+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Uji Coba Program B50 Berjalan Sukses

Investor Daily Indonesia | Senin, 4 Februari 2019

Uji Coba Program B50 Berjalan Sukses

Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) melaksanakan uji coba penggunaan Biodiesel 50% (B50) pada dua mobil bermesin diesel. Kedua mobil tersebut memulai perjalanan dari Kota Medan, Sumatera Utara, Jumat (25/1) dan tiba di Jakarta, Senin (28/1) lalu. Setelah menerabas jalur lintas timur Sumatera selama tiga hari, mobil dengan jenis dan merek sama tersebut tiba di ibu kota tidak ada hambatan apapun. “Alhamdulillah lancar, mobil tidak mengalami hambatan apapun. Tapi saya tegaskan bahwa ini adalah hasil sementara,” ujar Ketua Tim Road Test Biodiesel B50 PPKS Muhammad Ansori Nasution ketika dihubungi, Minggu (3/2). Menurut doktor dari Tsukuba University Japan ini, penggunaan B50 dan B20 menghasilkan data konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang yang berbeda. Selain itu, hasil dyno test menunjukkan bahwa power mobil yang menggunakan B50, 4% lebih rendah dibanding pada mobil yang menggunakan B20. Data tersebut merupakan data sementara berdasar perjalanan sepanjang 2.300 kilometer (km) dari Medan ke Jakarta. “Data lebih lengkap akan saya laporkan setelah kedua kendaraan menempuh perjalanan kembali dari Jakarta ke Medan,” kata peneliti rekayasa teknologi dan pengelolaan lingkungan PPKS tersebut.

 

Ansori menjelaskan, Road Test B50 menggunakan dua kendaraan uji merek Toyota Innova diesel keluaran 2018. Mobil kontrol menggunakan bahan bakar diesel komersial yang diperoleh dari SPBU Pertamina, odometer sebelum pengujian menunjukkan angka 3.855 km. Sementara itu, mobil uji menggunakan bahan bakar dengan komposisi bauran Biodiesel sejumlah 50% (B50), odometer sebelum pengujian menunjukkan angka 74 km. Sebelum road test dimulai, kedua mobil diperlakukan sama. Untuk menghindari bias terkait dengan gaya mengemudi, dalam uji coba ini pengemudi pada kendaraan pertama dan kedua saling bertukar posisi kemudi setiap 500 km. “Berdasarkan pengakuan kedua driver, mobil yang menggunakan B50 lebih responsif. Tapi pengakuan ini tidak terukur,” kata Ansori. Berdasarkan konsumsi bahan bakar, mobil uji yang menggunakan B50 sedikit lebih boros jika dibandingkan mobil kontrol yang menggunakan B20. Jika mobil kontrol dalam satu liter bahan bakar bisa menempuh perjalanan sejauh 10,86 km, mobil uji hanya 10,61 km. “Namun dari rata-rata emisi gas buang mobil uji lebih ramah lingkungan ketimbang mobil kontrol,” tegas Ansori. Direktur PPKS Hasril Hasan Siregar mengatakan, salah satu produk hilir dari minyak sawit yang dapat dikembangkan di Indonesia adalah Biodiesel yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif, terutama untuk mesin diesel. “Biodiesel ialah bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, tidak beracun dan dibuat dari minyak nabati,” tegas Hasril. Direktur Eksekutif Gabungan pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono mengaprea-siasi uji coba yang dilakukan PPKS tersebut. Dengan semakin tingginya harga minyak bumi akhir-akhir ini, sudah saatnya apabila Indonesia lebih meningkatkan penggunaan Biodiesel khususnya berasal kelapa sawit, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor. “Penggunaan Biodiesel untuk kendaraan bermotor di dalam negeri yang berfungsi ganda yaitu diversifikasi produk hilir kelapa sawit dan penyediaan energi ramah lingkungan. Di samping itu sekaligus dapat menghemat devisa impor minyak fosil,” kata Mukti.

 

Harian Seputar Indonesia | Senin, 4 Februari 2019

Ujicoba B50 SuksesTempuh Medan-Jakarta

Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) melaksanakan uji coba penggunaan Biodiesel 50% (B50) pada dua mobil bermesin diesel. Kedua mobil tersebut memulai perjalanan dari Kota Medan, Sumatera Utara, Jumat (25/1), dan tiba di Jakarta, Senin (28/1) lalu. Setelah menerabas jalur lintas timur Sumatera selama tiga hari, mobil dengan jenis dan merek sama tersebut tiba di ibu kota tidak ada hambatan apa pun. “Alhamdulillah lancar, mobil tidak mengalami hambatan apa pun. Tapi, saya tegaskan bahwa ini adalah hasil sementara,” ujar Ketua Tim Road Test Biodiesel B50 PPKS Muhammad Ansori Nasution ketika dihubungi kemarin. Menurut doktor dari Tsuku-ba University Japan ini, penggunaan B50 dan B20 menghasilkan data konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang berbeda. Selainitu, hasil dyno test menunjukkan bahwa kekuatan mobil yang menggunakan B50, 4% lebih rendah dibandingkan pada mobil yang menggunakan B20. Data tersebut, kata Ansori, merupakan data sementara berdasar perjalanan sepanjang 2.300 km dari Medan ke Jakarta. “Data lebih lengkap akan saya laporkan setelah kedua kendaraan menempuh perjalanan kembali dari Jakarta ke Medan,” kata Peneliti Rekayasa Teknologi dan Pengelolaan Lingkungan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) ini.

 

Ansori menjelaskan, Road Test B50 menggunakan dua kendaraan uji merek Toyota Innova diesel keluaran tahun 2018. Mobil kontrol menggunakan bahan bakar diesel komersial yang diperoleh dari SPBU Pertamina, odometer sebelum pengujian menunjukkan angka 3.855 km. Sementara itu, mobil uji menggunakan bahan bakar dengan komposisi bauran bio-dieselsejumlah 50% (B50), odometer sebelum pengujian menunjukkan angka 74 km. Sebelum roadtest dimulai, keduamo-bil diperlakukan sama. Untuk menghindari bias terkait dengan gaya mengemudi, dalam uji coba ini pengemudi pada kendaraan pertama dan kedua saling bertukar posisi kemudi setiap 500 km. “Berdasarkan pengakuan kedua driver, mobil yang menggunakan B50 lebih responsif. Tapi, pengakuan ini tidak terukur,” kata Ansori. Berdasarkan konsumsi ba -han bakar, mobil uji yang menggunakan B50sedikitlebih boros jika dibandingkan mobil kontrol menggunakan B20. Jika mobil kontrol dalam satu liter bahan bakar bisa menempuh perjalanan sejauh 10,86 km, mobil uji hanya 10,61 km. “Namun, dari rata-rata emisi gas buang mobil uji lebih ramah lingkungan ketimbang mobil kontrol,” kata Ansori.

 

Direktur PPKS Hasril Hasan Siregar mengatakan, salah satu produk hilir dari minyak sawit yang bisa dikembangkan di Indonesia adalah Biodiesel dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif, terutama untuk mesin diesel. “Biodiesel ialah bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, tidak beracun, dan dibuat dari minyak nabati,” katanya. Direktur Eksekutif Gabungan pengusaha kelapa sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sardjono mengapresiasi uji coba yang dilakukan PPKS. Menurutnya, dengan semakin tingginya harga minyak bumi akhir-akhir ini, sudah saatnya apabila Indonesia lebih meningkatkan penggunaan Biodiesel khususnya berasal kelapa sawit, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun ekspor. “Penggunaan Biodiesel untuk kendaraan bermotor di dalam negeri berfungsi ganda, yaitu diversifikasi produk hilir kelapa sawit dan penyediaan energi ramah lingkungan. Di samping itu, sekaligus dapat menghemat devisa impor minyak fosil,” kata Mukti.

