 14 Maret 2019

AKRA Ekspansi Bisnis Bahan Bakar

PT AKR Corporindo Tbk melalui anak usaha PT Jakarta Tank Terminal (JTT) sedang fokus meningkatkan kapasitas penyimpanan bensin dan biofuel yang berlokasi di Tanjung Priok. Untuk memuluskan ekspansi bisnis tersebut, manajemen AKR Corporindo menambah modal untuk JTT yang semula sebesar Rp 744,27 miliar menjadi Rp 852,27 miliar, dengan menandatangani akte peningkatan modal ditempatkan dan disetor pada pertengahan Januari 2019. Alhasil, setelah aksi penambahan modal itu, emiten ber-sandi saham AKRA di Bursa Efek Indonesia ini memiliki 434,707 saham yang senilai Rp 434,71 miliar atau 51% dari saham JTT. Sementara sebanyak 417.567 saham senilai Rp 417,57 atau 49% dimiliki Vopak Indonesia BV. Pada Selasa (12/3) lalu, AKRA telah memberikan jaminan gadai saham JTT. Direktur PT AKR Corporindo Tbk, Suresh Vembu menyampaikan, tujuan gadai saham ini untuk mendapatkan pinjaman dari Bank Permata seiring dengan rencana ekspansi JTT di sepanjang tahun ini. Namun dia tidak memerinci nilai jaminan gadai saham te-sebut. Yang terang, Suresh bilang tujuan gadai saham ini untuk mendapatkan pinjaman untuk mengembangkan ekspansi anak usahanya pada tahun ini. “Didanai oleh pinjaman Bank Permata, ekuitas dari AKRA dan dari Vopak Indonesia,” kata dia kepada KONTAN, Rabu (13/3).

Menambah kapasitas Rencananya, AKRA akan membangun fasilitas penyimpanan bensin dan biofuel sebesar 100.000 kiloliter. Saat ini, kapasitas penyimpanan sebesar 250.000 kiloliter. Kelak, total kapasitas penyimpanan bensin dan biofuel ini mencapai 350 kiloliter. Adapun realisasi ekspansi bisnis ini mulai dijalankan pada kuartal 1-2019 hingga kuartal IV-2019. “Fasilitas back-loading memberikan peluang untuk transit produk ke banyak pulau di Indonesia,” ungkap Suresh. Sejatinya, tangki penyimpanan BBM yang berlokasi di Tanjung Priok ini menampung hasil impor dan mendistribusikan bahan bakar ke wilayah Jabodetabek. Dalam beberapa tahun terakhir, impor bahan bakar semakin meningkat, khususnya untuk bensin. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ke depan, Suresh memper- kirakan bisnis mereka bakal meningkat. Dengan adanya peningkatan kapasitas tangki penyimpanan ini, Suresh juga berharap distribusi bensin juga semakin luas sejalan dengan masuknya pemain baru. Secara keseluruhan, tahun ini AKR Corporindo membidik pertumbuhan pendapatan sebesar 20% dari realisasi kinerja sepanjang tahun 2018.

Dalam catatan KONTAN, tahun ini AKRA menyiapkan belanja modal US$ 40 juta yang digunakan untuk perawatan mesin. Adapun belanja modal tersebut merupakan khusus untuk pemeliharaan atau di luar investasi AKRA. Sebagai informasi, kini, mereka juga tengah bermitra dengan perusahaan lain, yaitu BP untuk mengembangkan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Hingga saat ini mereka sudah mengoperasikan empat SPBU yang berada di wilayah Jababeka, Bintaro, BSD, dan Cibubur. Nah, rencananya pada tahun ini kongsi AKRA dan BP akan membuka sebanyak 20 SPBU lagi. Dalam 10 tahun ke depan, mereka siap membangun sebanyak 350 SPBU di Indonesia. AKR Corporindo merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan dan distribusi bahan bakar minyak dan bahan kimia dasar, penyedia jasa logistik seperti bongkar muat, penyewaan tangki dan transportasi, bisnis pengelolaan kawasan industri dan pelabuhan, serta manufaktur.

