Emisi GRK dan Intensitas Energi Primer Sukses Turun Berkat EBT

| Articles
Share Share on Facebook Share on Twitter Share on Whatsapp
Emisi GRK dan Intensitas Energi Primer Sukses Turun Berkat EBT. Sumber: Unsplash

Pemerintah Indonesia telah berhasil mencapai pencapaian yang signifikan dalam menekan emisi gas rumah kaca (GRK) di sektor energi, dengan mencatatkan penurunan sebesar 127,67 juta ton CO2e (CO2 equivalen) pada tahun 2023. Angka ini melampaui target yang telah ditetapkan sebesar 109,64%, yaitu sebesar 116 juta ton CO2e.

Menurut Plt. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Jisman P. Hutajulu, Indonesia telah terus melakukan langkah-langkah konkret dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Salah satunya, pengurangan emisi GRK dengan meningkatkan target secara signifikan.

Target penurunan emisi GRK sektor energi ditingkatkan menjadi 31,89% dengan upaya nasional dan 43,20% dengan dukungan internasional pada tahun 2030.

Jisman menjelaskan bahwa penurunan emisi GRK di sektor energi pada tahun 2023 didukung oleh beberapa faktor, termasuk implementasi Energi Baru Terbarukan (EBT), efisiensi energi, penerapan bahan bakar rendah karbon seperti gas alam, penggunaan teknologi pembangkit bersih, dan berbagai kegiatan lainnya.

Salah satu faktor yang turut berkontribusi adalah penerapan bahan bakar rendah karbon, di mana biofuels atau biodiesel memiliki peran penting. Penggunaan biodiesel membantu mengurangi emisi GRK karena dapat menggantikan bahan bakar fosil dengan bahan bakar nabati yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, biofuels juga dapat membantu dalam diversifikasi sumber energi dan mengurangi ketergantungan pada sumber energi konvensional.

Selain penurunan emisi GRK, efisiensi energi juga menjadi fokus penting. Capaian intensitas energi primer pada tahun 2023 mencapai 132,6 Setara Barel Minyak (SBM)/Milyar Rp, melebihi target sebesar 135,2 SBM/Miliar Rp. Hal ini menunjukkan bahwa sektor energi Indonesia semakin efisien dalam penggunaan energi dari sisi penyedia energi.

Peningkatan intensitas energi Indonesia dalam periode sepuluh tahun terakhir juga menjadi indikator positif. Jisman menyatakan bahwa capaian ini merupakan kabar baik bagi ketahanan energi nasional, dan pemerintah akan terus berupaya untuk meningkatkan pencapaian tersebut serta mencapai target penurunan intensitas energi primer yang lebih lanjut.