+62 2129380882 office@aprobi.co.id

TBLA Ketiban Berkah Beleid Biodiesel

Harian Kontan | Kamis, 12 September 2019
TBLA Ketiban Berkah Beleid Biodiesel

Tak seperti emiten minyak sawit mentah atau crudepalm oil (CPO) lainnya, kinerja PT Tunas Baru Lampung Tbk di tahun ini cukup mentereng. Lihat saja, perusahaan dengan kode emiten TBLA ini berhasil mencetak kenaikan laba bersih di semester 1-2019 lalu. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, laba bersih TBLA naik 2,74% menjadi Rp 359,13 miliar di paruh pertama 2019 ini. Di periode yang saham tahun lalu, laba bersih perusahaan ini tercatat sebesar Rp 349,56 miliar. Kenaikan laba bersih ini ditopang laju pendapatan yang juga cukup kencang. Hingga akhir Juni lalu, pendapatan TBLA tumbuh 3% dari Rp 4 triliun di Juni 2018 menjadi Rp 4,12 triliun. Padahal di enam bulan pertama 2019, harga CPO global sedang dalaVn tekanan akibat rendahnya permintaan. Di saat yang sama, produksi CPO justru naik. Analis Binaartha Sekuritas Muhammad\’Nafan Aji mengatakan, kinerja TBLA di paruh kedua tahun ini bakal lebih kinclong. Mengingat, kini harga CPO sudah menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Harga CPO menguat usai China mengenakan bea masuk pada produk pertanian asal Amerika Serikat (AS), salah satunya adalah minyak kedelai. CPO yang merupakan substitusi dari minyak kedelai ketiban berkah. Nafan menilai, dari dalam negeri, CPO juga mendapat dorongan positif dari penerapan program biodisel. “Demand meningkat dari kebutuhan domestik terkait penerapan B20,” ujar Nafan. TBLA memang menjadi salah satu perusahaan CPO yang diuntungkan kebijakan biodisel tersebut. Implementasi B20 ini menuntut TBLA menambah produksi biodiesel. “Ini dalam rangka untuk mencari profit gain juga,” terang Nafan.

Bisnis gula

Selain masa depan CPO yang semakin cerah, sebenarnya TBLA juga mendapat sokongan dari kinerja produk lainnya. Salah satu andalan TBLA adalah produk gula. Menurut Nafan, produk gula milik emiten KOMPAS100 ini termasuk memberi kontribusi besar terhadap kinerja TBLA. Hal ini dikarenakan gula termasuk kebutuhan sekunder, sehingga daya belinya juga cukup tinggi. Selain itu, Nafan menuturkan, merek gula milik TBLA ini juga merupakan merek ternama, sehingga bisa meraih pendapatan yang tinggi juga. “Yang penting kinerja penjualan gula masih cukup stabil,” ujar Nafan. Dengan adanya diversifikasi usaha tersebut, TBLA dapat mempertahankan pertumbuhan kinerja. “Bisnis-bisnis ini membantu karena akan mensinergikan perusahaan-perusahaan dalam grup usaha,” tutur Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri. Pada semester 1-2019, bisnis gula menyumbang 31% dari pendapatan total TBLA. Analis menilai positif pertumbuhan tersebut. Pendapatan dari segmen bisnis ini juga naik mencatatkan sebesar 14,5% secara tahunan, menjadi sebesar Rp 1,28 triliun.

Selain keberhasilan melakukan diversifikasi usaha, Hans juga melihat TBLA mampu melakukan efisiensi untuk menekan biaya produksi. Alhasil, perusahaan ini tetap berhasi menggenjot laba bersih di tahun ini. “Efisiensi adalah kunci,” tegas dia. Analis Ciptadana Sekuritas Yasmin Soulisa menambahkan, untuk mengerek pendapatan lebih tinggi, TBLA dapat menggenjot penjualan produk turunan CPO. “TBLA memperoleh pendapatan dari produk downstream Palm Oil jadi tidak terdampak besar oleh penurunan harga CPO,” tegas dia, kemarin. Karena itu, Yasmin masih merekomendasikan beli saham TBLA dengan target harga sebesar Rp 1.040 per saham. Dia memperkirakan, pendapatan perusahaan ini di akhir 2019 mencapai Rp 8,22 triliun. Sementara laba bersih TBLA bisa berada di kisaran Rp 699 miliar. Nafan juga menyarankan beli TBLA dengan target harga Rp 1.115 per saham. Terlebih dari segi valuasi harga, saham TBLA saat ini masih menarik. Hal yang saham juga dilihat oleh Hans, yang menargetkan harga saham bisa mencapai Rp 1.340 per saham. Ia memberi rekomendasi beli.