 

 

Republika | Senin, 4 Februari 2019

Uji Coba B-50 Tempuh Medan-Jakarta

Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) menguji coba penggunaan Biodiesel 50 persen IB50I terhadap dua mobil bermain diesel Kedua mobil tersebut sukses menempuh perjalanan dan Kota Medan. Sumatra Utara. Jumat (25/1). dan tiba di Jakarta pada Senin 128/11 lalu Setelah melintasi jalur lintas timur sumatra selama tiga hari. mobil dengan Alhamdulillah lancar mobil tidak mengalami hambatan apa pun Tapi, saya tegaskan bahwa M adalah hasil sementara. ujar Ktua Tim Road Test Biodiesel BV) PPKS. Muhammad Ansori Nasution, melalui keterangan tertulis Ahad 13/21 “Menurut lulusan Universitas Tsukuba. Jepang, ttu. penggunaan 850 dan B20 menghasilkan data konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang yang berbeda Selain itu. hasil dyno test menunjukkan bahwa kekuatan mobil yang menggunakan B50 empat persen lebih rendah dibandingkan mobil yang menggunakan B20 Data tersebut merupakan data sementara berdasarkan perjalanan sepanjang 2 300 kilometer |km| dari Medan ke Jakarta Road Test B50 kali im menggunakan dua kendaraan uji merek Toyota Innova diesel keluaran tahun 2018.

 

Inilah | Senin, 4 Februari 2019

Perjalanan Jakarta-Medan Pakai B50, Siapa Takut..

Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) melakukan ujicoba biodiesel 50% (B50) pada dua mobil diesel menyusuri Kota Medan, Sumatera Utara, Jumat (25/1/2019) dan tiba di Jakarta, Senin (28/1/2019). Setelah menembus jalur lintas timur Sumatera selama tiga hari perjalanan sepanjang 2.300 kilometer, mobil dengan jenis dan merek sama tersebut tiba di ibu kota tanpa hambatan apapun. “Alhamdulillah lancar, mobil tidak mengalami hambatan apapun. Tapi saya tegaskan bahwa ini adalah hasil sementara,” ujar Ketua Tim Road Test Biodiesel B50 PPKS, Muhammad Ansori Nasution di Jakarta, Minggu (3/2/2019).Menurut doktor dari Tsukuba University Japan ini, penggunaan B50 dan B20, menghasilkan data konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang yang berbeda. Selain itu, hasil dyno test menunjukkan bahwa power mobil yang menggunakan B50, lebih rendah empat persen dibanding pada mobil yang menggunakan B20. “Data lebih lengkap akan saya laporkan setelah kedua kendaraan menempuh perjalanan kembali dari Jakarta ke Medan, kata Peneliti Rekayasa Teknologi & Pengelolaan Lingkungan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) itu.

 

Berdasarkan pengakuan pengemudi, lanjutnya, mobil yang menggunakan B50 lebih responsif. Berdasarkan konsumsi bahan bakar, mobil uji yang menggunakan B50 sedikit lebih boros jika dibandingkan mobil kontrol yang menggunakan B20. Jika mobil kontrol dalam satu liter bahan bakar bisa menempuh perjalanan sejauh 10,86 kilometer, mobil uji hanya 10,61 kilometer. “Namun dari rata-rata emisi gas buang mobil uji lebih ramah lingkungan ketimbang mobil kontrol,” tegas Ansori. Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Mukti Sardjono mengapreasiasi, ujicoba yang dilakukan PPKS ini. Kata Mukti, dengan semakin tingginya harga minyak bumi akhir-akhir ini, sudah saatnya Indonesia lebih meningkatkan penggunaan biodiesel, khususnya yang berasal dari kelapa sawit, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor. “Penggunaan biodiesel untuk kendaraan bermotor di dalam negeri yang berfungsi ganda yaitu diversifikasi produk hilir kelapa sawit dan penyediaan energi ramah lingkungan. Di samping itu sekaligus dapat menghemat devisa impor minyak fosil,” katanya. Sementara, Direktur PPKS, Hasril Hasan Siregar mengatakan, salah satu produk hilir dari minyak sawit yang dapat dikembangkan di Indonesia adalah biodiesel yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif, terutama untuk mesin diesel. “Biodiesel ialah bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, tidak beracun dan dibuat dari minyak nabati,” tegas Hasril.

https://m.inilah.com/news/detail/2507487/perjalanan-jakarta-medan-pakai-b50-siapa-takut

 

 

Okezone | Senin, 4 Februari 2019

Uji Coba Biodiesel B50, Kendaraan Sukses Tempuh Medan-Jakarta

Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) melaksanakan ujicoba penggunaan biodiesel 50% (B50) pada dua mobil bermesin diesel menempuh perjalanan dari Kota Medan, Sumatera Utara, Jumat 25 Januari dan tiba di Jakarta, Senin 28 Januari 2019. Setelah menembus jalur lintas timur Sumatera selama tiga hari perjalanan sepanjang 2.300 kilometer, mobil dengan jenis dan merek sama tersebut tiba di ibu kota tanpa hambatan apapun. “Alhamdulillah lancar, mobil tidak mengalami hambatan apapun. Tapi saya tegaskan bahwa ini adalah hasil sementara,” ujar Ketua Tim Road Test Biodiesel B50 PPKS Muhammad Ansori Nasution seperti dikutip Antaranews, Jakarta, Senin (4/2/2019). Menurut doktor dari Tsukuba University Japan ini, penggunaan B50 dan B20 menghasilkan data konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang yang berbeda. Selain itu, hasil dyno test menunjukkan bahwa power mobil yang menggunakan B50, lebih rendah 4% dibanding pada mobil yang menggunakan B20. “Data lebih lengkap akan saya laporkan setelah kedua kendaraan menempuh perjalanan kembali dari Jakarta ke Medan,” kata Peneliti Rekayasa Teknologi & Pengelolaan Lingkungan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) itu.

 

Berdasarkan pengakuan pengemudi, lanjutnya, mobil yang menggunakan B50 lebih responsif. Berdasarkan konsumsi bahan bakar, mobil uji yang menggunakan B50 sedikit lebih boros jika dibandingkan mobil kontrol yang menggunakan B20. Jika mobil kontrol dalam satu liter bahan bakar bisa menempuh perjalanan sejauh 10,86 kilometer, mobil uji hanya 10,61 kilometer. “Namun dari rata-rata emisi gas buang mobil uji lebih ramah lingkungan ketimbang mobil kontrol,” tegas Ansori. Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono mengapreasiasi ujicoba yang dilakukan PPKS ini. Menurutnya, dengan semakin tingginya harga minyak bumi akhir-akhir ini, sudah saatnya Indonesia lebih meningkatkan penggunaan biodiesel khususnya berasal kelapa sawit, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor. “Penggunaan biodiesel untuk kendaraan bermotor di dalam negeri yang berfungsi ganda yaitu diversifikasi produk hilir kelapa sawit dan penyediaan energi ramah lingkungan. Di samping itu sekaligus dapat menghemat devisa impor minyak fosil,” katanya. Sementara itu Direktur PPKS Hasril Hasan Siregar mengatakan bahwa salah satu produk hilir dari minyak sawit yang dapat dikembangkan di Indonesia adalah biodiesel yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif, terutama untuk mesin diesel. “Biodiesel ialah bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, tidak beracun dan dibuat dari minyak nabati,” kata Hasril.

https://economy.okezone.com/read/2019/02/04/320/2013390/uji-coba-biodiesel-b50-kendaraan-sukses-tempuh-medan-jakarta

 

Rakyat Merdeka | Minggu, 3 Februari 2019

Uji Coba Program B50 Berjalan Sukses

PT Pertamina dan Eni terus memperkuat kerja samanya. Kali ini, perusahaan asal Negeri Pizza itu digandeng untuk mengembangkan kilang ramah lingkungan (green refiner)). Kedua belah pihak telah menandatangani tiga kesepakatan di Roma. Italia. Dua diantaranya mengenai pengembangan green refinery melalui Head of Join Venture Agreement untuk green refinery di Indonesia dan term sheet Crude Palm Oil (CPO) processing di Italia. Kesepakatan ini merupakan lanjutan dari nota kesepahaman kerja sama yang telah ditandatangani Pertamina dengan Eni pada September 2018. Serta penandatangan kesepakatan lanjutan pada Desember 2018. Sedangkan satu kesepakatan lainnya terkait Memorandum Of Understanding (MoU) circular economy, low carbon products, dan renewable energy. MoU ini ditandatangani langsung Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dan CEO Eni Claudio Descalzi dengan disaksikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan. Direktur Pengolahan Pertamina Budi Santoso Syarif mengatakan, penandatanganan term sheet CPO processing dan Head of Joint Venture antara Pertamina dan Eni merupakan tonggak penting pengembangan energi masa depan Indonesia yang akan mengurangi penggunaan energi fosil. Kerja sama ini untuk memaksimalkan potensi Sumber Daya Alam (SDA) terbarukan dalam negeri ini.

