+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Ujicoba Mandatory Biodiesel-20 Terus Dikebut:

• Ujicoba Mandatory Biodiesel-20 Terus Dikebut: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan kembali melakukan ujicoba mandatory penggunaan Biodiesel-20 (B-20) pada kereta api dan studi awal penggunaan Biodiesel-30 (B-30) untuk transportasi darat selain kereta api. Rencana yang akan berlangsung tahun depan tersebut merupakan kelanjutan ujicoba yang sudah dilakukan tahun ini. Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menjelaskan, kini kajian B-30 akan memasuki uji awal di lapangan. Kajian tersebut sudah selesai, tapi masih harus melalui tes lapangan. “Sekarang sedang persiapan di lapangan, akan dicoba pada transportasi darat selain kereta api,” ujar dia, dalam rilis, Minggu (16/12). Di samping itu, uji coba terus dilakukan agar ke depan penerapan B-30 pada transportasi darat tidak menemui kendala. Arcandra juga menyatakan, implementasi B-30 menunggu rampungnya kendala di B-20. “Kita masih akan menguji B-20 untuk kereta api, akan dibuktikan apakah B-20 comply dengan sistem kereta api sekarang,” jelasnya (KONTAN)

• Program Biodiesel Dilanjutkan (Kesenjangan Harga Bahan Bakar Perlu Dikurangi): Pemerintah berencana meneruskan pemanfaatan biodiesel untuk transportasi darat setelah dilakukan evaluasi. Penambahan biodiesel dilakukan dengan tingkat pencampuran 20 sampai 30 persen pada setiap liter solar. Staf Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam Dadan Kusdiana mengatakan, uji coba penambahan bio-die.sel ini akan diterapkan untuk kendaraan roda empat dan kereta api. Uji coba akan dilakukan pada Januari hingga Maret 2018. Biodiesel dengan tingkat pencampuran 20 persen (B20) akan diterapkan untuk kereta api, sedangkan tingkat pencampuran 30 persen (B30) diterapkan pada kendaraan roda empat “Dari hasil kajian sementara, biodiesel pada kereta api kurang cocok dipakai Saat ini sedang disiapkan uji coba kembali untuk kereta api jalur Jakarta-Bandung untuk memastikan hasil kajian benar-benar tepat pemakaiannya,” kata Dadan saat dihubungi, Minggu (17/12), di Jakarta. (KOMPAS)

• Ekspor Minyak Sawit Tembus 26,73 Juta Ton (JANUARI-OKTOBER 2017): Ekspor minyak sawit nasional sepanjang Januari-Oktober 2017 telah mencapai 26,73 juta ton, melampaui realisasi sepanjang tahun lalu yang sebesar 26,57 juta ton. Ekspor tertinggi terjadi pada Agustus sebesar 3,04 juta ton dan terendah pada Juni 2,24 juta ton. Ekspor tersebut terdiri atas minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), minyak laurik (lauricoil), oleokimia, dan biodiesel. Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Togar Si-tanggang mengatakan, pada Oktober, total volume ekspor minyak sawit Indonesia (tidak termasuk biodiesel dan oleokimia) hanya mampu mencapai 2,60 juta ton atau turun sekitar v 5,60% dari bulan sebelumnya. ‘Tapi untuk keseluruhan minyak sawit, ekspor nasional sepanjang Januari-Oktober 2017 mencapai 26,73 juta ton. Padahal, sepanjang 2016, total realisasi ekspor minyak sawit hanya 26,57 juta ton,” kata dia di Jakarta, kemarin. (INVESTOR DAILY INDONESIA)

• Commitment, transparency key for ISPO (CANBERRA): The palm oil sector is again in the spotlight. The Indonesian government aims to strengthen the regulation of palm oil in the country by reconstructing the Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). This move started in 2016 and is expected to be completed by the end of 2017. Although the ISPO is a national mandatory certification that was introduced in 2011. it has made little progress in improving sustainable practices in the palm oil sector in Indonesia. As of 2016, only about 10 percent of over 2,000 palm oil companies in the country were certified. Moreover, within a three-month period in 2015 (July to October), Indonesia lost over 2 million hectares of forest and peatland due to land burning in cases suspected to have involved companies. Increasing awareness on the industrys contribution to the national economy and growing criticism of its sustainability have pushed the government to rework the ISPO. In 2015, palm oil contributed US$12.3 billion to national export revenues, the second largest contributor after coal briquettes. It brought higher revenues than oil and gas exports. However, global criticisms, particularly from European Union countries, are seen as threatening its economic potential. In April 2017, Members of the European Parliament (MEPs) voted to ban palm oil-based bio-fuel imports to the EU. A study funded by the European Commission on Oct. 4, 2016, reveals that the EU 2020 biofuel mandate put 2.1 million hectares of land in Southeast Asia under pressure from oil palm plantation expansion, half of which is established at the expense of forests and peatland. Therefore, the resolution specifically mentioned that the ISPO and the Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) failed to address the unsustainability of the sector. Currently, the EU market for Indonesias palm oil accounts for 15 percent of Indonesias total palm oil exports and is expected to grow with the EU biofuel mandate. (THE JAKARTA POST)

• Ekspor Minyak Sawit Sedikit Lesu : Penurunan ekspor minyak sawit Indonesia terjadi akibat berkurangnya permintaan dari Pakistan dan India. VOLUME ekspor minyak kelapa sawit {crude plam oif/CPO) Indonesia pada Oktober 2017 tercatat mengalami penurunan menjadi 2,6 juta ton atau merosot 5% dari September yang mencapai 2,76 juta ton. Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Togar Sitanggang mengungkapkan penurunan ekspor terjadi akibat berkurangnya permintaan yang cukup signifikan dari Pakistan dan India. Pada Oktober, Pakistan hanya membukukan permintaan CPO sebesar 144,26 ribu ton, turun 32% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 211,52 ribu ton. Togar menjelaskan menurunnya volume ekspor berimbas pada persediaan di dalam negeri yang akhirnya mengalami kenaikan. Sampai akhir Oktober, stok minyak sawit tercatat meningkat 16% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yakni dari 2,92 juta ton menjadi 3,38 juta ton. “Di samping ada kelesuan ekspor, produksi sawit di dalam negeri juga meningkat. Oktober ini produksi minyak sawit Indonesia (CPO dan PKO) meningkat 3% ketimbang September lalu, atau dari 4,03 juta ton meningkat menjadi 4,16 juta ton,” terang Togar. Dari sisi harga, sepanjang Oktober harga minyak sawit global bergerak pada kisaran US$700-US$735 per metrik ton dengan harga rata-rata US$719,4 per metrik ton. Harga rata-rata itu turun tipis ketimbang rata-rata September yakni US$724,9 per metrik ton. Kualitas terbaik. Sebelumnya, saat acara Renewable Energy Companies Committed to Climate, dalam rangkaian One Plannet Summit di Paris, Prancis, awal pekan ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan menyampaikan minyak sawit Indonesia tidak pernah terbukti melanggar seperti yang diserukan Uni Eropa selama ini. Terlebih, perusahaan migas asal Prancis, Total, berniat mengembangkan biofuel dengan menggunakan minyak sawit. Indonesia sebagai salah satu produsen minyak sawit terbesar dunia ingin ambil bagian. Ketika menghadiri forum bisnis di KBRI Moskow, Agustus lalu, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita juga menjamin kualitas minyak kelapa sawit Indonesia yang terbaik di dunia. “Persoalan selama ini akibat persaingan perdagangan karena produk Indonesia sangat kompetitif.” (MEDIA INDONESIA)