+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Titik Distribusi B20 ke Pertamina Dikurangi

Media Indonesia | Rabu, 21 November 2018

Titik Distribusi B20 ke Pertamina Dikurangi

Penyaluran ester metil asam lemak (fatty acid methyl ester/ FAME) untuk menjadi bahan dasar Biodiesel ke Pertamina akan disederhanakan dari 112 titik menjadi 25. Penerapan 25 titik lokasi itu akan diberlakukan mulai 1 Januari 2019. “Pengurangan titik serah ini dapat terjadi karena digantikan penggunaan dan penambahan dua floating storage (penyimpanan terapung) di Balikpapan,” kata Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor, kemarin. Untuk diketahui, pemerintah telah resmi menerapkan secara menyeluruh program mandatori Biodiesel 20% atau B20 pada 1 September 2018. Biodiesel adalah bahan bakar nabati untuk mesin/ motor diesel berupa ester metil asam lemak. Penerapan B20 itu dilakukan pada semua sektor, public service obligation (PSO) dan non-PSO. Selama hampir tiga bulan program mandatori B20 itu, Tumanggor mengatakan penyaluran B20 itu berjalan dengan baik. Ia pun menilai pelaksanaan mandatori B20 itu sudah mencapai 98%.

Sebelumnya, pada Senin (19/11), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menggelar rapat koordinasi terkait dengan monitoring pelaksanaan program mandatori B20. Seusai rapat, Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi. Energi Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan, dalam rapat itu telah disepakati penyederhanaan titik penyaluran FAME. Hal itu dilakukan agar penyaluran dapat berjalan secara efektif dan efisien. “Kita melihat kesempatan untuk disederhanakan agar lebih efektif, efisien, belum lagi mempertimbangkan ketersediaan kapal. Barusan diputuskan Pertamina, khususnya (penyaluran FAME) di 25 titik,” katanya. Kelak, penyaluran FAME akan lebih disederhanakan menjadi 10 titik. Sementara itu, Darmin mengatakan produsen bahan bakar nabati (BBN) nantinya akan menyewa /looting storage milik Pertamina. Penyewaan itu dilakukan agar lokasi pengiriman FAME ke Pertamina tidak terlalu jauh.

Investor Daily Indonesia | Rabu, 21 November 2018

Tahun Depan, Perluasan B20 Signifikan Pangkas Impor Solar

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan, perluasan mandatori pencampuran Biodiesel 20% (B20) baru akan berdampak signifikan dalam mengurangi impor solar pada tahun depan. Pasalnya, di tahun ini, perluasan baru berjalan dua bulan. Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menuturkan, program mandatori B20 sebenarnya sudah berjalan jauh sebelum September lalu. Pasalnya, pencampuran Biodiesel 20% ke solar bersubsidi sudah dilakukan sejak tahun-tahun sebelumnya. Sehingga, perencanaan impor di tahun ini sudah memperhitungkan adanya B20 untuk solar bersubsidi. Alhasil, lanjut dia, dampak tambahan dari program B20 hanya berasal dari perluasan mandatori ke sektor nonsubsidi yang baru berjalan dua bulan. Dengan target serapan B20 di solar nonsubsidi sebesar 2 juta kiloliter (KL) dalam satu tahun, maka tambahan realisasi B20 selama September-Oktober baru sebesar 330 ribu KL. “Ini cuma incretnent-nya. Jadi semua ekspor dan impor sudah masukkan faktor ini (B20 solar bersubsidi). Jadi impact B20 itu cuma 330 ribu KL,” kata dia di Jakarta, akhir pekan lalu.