Harian Ekonomi Neraca | Kamis, 12 September 2019
B30 Jadi Tonggak Pengembangan Energi Terbarukan

Kasubdit Keteknikan dan Lingkungan Bioenergi, Direktorat Jenderal (Ditjen) Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Efendi Manurung, mengatakan biodiesel merupakan salah satu bahan bakar alternatif masa depan. Dia menyampaikan, pemerintah sedang melakukan uji jalan atau road test B30 (campuran 30 persen biodiesel pada bahan bakar solar) yang akan mulai diimplementasikan tahun depan. Efendi menyebut, kendaraan yang diikusertakan dalam road test B30 terdapat tujuh merek kendaraan dengan beragam variasi dan kelas kendaraan. Hal ini dikatakan Efendi dalam acara bertajuk “Biodiesel Goes to Campus” di Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, Selasa (10/9). “Hasil road test B30 sampai saat ini menunjukkan tidak ada perbedaan kinerja signifikan pada daya kendaraan dan fuel economy ketika kendaraan menggunakan bahan bakar B30 dan B20, uji start ability dan presipitasi juga menunjukan hasil yang bagus dan memenuhi rekomendasi OEM,” ujar Efendi dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (11/9).

Dari hasil tersebut, lanjut Efendi, pihaknya telah mengusulkan revisi SNI 7182 B100 untuk spesifikasi pencampuran B30 ini. “Ada poin penting, salah satunya kandungan monogliserida yang pada road test di Dieng hasilnya 0,55. Standar SNI sebelumnya 0,8 kita usulkan menjadi 0,4 untuk start ability yang lebih baik,” ucap Efendi. Efendi juga menegaskan, B30 ini merupakan tonggak pengembangan energi terbarukan di Indonesia. “Kita tetap mau impor BBM dari luar negeri apa mau menggunakan B30 yang juga menyerap produksi sawit dalam negeri, itu pilihannya,” kata Efendi. Kepala Divisi Perusahaan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Achmad Maulizal menyampaikan BPDPKS memberikan dukungan dalam pemanfaatan sawit untuk biodiesel dan juga sumber energi lainnya. “Tak hanya biodiesel, kita juga bergerak ke sawit untuk biofuel dan biomassa juga untuk sumber energi lainnya. Dari sawit ini dimanfaatkan semuanya, tidak ada yang terbuang,” ujar Maulizal. Selain mengurangi ketergantungan impor BBM, Maulizal menyebut, sawit untuk B30 ini juga akan meningkatkan kesejahteraan petani dan juga menekan emisi karbondioksida. “Cina yang baru menerapkan B5 saja bisa mengurangi emisi karbonnya hingga lebih dari 17 juta ton, apalagi Indonesia yang akan menerapkan B30 tahun depan,” kata Maulizal. Wakil Dekan Bidang Kemahasiwaan FTM UPN Veteran Yogyakarta Joko Soesilo juga menyampaikan komitmennya untuk mendukung peningkatan B20 menjadi B30 yg akan mulai diimplementasikan tahun depan. “Kami dan jajaran kami siap mendukung program ini, semoga kampus kami dapat berkontribusi untuk turut menyukseskan pemanfaatan biodiesel ke depannya,” ujar Joko.