Rakyat Merdeka | Kamis, 14 Maret 2019

Luhut Masih Sabar

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan masih sabar menghadapi Uni Eropa yang tengah menggodok regulasi yang isinya akan mehghilangkan penggunaan minyak sawit (CrudePatm Oill CPO) masuk sebagai bahan baku biofuel dalam bahan bakar nabati (BBN atau biofuel) dan cairan nabati (bioliquid). Menurutnya, pemerintah akan mengedepankan negosiasi terlebih dahulu. “Kami akan lakukan langkah demi langkah, tidak langsung protes,” ungkap Luhut di Jakarta, Selasa (12/3). Luhut menyesalkan Uni Eropa yang melabeli produksi sawit Indonesia merusak lingkungan. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Luhut memastikan akan memberikan perhatian terhadap masalah ini. Sebab, kelangsungan perkebunan sawit menyangkut hajat hidup 17 juta masyarakat. Sawit telah berhasil menurunkan kesenjangan dan kemiskinan. Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono mengaku, pihaknya percaya terhadap upaya pemerintah di dalam menyelesaikan masalah itu.

“Pengusaha sawit kini hanya menunggu saja sikap pemerintah. Kami sudah memberi masukan terhadap Uni Eropa. Terutama untuk isu-isu lingkungan dan kampanye hitam terhadap produk sawit nasional.” kata Mukti kepada Rakyat Merdeka, kemarin. Wakil Ketua Umum III Gapki Togar Sitanggang menuturkan, pihaknya akan mengambil tindakan setelah melihat sikap pemerintah. Karena, tanpa persetujuan pemerintah, maka langkah protes ke World Trade Organization (WTO) belum dapat dieksekusi. Sekadar informasi, berdasarkan data Gapki 2017, Uni Eropa menempati posisi kedua sebagai importir sawit dari Indonesia. Ekspor CPO Indonesia ke kawasan itu terus naik dari tahun ke tahun. Pada 2015 ekspor minyak sawit sebanyak 4.23 juta ton (16 persen dari total ekspor CPO), 2016 sebesar 437 juta ton (17,4 persen) dan, 2017 sebanyak 5.03 juta ton (16 persen). Pada semester I 2018 ekspor minyak sawit tercatat hanya 2,39 juta ton atau turun 12 persen dibandingkan semester 1-2017 sebesar 2,71 juta ton. Penurunan antara lain disebabkan isu deforestasi dan dampak kebijakan Uni Eropa

The Jakarta Post | Kamis, 14 Maret 2019

EU Tries To Avoid Trade War With Palm Oil Giants

The European Union set new criteria for the use of Palm Oil in biofuels in a balancing act to avert a trade war with producers in Asia while appeasing climate protago-nists at home. The measure approved by the European Commission on Wednesday spells out the type of biofuels from Palm Oil that maybe counted toward the EU\’s renew-able-energy goals and introduces a certification system, according to an EU official with knowledge of the matter. lt is a follow-up to a broader law agreed on by the 28-nation bloc last year, when the European Parliament pushed for restrictions on the use of Palm Oil on concerns its production caused deforestation and aggravated climate change. Indonesia and Malaysia, which together account for 85 percent of global supply, have warned that they are ready to retaliate against “discriminatory” measures to