Padahal, menurut data Kementerian ESDM, impor solar pada September dan Oktober lalu masing-masing 350 ribu barel per hari (bph) dan 750 ribu bph. Jika dikonversikan dalam kiloliter, impor solar September lalu sekitar 1,43 juta KL dan Oktober 3,7 juta KL, atau total 5,13 juta KL. Dampak realisasi perluasan B20 sebesar 330 ribu KL hanya 6,4% dibandingkan realisasi impor solar. Namun, realisasi 330 ribu KL tersebut disebut Arcandra dengan catatan perluasan mandatori B20 telah berjalan 100%. “Nyatanya, belum semua (solar nonsubsidi) campur B20,” ujarnya. Data Kementerian ESDM, capaian perluasan mandatori B20 baru mencapai 90% di Oktober, membaik dari 83% di September. Capaian realisasi perluasan B20 sebesar 2 juta KL baru diperoleh jika program berjalan 100% sepanjang tahun alias pada tahun depan.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana mengakui, perluasan program B20 belum berjalan optimal. Perluasan mandatori belum dapat mencapai 100% lantaran ada tiga sektor yang mendapat relaksasi, yakni kelistrikan, alat utama sistem persenjataan (Alutsista), dan PT Freeport Indonesia. Namun, pasokan B20 disebutnya mulai merambah ke wilayah timur Indonesia. “Sedikit-sedikit sudah jalan,” ujarnya. Sampai saat ini, lanjut Rida, unsur nabati (fatty acid methyl eter/FAME) tetap harus dikirim ke sekitar 100 titik terminal bahan bakar minyak (BBM) PT Pertamina (Persero). Pasalnya, rencana pemangkasan jumlah titik pasokn FAME masih dalam pembahasan. Pemerintah ingin mengurangi titik pasok itu hingga menjadi 10 titik saja. “Tujuan kami akhirnya 10 titik, tetapi kan lihat kondisi di lapangan, kesiapan kapal segala macam. Itu gradasi, ada yang short term, mid term, dan long term. Nah, long term-nya itu 10 titik. Tapi kalau bisa dilakukan cepat ya bagus,” jelas Rida.

Beritatrans | Selasa, 20 November 2018

Pengadaan 2 Kapal Floating Storage Bahan Nabati Pertamina untuk Balikpapan dan Area Timur Indonesia Terealisasi Januari 2019

Pengadaan kapal floating storage dari PT Pertamina untuk keperluan menampung bahan nabati FAME (Fatty Acid Methyl Esters) Balikpapan dan area timur Indonesia diperkirakan bakal terealisasi pada Januari 2019. Perkiraan ini meleset dari proyeksi sebelumnya bahwa akan diadakan pada Desember ini. Adapun pihak yang menyewa berasal dari industri bahan bakar nabati. Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menyampaikan penyewaan tersebut untuk mencapai realisasi 100% penyaluran FAME. “Tadinya kan kita memperkirakan Desember, tadi masih kami minta, bisanya keliatannya 1 Januari,” jelasnya, Senin (19/11/2018). Kemunduran ini disebabkan izin pengadaan dan penyewaan yang membutuhkan waktu serta memperhitungkan ulang waktu pengiriman dari floating storage ke 25 titik sebar area Indonesia timur. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) Paulus Tjakrawan menyatakan pengadaan dua kapal floating storage tersebut tidak akan menjadi beban tambahan bagi pengusaha Biofuel. “Teorinya tidak, karena sama saja daripada kirim kapal masing-masing, jauh-jauh kan mahal,” kata Paulus.

Menurut Paulus, dua kapal tersebut akan disewa melalui skema business to business dengan PT Pertamina. Kapasitas floating storage tiap kapal adalah 35.000 kiloliter, artinya total pengadaan untuk menampung FAME sebanyak 70.000 kiloliter. Adapun kebutuhan FAME Balikpapan setara 120.000 kiloliter per bulan, dan dari titik tersebut akan disebarkan ke 25 titik area Indonesia timur. Kemudian realisasi penyaluran FAME menurut Paulus hampir selesai. “Sudah besar, hampir 90% lebih,” katanya. Terkait pengadaan kapal, Alfian Nasution Senior Vice President Shipping PT Pertamina (Persero) menjelaskan penyewaan kapal tersebut bakal dilakukan oleh pihak pengusaha biofuel. Terkait subsidi distribusi yang diberikan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan kepada produsen biofuel, Alfian mengatakan hal tersebut masih dalam pembahasan pemerintah. “Itu dari pemerintah, pasti dari sana lah, yang jelas, ada alokasi dana dari mereka yang dialihkan untuk kegiatan ini,” katanya.