Infosawit | Kamis, 12 September 2019
Menghadang Tudingan Miring Biodiesel Sawit

Bagi sebagian pihak kebijakan mandatori biodiesel sawit menjadi harapan bagi terbukanya pangsa pasar baru, apalagi Indonesia membutuhkan 360 ribu barrel/hari bahan bakar minyak. Jika saja semua kebutuhan minyak mentah itu diganti dengan minyak nabati dari sawit bakal sangat menghemat devisa Negara. Salah satu sosok yang cukup konsen mengikuti perkembangan industry biodiesel di Indonesia adalah Paulus Tjakrawan. Sosok tersebut bukanlah orang baru di industry biodiesel nasional, lantaran Paulus menjadi salah satu sosok penting dalam setiap langkah pengembangan kebijakan biodiesel sawit. Dalam perbincangan ringan dengan InfoSAWIT, belum lama ini, Paulus mengungkapkan untuk penerapan kebijakan biodiesel sawit (B20) sampai triwulan pertama di 2019 telah mencapai 1,5 juta Kilo Liter, dan pembayaran untuk kebijakan mandatori biodiesel tersebut dianggap lancar dan tidak ada masalah. Hanya saja memang, kata dia, saat ini industri biodiesel nasional kerap menghadapi kendala perdagangan, seperti yang masih berlangsung saat ini adalah tudingan anti dumping dari Amerika Serikat. Namun demikian pelaku biodiesel sawit nasional tidak tinggal diam begitu saja, lewat penggunaan pengadilan perdagangan di New York, pelaku biodiesel nasional sedang membuktikan bahwa tudingan tersebut tidak sesuai fakta.
https://www.infosawit.com/news/9280/menghadang-tudingan-miring-biodiesel-sawit

Wartaekonomi | Rabu, 11 September 2019
Industri Sawit Dihantui Ancaman UE, Biofuel Jadi Solusi

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) kali ini menggelar Roadshow Kelapa Sawit edisi keempat di Pontianak, Kalimantan Barat, hari ini (11/9/2019). Sebelumnya sosialisasi Kelapa Sawit Menuju Kemandirian Energi ini telah dilakukan di Jakarta, Aceh, dan Padang. Pada edisi kali ini, Tofan Mahdi (Wakil Presiden PT Astra Agro Lestari Tbk) didaulat menjadi moderator. Sementara Fajril Amirul (Senior Staf Divisi Biodisel BPDP KS), Satrija Budi Wibawa (Pengurus Gapki Pusat), Muhamad Ihsan (Pemimpin Umum Warta Ekonomi), Tungkot Sipayung (Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute/PASPI), dan Gusti Hardiansyah ( Dekan Fakultas Kehutanan Untan) menjadi narasumber. Dalam roadshow ini, mengemuka bahwa kelapa sawit saat ini menghadapi pemasalahan fluktualisasi harga. Harga sawit tergerus dalam beberapa bulan terakhir, akibat dari regulasi beberapa negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia. Menurut Catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) pada April 2019, ekspor minyak sawit Indonesia mengalami penurunan sebanyak 18% dibandingkan total ekspor pada Maret lalu. Perusahaan perkebunan kelapa sawit harus terus meningkatkan produktivitasnya, meskipun di sisi lain ancaman Uni Eropa yang berusaha menghentikan impor CPO, termasuk dari Indonesia, masih terus menghantui industri ini.

Salah satu upaya dalam meningkatan produktivitasnya ialah renewable kelapa sawit, dengan mengembangkan biofuel berbahan dasar kelapa sawit. Kini banyak negara mulai mengembangkan bioeco energy (biofuel). Sumber energi tersebut dianggap yang paling tepat menggantikan energi fosil karena mudah diproduksi dan berasal dari sumber daya alam hayati yang tentu sangat ramah terhadap lingkungan. Salah satu bahan dasar yang memiliki potensi paling tinggi untuk produksi biofuel adalah minyak kelapa sawit (CPO). Pengembangan industri kelapa sawit nasional memiliki prospek yang baik karena saat ini Pemerintah Indonesia sedang menjalankan program pengembangan biofuel (biodisel) yang menggunakan CPO sebagai bahan bakunya. Biofuel dinilai sangat efisien karena menggunakan bahan-bahan yang jumlahnya melimpah di Indonesia dan dapat diperbaharui. Indonesia merupakan produsen CPO terbesar di dunia dengan perkebunan kelapa sawit terbesar di dunia, sehingga sudah selayaknya Indonesia ditempatkan sebagai rujukan pengembangan kelapa sawit dunia. Senada dengan apa yang dikatakan Gubernur Kalimantan Timur yang mendukung sawit sebagai energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dia menantang seluruh asosiasi harus membangun lembaga sertifikasi sebagai corporate social responsibility (CSR) di Kalimantan Barat. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) pun menyatakan kesiapannya memberikan komitmen penuh terhadap program pembangunan sumber daya manusia (SDM) dan ekonomi yang berkelanjutan di Kalimantan Barat, termasuk membangun lembaga sertifikasi tenaga kerja. Ke depannya seluruh industri akan bergeser pada industri yang bersumber dari sumber daya hayati, salah satunya adalah bahan bakar yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan.
https://www.wartaekonomi.co.id/read246163/industri-sawit-dihantui-ancaman-ue-biofuel-jadi-solusi.html