EU sets new criteria for Palm Oil use in biofuels to avert trade tension Indonesia, Malaysia ready to retaliate against “discriminatory” measures curb Palm Oil shipments. Palm Oil prices have dropped 15 percent since the start of 2018 amid the EU environmental campaign. The EU wants to lead the battle against global warming and has stepped up efforts to reduce greenhouse gases blamed for climate change. It aims to cut emissions by at least 40 percent by 2030 compared with 1990 levels, boost the share of renewable energy to 32 percent and increase energy efficiency by 32.5 percent. The EU Parliamenfs campaign to limit the use of the vegetable oil in renewable fuels polarized member states and was supported by environmental lobbies, which have argued that the EU should end public support for high-emis-sion biodiesel from palm oil, rape- seed and soy. Forty-six percent of total palm-oil imports into the bloc are used for biofuels, according to the EU assembly. The details of the EU regulation will be revealed later on Wednesday. A draft published last month for input by governments, experts, businesses and non-governmental organizations classified palm oD as “unsustainable” but at the same time envisaged a numberof exemp-tions. That would mean Europe can keep the use of Palm Oil in diesel at current levels, according to green lobby Transport Environment.

The EU renewable energy law that obliged the commission to set sustainability criteria for Palm Oil under its green goals speci-fies that the use of unsustainable food and feed crop-based biofuels should be limited from 2019, with a view to start a gradual phase-out in 2023 leading to a ban by 2030. The law also called on the EU regulatory arm to develop a certification system for biofuels linked to their impact on so-called indirect land-use change, or a phenomenon where crop-based biofuels displace food production or lead to deforestation, indirectly boosting greenhouse-gas emissions. The biggest Palm Oil producers stepped up lobbying in Brussels to defend its future in the European market. The Council of Palm Oil Producing Countries, whose members Indonesia, Malaysia and Colombia produce about 90 percent of global supply, announced they will jointly challenge the bill through bilateral consultations, as well as through the World Trade Organization. The council said the law uses a “scientifically flawed” concept that targets Palm Oil and “makes no attempt to include broader environmental concerns” linked to other vegetable oils. Malaysia plans to halt all expansion of oil palm plantations as it seeks to dispel the oil\’s reputation as a driver of deforestation. Minister of Primary Industries Teresa Kok said in an interview earlier this month. The EU accounted for 12 percent of Malaysia\’s Palm Oil exports in 2018, making it the biggest buyer after India, according to the Malaysian Palm Oil Board.

Kontan | Rabu, 13 Maret 2019

Mau bangun pabrik biodiesel, Sawit Sumbermas (SSMS) masih hitung-hitung

Bakal membangun pabrik boidiesel di akhir 2019, PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) masih dalam tahap persiapan. Rencananya, pabrik biodiesel tersebut bakal dibangun di area perkebunan di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. “Kami masih mempersiapkan dan tahap perencanaan. Kemungkinan baru akhir tahun (pembangunan),” kata Corporate Communications SSMS Andre Taufan Pratama kepada Kontan.co.id, Rabu (13/3). Dia juga mengungkapkan bahwa SSMS belum menentukan besaran dana yang dibutuhkan untuk pembangunan pabrik tersebut. Hal ini lantaran SSMS masih mengembangkan teknologi yang sesuai dengan perkembangan saat ini dan mendatang. “Kami masih cari teknologi yang mana, yang akan kami gunakan. Apakah B20 atau B30, agar ketika dipasang nantinya tidak ketinggalan teknologinya,” jelas Andre. Ke depan, dia juga mengungkapkan bahwa Sawit Sumbermas berpeluang untuk mengembangkan proyek hilirisasi lainnya. Pilihannya, bisa melalui investor maupun bermitra. “SSMS baru (hilirisasi) CPO dan biogas, sedangkan untuk hilirisasi ada di perusahaan afiliasi SSMS,” ungkap Andre. Untuk 2019, SSMS menargetkan produksi CPO sebanyak 540.000 ton. Emiten sawit ini menganggarkan total belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk kebutuhan planting maupun nonplanting sebesar Rp 788 miliar. “Sumber pendanaan capex tersebut dari kas internal perusahaan,” kata Andre.

https://investasi.kontan.co.id/news/mau-bangun-pabrik-biodiesel-sawit-sumbermas-ssms-masih-hitung-hitung