+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Stok Cpo Melimpah, Serapan B20 Lamban

Investor Daily Indonesia | Jum’at, 26 Oktober 2018
Stok Cpo Melimpah, Serapan B20 Lamban

JAKARTA – Stok minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar domestik saat ini berlimpah, sementara serapan program percampuran 20% minyak sawit ke dalam solar (B20) belum sesuai harapan. Hal tersebut memicu kejatuhan harga CPO. Untuk mencegah kemerosotan harga lebih dalam, kalangan industri sawit mendesak pemerintah menurunkan pungutan ekspor (PE), khususnya untuk produk CPO guna mendorong ekspor komoditas perkebunan tersebut. Gabungan pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki) secara khusus meminta pemerintah untuk sementara waktu memangkas besaran PE CPO hingga 40% atau sekitar US$ 20 per ton, yakni dari saat ini US$ 50 per ton menjadi US$ 30 per ton. Dengan upaya itu diharapkan keran ekspor makin terbuka lebar sehingga kondisi kelebihan pasokan (oversupply) minyak sawit di pasar domestik bisa teratasi. Kondisi oversupply terlihat dari penuhnya tangki-tangki timbun sawit.

Dalam catatan Gapki, stok minyak sawit nasional memang menunjukkan tren peningkatan. Pada Januari 2018, stok akhir minyak sawit mencapai 3,62 juta ton, Februari 2018 sekitar 3,50 juta ton, lalu pada Maret 2018 sebesar 3,65 juta ton. Selanjutnya, stok April 2018 tercatat 3,98 juta ton, Mei 2018 meningkat tajam menjadi sebesar 4,76 juta ton, Juni 2018 sebesar 4,85 juta ton, Juli 2018 sekitar 4,90 juta ton, dan pada Agustus 2018 sebesar 4,59 juta ton. Sementara itu, mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 114 Tahun 2015 tentang Tarif Layanan Badan Layanan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP KS), tarif pungutan terbesar dikenakan atas CPO sebesar US$ 50 per ton, serta palm fatty acid distillate (PFAD) danpalm kernel fatty acid distillate (PKFAD) sebesar US$ 40 per ton.

Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono mengatakan, produksi CPO nasional tahun ini meningkat tajam dari 2017 karena ditopang iklim yang lebih baik, sehingga stok pun melonjak. Namun penyerapan pasar baik pasar domestik maupun ekspor atas produksi itu belum sesuai harapan. Kondisi itu membuat harga CPO bergerak lamban, bahkan saat ini hanya di bawah US$ 600 per ton. “Karena itu, pemangkasan dana perkebunan atau PE dapat menjadi solusi sementara untuk mendongkrak ekspor minyak sawit Indonesia. Dengan penurunan pungutan itu, kenaikan tarif impor CPO yang kini diberlakukan India bisa diantisipasi. Artinya, ekspor minyak sawit Indonesia ke India juga akan membaik,” ujar Mukti dalam diskusi tentang “Sawit Berkelanjutan” di Jakarta, Kamis (25/10). Mukti menjelaskan, pelaku usaha diwakili Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) telah mengirimkan permintaan pemangkasan PE kepada pemerintah. Pembahasan pemangkasan PE juga sudah dilakukan sejak dua bulan lalu di Kantor Kemenko Perekonomian dan Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan. “Saat ini, harga CPO di bawah US$ 700 per ton, pungutan yang dikenakan atas CPO itu US$ 50 per ton. Kami usulkan dipangkas untuk sementara, dikurangi sekitar US$ 20 per ton, sampai harga mendekati atau kembali menyentuh US$ 700 per ton. Pemangkasan ini bisa berdampak pada membaiknya harga tandan buah segar (TBS) petani,” kata Mukti.