http://beritatrans.com/2018/11/20/pengadaan-2-kapal-floating-storage-bahan-nabati-pertamina-untuk-balikpapan-dan-area-timur-indonesia-terealisasi-januari-2019/

Cnnindonesia | Selasa, 20 November 2018

1 Januari 2019, Pertamina Sewakan Kapal Penyimpanan Terapung

PT Pertamina (Persero) bakal menyewakan dua kapal penyimpanan terapung (floating storage) kepada produsen bahan bakar nabati (BBN) di Balikpapan mulai 1 Januari 2019. Penyewaan dilakukan untuk memperlancar penyaluran bahan baku biodiesel (fatty acid methyl ester/FAME) yang akan dicampur pada minyak Solar dalam program B20, khususnya di wilayah Indonesia Bagian Timur. “Floating storage punya Pertamina karena kalau kita urus (kapal) dari luar itu perlu izin lingkungan lagi, perlu izin macam-macam,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution usai menghadiri rapat koordinasi di kantornya, Senin (19/11). Selain tak perlu lagi mengurus perizinan, penggunaan kapal Pertamina juga akan menghemat waktu karena kapal sudah dilengkapi koordinat lokasi yang dibutuhkan. Nantinya, skema penyewaan akan dilakukan antar badan usaha (business to business/BtoB).”Jadi itu tidak sekedar menaruh (FAME) di kapal,” ujar Darmin.Setelah menerima pasokan fame, kilang atau TBBM akan melakukan pencampuran dengan minyak Solar untuk menghasilkan produk B20. Setelah itu distribusi ke SPBU akan dilakukan oleh Pertamina.

Ketua Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengungkapkan, tadinya, produsen ingin menggunakan floating storage untuk pengiriman mulai 1 Desember 2018 di mana pengadaan sewa kapal dilakukan oleh produsen biodiesel. Namun, dalam rapat koordinasi mengemuka bahwa kapal yang digunakan tidak boleh sembarang kapal karena harus memenuhi persyaratan dan sertifikat perizinan tertentu.”Harus ada sertifikat dari Pertamina, tangkinya. Pada saat itu, belum terpikir,”ujarnya. Senior Vice President of Shipping Pertamina Alfian Nasution menyatakan kesiapan perseroan untuk menyediakan floating storage. “Kami siap menyediakan. Biaya sewanya belum diputuskan tetapi BtoB. 1 Januari 2019 mudah-mudahan bisa jalan,” ujarnya.Secara terpisah, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Rida Mulyana mengungkapkan pemerintah, Pertamina, dan badan usaha produsen BBN telah menyepakati jumlah titik penyaluran BBN dipangkas dari 112 titik menjadi 25 titik mulai 1 Januari 2019. Sebanyak 22 sisanya merupakan Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) dan tiga sisanya merupakan kilang pengolahan.”Pertimbangannya dengan melihat efektifitas, kemampuan, efisiensi, serta mempertimbangkan ketersediaan kapal,” ujarnya.

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20181119212947-85-347800/1-januari-2019-pertamina-sewakan-kapal-penyimpanan-terapung

