+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Uji Coba B-20 Tunjukkan Hasil Positif:

Uji Coba B-20 Tunjukkan Hasil Positif: Upaya pemerintah mendorong pemanfaatan biodiesel untuk transportasi di Indonesia, khususnya kereta api semakin menemui titik terang. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendapatkan hasil positif dari hasil rail tes B-20 atau uji bahan bakar dengan campuran 20% biodiesel pada kereta api. Menurutnya masih ada tiga bulan lagi untuk memastikan apakah B-20 dapat bekerja maksimal pada mesin kereta api milik PT. KAI atau tidak. Pengujian ini juga melalui beberapa tahapan, seperti pengambilan sampel bahan bakar diesel, uji performa lokomotif yang diuji dengan menempuh jarak sejauh 23 ribu kilometer atau 1.620 jam untuk lokomotif jenis General Electric dan 27 ribu kilometer atau 1.770 jam untuk mesin jenis Electro Motive Diesel. Direktur Jenderal Perkeretapian, Zulkifri juga berharap agar kegiatan seperti ini perlu didorong guna mendapatkan energi yang ramah lingkungan sehingga dapat mengurangi emisi gas rumah kaca. Selain itu, biodiesel merupakan produk asli Indonesia sendiri.Pelaksanaan Rail Test ini juga melibatkan stakeholder seperti BPPT, Lemigas, BPDPKS, PT. Pertamina (Persero), ITB, Aprobi, General Electric dan Electro Motive Diesel.Penggunaan biodiesel sendiri memang menjadi program mandatory yang dilakukan pemerintah sampai saat ini. Lewat penggunaan biodiesel, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan impor bahan bakar gas dengan menghemat Rp.38,8 triliun dari periode 2014-2017. (VALIDNEWS)

http://validnews.co/Uji-Coba-B-20-Tunjukkan-Hasil-Positif-YsO

Perkembangan Biofuel China: Perkembangan biofuel di China telah mengalami tiga tahap berbeda, dari tahun 2002 sampai tahun 2004 adalah priode awal biofuel. Lima kota (Zhengzhou, Luoyang, Nanyang, Haerbin dan Zhaodong) dipilih untuk meluncurkan program Pilot-Pilot Bensin dengan menggunakan kendaraan. Pada tahun 2004, Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional (NDRC) dan tujuan departemen lainnya memperluas areal uji ethanol, ke sembilan kabupaten demontrasi ditingkat provinsi dan perkotaan. Selama tiga tahun berikutnya, produksi ethanol tumbuh dengan cepat. Dengan campuran bensin 10% (E10) yang menyebar ke sembilan provinsi yang menyumbang sekitar 20% dari konsumsi bensin nasional pada Desember 2006. Indeks harga pangan internasional adalah 101,37 pada Januari 2006, meningkat menjadi 114,84 di bulan Desember dengan cepat (IMF, 2011). Bahkan kenaikan gandum domestik utama di China, yaitu jagung, gandum dan beras tidak terlalu banyak (Huang, et.al., 2010), masih merupakan implikasi kuat terhadap kerawanan pangan potensial. Ketiga, terjadi lonjatan dalam menerapkan kapasitas produksi baru, yang akan mengunakan biji-bijian segar sebagai bahan baku sehinggi menyebabkan masalah bahan bakar vs makanan di China. (SAWITINDONESIA)

Perkembangan Biofuel China (Bagian II): Pada tahun 2010, hanya ada lima pabrik bahan bakar etanol dengan nilai produksi 1,86 juta ton. Dua perusahaan minyak besa CNPC dan SINOPEC dan sebuah perusahaan agribisinis besar, COFCO telah terlibat dalam produksi etanol melalui penetapan investasi, kepemilikan saham dan mekanisme lainnya. Produksi biodiesel di China sekarang banyak dilakukan oleh perusahaan swasta yang menggunakan minyak limbah sebagai baku. Kapasitas total sekitar 1,5 juta ton (Liuk, dkk 2011), dan bahkan 2 juta ton (CRES, 2010). Sekitar 10 kapasitas perusahaan lebih tinggi dari 100.000 ton, yaitu Zhuoyue (100.000 ton) di propinsi Fujian. Dan beberapa perusahaan mengadopsi teknologi maju (yaitu, proses katalisis enzimatik oleh sungai di provinsi Hunan (20.000 ton).Pemerintah China sangat menekankan jalur pengembangan non-grain (non – food oil) dalam berbagai dokumen kebijakan, yaitu Rencana Pembangunan Energi Terbarukan Jangka Menengah dan Jangka Panjang oleh NDRC, Rencana Pembangunan Bioenergi Pertanian (2007-2015) oleh Kementerian Pertanian, dan isu pengembangan danpromosi tanaman minyak oleh kantor umum dewan negara. Dalam studi ini, kita membahas berbagai opsi teknologi yang diperbolehkan berdasarkanrencana ini. Pilihan ini meliputi : (i) bahan bakar etanol dari pati non butiran dan tanaman gula, (ii) biodiesel dari pohon bantalan minyak, (iii) Biodiesel dari minyak limbah , dan (iv) biofuel dari biomassa selulosa. (SAWITINDONESIA)