Pelaku usaha menjamin pemangkasan pungutan ekspor CPO tersebut tidak akan berdampak pada keberlangsungan program percam-puran 20% minyak sawit ke dalam solar atau program B20. Pasalnya, gap antara harga CPO dan minyak mentah {crude oil ) saat ini semakin tipis. “Sekarang harga minyak bumi dan sawit hampir sama, sehingga tahun ini tidak diperlukan lagi subsidi biodiesel. Kalaupun tarif pungutan dikurangi nggak akan menimbulkan masalah bagi program B20. Karena itulah kami usul penurunan ini sifatnya sementara sampai harga CPO menyentuh US$ 700 per ton. Pada saat itu, harga TBS akan membaik dan pendapatan semakin oke. Itu yang kita harapkan,” kata Mukti. Managing Director Sustainability and Stakeholder Engagement Sinar Mas Agribusiness and Food (Sinar Mas) Agus Purnomo menjelaskan, pemangkasan PE CPO itu bisa menjadi solusi jangka pendek untuk menaikkan daya saing CPO Indonesia di pasar internasional, seperti India. Sedangkan untuk pasar Eropa, arahnya pada perdebatan mengenai sustainability. “Memang belum di- banned, tapi citra CPO kita di Eropa sudah negatif. Itu kenyataan. Agak berat meyakinkan orang bahwa kita tidak sejelek mereka tuduh. Soal penurunan tarif pungutan, 80% ekspor produk CPO Sinar Mas sudah berupa produk turunan. Yang jelas, pemangkasan itu menambah daya saing sawit Indonesia,” kata Agus. Sedangkan Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga menyarankan, sebaiknya besaran pungutan CPO tetap, yang dipangkas itu seharusnya pungutan atas ekspor turunan minyak sawit, seperti RB-DPO, olein, dan stearin. “Kalau tidak, peluang pasar kita akan dinikmati Malaysia. Malaysia akan semakin banyak mengekspor produk turunan, sedangkan kita kalah bersaing,” kata Sahat.

Tangki Timbun Penuh

Sahat Sinaga menuturkan, saat ini kapasitas tangki kilang-kilang minyak sawit di dalam negeri hampir penuh. Total kapasitas kilang minyak sawit nasional sekitar 4,80 juta ton. Tangki sudah hampir penuh, terisi sekitar 4,60 juta ton. Kapasitas tangki kita terbatas, seharusnya mulai ada investasi. Bayangkan, kapasitas 4,80 juta ton terhadap 48 juta ton produksi minyak sawit, artinya hanya 10%. Paling tidak, kapasitas tangki kita itu idealnya 15-20%,” kata dia. Kondisi itu diakui Agus Purnomo. Penampungan besar Sinar Mas juga hampir penuh. Apabila harus menyewa penampungan milik perusahaan lain belum tentu tersedia karena kondisi yang sama. Di sisi lain, Sinar Mas belum memutuskan untuk menambah penampungan (tangki). “Masih belum, masih diskusi. Karena ini kan baru dua bulan ini saja,” kata dia. Sebenarnya, kata Agus, kondisi di lapangan lebih rumit lagi, terutama terkait masalah logistik dan transportasi. Misalnya, terdapat Biodiesel yang harus dikirim dengan menggunakan kapal CPO, dampaknya pengiriman normal menjadi terganggu. “Kondisinya bermacam-macam. Kondisi itu menyebabkan tangki hampir penuh, sehingga panen di sejumlah kebun tertunda. Karena memang lagi penuh gimana?. Kalau diproses nanti ditaruh di mana? Kalau di kebun kita, seharusnya nggak ada panen tertunda. Kalau pun ada karena cuaca dan transportasi terganggu,” kata Agus. Sedangkan Mukti Sardjono menjelaskan, ketika produksi minyak sawit nasional tahun ini melimpah, pada saat bersamaan terdapat masalah transportasi atau pengangkutan sawit. Masalah itu di antaranya lama sandar yang berakibat pada biaya dan tongkang kelapa sawit penuh sehingga terjadi penimbunan. Penimbunan tersebut membuat kualitas minyak rendah asam meningkat. Akibatnya perlu kerja dua kali untuk mengeluarkan asam dan lemaknya membuat waktu pengolahan bertambah. Mukti mengakui, upaya pemerintah memperluas program B20 memang bagus guna menyerap konsumsi CPO. Namun karena program tersebut masih baru, maka tambahan serapan CPO tahun ini paling banyak yang bisa dicapai sekitar satu juta ton. “Padahal, kita punya stok 4 juta ton. Mudah-mudahan (dengan pemangkasan PE CPO) bisa berkurang. Apalagi memasuki musim dingin, Eropa butuh minyak lebih banyak, semoga ekspor bisa membaik. Tahun depan, penyerapan CPO untuk B20 mudah-mudahan menjadi lebih baik, sekitar 6 juta ton, sehingga bisa membantu menyerap pasokan CPO domestik,” jelas Mukti.