Wartaekonomi | Rabu, 11 September 2019
Menyambut Biodiesel B100 di Indonesia

Banyaknya isu-isu negatif yang menyerang sektor kelapa sawit ini telah membuat persepsi buruk terhadap industri ini. Beberapa isu negatif seperti eksploitasi hutan menjadi perkebunan sawit, emisi gas CO2, atau kandungan berbahaya minyak sawit pada sejumlah produk sehari-hari. Isu negatif yang ada telah mengakibatkan ekspor minyak sawit kian menurun. Selain itu, tantangan datang dari Uni Eropa yang menaikkan bea masuk biodiesel asal Indonesia sebesar 8-18% per 4 Januari 2020 mendatang. Padahal dilihat dari kacamata ekonomi, produk CPO dan turunannya ini telah membantu peningkatan ekonomi daerah terpinggirkan sekaligus salah satu kontributor devisa nonmigas terbesar bagi Indonesia sejak tahun 2010 silam. Dari sisi sosial, sektor ini telah membuka jutaan lapangan kerja baru bagi masyarakat desa. Perkembangan riset melalui program BPDP KS hingga 2019 ini juga menunjukkan bahwa kelapa sawit merupakan komoditas yang ramah lingkungan karena seluruh bagian tanaman ini hingga limbahnya dapat digunakan dan memiliki nilai ekonomis, seperti misalnya inovasi produk dari batang sawit hasil peremajaan sebagai bahan baku perkayuan.

Tentunya, pemerintah tidak tinggal diam menghadapi persoalan ini. Memproduksi minyak sawit sebagai bahan campuran untuk bahan bakar biodiesel merupakan salah satu cara yang digagas oleh pemerintah. Kebijakan B20 secara sah ditetapkan pada 23 Agustus 2018 sebagai jawaban atas masalah kelebihan suplai di dalam negeri sekaligus mewujudkan harga CPO yang stabil. Rekomendasi hasil uji jalan B30 juga sudah ditargetkan pada September 2019 dan pada awal Oktober 2019 sudah dapat dialokasikan pengadaannya untuk badan usaha bahan bakar nabati. Pelaksanaan road test ini diuji oleh Badan Litbang ESDM, Enegri Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan dukungan pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP KS). Selanjutnya uji mendalam juga sudah dilakukan untuk Biodiesel B50 dan B100 yang ditargetkan akan rampung pada tiga tahun yang akan datang. Lalu apa sebenarnya yang dapat dipersiapkan untuk menyambut Biodiesel B100 di Indonesia? Pertanian yang berkelanjutan adalah salah satu solusinya. Peran pemerintah untuk mendukung produsen kelapa sawit agar penerapan praktik pengelolaan berkelanjutan dapat merata apalagi dengan sertifikasi ISPO terkhusus untuk petani swadaya yang 70% petani di Indonesia belum mendapatkannya. Kemudian permohonan petani melalui Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) ingin ketegasan dan konsistensi pemerintah untuk menetapkan besarnya pungutan ekspor yang saat ini masih dinolkan. Jika pungutan ekspor diadakan maka hal tersebut dapat membantu beasiswa anak petani serta buruh sawit, riset biodiesel, kegiatan petani seperti peremajaan sawit rakyat, dan pelatihan kompetensi petani agar produktivitas perkebunan yang dikelola petani lebih baik dan berkelanjutan.
https://www.wartaekonomi.co.id/read246104/menyambut-biodiesel-b100-di-indonesia.html