 

Kerja sama ini juga, kata dia. merupakan wujud keseriusana Pertamina mengurangi impor minyak mentah demi kemandirian energi nasional. “Indonesia memiliki sumber green energy yakni minyak kelapa sawit yang melimpah. Ini bisa menjadi potensi besar bagi Indonesia ke depannya.” ujar Budi dalam keterangannya, kemarin. Pertamina bakal memaksimalkan sumberdaya terbarukan lainnya. Sebut saja pemanfaatan algae untuk memenuhi permintaan energi yang terus meningkat. Baik secara domestik maupun global serta pengendalian emisi CO2. Kesepakatan CPO processing ini mengawali upaya Pertamina memproses CPO di kilang Eni di Italia. Eni sudah sudah berpengalaman sejak 2014 untuk menghasilkan HVO i Hydrotreated Vegetable Oil) yang bisa digunakan sebagai campuran Diesel Fuel. “Pertamina saat ini juga telah berhasil mengolah CPO dengan co-processing di refinery dengan pilot project di Kilang Plaju. Sumatera Selatan yang beroperasi pada Desember 2018. Kilang ini menghasilkan green fuel, green LPG dan green avtur dengan pemanfaatan CPO hingga 7.5 persen.” terang Budi menegaskan. Pertamina perlu menggandeng perusahaan migas dunia yang syarat pengalaman dalam mengembangkan green refinery. Yakni memproses minyak sawit mumi menjadi green diesel maupun green avtur. “Hal inilah yang melandasi kerja sama antara Pertamina dengan Eni.” pungkasnya.

 

Sebelumnya, Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan, pemerintah telah berkomitmen menerapkan bahan bakar ramah lingkungan. “Yang dilakukan, adalah mencampur kelapa saw it. Baik residu atau bagian lain dari kelapa sawit ke minyak diesel. Sehingga minyaknya akan lebih ramah lingkungan.” tuturnya. Pemerintah menugaskan Pertamina untuk melakukan pengolahan bahan bakar ramah lingkungan. Sehingga proses ini akan dilakukan di RU Plaju dan RU Sungai Gerong di Palembang. Bukan cuma itu. Jonan juga mengatakan, akan dibangun kilang untuk mengubah sawit menjadi 100 persen diesel. Ini juga sebagai upaya pemerintah mengurangi gas buang dan polusi. “Ini juga supaya Pertamina berubah. Dari pengolah energi fosil menjadi sebagian pengolah energi yang terbarukan, juga dan kelapa sawit.” cetusnya. Secara ekonomis, kata dia. upaya ini bisa mengurangi impor bahan bakar. Saat ini impor bahan bakar tembus 400 ribu barel per han Sehingga upaya pengolahan minyak sawit menjadi green diesel sangat penting dilakukan.

 

Sindonews | Minggu, 3 Februari 2019

Pusat Penelitian Kelapa Sawit Ujicoba B-50, Tempuh Medan-Jakarta

Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) melaksanakan ujicoba penggunaan biodiesel 50% (B50) pada dua mobil bermesin diesel. Kedua mobil tersebut memulai perjalanan dari Kota Medan, Sumatera Utara, Jumat (25/1) dan tiba di Jakarta, Senin (28/1) lalu. Setelah menerabas jalur lintas timur Sumatera selama tiga hari, mobil dengan jenis dan merek sama tersebut tiba di ibu kota tidak ada hambatan apapun. “Alhamdulillah lancar, mobil tidak mengalami hambatan apapun. Tapi saya tegaskan bahwa ini adalah hasil sementara,” ujar Ketua Tim Road Test Biodiesel B50 PPKS Muhammad Ansori Nasution ketika dihubungi, Minggu (3/2/2019). Menurut doktor dari Tsukuba University Japan ini, penggunaan B50 dan B20 menghasilkan data konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang yang berbeda. Selain itu, hasil dyno test menunjukkan bahwa power mobil yang menggunakan B50, 4% lebih rendah dibanding pada mobil yang menggunakan B20. Data tersebut, kata Ansori, merupakan data sementara berdasar perjalanan sepanjang 2.300 km dari Medan ke Jakarta.  “Data lebih lengkap akan saya laporkan setelah kedua kendaraan menempuh perjalanan kembali dari Jakarta ke Medan,” kata Peneliti Rekayasa Teknologi & Pengelolaan Lingkungan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) ini.

 

Lebih lanjut Ansori menjelaskan Road Test B50 menggunakan dua kendaraan uji merk Toyota Innova diesel keluaran tahun 2018. Mobil kontrol menggunakan bahan bakar diesel komersil yang diperoleh dari SPBU Pertamina, odometer sebelum pengujian menunjukkan angka 3.855 km. Sementara itu, mobil uji menggunakan bahan bakar dengan komposisi bauran biodiesel sejumlah 50% (B50), odometer sebelum pengujian menunjukkan angka 74 km. Sebelum road test dimulai, kedua mobil diperlakukan sama. Untuk menghindari bias terkait dengan gaya mengemudi, dalam ujicoba ini pengemudi pada kendaraan pertama dan kedua saling bertukar posisi kemudi setiap 500 km. “Berdasarkan pengakuan kedua driver, mobil yang menggunakan B50 lebih responsif. Tapi pengakuan ini tidak terukur,” paparnya. Berdasarkan konsumsi bahan bakar, mobil uji yang menggunakan B50 sedikit lebih boros jika dibandingkan mobil kontrol yang menggunakan B20. Jika mobil kontrol dalam satu liter bahan bakar bisa menempuh perjalanan sejauh 10,86 km, mobil uji hanya 10,61 km. “Namun dari rata-rata emisi gas buang mobil uji lebih ramah lingkungan ketimbang mobil kontrol,” tegas Ansori. Direktur PPKS Hasril Hasan Siregar menerangkan, bahwa salah satu produk hilir dari minyak sawit yang dapat dikembangkan di Indonesia adalah biodiesel yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif, terutama untuk mesin diesel. “Biodiesel ialah bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, tidak beracun dan dibuat dari minyak nabati,” tegas Hasril. Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sardjono mengapreasiasi, ujicoba yang dilakukan PPKS ini. Menurutnya, dengan semakin tingginya harga minyak bumi akhir-akhir ini, sudah saatnya apabila Indonesia lebih meningkatkan penggunaan biodiesel khususnya berasal kelapa sawit, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor. “Penggunaan biodiesel untuk kendaraan bermotor di dalam negeri yang berfungsi ganda yaitu diversifikasi produk hilir kelapa sawit dan penyediaan energi ramah lingkungan. Di samping itu sekaligus dapat menghemat devisa impor minyak fosil,” kata Mukti.

https://ekbis.sindonews.com/read/1375823/34/pusat-penelitian-kelapa-sawit-ujicoba-b-50-tempuh-medan-jakarta-1549195743

 

 

Antaranews | Minggu, 3 Februari 2019

Ujicoba biodisel B50, berhasil tempuh perjalanan Medan-Jakarta

Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) melaksanakan ujicoba penggunaan biodiesel 50 persen (B50) pada dua mobil bermesin diesel menempuh  perjalanan dari Kota Medan, Sumatera Utara, Jumat (25/1) dan tiba di Jakarta, Senin (28/1). Setelah menembus jalur lintas timur Sumatera selama tiga hari perjalanan sepanjang 2.300 kilometer, mobil dengan jenis dan merek sama tersebut tiba di ibu kota tanpa hambatan apapun. “Alhamdulillah lancar, mobil tidak mengalami hambatan apapun. Tapi saya tegaskan bahwa ini adalah hasil sementara,” ujar Ketua Tim Road Test Biodiesel B50 PPKS Muhammad Ansori Nasution ketika di Jakarta, Minggu. Menurut doktor dari Tsukuba University Japan ini, penggunaan B50 dan B20 menghasilkan data konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang yang berbeda.  Selain itu, hasil dyno test menunjukkan bahwa power mobil yang menggunakan B50, lebih rendah empat persen dibanding pada mobil yang menggunakan B20. “Data lebih lengkap akan saya laporkan setelah kedua kendaraan menempuh perjalanan kembali dari Jakarta ke Medan,” kata Peneliti Rekayasa Teknologi & Pengelolaan Lingkungan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) itu.