Kocar-kacir

Sementara itu, Ketua bidang Pemasaran dan Promosi Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Togar Sitanggang mengatakan, serapan CPO untuk program B20 pada Oktober 2018 bisa mencapai 450 ribu ton atau hanya meningkat tipis dari September 2018 yang sebanyak 400 ribu ton. “Untuk Oktober ini, kemungkinan bisa dapat 450 ribu ton, karena memang sudah mulai ada perbaikan logistik biodiesel. Setelah sempat pada September kocar-kacir, sebagian sudah mulai tertangani,” kata Togar. Togar sebelumnya mengungkapkan, terjadi penumpukan CPO yang menyebabkan pembelian TBS petani tertunda. Hal itu karena perusahaan mengutamakan pengiriman Biodiesel (FAME) daripada CPO. Banyak kapal/tongkang yang dialihkan untuk mengirimkan biodiesel. Akibatnya, pengiriman CPO agak terlambat. Kondisi itu menimbulkan kelebihan pasokan {oversupply) CPO di dalam negeri. Produksi CPO nasional memang masih dalam musim puncak. Pada September 2018, produksi CPO diprediksi tumbuh 5-8% dari Agustus 2018 yang tercatat 4,06 juta ton.

Pada saat bersamaan, lanjut Togar, ekspor minyak sawit nasional pada September 2018 hanya naik tipis. Mengacu data Gapki, volume ekspor minyak sawit Indonesia (CPO, PKO, dan turunannya), oleokimia, dan Biodiesel mencapai 3,30 juta ton pada Agustus 2018 atau naik 2% dari Juli 2018 yang tercatat 3,22 juta ton. “Ada dua kondisi oversupply. Memang oversupply atau terkesan oversupply. Terkesan oversupply karena logistik terhambat akibat masalah kapal. Beberapa kapal yang seharusnya untuk mengirimkan CPO, dipaksakan untuk mengangkut biodiesel,” kata dia. Menurut Togar, kapal CPO yang dialihkan untuk Biodiesel sebanyak 10 unit. Meski bukan jumlah yang banyak, hal itu berdampak signifikan karena dapat menimbulkan keterlambatan pengiriman, bahkan bisa hingga dua minggu. “Mungkin kapal yang dialihkan itu tidak banyak, tapi pengaruhnya cukup besar. Memang, masalah oversupply di bulan September kalau dibandingkan Agustus nggak kelihatan tinggi. Tapi, Oktober belum ketahuan,” kata Togar yang juga Wakil Ketua Umum III Gapki bidang Urusan Perdagangan dan Keberlanjutan,

Kontan | Kamis, 25 Oktober 2018
Kilang Sawit Mulai Penuh Akibat Masalah Distribusi

Industri sawit mensinyalkan adanya kondisi penumpukan di tangki kilang sawit. Tak hanya itu, juga ada permasalahan pada distribusi logistik karena pengadaan kapal ditarik untuk pengiriman biodiesel. Efeknya bisa berimbas pada panen Tandan Buah Segar petani. Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga menjelaskan, secara nasional baik dari sisi pemerintah dan swasta, kapasitas tangki kilang sawit adalah 4,8 juta ton. “Sekarang sudah 4,6 juta ton, sudah hampir penuh,” katanya, Kamis (25/10). Angka tersebut merupakan stok pada Agustus, oleh karenanya Sahat menghimbau pemerintah dan swasta membuat kebijakan atau aksi korporasi penambahan tangki. Pasalnya, bila tidak melakukan penambahan tangki, petani justru bisa melakukan penundaan panen karena khawatir tidak ada penyerapan. “Karena memang lagi penuh, bagaimana? Diproses, ditaruh dimana,” kata Managing Director Sustainability and Strategic Stakeholders Engagement Sinarmas Agribusiness and Food Agus Purnomo.