Krjogja | Selasa, 20 November 2018

Mulai 1 Januari 2019, Hanya 25 Terminal BBM Pertamina Salurkan B20

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menggelar rapat koordinasi tentang implementasi kebijakan B20 atau biodiesel 20%. Dalam rapat tersebut turut hadir Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana hingga Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi). Ditemui usai rapat, Rida Mulyani mengatakan, dalam rapat tersebut diputuskan untuk memangkas Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) dari 112 menjadi 25 titik saja. Pemberlakukan 25 titik tersebut nantinya akan mulai ditetapkan pada tahun depan, tepatnya pada 1 Januari 2019 mendatang. “Tadi konfirmasi saja titik tujuan pemasokan Fame di Pertamina itu berubah terus. Tadi dah confirm 25 titik. Pertimbangannya efektivitas sama efesiensi. Kalau yang 25 terminal BBM tanggal 1 Januari,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (19/10/2018). Menurut Rida pemangkasan tersebut mempertimbangkan efektivitas dari penyalurannya. Sebab, pemerintah juga harus mempertimbangkan jumlah kapal yang ada untuk penyaluran B20 agar tidak tersendat implementasinya. “Tadinya makanya, berangkat dari situ kemudian kita melihat kesempatan untuk disimplifikasi, disederhanakan, akan lebih efektif dan efisien. Belum lagi mempertimbangkan ketersediaan kapal kan. Itu kemudian diputuskan, Pertamina khusus hanya di 25 titik,” jelasnya.

http://krjogja.com/web/news/read/83645/Mulai_1_Januari_2019_Hanya_25_Terminal_BBM_Pertamina_Salurkan_B20

Metrotvnews | Selasa, 20 November 2018

Penyaluran FAME Disederhanakan Jadi 25 Titik

Penyaluran Fatty Acid Methyl Ester (FAME) ke Pertamina akan disederhakan dari 112 titik menjadi 25 titik. Penerapan 25 titik lokasi tersebut akan diberlakukan mulai 1 Januari 2019. “Pengurangan titik serah ini dapat terjadi karena digantikan oleh penggunaan dan penambahan dua floating storage (penyimpanan terapung) di Balikpapan,” kata Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor kepada Media Indonesia, Selasa, 20 November 2018. Untuk diketahui, pemerintah telah resmi menerapkan secara menyeluruh program mandatori Biodiesel 20 persen atau B20 pada 1 September 2018. Penerapan B20 tersebut dilakukan pada semua sektor baik public service obligation (PSO) maupun non-PSO.Hampir tiga bulan program mandatori B20 ini, Tumanggor mengatakan bahwa pelaksanaan penyaluran B20 tersebut berjalan dengan baik. Ia pun menilai pelaksanaan mandatori B20 ini sudah mencapai 98 persen.Sebelumnya, pada Senin kemarin, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menggelar rapat koordinasi terkait monitoring pelaksanaan program mandatori B20.

Usai rapat, Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan bahwa dalam rapat tersebut telah disepakati untuk menyederhanakan titik penyaluran FAME. Hal itu dilakukan agar penyaluran dapat berjalan secara efektif dan efisien.”Kita melihat kesempatan untuk disederhanakan agar lebih efektif, efisien, belum lagi mempertimbangkan ketersediaan kapal. Barusan diputuskan Pertamina khususnya (penyaluran FAME) di 25 titik,” katanya. Ke depannya, penyaluran FAME akan lebih disederhanakan menjadi 10 titik.Sementara itu, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan bahwa produsen bahan bakar nabati (BBN) nantinya yang akan menyewa floating storage milik Pertamina. Penyewaan tersebut dilakukan agar pengiriman FAME ke Pertamina tidak terlalu jauh lokasinya. “Floating storage-nya itu punya Pertamina, kalau kita urus di luar itu perlu izin lingkungan lagi, perlu izin macam-macam. Tapi kalau Pertamina punya, dia sudah punya koordinat, sehingga bisa lebih pendek waktunya,” pungkasnya.

http://ekonomi.metrotvnews.com/mikro/zNPWvQzK-penyaluran-fame-disederhanakan-jadi-25-titik

Mediaindonesia | Selasa, 20 November 2018

Titik Penyaluran B20 Disederhanakan

PENYALURAN ester metil asam lemak (fatty acid methyl ester/FAME) untuk menjadi bahan dasar biodiesel ke Pertamina akan disederhanakan dari 112 titik menjadi 25. Penerapan 25 titik lokasi itu akan diberlakukan mulai 1 Januari 2019. “Pengurangan titik serah ini dapat terjadi karena digantikan penggunaan dan penambahan dua floating storage (penyimpanan terapung) di Balikpapan,” kata Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor, Selasa (20/11). Untuk diketahui, pemerintah telah resmi menerapkan secara menyeluruh program mandatori biodiesel 20% atau B20 pada 1 September 2018. Biodiesel adalah bahan bakar nabati untuk mesin/motor diesel berupa ester metil asam lemak. Penerapan B20 itu dilakukan pada semua sektor, public service obligation (PSO) dan non-PSO. Selama hampir tiga bulan program mandatori B20 itu, Tumanggor mengatakan penyaluran B20 itu berjalan dengan baik. Ia pun menilai pelaksanaan mandatori B20 itu sudah mencapai 98%.