 

Berdasarkan pengakuan pengemudi, lanjutnya, mobil yang menggunakan B50 lebih responsif.  Berdasarkan konsumsi bahan bakar, mobil uji yang menggunakan B50 sedikit lebih boros jika dibandingkan mobil kontrol yang menggunakan B20.  Jika mobil kontrol dalam satu liter bahan bakar bisa menempuh perjalanan sejauh 10,86 kilometer, mobil uji hanya 10,61 kilometer. “Namun dari rata-rata emisi gas buang mobil uji lebih ramah lingkungan ketimbang mobil kontrol,” tegas Ansori. Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sardjono mengapreasiasi ujicoba yang dilakukan PPKS ini. Menurutnya, dengan semakin tingginya harga minyak bumi akhir-akhir ini, sudah saatnya  Indonesia lebih meningkatkan penggunaan biodiesel khususnya berasal kelapa sawit, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor. “Penggunaan biodiesel untuk kendaraan bermotor di dalam negeri yang berfungsi ganda yaitu diversifikasi produk hilir kelapa sawit dan penyediaan energi ramah lingkungan. Di samping itu sekaligus dapat menghemat devisa impor minyak fosil,”  katanya. Sementara itu Direktur PPKS Hasril Hasan Siregar mengatakan bahwa salah satu produk hilir dari minyak sawit yang dapat dikembangkan di Indonesia adalah biodiesel yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif, terutama untuk mesin diesel.  “Biodiesel ialah bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, tidak beracun dan dibuat dari minyak nabati,” tegas Hasril.

https://www.antaranews.com/berita/794526/ujicoba-biodisel-b50-berhasil-tempuh-perjalanan-medan-jakarta

 

 

Sawit Plus | Minggu, 3 Februari 2019

Gapki Puji Uji Coba Mobil Berbahan Bakar Biodiesel B50

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sardjono memberikan apresiasi atas pencapaian ujicoba penggunaan biodiesel 50 persen pada mobil bermesin diesel yang berhasil menempuk jalur lintas Timur, Medan-Jakarta. Dikatakannya, engan semakin tingginya harga minyak bumi akhir-akhir ini, sudah saatnya  Indonesia lebih meningkatkan penggunaan biodiesel khususnya berasal kelapa sawit, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor. “Penggunaan biodiesel untuk kendaraan bermotor di dalam negeri yang berfungsi ganda yaitu diversifikasi produk hilir kelapa sawit dan penyediaan energi ramah lingkungan. Di samping itu sekaligus dapat menghemat devisa impor minyak fosil,”  katanya. Sementara itu Direktur PPKS Hasril Hasan Siregar mengatakan bahwa salah satu produk hilir dari minyak sawit yang dapat dikembangkan di Indonesia adalah biodiesel yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif, terutama untuk mesin diesel. “Biodiesel ialah bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, tidak beracun dan dibuat dari minyak nabati,” tegas Hasril.

https://sawitplus.co/news/detail/8445/gapki-puji-uji-coba-mobil-berbahan-bakar-biodiesel-b50

 

Republika | Minggu, 3 Februari 2019

Ujicoba B-50 Mampu Tempuh Medan-Jakarta

Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) melaksanakan uji coba penggunaan biodiesel 50 persen (B50) pada dua mobil bermesin diesel. Kedua mobil tersebut sukses menempuh perjalanan dari Kota Medan, Sumatera Utara, Jumat (25/1) dan tiba di Jakarta, Senin (28/1) lalu. Setelah menerabas jalur lintas timur Sumatera selama tiga hari, mobil dengan jenis dan merek sama tersebut tiba di ibu kota tanpa hambatan. “Alhamdulillah lancar, mobil tidak mengalami hambatan apapun. Tapi saya tegaskan bahwa ini adalah hasil sementara,” ujar Ketua Tim Road Test Biodiesel B50 PPKS Muhammad Ansori Nasution melalui keterangan tertulis, Ahad (3/2). Menurut lulusan Tsukuba University Japan ini, penggunaan B50 dan B20 menghasilkan data konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang yang berbeda. Selain itu, hasil dyno test menunjukkan bahwa power mobil yang menggunakan B50, empat persen lebih rendah dibanding pada mobil yang menggunakan B20. Data tersebut, kata Ansori, merupakan data sementara berdasar perjalanan sepanjang 2.300 kilometer (km) dari Medan ke Jakarta. “Data lebih lengkap akan saya laporkan setelah kedua kendaraan menempuh perjalanan kembali dari Jakarta ke Medan,” kata Peneliti Rekayasa Teknologi dan Pengelolaan Lingkungan PPKS ini.

 

Ia menjelaskan, Road Test B50 menggunakan dua kendaraan uji merk Toyota Innova diesel keluaran tahun 2018. Mobil kontrol menggunakan bahan bakar diesel komersil yang diperoleh dari SPBU Pertamina, Odometer sebelum pengujian menunjukkan angka 3.855 km. Sementara itu, mobil uji menggunakan bahan bakar dengan komposisi bauran biodiesel sejumlah 50 persen (B50). Odometer sebelum pengujian menunjukkan angka 74 km. Sebelum road test dimulai, kedua mobil diperlakukan sama. Untuk menghindari bias terkait dengan gaya mengemudi, dalam uji coba ini pengemudi pada kendaraan pertama dan kedua saling bertukar posisi kemudi setiap 500 km. “Berdasarkan pengakuan kedua driver, mobil yang menggunakan B50 lebih responsif. Tapi pengakuan ini tidak terukur,” kata Ansori. Sedangkan, berdasarkan konsumsi bahan bakar, mobil uji yang menggunakan B50 sedikit lebih boros jika dibandingkan mobil kontrol yang menggunakan B20. Jika mobil kontrol dalam satu liter bahan bakar bisa menempuh perjalanan sejauh 10,86 km, mobil uji hanya 10,61 km. “Namun dari rata-rata emisi gas buang mobil uji lebih ramah lingkungan ketimbang mobil kontrol,” katanya.Direktur PPKS Hasril Hasan Siregar mengatakan, salah satu produk hilir dari minyak sawit yang dapat dikembangkan di Indonesia adalah biodiesel. Produk ini dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif terutama untuk mesin diesel. “Biodiesel ialah bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, tidak beracun dan dibuat dari minyak nabati,” tegas Hasril.

https://republika.co.id/berita/ekonomi/keuangan/19/02/03/pmcmyy368-ujicoba-b50-mampu-tempuh-medanjakarta

 

 

 

Sawit Indonesia | Minggu, 3 Februari 2019

Tahun 2025, Konsumsi Biodiesel Ditargetkan 235.247 Barel/Hari

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong pemakaian energi hijau ramah lingkungan (green fuel) dari minyak kelapa sawit (crude palm oil/cpo) pada 2019. Sejalan dengan keinginan emerintah menahan laju impor Bahan Bakar Minyak (BBM). Pemerintah pun menargetkan tingkat penggunaan CPO mencapai 13 juta kiloliter atau 235.247 barel per hari (bph) pada tahun 2025. Pada 2018, pemakaian biodiesel mencapai 6 juta kiloliter atau 108.576 bph. Angka ini melebihi dari yang ditargetkan sebesar 5,7 juta KL di tahun 2018. Menteri ESDM Ignasius Jonan sebagai peluang investasi jangka panjang bagi Pertamina lewat pengembangan green refinery dengan skema bisnis. “Untuk kendaraan bermesin diesel kan populasinya 2/3 sehingga kami mendorong Pertamina untuk bekerja sama membuat green diesel [Biosolar dari CPO],” kata Jonan saat menyaksikan penandatanganan kerja sama Pertamina dengan Eni untuk pengolahan CPO serta penandatanganan head of term sheet of joint venture agreement di Roma, Italia, Rabu (30 Januari 2019).