Tapi kondisi tersebut menurutnya paling mungkin terjadi pada petani swadaya yang tidak memiliki off-taker pasti, seperti halnya petani inti plasma. Adapun menurutnya, kondisi kilang Sinarmas Agribusiness sama halnya dengan perusahaan lain, artinya hampir penuh. Ia juga menyatakan kini memiliki 47 pabrik pengolahan (mills) dan ada lagi tambahan 247 unit di luar milik mereka. Angka produksi tahunannya di kisaran 2,8 – 2,9 juta ton CPO dan PK (Palm Kernel). Tapi masalah di industri sawit tak hanya di kilang, juga di logistik distribusi. Agus menyatakan pengadaan kapal untuk industri sawit kini terseret karena kebutuhan kapal untuk pengiriman biodiesel. Hal ini juga dikonfirmasi oleh Ketua Bidang Pemasaran dan Promosi Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Togar Sitanggang. “Terkesan oversuplai karena logistiknya kan terhambat dengan kapal. Beberapa kapal yang harusnya CPO itu kan dipaksakan ke biodiesel,” katanya. Walau hanya beberapa kapal, namun cukup mempengaruhi. Menurutnya, terjadi peralihan 5-10 kapal tingkat nasional dengan kapasitas 2.000 ton masing-masing kapal. Efeknya, terjadi perjalanan berulang Multiplayer efeknya panjang. Karena ada penundaan pembelian TBS dan CPO, maka industri pengolahan tunda pembelian TBS di tingkat petani. Tapi dalam pandangan Togar, harga TBS tidak berubah drastis karena pada tingkat petani inti masih mengacu pada penentuan harga tiap Dinas Perkebunan per Provinsi. Strategi refinery pun mengkalkulasi ulang hasil produksinya. “Kalau tingkat asamnya di atas 4, harus ada dipotong, bukan menekan. Itu konsekuensinya kalau minyaknya jelek,” katanya.
https://industri.kontan.co.id/news/kilang-sawit-mulai-penuh-akibat-masalah-distribusi

Liputan6 | Kamis, 25 Oktober 2018
Tak Hanya B20, UD Trucks Kembangkan Campuran BBM B30

Penerapan campuran 20 persen biodiesel atau minyak nabati dalam bahan bakar minyak jenis solar atau yang disebut B20, masih menjadi pembicaraan hangat disektor industri otomotif. Namun ternyata, tak hanya B20, perusahaan bus dan truk asal Jepang, UD Truck, mengklaim, saat ini sedang mengambangkan truk dengan menerapkan campuran biodiesel sebanyak 30 persen atau B30. “Kalau B20 kita sudah ready, kita sudah tes intensif. Bahkan saya masih punya satu truk untuk tes B20 dari 1,5 tahun lalu, yang setiap hari kami operasi di jalanan dengan penuh muatan dan bahan bakarnya B20 dari supplier kita sendiri,” ujar Sales dan Logistik Direktur Sales dan Logistik UD Trucks Indonesia Handi Lim saat ditemui di Tokyo, Jepang, Kamis (25/10/2018). Kata Handi, kendaraan dengan standarisasi B20 yang paling utama adalah bagian filter. Namun kata dia, filter pada UD Trucks tak hanya bisa digunakan dengan bahan bakar B20, namun saat ini sudah bisa sampai B25. Lebih lanjut ia mengatakan, saat ada usulan rencana pemeritah menerapkan campuran biodiesel sebanyak 30 persen, maka UD Trucks juga akan mengikuti regulasi tersebut. Handi mengaku, pihak UD Trucks sebulan lalu sudah berdiskusi bersama pemerintah dan diminta langsung untuk membantu melakukan pengetesan B30. “Kita udah bilang tersedia. Jadi nanti kami alokasikan lagi satu truk khusus seperti (saat pengujian) B20, dan nanti kami trial untuk B30. Kami sudah setuju dengan pemerintah,” tuturnnya. Mandat pencampuran solar dengan 20 persen crude palm oil (CPO) atau dikenal B20, memang telah diterapkan mulai 1 September 2018. Sedangkan rencana B30 lebih cepat setahun dari rencana awal yang dijadwalkan pada 2020 menjadi 2019.
https://www.liputan6.com/otomotif/read/3676067/tak-hanya-b20-ud-trucks-kembangkan-campuran-bbm-b30

