+62 2129380882 office@aprobi.co.id

TREN ENERGI Ramah Lingkungan

Republika | Jum’at, 5 Juli 2019
TREN ENERGI Ramah Lingkungan

Pemanfaatan energi tak menciptakan kerusakan tentu menjadi dambaan semua orang. Energi bersih jelas meminimalkan emisi. Bisa jadi green energy ini mampu mencegah terjadinya emisi ke lingkungan sehingga kualitas I hidup manusia lebih terjamin. Selama ratusan tahun manusia sudah menikmati energi listrik. Semua negara berlomba-lomba mengembangkan pembangkit listrik demi memenuhi kebutuhan warga negara mereka. Negara memang harus menjadi pemimpin dan penjamin ketersediaan energi listrik bagi rakyatnya. Listrik adalah sumber energi sekunder. Artinya, listrik diperoleh dari konversi sumber energi primer lainnya, seperti batu bara, gas alam, nuklir, matahari, atau energi angin. Sumber energi yang digunakan untuk memproduksi listrik dapat terbarukan atau tidak terbarukan. Akan tetapi, listrik sendiri tidak terbarukan. Pembangkit listrik hanya istilah yang menjelaskan lokasi tempat konversi energi berlangsung. Secara tradisional, pembangkit listrik besar terletak di wilayah suburban yang jauh dari kota karena membutuhkan lahan yang luas dan a.da yang memerlukan pasokan air dalamjumlah sangat besar. Semua listrik yang diproduksi di pembangkit listrik adalah arus bolak-balik (AC). Sebaliknya, jenis arus listrik yang ditemukan di ramah adalah arus searah (DC).

Pembangkit listrik secara umum terbagi menjadi dua kategori, yaitu pembangkit listrik konvensional dan non-konvensional. Pembangkit konvensional terbagi menjadi tiga, yakni 1) pembangkit listrik berbahan bakar fosil yang menghasilkan tenaga listrik dengan membakar bahan bakar fosil, seperti batu bara, gas alam, atau diesel, 2) pembangkit listrik tenaga nuklir yang menciptakan reaksi nuklir terkendali dan dipertahankan untuk menghasilkan listrik, dan 3) pembangkit listrik tenaga air yang memanfaatkan kekuatan air sebagai sumber pembangkit listrik. Pembangkit listrik non-konvensional berasal dari empat sumber, yaitu 1) pembangkit listrik tenaga angin dengan memanfaatkan energi kinetik angin yang digunakan untuk menciptakan daya, 2) pembangkit listrik tenaga surya mampu menghasilkan tenaga dengan mengumpulkan radiasi matahari, 3) pembangkit listrik tenaga panas bumi yang menggunakan panas alami di permukaan bumi untuk menghasilkan listrik, serta 4) pembangkit listrik biomassa, berasal dari bahan organik alami dibakar untuk menghasilkan listrik.

Isu energi terbarukan ini menarik perhatian REN21, sebuah jaringan kebijakan internasional yang berasal dari para pakar pemerintah, organisasi antarpemerintah, asosiasi industri, lembaga swadaya masyarakat (LSM), sains, dan akademisi. REN21 menyediakan platform bagi komunitas luas untuk bertukar informasi dan ide, saling belajar, dan bersama-sama membangun masa depan energi terbarukan. Jaringan ini menghasilkan publikasi unggulan tahunan, di antaranya Laporan Status Global Terbarukan (GSR). Berdasarkan data REN21, produksi energi listrik dari sumber energi terbarukan masih sangat rendah. Tercatat hingga 2017 fosil menyumbang produksi listrik sebesar 79,7 persen dari total konsumsi energi dunia. Energi listrik yang berasal dari nuklir juga ternyata masih rendah, hanya 2,2 persen. Sumber energi biomassa berkontribusi sampai 7,5 persen. Energi lebih modern lainnya yang mampu terbarukan menyumbang 10,6 persen dari total konsumsi energi global. Energi terbarukan modern ini meliputi angin, solar, biomassa, panas bumi, dan laut (2,0) persen; biofuels untuk transportasi (1,0 persen), tenaga angin (3,6 persen), serta biomassa, solar, dan panas bumi (4,2 persen).