Sebelumnya, pada Senin (19/11), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menggelar rapat koordinasi terkait dengan monitoring pelaksanaan program mandatori B20. Seusai rapat, Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan, dalam rapat itu telah disepakati penyederhanaan titik penyaluran FAME. Hal itu dilakukan agar penyaluran dapat berjalan secara efektif dan efisien.“Kita melihat kesempatan untuk disederhanakan agar lebih efektif, efisien, belum lagi mempertimbangkan ketersediaan kapal. Barusan diputuskan Pertamina, khususnya (penyaluran FAME) di 25 titik,” katanya. Kelak, penya­luran FAME akan lebih disederhanakan menjadi 10 titik. Sementara itu, Darmin mengatakan produsen bahan bakar nabati (BBN) nantinya akan menyewa floating storage milik Pertamina. Penyewaan itu dilakukan agar lokasi pengiriman FAME ke Pertamina tidak terlalu jauh. (Nur/E-2)

http://m.mediaindonesia.com/read/detail/199057-titik-penyaluran-b20-disederhanakan

Medcom | Selasa, 20 November 2018

Penyaluran FAME Disederhanakan Jadi 25 Titik

Penyaluran Fatty Acid Methyl Ester (FAME) ke Pertamina akan disederhakan dari 112 titik menjadi 25 titik. Penerapan 25 titik lokasi tersebut akan diberlakukan mulai 1 Januari 2019. “Pengurangan titik serah ini dapat terjadi karena digantikan oleh penggunaan dan penambahan dua floating storage (penyimpanan terapung) di Balikpapan,” kata Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor kepada Media Indonesia, Selasa, 20 November 2018. Untuk diketahui, pemerintah telah resmi menerapkan secara menyeluruh program mandatori Biodiesel 20 persen atau B20 pada 1 September 2018. Penerapan B20 tersebut dilakukan pada semua sektor baik public service obligation (PSO) maupun non-PSO.Hampir tiga bulan program mandatori B20 ini, Tumanggor mengatakan bahwa pelaksanaan penyaluran B20 tersebut berjalan dengan baik. Ia pun menilai pelaksanaan mandatori B20 ini sudah mencapai 98 persen.Sebelumnya, pada Senin kemarin, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menggelar rapat koordinasi terkait monitoring pelaksanaan program mandatori B20.

Usai rapat, Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan bahwa dalam rapat tersebut telah disepakati untuk menyederhanakan titik penyaluran FAME. Hal itu dilakukan agar penyaluran dapat berjalan secara efektif dan efisien.”Kita melihat kesempatan untuk disederhanakan agar lebih efektif, efisien, belum lagi mempertimbangkan ketersediaan kapal. Barusan diputuskan Pertamina khususnya (penyaluran FAME) di 25 titik,” katanya. Ke depannya, penyaluran FAME akan lebih disederhanakan menjadi 10 titik. Sementara itu, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan bahwa produsen bahan bakar nabati (BBN) nantinya yang akan menyewa floating storage milik Pertamina. Penyewaan tersebut dilakukan agar pengiriman FAME ke Pertamina tidak terlalu jauh lokasinya. “Floating storage-nya itu punya Pertamina, kalau kita urus di luar itu perlu izin lingkungan lagi, perlu izin macam-macam. Tapi kalau Pertamina punya, dia sudah punya koordinat, sehingga bisa lebih pendek waktunya,” pungkasnya.

https://www.medcom.id/ekonomi/mikro/zNPWvQzK-penyaluran-fame-disederhanakan-jadi-25-titik