+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Tahun Ini Biodiesel Terserap 3,4 Juta Kilo Liter

Viva | Kamis, 13 Desember 2018

Tahun Ini Biodiesel Terserap 3,4 Juta Kilo Liter

Mandatori perluasan pemanfaatan B20, dinilai penting untuk mengatasi keterbatasan suplai energi fosil di Indonesia. Kebijakan yang diberlakukan pada 1 September 2018 itu, diyakini mampu mengurangi ketergantungan akan impor bahan bakar minyak atau BBM. Direktur Bio Energi Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi Sumber Daya Mineral, Andriah Feby Misna mengatakan, pemerintah pun menargetkan konsumsi campuran biodiesel (Fatty Acid Methyil Ester/FAME) untuk B20 sebesar 3,9 juta kilo liter (kl) untuk tahun ini. Sehingga, menurutnya, untuk tahun 2025, ditargetkan penyaluran biofuel bisa mencapai 13,8 juta kl, termasuk B20, B30, dan seterusnya. “Biofuel itu 13,8 juta kilo liter target 2025. Sekarang (B20) kisaran 3,4 juta kl,” kata Feby dalam forum ‘Pemakaian B-20 di Industri Pertambangan : Masalah dan Solusi’ di Jakarta, Kamis 6 Desember 2018. Dengan perluasan mandatori B20 pada 1 September 2018 lalu, pemerintah mengharapkan penyaluran biodiesel tahun depan atau 2019, bisa mencapai 6,2 juta kl. “Jadi, 40 persen target 2025, bisa dicapai di 2019,” katanya.

Kewajiban penggunaan B20 untuk sektor Public Service Obligation (PSO) maupun non PSO ini, sejalan dengan upaya mencapai target porsi Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23 persen dalam bauran energi tahun 2025. Di satu sisi, ia melanjutkan, rencana penyerapan biodiesel 30 persen atau B30 di seluruh sektor ditargetkan terealisasi pada 2020. Pengujian B30 ini akan dilakukan mulai 2019. “2020, target kita blending rate adalah 30 persen di seluruh sektor, karena memang dari hasil kajian akademis untuk tidak terlalu banyak mengubah engine campuran ideal itu hanya sampai B30. Roadtest di 2019, sambil perbaiki standar nasional spek untuk campuran B30, diharapkan bisa sesuai mesin,” katanya.

https://www.viva.co.id/berita/bisnis/1102784-tahun-ini-biodiesel-terserap-3-4-juta-kilo-liter

Viva | Kamis, 13 Desember 2018

Gara-gara B20, Gapki Sebut Serapan CPO Terus Meningkat

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau Gapki menyebutkan, kebijakan mandatori perluasan implementasi Biodiesel 20 persen atau B20, sejak ditetapkan pada September 2018, terus memberikan hasil positif. Hal itu terlihat, dari serapan minyak mentah kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) dalam negeri yang terus meningkat. Direktur Eksekutif Gapki, Mukti Sardjono menyebutkan, serapan biodiesel dari Januari hingga Agustus, atau sebelum program B20 dilaksanakan, hanya di kisaran 215-290 ribu ton per bulan. Namun, sejak September 2018, sudah mencapai 400 ribu ton dan pada Oktober sudah mencapai 519 ribu ton. “Pergerakan positif penyerapan CPO untuk biodiesel di dalam negeri, tentunya membawa dampak pada stok CPO. Apalagi, saat ini, implementasi perluasan B20 belum maksimal, perbaikan di sana sini sedang dilakukan. Diharapkan, dalam beberapa bulan ke depan serapan biodiesel akan maksimal,” kata Mukti dalam siaran pers yang dikutip, Jumat 7 Desember 2018. Dia menambahkan, perbaikan yang bakal memberikan dampak positif lanjutan itu salah satu yang sedang dikerjakan adalah menurunkan jumlah titik serah fatty acid methyl ester (FAME) ke Pertamina dari 112 titik ke 25 titik saja. Jika serapan sudah maksimal, diperkirakannya pada 2019, industri biodiesel akan bisa menyerap enam juta ton CPO.