Group Chief Executive BP Bob Dudley mengungkapkan, konsumsi energi primer global tumbuh kuat pada 2017, dipimpin oleh gas alam dan energi terbarukan, dengan pangsa batu bara dari bauran energi terus menurun. Pertumbuhan konsumsi energi primer rata-rata mencapai 2,2 persen pada 2017, naik 1,2 persen dari tahun sebelumnya. Ini kenaikan tercepat sejak 2013. Pertumbuhan energi primer rata-rata sebesar 1,7 persen per tahun dalam satu dekade terakhir. Berdasarkan bahan bakar, gas alam yang mencatat peningkatan terbesar dalam konsumsi energi, diikuti oleh energi terbarukan dan kemudian minyak. Konsumsi energi naik 3,1 persen di Cina. Cina adalah pasar pertumbuhan energi terbesar selama 17 tahun secara berturut-turut. Pertumbuhan energi ini juga membawa efek langsung, terutama menambah emisi karbon. Tercatat emisi karbon dari konsumsi energi meningkat 1,6 persen. Emisi ini sempat tumbuh rendah, bahkan bisa dikatakan tidak ada pertumbuhan selama tiga tahun dari 2014 hingga 2016. Ada yang menarik dari data BP, salah satunya adalah tentang konsumsi batu bara. -Konsumsi batu bara meningkat 25 juta ton setara minyak (mtoe) atau tumbuh 1,0 persen. Ini angka pertumbuhan pertama sejak 2013-

Pertumbuhan konsumsi batu bara sebagian besar didorong oleh India (18 mtoe), dengan konsumsi Cina juga naik sedikit (4,0 mtoe) setelah tiga tahun menurun secara berturut-turut selama 2014-2016. Permintaan QECD juga turan selama empat tahun beruntun (-4,0 mtoe). Pangsa batu bara dalam energi primer juga turan menjadi 27,6 persen, angka terendah sejak 2004. Produksi batu bara dunia tumbuh sebesar 105 mtoe atau 3,2 persen, tingkat pertumbuhan tercepat sejak 2011. Produksi naik sebesar 56 mtoe di Cina dan 23 mtoe di AS. Energi terbarukan, hidro, dan nuklir juga menunjukkan tren positif. Daya terbarukan tumbuh sebesar 17 persen, lebih tinggi dari rata-rata 10 tahun terakhir dan mencatat rekor pertumbuhan terbesar (69 mtoe). Khusus energi angin (bayu), ternyata berkontribusi lebih dari setengah pertumbuhan energi terbarukan, sementara matahari berkontribusi lebih dari sepertiga meskipun hanya menyumbang 21 persen dari total. Di Cina, pembangkit listrik terbarukan naik 25 mtoe, menjadi rekor bara di negara tersebut. Pembangkit listrik terbarukan di Cina menjadi kontributor terbesar kedua terhadap pertumbuhan energi primer global setelan gas alam.

BP mencatat tenaga listrik naik hanya 0,9 persen dibandingkan dengan rata-rata 10 tahun terakhir sebesar 2,9 persen. Pertumbuhan Cina yang paling lambat sejak 2011, sementara output Eropa turan 10,5 persen (-16 mtoe). Generator nuklir global tumbuh sebesar 1,1 persen. Pertumbuhan di Cina (8 mtoe) dan Jepang (3 mtoe) sebagian diimbangi oleh penurunan di Korea Selatan (-3 mtoe) dan Taiwan (-2 mtoe). Pembangkit listrik naik 2,8 persen, mendekati rata-rata dalam 10 tahun. Praktis semua pertumbuhan berasal dari negara berkembang (94 persen). Di OECD relatif datar sejak 2010. Energi terbarukan menyumbang hampir setengah dari pertumbuhan pembangkit listrik (49 persen), dengan sebagian besar sisanya disediakan oleh batu bara (44 persen). Porsi energi terbarukan dalam pembangkit listrik global meningkat dari 7,4 persen menjadi 8,4 persen.