 

Pertamina – Eni, perusahaan migas asal Italia, sendiri telah memperkuat kerjasama di antara kedua belah pihak dengan menandatangani 3 kesepakatan. Dua kesepakatan terkait dengan pengembangan Green Refinery, yaitu Head of Joint Venture Agreement untuk pengembangan Green Refinery di Indonesia serta Term Sheet CPO processing di Italia. Kesepakatan ini merupakan lanjutan dari nota kesepahaman kerja sama yang telah ditandatangani Pertamina dengan Eni pada September dan Desember 2018. Sementara satu kesepakatan lainnya yaitu MoU terkait circular economy, low carbon products dan renewable energy dengan disaksikan oleh Menteri Jonan.Menteri Jonan menuturkan keberadaan kilang green fuel akan mendorong konsumsi CPO di dalam negeri, dengan kalkulasi sebesar 200.000 barel per hari. Dengan begitu, produsen sawit akan mendapatkan kepastian serapan CPO di dalam negeri tanpa harus menggantungkan diri pada ekspor. “Produksi sawit Indonesia sebanyak 46 juta ton, sedangkan minyak diesel kebutuhannya 120.000 ton per hari [800.000 barel per hari] kalau dikalkulasi dalam setahun jumlahnya sekitar 36 juta ton. Dengan begini kan bisa meningkatkan harga sawit di tingkat yang wajar,” tambahnya seperti dilansir dari laman Kementerian ESDM. Untuk memastikan stabilitas harga CPO, Pemerintah masih merumuskan formula harga CPO seperti harga minyak Indonesia (Indonesian crude price/ICP) dalam ekuivalen ukuran yang sama. Selama ini, Pemerintah memberikan subsidi biodiesel agar masuk skala keekonomian. Subsidi untuk biodiesel diambil dari pungutan ekspor CPO yang dikumpulkan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

https://sawitindonesia.com/rubrikasi-majalah/berita-terbaru/tahun-2025-konsumsi-biodiesel-ditargetkan-235-247-barel-hari/

 

Harian Kontan | Sabtu, 2 Februari 2019

MOLI Siap Menyuplai Bioetanol

Produsen etanol PT Madusari Murni Indah Tbk mengintip peluang dari kebijakan pemerintah yang mulai mengurangi penggunaan ba-han bakar minyak (BBM) berbasis energi fosil. Manajemen Madusari mengaku siap jika haras menyuplai banyak kebutuhan bioetanol untuk campuran BBM. Demi mengurangi ketergantungan dengan bahan bakar minyak berbasis energi fosil, pemerintah memang menginginkan agar perlahan BBM fosil dicampur dengan kandungan biofuel seperti bioetanol, biodiesel dan biogas. “Kalau jadi (menggunakan campuran) bioetanol, tentunya kami harus siap,” ungkap Direktur Utama PT Madusari Murni Indah Tbk, Arief Goen-adibrata, kepada KONTAN, Jumat (1/2). Sejatinya, emiten berkode saham MOLI di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini sudah cukup lama menyiapkan campuran biofuel. Manajemen Madusari telah berancang-ancang menambah pabrik bara di Lampung dengan kapasitas produksi sebesar 50 juta liter etanol per tahun. Namun demikian, Arief belum bisa bercerita banyak mengenai progres lini baru tersebut. Sebab, proses pembangunan pabrik tersebut masih dalam tahap desain dan kajian. “Mau duluan mana, memakai (bahan baku) jagung atau molase,” sebut dia.

 

Menanti hasil pemilu

 

Ihwal rencana ekspansi usaha, Madusari juga tidak ingin grasa-grusu. Sebab, pada tahun ini ada momentum pemilihan umum sehingga manajemen cenderung wait and see. Menurut Arief, keputusan pemerintah yang baru dinilai bakal mempengaruhi regulasi yang mengatur penggunaan bioetanol pada bahan bakar minyak. “Kebijakannya bakal seperti apa? Pokoknya jangan sampai salah investasi,” ungkap Arief. Oleh karena itu, manajemen Madusari agaknya masih mencoba fokus dengan kapasitas produksi yang telah ada saat ini, yakni sebesar 80 juta liter etanol per tahun. Selama ini sebagian besar bahan baku etanol produksi Madusari Murni Indah memang berasal dari molase, sehingga pabrik yang sudah ada memiliki banyak tangki dengan daya tampung 240 juta liter molase setiap tahun. Sebagai perbandingan, untuk menghasilkan 1 liter etanol, jumlah molase yang diperlukan bisa mencapai 3,5 kilogram.

 

Bisnis etanol dinilai bakal stabil di sepanjang tahun ini. Misalnya, permintaan terus bertumbuh dan Madusari telah diakui sebagai pemain yang cukup besar. Bahkan tidak hanya menyuplai pasar lokal, menurut manajemen, sebesar 40% dari total penjualan MOLI telah diekspor ke beberapa negara. Menurut Arief, mayoritas permintaan terhadap produk Madusari di Indonesia berasal dari sektor consumer goods. Oleh karena itu, pertumbuhan industri etanol juga bakal dipengaruhi oleh prospek dan pergerakan di sektor consumer goods. Selain itu, MOLI merasa percaya diri menjalani bisnisnya lantaran setiap tahun selalu mendapatkan kontrak pembelian sehingga telah memastikan penyerapan produksi pabrik etanol mereka. Biasanya setiap tahun harga produk Madusari juga disesuaikan kembali. Alhasil, kebijakan tersebut meminimalkan beban penjualan Madusari Murni Indah. Ke depan, manajemen MOLI berencana menggandeng mitra, yakni pabrik-pabrik kecil di luar Grup Madusari. Selama ini beberapa industri kecil memang masih kesulitan mencari pelanggan. Apalagi, sejumlah pabrikan sempat tiarap akibat wacana penggunaan bahan bakar etanol (bioetanol) tak kunjung direalisasikan. MOLI juga optimistis kinerja keuangan pada tahun lalu tercatat positif. Awalnya menajemen menargetkan pendapatan sepanjang 2018 naik sekitar 3% menjadi Rp 1,16 triliun dari pendapatan tahun sebelumnya Rp 1,13 triliun. Menurut Arief, pendapatan di sepanjang tahun lalu sudah sesuai harapan, bahkan laba bersih kemungkinan lebih tinggi daripada pertumbuhan pendapatan.

 

Kontan | Sabtu, 2 Februari 2019

Madusari Murni (MOLI) siap menyuplai bioetanol

Produsen etanol PT Madusari Murni Indah Tbk mengintip peluang dari kebijakan pemerintah yang mulai mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) berbasis energi fosil. Manajemen Madusari mengaku siap jika harus menyuplai banyak kebutuhan bioetanol untuk campuran BBM. Demi mengurangi ketergantungan dengan bahan bakar minyak berbasis energi fosil, pemerintah memang menginginkan agar perlahan BBM fosil dicampur dengan kandungan biofuel seperti bioetanol, biodiesel dan biogas. “Kalau jadi (menggunakan campuran) bioetanol, tentunya kami harus siap,” ungkap Direktur Utama PT Madusari Murni Indah Tbk, Arief Goenadibrata, kepada Kontan.co.id, Jumat (1/2). Sejatinya, emiten berkode saham MOLI di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini sudah cukup lama menyiapkan campuran biofuel. Manajemen Madusari telah berancang-ancang menambah pabrik baru di Lampung dengan kapasitas produksi sebesar 50 juta liter etanol per tahun. Namun demikian, Arief belum bisa bercerita banyak mengenai progres lini baru tersebut. Sebab, proses pembangunan pabrik tersebut masih dalam tahap desain dan kajian. “Mau duluan mana, memakai (bahan baku) jagung atau molase,” sebut dia.

 

Menanti hasil pemilu

 

Ihwal rencana ekspansi usaha, Madusari juga tidak ingin grasa-grusu. Sebab, pada tahun ini ada momentum pemilihan umum sehingga manajemen cenderung wait and see. Menurut Arief, keputusan pemerintah yang baru dinilai bakal mempengaruhi regulasi yang mengatur penggunaan bioetanol pada bahan bakar minyak. “Kebijakannya bakal seperti apa? Pokoknya jangan sampai salah investasi,” ungkap Arief.  Oleh karena itu, manajemen Madusari agaknya masih mencoba fokus dengan kapasitas produksi yang telah ada saat ini, yakni sebesar 80 juta liter etanol per tahun. Selama ini sebagian besar bahan baku etanol produksi Madusari Murni Indah memang berasal dari molase, sehingga pabrik yang sudah ada memiliki banyak tangki dengan daya tampung 240 juta liter molase setiap tahun. Sebagai perbandingan, untuk menghasilkan 1 liter etanol, jumlah molase yang diperlukan bisa mencapai 3,5 kilogram. Bisnis etanol dinilai bakal stabil di sepanjang tahun ini. Misalnya, permintaan terus bertumbuh dan Madusari telah diakui sebagai pemain yang cukup besar. Bahkan tidak hanya menyuplai pasar lokal, menurut manajemen, sebesar 40% dari total penjualan MOLI telah diekspor ke beberapa negara.