Detik | Kamis, 25 Oktober 2018
Mahasiswa Makassar Buat Biodiesel dari Minyak Jelantah

Anak-anak Muda Makassar ini berhasil membuat terobosan dengan mengubah minyak jelantah menjadi biodiesel. Biodiesel ini pun dipergunakan oleh para nelayan sebagai bahan bakar untuk melaut mencari ikan. Salah satu pencetus ide ini adalah Andi Hilmy Mutawakkil. Dia adalah mahasiswa semester akhir di Jurusan Antropologi di Universitas Negeri Makassar (UNM). Dia mengatakan, untuk wilayah Makassar, terdapat sekitar 17 ton minyak bekas pakai yang keluar setiap harinya dari hotel, restoran, dan rumah tangga. “Di tangan yang tidak bertanggungjawab. Minyak jelantah ini bisa dijadikan minyak curah. Kalau biasanya ini minyak untuk bahan bakar roket cair,” kata Hilmy saat ditemui di Makassar, Sulsel, Kamis (25/10/2018). Otak bisnis Hilmy jalan. Dia bersama-sama kawannya memutar otak untuk mengubah minyak jelantah itu menjadi energi baru. Dari melakukan riset kecil-kecilan, dia menemukan formula untuk mendapatkan biodiesel, meski biaya yang dibutuhkan tidaklah kecil. “Awalnya modal masing-masing pribadi. Modal awal sekitar Rp 3,5 juta dan bahan bakunya beli dari penjual gorengan di pinggir jalan,” sebutnya.

Hilmy bersama kawannya, Achmad Fauzi Azhari seorang mahasiswa dari Universitas Hasanuddin jurusan Manajemen Bisnis untuk bergabung. Di tahun 2015, mereka membentuk perusahaan bernama GenOil yang bergerak dalam bidang energi. Setelah berdiri, lanjut Hilmy, mereka memperkirakan dapat memproduksi biodiesel sebanyak 2 ton per hari. Namun, pada kenyataan mereka hanya menghasilkan 500 liter per hari. Dia menyebut praktik mendapatkan minyak jelantah di lapangan tidak semudah yang dibayangkan. Pabrik mereka saat ini berada di wilayah Batangase, Kabupaten Maros. Tidak kehabisan akal, mereka kemudian melakukan survei di wilayah Pelabuhan Paoetere Makassar. Di sana, mereka merekrut preman-preman menjadi agen mereka untuk mengumpulkan minyak jelantah. “Setiap orang kan pasti ingin dapat pekerjaan dan kepercayaan. Jadi kami tawarkan setiap liter yang didapatkan dapat keuntungan seribu sampai Rp 2 ribu rupiah,” terangnya. Sementara itu, rekan Hilmy, Fauzi Azhari mengatakan bahwa mereka sempat melakukan riset kecil-kecilan soal kebutuhan BBM subsidi di nelayan. Mereka bahkan berani mematok harga Rp 5.000 rupiah per liternya. Dengan harga itu, tidak ada nelayan percaya pada awalnya. Untuk mendapatkan kepercayaan nelayan, mereka pun memberikan garansi jika biodiesel yang digunakan membuat mesin kapal rusak, maka mereka berani mengganti mesin kapal tersebut. “Ini hemat biaya. Kalau solar hanya mampu menjangkau jarak 800 meter laut per liternya, maka biodiesel bisa mencapai lebih dari satu kilometer laut,” ungkapnya. Kini, mereka dapat menghasilan 1.300 liter biodiesel per hari dengan omset hingga Rp 300 juta per bulannya.
https://oto.detik.com/berita/d-4272775/mahasiswa-makassar-buat-biodiesel-dari-minyak-jelantah