Terbarukan naik

Berdasarkan data termutakhir International Energy Agency (IEA), hingga Maret 2019 konsumsi listrik dari sumber energi terbarukan bara mencapai 30,5 persen. Sisanya, mayoritas sebesar 69,5 persen didominasi oleh energi yang tak terbarukan. Namun, ada tren yang menggembirakan bila dibandingkan dengan fakta 2018. Tercatat pada 2018 konsumsi listrik dari sumber energi terbarukan masih pada angka 26,6 persen. Artinya, terjadi kenaikan peran energi terbarukan hingga 4,0 persen. Total konsumsi listrik pada Maret 2019 mencapai 810,2 terawatt hour (TWH), sementara konsumsi listrik selama tiga bulan pertama 2019 sebesar 2.498,9 TWH. IEA mencatat ada penurunan konsumsi listrik pada Maret sebesar 1,4 persen dibandingkan periode sama 2018. Konsumsi Januari-Maret 2019 juga menurun 1,2 persen dibandingkan tiga bulan pertama 2018. Lalu, seperti apa bauran energi yang terjadi hingga saat ini? Merujuk pada data IEA, gas alam ternyata sudah melampaui peran batu bara dalam menyumbang energi listrik. Porsi konsumsi listrik dari gas alam sudah mencapai 27,8 persen dari total produksi dan konsumsi listrik global pada 2018. Batu bara menduduki urutan kedua sebesar 25,3 persen dari total produksi listrik dunia. Nuklir berada pada posisi ketiga dengan porsi mencapai 17,5 persen.

Listrik dari tenaga hidro lumayan bera-ndil dengan porsi mencapai 13,6 persen. Tenaga angin mampu menyumbang listrik sebesar 6,9 persen, sedangkan tenaga surya masih kecil hanya 3,0 persen. Energi terbarukan yang mudah terbakar (combustible rene-wables) menyumbang listrik sebesar 2,7 persen. Peran minyak dalam memproduksi energi listrik ternyata sudah nyaris sirna. IEA mencatat hingga akhir 2oj8 lalu, produksi listrik dari minyak hanya 1,9 persen. Sumber yang mudah terbakar lainnya menyumbang 0,6 persen, sedangkan geothermal masih sangat rendah hanya 0,4 persen. Sumber energi lainnya tercatat 0,3 persen hingga akhir 2018 lalu. Tentu ini perkembangan yang menggembirakan karena suplai listrik dari sumber terbarukan menunjukkan tren meningkat. Jika seluruh negara berkomitmen dan serius membangun pembangkit listrik dari sumber terbarukan, harapan menikmati listrik yang lebih andal, tetapi lingkungan tetap aman, pasti tak hanya di angan-angan.

Republika | Jum’at, 5 Juli 2019
Biodiesel B-100 Bisa Hemat Devisa Rp 26 Triliun

Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan), Momon Rusmono menyatakan bahwa hasil uji coba penggunaan Biodiesel B-100 yang dilakukan Kementan mampu mencapai jarak 13,1 kilometer/liter. Jarak tersebut lebih jauh jika dibanding solar yang hanya mencapai 9 kilometer/liter. “Lebih dari itu, penggunaan B100 ini bisa menghemat devisa sebesar 26 triliun yang berdampak langsung pada kesejahteraan petani sawit,” ujar Momon saat membuka Pertemuan Badan Koordinasi Humas di Bogor, Jawa Barat, Kamis (4/7). Momon menjelaskan, penghematan ini bisa didapat dari substitusi impor solar yang selama ini cukup tinggi. Disisi lain, biodiesel juga mampu mengurangi pencemaran lingkungan karena rendah polusi dan berbahan baku kelapa sawit 100 persen. “Kita sudah membuktikan dengan uji coba pada mobil-mobil dinas Kementan. Dari ujicoba ini, para sopir mengaku kualitas Biodiesel B100 sudah setara dengan DEX yang selama ini digunakan,” katanya. Untuk itu, Momon berharap, ke depan penggunaan B100 dapat menjadi alternatif bahan bakar kendaraan. Apalagi, hasil riset dan uji coba Balitbang Kementan menunjukan adanya kesetaraan kualitas dengan minyak lain.