“Optimisme Indonesia akan menjalankan B30 pada 2020 juga sangat kuat. Awal tahun 2019, roadtest untuk B30 akan dilaksanakan. Dengan serapan CPO yang semakin tinggi di dalam negeri, pasokan ke pasar global akan dapat berkurang,” paparnya. Sejalan dengan peningkatan penggunaan dalam negeri, ekspor dikatakannya juga mengalami peningkatan. Sepanjang Oktober, volume ekspor CPO dan turunannya, seperti Olechemical dan Biodiesel tercatat naik lima persen dibandingkan bulan sebelumnya atau dari 3,19 juta ton naik menjadi 3,35 juta ton. Sementara itu, volume ekspor CPO, PKO dan turunannya yang tidak termasuk oleochemical dan biodiesel mencapai 3,14 juta ton atau juga naik lima persen dibandingkan pada September lalu yang hanya mampu mencapai 2,99 juta ton. Adapun dari sisi produksi, dia mengatakan, sepanjang Oktober 2018, diprediksi mencapai 4,51 juta ton atau naik sekitar dua persen dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 4,41 juta ton. Naiknya produksi yang tidak terlalu signifikan dibarengi dengan ekspor yang meningkat, serta penggunaan untuk Biodiesel, menyebabkan stok minyak sawit Indonesia menurun menjadi kira-kira 4,41 juta ton.”Di sisi harga, sepanjang Oktober 2018 harga bergerak di kisaran US$512,50-537,50 per metrik ton CIF Rotterdam, dengan harga rata-rata US$527,10 per metrik ton. Harga CPO global terus tertekan karena harga minyak nabati lain yang sedang jatuh khususnya kedelai dan stok minyak sawit yang masih cukup melimpah di Indonesia dan Malaysia,” tuturnya.

https://www.viva.co.id/berita/bisnis/1102789-gara-gara-b20-gapki-sebut-serapan-cpo-terus-meningkat

Viva | Rabu, 12 Desember 2018

Tak Hanya Pertamina, Shell Juga Menjual Biodiesel B20

Indonesia resmi menerapkan kebijakan penggunaan bahan bakar jenis diesel dengan kandungan nabati sebesar 20 persen, mulai 1 September 2018. Hal ini dilakukan untuk menyehatkan neraca pembayaran, serta menghilangkan defisit neraca perdagangan ekspor-impor barang. Selain itu, bahan bakar nabati juga lebih ramah lingkungan. Emisi yang dihasilkan dari pembakaran mesin lebih rendah, berkat adanya kandungan minyak nabati dari kepala sawit sebesar 20 persen. “Selain mengurangi emisi karbon dioksida, pembakaran dengan B20 juga lebih efisien dibanding penggunaan B0 (solar biasa). Bahan bakar jauh lebih bagus, harga juga sama,” ungkap Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Dadan Kusdiana di Jakarta belum lama ini.Dengan adanya kebijakan tersebut, maka setiap Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum milik Pertamina yang ada di seluruh wilayah Indonesia, wajib menjual Solar dengan kualitas Biodiesel B20. Namun ternyata, bukan hanya Badan Usaha Milik Negara saja yang menjual BBM Biodiesel B20. SPBU milik perusahaan minyak dan gas yang bermarkas di Belanda, Shell juga menyalurkan BBM tersebut di Tanah Air. Dikutip dari laman resmi Shell Indonesia, Rabu 12 Desember 2018, perusahaan kerja sama Belanda dan Inggris itu mengubah nama produk Diesel mereka menjadi Diesel Bio. Hal itu dilakukan dalam rangka memenuhi Pasal 3 dan Pasal 9 Peraturan Menteri ESDM Nomor 32 Tahun 2008, tentang penerapan bahan bakar nabati. Sesuai dengan aturan pemerintah, Shell menjual Diesel Bio dengan kandungan nabati sebesar 20 persen. BBM tersebut dibanderol Rp12.100 hingga Rp12.250 per liternya.

https://www.viva.co.id/otomotif/1102632-tak-hanya-pertamina-shell-juga-menjual-biodiesel-b20