 

Menurut Arief, mayoritas permintaan terhadap produk Madusari di Indonesia berasal dari sektor consumer goods. Oleh karena itu, pertumbuhan industri etanol juga bakal dipengaruhi oleh prospek dan pergerakan di sektor consumer goods. Selain itu, MOLI merasa percaya diri menjalani bisnisnya lantaran setiap tahun selalu mendapatkan kontrak pembelian sehingga telah memastikan penyerapan produksi pabrik etanol mereka. Biasanya setiap tahun harga produk Madusari juga disesuaikan kembali. Alhasil, kebijakan tersebut meminimalkan beban penjualan Madusari Murni Indah. Ke depan, manajemen MOLI berencana menggandeng mitra, yakni pabrik-pabrik kecil di luar Grup Madusari. Selama ini beberapa industri kecil memang masih kesulitan mencari pelanggan. Apalagi, sejumlah pabrikan sempat tiarap akibat wacana penggunaan bahan bakar etanol (bioetanol) tak kunjung direalisasikan. MOLI juga optimistis kinerja keuangan pada tahun lalu tercatat positif. Awalnya menajemen menargetkan pendapatan sepanjang 2018 naik sekitar 3% menjadi Rp 1,16 triliun dari pendapatan tahun sebelumnya Rp 1,13 triliun. Menurut Arief, pendapatan di sepanjang tahun lalu sudah sesuai harapan, bahkan laba bersih kemungkinan lebih tinggi daripada pertumbuhan pendapatan.

https://industri.kontan.co.id/news/madusari-murni-moli-siap-menyuplai-bioetanol

 

Investor Daily Indonesia | Sabtu, 2 Februari 2019

Pemerintah Genjot Energi Hijau dari Sawit

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai menggenjot penggunaan bahan bakar minyak (BBM) hijau ramah lingkungan (green fuel) dari minyak sawit (crude paint oil/CPO) pada tahun ini. Hal ini sebagai tindak lanjut dari fokus Pemerintah dalam menahan laju tingginya konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM). Pemerintah selama ini telah menerapkan mandatori pencampuran biodiesel 20% (B20). Pada tahun lalu, produksi biodiesel sudah mencapai 6 juta kiloliter (KL) atau 108.576 barel per hari (bph), melampaui target 5,7 juta KL. Pemerintah sendiri menargetkan penggunaan CPO bisa mencapai 13 juta KL atau 235.247 bph pada 2025. Tren positif ini dinilai oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan sebagai peluang investasi jangka panjang bagi PT Pertamina (Persero) lewat pengembangan kilang hijau (green refinery) dengan skema bisnis. Utamanya, kilang tersebut dapat menghasilkan green diesel atau biosolar yang dihasilkan dari pengolahan CPO.

“Kalau mobil bermesin bensin, kalau mau digabung etanol kan ketersediaannya sangat minim. Kalau untuk kendaraan bermesin diesel kan populasinya 2/3 sehingga kami mendorong Pertamina untuk bekerja sama membuat green diesel,” kata Jonan dia dalam keterangan resminya, Jumat (1/2). Pertamina telah menandatangani dua kesepakatan terkait pengembangan green refinery dengan perusahaan energi Italia, Eni. Salah satunya yakni pokok-pokok kesepakatan pembentukan perusahaan patungan (Head of Joint Venture Agreement). Sementara kesepakatan lainnya yakni prasyarat (term sheet) pengolahan CPO di Italia. Dua kesepakatan itu diteken pada Rabu (30/1) lalu di Roma, Italia. Kesepakatan ini merupakan lanjutan dari nota kesepahaman kerja sama yang telah ditandatangani Pertamina dengan Eni pada September 2018 serta penandatangan kesepakatan lanjutan pada Desember 2018. Pada saat yang sama, kedua perusahaan juga meneken nota kesepahaman terkait circular economy, low carbon products, dan renewable energy. Di samping untuk menekan impor minyak, imbuh Jonan, keberadaan kilang green fuel akan mendorong konsumsi CPO di dalam negeri sekitar 200 ribu bph. Dengan begitu, produsen sawit akan mendapatkan kepastian serapan CPO di dalam negeri tanpa harus menggantungkan diri pada ekspor. “Produksi sawit Indonesia sebanyak 46 juta ton, sedangkan minyak diesel kebutuhannya 120 ribu ton per hari [800 ribu bph] kalau dikalkulasi dalam setahun jumlahnya sekitar 36 juta ton. Dengan begini kan bisa meningkatkan harga sawit di tingkat yang wajar,” tambahnya. Untuk memastikan stabilitas harga CPO, pemerintah masih merumuskan formula harga CPO seperti harga minyak Indonesia (Indonesian crude price/lCP) dalam ekuivalen ukuran yang sama. Selama ini, pemerintah memberikan subsidi biodiesel agar masuk skala keekonomian. Subsidi untuk biodiesel diambil dari pungutan ekspor CPO yang dikumpulkan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

 

Investor Daily Indonesia | Sabtu, 2 Februari 2019

Pemerintah Genjot Energi Hijau dari Sawit

Asian Agri akan mengoperasikan tiga unit pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg) tahun ini. PLTBg tersebut memanfaatkan bahan baku POME (cairan sisa pengolahan kelapa sawit) sebagai bahan bakar. Investasi satu pembangkit dengan satu mesin berkisar US$ 5-6 juta dan setiap mesin rata-rata mampu menghasilkan listrik sebesar 1 megawatt (MW). Direktur Sustainability dan Stakeholder Relations Asian Agri Bernard A Riedo mengatakan, ketiga PLTBg itu menambah tujuh unit pembangkit biogas Asian Agri yang sebelumnya telah beroperasi. Pembangkit-pem-bangkit itu tersebar di wilayah operasi Asian Agri, yakni Jambi, Riau, dan Sumatera Utara. “Kami bakal punya 10 pembangkit biogas dan sejumlah pembangkit memiliki dua mesin. Tujuh sudah beroperasi, tiga lagi tahun ini, semuanya di Sumatera Utara. Pembangkit biogas ini menghasilkan listrik dari pengolahan limbah operasi kami,” kata dia di Jakarta, Kamis (31/1).

 

Bernard menjelaskan, listrik dari PLTBg tersebut juga dimanfaatkan Asian Agri untuk menopang kegiatan operasi perusahaan dan sisanya dijual ke PLN. Asian Agri menerapkan praktik keberlanjutan di area operasional dan mengimbau petani mitra mengimplementasikan praktik yang sama di lahan perkebunan mereka. Untuk itu, Asian Agri memberikan pelatihan praktik pengelolaan terbaik. “Program manajemen limbah merupakan program utama di Asian Agri. Perusahaan telah membangun 10 PLTBg di Sumatera Utara, Riau, dan Jambi, guna mengurangi gas emisi dan mengubah limbah kelapa sawit (POME) menjadi energi terbarukan. Hasilnya dapat digunakan untuk operasional pabrik dan membantu kebutuhan listrik masyarakat sekitar,” kata Bernard. Sementara itu, lanjut dia, komitmen Asian Agri selalu bertanggung jawab menjalankan ketertelusuran rantai pasok dan keberlanjutan produksi kelapa sawit mendapat respon positif. Terbukti, Asian Agri mendapat anugerah CDP Best First Time Performance Award 2018. “Asian Agri berhasil terpilih sebagai perusahaan terbaik se-Hong Kong dan Asia Tenggara dari total 173 perusahaan yang telah menyelesaikan daftar pertanyaan dari CDP untuk pertama kalinya. CDP adalah Carbon Disclosure Project, organisasi nirlaba independen yang menjalankan sistem pengungkapan global yang memungkinkan perusahaan, kota, negara bagian, dan wilayah untuk mengukur dan mengelola dampak terhadap lingkungan,” kata Bernard.