“Makanya, melalui forum ini kita harus mampu mengekspose lebih jauh lagi program-program pembangunan pertanian dan hasil-hasilnya kepada masyarakat antar lintas sektoral,” katanya. Di tempat yang sama, Direktur Informasi dan Komunikasi Politik, Hukum dan Keamanan, Kementerian Kominfo, Bambang Gunawan menyebutkan bahwa penggunaan biodiesel B100 dapat berpengaruh pada kondisi ekonomi secara nasional. “Harganya 40 persen lebih murah. Makanya penggunaan B-100 ini berpotensi menghemat devisa sebesar 26,66 triliun rupiah,” katanya. Selain itu, kata Bambang, penggunaan biodiesel juga lebih ramah lingkungan karena karbon monoksida (CO) yang dihasilkan 48 persen lebih rendah jika dibanding dengan penggunaan solar. “Yang pasti, pemanfaatan biodiesel ini akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani sawit” katanya. Sebagai catatan, proses riset ini diawali pada pengembangan minyak nabati di tahun 2014. Saat itu, Kementerian Pertanian sukses menghasilkan bahan bakar B-20 yang selanjutnya disebut campuran 20 persen minyak nabati pada solar. Kemudian, Kementan berhasil mengembangkan B-30 hingga akhirnya bisa 100 persen menggunakan minyak nabati, tanpa campuran solar.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri menambahkan, forum ini sangat bermanfaat untuk mendesiminasikan capaian dan program, karena menghadirkan para pejabat pengelola kehumasan pemerintah atau Government Public Relation. Menurut Kuntoro, forum ini juga sekaligus upaya Kementan dalam mensosialisasikan berbagai program, capaian dan tantangan dalam pembangunan pertanian secara langsung kepada stakeholders. “Biodiesel B100 memiliki prospek untuk memecahkan masalah terkait pengembangan industri kelapa sawit, penyejahteraan petani dan penyediaan energi terbarukan,” pungkasnya. Sekedar diketahui, Forum Tematik Bakohumas ini dihadiri lebih dari 100 pejabat pengelola kehumasan dari 48 Kementerian dan Lembaga, Organisasi Profesi, serta perwakilan Senat Mahasiswa. Selain pemaparan hasil riset dan ujicoba, peserta juga berkesempatan mengunjungi Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri), lembaga dimana riset biodiesel B100 ini dilaksanakan.
https://republika.co.id/berita/pu5clh453/biodiesel-b100-bisa-hemat-devisa-rp-26-triliun

Infosawit | Jum’at, 5 Juli 2019
TOTAL Biorefinery La Mède Resmi Produksi Biodiesel Sawit

Perusahaan energi asal Prancis TOTAL belum lama ini mengumumkan mulai berproduksinya pabrik penghasil bahan bakar terbarukan di Perancis tenggara. Biorefinery La Mède, sebelumnya merupakan kilang minyak tradisional, sekarang telah mampu memproduksi biofuel. Proyek ini sebelumnya telah diluncurkan pada 2015 dengan investasi mencapai sekitar US$ 310 juta. Fasilitas tersebut terdiri dari biorefinery dengan kapasitas 500 ribu ton biofuel per tahun, energi surya 8 MW, pusat logistik dan penyimpanan, serta pusat pelatihan. La Mède akan menghasilkan bahan bakar biodiesel dan biojet untuk industri penerbangan. Itu dirancang khusus untuk memproses semua jenis minyak. Bahan bakar nabati akan mencapai 60 hingga 70% dari 100% minyak nabati berkelanjutan (rapeseed, minyak sawit, sunflower, dll.) Dan 30 hingga 40% terdiri dari limbah yang diolah (lemak hewan, minyak goreng, residu, dll.).