Perkembangan Biofuel China (Bagian III): Sejumlah besar kebijakan, mulai dari instrumen komando dan kontrol (yaitu peraturan standar dan peraturan wajib) dan langkah langkah fiskal dan ekonomi (pembesan dan subsidi pajak) telah diperkenalkan di China untuk mendukung pengembangan biofuel. Kebijakan ini ditujukan pada tahap yang berbeda dari rantai biofuel, meliputi produksi bahan baku, dan konversi bahan baku menjadi biofuel dan konsumsi bahan bakar nabati. Untuk bahan bakar etanol, sebagian besar kebijakan dirancang sebelum 2007 dan hanya berlaku untuk proyek yang ditunjuk. Sejak 2007 ada beberapa kebijakan preferensial untuk biodiesel, terutama untuk biodiesel berbasis minyak buangan. Setiap teknologi menghadapi masing-masing hambatan yang berbeda, namun biaya pasokan merupakan salah satu penghalang utama yang dihadapi oleh semua jalur, terutama dari biaya bahan baku. Etanol bahan bakar non – butiran menarik perhatian lebih untuk mengatasi hambatan ekonomi mereka karena beberapa kebijakan yang disarankan.Biofuel generasi kedua diproyeksikan sebagai jalur yang paling menjanjikan dalam jangka menegah dan panjang. Beberapa negara memiliki ketentuan preferensial yang mendorong penggunaan biofuel generasi kedua (misalnya, target kebijakan spesifik di Amerika Serikat). Dukungan kebijakan untuk biofuel generasi kedua diChina terutama berfokus pada penelitian dan pengembangan (litbang), sementara hampir tidak ada kebijakan khusus untuk penyebaran biofuel generasi kedua di China. Hal ini diperlukan untuk beralih secara bertahap dari litbang ke kebijakan penerapan pasar. (SAWITINDONESIA)

China Merupakan Pasar Biodiesel Yang Menjanjikan: Karena pasokan bahan bakar yang tidak cukup dan persyaratan untuk hemat energi dan pengegurangan emisi polutan, pemeritah nasional China memberikan perhatian lebih dan lebih untuk penelitian dan pengembangan biofuel. Tahun 2005, pemerintah China mengeluarkan kebijakan pengunaan energi terbarukan.Proyek bensin ethanol dimulai pada tahun 2001 di China dan dukungan pemerintah memeinkan peran penting pada simulasi pengembangan bensin ethanol di China, terutama pada tahap inisiasi demontrasi bensin ethanol dengan kebijakan preferensial seperti insensif. Insentif meliputi : (a) Cukai bahan bakar ethanol terdenaturasi (5%) adalah gratis. (b) Pajak nilai tambah bahan bakar ethanol terdenaturasi dikenakan lebih dulu, dan kemudian diberikan kembali ke penyedia ethanol. (c) Harga bahan bahan bakar ethanol terdenaturasi yang dijual ke perusahaan-perusahaan minyak yang juga opertor pencampuran. (d) Tujuangan dibayarkan kepenyedia ethanol. Insentif ini akan dieksekusi sampai 2008. Untuk menjamin keamanan pangan, tidak ada lagi pabrik bahan bakar ethanol berbasis makanan yang diizinkan lagi oleh pemerintah nasional China. Dimasa depan, bahan baku non makanan termasuk singkong, ubi jalar, sorgum manis dan lignoselulosa berpotensi untuk produksi bahan bakar etanol. Sebuah pabrik bahan bakar ethanol 200.000 ton/tahun dengan singkong sebagai bahan baku di provinsi Guangxi telah diizinkan oleh pemerintah dandiharapkanb untuk dapat memulai segera. (SAWITINDONESIA)

Uji Coba Biodiesel pada Kereta Api, Apa Hasilnya?: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendapatkan hasil positif dari rail test B-20 atau uji bahan bakar dengan campuran 20% biodiesel pada kereta api. pemerintah terus berupaya mendorong pemanfaatan biodiesel untuk transportasi di Indonesia. Salah satunya implementasi biodiesel pada bahan bakar kereta api. Memasuki awal kuartal kedua 2018, Rail Test B-20 (bahan bakar dengan campuran 20% biodiesel) kembali dilakukan. Hasil positif didapatkan dengan tidak ditemuinya kendala pada mesin kereta api. Memasuki bulan ketiga Rail Test B-20 berjalan ini, tambah Dadan, masih ada waktu tiga bulan lagi untuk memastikan apakah B-20 dapat bekerja maksimal pada mesin kereta api milik PT KAI atau tidak.Dadan mengungkapkan, untuk menguji Biodiesel B-20, berbagai tahapan telah dilakukan, di antaranya pengambilan sampel bahan bakar diesel, uji performa lokomotif yang diuji dengan menempuh jarak sejauh 23.000 km atau 1.620 jam untuk Lokomotif jenis General Electric), dan 27.000 km atau 1.770 jam untuk mesin jenis Electro Motive Diesel (EMD). Lokomotif-lokomotif dengan B-20 diuji coba untuk menarik kereta api batu bara rangkaian panjang (babaranjang). Rangkaian tersebut adalah rangkaian terpanjang dan terberat dibandingkan rangkaian lainnya. Tujuannya agar dapat melihat kemampuan bahan bakar B-20 pada beban kerja terberatnya.Masa uji coba B-20 pada kereta milik PT KAI atau lebih dikenal sebagai Rail Test B-20 berlangsung selama enam bulan, terhitung dari Februari – Juli 2018.Rail Test B-20 yang dilaksanakan di Dipo Kertapati, disesuaikan dengan masa perawatan lokomotif yang dilakukan setiap tiga bulan sekali. Kegiatan Rail Test B-20 dipastikan tidak mengganggu aktivitas perkeretaapian di Dipo Kertapati. Rail Test untuk Lokomotif jenis EMD dilaksanakan pada 10-14 Mei 2018 sementara untuk Lokomotif jenis GE pada 17-21 Mei 2018. (OKEZONE)

https://economy.okezone.com/read/2018/05/19/320/1900224/uji-coba-biodiesel-pada-kereta-api-apa-hasilnya