Sindonews | Kamis, 25 Oktober 2018
Pemuda Makassar Ubah Minyak Jelantah jadi Biodiesel

Minyak jelantah menjadi persoalan yang kompleks, telah diketahui sejak lama namun tak memiliki jalan keluar. Berdasarkan data, di Kota Makassar setidaknya sebanyak 17 ton minyak bekas pakai atau minyak jelantah dapat dihasilkan setiap hari dari rumah tangga, hotel, restoran, dan pabrik makanan. Ini tentu soalan lingkungan yang sangat serius. Di tangan pihak yang tak bertanggung jawab, minyak jelantah ini kemudian berubah wujud menjadi minyak goreng curah berwarna lebih jernih setelah dicampurkan dengan H2O2 (hydrogen peroxida) dan dipanaskan. “H2O2 itu adalah racun. Kami biasa menggunakannya untuk bahan bakar roket cair. Minyak bekas pun sudah beracun. Jadi racun bercampur racun. Inilah yang banyak di konsumsi masyarakat,” kata Andi Hilmy Mutawakkil perwakilan darin GenOil.. Berbekal modal dari kocek pribadi dan setumpuk kenekatan, Hilmy, Achmad Fauzi Azhari, dan Sahwawi, dan Fauzi Ihza memulai usaha yang mereka sebut super keren karena bergerak di bidang energi. Mereka adalah anak-anak muda yang menginisiasi GenOil, sebuah kewirausahan sosial yang mengolah minyak jelantah dari masyarakat menjadi biodiesel bagi nelayan kota Makassar.

Keberhasilan GenOil yang menyediakan biodesel bagi nelayan di Kota Makassar ini dipresentasikan dalam Festival Forum Kawasan Timur Indonesia. Festival ini akan mengutarakan beragam formula lokal yang diperlukan guna memastikan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Di Manado, Sulawesi Utara membangun dan mengembangkan Portal Analisis Data Berbasis Peta (Panada). Sebuah perangkat kerja bernama Cerdas Command Center (C3) dibentuk. Cerdas adalah akronim dari cendekia, ekowisata, Religi, daya saing, adamai dan sehat sejahtera. Setelah Pemerintah Kota membenahi data dan mengaktifkan penggunaan portal Panada banyak wajib pajak yang dulunya tidak terdata bisa direkam kembali. Meningkatnya pendapatan daerah disebabkan oleh meningkatnya pembayaran tunggakan wajib pajak dan bertambahnya jumlah wajib pajak.“Keberhasilan-keberhasilan yang ditampilkan oleh praktisi praktik cerdas dan inspirator patut dicontoh atau menjadi inspirasi oleh daerah-daerah lain di Indonesia yang juga menghadapi tantangan yang sama. Dengan belajar dari kegiatan lain yang telah berhasil dilakukan, masyarakat tidak lagi mulai dari nol dan peluang untuk berhasilnya jauh lebih besar,” kata Prof Winarni Monoarfa, Ketua Pokja Festival Forum Kawasan Timur Indonesia. Tahun ini Festival Forum Kawasan Timur Indonesia diselenggarakan untuk yang kedelapan kalinya dimana sebelumnya juga dilaksanakan di Makassar pada tahun 2015. Selain mengangkat praktik cerdas yang diinisiasi oleh GenOil, Festival Forum Kawasan Timur Indonesia juga menghadirkan praktik-praktik cerdas lainnya seperti Desa Ekologi di Kalaodi Maluku Utara; pemanfaatan portal analisis data berbasis peta di Kota Manado; pendidikan karakter lewat kelas literasi dan kewirausahaan sosial di Mollo Utara NTT, dan aplikasi sistem administrasi dan informasi kampung dan distrik di Papua dan Papua Barat.
https://makassar.sindonews.com/read/15796/1/pemuda-makassar-ubah-minyak-jelantah-jadi-biodiesel-1540429835