 

Dalam keterangan tertulis Asian Agri di Jakarta, Jumat (1/2), disebutkan, CDP telah bekerja sama dengan lebih dari 7.000 perusahaan di seluruh dunia guna mengukur, mengungkap, mengelola dan membagi strategi penanganan iklim, emisi gas rumah kaca, informasi seputar pemanfaatan energi dan air. “Program ini pertama kali dilakukan oleh Asian Agri. Kami sangat bangga mendapatkan penghargaan Best First Time Performance. Sebagai peserta baru, pencapaian ini merefleksikan keseriusan komitmen perusahaan kami mengimplementasikan praktik keberlanjutan. Karena perusahaan memiliki hubungan yang sangat dekat dengan lingkungan. Karena, keberlanjutan merupakan hal penting dalam bisnis dan menjadi nadi dari operasional kami,” kata Bernard. Dalam kesempatan itu, Bernard menambahkan, produksi CPO Asian Agri pada 2018 mengalami peningkatan atau terjadi sedikit kenaikan menjadi sekitar 1,16 juta ton. Produksi tersebut dihasilkan dari tandan buah segar (TBS) yang berasal dari 100 ribu hektare (ha) lahan kebun inti Asian Agri ditambah pasokan buah dari 60 ribu ha kebun plasma, 41 ribu ha kebun petani swadaya mitra, serta TBS dari luar (nonmitra). “Semua TBS yang masuk ke kami 100% bisa ditelusuri sampai ke kebun. Kami tahu lokasi kebun itu di mana, jika ada indikasi pasokan TBS yang masuk dari suatu lokasi melebihi dari potensi seharusnya maka kami langsung hentikan pembelian. Karena itu mengindikasikan adanya pasokan buah dari tempat lain,” kata Bernard. Untuk 2019, kata Bernard A Riedo, produksi Asian Agri tidak akan melonjak signifikan. Selain luas lahan dan areal mitra yang belum akan bertambah, hal itu juga dikarenakan pertumbuhan akan sesuai dengan tren industri sawit itu sendiri. “Yang menjadi fokus kami adalah peningkatan produktivitas tapi tetap menjaga kualitas serta dengan biaya yang bisa ditekan serendah mungkin. Kamijuga akan terus mempertahankan status 100% traceabilityTBS hingga ke kebun yang telah tercapai sejak September 2017,” kata Bernard.

 

Bisnis Indonesia | Sabtu, 2 Februari 2019

Pemerintah Genjot Energi Hijau dari Sawit

Pada tahun ini, pemerintah membuat terobosan di sektor energi dengan mendorong kembali pemanfaatan green fuel atau energi hijau ramah lingkungan. Kali ini, minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) menjadi pilihan pemerintah untuk mengerem laju peningkatan konsumsi bahan bakar minyak. Pertumbuhan konsumsi BBM dari tahun ke tahun memang tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan masyarakat antara lain untuk transportasi, industri, dan aktivitas rumah tangga. Tingginya konsumsi diyakini dapat mendongkrak volume impor. Program diversifikasi energi menjadi pilihan yang tepat untuk menekan ketergantungan impor tersebut. Selain itu, pengurangan penggunaan bahan bakar fosil turut memberikan dampak positif terhadap lingkungan hidup. Jika penerapannya konsisten maka tidak akan lagi muncul kasus kebocoran kapal tanker yang tumpahan minyak mentahnya mencemari lautan. Penerapan energi hijau ini dapat dipastikan turut mempercepat capaian target bauran energi terbarukan di Tanah Air sebesar 23% pada 2025. Saat ini, pemerintah menerapkan mandatori biodiesel 20% (B20), dan 80% Solar. Biodiesel ini dicampur dengan Solar di terminal bahan bakar minyak, bukan di kilang minyak.

 

Terkait dengan rencana pemerintah untuk mengembangkan energi hijau berbahan minyak sawit mentah ini, Pertamina dan perusahaan minyak asal Italia, Eni S.p.A bam saja menandatangani kerja sama untuk membangun kilang minyak yang dapat mengolah biodiesel dan biofuel. Rencananya, kilang milik Pertamina yakni Kilang Dumai Riau, dan Kilang Plaju Palembang, akan digunakan sebagai pengolahan biodiesel dan biofuel dalam 3 tahun ke depan. Kedua kilang ini disiapkan untuk memproduksi gasolin berupa Premium, Pertalite, Pertamax, dan avtur. Guna melancarkan hal tersebut, pemerintah juga menetapkan target penggunaan CPO mencapai 13 juta kiloliter atau 235.247 barel per hari (bph) pada 2025. Apalagi selama setahun terakhir, realisasi produksi biodiesel mencapai 6 juta kiloliter atau 108.576 bph. Angka ini melebihi dari yang ditargetkan sebesar 5,7 juta kiloliter pada 2018. Tren positif ini dinilai oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan sebagai peluang investasi jangka panjang bagi Pertamina lewat pengembangan green refinery.

 

Penggunaan energi hijau yang berasal dari CPO itu membuat Indonesia tidak perlu impor solar karena akan digantikan dengan green diesel. Kalau dapat diserap dengan volume yang lebih besar maka crude yang biasanya diolah dapat diganti CPO. Green diesel lebih berkualitas dibandingkan dengan biodiesel karena kadar sulfur lebih rendah. Selain itu, green diesel tidak seperti bahan bakar nabati dalam bentuk fatty acid methyl ethyl (FAME) yang menyebabkan degradasi logam atau korosi. Di tengah tekanan yang sangat hebat dari negara-negara pembeli utama CPO Indonesia, keberadaan kilang green fuel tak ubahnya oase di tengah padang pasir. Dapat dipastikan ke depannya komoditas ini akan lebih banyak terserap ke dalam negeri. Diperkirakan konsumsi CPO dalam negeri mencapai 200.000 barel per hari. Saat ini, produksi sawit Indonesia mencapai 46 juta ton, sedangkan kebutuhan minyak diesel sebesar 120.000 ton per hari, atau sekitar 800.000 barel. Kebutuhan nasional selama setahun mencapai 36 juta ton.

 

Di balik komitmen besar pemerintah untuk menetapkan kebijakan energi hijau di Indonesia, masih terselip pekerjaan rumah yang tidak sederhana. Minimal dua hal yang patut untuk mendapatkan perhatian. Pertama, stabilitas harga CPO yang ditetapkan melalui kebijakan. Kedua, pasokan jangka panjang. Mengapa kedua hal ini menjadi penting? Masih segar dalam ingatan, pada periode 2005-2006, pemerintah mencanangkan pengembangan tanaman jarak pagar (jatropha curtas)untuk mendukung program clean energy {biofuel). Pada periode itu, prospek budidaya jarak pagar menjadi moncer karena dianggap sebagai tanaman penghasil biodiesel yang akan menjadi solusi bagi kelangkaan BBM. Hingga muncul kebijakan untuk mengembangkan jarak pagar secara nasional dengan dana dukungan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Isi dari kebijakan itu meliputi pengembangan areal budidaya jarak pagar, pemberdayaan masyarakat pekebun jarak pagar, pengembangan industri pengolahan biji jarak pagar. Tanaman jarak pagar ini berhasil berkembang luas di beberapa daerah. Sayangnya, ketika petani akan memasarkan hasilnya, ternyata tidak ada pasar yang dapat menyerap seperti yang dijanjikan pada awal sosialisasi. Harga beli menjadi kendala utama dan tidak terselesaikan sehingga pada akhirnya para pekebun jarak pagar mulai berpindah menanam komoditas lain. Jadi, agar kasus pilu itu tidak lagi terulang maka diperlukan kebijakan yang tepat dan cermat.

 

Harian Seputar Indonesia | Sabtu, 2 Februari 2019

Terobosan Pengembangan Green Refinery

Meningkatnya impor migas, yang memberi kontribusi pada membengkaknya defisit neraca perdagangan migas, mendorong Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk melakukan berbagai upaya terobosan dalam pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) secara berkelanjutan. Tujuan upaya terobosan itu selain untuk menghasilkan EBT yang ramah lingkungan, juga untuk mengurangi impor energi fosil yang tidak ramah lingkungan. Kendati pengembangan EBT di Tanah Air cukup menggembirakan, secara nasional capaian EBT masih relatif rendah dalam bauran energi di Indonesia. Hinggaakhir2018,bauran energi pembangkit listrik masih didominasi oleh batu bara sebesar 5 7,22%, disusul gas 24,82%, BBM 5,81%, sedangkan porsi EBT mencapai sebesar 12,15%, sekitar 50% dari target ditetapkan dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

 

Demikian juga dengan konsumsi BBM fosil yang cenderung meningkat setiap tahunnya, sehingga impor BBM menjadi penyumbang terbesar defisit neraca migas. Pada 2018, defisit neraca migas naik 44% dibandingkan tahun sebelumnya. Sepanjang 2018, defisit neraca migas mencapai USD12.4 miliar, bandingkan pada 2017 hanya mencapai USD8.57 miliar. Penyumbang terbesar defisit, neraca migas adalah impor BBM, yang mencapai USD17.58 pada 2018, sedangkan impor mipyak mentah mencapai USD9.1 miliar pada tahun yang sama. Untuk menurunkan impor BBM itu, Kementerian ESDM melakukan berbagai upaya terobosan, termasuk mengembangkan EBT sebagai substitusi energi fosil. Setelah meluncurkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap (rooftop) dan Biofuel 20% (B20),Menteri ESDM Ignasius Jonan mendorong Pertamina untuk melakukan terobosan dalam pengembangan EBT, dengan mengembangkan kilang bahan bakar yang lebih ramah lingkungan (green refinery). Green refinery merupakan kilang yang mengolah crude palm oil 100% (CPO 100%) menjadi green diesel dan green avtur. Selain energi bersih yang ramah lingkungan, produks igreen diesel dan green avtur berpotensi menurunkan impor BBM berbahan baku fosil, yang tidak ramah lingkungan.