Sebagai bagian dari kerjasama dengan Pemerintah Prancis pada Mei 2018 lalu, TOTAL telah berjanji untuk memproses tidak lebih dari 300 ribu ton minyak sawit per tahun, atau sekitar 50% dari total volume bahan baku yang dibutuhkan dan setidaknya ada sebanyak 50 ribu ton berbahan baku rapeseed dari Prancis, sebagai upaya membuka pasar pertanian ditingkat domestik. “Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada tim atas semua kerja keras mereka selama empat tahun terakhir ini untuk mengkonversi kilang La Mède kami,” kata Presiden Refining & Chemicals, TOTAL, Bernard Pinatel dikutip InfoSAWIT dari Supplay Chain Magazine. Lebih lanjut kata Pinatel, produksi bifuel ini menjadi solusi untuk mengurangi emisi karbon dari transportasi darat dan udara. Lantaran produksi biofuel dari Biorefinery La Mède, mengeluarkan karbon lebih rendah 50% daripada bahan bakar fosil. TOTAL juga berkomitmen untuk memastikan bahwa 300 ribu ton minyak sawit yang diproses setiap tahun diperoleh dengan cara yang paling berkelanjutan. Perusahaan telah menambahkan kontrol yang lebih ketat dan audit keberlanjutan dan menghormati hak asasi manusia, memilih pemasok yang bertanggung jawab dan membatasi jumlah pemasok, sehingga rencana peningkatan dapat disusun secara bersama-sama.
https://www.infosawit.com/news/9122/total-biorefinery-la-m–de-resmi-produksi-biodiesel-sawit

Cnbcindonesia | Kamis, 4 Juli 2019
HIP Biodiesel Naik, Produsen Dapat Uang Pengganti

Kementerian ESDM menaikkan Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis biodiesel Rp 6.970 per liter atau naik 0,01% yang disebabkan meningkatnya harga rata-rata CPO KPB, tidak hanya itu pemerintah juga akan memberikan insentif baru yang lebih besar kepada produsen biodiesel. Kenaikan ini menurut Ketua Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Master Parulian Tumanggor tidak terlalu menjadi permasalahan karena produsen biodiesel akan mendapatkan uang penggantian dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP KS).
https://www.cnbcindonesia.com/market/20190704105105-19-82646/hip-biodiesel-naik-produsen-dapat-uang-pengganti

Cnbcindonesia | Kamis, 4 Juli 2019
APROBI: Tidak Ada Subsidi untuk Produksi Biodiesel

Di tengah kenaikan Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis biodiesel, produk biodiesel Indonesia masih menghadapi hambatan perdagangan dari Amerika dan Uni Eropa terkait anti subsidi dan anti dumping. Menurut Ketua Aprobi Master Parulian Tumanggor saat ini kinerja ekspor produk biodiesel ke Eropa masih cukup baik mencapai 300 ribu ton yang didukung berhasilnya Indonesia memenangkan sengketa anti dumping biodiesel di WTO. Selengkapnya saksikan dialog Maria Katarina dengan Ketua Aprobi, Master Parulian Tumanggor dalam Squawk Box, CNBC Indonesia (Kamis, 4/7/2019).
https://www.cnbcindonesia.com/market/20190704105727-19-82649/aprobi-tidak-ada-subsidi-untuk-produksi-biodiesel

Tabloidsinartani | Kamis, 4 Juli 2019
Biodiesel B100, Bentuk Komitmen Ketahanan Energi Bangsa

Biodiesel ramah lingkungan berbahan baku Crude Palm Oil (CPO) terus digaungkan oleh Kementerian Pertanian. Bahkan digadang-gadang menjadi bahan bakar masa depan sekaligus menjadi bentuk komitmen ketahanan energi bangsa Indonesia. Tidak berlebihan memang menjadikan B100 sebagai bahan bakar masa depan, baik skala nasional maupun dunia. Pasalnya, seiring perkembangan penduduk yang membutuhkan mobilitas, kebutuhan akan bahan bakar semakin meningkat. Namun, bahan bakar fosil semakin berkurang dan harga terus naik. Disisi lain, Indonesia memiliki potensi produksi Crude Palm Oil (CPO) sekaligus exportir terbesar dengan lahan seluas 14,03 juta Ha. Kemudian, pada tahun 2018 tingkat produksi minyak kelapa sawit atau CPO berkisar 41,67 juta ton. Melihat hal tersebut Indonesia mempunyai peluang untuk memanfaatkan CPO atau Minyak Kelapa Sawit sebagai energi alternatif bahan bakar fosil khususnya untuk solar berupa Biodiesel. “Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian telah berhasil menciptakan satu inovasi yaitu bahan bakar alternatif Biodiesel B-100 yang dihasilkan dari bahan alami terbarukan seperti minyak nabati dan hewani,” ungkap Plt Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Momon Rusmono dalam kegiatan Pertemuan Bakohumas Kementerian Pertanian 2019 di Sukabumi, Kamis (4/7).