 

Untuk merealisasikan terobosan itu, Pertamina menjalin kerja sama dengan perusahaan raksasa migas Italia, Eni SPA. Dengan disaksikan oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan, Direktur Pertamina telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan Eni SPA untuk mengembangkang reer! refinery di Indonesia, CPO processing di Italia, dan circular economy, low carbon products dan renewable energy. Kerja sama ini akan dapat mengoptimalkan potensi sawit yang berlimpah di Indonesia, tidak hanya diolah di green refinery Indonesia, tetapijuga diolah di Italia. Pemanfaatan CPO dalam jumlah besar tentunya akan mengerek harga CPO yang saat ini lagi terpuruk. Sepanjang 2018, rata-rata harga CPO hanya mencapai di bawah USD500 per metrik ton, sehingga menurunkan nilai ekspor CPO pada 2018 mencapai USD17.89 miliar turun 12,02% dibandingkan pada 2017 yang mencapai USD20,34 miliar. Dari total nilai ekspor CPO itu, hanya 1% digunakan sebagai bahan baku biodiesel. Dengan beroperasinya green refinery di Indonesia dan di Italia, permintaan CPO untuk olahan biodiesel akan meningkat sehingga dapat menaikkan harga CPO. Namun, kenaikan harga CPO berkelanjutan berpotensi harga keekonomian green diesel dan green avtur menjadi lebih mahal, bahkan tidak menutup kemungkinan harga jualnya akan lebih mahal ketimbang harga jual BBM fosil. Oleh karena itu, sejak dini perlu diantisipasi kemungkinan meroketnya harga CPO dunia dengan menetapkan Domesti Maret Obligation (DMO), baik DM0 Produksi CPO maupun DMO harga CPO yang digunakan green refinery Pertamina.

 

Kebijakan DMO merupakan intervensi pasar oleh pemerintah untuk menetapkan persentase tertentu dari total produksi (DMO produksi) dan penetapan harga (DMO harga) yang dibutuhkan green refinery Pertamina. Untuk memberikan jaminan pasokan CPO dibutuhkan green refinery Pertamina, pemerintah bisa menetapkan DMO produksi sebesar persentase tertentu dari total produksi CPO di dalam negeri. Misalnya, pemerintah menetapkan DMO produksi sebesar 25% dari total produksi CPO, pengusaha CPO wajib menjual 25% dari total produksi CPO kepada Pertamina, sisanya 75% dijual secara bebas di pasar, termasuk diekspor. Sementara untuk menjamin harga jual CPO ke green refinery Pertamina tidak terlalu mahal dan memastikan pengusaha CPO tidak menanggung rugi, pemerintah bisa menetapkan DMO Harga CPO, dengan mematok harga batas atas dan batas bawah, misalnya pemerintah menetapkan batas atas harga CPO sebesar USD750 per metrik ton. Pada saat harga pasar CPO di atas USD750 per metrik ton, taruhlah harga CPO menembus USD900 per metrik ton, maka green refinery Pertaminamembelidaripeng-usaha CPO dengan harga USD750 per metrik ton. Sebaliknya, jika harga dunia CPO terpuruk dibawah USD 530 per metrik ton, taruhlah harganya USD400 per metrik ton, di bawah harga pokok produksi, maka green refinery Pertamina membeli dari pengusaha CPO seharga USD530 per metrikton.

 

Penetapan batas atas dan batas bawahDMO Harga CPO sesuai dengan prinsip share gain, share pain. Pada saat harga duniaCPOmelonjak tinggi, pengusaha CPO sharing margin, sebaliknya jika harga terpuruk maka green refinery Pertamina ikut menanggung /ost pengusaha CPO. Prinsips Jiaregair?, sharepain sesungguhnya sesuai dengan semangat gotong royong, “ringan sama dijinjing, berat sama-sama dipikul”. Tanpa penetapan DMO produksi, tidak akan ada kepastian bahwa green refinery Pertamina akan dapat pasokan CPO secara berkelanjutan. Sementara tanpa DMO harga, pada saat harga CPO melambung maka ada kemungkinan harga keekonomiangreen diesel dan green avtur bisa lebih mahal ketimbang harga BBM fosil. Ujung-ujungnya, impor BBM fosil akan kembali meningkat saat harga green diesel dan green avtur lebih mahal daripada harga BBM fosil. Kalau impor BBM fosil kembali meningkat, upaya terobosan pengembangan EBT melalui green refinery tidak akan memberikan nilai tambah secara optimal.

 

Id.beritasatu | Sabtu, 2 Februari 2019

Pemerintah Genjot Energi Hijau dari Sawit

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai menggenjot penggunaan bahan bakar minyak (BBM) hijau ramah lingkungan (green fuel) dari minyak sawit (crude palm oil/CPO) pada tahun ini. Hal ini sebagai tindak lanjut dari fokus Pemerintah dalam menahan laju tingginya konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM). Pemerintah selama ini telah menerapkan mandatori pencampuran biodiesel 20% (B20). Pada tahun lalu, produksi biodiesel sudah mencapai 6 juta kiloliter (KL) atau 108.576 barel per hari (bph), melampaui target 5,7 juta KL. Pemerintah sendiri menargetkan penggunaan CPO bisa mencapai 13 juta KL atau 235.247 bph pada 2025. Tren positif ini dinilai oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan sebagai peluang investasi jangka panjang bagi PT Pertamina (Persero) lewat pengembangan kilang hijau (green refinery) dengan skema bisnis. Utamanya, kilang tersebut dapat menghasilkan green diesel atau biosolar yang dihasilkan dari pengolahan CPO. “Kalau mobil bermesin bensin, kalau mau digabung etanol kan ketersediaannya sangat minim. Kalau untuk kendaraan bermesin diesel kan populasinya 2/3 sehingga kami mendorong Pertamina untuk bekerja sama membuat green diesel,” kata Jonan dia dalam keterangan resminya, Jumat (1/2).

 

Pertamina telah menandatangani dua kesepakatan terkait pengembangan green refinery dengan perusahaan energi Italia, Eni. Salah satunya yakni pokok-pokok kesepakatan pembentukan perusahaan patungan (Head of Joint Venture Agreement). Sementara kesepakatan lainnya yakni prasyarat (term sheet) pengolahan CPO di Italia. Dua kesepakatan itu diteken pada Rabu (30/1) lalu di Roma, Italia. Kesepakatan ini merupakan lanjutan dari nota kesepahaman kerja sama yang telah ditandatangani Pertamina dengan Eni pada September 2018 serta penandatangan kesepakatan lanjutan pada Desember 2018. Pada saat yang sama, kedua perusahaan juga meneken nota kesepahaman terkait circular economy, low carbon products, dan renewable energy. Di samping untuk menekan impor minyak, imbuh Jonan, keberadaan kilang green fuel akan mendorong konsumsi CPO di dalam negeri sekitar 200 ribu bph. Dengan begitu, produsen sawit akan mendapatkan kepastian serapan CPO di dalam negeri tanpa harus menggantungkan diri pada ekspor. “Produksi sawit Indonesia sebanyak 46 juta ton, sedangkan minyak diesel kebutuhannya 120 ribu ton per hari [800 ribu bph] kalau dikalkulasi dalam setahun jumlahnya sekitar 36 juta ton. Dengan begini kan bisa meningkatkan harga sawit di tingkat yang wajar,” tambahnya. Untuk memastikan stabilitas harga CPO, pemerintah masih merumuskan formula harga CPO seperti harga minyak Indonesia (Indonesian crude price/ICP) dalam ekuivalen ukuran yang sama. Selama ini, pemerintah memberikan subsidi biodiesel agar masuk skala keekonomian. Subsidi untuk biodiesel diambil dari pungutan ekspor CPO yang dikumpulkan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

https://id.beritasatu.com/home/pemerintah-genjot-energi-hijau-dari-sawit/185064