Kementan melakukan lompatan besar dalam inovasi biodiesel yang selama ini menggunakan campuran bahan bakar minyak bumi, atau dikenal dengan sebutan B20, B30 dan sebagainya. Tetapi B100 ini mengandung 100 persen bahan alami tanpa dicampur dengan BBM. Tenaga Ahli Menteri Bidang Infrastruktur dan Sarana Pertanian, Sam Herodian mengatakan untuk produksi Energi Baru Terbarukan, kelapa sawit (CPO) merupakan bahan baku yang paling siap. “Sawit punya kandungan minyak mencapai 4000 kg/ha per tahun. Tanaman ini juga menjadi paling efisien untuk dijadikan minyak nabati/biodiesel,” tuturnya. Selama ini, produksi CPO Sawit memang masuk pada pasar ekspor. Namun beberapa tahun terakhir, produksi CPO Sawit Indonesia diserang dengan black campaign sehingga mengalami penurunan ekspor. Karenanya, B100 menjadi pijakan nasional untuk mengolah CPO menjadi energi terbarukan dan menjadi alternatif pemanfaatannya. “Kita ekspor CPO ke 147 negara. Bayangkan kalau kita stop ekspor, dipastikan kelimpungan dan industrinya mati. Kita sebenarnya punya cara untuk mengendalikan dunia lewat CPO,” tegasnya.

Ketua Umum Perhimpunan Teknik Pertanian Indonesia (PERTETA) yang juga Dosen Departemen Teknik Mesin dan Biosistem IPB University, Desrial menyebutkan B100 ini juga menjadi bentuk ketahanan energi bangsa sekaligus untuk melepas belenggu impor solar. Menurut catatan Desrial, produksi solar di Indonesia hingga 2015 mencapai 248,8 juta barrel sedangkan impornya juga sudah mencapai 174,4 juta barrel. “Sudah tak jauh beda dengan produksi dalam negeri. (Impor solar) ini menjadi sesuatu yang mengerikan bagi masa depan Indonesia jika terus bergantung di dalamnya,” tegasnya. Desrial menyebut, industri biodiesel di Indonesia pada 2018 sudah bisa menghasilkan sebanyak 12 juta kiloliter dan produsen terbesar ada di Sumatera yang mencapai 7,3 juta kiloliter. “Kemampuan kita sudah (untuk biodiesel) sudah melebihi kebutuhan bahan bakar solar di Indonesia, kalau semua bisa kita produksi sesuai kapasitas terpasang pabrik. Jadi kita bisa untuk mulai menutup impor solar tersebut,” tegasnya.

Kerek Kesejahteraan Petani

Efek domino dari pengembangan Biodiesel juga bisa dirasakan langsung oleh petani minyak sawit karena harga CPO yang bisa terkerek naik, dari 530 USD/ton menjadi 790 USD/ton. “Kalau mereka (pasar dunia) enggak mau beli, kita pakai di dalam negeri. Akhirnya hukum pasar terjadi. Karena suplai ke pasar dunia berkurang maka harga CPO dunia naik dan harga CPO lokal bisa kita maintain dengan regulasi,” tuturnya. Desrial menyebut, terkereknya harga CPO tersebut juga secara langsung harga tandan buah segar (TBS) bisa naik. Dari penelitian, dari Rp 850/kg menjadi Rp 1850/kg. “Itu saja baru dari kebijakan Public Service Obligation (PSO) menggunakan B20. Sudah signifikan meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” tuturnya.
https://tabloidsinartani.com/detail/industri-perdagangan/nasional/9073-Biodiesel-B100-Bentuk-Komitmen-Ketahanan-Energi-Bangsa